Minggu, 07 Februari 2010

FATWA MUI TENTANG INGKAR SUNNAH/ANTI HADIS


PENDAHULUAN
Pada tanggal 27 Juni 1994, MUI (Majelis Ulama Indonesia) membuat fatwa bahwa aliran yang tidak mempercayai hadis Nabi Muhammad SAW sebagai sumber hukum syari’at Islam, adalah sesat, menyesatkan, dan berada di luar Islam (http://mui.or.id/mui_in/fatwa.php?id=36). Meskipun MUI tidak menyebutkan istilah ingkar sunnah, banyak orang mengatakan bahwa ini adalah fatwa untuk aliran ingkar sunnah atau anti hadis.

Sebenarnya, yang disebut dengan aliran ingkar sunnah atau aliran anti hadis adalah suatu aliran yang berpaham bahwa Al Qur’an merupakan satu-satunya pedoman dalam islam. Yang menjadi pertanyaan adalah, ”Benarkah paham yang beranggapan bahwa Al Qur’an merupakan satu-satunya pedoman dalam islam adalah sesat?” Penulis ingin membahas masalah tersebut ditinjau dari Al Qur’an. Al Qur’an terjemahan yang digunakan untuk menjawabnya adalah karya Dep. Agama RI yang terdapat dalam program Al Qur’an Digital versi 2.1.

INGKAR HADIS DAN INGKAR PENULIS KITAB HADIS
Hadis dan penulis kitab hadis merupakan dua istilah berbeda yang berpotensi menimbulkan penyimpangan dalam islam. Hadis adalah perkataan, perbuatan, dan taqrir (sikap mendiamkan suatu kejadian) Nabi Muhammad semasa hidupnya. Hadis pada dasarnya merupakan sebagian sunnah Nabi. Definsi sunnah atau as sunnah dalam http://mediabilhikmah.multiply.com/journal/item/20 adalah semua informasi tentang Nabi Muhammad yang mencakup perkataan, perbuatan, taqrir, tabiat, budi pekerti, dan perjalanan hidup selama hidupnya. Makalah ini menekankan pada hadis Nabi untuk menyesuaikan fatwa MUI.

Berdasarkan definisi hadis dalam alinea sebelumnya, hadis memang benar-benar ada karena Nabi Muhammad pernah ada dan pernah hidup di dunia ini. Orang yang percaya pada Nabi Muhammad pasti percaya terhadap eksistensi hadis. Sebagai manusia, pada saat itu beliau berkata-kata, berbuat sesuatu, bersikap terhadap sesuatu, dan melakukan segala aktivitas kehidupan lainnya. Orang yang mengingkari hadis adalah orang yang tidak percaya pada eksistensi Nabi Muhammad. Sangat beralasan apabila orang yang tidak percaya pada keberadaan hadis disebut kafir.

Yang menjadi masalah adalah bahwa hadis yang diketahui oleh manusia sekarang ini dijumpai dalam kitab-kitab hadis yang tidak pernah dibaca dan dikoreksi oleh Nabi Muhammad. Penulis menggarisbawahi kitab-kitab hadis karena ini merupakan bagian yang jarang diperhatikan orang dan membuat orang mempunyai persepsi keliru tentang hadis. Perlu diingat bahwa isi kitab hadis 100% menjadi tanggungjawab penulis kitab hadis. Orang yang tidak percaya pada isi kitab hadis berarti tidak percaya pada penulis kitab hadis, bukan tidak percaya pada Nabi Muhammad. Dengan kata lain, orang yang tidak percaya pada isi kitab hadis sesungguhnya termasuk golongan ingkar penulis kitab hadis, bukan golongan ingkar hadis atau golongan ingkar sunnah.

Ingkar hadis dan ingkar penulis kitab hadis merupakan dua istilah yang sangat berbeda. Ingkar hadis berarti tidak beriman pada Nabi Muhammad sedangkan ingkar penulis kitab hadis berarti tidak beriman pada penulis kitab hadis. Jadi, orang yang tidak percaya pada penulis kitab hadis tetapi percaya pada Nabi Muhammad tidak termasuk golongan ingkar hadis. Orang yang percaya pada Nabi Muhammad percaya bahwa Nabi berbuat, berkata, dan bersikap. Artinya, orang yang percaya pada Nabi Muhammad percaya bahwa hadis Nabi memang ada.

Orang-orang yang berpaham bahwa Al Qur’an merupakan satu-satunya pedoman dalam islam termasuk orang-orang yang beriman kepada Nabi Muhammad. Jadi, mereka itu tidak ingkar pada hadis, melainkan ingkar pada penulis kitab hadis. Mereka tidak ingkar pada sunnah tetapi ingkar pada penulis kitab hadis.

Mulai dari sini, kita tidak membicarakan lagi istilah ingkar sunnah atau ingkar hadis atau anti hadis. Akan tetapi, sejak sekarang, kita akan membicarakan ingkar penulis kitab hadis. Benarkah orang yang ingkar penulis kitab hadis adalah sesat?

DEFINISI ALIRAN SESAT
Apa yang dimaksud dengan orang sesat? Menurut Al Qur’an, orang yang sesat dan orang yang mendapat petunjuk adalah sesuatu yang berpasangan tetapi berlawanan. Maksudnya, orang yang sesat adalah orang yang tidak mendapat petunjuk, dan sebaliknya, orang yang mendapat petunjuk adalah orang yang tidak sesat. Hal ini tercermin dari ayat-ayat yang menyebutkan sesat dan petunjuk secara bersama-sama (68:7; 34:50; 16:93; dan 39:41)

68:7. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan Dia-lah Yang Paling Mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

34:50. Katakanlah: "Jika aku sesat maka sesungguhnya aku sesat atas kemudharatan diriku sendiri; dan jika aku mendapat petunjuk maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat."

16:93. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan.

39:41. Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk manusia dengan membawa kebenaran; siapa yang mendapat petunjuk maka (petunjuk itu) untuk dirinya sendiri, dan siapa yang sesat maka sesungguhnya dia semata-mata sesat buat (kerugian) dirinya sendiri, dan kamu sekali-kali bukanlah orang yang bertanggung jawab terhadap mereka.

Sampai di sini dapat disimpulkan bahwa orang sesat adalah orang yang tidak mendapat petunjuk Allah. Yang paling mengetahui orang yang sesat atau mendapat petunjuk adalah Allah sendiri (68:7).  

Bagaimana cara agar mendapat petunjuk? Caranya adalah dengan menggunakan Al Qur’an sebagai satu-satunya pedoman. Hal itu dijelaskan dalam 45:52 bahwa Allah memberi petunjuk kepada yang dikehendaki-Nya dengan Al Qur’an (45:52). Disebutkan pula bahwa Nabi Muhammad (di situ ditulis sebagai ”kamu”) memberi petunjuk yang lurus dengan Al Qur’an. Penjelasan tersebut sangat jelas dan terang benderang. Artinya, orang yang berpedoman pada Al Qur’an akan mendapat petunjuk Allah karena dengan Al Qur’an itulah Allah memberi petunjuk kepada hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya.

42:52. Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.

Barangkali ada yang penasaran dengan kata ”dia” dalam frase ”Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki”? Apakah ada yang mengira bahwa ”dia” itu Nabi Muhammad? Terjemahan ayat tersebut versi  Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri berikut ini menegaskan bahwa ”dia” adalah bukan manusia karena ”dengan dia” adalah terjemahan dari ”by which” (bukan manusia).

42:52. And thus We have revealed to you an inspiration by Our Command. You did not know what the Book is nor (what) faith is. But We have made it a light by which We guide whom We will of Our slaves. And indeed, you guide to the Straight Path,

Jika Allah sudah menjelaskan bahwa Allah memberi petunjuk kepada hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya dengan Al Qur’an (42:52), tidak ada alasan lagi bagi kita untuk mencari petunjuk yang lain. Petunjuk Allah 100% ada dalam Al Qur’an. Orang yang mengikuti ajaran Allah dalam Al Qur’an tidak akan tersesat karena Al Qur’an merupakan petunjuk bagi orang yang beriman (27:77). Ayat tersebut harus diartikan bahwa Allah menghendaki Al Qur’an sebagai satu-satunya pedoman dalam islam agar tidak tersesat.

27:77. Dan sesungguhnya Al Qur'an itu benar-benar menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.

Al Qur’an juga menegaskan bahwa orang yang mengikuti petunjuk Allah tidak akan sesat dan tidak akan celaka (20:123). Sudah dijelaskan pula dalam 22:77 bahwa Al Qur’an adalah petunjuk Allah. Kitab hadis karya penulis kitab hadis bukan petunjuk Allah. Jadi, orang yang beriman kepada Al Qur’an saja tidak akan sesat dan tidak akan celaka.

20:123. Allah berfirman: "Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa aliran yang berpaham bahwa Al Qur’an merupakan satu-satunya pedoman dalam islam atau aliran ingkar penulis kitab hadis adalah tidak sesat.

PENUTUP
Mengapa orang-orang yang beriman kepada Al Qur’an dinyatakan sesat oleh MUI hanya karena mereka tidak beriman kepada penulis kitab hadis? Bukankah penulis kitab hadis tidak mempunyai kedudukan apa pun di sisi Allah? Bukankah manusia yang wajib diimani hanya Rasul Allah (57:7)?

57:7. Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar.

Petunjuk selain Al Qur’an rawan terhadap tipu daya syaitan sehingga para penggunanya dapat keluar dari jalan yang benar meskipun mereka menyangka mendapat petunjuk (43:37). 

43:37. Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk.