Minggu, 01 November 2009

GEMPA BUMI



PENDAHULUAN

Akhir-akhir ini, Indonesia sering dilanda gempa hebat yang menimbulkan kerusakan dan korban manusia. Menurut para ahli, gempa adalah peristiwa alami berupa gerakan dalam tubuh bumi. Kata mereka, tiap tahun lempengan bumi bergeser beberapa sentimeter. Di sisi lain, kita juga harus ingat bahwa Allah-lah yang menguasahi semua proses di dunia ini. Apakah Allah tidak mampu menggerakkan lempengan bumi secara lembut sehingga tidak ada korban dan kerusakan? Tentu saja, Allah mampu melakukannya. Jika demikian, gempa yang terjadi selama ini tentulah bukan peristiwa alami biasa. Makalah ini dibuat untuk membahas hal tersebut dengan menggunakan Al Qur’an terjemahan versi Dep. Agama RI yang terdapat dalam program Al Qur’an digital versi 2.1.


GEMPA SEBAGAI AZAB

Allah pernah memberikan azab kepada manusia pada jaman Nabi Shaleh (7:77 dan 7:78).


7:77. Kemudian mereka sembelih unta betina itu, dan mereka berlaku angkuh terhadap perintah Tuhan. Dan mereka berkata: "Hai Shaleh, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah)."


7:78. Karena itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka.


Allah pernah memberikan azab kepada manusia pada jaman Nabi Syu’aib (29:36 dan 29:37).


29:36. Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan, saudara mereka Syu'aib, maka ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah olehmu Allah, harapkanlah (pahala) hari akhir, dan jangan kamu berkeliaran di muka bumi berbuat kerusakan."


29:37. Maka mereka mendustakan Syu'aib, lalu mereka ditimpa gempa yang dahsyat, dan jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat-tempat tinggal mereka.


Kita harus belajar dari kisah para Nabi. Allah menjadikan kisah umat yang dihukum pada jaman Nabi Musa sebagai pelajaran bagi kita semua (43:54; 43:55, dan 43:56).


43:54. Maka Fir'aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik.


43:55. Maka tatkala mereka membuat Kami murka, Kami menghukum mereka lalu kami tenggelamkan mereka semuanya (di laut),


43:56. dan Kami jadikan mereka sebagai pelajaran dan contoh bagi orang-orang yang kemudian.


Tentu saja, kita juga harus belajar dari kisah semua Nabi dalam Al Qur’an, termasuk kisah Nabi Syu’aib berikut ini.


Kisah Nabi Syu’aib dalam Surat Al A’raaf


7:85. Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan saudara mereka, Syu'aib. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman."


7:86. Dan janganlah kamu duduk di tiap-tiap jalan dengan menakut-nakuti dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah, dan menginginkan agar jalan Allah itu menjadi bengkok. Dan ingatlah di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu. Dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan.


7:87. Jika ada segolongan daripada kamu beriman kepada apa yang aku diutus untuk menyampaikannya dan ada (pula) segolongan yang tidak beriman, maka bersabarlah, hingga Allah menetapkan hukumnya di antara kita; dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya.


7:88. Pemuka-pemuka dan kaum Syu'aib yang menyombongkan dan berkata: "Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, atau kamu kembali kepada agama kami." Berkata Syu'aib: "Dan apakah (kamu akan mengusir kami), kendatipun kami tidak menyukainya?"


7:89. Sungguh kami mengada-adakan kebohongan yang benar terhadap Allah, jika kami kembali kepada agamamu, sesudah Allah melepaskan kami dari padanya. Dan tidaklah patut kami kembali kepadanya, kecuali jika Allah, Tuhan kami menghendaki(nya). Pengetahuan Tuhan kami meliputi segala sesuatu. Kepada Allah sajalah kami bertawakkal. Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya.


7:90. Pemuka-pemuka kaum Syu'aib yang kafir berkata (kepada sesamanya): "Sesungguhnya jika kamu mengikuti Syu'aib, tentu kamu jika berbuat demikian (menjadi) orang-orang yang merugi."


7:91. Kemudian mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka,


Kisah Nabi Syu’aib Dalam Surat Huud


11:84. Dan kepada (penduduk) Mad-yan (Kami utus) saudara mereka, Syu'aib. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat)."


11:85. Dan Syu'aib berkata: "Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan.


11:86. Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu jika kamu orang-orang yang beriman. Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu"


11:87. Mereka berkata: "Hai Syu'aib, apakah sembahyangmu menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal."


11:88. Syu'aib berkata: "Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan dianugerahi-Nya aku dari pada-Nya rezki yang baik (patutkah aku menyalahi perintah-Nya)? Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.


11:89. Hai kaumku, janganlah hendaknya pertentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu menjadi jahat hingga kamu ditimpa azab seperti yang menimpa kaum Nuh atau kaum Hud atau kaum Shaleh, sedang kaum Luth tidak (pula) jauh (tempatnya) dari kamu.


11:90. Dan mohonlah ampun kepada Tuhanmu kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih.


11:91. Mereka berkata: "Hai Syu'aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah di antara kami; kalau tidaklah karena keluargamu tentulah kami telah merajam kamu, sedang kamupun bukanlah seorang yang berwibawa di sisi kami."


11:92. Syu'aib menjawab: "Hai kaumku, apakah keluargaku lebih terhormat menurut pandanganmu daripada Allah, sedang Allah kamu jadikan sesuatu yang terbuang di belakangmu?. Sesungguhnya (pengetahuan) Tuhanku meliputi apa yang kamu kerjakan."


11:93. Dan (dia berkata): "Hai kaumku, berbuatlah menurut kemampuanmu, sesungguhnya akupun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya dan siapa yang berdusta. Dan tunggulah azab (Tuhan), sesungguhnya akupun menunggu bersama kamu."


11:94. Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengan dia dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya.


11:95. Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, kebinasaanlah bagi penduduk Mad-yan sebagaimana kaum Tsamud telah binasa.


Dapat diringkas di sini bahwa kisah Nabi Syu’aib di atas menceritakan tentang kaum Nabi Syu’aib yang tidak mau beriman kepada Allah dan melakukan perbuatan jahat. Kaum Nabi Syu’aib diperintahkan agar beriman kepada Allah dan mencukupkan takaran dan timbangan dengan adil, dan dilarang melakukan perbuatan yang merugikan manusia terhadap hak-haknya, dan dilarang berbuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan. Namun, mereka tidak patuh terhadap perintah dan larangan Allah tersebut sehingga mereka dimatikan dengan azab berupa gempa yang sangat hebat.


Masih gayutkah kisah di atas dengan keadaan sekarang ini? Kecurangan dalam penimbangan dan takaran terjadi dari tingkat bawah hingga tingkat tinggi. Pada tingkat pedagang di pasar tradisional, kita menjumpai timbangan yang tidak benar. Kadang-kadang, beras yang bagus dicampur dengan yang jelek. Pada tingkat pejabat, dana pembangunan yang benar-benar direalisasikan kurang dari 100%. Korupsi dan perzinahan terbuka terjadi dimana-mana. Perusakan lingkungan dan perambahan hutan juga terjadi dimana-mana. Dari segi keimanan, banyak orang yang meminta pertolongan atau perlindungan kepada selain Allah. Di sekitar kita, sering dijumpai perbuatan musyrik, yang bervariasi dari pengobatan, pesugihan, tradisi leluhur, perdukunan, dll. Itu hanyalah sekelumit keadaan sekarang ini yang gayut dengan kisah Nabi Syu’aib. Cobalah kita renungkan! Bukankah gempa yang secara bertubi-tubi itu merupakan suatu peringatan yang jelas dari Allah?


SIKAP KETIKA TERJADI GEMPA

Allah memberi petunjuk kepada kita untuk belajar kepada Nabi Musa ketika terjadi gempa (7:155 dan 7:156).


7:155. Dan Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk (memohonkan taubat kepada Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan. Maka ketika mereka digoncang gempa bumi, Musa berkata: "Ya Tuhanku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami? Itu hanyalah cobaan dari Engkau, Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki. Engkaulah Yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkaulah Pemberi ampun yang sebaik-baiknya."


7:156. Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat; sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepada Engkau. Allah berfirman: "Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami."


Berdasarkan 7:155 dan 7:156, dapat disampaikan dengan kalimat berbeda bahwa ketika gempa terjadi, Nabi Musa melakukan instropeksi atau mawas diri. Dalam instropeksi itu, Nabi Musa memuji Allah serta bertanya, meminta ampunan, dan berdo’a kepada Allah. Gempa itu mungkin sangat besar sehingga Nabi Musa merasa takut. Selain itu, dalam 7:156, Allah secara implisit menjelaskan bahwa gempa dapat menjadi alat untuk menyiksa orang yang dikehendaki-Nya. Hal ini tercermin pada frase "Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki”. Penulis menafsirkannya demikian karena ayat itu berkaitan dengan gempa yang dialami Nabi Musa ketika itu.


PENUTUP

Marilah kita melakukan instropeksi atau mawas diri ketika gempa terjadi!