Jumat, 12 Juni 2009

NABI TERAKHIR

PENDAHULUAN

Dari dahulu sampai sekarang, masih saja ada orang yang mengaku dirinya sebagai seorang Rasul Allah atau Nabi. Bagaimana sikap kita terhadap khasus seperti ini? Makalah ini ditulis untuk menjelaskan tentang Nabi dan Rasul Allah menurut Al Qur’an. Al Qur’an terjemahan yang digunakan adalah hasil terjemahan Dep. Agama RI yang ada di program Al Qur’an Digital versi 2.1.

PENGERTIAN RASUL ALLAH

Rasul berarti utusan. Rasul Allah berarti utusan Allah. Rasul Allah terdiri dari malaikat dan manusia (22:75).

22:75. Allah memilih utusan-utusan-(Nya) dari malaikat dan dari manusia; sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Para malaikat adalah makhluk Allah yang dapat melakukan segala hal seperti yang dikehendaki-Nya. Meskipun demikian, ada suatu tugas yang tidak mungkin dilakukannya yaitu tugas menyampaikan ajaran Allah kepada manusia. Jika rasul tersebut malaikat, ia harus menjelma menjadi manusia (6:9). Seorang rasul untuk manusia harus penghuni bumi. Jika malaikat adalah penghuni bumi, malaikat tersebut dapat menjadi rasul (17:95). Jadi, seorang rasul yang bertugas menyampaikan ajaran Allah kepada manusia harus berupa manusia.

6: 9. Dan kalau Kami jadikan rasul itu malaikat, tentulah Kami jadikan dia seorang laki-laki dan (kalau Kami jadikan ia seorang laki-laki), tentulah Kami meragu-ragukan atas mereka apa yang mereka ragu-ragukan atas diri mereka sendiri.

17: 95. Katakanlah: "Kalau seandainya ada malaikat-malaikat yang berjalan-jalan sebagai penghuni di bumi, niscaya Kami turunkan dari langit kepada mereka seorang malaikat menjadi rasul."

Lalu, apakah manusia tersebut boleh sembarang manusia? Tidak! Manusia itu haruslah memenuhi syarat sebagai orang yang akan dijadikan utusan Allah. Manusia itu disebut Nabi. Jadi, Nabi adalah manusia istimewa.

Nabi merupakan manusia yang sudah direncanakan-Nya untuk dijadikan seorang Nabi. Kita dapat mengambil kisah Nabi Musa, Nabi Isa, dan Nabi Muhammad sebagai contoh. Sejak kelahirannya, Nabi Musa selalu dalam pengawasan dan pemeliharaan Allah. Setelah Nabi Musa sudah cukup umur dan sempurna akalnya, ia diberikan hikmah dan pengetahuan oleh Allah (28:14). Tanda-tanda Nabi Isa akan menjadi seorang Nabi sudah terlihat dari proses kelahirannya. Bahkan ketika bayi, ia sudah bisa mengatakan bahwa ia adalah seorang Nabi (19:29 dan 19:30). Kehadiran Nabi Muhammad sudah ditentukan sebelum dia lahir (61:6).

28:14. Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya, Kami berikan kepadanya hikmah (kenabian) dan pengetahuan. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

19:29. maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: "Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam ayunan?"

19:30. Berkata Isa: "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi,

61:6. Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: "Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)." Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata."

Sampai di sini dapat dimengerti bahwa Nabi adalah manusia yang direncanakan Allah untuk dijadikan Utusan-Nya atau Rasul-Nya. Makhluk Allah berupa manusia yang dijadikan Utusan-Nya disebut Nabi sedangkan makhluk Allah selain manusia yang dijadikan Utusan-Nya adalah malaikat. Dengan demikian, seorang Nabi adalah Rasul Allah dan seorang Rasul Allah adalah Nabi. Atau dapat dikatakan bahwa Nabi dan Rasul Allah adalah sama.

Jika Nabi dan Rasul Allah adalah sama, tugasnya tentu akan sama. Kesamaan tugas Nabi dan Rasul Allah dapat terlihat pada 48:8 dan 33:45.

48:8. Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan,

33:45. Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan,

Tugas seorang Nabi yang ditunjuk sebagai Rasul Allah adalah menjadi saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.

Para Nabi yang diberi tugas sebagai Rasul Allah terikat dalam suatu perjanjian antara mereka dan Allah (3:81).

3:81. Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: "Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya. Allah berfirman: "Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?" Mereka menjawab: "Kami mengakui." Allah berfirman: "Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu."

Dapat dikatakan di sini bahwa tidak ada seorang Nabi pun yang tidak dijadikan Rasul Allah. Tidak benar anggapan yang mengatakan bahwa seorang Nabi belum tentu seorang rasul. Nabi dan Rasul Allah adalah julukan untuk satu orang yang sama. Ayat 33:40 memperlihatkan bahwa Muhammad adalah seorang Nabi sekaligus seorang Rasul Allah

33: 40. Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Allah memberikan ajaran-ajaran-Nya kepada para Nabi (2:136). Orang mukmin diperintahkan untuk beriman kepada ajaran Allah yang diberikan kepada para Nabi-Nya. Dengan kata lain, ajaran yang diterima para Nabi adalah untuk semua manusia, bukan untuk dirinya sendiri. Jadi, Nabi dan Rasul Allah mempunyai tugas yang sama.

2:136. Katakanlah (hai orang-orang mukmin): "Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya".

MUHAMMAD PENUTUP NABI-NABI

Benarkah tidak akan ada lagi Nabi sesudah Nabi Muhammad? Ayat Al Qur’an yang oleh kebanyakan orang dijadikan landasan untuk menyatakan bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi terakhir adalah 33:40 karena dalam ayat tersebut ada frase kata ”penutup Nabi-nabi”.

33: 40. Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Penafsiran seperti itu adalah keliru. Penutup Nabi-nabi di sini berarti bahwa semenjak kehadiran Nabi Muhammad, semua Nabi yang ada sebelumnya menjadi tertutup sehingga tidak kelihatan. Artinya, semua manusia yang beriman kepada para Nabi sebelum Nabi Muhammad diperintahkan untuk beriman dan taat kepadanya. Ini sesuai dengan perjanjian antara para Nabi dan Allah bahwa Nabi yang lama harus beriman kepada Nabi yang baru (3:81). Jadi, ayat ini menjelaskan bahwa sejak saat itu manusia diperintahkan untuk beriman kepada Nabi Muhammad.

Pengertian penutup Nabi-nabi berbeda dengan Nabi penutup. Makna ”penutup” dalam Nabi penutup dapat diartikan sebagai akhir dalam sebuah proses. Dalam frase ”Nabi penutup” terkandung pengertian bahwa sesudah Nabi Muhammad tidak akan ada Nabi lagi. Akan tetapi, yang ada dalam 33:40 adalah penutup Nabi-nabi. Nabi-nabi dalam frase ”penutup Nabi-nabi” tentulah para Nabi sebelum Nabi Muhammad. Jadi, ayat 33:40 tidak menjelaskan bahwa sesudah Nabi Muhammad tidak akan ada Nabi Lagi.

NABI BARU

Jika memang demikian, apakah ini berarti bahwa Allah akan mengutus Nabi baru? Ayat 25:51 mungkin dapat digunakan untuk menjawab hal tersebut.

25:51. Dan andaikata Kami menghendaki benar-benarlah Kami utus pada tiap-tiap negeri seorang yang memberi peringatan (rasul).

Dalam pengamatan kita, hingga kini Allah tidak menurunkan rasul di tiap-tiap negeri. Ayat tersebut menunjukkan bahwa penurunan Rasul Allah adalah hak Allah. Selain itu, ayat tersebut merupakan bentuk pengandaian sesuatu yang tidak akan terjadi. Pengandaian dalam ayat 25:51 tersebut mirip dengan pengandaian dalam 10:99. Dalam 10:99 Allah mengatakan bahwa jika Dia menghendaki, semua orang di bumi akan beriman semuanya. Padahal, hingga kiamat akan ada orang yang tidak beriman. Oleh karena itu, ayat 25:51 tidak dapat diartikan bahwa Allah akan menurunkan Rasul Allah yang baru sesudah Muhammad.

10:99. Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya ?

Jika ditinjau dari kualitas agama islam dan Al Qur’an, kehadiran Rasul Allah yang baru adalah tidak mungkin. Agama yang dibawa Nabi Muhammad sudah sempurna (5:3). Agama islam didukung oleh Al Qur’an yang benar dan adil, sempurna, rapi, rinci penjelasannya, dan tidak meragukan (6:115; 11:1; 2:2). Tidak ada yang bisa merubah kalimat-Nya dan Allah akan selalu memelihara-Nya (6:115 dan 15;9). Jadi, tidak mungkin akan diturunkan kitab baru sesudah Al Qur’an diturunkan.

5:3. Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

6:115. Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merobah robah kalimat-kalimat-Nya dan Dia lah yang Maha Mendenyar lagi Maha Mengetahui.

11:1. Alif laam raa, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu,

2:2. Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa,

15:9. Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya

Dan kita yakin bahwa Allah tidak akan pernah meralat Al Qur’an. Allah juga sudah memasukkan segala sesuatu yang harus dimasukkan kedalam Al Qur’an (6:38).

6:38. Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.

Tambahan, pada hari kiamat Nabi Muhammad akan memberi kesaksian terhadap orang yang tidak beriman kepada Al Qur’an (25:29 dan 25:30). Kedua ayat ini menunjukkan bahwa hingga hari kiamat tidak akan ada lagi kitab baru sesudah Al Qur’an. Dan, yang menjadi saksi adalah Nabi yang membawa Al Qur’an tersebut.

25:29. Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia.

25:30. Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan."

Meskipun demikian, ada pendapat yang mengatakan bahwa Rasul Allah yang baru masih mungkin muncul dengan tidak membawa agama baru dan kitab baru. Dia akan menyatakan dirinya bukan Nabi dan hanya memberi peringatan dengan Al Qur’an. Menurut penulis, pendapat ini keliru. Seorang Rasul Allah bertugas memberi peringatan dengan wahyu yang diterimanya. Nabi Muhammad memberi peringatan dengan wahyu berupa Al Qur’an (42:7). Jadi, tidak mungkin ada Rasul Allah yang baru yang memberi peringatan tidak dengan wahyu yang diterimanya. Orang yang hanya mengajarkan Al Qur’an kepada umat manusia sedangkan ia bukan Rasul Allah disebut tukang atau juru dakwah.

42:7. Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al Quran dalam bahasa Arab, supaya kamu memberi peringatan kepada ummul Qura (penduduk Mekah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya serta memberi peringatan (pula) tentang hari berkumpul (kiamat) yang tidak ada keraguan padanya. Segolongan masuk surga, dan segolongan masuk Jahannam.

Yang akan datang sesudah Nabi Muhammad bukanlah seorang Nabi dan Rasul baru melainkan orang-orang yang berdakwah (3:104).

3:104. Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.

PENUTUP

Nabi adalah makhluk Allah berupa manusia yang dipilih Allah untuk dijadikan Rasul-Nya. Rasul Allah selain malaikat adalah nabi yang diberi tugas oleh Allah menjadi utusan-Nya. Sesudah Nabi Muhammad tidak akan ada Nabi dan Rasul Allah yang baru.