Minggu, 02 Agustus 2009

CARA MEMBERI SALAM

PENDAHULUAN

Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh berarti ”semoga Allah senantiasa memberikan keselamatan, rahmat, dan berkat kepadamu”. Itulah ucapan yang menjadi ciri-ciri orang beragama islam ketika berbicara di depan umum atau bertemu sesama orang islam. Benarkah ucapan itu merupakan ajaran yang ada dalam Al Qur’an? Makalah ini ditulis untuk mengaji ucapan semacam itu menurut Al Qur’an. Al Qur’an terjemahan yang digunakan adalah karya Dep. Agama RI yang ada dalam program komputer Al Qur’an Digital versi 2.1.


KOMUNIKASI ANTAR MANUSIA

Apa yang dilakukan oleh kita ketika akan berkomunikasi dengan orang lain? Kita akan menyapa orang itu sesuai dengan perasaan kita. Kalau kita benci dengan orang itu, sapaan (baca : sapa’an) yang muncul akan mencerminkan rasa benci itu. Sebaliknya, kalau kita hormat dengan orang itu, sapaan yang muncul juga akan mencerminkan rasa hormat itu. Sapaan semacam itu adalah salam dalam pengertian secara luas.


Kalau kita berada dalam sekumpulan orang dan kita tidak berkomunikasi dengan mereka, kita tidak melakukan pemberian salam. Namun, ketika kita hendak menanyakan sesuatu kepada seseorang, kita secara tidak sadar akan memberikan salam kepada orang itu. Mungkin, kita akan mengatakan dan atau berbuat sesuatu yang menyatakan rasa hormat kepada orang itu. Pemberian salam adalah sesuatu yang pasti terjadi ketika dua orang manusia sedang berkomunikasi. Tanpa diberi perintah pun orang akan memberi salam. Yang menjadi persoalan adalah : ”Bagaimana cara memberi salam yang diajarkan Allah kepada kita?”


DEFINISI SALAM

Allah memerintahkan kita untuk meminta ijin dan memberi salam kepada tuan rumah yang hendak dikunjungi (24:27). Jika tuan rumah tidak ada atau tuan rumah tidak bersedia menerima tamu, kita harus membatalkan niat kita untuk bertamu kepadanya (24:28).


24:27. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.


24:28. Jika kamu tidak menemui seorangpun didalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu: "Kembali (saja)lah, maka hendaklah kamu kembali. Itu bersih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.


Dua ayat di atas menunjukkan bahwa Allah memberi petunjuk kepada manusia tentang cara bergaul di tengah masyarakat. Jelas sekali disebutkan dalam dua ayat tersebut bahwa ketika bertamu kita harus meminta ijin dan memberi salam kepada tuan rumah. Selanjutnya kita akan lebih memfokuskan pembahasan kita pada perintah pemberian salam. Perintah pemberian salam ketika bertamu juga ada di 24:61.


24:61. Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang sakit, dan tidak (pula) bagi dirimu sendiri, makan (bersama-sama mereka) dirumah kamu sendiri atau dirumah bapak-bapakmu, dirumah ibu-ibumu, dirumah saudara- saudaramu yang laki-laki, di rumah saudaramu yang perempuan, dirumah saudara bapakmu yang laki-laki, dirumah saudara bapakmu yang perempuan, dirumah saudara ibumu yang laki-laki, dirumah saudara ibumu yang perempuan, dirumah yang kamu miliki kuncinya atau dirumah kawan-kawanmu. Tidak ada halangan bagi kamu makan bersama-sama mereka atau sendirian. Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah- rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayatnya(Nya) bagimu, agar kamu memahaminya.

Sekarang, kita membahas bagian terjemahan 24:61 yang diberi garis bawah. Yang berada dalam kurung adalah tambahan dari penerjemah. Jika tanda kurung itu dibuang, terjemahannya akan menjadi ” Maka apabila kamu memasuki rumah-rumah hendaklah kamu memberi salam kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik.” Maksud ”memberi salam kepada dirimu sendiri” adalah bahwa salam yang kita berikan itu sama dengan salam yang kita harapkan dari orang lain. Kalau kita mengharapkan salam yang baik dari orang lain, kita juga wajib memberi salam yang baik pula kepada orang lain.

Allah juga menjelaskan bahwa salam yang diberikan adalah yang diberkati dan baik. Terjemahan kata diberkati kedalam bahasa Inggris adalah blessed (kata sifat) yang berarti membawa kebahagiaan (kamus bahasa Inggris The Advanced Learner’s Dictionary of Current English karya A. S. Hornby, E. V. Gatenby, dan H. Wakefield, terbitan Oxford University Press, 1948). Salam yang diberkati adalah yang membawa kebahagiaan sedangkan salam yang baik adalah yang menyatakan perasaan yang baik seperti rasa hormat, perdamaian, bersahabat, dan kasih sayang.

Salam dapat dinyatakan dengan kata-kata dan perbuatan atau dengan perbuatan saja. Orang normal dapat memberikan salam dengan kata-kata atau perbuatan atau kedua-duanya sedangkan orang bisu akan memberikan salam dengan perbuatan saja. Perbuatan itu adalah bahasa tubuh yang dapat meliputi pembungkukan badan, senyuman, ekspresi wajah yang memancarkan rasa perdamaian (bukan permusuhan), jabat tangan, atau bentuk sikap pengormatan yang lain.


Salam dapat diartikan sama dengan penghormatan. Dalam Al Qur’an terjemahan versi Othman Ali ayat 24:61, salam disamakan dengan penghormatan (digarisbawahi).


24:61. Tidak bersalah atas orang buta, dan tidak bersalah atas orang cacat, dan tidak bersalah atas orang sakit, dan tidak juga atas diri kamu sendiri, untuk kamu makan di rumah-rumah kamu, atau rumah-rumah bapak-bapak kamu, atau rumah-rumah ibu-ibu kamu, atau rumah-rumah saudara-saudara lelaki kamu, atau rumah-rumah saudara-saudara perempuan kamu, atau rumah-rumah saudara-saudara lelaki bapak kamu, atau rumah-rumah saudara-saudara perempuan bapak kamu, atau rumah-rumah saudara-saudara lelaki ibu kamu, atau rumah-rumah saudara-saudara perempuan ibu kamu, atau yang kuncinya kamu miliki, atau sahabat kamu; tidak bersalah atas kamu untuk kamu makan bersama, atau secara terpisah. Apabila kamu memasuki rumah, berilah penghormatan kepada sesama kamu dengan salam hormat dari Allah, yang diberkati dan baik. Begitulah Allah menjelaskan kepada kamu ayat-ayat supaya kamu faham.

Sampai di sini dapat disimpulkan bahwa definisi salam adalah suatu penghormatan yang diberkati dan baik yang dapat diwujudkan dengan perkataan dan perbuatan atau perbuatan saja. Meskipun demikian, salam sering diidentikkan dengan ucapan salam. Oleh karena itu, ada baiknya kita membahas hal ini secara khusus.

PERINTAH PEMBERIAN SALAM

Pemberian Salam Ketika Bertamu

Sudah disampaikan di depan bahwa kita diperintahkan memberi salam kepada tuan rumah ketika bertamu (24:27 dan 24:61). Contoh pemberian salam ketika ingin memasuki rumah adalah yang dilakukan Rasul Allah berupa malaikat ketika berkunjung ke rumah Nabi Ibrahim (11:69 dan 51:25).


11:69. Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada lbrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan: "Selamat." Ibrahim menjawab: "Selamatlah," maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang.


51:25. (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan: "Salaamun." Ibrahim menjawab: "Salaamun (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal."


Yang diucapkan para malaikat dalam bahasa Arab adalah ”salaamun” (51:25) dan dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan ”selamat”. Yang sebenarnya diucapkan para malaikat pada waktu itu adalah bahasa yang digunakan Nabi Ibrahim sehari-hari. Sebagai ucapan pemberian salam yang baik dan membuat tuan rumah merasa senang, salam sebaiknya diucapkan dengan bahasa yang dipahami dan disenangi tuan rumah. Untuk apa kita mengucapkan salam jika tidak dipahami dan disenangi tuan rumah? Tidak ada artinya bukan?


Satu hal lagi yang sering dilupakan adalah bahwa perintah pemberian salam diterapkan kepada semua manusia tanpa memandang agama. Dalam 24:27 hanya disebutkan ”rumah yang bukan rumahmu”. Artinya, pemiliknya dapat beragama selain islam. Lalu, salam yang diucapkan kepada tuan rumah yang tidak beragama islam seperti apa? Dari pertanyaan ini kita dapat menyimpulkan bahwa salam yang dimaksud dalam 24:27 adalah salam yang lazim diucapkan oleh masyarakat setempat yaitu salam yang tidak membeda-bedakan agama.


Perintah Pemberian Salam kepada Nabi Muhammad

Ketika Nabi Muhammad masih hidup, orang beriman diperintahkan untuk memberi salam kepadanya (33:56).


33:56. Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.


Untuk keadaan sekarang, kita tidak dapat mengucapkan salam kepada Nabi Muhammad karena beliau sudah meninggal. Kita harus ingat bahwa orang yang sudah meninggal tidak bisa mendengar (30:52).


30:52. Maka Sesungguhnya kamu tidak akan sanggup menjadikan orang-orang yang mati itu dapat mendengar, dan menjadikan orang-orang yang tuli dapat mendengar seruan, apabila mereka itu berpaling membelakang


CONTOH PENGGUNAAN SALAM

Salam sebagai Sambutan Kedatangan dan Sambutan Perpisahan

Salam kadang-kadang digunakan untuk menyambut tamu yang dihormati. Contoh pemberian salam sebagai sambutan kedatangan tamu yang dihormati adalah ketika para malaikat menyambut para penghuni surga (16:32).


16:32. (yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): "Salaamun'alaikum, masuklah kamu ke dalam syurga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan."


Ucapan salam berbahasa Arab dalam 16:32 adalah salaamun'alaikum.


Salam kadang-kadang digunakan untuk menyatakan ucapan perpisahan. Contohnya ada dalam ayat (43:89).


43:89. Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari mereka dan katakanlah: "Salam (selamat tinggal)." Kelak mereka akan mengetahui (nasib mereka yang buruk).


043.089 Fa(i)[s]fa[h] AAanhum waqul sal[a]mun fasawfa yaAAlamoon(a)

(Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)


Tampak dalam transliterasi 43:89 bahwa Nabi Muhammad diperintahkan mengucapkan salam dengan ”sal[a]mun” atau “salaamun” yang oleh penerjemah ucapan itu diterjemahkan dengan “salam”.


Salam sebagai Ucapan Penghormatan

Nabi Ibrahim mengucapkan salam kepada bapaknya sebagai ungkapan rasa hormat (19:47).


19:47. Berkata Ibrahim: "Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memintakan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku

”Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu” adalah terjemahan dari ucapan salam dalam bahasa Arab ”salaamun'alaika”. Agar lebih jelas, ada baiknya disajikan transliterasi ayat tersebut.


019.047 Q[a]la sal[a]mun AAalayka saastaghfiru laka rabbee innahu k[a]na bee [h]afiyy[a](n) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913).


Selain itu, penggunaan “salaam” sebagai bentuk penghormatan juga digunakan dalam penyambutan para penghuni surga (14:23).


14:23. Dan dimasukkanlah orang-orang yang beriman dan beramal saleh ke dalam syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dengan seizin Tuhan mereka. Ucapan penghormatan mereka dalam syurga itu ialah "salaam".


PERINTAH PEMBALASAN PENGHORMATAN

Allah memerintahkan kepada kita untuk membalas penghormatan yang diberikan orang lain dengan penghormatan yang lebih baik atau paling tidak sama (4:86).


4:86. Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.


Oleh karena salam dapat untuk menyatakan rasa hormat kepada seseorang, kita wajib membalas salam semacam itu.


BAHASA YANG DIGUNAKAN DALAM UCAPAN SALAM

Dalam berkomunikasi, manusia menggunakan bahasa yang dipahaminya. Orang Indonesia berbahasa Indonesia, orang Inggris berbahasa Inggris, atau orang Arab berbahasa Arab. Penggunaan bahasa Arab dalam Al Qur’an bukan berarti bahwa Allah menghendaki agar bahasa Arab harus digunakan oleh semua manusia. Bahasa Arab digunakan dalam Al Qur’an karena kaum Nabi Muhammad berbahasa Arab (14:4). Tujuannya adalah agar kaum Nabi Muhammad dapat memahaminya (43:3).


14:4. Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.


43:3. Sesungguhnya Kami menjadikan Al Quran dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya).


Bahasa Arab bukanlah bahasa agama islam melainkan bahasa orang Arab. Bahasa agama islam bervariasi tergantung pada bahasa yang dipahami nabinya.


Oleh karena itu, dalam memberi salam kepada orang lain, kita tidak harus menggunakan bahasa Arab. Sebaiknya, kita menggunakan bahasa orang yang diberi salam agar orang itu memahaminya dan merasa senang. Sikap inilah yang dilakukan para malaikat ketika menyalami Nabi Ibrahim. Para malaikat tidak menggunakan bahasa malaikat melainkan bahasa yang digunakan Nabi Ibrahim.


Sebagai contoh, orang jawa menggunakan ”kulonuwun” sebagai salam ketika bertamu. Tuan ramah menjawab salam itu dengan ”monggo”. Tidak hanya itu, mereka seringkali menyertainya dengan senyuman dan keramahtamahan. Kulonuwun dan monggo merupakan ucapan salam orang jawa sebagai ekspresi perasaan yang baik dan diberkati.


Orang Indonesia mengucapkan salam dengan ”selamat pagi”, ”selamat siang”, ”selamat sore”, dll. Salam seperti itu pada dasarnya seperti yang dilakukan para malaikat ketika bertamu ke rumah Nabi Ibrahim (11:69). Perbedaannya ada pada penambahan waktu pemberian salam.


11:69. Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada lbrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan: "Selamat." Ibrahim menjawab: "Selamatlah," maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang.


Dalam 11:69 dijelaskan bahwa para malaikat menyambut Nabi Ibrahim dengan ucapan salam yang dalam bahasa Indonesia sama dengan ”selamat”. Berhubung kita diperintahkan taat kepada Rasul Allah, pemberian salam yang meniru para malaikat adalah dibenarkan karena malaikat adalah Rasul Allah. Penambahan unsur waktu seperti pagi, siang, atau malam mungkin berkaitan dengan kenyamanan ketika mengucapkan salam. Jika digunakan ”selamat” saja mungkin agak terasa kurang nyaman. Dengan penambahan kata ”pagi”, ”siang”, ”sore”, dll., pengucapannya menjadi terasa enak karena terdiri dari dua kata.


Sebagian orang menggunakan ”salam” sebagai ucapan salam. Mereka menerjemahkan ”salaamun” dalam 51:25 menjadi ”salam”.


Sebagian orang lebih menyukai salam dalam bahasa Arab. Ada yang percaya bahwa ucapan salam yang baik adalah ”assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh” yang berarti ”semoga Allah senantiasa memberikan keselamatan, rahmat, dan berkat kepadamu”. Mereka menilai bahwa ucapan salam seperti ini lebih baik karena mengandung doa. Namun, perlu diingat bahwa agar benar-benar menjadi doa, cara pengucapannya pun harus seperti orang sedang berdoa. Allah sudah memberi petunjuk cara berdoa yang benar (7:56).


7:55. Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.


7:56. Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.

Disebutkan dalam 7:55 dan 7:56 bahwa ketika berdoa, kita harus bersikap merendahkan diri dan mengucapkan doanya dengan suara yang lembut. Selain itu, kita harus diliputi perasaan takut dan harapan atau perasaan harap cemas. Perasaan harap cemas inilah yang meliputi Nabi Zakaria dan Nabi Yahya ketika berdoa.

21:90. Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepada nya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada Kami.

Jika menginginkan salam seperti itu menjadi sebuah doa, yang mengucapkannya harus sadar bahwa dia sedang berdoa kepada Allah. Adakah orang yang mengucapkan ”assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh” dengan sikap merendahkan diri dan suara yang lembut serta diliputi perasaan takut dan harapan atau perasaan harap cemas? Menurut penulis, jawabannya ”tidak ada”.

Bahkan, kadang-kadang ”assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh” diucapkan dengan suara keras dan sikap yang sama sekali tidak mencerminkan orang sedang berdoa. Ini sering terjadi ketika seseorang dipanggung mengucapkan salam tersebut dengan sound system. Yang di depan panggung menjawabnya dengan sekeras-kerasnya seperti berteriak karena tidak memakai sound system. Anehnya, yang di atas panggung justru meminta mengulangi jawaban salam tersebut jika suaranya dianggap kurang keras.

Jika ”assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh” adalah doa, mengapa pengucapannya tidak seperti orang sedang berdoa? Apakah doa boleh dianggap sebagai sesuatu yang tidak serius? Atau sesuatu yang bersifat aktivitas sambilan? Jadi, apakah ”assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh” dapat menjadi sebuah doa? Apa artinya mengucapkan doa jika yang mengucapkannya tidak sedang berdoa?

Selain itu, dalam ”assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh” terkandung unsur nama Tuhan. Padahal, Allah telah memberi petunjuk tentang cara menyebutkan nama Tuhan, yaitu dengan merendahkan diri dan rasa takut serta tidak mengeraskan suara (7:205). Oleh karena itu, pengucapannya akan semakin sulit jika dikaitkan dengan pengucapannya sebagai sebuah doa.

7:205. Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.

Jika demikian, bagaimana pemecahannya? Pemecahannya adalah dengan mengikuti petunjuk Allah dalam Al Qur’an. Jika ingin menggunakan salam berbahasa Arab karena mungkin akan merasa lebih mantab di hati, kita dapat meniru salam Nabi Ibrahim kepada bapaknya (19:47), yaitu ”salaamun'alaika” (ditujukan kepada satu orang) atau meniru salam para malaikat kepada para penghuni surga (16:32), yaitu ”salaamun'alaikum” (ditujukan kepada lebih dari satu orang), atau cukup ”salaamun” seperti yang dilakukan para malaikat kepada Nabi Ibrahim (51:25) dan yang diperintahkan Allah kepada Nabi Muhammad (43:89). Intinya, salam berbahasa Arab itu adalah ”salaamun”. Penambahan ”’alaika” atau ”’alaikum” bersifat pilihan atau opsional.

PENUTUP

Pemberian salam dilakukan oleh orang yang berkomunikasi dengan orang lain. Salam wajib diberikan kepada tuan rumah ketika bertamu. Salam yang diberikan itu adalah suatu bentuk penghormatan yang diberikan kepada orang lain yang menyatakan perasaan yang baik dan membuat senang orang lain. Salam dapat berupa perkataan dan perbuatan atau perbuatan saja. Bahasa ucapan salam tidak harus bahasa Arab. Kita wajib membalas dengan penghormatan yang lebih baik atau paling tidak sama atas penghormatan yang diberikan kepada kita.