Minggu, 01 Maret 2009

BENARKAH TERORISME ADALAH AJARAN DALAM AL QUR'AN?

Pendahuluan

Kita kadang-kadang mendengar berita tentang orang yang melakukan pembunuhan orang tidak beragama islam (kafir) dengan pengeboman, peledakan, atau cara-cara yang lain. Aktivitas seperti itu diistilahkan dengan terorisme. Mereka menggunakan ayat-ayat Al Qur’an untuk membenarkan tindakannya itu. Benarkah terorisme merupakan ajaran dalam Al Qur’an? Makalah ini disusun untuk membahas hal-hal yang berkaitan dengan terorisme ditinjau dari ajaran-ajaran dalam Al Qur’a.n Al Qur’an terjemahan yang digunakan dalam makalah ini adalah hasil terjemahan Departemen Agama RI dalam freeware Al Quran digital versi 2.1.


Terorisme

Terorisme adalah aktivitas yang statusnya bersifat relatif tergantung pada penilainya. Bagi para pendukung pelaku, tindakannya dianggap benar dan pelakunya dianggap sebagai pahlawan. Sebaliknya, bagi para korban dan musuh pelaku, tindakannya dianggap salah dan pelakunya disebut sebagai teroris. Makalah ini memandang kasus terorisme secara netral. Demi netralitas dan kemudahan, dalam makalah ini teroris diistilahkan dengan pelaku pengeboman atau peledakan.


Adakah Perintah Pembunuhan Orang Kafir?

Ayat 4:89 dan 4:90 merupakan satu kesatuan. Jika keduanya dipisahkan, interpretasinya akan berbeda.


4:89. Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong(mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka dimana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorangpun di antara mereka menjadi pelindung, dan jangan (pula) menjadi penolong,


4:90. kecuali orang-orang yang meminta perlindungan kepada sesuatu kaum, yang antara kamu dan kaum itu telah ada perjanjian (damai) atau orang-orang yang datang kepada kamu sedang hati mereka merasa keberatan untuk memerangi kamu dan memerangi kaumnya. Kalau Allah menghendaki, tentu Dia memberi kekuasaan kepada mereka terhadap kamu, lalu pastilah mereka memerangimu. tetapi jika mereka membiarkan kamu, dan tidak memerangi kamu serta mengemukakan perdamaian kepadamu maka Allah tidak memberi jalan bagimu (untuk menawan dan membunuh) mereka.


Jika ditafsirkan terpisah dengan ayat 4:90, ayat 4:89 menerangkan bahwa membunuh orang kafir di sembarang tempat adalah perintah Allah. Ini sangat berbahaya dan dapat menjadi landasan tindakan yang salah. Jika ditafsirkan secara terpadu, pembunuhan orang kafir tidak dibenarkan jika orang kafir tersebut mengajak berdamai dan tidak memerangi.


Perlu ditambahkan bahwa pembunuhan secara tidak sengaja terhadap orang kafir yang terikat dalam perjanjian damai adalah berdosa dan pelakunya diberi hukuman seperti dijelaskan dalam 4:92.


4:92. Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja), dan barangsiapa membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah. Jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang beriman. Barangsiapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut untuk penerimaan taubat dari pada Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.


Sampai di sini dapat diringkas bahwa pembunuhan terhadap orang kafir dibenarkan dengan syarat bahwa orang kafir itu memerangi umat islam dan tidak mengajak berdamai. Pembunuhan secara tidak sengaja terhadap orang kafir yang terlibat dalam perjanjian damai adalah dosa dan pelakunya diberi hukuman seperti diuraikan dalam ayat 4:92 di atas.


Benarkah, para korban pengeboman atau peledakan adalah orang yang memerangi umat islam dan tidak mengajak berdamai?


Alasan untuk Pembalasan

Di samping itu, apakah pelaku peledakan dan pengeboman sedang membalas dendam sebagai konsekuensi kisas? Kisas (Qishaash) ialah hak orang beriman untuk melakukan pembalasan atas suatu tindakan yang dilakukan secara sengaja dengan cara yang sepadan. Hal ini disebutkan dalam ayat 2:178.


2:178. Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pema'afan dari saudaranya, hendaklah (yang mema'afkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi ma'af) membayar (diat) kepada yang memberi ma'af dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih.


Ayat di atas menerangkan bahwa kisas berlaku untuk orang beriman. Sekeluarga orang beriman yang salah satu anggotanya dibunuh secara sengaja berhak membalas tindakan pembunuhan itu dengan tindakan yang sepadan. Jika orang beriman yang dibunuh secara sengaja adalah seorang wanita, keluarga dari pihak wanita yang terbunuh berhak membunuh seorang wanita dari pihak keluarga pembunuh yang mendukung aksi pembunuhan. Hak serupa berlaku pada pembunuhan orang beriman yang merdeka atau hamba. Namun, jika saudara yang terbunuh memaafkannya, pihak keluarga pembunuh wajib membayar denda kepada keluarga pemberi maaf.


Ayat lain yang menerangkan tentang kisas adalah ayat 5:45.


5:45. Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka luka (pun) ada kisasnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak kisas) nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.


Meskipun ayat 5:45 menceritakan kisas dalam kitab Taurat, isinya berlaku bagi semua umat manusia karena Al Qur’an mmbenarkan kitab-kitab sebelumnya. Ayat 5:45 di atas menerangkan bahwa kisas juga diterapkan secara individual. Pelaku penganiayaan atau pembunuhan secara sengaja diperbolehkan untuk dikenai pembalasan yang setimpal dengan tindakannya. Jiwa dengan jiwa berarti bahwa seseorang yang membunuh orang lain secara sengaja boleh dibunuh oleh pihak terbunuh. Mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, luka dengan luka, dll berarti bahwa seseorang yang melukai orang lain dengan sengaja boleh dilukai dengan luka yang sepadan oleh yang dilukai atau seseorang dari pihak yang dilukai.


Jika saudaranya tidak menggunakan haknya atau dengan kata lain memaafkan si pembunuh atau si pembuat luka, tindakannya itu menjadi penebus dosanya. Kemudian, yang diberi maaf diperintahkan untuk membayar diat. Jika ahli warisnya ingin membalas dendam, pembalasan dendam itu tidak boleh melampaui batas (17:33). Tindakan melampaui batas dapat berupa pembunuhan yang salah sasaran atau kejam.


17:33. Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. Dan barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan.


Dapat diringkas bahwa pembalasan dendam atas suatu pembunuhan atau pembuatan luka yang sengaja merupakan suatu hak orang beriman. Sekali lagi perlu ditegaskan di sini bahwa kisas merupakan hak. Kisas bukan merupakan kewajiban. Jika hak itu tidak digunakan orang beriman, tindakannya itu dapat menebus dosanya.


Selain itu perlu ditegaskan lagi bahwa kisas tidak berlaku pada pembunuhan atau pembuatan luka yang tidak disengaja. Dalam kasus ini, si pelaku pembunuhan hanya diwajibkan menjalani hukuman seperti dijelaskan dalam ayat 4:92.


Benarkah para korban pengeboman atau peledakan pernah membunuh atau melukai saudara atau famili pelaku pengeboman dan peledakan? Jika pernah, apakah tindakannya itu sudah melampaui batas?


Pembunuhan Disengaja

Pengeboman atau peledakan adalah tindakan yang direncanakan. Semua orang, termasuk pelakunya, mengetahui bahwa orang yang terkena efek bom atau ledakan dapat mati atau terluka. Dengan kata lain, pelaku pengeboman atau peledakan sengaja ingin membunuh dan melukai semua orang yang berada di tempat pengeboman. Jadi, korban meninggal akibat pengeboman atau peledakan adalah korban pembunuhan yang disengaja, tanpa memandang korban tersebut adalah sasaran atau bukan.


Jika yang dibunuh dengan sengaja adalah orang mukmin, hukumannya adalah neraka (4:93). Jadi, selain si pelaku pembunuhan disengaja boleh dibunuh sesuai hukum kisas, dia juga akan masuk neraka.


4:93. Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.


Adakah korban yang beragama islam meninggal dalam pengeboman atau peledakan?


Harga Satu Nyawa

Pembunuhan terhadap satu orang yang bukan karena orang itu membunuh orang lain atau karena membuat kerusakan di muka bumi dianggap telah membunuh manusia seluruhnya (5:32) sehingga termasuk perbuatan dosa.


5:32. Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi.


Benarkah korban meninggal dalam pengeboman dan peledakan pernah membunuh orang lain atau membuat kerusakan di muka bumi?


Perintah Berbuat Baik dan Adil Kepada Orang Tidak Beragama Islam

Allah tidak melarang orang beriman untuk berbuat dan berlaku adil terhadap orang yang tidak memerangi karena agama dan mengusir orang Islam (60:8). Mengingat berbuat adil dan berbuat baik adalah perintah Allah (16:90), berarti Allah memerintahkan orang islam untuk untuk berbuat baik dan berlaku adil kepada orang tidak beragama islam yang tidak memerangi karena agama dan mengusir orang Islam.


60:8. Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.


16:90. Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.


Benarkah para korban pengeboman dan peledakan adalah orang-orang yang memerangi orang islam atau mengusir orang islam ke luar dari negerinya?


Kebencian Terhadap Suatu Kaum

Penulis menangkap bahwa tindakan pengeboman dan peledakan yang dilakukan selama ini dilandasi oleh rasa benci kepada suatu kaum. Dalam Al Qur’an disebutkan bahwa kebencian kita terhadap suatu kaum tidak boleh mendorong kita untuk berlaku tidak adil (5:8).


5:8. Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.


Perbuatan tidak adil yang dilakukan para pelaku pengeboman dan peledakan adalah berupa pembunuhan orang tanpa alasan yang benar, perusakan bangunan, penderitaan para korban, ketakutan masyarakat, gangguan stabilitas keamanan, gangguan perekonomian, dan penodaan citra orang islam.


Penutup

1. Dalam Al Quran tidak ada ajaran tentang perintah pembunuhan terhadap orang kafir (bukan orang islam) yang mengajak berdamai dan tidak memerangi orang islam.

2. Dalam Al Quran tidak ada ajaran tentang tindakan pembalasan dendam atas kematian yang melampaui batas.

3. Korban meninggal dalam pengeboman atau peledakan adalah korban pembunuhan yang disengaja sehingga pelakunya masuk neraka jika korbannya adalah orang islam.

4. Dalam Al Quran ada larangan melakukan pembunuhan terhadap orang yang tidak membunuh orang lain dengan sengaja.

5. Dalam Al Quran ada larangan melakukan pembunuhan terhadap orang yang tidak membuat kerusakan di muka bumi.

6. Allah mememerintahkan orang islam untuk untuk berbuat baik dan berlaku adil kepada orang bukan islam yang tidak memerangi karena agama dan mengusir orang Islam.

7. Dalam Al Qur’an ada ajaran bahwa kebencian kita terhadap suatu kaum tidak boleh mendorong kita untuk berlaku tidak adil.