Rabu, 30 Maret 2011

CARA BERDOA MENURUT AL QUR'AN

PENDAHULUAN

Ada banyak cara yang dilakukan orang ketika berdoa. Ada yang melakukannya dengan berdiam diri sambil menunduk. Ada yang melakukannya dengan membaca sesuatu dalam bahasa Arab sambil mengangkat kedua tangannya dengan telapak tangan diarahkan ke atas. Ada yang melakukannya dengan mengucapkan amin sebagai respon terhadap yang diucapkan seorang pemimpin ketika berdoa. Ada yang melakukannya dengan berdoa sambil membaca ayat Al Qur’an beberapa kali. Dan, mungkin ada yang selain semua itu. Benarkah cara berdoa yang seperti itu?

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, doa berarti permohonan kepada Tuhan. Mengingat bahwa yang dimohon adalah Tuhan, kita harus mengikuti cara berdoa yang diajarkan Tuhan. Oleh karena itu, cara berdoa yang akan dibahas dalam makalah ini adalah yang ada dalam Al Qur’an. Penulis akan membahasnya dengan Al Qur’an terjemahan versi Dep. Agama RI yang terdapat dalam Al Qur’an digital versi 2.1. Jika Al Qur’an terjemahan lain digunakan, versinya akan disebutkan.

DOA DAN MEMANGGIL TUHAN

Ketika berdoa, orang memanggil Tuhannya. Contoh bentuk panggilan tersebut adalah ucapan Ya Tuhanku, Ya Allah, Oh Tuhanku, dll. Hal ini mungkin tidak disadarinya. Maksud pemanggilan tersebut adalah sama dengan maksud orang yang memanggil pihak lain yaitu bahwa yang dipanggil agar memperhatikan dirinya. Barangkali, gejala tersebut menyebabkan berdoa dalam Al Quran terjemahan dalam bahasa Inggris dinyatakan dengan kata call. Oleh karena itu, penulis setuju dengan penerjemahan call menjadi berdoa atau doa dalam Al Qur’an terjemahan.

CARA BERDOA

Pertama

Menurut Al Qur’an terjemahan versi Dep. Agama RI, ketika berdoa, kita diperintahkan bersikap merendahkan diri dan mengucapkan doanya dengan suara yang lembut (7:55; 19:3; dan 6:63).

7:55. Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

19:3. yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.

6:63. Katakanlah: "Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut, yang kamu berdoa kepada-Nya dengan rendah diri dengan suara yang lembut (dengan mengatakan: "Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari (bencana) ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur"."

Akan tetapi, jika Al Qur’an terjemahan versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri digunakan, persepsi kita akan menjadi berbeda.

7:55. Call upon your Lord humbly and privately. Indeed, He does not love the transgressors. (Berdoalah kepada Tuhanmu dengan sikap rendah hati dan secara pribadi. Sungguh, Dia tidak meyukai orang-orang yang melanggar.) (versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri)

19:3. When he called to his Lord a secret call. (Ketika ia bedoa kepada Tuhannya suatu doa rahasia.) (versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri)

6:63. Say, “Who rescues you from the darknesses of the land and sea (when) you call Him humbly and secretly (saying), ‘If He saves us from this, surely we will be among the grateful ones.’” (Katakanlah, “Siapa yang menyelamatkan dari kegelapan daratan dan lautan (ketika) kamu berdoa kepada Dia dengan sikap rendah hati dan (berkata) secara rahasia, ‘Jika Dia menyelamatkan kami dari ini, tentulah kami akan menjadi di antara orang yang berterima kasih.’“(versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri)

Terjemahan 7:55; 19:3; dan 6:63 versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri memperlihatkan bahwa ketika berdoa, kita diperintahkan agar bersikap rendah hati. Maksudnya, kita tidak boleh bersikap tinggi hati dihadapan-Nya. Frase merendahkan diri dalam terjemahan versi Dep. Agama perlu mendapatkan catatan tersendiri. Frase tersebut dapat menimbulkan penafsiran bahwa manusia mempunyai derajad yang tinggi atau bahkan sejajar dengan Tuhan sehingga ketika berdoa manusia diminta untuk merendahkan dirinya. Menurut penulis, manusia akan selalu lebih rendah derajadnya daripada Tuhan sehingga tidak perlu lagi melakukan pekerjaan merendahkan dirinya. Jadi, ketika berdoa kita harus bersikap rendah hati atau bersikap tidak menyombongkan diri.

Selain itu, doa dilakukan secara tersendiri atau pribadi (privately). Artinya, doa dikerjakan tidak secara bersama-sama dengan orang lain atau dipimpin oleh orang lain. Lebih lanjut, doa juga dikerjakan secara rahasia (secretly). Artinya, hanya Allah dan orang yang berdoa saja yang mengetahuinya sehingga doanya itu menjadi doa rahasia (secret call). Sifat kerahasiaan tersebut akan mudah terwujud jika doa dilakukan dalam hati. Perlu diingat bahwa Allah mengetahui yang dikatakan oleh isi hati manusia (21:110 dan 35:38).

21:110. Sesungguhnya Dia mengetahui perkataan (yang kamu ucapkan) dengan terang-terangan dan Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan.

35:38. Sesungguhnya Allah mengetahui yang tersembunyi di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati.

Kalimat ‘Jika Dia menyelamatkan kami dari ini, tentulah kami akan menjadi di antara orang yang berterima kasih.’ dalam 6:63 menunjukkan bahwa kalimat tersebut dikatakan di dalam hati manusia. Hal itu terlihat dari penggunaan Dia dalam kalimat tersebut, bukan Engkau. Dengan demikian, ayat tersebut menjelaskan orang yang sedang berkata dakam hati. Hal ini menegaskan bahwa kita diajarkan untuk bedoa dalam hati.

Sampai di sini dapat diringkas bahwa ketika berdoa, kita bersikap rendah hati. Selain itu, kita berdoa secara tersendiri dan melakukannya di dalam hati.

Kedua

Ketika berdoa, kita harus diliputi perasaan takut dan harapan atau perasaan harap cemas (7:56). Perasaan harap cemas inilah yang meliputi Nabi Zakaria dan Nabi Yahya ketika berdoa (21:90).

7:56. Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.

21:90. Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepada nya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada Kami.

32:16. Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezki yang Kami berikan.

Perasaan harap cemas atau takut dan harapan dapat dijelaskan sebagai berikut. Kita harus menyadari bahwa kita tidak bisa memaksakan kehendak kita kepada Allah. Ini sudah jelas. Selain itu, kita harus sepenuh hati meyakini bahwa Allah-lah yang menentukan segala sesuatu. Artinya, ketika berdoa, kita benar-benar memohon kepada-Nya dan meyakini bahwa hanya Allah yang sanggup mengabulkan doa tersebut. Di satu sisi, kita mengharapkan doanya terkabul tetapi keputusan ada pada-Nya. Di sisi lainnya, kita takut jika doa kita tidak dikabulkan. Padahal, kita berharap doanya dikabulkan. Keadaan seperti itu akan menumbukan perasaan harap-harap cemas.

Ketiga

Ketika berdoa, kita tidak dalam keadaan sedang marah (68:48).

68:48. Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdoa sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya).

Keempat

Keempat, kita berdoa tanpa mengenal rasa kecewa (19:4; 19:47; dan 19:48).

19:4. Ia berkata "Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku.

19:47. Berkata Ibrahim: "Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memintakan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku

19:48. Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku."

Kelima

Bahasa tidak perlu dipermasalahkan dalam berdoa karena Allah mengetahui yang dipikirkan manusia (21:110 dan 35:38 (kutipan ayat-ayatnya sudah disajikan di muka)). Dengan demikian, kita tidak perlu memaksakan diri manghafal bacaan doa berbahasa Arab buatan orang lain. Kita dapat berdoa dalam bahasa kita sendiri dengan kata-kata yang disusun sendiri dalam hati.

Keenam

Alasan berdoa kepada Allah juga harus kuat. Contohnya adalah alasan Nabi Zakaria meminta agar diberikan seorang putra (19:5).

19:5. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera,

Ketuju

Orang yang berdoa harus memenuhi perintah-Nya dan beriman kepada-Nya (2:186). Dengan demikian, setelah doanya dikabulkan, kita tidak boleh berbuat sesuatu yang menyimpang dari ajaran Allah (10:12).

2:186. Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran

10:12. Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.

Kedelapan

Kita menerima semua keputusan-Nya karena semuanya adalah kehendak Allah (48:11). Selain itu, sesuatu yang kita benci belum tentu buruk bagi kita dan sesuatu yang kita sukai belum tentu baik bagi kita (2:216).

48:11. Orang-orang Badwi yang tertinggal (tidak turut ke Hudaibiyah) akan mengatakan: "Harta dan keluarga kami telah merintangi kami, maka mohonkanlah ampunan untuk kami"; mereka mengucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam hatinya. Katakanlah : "Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah jika Dia menghendaki kemudharatan bagimu atau jika Dia menghendaki manfaat bagimu. Sebenarnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

2:216. Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

Kesembilan

Kita tidak boleh menggunakan perantara ketika memohon sesuatu kepada Allah. Perantara sering diistilahkan dengan pemberi syafa’at (pemberi pertolongan). Artinya, pemberi syafa’at dianggap menjadi makhluk yang mampu memberi pertolongan seperti Allah. Dengan kalimat lain, pertolongan yang diberikan pemberi syafa’at dianggap sama dengan pertolongan dari Allah. Ini sering dilakukan oleh orang yang menganggap bahwa ada makhluk Allah selain malaikat yang diberi kemampuan oleh Allah untuk memberi pertolongan. Contohnya adalah arwah orang yang dianggap suci dan dianggap dekat dengan Tuhan. Orang yang mempercayainya tersebut kemudian mendatangi kuburannya dan minta pertolongan kepada arwah orang tersebut.

Yang mempunyai syafa’at adalah Allah (39:44) sehingga kita hanya boleh minta syafa’at kepada Allah. Artinya, kita hanya boleh minta pertolongan kepada Allah (1:5). Dengan kalimat lain, kita diperintahkan untuk berdoa kepada Allah secara langsung.

39:44. Katakanlah: "Hanya kepunyaan Allah syafa’at itu semuanya. Kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi. Kemudian kepada- Nyalah kamu dikembalikan"

1:5. Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.

Dengan demikian. kita juga tidak boleh berdoa dengan mengharap syafa’at Nabi Muhammad. Cara berdoa yang disertai penyebutan nama Nabi Muhammad dengan harapan mendapatkan syafa’atnya adalah keliru. Kenyataannya, Nabi Muhammad sendiri adalah makhluk Allah yang tidak mampu mendatangkan sesuatu kemudharatan (keburukan) dan kemanfaatan kepada orang lain (72:21).

72:21. Katakanlah: "Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudharatanpun kepadamu dan tidak (pula) suatu kemanfaatan."

Kesepuluh

Berdoa dapat dilakukan dalam keadaan berbaring, duduk, atau berdiri (10:12).

10:12. Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.

Penyebutan urutan tersebut di atas tidak menjelaskan urutan proses. Jika diringkas, cara berdoa dalam Al Qur’an mencakup 10 komponen, yaitu :

1. berdoa secara tersendiri dan melakukannya di dalam hati dengan sikap rendah hati.

2. diliputi perasaan takut dan harapan atau perasaan harap cemas,

3. tidak dalam keadaan sedang marah,

4. tanpa mengenal rasa kecewa,

5. dengan bahasa yang dipahami oleh diri sendiri,

6. yang dimohonkan kepada Allah dilandasi alasan yang kuat,

7. harus memenuhi perintah-Nya dan beriman kepada-Nya,

8. menerima semua keputusan-Nya,

9. tidak menggunakan perantara atau pemberi syafa’at, dan

10. dapat dilakukan dalam keadaan berbaring, duduk, atau berdiri.

PENUTUP

Demikianlah makalah tentang cara berdoa yang dijumpai dalam Al Qur'an. Kita berdoa agar permohonan kita dikabulkan Allah sehingga sangat tepat apabila kita mengikuti cara berdoa menurut ajaran Allah dalam Al Qur’an. Perubahan makalah ini mungkin akan dilakukan jika terjadi perubahan persepsi dalam diri penulis.