Jumat, 26 Februari 2010

SK JAKSA AGUNG KEP-169/J.A./1983

PENDAHULUAN

Setelah mendapati bahwa aliran ingkar sunnah dinyatakan sesat oleh MUI, penulis menjumpai berita bahwa ada SK Jaksa Agung Kep-169/J.A./1983 tertanggal 30 September 1983 yang berisi penetapan aliran ingkar sunnah sebagai aliran sesat. (http://www.inpasonline.com/index.php?option=com_content&view=article&id=267:telaah-kritis-terhadap-kelompok-inkarsunnah&catid=70:opini&Itemid=104). Jika berita itu benar, ini berarti bahwa negara Republik Indonesia pun telah bersikap memusuhi aliran ingkar sunnah. Padahal, orang-orang yang disebut sebagai pengikut paham aliran ingkar sunnah (pengikut paham bahwa Al Qur’an merupakan satu-satunya pedoman) sesungguhnya adalah orang-orang yang beriman kepada Allah, Nabi Muhammad, dan Al Qur’an. Apa yang akan terjadi dengan rakyat Indonesia jika Republik Indonesia telah secara resmi memusuhi orang yang beriman kepada Allah, Nabi Muhammad, dan Al Qur’an?


Makalah ini ditulis untuk menanggapi SK Jaksa Agung tersebut. Tentu saja dengan asumsi bahwa berita tentang SK tersebut adalah benar. Al Qur’an terjemahan yang digunakan adalah karya Dep. Agama RI yang terdapat dalam program komputer Al Qur’an Digital versi 2.1.


ORANG BERIMAN PADA Al QUR’AN TIDAK AKAN TERSESAT

Allah telah menerangkan dengan amat jelas bahwa Al Qur’an merupakan petunjuk bagi orang beriman (27:77). Artinya, orang yang beriman pada Al Qur’an akan mendapatkan petunjuk dari Allah. Dengan kalimat lain, orang yang beriman pada Al Qur’an tidak akan tersesat.


27:77. Dan sesungguhnya Al Qur'an itu benar-benar menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.


Hal tersebut ditegaskan lagi dengan Firman Allah dalam 45:52.


42:52. Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.


Perlu diterangkan di sini bahwa ”dia” dalam terjemahan di atas adalah Al Qur’an, bukan Nabi Muhammad. Penulis sudah mengeceknya di Al Qur’an terjemahan berbahasa Inggris versi Abdullah Yusuf Ali. Dalam terjemahan tersebut, ”dia” adalah terjemahan dari ”wherewith” (kata ganti benda).


042.052 And thus have We, by Our Command, sent inspiration to thee: thou knewest not (before) what was Revelation, and what was Faith; but We have made the (Qur'an) a Light, wherewith We guide such of Our servants as We will; and verily thou dost guide (men) to the Straight Way,-(Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)


Jadi, orang yang beriman pada Al Qur’an tidak akan tersesat. Artinya, orang yang berpedoman pada Al Qur’an saja juga tidak akan tersesat. Orang yang menentang hal tersebut termasuk orang-orang yang mengingkari Al Qur’an. Perlu diingat bahwa orang-orang yang mengingkari Al Qur’an termasuk orang yang akan celaka dan termasuk orang yang zalim (41:41 dan 29:49).


41:41. Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari Al Quran ketika Al Quran itu datang kepada mereka, (mereka itu pasti akan celaka), dan sesungguhnya Al Quran itu adalah kitab yang mulia.


29:49. Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim.


Seperti sudah disebutkan di muka, orang-orang yang disebut sebagai pengikut paham aliran ingkar sunnah (pengikut paham bahwa Al Qur’an merupakan satu-satunya pedoman) sesungguhnya adalah orang-orang yang beriman kepada Allah, Nabi Muhammad, dan Al Qur’an. Bagaimana jalan pemikirannya sehingga orang yang beriman pada Allah, Nabi Muhammad, dan Al Qur’an telah dinyatakan sesat oleh Republik Indonesia?


Menyatakan sesat kepada orang yang beriman pada Allah, Nabi Muhammad, dan Al Qur’an termasuk perbuatan sewenang-wenang dan menganiaya. Mereka yang dinyatakan sesat tersebut menjadi tertekan kehidupannya dan merasakan ketakutan di kehidupan nyata. Sikap penguasa yang sewenang-wenang tidak akan menghadirkan berkah Allah. Kisah kaum ‘Aad dapat menjadi pelajaran bagi kita semua (69:6 dan 11:59).


69:6. Adapun kaum 'Aad maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang,


11:59. Dan itulah (kisah) kaum 'Aad yang mengingkari tanda-tanda kekuasaan Tuhan mereka, dan mendurhakai rasul-rasul Allah dan mereka menuruti perintah semua penguasa yang sewenang-wenang lagi menentang (kebenaran).


Mungkin kita sudah lama merenungi bahwa rakyat Indonesia telah diberi musibah secara silih berganti. Tsunami, gempa bumi, banjir, tanah longsor, kebakaran, puting beliung, lumpur lapindo, krisis ekonomi, krisis moral, krisis politik, perselisihan antar warga masyarakat, terorisme, korupsi, dan lain-lain merupakan fenomena yang perlu direnungkan. Jangan-jangan, semua musibah yang menimpa kita itu disebabkan oleh sikap Republik Indonesia yang sejak 1983 secara resmi telah memusuhi orang yang beriman pada Allah, Nabi Muhammad, dan Al Qur’an.


Sebagai pihak yang teraniaya, mereka kemudian berhijrah ke dunia maya (internet). Hijrah adalah tindakan yang dianjurkan dalam Al Qur’an jika seseorang dianiaya (16:41).


16:41. Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui,


PENUTUP

Jika berita tentang SK Jaksa Agung Kep-169/J.A./1983 tertanggal 30 September 1983 yang berisi penetapan aliran ingkar sunnah (aliran yang menggunakan Al Qur’an sebagai satu-satunya pedoman) sebagai aliran sesat adalah benar, SK tersebut harus dicabut. Jika ada warga masyarakat yang mengamalkan ajaran Allah dalam Al Qur’an secara keliru karena keterbatasan kemampuannya atau sebab-sebab lainnya, kita tidak boleh mengartikan bahwa Al Qur’an tidak dapat menjadi petunjuk. Barangkali, ada baiknya kita meresapi, menyelami, dan merenungi ayat 34:50 berikut ini.


34:50. Katakanlah: "Jika aku sesat maka sesungguhnya aku sesat atas kemudharatan diriku sendiri; dan jika aku mendapat petunjuk maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat."