Sabtu, 11 September 2010

CARA BERPUASA RAMADHAN DALAM AL QUR'AN

PENDAHULUAN

Pada bulan Ramadhan (kadang dibaca Romadhon atau Ramadan) 1431 H ini penulis akan membahas tentang cara berpuasa Ramadhan menurut Al Qur’an. Meskipun topik semacam ini sudah banyak ditulis di berbagai media, penulis merasa perlu membahasnya di sini karena mungkin bermanfaat bagi orang lain dan tentu saja bagi penulis sendiri. Al Qur’an terjemahan yang digunakan adalah versi Dep. Agama RI, versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri, dan versi Muhamed & Samira Ahmed.

AYAT-AYAT TENTANG PUASA RAMADHAN

Ayat-ayat tentang puasa Ramadhan dijumpai dalam Al Baqarah (surat 2), yaitu ayat 183, 184, 185, dan 187. Ayat 2:183 berisi perintah berpuasa kepada orang-orang yang beriman, seperti perintah yang telah diberikan kepada orang-orang beriman sebelum jaman Nabi Muhammad. Ayat 2:184, 2:185, dan 2:187 menerangkan cara berpuasa Ramadhan. Meskipun ayat 2:186 tidak menjelaskan tentang puasa secara langsung, ayat ini disajikan sebagai bagian dari penjelasan tentang puasa Ramadhan. Dapat dikatakan bahwa pembaca dapat mengetahui semua petunjuk Allah tentang cara berpuasa Ramadhan dalam ayat-ayat tersebut. Ayat-ayat tersebut adalah sbb. :

2:183. O you who believe! Fasting is prescribed to you as it was prescribed to those before you, so that you may become righteous. (Wahai kamu yang beriman! Berpuasa diperintahkan kepadamu seperti diperintahkan kepada mereka sebelum kamu, semoga kamu menjadi orang yang bertakwa.) (versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri)

2:184. (Fasting is for) a limited number of days. So whoever among you is sick or on a journey, then an equal number of days (are to be made up) later. And upon those who can afford it – a ransom of feeding a poor. And whoever volunteers good then it is better for him. And if you fast, it is better for you, if you only knew. ((Berpuasa adalah untuk) sejumlah hari yang terbatas. Maka barangsiapa di antara kamu sakit atau dalam suatu perjalanan, kemudian sejumlah hari yang sama (digenapkan) sesudah itu. Dan bagi mereka yang mampu- suatu tebusan berupa pemberian makan orang miskin. Dan barangsiapa bersukarela berbuat kebaikan maka lebih baik baginya. Dan jika kamu berpuasa, itu adalah lebih baik bagimu, seandainya kamu mengetahui.) (versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri)

2:185. Ramadhaan is the month in which the Quran was revealed as a Guidance for mankind and clear proofs of Guidance and the Criterion (of right and wrong). So whoever among you witnesses the month (of Ramadhaan) should fast in it; and whoever is sick or on a journey, then the prescribed number of days (should be made up) from other days. Allah intends for you ease and does not intend for you hardship, so that you complete the prescribed period and that you magnify Allah for having guided you, so that you may be grateful. (Ramadhan adalah bulan ketika Al Qur’an diwahyukan sebagai suatu Petunjuk bagi manusia dan bukti-bukti yang jelas dari Petunjuk dan Kriteria (yang benar dan salah). Maka barangsiapa di antara kamu menyaksikan bulan tersebut (Ramadhan) supaya berpuasa dalam bulan itu; dan barangsiapa sakit atau dalam suatu perjalanan, maka sejumlah hari yang diperintahkan (supaya digenapkan) pada hari-hari yang lain. Allah menginginkan kemudahan bagi kamu dan tidak menginginkan bagi kamu kesukaran, sehingga kamu menyempurnakan periode yang diwajibkan dan kamu mengagungkan Allah karena telah memberi petunjuk kamu, semoga kamu berterima kasih.) (versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri)

2:186. And when My servants ask you concerning Me, then indeed I am near. I respond to the invocation of the supplicant when he calls Me. So let them respond to Me and believe in Me, so that they may be led aright. (Dan ketika hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sungguh Aku dekat. Aku menanggapi permohonan dari pemohon ketika ia berdoa kepada Aku. Maka silakan mereka menanggapi Aku dan beriman kepada Aku, semoga mereka dipimpin dengan benar.) (versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri)

2:187. It is permitted for you in the nights of fasting to have sexual relations with your wives. They are your garments and you are their garments. Allah knows that you used to deceive yourselves, so He turned towards you and He forgave you. So now you may have relations with your wives and seek what Allah has ordained for you. And eat and drink until the white thread of dawn becomes distinct to you from the black thread of dawn. Then complete the fast till the night (i.e.,sunset). And do not have relations with them when you are secluded in the masajid. These are the limits (set by) Allah, so do not approach them. Thus Allah makes clear His verses for the people, so that they may become righteous. (Diijinkan bagimu pada malam bulan puasa berhubungan suami-istri dengan istri-istrimu. Mereka adalah pakaian-pakaianmu dan kamu adalah pakaian-pakaian mereka. Allah mengetahui bahwa kamu sebelumnya membohongi dirimu sendiri, maka Dia merubah cara berpikir kamu dan Dia memaafkan kamu. Maka sekarang kamu boleh berhubungan dengan istri-istrimu dan carilah yang Allah telah menakdirkan untuk kamu. Dan makan dan minumlah hingga benang putih fajar menjadi berbeda dengan jelas bagimu dengan benang hitam fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai malam (yaitu matahari terbenam). Dan jangan berhubungan dengan mereka jika kamu menyendiri di masjid. Ini semua adalah rambu-rambu dari Allah, maka jangan dekati mereka. Demikianlah, Allah membuat jelas ayat-ayatnya untuk orang-orang, semoga mereka menjadi bertakwa.) (versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri)

Berdasarkan 2:183; 2:84; 2:185; dan 2:187, selama berpuasa Ramadhan, kita tidak makan, tidak minum, dan tidak berhubungan suami-istri sebagai implementasi perintah Allah. Waktu awal berpuasa dan akhir berpuasa pada suatu hari masih membutuhkan pembahasan tersendiri.

WAKTU AWAL BERPUASA PADA SUATU HARI

Berhubung waktu awal berpuasa pada suatu hari sangat penting, penulis akan menyajikan transliterasi beserta terjemahan dari bagian ayat 2:187 yang isinya sesuai dengannya. Transliterasi yang digunakan adalah versi DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913 sedangkan terjemahan perkata yang digunakan adalah versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri. Transliterasi beserta terjemahannya adalah sbb.

wakuloo (And eat) wa(i)shraboo (and drink) [h]att[a] (until) yatabayyana (becomes distinct) lakumu (to you) alkhay[t]u (the thread) al-abya[d]u ((the) white) mina (from) alkhay[t]i (the thread) al-aswadi ((the) black) mina (of) alfajri (the dawn)

Jika terjemahan bahasa Inggris tersebut dirangkaikan, hasilnya akan menjadi And eat and drink until becomes distinct to you the thread (the) white from the thread (the) black of the dawn. Setelah ditata lagi sesuai dengan aturan bahasa Inggris, frase tersebut berubah menjadi And eat and drink until becomes distinct to you the white thread from the black thread of the dawn. Oleh Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri, frase tersebut disusun lagi menjadi frase berbeda tanpa merubah arti menjadi And eat and drink until the white thread of dawn becomes distinct to you from the black thread of dawn.

Frase And eat and drink until the white thread of dawn becomes distinct to you from the black thread of dawn jika diterjemahkan akan menjadi Makan dan minumlah hingga benang putih fajar menjadi berbeda dengan jelas bagimu dengan benang hitam fajar. Frase ini menerangkan batas waktu terakhir bagi kita untuk diperbolehkan makan dan minum. Selanjutnya, penulis akan menekankan pada hingga benang putih fajar menjadi berbeda dengan jelas bagimu dengan benang hitam fajar. Frase ini sangat penting sehingga penulis akan membahasnya dengan seksama.

Pertama-tama, penulis menganggap frase hingga benang putih fajar menjadi berbeda dengan jelas bagimu dengan benang hitam fajar adalah bukan ungkapan kiasan atau pengandaian. Benang putih dan benang hitam adalah sesuatu yang nyata yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Ungkapan kiasan atau pengandaian pada dasarnya adalah asumsi. Bagaimana mungkin Allah memberi petunjuk berdasarkan pada asumsi sedangkan Allah sendiri sudah menjelaskan bahwa asumsi tidak bermanfaat untuk melawan kebenaran sejati (10:36)? Selain itu, penulis percaya bahwa ayat-ayat Allah adalah jelas (2:99) sehingga yang dimaksudkan Allah adalah seperti yang tertulis. Oleh karena itulah, frase tersebut akan ditafsirkan seperti yang tertulis.

10:36. And most of them follow nothing except assumption. Indeed, assumption does not avail anything against the truth. Indeed, Allah is All-Knower of what they do. (Dan kebanyakan dari mereka tidak mengikuti sesuatu pun kecuali asumsi. Sungguh, asumsi tidak berguna sama sekali melawan kebenaran sejati. Sungguh, Allah adalah Maha Mengetahui yang mereka kerjakan.) (versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri)

2:99. And indeed We revealed to you clear Verses, and none disbelieve in them except the defiantly disobedient. (Dan sungguh Kami mewahyukan kepadamu Ayat-ayat yang jelas, dan tidak ada satu pun tidak percaya terhadapnya kecuali orang tidak patuh yang menentang.) (versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri)

Ada baiknya frase hingga benang putih fajar menjadi berbeda dengan jelas bagimu dengan benang hitam fajar disajikan sekali lagi di sini. Maksud benang putih disebutkan lebih dahulu daripada benang hitam adalah bahwa kita diminta untuk mengamati perubahan kenampakan benang putih. Pada waktu malam, benang putih akan terlihat seperti berwarna hitam karena kekurangan cahaya. Dapat pula dikatakan, pada waktu malam, benang putih menjadi seperti benang yang terkena tinta hitam sehingga warnanya berubah menjadi hitam atau kehitam-hitaman. Tingkat kehitamannya tergantung pada intensitas cahaya pada malam hari. Benang putih yang terlihat seperti benang hitam pada waktu malam tersebut secara perlahan-lahan akan berubah menjadi benang yang kurang hitam seiiring dengan perjalanan waktu dari malam ke siang. Jika perubahan itu diamati secara terus menerus, suatu saat benang putih akan tampak putih seperti warna aslinya. Setelah benang putih tampak putih seperti warna aslinya, benang putih tidak lagi mengandung unsur warna hitam sama sekali. Pada kondisi tersebut, benang putih telah 100% berbeda dengan benang hitam. Dengan kalimat lain, benang putih telah berbeda jelas dengan benang hitam.

Kata fajar pada frase hingga benang putih fajar menjadi berbeda dengan jelas bagimu dengan benang hitam fajar memunculkan spekulasi bahwa peristiwa tersebut terjadi pada waktu fajar terbit. Benarkah spekulasi tersebut? Pada bulan puasa 1431 H ini, penulis melakukan penelitian sederhana untuk membuktikan spekulasi tersebut. Caranya, benang untuk menyulam berwarna putih digantungkan di belakang rumah. Semua lampu dimatikan sehingga sumber cahaya yang masih ada berasal dari lampu tetangga dan sinar bulan. Pada jarak kurang lebih 50 cm, benang putih masih terlihat berwarna putih kehitam-hitaman dengan warna hitam yang lebih dominan pada saat azan subuh berkumandang (fajar terbit). Perlu diingat bahwa kenampakan benang putih tersebut akan semakin bertambah hitam jika sumber cahaya berupa lampu tetangga dan lain-lain ditiadakan. Ini membuktikan bahwa pada saat fajar terbit, benang putih masih belum berbeda jelas dengan benang hitam. Oleh karena itu, waktu ketika fajar terbit (azan subuh) bukan merupakan tanda akhir boleh makan dan minum.

Waktu fajar adalah waktu sejak cahaya matahari terlihat sampai matahari terbit. Penggunaan fajar sebagai tanda waktu sudah dikenal pada jaman Nabi Muhammad. Hal ini tercermin dari penggunaan fajar dalam 89:1 dan 97:5.

89:1. By the dawn, (Demi fajar) (versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri)

97:5. Peace it is until the emergence of dawn. (Damai sampai kehadiran fajar) (versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri)

Kata fajar pada benang putih fajar dan benang hitam fajar mempunyai arti sangat penting. Artinya, peristiwa benang putih telah berbeda dengan jelas dengan benang hitam yang dimaksudkan terjadi pada waktu fajar. Berhubung perubahan kenampakan warna bersifat perlahan-lahan (gradual), penetapan waktu peristiwa tersebut terjadi menjadi penting. Dengan memperhatikan bahwa warna putih terjelas akan tampak setelah matahari terbit sedangkan waktu peristiwa tersebut disyaratkan terjadi pada waktu fajar, penulis berpendapat bahwa batas waktu masih diperbolehkan makan dan minum pada suatu hari ketika akan berpuasa adalah beberapa saat menjelang matahari terbit, yaitu pada akhir waktu fajar. Mengingat bahwa fajar menghilang setelah matahari tampak, puasa pada suatu hari dimulai sejak matahari terbit, yaitu sejak matahari sudah mulai tampak.

WAKTU BERBUKA PUASA

Dalam 2:187 dijelaskan bahwa puasa disempurnakan sampai malam. Frase (yaitu matahari terbenam) dalam 2:187 adalah tambahan penerjemah. Jika demikian, apa definisi malam menurut Allah? Untuk menjawabnya, kita perlu membahas tentang definisi siang dan malam menurut Al Qur’an. Penulis sudah membahasnya dalam makalah Waktu dan Cara Shalat Menurut Al Qur’an dan akan menyampaikannya kembali di sini. Al Qur’an terjemahan yang penulis pilih adalah karya Muhamed & Samira Ahmed. Berikut ini uraiannya.

Definisi siang hari dan malam dalam Al Qur’an dijumpai dalam 92:1 dan 92:2.

92:1 And/by the night when/if it covers/darkens. (Dan malam ketika ia menutupi/membuat gelap.)

92:2 And/by the daytime when/if it uncovered/shined. (Dan siang hari ketika ia tidak tertutupi/disinari.)

Dalam kedua ayat tersebut, ia (it) adalah bumi. Pengertiannya yaitu bahwa siang hari adalah waktu ketika bumi tidak tertutupi bumi dari sinar matahari atau waktu ketika bumi disinari matahari (92:2) sedangkan malam adalah waktu ketika bumi menutupi bumi dari sinar matahari atau waktu ketika bumi membuat gelap (91:1). Dengan kalimat lebih sederhana, siang hari adalah waktu ketika permukaan bumi disinari matahari sedangkan malam adalah waktu ketika permukaan bumi tidak disinari matahari.

Perubahan intensitas cahaya dari siang hari ke malam dan dari malam ke siang hari terjadi secara perlahan-lahan (gradual). Yang dapat menimbulkan pertanyaan adalah tentang batas antara siang hari dan malam. Apakah batas itu berdasarkan keberadaan cahaya matahari atau berdasarkan kenampakan matahari? Jika dasarnya adalah keberadaan cahaya matahari, beberapa saat setelah matahari terbenam dan beberapa saat sebelum matahari terbit adalah termasuk siang hari karena cahaya matahari kelihatan. Jika dasarnya adalah kenampakan matahari, beberapa saat setelah matahari terbenam dan beberapa saat sebelum matahari terbit adalah termasuk malam karena matahari tidak kelihatan.

Kalau demikian kasusnya, apa yang dijadikan dasar untuk menentukan batas itu menurut Al Qur’an? Ada baiknya kita cermati ayat 22:61 berikut ini.

22:61 That (is) with that God makes the night to enter/penetrate in the daytime, and He makes the daytime to enter/penetrate in the night, and that God (is) hearing/listening, seeing/understanding. (Itu dengan bahwa Allah membuat malam masuk ke dalam siang hari dan Dia membuat siang hari masuk ke dalam malam, dan bahwa Allah Mengetahui Segala Sesuatu.)

Definisi siang hari dan malam dalam 22:61 dapat diartikan bahwa siang hari atau malam merupakan suatu daerah sehingga daerah siang hari dapat memasuki daerah malam dan daerah malam dapat memasuki daerah siang hari. Pada siang hari, malam tidak ada karena sudah masuk ke dalam siang hari. Dan sebaliknya, pada saat malam, siang hari tidak ada karena sudah masuk ke dalam malam. Di sini, siang hari dan malam merupakan dua daerah yang tegas perbedaannya. Suatu waktu yang disebut sebagai siang hari pasti bukan malam, dan sebaliknya. Demikian pula, suatu waktu yang disebut sebagai bukan malam pasti siang hari. Dengan kalimat lain, suatu waktu hanya mempunyai satu nama, yaitu siang atau malam.

Dalam membedakan siang hari dan malam, Al Qur’an menggunakan kenampakan matahari. Hal itu tercermin pada 52:49.

52:49 And from the night so praise/glorify Him, and (at) the star's/planet's passings/ends (settings). (Dan dari malam maka pujilah Dia, dan (pada) saat bintang berlalu.)

Ayat 52:49 menerangkan tentang dua waktu memuji Allah, yaitu malam dan saat bintang berlalu. Malam dan saat bintang berlalu adalah dua waktu yang berbeda. Jika yang satu malam, yang lainnya pasti siang hari. Artinya, ayat 52:49 berisi perintah agar memuji Allah pada malam dan siang hari. Dengan demikian, waktu pada saat bintang berlalu adalah siang hari. Sebaliknya, waktu pada saat bintang kelihatan adalah malam. Bintang tidak kelihatan ketika matahari tampak. Pembaca dapat menyaksikannya sendiri. Jadi, perbedaan siang hari dan malam ditentukan oleh kenampakan matahari, bukan cahaya matahari.

Berdasarkan uraian di atas, siang hari adalah waktu ketika matahari sudah tampak (berada di atas horison) dan malam adalah ketika matahari tidak tampak (berada di bawah horison). Namun perlu diingat bahwa perubahan dari malam ke siang hari dan dari siang hari ke malam berlangsung secara perlahan-lahan. Penulis berpendapat bahwa siang hari dimulai ketika matahari sudah mulai muncul di atas horison sedangkan malam dimulai ketika matahari sudah mulai turun ke bawah horison. Dalam kenyataan, durasi sejak matahari mulai tampak sampai tampak sempurna dan durasi sejak matahari mulai terbenam sampai terbenam sempurna adalah sangat pendek.

Dari pembahasan tentang definisi siang hari dan malam tadi terungkap bahwa malam adalah waktu sejak matahari terbenam sampai sebelum matahari terbit. Jadi, waktu berbuka puasa adalah sejak matahari terbenam, yaitu sejak matahari mulai turun ke bawah horison.

DEFINISI PUASA RAMADHAN

Berdasarkan uraian di atas, definisi puasa Ramadhan dapat dirumuskan. Puasa Ramadhan adalah aktivitas tidak makan, tidak minum, dan tidak berhubungan suami-istri selama bulan Ramadhan sejak matahari terbit sampai matahari terbenam sebagai implementasi perintah Allah.

JIKA BERHALANGAN BERPUASA

Berdasarkan 2:184 dan 2:185, jika tidak berpuasa karena sakit atau dalam perjalanan, kita diperintahkan berpuasa pada hari yang lain yang jumlah harinya sama dengan jumlah hari pada saat kita tidak berpuasa atau membayar tebusan (fidyah) dengan cara memberi makan orang miskin secara sukarela bagi orang yang mampu. Meskipun demikian, Allah menjelaskan bahwa berpuasa untuk mengganti puasa yang ditinggalkan selama bulan Ramadhan adalah lebih baik daripada membayar fidyah. Hal ini terungkap dalam Dan jika kamu berpuasa, itu adalah lebih baik bagimu, seandainya kamu mengetahui (2:184). Menurut penulis, pembayaran tebusan (fidyah) hanya dilakukan oleh orang-orang yang tidak bisa berpuasa selamanya karena kondisi kesehatannya.

Bagaimana jika ada orang yang merasa tidak mampu berpuasa tetapi merasa tidak bisa menggantinya pada hari-hari yang lain dan tidak mampu membayar fidyah? Jawabannya ada dalam 2:185, yaitu Allah menginginkan kemudahan bagi kamu dan tidak menginginkan bagi kamu kesukaran. Walaupun demikian, Allah mengetahui segala sesuatu sehingga orang itu tidak bisa berbohong atau berpura-pura. Di samping itu, orang itu tidak perlu membuat alasan untuk meyakinkan orang lain tentang puasanya.

KEGIATAN SELAIN BERPUASA

Mengagungkan Allah

Kita juga diperintahkan agar mengagungkan Allah atas petunjuk yang diberikan-Nya berupa Al Qur’an yang diturunkan pada bulan Ramadhan (2:185). Menurut penulis, yang dimaksud dengan pengagungan Allah di sini adalah sikap atau kegiatan sebagai ekspresi orang yang bersyukur atas petunjuk berupa Al Qur’an yang diturunkan pada bulan Ramadhan. Bentuk pengagungan Allah tersebut dapat diwujudkan dengan cara membaca, mempelajari, dan mengamalkan Al Qur’an.

Menyendiri (’aakifuuna) di Masjid

Dalam 2:187 disebutkan bahwa orang-orang yang menyendiri di masjid agar tidak berhubungan dengan dan mendekati istri-istri mereka. Menurut penulis, maksudnya adalah bahwa orang-orang yang menyendiri di masjid agar tidak berhubungan suami-istri dengan istri-istri mereka sejak malam tiba. Masjid adalah suatu tempat yang didefinisikan berdasarkan fungsinya yaitu tempat sujud. Secara fisik, masjid dapat berupa tempat sujud buatan manusia, seperti gedung khusus, rumah, dan kamar, atau tempat alami, misalnya goa. Meskipun menyendiri di masjid yang dijelaskan dalam 2:187 bukan suatu perintah, menyendiri di masjid adalah aktivitas yang dibenarkan Allah jika dilakukan pada bulan Ramadhan. Selama menyendiri di masjid, kita melakukan kegiatan yang mendekatkan diri kepada Allah.

Menyendiri dalam 2:187 adalah terjemahan dari ’aakifuuna. Penulis tidak mengerti alasan ’aakifuuna (menyendiri) sering diterjemahkan menjadi i’tikaf. Bagi penulis yang buta bahasa Arab, dua kata itu adalah berbeda karena bunyinya berbeda. Oleh karena itu, penulis menggunakan kata menyendiri. Jika diminta menggunakan yang berbahasa Arab, penulis memilih ’aakifuuna karena kata tersebut pilihan Allah.

MAKAN DAN MINUM SEBELUM BERPUASA

Sebelum berpuasa pada suatu hari, kita diperintahkan untuk makan dan minum. Perintah itu tercermin dari Dan makan dan minumlah hingga benang putih fajar menjadi berbeda dengan jelas bagimu dengan benang hitam fajar(2:187). Berdasarkan hasil pembahasan di muka, batas waktu makan dan minum tersebut adalah pada akhir waktu fajar. Menurut penulis, sebagai perintah, ini harus diupayakan agar dijalankan. Selain itu, pengaitan perintah makan dan minum tersebut dengan batas waktu boleh makan dan minum bermakna bahwa waktu makan dan minum tersebut adalah berdekatan dengan batas waktu boleh makan dan minum.

NIAT BERPUASA

Niat berpuasa tidak perlu diucapkan karena Allah mengetahui isi hati (21:110). Meskipun demikian, kita harus berusaha mengingat dan menyadari bahwa kita sedang menjalankan puasa. Kadang-kadang terjadi, kita minum atau makan sesuatu karena kita lupa sedang berpuasa. Selain itu, kita juga berusaha untuk meyakinkan pada diri kita sendiri bahwa kita berpuasa karena perintah Allah bukan karena kebiasaan.

21:110. Sesungguhnya Dia mengetahui perkataan (yang kamu ucapkan) dengan terang-terangan dan Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan (versi Dep. Agama RI)

PENENTUAN BULAN RAMADHAN

Penentuan bulan Ramadhan sulit ditentukan secara individual. Kita perlu menyerahkannya kepada para ahli di bidang ini. Pada dasarnya, penentuan bulan Ramadhan adalah berdasarkan peredaran bulan dan bumi mengelilingi matahari. Dengan kata lain, ini adalah masalah astronomi. Ayat yang dapat dijadikan landasan untuk penentuan bulan Ramadhan secara astronomis adalah 55:5.

55:5. Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan. (versi Dep. Agama RI)

Kata (beredar)dalam terjemahan 55:5 di atas hanyalah tambahan penerjemah. Tambahan itu tidak tepat karena matahari tidak beredar. Sesuai dengan hukum heliosentris, matahari menjadi pusat peredaran bumi dan planet-planet lainnya. Menurut penulis, ayat 55:5 menerangkan bahwa posisi matahari dan bulan ditentukan Allah dengan perhitungan. Hal ini sudah dibuktikan ketika para ahli astronomi dapat menentukan waktu gerhana matahari secara teliti. Oleh karena itu, penulis berpendapat bahwa awal dan akhir bulan Ramadhan serta jadwal puasa yang perlu diikuti adalah yang ditentukan berdasarkan perhitungan astronomi. Perbedaan pendapat tentang awal dan akhir bulan Ramadhan yang kadang-kadang terjadi memang sangat disayangkan.

WANITA HAIDH

Dalam Al Qur’an tidak ada larangan wanita haidh melakukan puasa. Semua orang beriman wajib berpuasa sehingga wanita beriman wajib berpuasa meskipun dalam keadaan haidh. Ayat-ayat tentang haidh tidak menyinggung sedikit pun tentang puasa (65:4 dan 2:22).

65:4. Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya), maka masa iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid. Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. (versi Dep. Agama RI)

2:222. Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: "Haidh itu adalah suatu kotoran." Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. (versi Dep. Agama RI)

AYAT 2:186

Dalam ayat-ayat tentang puasa di surat Al Baqarah, Allah menjelaskan tentang puasa secara jelas sehingga pembaca dapat mempelajarinya secara mandiri. Meskipun demikian, ada hal yang akan penulis bahas di sini, yaitu tentang kehadiran ayat 2:186 yang isinya seolah-olah tidak berhubungan dengan puasa sedangkan ayat berikutnya yaitu 2:187 masih menjelaskan tentang puasa.

Ditinjau dari isinya, ayat tersebut menjelaskan tentang hubungan Allah dan hamba-Nya. Jika ayat tersebut diturunkan dalam interval yang cukup lama sesudah 2:185, mengapa penjelasan cara berpuasa yang sangat penting masih dijelaskan dalam 2:187? Di lain pihak, jika ayat 2:183 sampai 2:187 diturunkan secara berurutan dalam waktu yang kurang lebih sama, mengapa ayat 2;186 seperti tidak berisi penjelasan tentang puasa ? Penulis berpendapat bahwa ayat 2:183 sampai 2:187 diturunkan dalam waktu kurang lebih bersamaan atau tanpa interval waktu yang panjang karena Allah bermaksud ingin menjelaskan cara berpuasa dengan jelas agar dapat segera diamalkan dengan benar. Dengan demikian, 2:186 perlu dipandang sebagai bagian dari penjelasan tentang puasa.

Menurut penulis, makna ayat 2:186 dalam kaitannya dengan puasa adalah bahwa orang beriman diingatkan agar menjalankan perintah puasa dengan sebaik-baiknya karena Allah dekat dengan mereka. Artinya, selama menjalankan puasa, orang beriman supaya ingat bahwa Allah mengetahui semua yang mereka kerjakan karena Allah berada di dekatnya. Dengan kata-kata lain, pura-pura berpuasa atau terpaksa berpuasa adalah perbuatan yang sia-sia. Selain itu, ayat tersebut bermakna bahwa berpuasa Ramadhan merupakan bukti atau tolok ukur ketaatan orang beriman kepada Allah. Dalam ayat itu, Allah menanggapi permohonan orang beriman dan sebagai gantinya, mereka diperintahkan agar menjalankan perintah-Nya, dalam hal ini adalah puasa Ramadhan.

PENUTUP

Makalah tentang cara berpuasa Ramadhan menurut Al Qur’an dicukupkan sampai di sini. Makalah ini merupakan revisi terhadap makalah serupa yang pernah dimuat di blog ini. Revisi dilakukan untuk mengikuti perubahan persepsi yang terjadi pada diri penulis. Jika ada yang tidak berkenan di hati pembaca, penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya.