Senin, 25 Januari 2010

BACAAN TAHIYYAT/TASYAHHUD

PENDAHULUAN

Penulis pernah mempelajari cara shalat di buku-buku yang dijual di toko buku. Dalam buku-buku tersebut disebutkan bahwa dalam shalat ada bacaan yang bernama tahiyyat atau tasyahhud. Dijelaskan pula bahwa shalat seseorang dianggap tidak sah jika tahiyyat tidak dibaca. Selain itu, dalam sebuah buku karya Muhammad Nashiruddin Al Albani yang judulnya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Muhammad Thalib menjadi Sifat Shalat Nabi dtulis bahwa bacaan tahiyyat bersumber dari kitab hadis dan mempunyai beberapa versi.


Bacaan tahiyyat ini penting untuk dibahas karena kita harus memahami yang kita ucapkan ketika sedang shalat (4:43). Selain itu, kita juga dilarang untuk mengikuti sesuatu yang kita tidak mempunyai pengetahuan tentangnya (17:36).


4:43. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pema'af lagi Maha Pengampun.


17:36. Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya


Makalah ini ditulis untuk membahas bacaan tahiyyat dari sudut pandang Al Qur’an. Tahiyyat yang dibahas dalam makalah ini adalah seperti yang disajikan dalam situs internet :

”http://gerakansholat.wordpress.com/2007/05/04/duduk-tahiyah-awal-tahiyat-akhir-salam/ ”yang diakses pada 1 Januari 2010. Selain itu, cara penulisan yang inkonsisten seperti antara ”sholat” dan ”shalat” serta antara ”sholawat” dan ”shalawat” dimaksudkan untuk memperlihatkan teks yang asli. Al Qur’an terjemahan yang digunakan adalah versi Dep. Agama RI yang terdapat dalam program komputer Al Qur’an Digital versi 2.1. Akan tetapi, Al Qur’an terjemahan versi lain juga digunakan jika diperlukan.


PEMBAHASAN SECARA UMUM

Secara umum, bacaan tahiyyat tidak sesuai dengan ajaran Allah karena Allah memberi perintah kepada kita untuk membaca ayat Al Qur’an ketika shalat (73:2 sampai 73:4). Selain itu, Al Qur’an yang dibaca hendaknya adalah yang mudah menurut kita (73:20).


73:2. bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya),


73:3. (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit.


73:4. atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan.


73:20. Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.


Ayat-ayat dalam surat nomor 73 di atas sudah cukup untuk menjelaskan bahwa yang diperintahkan untuk dibaca dalam shalat adalah ayat-ayat Al Qur’an. Oleh karena itu, mengapa ada tuntunan untuk membaca tahiyyat yang bukan ayat-ayat Al Qur’an?


PEMBAHASAN AYAT DEMI AYAT

Meskipun tahiyyat bukan ayat-ayat Al Qur’an, bagian dari bacaan tahiyyat dalam makalah ini akan diistilahkan dengan ayat.


1. Attahiyyatul Mubarakaatush sholawaatuth thayyibatu lillaah

Ya Allah, segala penghormatan, keberkahan, sholawat dan kebaikan hanya milik-Mu ya Allah.


Orang yang membaca ayat 1 ini sedang mengatakan kepada Allah bahwa segala penghormatan, keberkahan, sholawat, dan kebaikan adalah hanya milik Allah. Frase hanya milik Allah di sini menimbulkan pertanyaan-pertanyaan. Pertama, jika segala penghormatan, keberkahan, sholawat, dan kebaikan adalah hanya milik Allah, apakah itu berarti bahwa manusia tidak mempunyai penghormatan, keberkahan, sholawat, atau kebaikan? Kedua, apakah pantas jika orang memberi tahu Allah tentang yang dimiliki-Nya? Bukankah Allah mengetahui segala sesuatu? Ketiga, jika orang itu hendak memuji Allah dengan menyebutkan yang dimiliki Allah, bukankah yang dimiliki Allah mencakup semua yang ada di langit dan di bumi (10:55)?


10:55. Ingatlah, sesungguhnya kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan di bumi. Ingatlah, sesungguhnya janji Allah itu benar, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui(nya).


Menyadari buta bahasa Arab, penulis melakukan pendekatan untuk menyelidiki asal terjemahan hanya milik Allah. Penyelidikan itu dilakukan dengan cara menghubungkan antara transliterasi dalam Qur'an Viewer software v2.913 dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Ayat yang digunakan adalah 7:180 dan 2:115.


007.180 Walill[a]hi al-asm[a]o al[h]usn[a] fa(o)dAAoohu bih[a] wa[th]aroo alla[th]eena yul[h]idoona fee asm[a]-ihi sayujzawna m[a] k[a]noo yaAAmaloon(a)


7:180. Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.


002.115 Walill[a]hi almashriqu wa(a)lmaghribu faaynam[a] tuwalloo fathamma wajhu All[a]hi inna All[a]ha w[a]siAAun AAaleem(un)


2:115. Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.


Hasil penyelidikan tersebut menunjukkan bahwa lillah dalam bacaan tahiyyat memang berarti tentang yang dimiliki Allah. Artinya, ayat 1 bacaan tahiyyat dapat ditafsirkan berdasarkan terjemahannya dalam makalah ini.


Selanjutnya, penulis akan membahas satu persatu yang hanya dimiliki Allah yang disebutkan dalam ayat 1 terjemahan. Pertama, penghormatan juga dimiliki manusia. Allah sendiri memerintahkan kita untuk membalas penghormatan seseorang dengan penghormatan yang lebih baik dari itu atau yang serupa (4:86). Jadi, tidak benar bahwa penghormatan hanya milik Allah.


4:86. Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.


Kedua, keberkahan juga dimilik manusia. Allah sendiri memerintahkan kita untuk memberi salam yang diberi berkat dan baik (24:61). Menurut logika, kita juga mempunyai berkat meskipun asalnya dari Allah. Jadi, tidak benar bahwa keberkahan hanya milik Allah.


24:61. Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang sakit, dan tidak (pula) bagi dirimu sendiri, makan (bersama-sama mereka) dirumah kamu sendiri atau dirumah bapak-bapakmu, dirumah ibu-ibumu, dirumah saudara- saudaramu yang laki-laki, di rumah saudaramu yang perempuan, dirumah saudara bapakmu yang laki-laki, dirumah saudara bapakmu yang perempuan, dirumah saudara ibumu yang laki-laki, dirumah saudara ibumu yang perempuan, dirumah yang kamu miliki kuncinya atau dirumah kawan-kawanmu. Tidak ada halangan bagi kamu makan bersama-sama mereka atau sendirian. Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah- rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayatnya(Nya) bagimu, agar kamu memahaminya.


Ketiga, shalawat juga dimiliki manusia. Allah sendiri memerintahkan kita untuk memelihara shalawat (semua shalat) kita (2:238). Agar lebih jelas bahwa semua shalat adalah terjemahan dari shalawat, transliterasi ayat tersebut disajikan Jadi, tidak benar bahwa shalawat hanya milik Allah.


2:238. Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu'.


002.238 [Ha]fi{th}oo AAal[a] a(l)[ss]alaw[a]ti wa(al)[ss]al[a]ti alwus[ta] waqoomoo lill[a]hi q[a]niteen(a) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)


Kempat, kebaikan juga dimiliki manusia. Allah sendiri memerintahkan kita untuk berbuat baik (2:195). Jadi, tidak benar bahwa kebaikan hanya milik Allah.


2:195. Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.


Jadi, apa maksud dari ayat 1 bacaan tahiyyat? Penulis merasa bingung menghayatinya.


2. Assalaamu’alaika ayyuhan nabiyyu warahmatullaahi wabarakaatuh

Wahai Nabi selamat sejahatera semoga tercurah kepada Engkau wahai Nabi Muhammad, semoga juga Rahmat Allah dan Berkah-Nya pun tercurah kepadamu wahai Nabi,


Orang yang membaca ayat 2 tersebut kemudian berhenti mengingat Allah, untuk mengingat selain Allah dengan mengucapkan salam kepada Nabi Muhammad. Cobalah berhenti sejenak untuk merenungkan hal ini! Penulis merasa berdosa dan takut jika menghayati ayat 2 ini. Bagaimana tidak? Shalat yang dimaksudkan untuk mengingat Allah (20:14) malah digunakan untuk berkomunikasi dengan selain Allah. Seolah-olah kita diminta untuk menjadikan Nabi menjadi seperti tuhan selain Allah yang juga harus diingat bersamaan ketika kita mengingat Allah. Kekhawatiran ini sangat beralasan karena Nabi Muhammad dianggap seperti selalu hidup dan bisa mendengar serta bisa menjawab salam.


20:14. Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.


Selain itu, Allah menegaskan bahwa kita tidak boleh menyebut siapapun selain Allah bersama-sama dengan Allah ketika shalat. Hal itu dijelaskan dalam 72:18.


72:18. Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.


Terjemahan di atas dirasakan kurang tegas. Terjemahan versi lain yang lebih tegas menerangkan bahwa ketika berada di masjid (tempat sujud), kita dilarang untuk memanggil atau menyeru atau menyebut selain Allah. Berhubung masjid adalah tempat sujud, masjid adalah tempat shalat. Dengan kata lain, ketika shalat kita dilarang menyebut nama selain Allah. Terjemahan versi lain tersebut adalah sbb.


72:18. And that the masajid are for Allah, so do not call upon anyone with Allah. (Dan masjid-masjid adalah milik Allah, maka janganlah menyebut siapapun bersama-sama dengan Allah.) (versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri)


72:18 'And that (E) the mosques (are) to God, so do not call anyone with God.' (Dan bahwa masjid-masjid adalah untuk Allah, maka janganlah menyebut siapapun bersama-sama dengan Allah). (versi Muhamed dan Samira Ahmed)


72:18. Masjid-masjid adalah kepunyaan Allah; maka janganlah seru, berserta Allah, barang siapa pun. (versi Othman Ali)


072.018 "And the places of worship are for Allah (alone): So invoke not any one along with Allah; (Dan tempat untuk sembahyang adalah untuk Allah (semata): Maka janganlah menyebut siapapun bersama-sama dengan Allah (versi Abdullah Yusuf Ali)


Jadi, ayat 2 ini bermasalah karena bertentangan dengan ajaran Al Qur’an. Bukankah ini sesuatu yang sangat mencemaskan?


3. Assalaamu’alaina wa’alaa ‘ibaadillaahish shoolihiin

Semoga salam sejahtera tercurah kepada kami dan hamba-hamba-Mu yang sholeh.


Kemudian, orang itu mengucapkan salam kepada diri sendiri, dan orang-orang selain Nabi yang termasuk orang shaleh. Sampai di sini, penulis bertambah bingung. Apakah kita akan membiarkan Allah menyaksikan kita sedang mengingat selain Allah ketika kita justru sedang diperintahkan untuk mengingat Allah? Selain itu, mengucapkan salam kepada diri sendiri itu pun termasuk perbuatan yang tidak berarti. Belum lagi ditambah dengan kenyataan bahwa orang yang diberi salam tidak mendengar salam itu dan bahkan sebagian orang itu sudah meninggal dunia. Bukankah orang yang sudah mati tidak dapat mendengar (30:52)?


30:52. Maka Sesungguhnya kamu tidak akan sanggup menjadikan orang-orang yang mati itu dapat mendengar, dan menjadikan orang-orang yang tuli dapat mendengar seruan, apabila mereka itu berpaling membelakang


Jadi, ayat ini pun bertentangan dengan ajaran dalam Al Qur’an.


4. Asyhadu allaa ilaaha illallaah, Waasyhadu anna Muhammadan rasuulullaah.

Ya Allah aku bersumpah dan berjanji bahwa tiada ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau ya Allah, dan aku bersumpah dan berjanji sesungguhnya Nabi Muhammad adalah utusan-Mu Ya Allah.


Ayat ini juga membingungkan karena orang tidak perlu memberitahukan keimanannya kepada Allah. Bukankah Allah mengetahui segala isi hati (14:38)? Dan yang lebih penting lagi, Allah tidak berkenan jika ada orang yang memberitahukan tentang agamanya kepada-Nya (49:16). Di samping itu, perlu juga diingat bahwa sumpah dilakukan untuk meyakinkan orang lain, bukan untuk meyakinkan Allah.


14:38. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan; dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit.


49:16. Katakanlah: "Apakah kamu akan memberitahukan kepada Allah tentang agamamu, padahal Allah mengetahui apa yang di langit dan apa yang di bumi dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu?"


Jadi, ayat 5 dalam bacaan tahiyyat yang dibaca ketika shalat tidak sesuai dengan Al Qur’an.


5. Allahhumma sholli ‘alaa Muhammad wa ‘ala aali Muhammad”

Ya Allah, limpahkan shalawat-Mu kepada Nabi Muhammad dan limpahkan juga shalawat kepada keluarga Nabi Muhammad”


Ayat 5 bertentangan dengan ayat 1 karena dalam ayat 1 disebutkan bahwa shalawat adalah hanya milik Allah sedangkan dalam ayat ini, orang memohon agar Nabi Muhammad diberi shalawat. Dengan demikian, sesudah itu Nabi Muhammad menjadi mempunyai shalawat. Artinya, ayat 1 mengatakan shalawat hanya milik Allah tetapi ayat 5 mengatakan shalawat tidak hanya milik Allah. Memang bisa dimaklumi jika terdapat pertentangan dalam bacaan yang tidak datang dari Allah (4:82).


4:82. Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.


Selain itu, dalam pembahasan terjemahan 2:238 sebelumnya tertungkap bahwa shalawat diterjemahkan menjadi semua shalat. Jika kata shalawat diganti dengan semua shalat, hasilnya seperti berikut ini.


Ya Allah, limpahkan semua shalat-Mu kepada Nabi Muhammad dan limpahkan juga semua shalat kepada keluarga Nabi Muhammad


Bagi penulis, hasilnya membingungkan. Selanjutnya, terjemahan ayat 5 yang ada di buku karya Muhammad Nashiruddin Al Albani yang judulnya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Muhammad Thalib menjadi Sifat Shalat Nabi adalah sbb.


Ya Allah, berikanlah rahmat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.


Dalam terjemahan tersebut, yang dimohonkan kepada Allah adalah rahmat, bukan shalawat. Ini juga menjadikan penulis bertambah bingung. Yang benar shalawat atau rahmat? Untuk mengurangi kebingungan ini penulis berusaha mencari tahu tentang pengertian sholli dalam ayat 5 bacaan tahiyyat. Kata sholli sering ditulis sebagai shalli. Kata shalli ada dalam surat 108 ayat 2. Transliterasi beserta terjemahannya adalah sbb.


108.002 Fa[s]alli lirabbika wa(i)n[h]ar


108.002 Therefore to thy Lord turn in Prayer and Sacrifice. (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913). (Oleh karena itu kepada Tuhanmu khusuklah dalam shalat dan berkorbanlah.)


Tampak dalam transliterasi beserta terjemahannya bahwa shalli berarti shalat. Dari sini, jika kata sholawat dalam terjemahan ayat 5 bacaan tahiyyat diganti dengan shalat, hasilnya akan seperti berikut ini.


Ya Allah, limpahkan shalat kepada Nabi Muhammad dan limpahkan juga shalat kepada keluarga Nabi Muhammad


Hasilnya ternyata tetap membingungkan. Selanjutnya, apakah rahmat adalah sinonim dari shalli ataukah rahmat merupakan kata yang berbeda sama sekali? Transliterasi dan terjemahan 17:28 berikut ini dapat menjawab pertanyaan ini.


017.028 Wa-imm[a] tuAAri[d]anna AAanhumu ibtigh[a]a ra[h]matin min rabbika tarjooh[a] faqul lahum qawlan maysoor[a](n) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)


17:28. Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas


Tampak bahwa rahmat adalah terjemahan dari ra[h]matin. Jadi, adalah keliru jika shalli diterjemahkan menjadi rahmat.


Konon, ayat 5 bacaan tahiyyat berdasarkan surat 33 ayat 56 dalam Al Qur’an.


33:56. Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.


Menurut ayat 33:56 terjemahan, shalawat adalah aktivitas. Jika kata shalawat ditambah awalan ber, kemudian menjadi bershalawat, yang artinya adalah melakukan aktivitas berupa shalawat. Shalawat dalam pengertian ini tidak bisa diberikan kepada orang lain. Sebagai ilustrasi dalam bentuk analog, orang yang berjoget tidak bisa memberikan jogetnya kepada orang lain. Hal ini bertentangan dengan ayat 5 bacaan tahiyyat terjemahan karena dalam ayat 5 tahiyyat terjemahan, shalawat bisa diberikan kepada orang. Lalu, benarkah terjemahannya memang demikian? Untuk menjawabnya, penulis akan menggunakan Al Qur’an terjemahan versi yang lain.


Terjemahan dari ayat 33:56 menurut Abdullah Yusuf Ali adalah sbb. :


033.056 Allah and His angels send blessings on the Prophet: O ye that believe! Send ye blessings on him, and salute him with all respect. (Allah dan Malaikat-Nya memberikan berkah-berkah ke Nabi; wahai orang beriman! Berikanlah berkah-berkah kepadanya, dan berilah hormat kepadanya dengan sepenuh hati) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)


Ternyata, bagian yang diterjemahkan menjadi bershalawat oleh Dep. Agama RI, oleh Abdullah Yusuf Ali diterjemahkan menjadi memberikan berkah-berkah. Berkah merupakan sesuatu yang bisa diberikan kepada orang lain dan bukan merupakan suatu aktivitas. Sebagai perbandingan, terjemahan versi lainnya disajikan berikut ini.


Versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri) :

33:56. Indeed, Allah and His Angels send blessings on the Prophet. O you who believe! Send blessings on him and greet him with worthy greetings. (Sungguh, Allah dan Malaikat-Nya memberi berkah-berkah kepada Nabi. Wahai orang beriman! Berikanlah berkah kepadanya dan salamilah dia dengan salam yang pantas.)


Terjemahan Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri di atas selaras dengan terjemahan Abdullah Yusuf Ali.


Versi Muhamed dan Samira Ahmed :

33:56 That truly God and His angels bless and compliment on the prophet. You, you those who believed, pray and call for God's blessing on him (the prophet) and great greetings. (Bahwa sesungguhnya Allah dan Malaikat-Nya memberkati dan menghormati Nabi. Kamu, kamu yang beriman, berdoa dan mohonkanlah berkah Allah untuknya dan berilah salam yang baik.)


Terjemahan Muhamed dan Samira Ahmed di atas terasa janggal. Di bagian awal, Allah sudah memberikan berkah kepada Nabi tetapi kemudian orang beriman diperintahkan untuk berdoa dan memohon kepada Allah agar Allah memberi berkah kepada Nabi. Jika Allah sudah memberikan berkah, mengapa Allah masih dimohon untuk memberikan berkah-Nya? Oleh karena itu, penulis tidak setuju dengan terjemahan yang ini. Meskipun demikian, yang perlu diambil manfaatnya adalah bahwa terjemahan ini menegaskan keberadaan aktivitas pemberian berkah.


Sampai di sini sudah terjawab bahwa hasil penerjemahan Dep. Agama RI adalah keliru. Yang perlu dipertanyakan sekarang, mengapa ada kata bershalawat dalam terjemahan ayat 33:56 terjemahan versi Dep. Agama RI? Benarkah bershalawat dalam terjemahan itu adalah terjemahan dari kata yang mengandung kata [ss]alaw[a]ti? Berdasarkan transliterasi ayat 33:56 dalam DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913), ternyata, bershalawat di sini adalah terjemahan dari yu[s]alloona.


033.056 Inna All[a]ha wamal[a]-ikatahu yu[s]alloona AAal[a] a(l)nnabiyyi y[a] ayyuh[a] alla[th]eena [a]manoo [s]alloo AAalayhi wasallimoo tasleem[a](n)


Dapat disimpulkan bahwa ayat 5 bacaan tahiyyat yang isinya berupa do’a agar Nabi dan keluarganya diberi shalawat, atau shalat, atau rahmat tidak didukung oleh Al Qur’an.


Sekarang, penulis akan membahas hal yang di luar masalah shalat tetapi berkaitan dengan implikasi dari 33:56. Dalam 33:56 terkandung perintah untuk memberikan berkah dan salam kepada Nabi. Bagaimana kita melakukan perintah itu jika Nabi sudah meninggal?


Pertama, penulis akan membahas pengertian berkah. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, berkah adalah karunia Tuhan yg mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia. Pengertian berkah tersebut menunjukkan bahwa yang benar-benar dapat memberikan berkah adalah Allah. Meskipun demikian, manusia pun dapat melakukan sesuatu yang mendatangkan kebaikan bagi orang lain meskipun itu hanya dapat terjadi karena ijin-Nya. Perintah Allah untuk memberikan berkah kepada Nabi Muhammad dapat ditafsirkan dengan jalan pemikiran seperti itu. Dalam menjalankan perintah itu, orang beriman melakukan perbuatan yang berakibat pada kebaikan Nabi Muhammad. Contoh perbuatan itu adalah menyayangi, menolong, mendukung, melindungi, dan perbuatan lain yang berakibat pada kebaikan Nabi Muhammad.


Berhubung Nabi Muhammad telah wafat, kita tidak dapat memberikan berkah lagi kepadanya. Yang dapat kita lakukan sekarang adalah melakukan perbuatan yang berakibat pada kebaikan agama yang dibawanya. Bentuk nyatanya adalah membantu tugas Rasul Allah dalam memberi peringatan dan kabar gembira dengan wahyu Allah yang didokumentasikan dalam Al Qur’an semampu kita.


Berkaitan dengan pemberian salam, kita tidak perlu memberi salam kepada Nabi Muhammad karena beliau tidak bisa mendengar dan menjawab salam kita. Dalam aturan pemberian salam, Allah menetapkan bahwa orang yang diberi salam harus membalasnya (4:86). Berhubung sudah wafat, beliau tidak dapat membalas salam. Oleh karena itu, pemberian salam kepada Nabi Muhammad yang sudah wafat adalah tidak perlu dilakukan.


PENUTUP

Penulis tidak merumuskan kesimpulan. Yang ditulis di sini adalah hasil pengalaman batin penulis ketika belajar memahami dan menghayati bacaan shalat yang diajarkan dalam buku-buku pelajaran shalat. Penulis mohon maaf apabila ada yang tidak berkenan di hati pembaca.