Sabtu, 09 Mei 2009

PEMIMPIN HARUS ISLAM?

PENDAHULUAN

Kadang-kadang, kita mendengar pendapat yang mengatakan bahwa orang islam tidak boleh memilih pemimpin yang bukan islam. Adakah ayat Al Qur’an yang mendukung pendapat tersebut? Makalah ini ditulis untuk membahas tentang hal tersebut.


AYAT TENTANG PEMIMPIN ISLAM

Ayat-ayat dalam Al Qur’an terjemahan versi Dep. Agama RI yang sering dijadikan pijakan bahwa orang islam harus memilih pemimpin yang beragama islam adalah 5:51 dan 5:57.


5:51. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.


5:57. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman.


Dalam dua ayat terjemahan tersebut memang ada kata pemimpin. Namun, menurut Al Qur’an terjemahan yang lain, kata pemimpin tidak dijumpai dalam 5:51 dan 5:57.


5:51 You, you those who believed, do not take the Jews and the Christians (as) guardians/patrons, some of them (are) guardians/patrons (of) some, and who follows them from you, so that he truly is from them, that God does not guide the nation, the unjust/oppressive. (Kamu, kamu yang beriman, janganlah mengambil orang yahudi dan kristen sebagai pelindung, beberapa dari mereka adalah pelindung dari yang lainnya, dan yang mengikuti mereka darimu, sehingga ia benar-benar dari mereka, bahwa Allah tidak membimbing kaum tersebut, yang tidak adil/menindas)(versi Muhamed dan Samira Ahmed)

5:51. O you who believe! Do not take the Jews and the Christians as allies.They are allies of one other. And whoever among you takes them as allies, then indeed he is of them. Indeed, Allah does not guide the wrongdoing people. (Hai kamu yang beriman! Janganlah mengambil orang yahudi dan kristen sebagai sekutu. Mereka adalah saling bersekutu. Dan siapapun di antaramu mengambil mereka menjadi sekutu, kemudian ia benar-benar bagian dari mereka. Sungguh, Allah tidak membimbing orang yang melanggar.) (versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri)


5.51 O ye who believe! take not the Jews and the Christians for your friends and protectors: They are but friends and protectors to each other. And he amongst you that turns to them (for friendship) is of them. Verily Allah guideth not a people unjust. (Hai orang beriman! Janganlah mengambil orang yahudi dan kristen sebagai teman dan pelindungmu. Mereka hanyalah teman dan pelindung bagi mereka masing-masing. Dan siapa saja di antaramu yang cenderung kepada mereka dalam rangka pertemanan adalah termasuk dari mereka. Sungguh petunjuk Allah tidak untuk orang yang tidak adil.) (versi Abdullah Yusuf Ali)


5:51. Wahai orang-orang yang percaya, janganlah mengambil orang-orang Yahudi, dan orang-orang Nasrani, sebagai sahabat; mereka adalah sahabat-sahabat satu sama lain. Barang siapa antara kamu yang menjadikan mereka sahabat-sahabatnya adalah dari mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. (Versi Othman Ali)


5:57 You, you those who believed, do not take those who took your religion mockingly and playing/amusement from those who were given The Book from before you, and the disbelievers (as) guardians/patrons/allies, and fear and obey God, if you were believing. (Kamu, kamu yang beriman, janganlah mengambil mereka yang memperlakukan agamamu dengan sikap mengejek dan bermain-main dari mereka yang diberi Kitab sebelum kamu, dan orang tidak beriman sebagai pelindung, dan takutilah serta patuhilah Allah, jika kamu orang beriman.) (versi Muhamed dan Samira Ahmed)

5:57 O you who believe! Do not take allies those who take your religion in ridicule and fun among those who were given the Book and the disbelievers. And fear Allah, if you are believers. (Hai kamu yang beriman! Jangan mengambil sekutu mereka yang memperlakukan agamamu dengan sikap mengejek dan bermain-main di antara mereka yang diberi Kitab dan orang tidak beriman. Dan takutlah pada Allah, jika kamu orang beriman.) (versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri)


5:57 O ye who believe! take not for friends and protectors those who take your religion for a mockery or sport,- whether among those who received the Scripture before you, or among those who reject Faith; but fear ye Allah, if ye have faith (indeed). (Hai kamu yang beriman! Janganlah mengambil teman dan pelindung dari mereka yang memperlakukan agamamu sebagai ejekan atau permainan, baik mereka yang menerima Kitab sebelummu maupun yang menolak untuk beriman; tetapi takutlah kepada Allah, jika kamu benar-benar beriman.) (Abdullah Yusuf Ali)


5:57. Wahai orang-orang yang percaya, janganlah mengambil sebagai sahabat-sahabat kamu dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan orang-orang yang tidak percaya, yang mengambil agama kamu dalam ejekan dan sebagai satu permainan; dan takutlah kepada Allah, jika kamu orang-orang mukmin. (versi Othman Ali).


Berdasarkan Al Qur’an terjemahan versi Muhamed dan Samira Ahmed, Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri, Abdullah Yusuf Ali, dan Othman Ali dapat diketahui bahwa kata ”pemimpin” tidak ada dalam terjemahan ayat 5:51 dan 5:57. Lalu, kata dalam bahasa Arab apa yang ditafsirkan secara berbeda tersebut? Dalam transliterasi di Qur'an Viewer software v2.913, kata tersebut adalah awliyaa (awliy[a]a) atau auliyaa dalam transliterasi Al Qur’an terjemahan versi Dep Agama RI.


Dalam Al Qur’an terjemahan versi Dep. Agama RI disebutkan bahwa auliyaa merupakan bentuk jamak dari kata wali. Dalam Al Qur’an terjemahan tersebut, pengertian auliyaa disebutkan dua kali secara tidak konsisten. Dalam catatan kaki no.192 dalam penjelasan ayat 3:28, wali yang jamaknya auliyaa berarti teman yang akrab, juga berarti pemimpin, pelindung atau penolong. Namun dalam catatan kaki no. 368 dalam penjelasan ayat 4:144, wali yang jamaknya auliyaa berarti teman yang akrab, juga berarti pelindung atau penolong. Ketidakkonsistenan itu ada pada absensi kata ”pemimpin” pada catatan kaki no. 368.


Menurut penulis, pengertian auliyaa dalam catatan kaki no. 368 dalam penjelasan ayat 4:144 yaitu teman yang akrab, yang juga berarti pelindung atau penolong adalah lebih tepat karena sesuai dengan Al Qur’an terjemahan versi lainnya yang disebutkan di muka. Jadi kata ”pemimpin” dalam ayat 5:51 dan 5:57 terjemahan adalah tidak tepat. Yang tepat adalah apabila kata ”pemimpin” dalam 5:51 dan 5:57 diganti dengan ”teman akrab yang dijadikan sebagai pelindung dan penolong”.


Dalam Al Qur’an terjemahan Dep. Agama RI, kata auliyaa juga diterjemahkan secara tidak konsisten. Kadang-kadang kata auliyaa diartikan dengan ”pemimpin” (dalam 5:51 dan 5:57) tetapi kadang-kadang diartikan dengan ”wali” (3:28; 4:144; dan 9:23).


3:28. Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).


4:144. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu) ?


9:23. Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapa-bapa dan saudara-saudaramu menjadi wali(mu), jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.


Agar lebih yakin tentang ketidakkonsistenan penerjemahan kata ”auliyaa” atau ”awliy[a]a”, transliterasi semua ayat di atas versi Qur'an Viewer software v2.913 disajikan di sini. Perhatikan kata ”awliy[a]a” yang digarisbawahi pada tiap-tiap ayat.


005.051 Y[a] ayyuh[a] alla[th]eena [a]manoo l[a] tattakhi[th]oo alyahooda wa(al)nna[sa]r[a] awliy[a]a baAA[d]uhum awliy[a]o baAA[d]in waman yatawallahum minkum fa-innahu minhum inna All[a]ha l[a] yahdee alqawma a(l){thth}[a]limeen(a)


005.057 Y[a] ayyuh[a] alla[th]eena [a]manoo l[a] tattakhi[th]oo alla[th]eena ittakha[th]oo deenakum huzuwan walaAAiban mina alla[th]eena ootoo alkit[a]ba min qablikum wa(a)lkuff[a]ra awliy[a]a wa(i)ttaqoo All[a]ha in kuntum mu/mineen(a)


003.028 L[a] yattakhi[th]i almu/minoona alk[a]fireena awliy[a]a min dooni almu/mineena waman yafAAal [tha]lika falaysa mina All[a]hi fee shay-in ill[a] an tattaqoo minhum tuq[a]tan wayu[h]a[thth]irukumu All[a]hu nafsahu wa-il[a] All[a]hi alma[s]eer(u)


004.144 Y[a] ayyuh[a] alla[th]eena [a]manoo l[a] tattakhi[th]oo alk[a]fireena awliy[a]a min dooni almu/mineena atureedoona an tajAAaloo lill[a]hi AAalaykum sul[ta]nan mubeen[a](n)


009.023 Y[a] ayyuh[a] alla[th]eena [a]manoo l[a] tattakhi[th]oo [a]b[a]akum wa-ikhw[a]nakum awliy[a]a ini ista[h]abboo alkufra AAal[a] al-eem[a]ni waman yatawallahum minkum faol[a]-ika humu a(l){thth}[a]limoon(a)


Jadi, Dep. Agama RI telah menerjemahkan kata “auliyaa” secara tidak konsisten. Kadang-kadang ia berarti pemimpin tetapi kadang-kadang berarti wali. Hal ini menimbulkan pertanyaan-pertanyaan. Ada apa dibalik semua ini?


Seperti sudah diutarakan di depan bahwa ”wali” dalam terjemahan ayat-ayat di atas adalah terjemahan dari auliyaa. Oleh karena itu, terjemahan ayat-ayat di atas akan lebih tepat jika kata ”wali” diganti dengan ”teman akrab yang dijadikan sebagai pelindung dan penolong”. Selain itu, penafsiran kata wali juga sering membingungkan karena ada istilah wali murid atau wali sanga.


Pada dasarnya, ayat-ayat di atas berisi ajaran tentang tata cara bergaul orang islam dengan orang tidak beriman. Orang tidak beriman mencakup orang yahudi, orang nasrani (kristen), orang kafir, atau orang bukan islam lainnya, yang mereka bisa saja adalah bapak-bapak orang islam atau saudara-saudara orang islam. Intinya, orang islam tidak boleh meninggalkan agamanya karena berteman akrab dengan orang tidak beriman dan meninggalkan orang islam. Orang-orang tidak beriman yang perlu diwaspadai adalah yang menjadikan agama islam sebagai bahan ejekan dan permainan dan yang mengutamakan kekafiran daripada keimanan. Sebagai teman akrab, orang tidak beriman seperti itu akan membujuk atau mempengaruhi orang islam untuk keluar dari agamanya dengan cara memberikan perlindungan dan pertolongan. Perlindungan dan pertolongan mereka mungkin diwujudkan dalam bentuk pemberian rasa aman, uang, rumah, atau yang selainnya. Jadi, orang islam tidak boleh bergaul dengan orang-orang yang menginginkan agar orang islam keluar dari agama islam.


Orang islam boleh berteman akrab dengan orang tidak beriman dengan catatan bahwa orang tidak beriman itu tidak membujuk atau mempengaruhi orang islam agar keluar dari agama islam. Selain itu, dalam pertemanan atau persahabatan itu, orang islam tidak boleh meninggalkan orang islam yang lain.


Dalam bergaul dengan orang tidak beriman, orang islam harus berbuat adil karena orang islam harus berbuat adil kepada setiap orang (16:90 dan 5:8). Orang islam tidak dilarang untuk berbuat adil terhadap orang yang tidak memusuhi kita karena agama dan tidak mengusir kita dari negeri kita (60:8). Secara umum, sikap adil itu diwujudkan dengan memberikan hak-hak orang tidak beriman.


16:90. Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (versi Dep. Agama RI)


5:8. Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (versi Dep. Agama RI)


60:8. Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (versi Dep. Agama RI)


Jika demikian, bolehkah orang tidak beriman memimpin orang islam? Arti kepemimpinan bersifat luas. Dosen adalah pemimpin mahasiswa. Pilot adalah pemimpin perjalanan. Dirigen adalah pemimpin sebuah orkes. Presiden adalah pemimpin bangsa. Sutradara adalah pemimpin sandiwara. Pemimpin informal juga ada. Banyak sekali bentuk kemimpinan yang ada di masyarakat. Jadi, jawabannya bisa ya dan bisa tidak.


Menurut penulis, sepanjang hak atau otoritasnya tidak sampai pada urusan kehidupan beragama orang islam, orang tidak beriman mungkin bisa memimpin orang islam. Dengan kata lain, kepemimpinannya tersebut hanya terbatas pada kewenangannya dalam organisasi. Kita bisa mengecek hak dan otoritas para pemimpin berdasarkan peraturan-peraturan atau perundang-undangan yang berlaku. Jika pemimpin-pemimpin itu mengunakan haknya dengan baik dengan cara tidak mencampuri dan mengganggu kehidupan beragama orang islam, mereka boleh memimpin orang islam meskipun agamanya bukan islam.


Yang perlu diwaspadai adalah para pemimpin informal. Mereka adalah orang-orang berpengaruh yang ada di masyarakat. Pemimpin informal yang tidak beriman dapat mencampuri kehidupan beragama orang islam. Orang islam dilarang untuk memilih pelindung dan penolong dari orang tidak beriman yang menginginkan agar orang islam berpindah agama ke agama orang yang memberi perlindungan dan pertolongan.


PENUTUP

Ayat 5:51 dan 5:57 tidak dapat dijadikan landasan bahwa pemimpin harus beragama islam karena kata pemimpin dalam Al Qur’an terjemahan versi Dep. Agama RI adalah hasil penerjemahan kata auliyaa yang tidak tepat. Penerjemahan kata auliyaa yang lebih tepat adalah ”teman akrab yang dijadikan sebagai pelindung dan penolong”. Orang islam tidak boleh memilih teman akrab yang menginginkan orang islam keluar dari agama islam.