Senin, 09 Februari 2009

BOLEHKAH MEMINTA SYAFA'AT KEPADA NABI MUHAMMAD?

PENDAHULUAN

Ada ajaran dalam kitab hadis yang menyebutkan bahwa dengan mambaca shalawat, manusia akan diberi syafa’at oleh Nabi Muhammad pada hari kiamat. Apakah Al Qur’an membenarkan ajaran bershalawat untuk mendapatkan syafa’at Nabi Muhammad? Al Qur’an terjemahan yang digunakan adalah Al Qur’an terjemahan versi Departemen Agama RI dalam software Al Qur’an digital versi 2.1.

PENGERTIAN SYAFA’AT

Dalam kamus bahasa Arab Al-Huda karya Abu Khalid, MA yang diterbitkan oleh Fajar Mulya di Surabaya disebutkan bahwa syafaa’atun berarti pertolongan. Atas dasar itu syafa’at dapat diartikan sebagai pertolongan. Pemberi syafa’at berarti pemberi pertolongan. Kalau memang artinya demikian, penulis dapat disebut sebagai pemberi syafa’at ketika menolong orang lain dalam suatu masalah.

Namun pengertian syafa’at tidak sebatas itu jika pertolongan yang dimaksud berkaitan dengan pertolongan Allah. Pengertian syafa’at pun menjadi lebih khusus lagi. Menurut Al Qur’an terjemahan versi Departemen Agama RI dalam software Al Qur’an digital versi 2.1, syafa’at adalah usaha perantaraan dalam memberikan sesuatu manfaat bagi orang lain atau mengelakkan sesuatu mudharat bagi orang lain. Dengan demikian, pemberi syafa’at adalah pemberi jasa usaha perantaraan dalam memberikan sesuatu manfaat bagi orang lain atau mengelakkan sesuatu mudharat bagi orang lain. Dengan kata lain, pemberi syafa’at adalah makhluk Allah yang menjadi perantara dalam proses pemberian pertolongan dari Allah.

APAKAH BENAR PEMBERI SYAFA’AT ITU ADA?

Memang benar bahwa pemberi syafa’at itu ada. Keterangan tentang hal tersebut dijumpai dalam ayat 21:28 berikut ini.

21:28. Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafa’at melainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya.

Dalam ayat di atas terungkap bahwa yang menjadi pemberi syafa’at adalah malaikat. Pemberian syafa’at malaikat tidak berguna jika Allah tidak mengijinkannya (53:26).

53:26. Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafa’at mereka sedikitpun tidak berguna, kecuali sesudah Allah mengijinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai (Nya).

KEPADA SIAPA KITA MEMINTA SYAFA’AT?

Yang mempunyai syafa’at adalah Allah (39:44). Makhluk Allah dapat memberikan syafa’at karena ada ijin dari Allah (10:33).

39:44. Katakanlah: "Hanya kepunyaan Allah syafa’at itu semuanya. Kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi. Kemudian kepada- Nyalah kamu dikembalikan"

10:3. Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafa'at kecuali sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian itulah Allah, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran?

Jika kita ingin mendapatkan syafa’at (pertolongan), kita meminta kepada yang mempunyai syafa’at itu, yaitu Allah. Ini adalah logika yang jelas bahwa kita meminta sesuatu kepada yang mempunyainya. Kita wajib meminta syafa’at hanya kepada Allah. Sebagai manusia, kita hanya mengikuti kehendak Allah. Kita tidak boleh mendikte Allah untuk menentukan makhluk yang menjadi pemberi syafa’at. Kita serahkan saja kepada Allah untuk menentukan makhluk yang dijinkan-Nya untuk menjadi pemberi syafa’at.

BENARKAH SHALAWAT MENDATANGKAN SYAFA’AT NABI MUHAMMAD?

Tidak ada satu ayat pun dalam Al Qur’an yang menyebutkan bahwa shalawat dapat mendatangkan syafa’at Nabi Muhammad. Ayat yang menyebutkan tentang shalawat nabi adalah (33:56). Terlepas dari pengertian shalawat, dalam ayat tersebut tidak disebutkan tentang ajaran bershalawat untuk mendapatkan syafa’at. Jadi, ajaran bershalawat untuk mendapatkan syafa’at Nabi Muhammad bukan ajaran Allah.

33:56. Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya

BENARKAH NABI MUHAMMAD DAPAT MEMBERI SYAFA’AT?

Nabi Muhammad sudah meninggal. Tidak ada satu ayat pun dalam Al Qur’an yang menjelaskan bahwa Nabi Muhammad dapat memberi syafa’at. Allah menjelaskan dalam Al Qur’an bahwa Nabi Muhammad hanyalah manusia biasa (18:110) dan tidak mengetahui yang gaib serta bukan malaikat (11:31).

18:110. Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa." Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya."

11:31. Dan aku tidak mengatakan kepada kamu (bahwa): "Aku mempunyai gudang-gudang rezki dan kekayaan dari Allah, dan aku tiada mengetahui yang ghaib", dan tidak (pula) aku mengatakan: "Bahwa sesungguhnya aku adalah malaikat", dan tidak juga aku mengatakan kepada orang-orang yang dipandang hina oleh penglihatanmu: "Sekali-kali Allah tidak akan mendatangkan kebaikan kepada mereka." Allah lebih mengetahui apa yang ada pada diri mereka; sesungguhnya aku, kalau begitu benar-benar termasuk orang-orang yang zalim.

Ditegaskan lagi dalam 72:21 bahwa Nabi Muhammad tidak mampu memberikan kemudharatan dan kemanfaatan kepada manusia. Jadi, mengapa orang meminta syafa’at kepada Nabi Muhammad?

72:21. Katakanlah: "Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudharatanpun kepadamu dan tidak (pula) suatu kemanfaatan."

Orang yang bershalawat untuk mendapatkan syafa’at Nabi Muhammad secara sengaja adalah orang yang melakukan kegiatan ibadah untuk mengharapkan syafa’at (pertolongan) dari selain Allah. Mengapa orang mengharapkan pertolongan dari Nabi Muhammad? Padahal, yang mempunyai syafa’at adalah Allah. Apakah memohon pertolongan kepada Nabi sama dengan memohon pertolongan kepada Allah? Apakah mereka ingin menjadikan Nabi Muhammad sebagai tuhan selain Allah?

Marilah kita perhatikan ucapan orang yang menyembah tuhan selain Allah berikut ini.

10:18. Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: "Mereka itu adalah pemberi syafa'at kepada kami di sisi Allah." Katakanlah: "Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) dibumi?" Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka mempersekutukan (itu).

Dalam ayat 10:18 dijelaskan tentang orang-orang yang menyembah tuhan selain Allah dan menganggap tuhan mereka sebagai pemberi syafa’at di sisi Allah meskipun tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak pula kemanfaatan. Dari sini kita dapat mengetahui bahwa pemberi syafa’at telah dianggap sebagai tuhan selain Allah. Jika dikaitkan dengan Nabi Muhammad, apakah ini tidak berarti bahwa Nabi Muhammad juga telah dijadikan sebagai tuhan selain Allah oleh yang menganggapnya sebagai pemberi syafa’at? Kekhawatiran ini tidak mengada-ada karena yang dikatakan Nabi dalam 72:21 sama dengan ciri-ciri pemberi syafa’at dalam 10:18, yaitu ”Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudharatanpun kepadamu dan tidak (pula) suatu kemanfaatan.

Jangan lupa bahwa Allah hidup kekal selamanya. Allah yang sekarang sama dengan Allah yang akan datang. Manusia tidak boleh meminta pertolongan (syafa’at) kepada selain Allah selama-lamanya. Pada hari kiamat, orang juga tidak boleh memohon syafa’at kepada Nabi Muhammad.

Syafa’at seolah-olah menjadi sesuatu yang sulit dimengerti. Padahal, Al Qur’an telah menerangkannya dengan jelas. Marilah kita resapi ayat surat Al Faatihah ayat 5 berikut ini!

1:5. Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.

Dengan ayat 1:5 kita merasa yakin bahwa kita hanya boleh meminta pertolongan kepada Allah. Kita wajib hanya meminta pertolongan kepada Allah selama-lamanya. Proses pemberian pertolongan menjadi rahasia Allah. Apakah Allah akan menolong secara langsung? Atau melalui perantara berupa malaikat atau makhluk Allah yang lain? Itu semua menjadi rahasia Allah. Adalah sangat tidak pantas bagi seorang manusia jika mendikte Allah agar yang menjadi pemberi syafa’at adalah Nabi Muhammad.

KESIMPULAN

Manusia hanya diperintahkan untuk meminta pertolongan (syafa’at) kepada Allah. Allah memberi ijin kepada makhluknya untuk menjadi pemberi syafa’at tetapi kita tidak boleh meminta syafa’at kepada makhluk yang dijinkan Allah menjadi pemberi syafa’at.