Kamis, 25 Desember 2008

MAKNA TAAT KEPADA RASUL

PENDAHULUAN

Allah berfirman dalam Al Qur’an (5:92) :


5:92. Dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul-(Nya) dan berhati-hatilah. Jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul Kami, hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.


Kita semua sudah memahami bahwa manusia wajib taat kepada Allah karena Allah adalah Tuhan yang wajib disembah dan Tuhan yang menciptakan, memiliki, serta menguasai semua yang ada di seluruh alam semesta. Lantas, bagaimana dengan taat kepada Rasul Allah? Makalah ini hendak membahas permasalahan tersebut. Terjemahan Al Qur’an yang digunakan dalam makalah ini adalah terjemahan Departemen Agama RI dalam freeware Al Qur’an Digital versi 2. 1.


KEDUDUKAN DAN TUGAS MUHAMMAD

Kedudukan Muhammad tertulis dalam Al Qur’an :


33:40. Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.


Muhammad adalah seorang Rasul (Utusan) Allah dan seorang Nabi. Sebagai Rasul Allah, beliau diutus oleh Allah untuk menjadi seorang saksi, pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira (48:8).


48:8. Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan,


Selain menjadi Rasul Allah, Muhammad adalah seorang Nabi. Lantas, apakah tugas seorang Nabi? Jawabannya ada dalam Al Qur’an (33:45).


33:45. Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan,


Ternyata tugas Rasul Allah dan Nabi adalah sama yaitu sebagai saksi, pembawa berita gembira, dan pemberi peringatan. Terlihat jelas di sini bahwa Rasul Allah dan Nabi merupakan dua sebutan untuk satu orang yang sama. Rasul Allah merupakan sebutan yang menjelaskan kedudukannya di sisi Allah yaitu sebagai seorang utusan Allah sedangkan Nabi merupakan sebutan atau panggilan untuk manusia yang menjadi Rasul Allah. Allah memanggil Muhammad dengan sebutan ”Nabi” (8:64) atau ”Rasul” (5:67).


8:64. Hai Nabi, cukuplah Allah (menjadi Pelindung) bagimu dan bagi orang-orang mukmin yang mengikutimu.


5:67. Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.


DENGAN APA RASUL MEMBERI PERINGATAN?

Nabi Muhammad memberi peringatan kepada manusia dengan wahyu (21:45).


21:45. Katakanlah (hai Muhammad): "Sesungguhnya aku hanya memberi peringatan kepada kamu sekalian dengan wahyu dan tiadalah orang-orang yang tuli mendengar seruan, apabila mereka diberi peringatan"


Oleh karena yang digunakan dalam memberi peringatan adalah wahyu (21:45), taat kepada Rasul Allah adalah sama dengan taat kepada Allah (4:80). Artinya, Rasul Allah mempunyai ajaran yang sama persis dengan ajaran Allah. Hal ini ditegaskan dalam ayat 4:80 bahwa cara mewujudkan ketaatan kepada Allah adalah dengan cara taat kepada Rasul Allah. Konsekuensinya, cara mewujudkan ketaatan kepada Rasul Allah adalah dengan beriman kepada wahyu yang diturunkan kepada Rasul Allah. Selain itu, ayat 4:80 menunjukkan bahwa Rasul Allah tidak berhak membuat perintah dan larangan sendiri kepada manusia.


4:80. Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.


Nabi Muhammad tidak pernah menambah, mengurangi, atau mengganti wahyu yang digunakan untuk memberi peringatan (10:15).


10:15. Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang nyata, orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami berkata: "Datangkanlah Al Qur’an yang lain dari ini atau gantilah dia." Katakanlah: "Tidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri. Aku tidak mengikut kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut jika mendurhakai Tuhanku kepada siksa hari yang besar (kiamat)."


Nabi tidak menciptakan ajaran agama berdasarkan hasil pemikiran sendiri. Nabi diperintahkan untuk hanya mengikuti semua yang diwahyukan kepadanya (33:2 dan 10:109). Jika Nabi mengikuti selain wahyu yang diterimanya beliau akan mendapat azab yang besar (10:15). Orang yang menganggap bahwa Nabi Muhammad memberikan ajaran yang tidak ada dalam Al Qur’an secara tidak disadari telah menganggap Nabi sebagai tuhan selain Allah. Oleh karena itu, ajaran Nabi Muhammad adalah Al Qur’an itu sendiri dan tidak ada yang selainnya.


33:2. dan ikutilah apa yang diwahyukan Tuhan kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.


10:109. Dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu, dan bersabarlah hingga Allah memberi keputusan dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya.


Wahyu yang digunakan untuk memperingatkan tersebut disampaikan kepada orang lain dalam bentuk Al Qur’an berbahasa Arab (42:7). Pada jaman Nabi, Al Qur’an disampaikan secara bertahap dan belum ditulis dalam bentuk buku. Pada jaman sekarang, Al Qur’an tersebut dapat kita baca dalam bentuk buku atau dalam bentuk tayangan di layar monitor komputer. Ayat 42:7 menegaskan bahwa semua wahyu yang diterima Nabi Muhammad untuk memberi peringatan terdapat dalam Al Qur’an. Nabi menuliskan wahyu yang diterimanya hanya dalam satu kitab saja yakni Al Qur’an.


42:7. Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al Qur’an dalam bahasa Arab, supaya kamu memberi peringatan kepada ummul Qura (penduduk Mekah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya serta memberi peringatan (pula) tentang hari berkumpul (kiamat) yang tidak ada keraguan padanya. Segolongan masuk surga, dan segolongan masuk Jahannam.


Sampai di sini dapat disarikan bahwa Nabi Muhammad mendapat tugas yang sangat jelas dari Allah yaitu menjadi saksi, pembawa berita gembira, dan pemberi peringatan. Tugasnya hanya itu. Dalam menjalankan tugasnya beliau hanya mengikuti wahyu yang diterimanya berupa Al Qur’an berbahasa Arab sehingga yang disampaikan oleh Nabi Muhammad dalam memberi peringatan pada waktu itu persis sama dengan Al Qur’an yang dapat kita baca sekarang ini.


TAAT KEPADA RASUL ALLAH

Perintah agar taat kepada Rasul Allah tidak berarti bahwa Allah memberi ijin kusus kepada Rasul Allah untuk memberikan perintah dalam agama. Yang berhak memberikan perintah dalam agama hanya Allah saja (7:54).


7:54. Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.


Taat kepada Rasul Allah berarti bahwa kita wajib taat kepada Muhammad sebagai manusia yang ditunjuk-Nya sebagai Utusan Allah. Pertama, sebagai Rasul Allah, Muhammad adalah seorang pemimpin umat sehingga yang dipimpinnya wajib taat kepada beliau. Ketaatan manusia kepada Muhammad adalah seperti ketaatan manusia kepada manusia yang lain karena Muhammad adalah manusia biasa (41:6). Setelah wafat, tentu saja beliau tidak bisa memimpin lagi.


41:6. Katakanlah: "Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepadaNya dan mohonlah ampun kepadaNya. Dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya,


Kedua, taat kepada Rasul Allah bermakna bahwa dalam beragama kita diperintahkan agar hanya mengikuti ajaran yang dibawa manusia yang ditunjuk Allah menjadi Rasul. Sudah diuraikan di depan bahwa ajaran Rasul Allah adalah sama dengan ajaran Allah. Ajaran Allah yang diberikan kepada Nabi Muhammad tertulis dalam Al Qur’an. Dengan kata-kata lain, taat kepada Rasul Allah bermakna bahwa kita hanya diperintahkan agar menjalankan ajaran Allah dalam Al Qur’an yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Jadi, ketaatan kepada Rasul Allah diwujudkan dengan cara beriman kepada Al Qur’an saja.


Dalam Al Qur’an ayat 2:4 ditegaskan bahwa kitab yang diperintahkan untuk diimani adalah Al Qur’an dan kitab yang diturunkan sebelum Al Qur’an. Kita tidak diperintahkan percaya kepada kitab selain yang dibawa Rasul Allah.


2:4. dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.


Selain itu, ditegaskan pula bahwa dalam pengadilan pada kasus yang terjadi antar manusia, Allah memerintahkan agar manusia menggunakan Al Qur’an sebagai satu-satunya pedoman (4:105). Kasus tersebut tentu saja mencakup perbedaan dalam kehidupan beragama. Kitab selain Al Qur’an tidak dapat digunakan untuk menyatakan sesuatu benar atau salah.


4:105. Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat,


KITAB YANG DIBAWA SELAIN RASUL ALLAH

Kehidupan Nabi merupakan hal yang menarik bagi banyak orang. Keinginan untuk menulis kitab tentang kehidupan Nabi Muhammad adalah wajar karena beliau adalah Rasul Allah. Orang telah berusaha mengungkap kehidupan Nabi dengan cara menulis kitab yang ditulis dengan metode pendekatan-pendekatan tertentu. Kitab berisi tentang perkataan dan perbuatan Nabi Muhammad disebut dengan kitab hadis. Kitab hadis ditulis oleh para penulis hadis sesudah Nabi Muhammad meninggal dan digunakan oleh sebagian besar umat islam sebagai pedoman dalam beragama.


Akan tetapi, kita hanya diperintahkan agar taat kepada Rasul Allah. Rasul Allah berupa manusia adalah Nabi Muhammad. Nabi Muhammad hanya membawa satu kitab saja yaitu Al Qur’an. Kalau kita benar-benar taat kepada Rasul Allah, kita harus hanya percaya pada yang disampaikan Rasul Allah, yaitu Al Qur’an.


Orang sering lupa bahwa percaya pada kitab hadis berarti percaya kepada penulis kitab hadis. Semua isi kitab hadis adalah tanggungjawab penulisnya dan bukan tanggungjawab Nabi Muhammad. Perlu diingat bahwa Nabi Muhammad tidak pernah membaca dan meng-edit kitab hadis. Kitab hadis sama saja dengan buku-buku tulisan manusia yang tidak bisa lepas dari kesalahan.


Percaya kepada kitab hadis berarti beriman kepada penulis kitab hadis. Padahal, penulis kitab hadis adalah bukan Rasul Allah. Di lain pihak, manusia hanya diperintahkan agar hanya beriman kepada manusia yang ditunjuk Allah menjadi Rasul-Nya. Manusia hanya diperintahkan agar taat kepada Rasul-Nya. Oleh karena itu, beriman kepada kitab hadis adalah tindakan yang tidak mematuhi perintah Allah. Yang benar adalah kita wajib beriman kepada Rasul Allah dan kitab yang dibawanya (64:8). Dengan kata lain, kita percaya pada isi Al Qur’an karena kita percaya pada Nabi Muhammad.


64:8. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada cahaya (Al-Qur’an) yang telah Kami turunkan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.


Salah satu contoh kesalahan yang dilakukan penulis hadis adalah dalam kasus tentang bacaan ”Bismillaahir-rahmaanir-rahiim.” dalam surat Al Fatihah. Disebutkan dalam sebuah artikel di tabloid Khalifah Edisi 59/Th III/2007/12-25 April bahwa ada 3 hadis yang bermakna bahwa Nabi Muhammad membaca Al Fatihah tanpa bacaan basmalah. Hadis tersebut yaitu dari Aisyah r. a. (riwayat Muslim), dari Anas r. a (riwayat Bukhari dan Muslim), dan dari Abu Hurairah r. a. (Hadis Qudsi dalam Kitab Syarhun Nawawi, Shahih Muslim, juz 3, hal. 12). Berdasarkan ketiga hadis tersebut, disebutkan dalam artikel tersebut bahwa ”Bismillaahir-rahmaanir-rahiim.” bukan bagian dari Al Fatihah.


Isi hadis tersebut bertentangan dengan Al Qur’an karena tertulis dengan jelas dalam Al Qur’an bahwa ayat pertama surat Al Fatihah adalah ”Bismillaahir-rahmaanir-rahiim.”. Apakah para penulis hadis di atas ingin menunjukkan bahwa Nabi Muhammad meralat Al Qur’an? Apakah para penulis hadis di atas ingin menunjukkan bahwa Al Qur’an merupakan kitab yang meragukan? Apakah mereka tidak tahu bahwa Allah yang menciptakan Al Qur’an dengan tegas mengatakan bahwa tidak ada keraguaan dalam Al Qur’an (2:2)?


2:2. Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa,


Coba kita renungkan sebentar! Al Qur’an yang dibawa Nabi Muhammad berisi Al Fatihah dengan ”Bismillaahir-rahmaanir-rahiim.” sedangkan kitab hadis yang ditulis penulis hadis berisi Al Fatihah tanpa ”Bismillaahir-rahmaanir-rahiim.”. Mana yang harus dipilih? Jelas, kita harus memilih Al Fatihah yang ada di Al Qur’an yang dibawa Nabi Muhammad, Rasul Allah yang wajib ditaati. Dan kita wajib mengatakan bahwa Al Fatihah versi penulis kitab hadis adalah salah. Bahkan, kita juga berdosa jika mengatakan keduanya benar karena sikap ini termasuk sikap meragukan Al Qur’an.


Kitab hadis berisi hasil penelitian yang dilakukan dengan metode tertentu. Seperti hasil penelitian yang lain, hasilnya dinyatakan benar jika asumsi yang digunakan dalam penelitian tersebut dipenuhi. Dengan demikian, hasilnya dapat benar dan dapat pula salah. Yang demikian ini akan menumbuhkan sikap untuk berpersangkaan, misalnya persangkaan bahwa asumsinya benar. Namun, dalam beragama, Allah melarang penggunaan persangkaan meskipun orang yang menggunakannya bisa jadi jumlahnya banyak karena dapat menyesatkan manusia dari jalan Allah (6:116; 10:36).


6:116. Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).


10:36. Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan


Dalam 10:36 ditegaskan bahwa persangkaan tidak berguna sedikitpun untuk mencapai kebenaran. Jadi, kitab hadis juga tidak berguna untuk mendapatkan kebenaran tentang ajaran-ajaran Allah.


Sesungguhnya, dengan percaya kepada kitab hadis, orang secara tidak langsung menuduh bahwa Nabi Muhammad tidak menyampaikan amanah. Seandainya memang yang ada dalam kitab hadis merupakan ajaran agama, mengapa Nabi Muhammad tidak menulisnya? Mengapa orang harus bersusah-payah mencari ajaran agama dengan cara melakukan penelitian? Tentu saja, Nabi Muhammad menyampaikan amanah. Nabi tidak memerintahkan orang lain untuk menuliskan perkataan dan perbuatannya karena memang beliau diperintahkan oleh Allah untuk memberi peringatan hanya dengan wahyu. Dan wahyu itu adalah Al Qur’an yang dapat dibaca orang sampai sekarang ini. Ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad menyampaikan amanah.


Bagaimana dengan Al Qur’an terjemahan? Kita juga harus berhati-hati dengan Al Qur’an terjemahan. Penerjemah Al Qur’an adalah bukan Rasul Allah sehingga kita tidak boleh beriman kepada penerjemah Al Qur’an. Dalam Al Qur’an terjemahan mungkin ada kekeliruan atau pembelokan arti. Oleh karena itu, beriman kepada penerjemah Al Qur’an adalah tindakan yang keliru. Yang dapat kita lakukan hanya berusaha untuk mendapatkan Al Qur’an terjemahan yang terbaik sebagai bentuk usaha bagi orang tidak berbahasa arab untuk mendapatkan petunjuk-Nya. Ada baiknya energi untuk mempelajari kitab hadis dialihkan untuk menerjemahkan Al Qur’an sampai diperoleh pengertian seperti yang dimaksudkan Allah yang menciptakannya.


PENUTUP

Kita harus berhati-hati dalam beragama karena kita tidak boleh hanya mengikuti kebanyakan orang tanpa pengetahuan (17:36).


17:36. Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.


Oleh karena itu, marilah kita pelajari Al Qur’an yang dibawa Rasul Allah, kitab yang sempurna dalam kebenaran dan keadilan (6:115)!


6:115. Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Qur’an) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merobah robah kalimat-kalimat-Nya dan Dia lah yang Maha Mendenyar lagi Maha Mengetahui.


Dalam beragama kita hanya berpedoman pada Al Qur’an. Variasi dalam kehidupan beragama tidak bisa dihindari karena Al Qur’an memang memungkinkannya. Bisa terjadi, variasi itu dipengaruhi oleh kebudayaan atau oleh kitab tulisan manusia termasuk kitab hadis. Yang perlu diingat adalah bahwa semua yang kita lakukan adalah dalam rangka menjalankan petunjuk Allah dalam Al Qur’an. Yang kita lakukan tidak boleh menyimpang dari semua ajaran Allah dalam Al Qur’an. Semua harus menerima perbedaan cara beragama yang tidak bisa dihindari dan kita senantiasa berpegang pada satu kitab yaitu Al Qur’an.


Oleh karena referensi yang digunakan adalah Al Qur’an terjemahan, kebenaran isi makalah ini sangat bergantung pada kebenaran terjemahan itu sendiri. Penulis hanya memaparkan pendapat sebagai usaha untuk saling nasehat-menasehati agar kita tetap berada dalam kebenaran (103:3) dan supaya termasuk orang-orang yang beruntung (3:104)


103:3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.


3:104. Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.


Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca.



Makalah yang berkaitan dengan makalah ini adalah AL QUR'AN SEBAGAI SATU-SATUNYA PEDOMAN DALAM AGAMA ISLAM. Terima kasih.