Jumat, 12 Juni 2009

MATEMATIKA SEDEKAH?

PENDAHULUAN

Ada sekelompok orang yang percaya pada matematika sedekah. Menurut mereka, balasan (pahala) sedekah diberikan di dunia ini yang besarnya sekian kali lipat yang disedekahkan. Kadang-kadang, mereka menyebut istilah kekuatan sedekah. Kedua istilah ini dapat digunakan sebagai kata kunci dalam mesin pencari di internet jika pembaca ingin mengetahuinya lebih rinci.

Penulis tertarik untuk membahas tentang matematika sedekah ditinjau dari ajaran dalam Al Qur’an. Makalah ini sekaligus juga merupakan makalah tentang sedekah atau zakat karena di dalamnya dibahas tentang hal tersebut. Al Qur’an terjemahan yang digunakan adalah karya Dep. Agama RI dalam program Al Qur’an Digital versi 2.1. Jika Al Qur’an terjemahan versi yang lain digunakan, versinya akan disebutkan.

SEDEKAH

Pertama-tama, penulis mengutip dua ayat berikut ini.

2:2. Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa,

2:3. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.

Kedua ayat tersebut menerangkan bahwa menafkahkan sebagian rezki yang dianugerahkan Allah adalah salah satu kriteria orang bertaqwa. Rezki atau sering ditulis dengan rejeki, rezeki, atau rizki ialah segala yang dapat diambil manfaatnya. Dengan kata lain, rezki adalah kebutuhan hidup. Semua kebutuhan hidup pasti dapat diambil manfaatnya. Dengan demikian, pengertian rezki sangat luas karena mencakup segala kebutuhan hidup. Contoh rezki antara lain makanan, air, oksigen, tempat berlindung, hiburan, suami atau istri, kebebasan, bahan bakar, binatang ternak, dll. Uang adalah calon rezki karena orang harus menukarkannya dengan kebutuhan hidup.

Sebagian rezki bisa diberikan kepada orang lain sedangkan sebagian yang lain tidak. Contoh rezki yang bisa diberikan kepada orang lain yaitu makanan, minuman, dan bahan bakar sedangkan contoh rezki yang tidak bisa diberikan kepada orang lain yaitu kesehatan, rasa aman, dan istri.

Menafkahkan sebagian rezki kadang-kadang dinyatakan dengan menunaikan zakat, membelanjakan harta, memberi sedekah, atau mengeluarkan sedekah. Sedekah adalah istilah untuk menyatakan sebagian rezki dari Allah yang diberikan kepada yang berhak. Dari segi materi, zakat dan sedekah pada dasarnya mempunyai pengertian yang sama yaitu sebagian rezki dari Allah yang diberikan kepada yang berhak. Perbedaannya, zakat mengandung arti kemanfaatan dari menafkahkan sebagian rezki, yaitu pembersihan atau penyucian diri. Menunaikan zakat berarti menafkahkan sebagian rezki untuk membersihkan atau menyucikan diri (9:103). Dengan demikan, pemberian sedekah dapat membersihkan diri atau menyucikan diri atau menghapus dosa.

9:103. Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Untuk mempertegas bahwa zakat dan sedekah mempunyai arti sama, yaitu sebagian sebagian rezki dari Allah yang diberikan kepada yang berhak, transliterasi ayat 9:103 disajikan berikut ini. Tampak dalam transliterasi tersebut bahwa kata zakat dalam terjemahan versi Dep. Agama RI adalah terjemahan dari kata [s]adaqatan (dalam transliterasi lain ditulis shodaqatan).

009.103 Khu[th] min amw[a]lihim [s]adaqatan tu[t]ahhiruhum watuzakkeehim bih[a] wa[s]alli AAalayhim inna [s]al[a]taka sakanun lahum wa(A)ll[a]hu sameeAAun AAaleem(un) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

Sebenarnya, [s]adaqatan atau shodaqatan dalam 9:103 lebih tepat diterjemahkan dengan sedekah. Meskipun demikian, penerjemahan seperti itu tidak menjadi masalah karena sedekah dan zakat, secara kebetulan, mempunyai arti yang sama, yaitu sebagian rezki dari Allah yang diberikan kepada yang berhak.

Kasus pengartian sedekah sama dengan zakat juga dijumpai dalam ayat-ayat terjemahan berikut ini.

9:58. Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (distribusi) zakat; jika mereka diberi sebahagian dari padanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebahagian dari padanya, dengan serta merta mereka menjadi marah.

009.058 Waminhum man yalmizuka fee a(l)[ss]adaq[a]ti fa-in oAA[t]oo minh[a] ra[d]oo wa-in lam yuAA[t]aw minh[a] i[tha] hum yaskha[t]oon(a) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

9:60. Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

009.060 Innam[a] a(l)[ss]adaq[a]tu lilfuqar[a]-i wa(a)lmas[a]keeni wa(a)lAA[a]mileena AAalayh[a] wa(a)lmu-allafati quloobuhum wafee a(l)rriq[a]bi wa(a)lgh[a]rimeena wafee sabeeli All[a]hi wa(i)bni a(l)ssabeeli faree[d]atan mina All[a]hi wa(A)ll[a]hu AAaleemun [h]akeemun (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

Perlu disampaikan kembali bahwa zakat dan sedekah mempunyai arti sama, yaitu sebagian rezki dari Allah yang diberikan kepada yang berhak. Perbedaannya, dalam kata zakat terkandung arti kemanfaatan dari menafkahkan sebagian rezki, yaitu pembersihan atau penyucian diri. Dengan kalimat lain, sebagian rezki yang diberikan kepada yang berhak dapat disebut dengan zakat dan dapat pula disebut dengan sedekah. Sebagai contoh, uang receh 1000 rupiah yang diberikan kepada pengemis dapat diistilahkan dengan zakat atau sedekah. Di lain pihak, perhiasan emas yang diberikan orang kaya kepada orang miskin dapat pula diistilahkan dengan sedekah atau zakat.

Yang berhak menerima sedekah dijelaskan dalam 2:215 dan 9:60. Meskipun demikian, penulis tidak menggunakan ayat 9:60 terjemahan versi Dep. Agama RI karena ada bagian terjemahan yang penulis tidak setuju. Sebagai gantinya, terjemahan versi Muhamed dan Samira Ahmed digunakan.

2: 215. Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: "Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan." Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.

9:60 But the charities (are) to the poor/needy, and the poorest of poor/poor oppressed, and the doers/workers on it, and (those who) their hearts/minds (are) united/joined, and in the necks (freeing) slaves, and the obliged indebted, and in God's sake/path, and the traveler/stranded traveler (it is) a religious duty/stipulation from God, and God (is) knowledgeable, wise/judicious. (Tetapi sedekah-sedekah (adalah) untuk orang miskin, dan orang paling miskin, dan orang-orang yang bekerja padanya, dan (mereka yang) hati mereka disatukan, dan dalam leher-leher (membebaskan) budak, dan orang-orang yang berhutang, dan dalam jalan Allah, dan orang dalam perjalanan adalah suatu kewajiban religius dari Allah, dan Allah banyak mengetahui, bijaksana.) (versi Muhamed dan Samira Ahmed).

Ada sedikit penjelasan dalam ayat 9:60 terjemahan di atas yang perlu dibuat. Orang-orang yang bekerja padanya adalah orang yang bekerja pada pemberi kerja dan orang tersebut berhak menerima sedekah dari pemberi kerja. Maksudnya, orang yang mempunyai pegawai atau pekerja wajib memberikan sedekah kepada pegawainya atau pekerjanya. Mereka yang hatinya disatukan adalah pasangan pengantin yang menikah.

Berdasarkan kedua ayat tersebut, dapat disampaikan bahwa sedekah diberikan :

1. kepada ibu-bapak

2. kepada kaum kerabat (sanak saudara)

3. kepada anak-anak yatim

4. kepada orang-orang miskin (dari yang paling miskin sampai yang miskin)

5. kepada orang-orang yang bekerja padanya

6. kepada orang-orang yang disatukan hatinya (menikah)

7. kepada orang-orang yang berhutang

8. kepada orang-orang dalam perjalanan

9. untuk memerdekakan budak

10. untuk berjuang di jalan Allah

Orang yang bersedekah hendaknya memberikan sedekahnya kepada orang-orang yang termasuk dalam 10 kategori tersebut. Tentu saja, sedekah tersebut tidak harus diberikan kepada semua orang-orang yang termasuk dalam 10 kategori tersebut. Pemberian sedekah dilakukan sendiri atau oleh pengurus sedekah yang dibentuknya sendiri. Pengurus sedekah mungkin diperlukan jika pemberi sedekah adalah orang yang kaya dan sibuk sehingga tidak mempunyai waktu untuk membagi sendiri.

Yang paling penting untuk diperhatikan adalah bahwa sedekah yang diberikan harus sampai ke orang-orang yang termasuk dalam 10 kategori penerima sedekah. Orang-orang tersebut telah ditunjuk Allah sebagai yang berhak menerima sedekah sehingga kita harus menyerahkan sedekahnya kepada mereka. Mereka berhak menggunakan sedekah yang diterimanya sesuai dengan keinginan mereka. Dengan demikian, pengurus-pengurus sedekah tidak boleh menggunakan sedekah yang diurusnya sebelum sedekah tersebut sampai ke orang-orang yang termasuk dalam 10 kategori penerima sedekah.

Akhir-akhir ini, banyak pengurus sedekah yang diiklankan di televisi yang menggunakan sedekah yang dikumpulkannya sebelum sampai ke tujuannya. Bahkan ada yang mengatakan bahwa sedekah (zakat) bisa digunakan untuk modal usaha. Ini adalah suatu kasalahan. Yang benar, pengurus sedekah menyalurkannya ke yang berhak lebih dahulu. Penerima sedekah mungkin akan menggunakannya untuk membeli makanan atau pakaian, membayar sekolah, membayar hutang, membeli obat, membuat kamar mandi, dll. Pengurus sedekah juga tidak boleh membujuk agar para penerima sedekah bersedia menginvestasikan sedekah yang jumlahnya tidak seberapa tersebut untuk modal usaha. Biarkanlah mereka menentukan peruntukannya sendiri!

Besar sedekah adalah yang lebih dari keperluan (2:219). Dalam bersedekah kita harus memikirkan kebutuhan kita terlebih dahulu. Setelah kebutuhan hidup tercukupi, barulah kita bersedekah. Persoalannya, bagaimana kita bisa mengatakan kebutuhan hidup telah tercukupi? Bukankah orang cenderung selalu merasa kekurangan? Dalam 2:219 Allah mengharapkan kita untuk berfikir tentang hal ini. Meskipun demikian, Allah memberi petunjuk bahwa besar sedekah yang diberikan supaya seperti yang tersurat dalam 25:67.

2:219. Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya." Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: " Yang lebih dari keperluan." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir,

25:67. Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.

Kita tidak boleh memberi sedekah terlalu banyak tetapi juga tidak boleh terlalu sedikit dan diusahakan agar besarnya berada di antara keduanya. Pemberian sedekah dilakukan baik dalam keadaan lapang maupun sempit (3:314). Sedekah dapat diberikan pada malam atau siang hari secara terang-terangan atau tersembunyi (2:274).

3:134. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

2:274. Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

Dalam memberikan sedekah, kita hanya mengharapkan keridhaan Allah (2:272). Kita tidak mengharapkan balasan dari orang lain atau ucapan terima kasih (76:9).

2:272. Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan).

76:9. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.

Tambahan, akhir-akhir ini ada wacana bahwa sedekah (zakat) dapat mengurangi pajak. Ini merupakan suatu kesalahan. Sedekah diberikan karena perintah Allah dengan mengharapkan ridha-Nya saja sedangkan pajak dibayarkan karena perintah negara. Wacana seperti ini secara tidak disadari akan menyebabkan orang bersedia membayar sedekah (zakat) bukan karena mengharapkan keridhaan Allah tetapi karena dapat mengurangi pajak yang harus dibayarnya. Secara tidak disadari pula wacana tersebut telah menempatkan negara dalam posisi yang sejajar dengan Allah karena memberi sedekah (zakat) disamakan dengan membayar pajak. Padahal, tidak ada satu pun yang sejajar atau setara dengan Allah (112:4). Artinya, wacana tersebut bersifat mengandung kemusyrikan. Selain itu, wacana tersebut akan membuat masyarakat beranggapan bahwa memberikan sedekah (zakat) cukup diberikan kepada panitia saja dan melupakan perintah Allah dalam 9:60 dan 2:215.

112:4. dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.

Pada jaman Nabi Muhammad, orang yang hendak mengadakan pembicaraan khusus dengan Nabi diperintahkan untuk bersedekah (58:12).

58:12. Hai orang-orang beriman, apabila kamu mengadakan pembicaraan khusus dengan Rasul hendaklah kamu mengeluarkan sedekah (kepada orang miskin) sebelum pembicaraan itu. Yang demikian itu lebih baik bagimu dan lebih bersih; jika kamu tidak memperoleh (yang akan disedekahkan) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

BALASAN (PAHALA) SEDEKAH

Allah menyatakan bahwa Dia akan mengganti sedekah yang dinafkahkan (34:39). Artinya, kita akan mendapatkan ganti sebesar yang kita nafkahkan di dunia ini. Dengan demikian, orang yang bersedekah tidak dirugikan.

34:39. Katakanlah: "Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)." Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.

Selain mendapatkan ganti sedekah yang diberikan di dunia, kita juga akan mendapatkan balasan (pahala) berlipat. Dalam 2:261 diterangkan bahwa orang yang menafkahkan harta di jalan Allah diumpamakan seperti orang yang menanam sebutir biji tumbuhan yang kemudian akan tumbuh dan menghasilkan jumlah biji yang lebih banyak. Disebutkan di situ bahwa satu biji kelak akan menghasilkan 7 x 100 biji atau sama dengan 700 biji.

2:261. Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.

Namun, tingkat pelipatganda sebesar 700 kali itu hanyalah sebuah perumpamaan untuk memperjelas arti pelipatgandaan tersebut. Itu terlihat dari penggunaan kata perumpamaan. Allah menggunakan perumpamaan yang lain dalam ayat yang lain. Dalam 2:265, Allah mengumpamakan pelipatgandaan balasan bagi orang membelanjakan harta seperti kebun di dataran tinggi yang menghasilkan buahnya dua kali lipat. Air merupakan faktor pembatas pertumbuhan pohon di dataran tinggi sehingga dengan kedatangan air hujan meskipun hanya hujan gerimis akan dapat menghasilkan buah sebanyak dua kali lipat dibanding dalam keadaan tanpa hujan.

2:265. Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.

Tingkat pelipatganda sebesar 2 kali lipat atau 700 kali lipat di atas hanyalah sebuah perumpamaan. Yang dapat kita tangkap adalah bahwa Allah akan memberikan balasan berlipatganda atas sedekah yang kita berikan.

Amal sedekah yang kita lakukan tidak dibalas di dunia fana tetapi hanya dicatat lebih dahulu sebelum diberi balasan yang lebih baik daripada yang kita lakukan (9:121). Perlu diingat pula bahwa lebih baik tidak sama dengan lebih banyak.

9:121. dan mereka tiada menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal saleh pula) karena Allah akan memberi balasan kepada mereka yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.

Balasan dari Allah yang berlipatganda atas sedekah yang kita lakukan akan melebihi balasan perbuatan jahat yang kita lakukan karena perbuatan jahat dibalas hanya sebanding dengan kejahatan yang dilakukan (40:40). Oleh karena itu, sedekah yang kita berikan akan menghapus kesalahan-kesalahan kita (2:271) karena amal yang baik akan menghapus amal yang jahat (11:114).

40:40. Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalasi melainkan sebanding dengan kejahatan itu. Dan barangsiapa mengerjakan amal yang saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezki di dalamnya tanpa hisab.

2:271. Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

11:114. Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.

Jadi, balasan sedekah tidak diberikan di dunia ini. Balasan sedekah yang berlipat akan dicatat dan pada hari kiamat akan digunakan untuk menghapus dosa kita.

MATEMATIKA SEDEKAH

Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa balasan sedekah tidak diberikan di dunia ini. Hal ini berbeda dengan pandangan metematika sedekah yang mengatakan bahwa balasan berlipat itu diberikan di dunia. Yang menjadi acuan dalam menjelaskan matematika sedekah yang penulis baca di internet adalah 6:160.

6:160. Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).

Dalam ayat 9:160 disebutkan bahwa ada balasan 10 kali lipat yang diberikan untuk orang yang membawa amal yang baik. Hal ini kemudian dijadikan dasar pembuatan rumus matematika sedekah. Meskipun yang tertulis di situ amal yang baik, mereka tidak menggunakan istilah matematika amal yang baik.

Namun, berdasarkan uraian sebelumnya, balasan sedekah tidak diberikan di dunia. Tingkat pelipatganda sebesar 10 kali hanyalah sebuah perumpamaan, sama seperti perumpamaan tingkat pelipatganda sebesar 2 kali dalam 2:265 dan 700 kali dalam 2:261. Ketidakkonsistenan bilangan tingkat pelipatganda tersebut menunjukkan bahwa semua itu hanyalah perumpamaan. Cara penilaian amal sedekah yang sesungguhnya adalah rahasia Allah.

Menurut penulis, ayat itu memperlihatkan bahwa Allah Maha Pemurah dan Maha Penyayang. Dalam memberikan penilaian amal manusia, Allah memberi bobot yang lebih banyak pada amal yang baik daripada amal yang jahat. Dengan cara demikian, kemungkinan orang beriman masuk surga menjadi lebih besar. Untuk lebih menguatkan penafsiran seperti itu, ada baiknya kita cermati ayat 4:40 berikut ini.

40:40. Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalasi melainkan sebanding dengan kejahatan itu. Dan barangsiapa mengerjakan amal yang saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezki di dalamnya tanpa hisab.

Dalam 40:40 ada informasi yang kurang lebih senada dengan 6:160 yaitu tentang besar balasan perbuatan jahat dan perbuatan baik. Dijelaskan dalam 40:40 bahwa balasan amal jahat adalah sebanding dengan kejahatan yang dilakukan sedangkan balasan amal shaleh orang yang beriman adalah surga. Jelaslah sudah bahwa balasan yang disebutkan dalam 6:160 dan 40:40 adalah berkaitan dengan balasan di akhirat kelak, bukan balasan di dunia yang fana ini. Dan, balasan yang dimaksud adalah balasan amal yang baik, bukan amal sedekah saja. Kita tidak bisa memahami cara Allah menghitung balasan amal-amal kita. Yang jelas, hisab (perhitungan) Allah adalah sangat cepat (14:51).

14:51. agar Allah memberi pembalasan kepada tiap-tiap orang terhadap apa yang ia usahakan. Sesungguhnya Allah Maha cepat hisab-Nya.

Memang benar bahwa Allah memberikan pahala (balasan) di dunia dan di akhirat (3:148).

3:148. Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.

Namun, pahala di dunia yang diberikan bukan berupa harta benda melainkan berupa sesuatu yang bersifat rohaniah seperti pertolongan, kitab Alah, petunjuk Allah, hikmah dan ilmu, dan keabadian nama (37:114 sampai 37:121, 28:14, 12:22, dan 6;84). Walaupun begitu, semuanya itu adalah balasan untuk orang yang berbuat baik, bukan balasan untuk orang yang bersedekah saja. Perlu diingat bahwa bersedekah hanyalah satu dari sekian banyak perbuatan baik.

37:114. Dan sesungguhnya Kami telah melimpahkan nikmat atas Musa dan Harun.

37:115. Dan Kami selamatkan keduanya dan kaumnya dari bencana yang besar.

37:116. Dan Kami tolong mereka, maka jadilah mereka orang-orang yang menang.

37:117. Dan Kami berikan kepada keduanya kitab yang sangat jelas.

37:118. Dan Kami tunjuki keduanya ke jalan yang lurus.

37:119. Dan Kami abadikan untuk keduanya (pujian yang baik) dikalangan orang-orang yang datang kemudian;

37:120. (yaitu): "Kesejahteraan dilimpahkan atas Musa dan Harun."

37:121. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang- orang yang berbuat baik.

28:14. Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya, Kami berikan kepadanya hikmah (kenabian) dan pengetahuan. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

12:22. Dan tatkala dia cukup dewasa Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

6:84. Dan Kami telah menganugerahkan Ishak dan Yaqub kepadanya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

REZKI YANG TIADA DISANGKA-SANGKA

Seseorang dapat memikirkan atau membayangkan rezki yang akan diterima sebelumnya, misalnya rezki yang berupa gaji, upah, atau hasil pertanian. Penerimaan gaji, upah, atau hasil pertanian sudah pernah dibayangkan atau dipikirkan sebelumnya sehingga yang seperti itu termasuk rezki yang datang dari arah yang disangka-sangka.

Namun, kadang-kadang seseorang mendapatkan rezki yang tidak pernah dipikirkan atau dibayangkan sebelumnya. Orang yang seperti ini berarti menerima rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Contoh rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya adalah berupa sedekah dari seseorang, uang tanpa pemilik yang ditemukan, makanan dari seseorang, dll. Rezki yang datang dari arah yang tidak disangka-sangka di dunia ini diberikan kepada orang bertaqwa. Ayat-ayat itu adalah 65:2 dan 65:3.

65:2. Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.

65:3. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.

Kedua ayat di atas menjelaskan bahwa rezki yang diterima dari arah yang tidak disangka-sangka itu adalah untuk orang yang bertaqwa. Dan, taqwa itu tidak sama dengan bersedekah. Bersedekah hanyalah sebagian dari unsur taqwa. Jadi, jika ingin mendapatkan rezki dari arah yang tidak disangka-sangka, kita harus menjadi orang yang bertaqwa kepada Allah.

PENUTUP

Mengapa kita tidak berpikir yang sederhana saja? Marilah kita berusaha menjadi orang bertaqwa kepada Allah agar kelak dimasukkan ke dalam surga (51:15). Kita memberi sedekah karena itu adalah perintah Allah dan merupakan syarat untuk dikatakan sebagai orang bertaqwa. Kita berikan sedekah kepada yang berhak dengan hanya mengharapkan ridha-Nya.

51:15. Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam taman-taman (syurga) dan mata air-mata air,

Ada satu ayat yang menarik untuk kita renungkan dalam kaitannya dengan matematika sedekah. Ayat itu ada di surat nomor 74 ayat 6.

74:6. dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.