Senin, 09 Maret 2009

ARISAN BERANTAI HALAL?

PENDAHULUAN

Arisan berantai adalah suatu cara untuk mendapatkan uang yang dijumpai di masyarakat kita. Pesertanya dapat memperoleh uang sangat banyak dengan bermodal uang relatif sedikit. Apakah arisan berantai termasuk haram atau halal? Makalah ini ditulis untuk menjawab pertanyaan tersebut. Al Qur’an terjemahan yang digunakan untuk membahas dalam makalah ini adalah Al Qur’an terjemahan Dep. Agama RI dalam freeware Al Quran digital versi 2.1.


SEKILAS TENTANG ARISAN BERANTAI

Seorang peserta arisan berantai bertugas untuk :

1. mengirim uang ke orang pada urutan pertama.

2. merubah isi surat dengan cara memasukkan nama dirinya pada urutan paling bawah dan menaikkan urutan peserta sebelumnya satu tingkat sehingga peserta pada urutan pertama yang dikirimi uang keluar dari daftar urutan calon penerima uang.

3. mengirim surat yang telah dirubah isinya tersebut ke orang lain sebanyak-banyaknya.

4. setelah peserta tersebut sampai pada urutan pertama, dia akan menerima uang kiriman dari peserta baru yang jumlahnya tergantung pada jumlah surat yang dikrimkannya dulu.

Demikianlah gambaran sekilas tentang arisan berantai.


ARISAN BERANTAI DITINJAU DARI AL QUR’AN

Peserta arisan berantai menerima uang berlipat-lipat tidak melalui proses jual beli. Peserta tidak menjual jasa atau barang sedikit pun. Uang itu adalah hasil kiriman peserta baru yang ingin mendapatkan uang seperti yang diperoleh oleh orang pada urutan pertama. Pengirim uang juga tidak sedang membayar pembelian barang atau jasa kepada yang dikirimi uang. Jadi sangat jelas bahwa arisan berantai tidak termasuk dalam kegiatan jual-beli. Oleh karena itu, arisan berantai termasuk kegiatan tidak halal alias haram. Allah berfirman dalam 2: 275 bahwa tambahan yang dihalalkan adalah yang diperoleh dalam jual-beli.


2:275. Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.


Jual-beli di sini pengertiannya bisa mencakup barang dan jasa. Gaji guru halal karena guru menjual jasa pendidikan. Upah tukang becak adalah halal karena tukang becak menjual jasa transportasi. Laba penjual gorengan adalah halal karena penjual gorengan menjual barang berupa gorengan. Keuntungan yang diperoleh peserta arisan berantai adalah tidak halal karena peserta arisan berantai tidak menjual barang atau jasa sama sekali.


PENDAPAT PENULIS

Penulis akan mencoba untuk memaparkan pendapat pribadi tentang arisan berantai. Semoga pemaparan ini dapat menjawab pertanyaan yang telah dan akan muncul dalam ruang komentar di blog ini. Oleh karena itu, yang akan disampaikan dalam bab ini adalah pendapat penulis pribadi.


Dengan keanggotaan peserta arisan yang bersifat terbuka dan tidak tetap, arisan berantai mengandung ketidakadilan. Setelah mendapatkan uang yang banyak, peserta dapat pergi begitu saja. Di lain pihak, suatu saat, ketika arisan harus berakhir, akan ada peserta yang tidak mendapatkan uang kecuali hanya kehilangan yang telah dikirimnya. Ini adalah bentuk ketidakadilan. Bukankah Allah memerintahkan kita untuk berlaku adil? (16:90).


16:90. Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.


Seringkali, ada usaha untuk membenarkan arisan berantai. Misalnya, ”Bagaimana jika pemberian itu bersifat suka rela?” Yang dapat mengetahui seseorang memberi secara suka rela hanya Allah saja. Meskipun demikian, rasa-rasanya tidak masuk akal jika ada orang mengikuti arisan berantai tanpa mengharapkan uang berlipatganda. Jika ingin memberi secara sukarela, uangnya hendaknya dikirimkan kepada orang lain tanpa melalui arisan berantai. Sedekah atau pemberian suka rela dilakukan hanya untuk mengharapkan keridhaan Allah dan tidak menghendaki balasan dan ucapan terima kasih (76:9).


76:9. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.


Bagaimana jika itu dimaksudkan sebagai bentuk tolong-menolong? Menurut hemat penulis, sikap meninggalkan arisan berantai setelah mendapatkan uang yang jumlahnya berlipatganda adalah bukan sikap tolong-menolong melainkan sikap mementingkan diri sendiri.


Ada pula yang menyatakan bahwa uang yang diterima itu adalah uang tidak bertuan (tidak ada yang punya). Tidak jelas alasan pemikiran seperti itu. Mungkin, ketika membuka rekening bank, peserta arisan berantai akan mendapati kiriman uang sangat banyak dalam buku tabungannya dan menganggapnya sebagai uang tidak bertuan. Padahal, sejak bergabung dengan arisan berantai, orang itu sadar bahwa uang yang akan diterima adalah berasal dari para peserta arisan berantai.


Berkaitan dengan pertanyaan sekitar jual beli jasa, pihak pembeli dan penjual harus sepakat tentang definisi jasa yang diperjualbelikan, harga, dan aturan proses pembayarannya. Demikianlah hal-hal yang perlu dipikirkan ketika terlibat dalam suatu jual beli jasa menurut penulis.


PENUTUP

Kita tidak boleh bergabung dengan arisan berantai karena arisan berantai adalah cara mendapatkan uang yang bertentangan dengan Al Qur’an ayat 2:275. Arisan berantai adalah tidak halal alias haram.