Selasa, 31 Mei 2011

BENARKAH KABAH RUMAH ALLAH?

PENDAHULUAN
Kabah adalah suatu bangunan berbentuk seperti kubus di Mekah yang dijadikan sebagai tempat tujuan orang yang menunaikan haji. Bentuknya seperti gambar berikut ini.


Kabah dipercaya oleh banyak orang sebagai Rumah Allah seperti yang disebutkan dalam Al Qur’an. Ayat-ayat yang menggambarkan Rumah Allah adalah sebagai berikut.
22:26. And when We assigned to Ibrahim the site of the House (saying), “Do not associate anything with Me and purify My House for those who circumambulate and those who stand and those who bow and prostrate. (Dan ketika Kami menetapkan bagi Ibrahim tempat untuk Rumah (berfirman), “Janganlah mengasosiasikan sesuatu dengan Aku dan sucikanlah Rumah-Ku untuk mereka yang mengelilingi dan mereka yang berdiri dan mereka yang ruku dan sujud.) (versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri)
22:29. Then let them complete their prescribed duties and fulfil their vows, and circumambulate the Ancient House.” (Kemudian biarlah mereka menyempurnakan kewajiban yang diperintahkan dan memenuhi janji-janji mereka, dan mengelilingi Rumah Tua.”) (versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri)
2:125. And (remember) When We made the House (Kabah) a place of (frequent) return (i.e., pilgrimage) for mankind and a place of security and said, “Take the standing place of Ibrahim as a place of prayer.” And We made a covenant with Ibrahim and Ismail, (saying), “Purify My House for those who circumambulate it, and those who seclude themselves for devotion and prayer and those who bow down and prostrate.” (Dan (ingatlah) Ketika Kami membuat Rumah sebagai tempat kembali (berulang-ulang) (yaitu haji) untuk manusia dan tempat keamanan dan berfirman. “Gunakanlah tempat berdiri Ibrahim sebagai tempat shalat.” Dan Kami membuat perjanjian dengan Ibrahim dan Ismail, (berfirman), “Sucikanlah Rumah-Ku untuk mereka yang mengelilinginya, dan mereka yang memencilkan diri demi ketaatan dan shalat dan mereka yang ruku dan sujud.”) (versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri)
3:96. Indeed, the First House set up for mankind is at Bakkah (i.e., Makkah) -blessed and a guidance for the worlds. (Sungguh, Rumah Pertama dibangun untuk manusia adalah di Bakkah (yaitu Mekah)-diberkahi dan suatu petunjuk bagi seluruh dunia.) (versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri)
3:97. In it are clear signs, standing place of Ibrahim, and whoever enters it is safe. And pilgrimage to the House is a duty that mankind owes to Allah for those who are able to find the means. And whoever disbelieves, then indeed, Allah is free from the need of the universe. (Di dalamnya ada tanda-tanda yang jelas, tempat berdiri Ibrahim, dan siapapun memasukinya aman. Dan ziarah ke Rumah tersebut adalah kewajiban yang manusia berhutang kepada Allah bagi mereka yang mendapatkan caranya. Siapapun menjadi orang tidak beriman, maka sungguh, Allah bebas dari kebutuhan dunia.) (versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri)
Dalam Al Qur’an terjemahan ayat 22:26 dan 2:125, Rumah Allah dinyatakan dengan Rumah-Ku. Selain itu, Rumah Allah juga disebut sebagai Rumah Tua (22:29).
Ayat 3:96 dan 3:97 menjelaskan bahwa di dalam Rumah yang dijadikan tujuan haji terdapat tempat berdiri Ibrahim. Artinya, di dalam Rumah Allah ada tempat berdiri Ibrahim. Walaupun demikian, istilah tempat berdiri Ibrahim dalam 2:125 dan 3:97 terasa aneh. Bukankah Ibrahim berdiri di banyak tempat sesuai dengan yang diingininya karena beliau manusia yang bisa berdiri dan berjalan-jalan? Ayat 3:97 terjemahan versi Muhamed dan Samira Ahmed berikut ini dapat menghilangkan kebingungan tersebut karena ternyata frase terjemahan yang dimaksud adalah tempat atau posisi Ibrahim sebagai terjemahan dari maqam Ibrahim. Jadi, di dalam Rumah Allah terdapat tempat Ibrahim.
3:97 In it (are) signs/verses/evidences evidences (in) Abraham's place/position, and who entered it, was/is/became safe/secure, and to God on the people performing pilgrimage (to) the House/Home who was/is able (to find) a way/method to it, and who disbelieved, so that God (is) rich from (not in need to) the creations altogether/(universes). (Di dalamnya ada tanda-tanda/ayat-ayat/bukti-bukti di tempat/posisi ibrahim, dan siapapun memasukinya, aman/menjadi aman, dan untuk Allah pada orang-orang berziarah ke Rumah yang mampu mendapatkan cara ke sana, dan siapapun tidak percaya, maka Allah kaya dari (tidak membutuhkan) semua ciptaan (dunia). (versi Muhamed dan Samira Ahmed)
Perlu pula disampaikan bahwa frase dan mereka yang memencilkan diri demi ketaatan dan shalat dalam 2:125 adalah terjemahan dari wa al ‘aakifiina. Dalam terjemahan versi Dep. Agama RI, frase tersebut diterjemahkan menjadi i’tikaf. Apakah i’tikaf berasal dari bahasa Arab? Jika benar, mengapa tidak digunakan ‘aakifiina yang juga berbahasa Arab? Bukankah ‘aakifiina kata pilihan Allah?
2:125. Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: "Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i'tikaf, yang ruku' dan yang sujud". (versi Dep. Agama RI)
Oleh Abdullah Yusuf Ali, wa al ‘aakifiina diterjemahkan menjadi or use it as a retreat yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonssia akan menjadi atau menggunakannya sebagai tempat mengasingkan diri. Kutipan terjemahan tersebut adalah sbb.
002.125 Remember We made the House a place of assembly for men and a place of safety; and take ye the station of Abraham as a place of prayer; and We covenanted with Abraham and Isma'il, that they should sanctify My House for those who compass it round, or use it as a retreat, or bow, or prostrate themselves (therein in prayer). (versi Abdullah Yusuf Ali)
Dari kutipan-kutipan terjemahan 2:125 di atas dapat disampaikan bahwa kata ‘aakifiina diterjemahkan secara bervariasi. Menurut penulis, ‘aakifiina pada dasarnya adalah suatu kegiatan berupa pengasingan diri untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Tambahan, frase sebagai tempat kembali (berulang-ulang) (yaitu haji) untuk manusia dalam 2:125 diterjemahkan menjadi tempat berkumpul oleh Abdullah Yusuf Ali dan menjadi ganjaran atau penggantian atau kompensasi oleh Muhamed dan Samira Ahmed. Jadi, penerjemahannya bervariasi.
2:125 And when We put The House (as) a reward/replacement/compensation to the people, and (a) safety/security, and they took from Abraham's place a prayer place, and We entrusted/recommended to Abraham and Ishmael: "That purify/clean/wash (B) My House for the circlers/walkers around, and the devoting/dedicating, and the bowing, the prostrating." (versi Muhamed dan Samira Ahmed)
Dari uraian di atas, Rumah Allah dapat dideskripsikan secara singkat sebagai berikut :
1. Rumah Allah disebut juga sebagai Rumah Tua.
2. Di dalam Rumah Allah terdapat tempat Ibrahim.
3. Rumah Allah digunakan untuk mengasingkan diri dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah
4. Rumah Allah digunakan untuk orang yang berdiri, ruku’, dan sujud.
5. Rumah Allah dikelilingi oleh manusia.
6. Rumah Allah adalah tempat orang berkumpul atau tempat kembali atau sebagai ganjaran
7. Rumah Allah adalah tempat keamanan.
Benarkah bangunan di Mekah yang berbentuk seperti kubus yang disebut dengan Kabah adalah Rumah Allah yang dimaksudkan dalam Al Qur’an? Untuk menjawabnya, kita akan mengevaluasi kondisi Kabah yang ada sekarang.
EVALUASI KONDISI KABAH
Kondisi Fisis
Kabah sekarang tidak seperti rumah tua karena rumah tua biasanya tampak seperti sudah dimakan usia. Kabah sekarang terkesan megah dan mewah meskipun arsitekturnya relatif sederhana. Bangunannya sudah dibuat sangat kuat dengan dekorasi yang mewah. Berdasarkan pengamatan penulis pada gambar dan video yang dapat diakses melalui internet, di Kabah tersebut terdapat bagian yang dilapisi emas. Bahkan, kain penutupnya juga dihiasi dengan benang-benang emas. Secara singkat, Kabah yang kita lihat sekarang tidak tepat lagi dikatakan seperti rumah tua, tetapi lebih tepat untuk disebut sebagai sebuah bangunan megah dan mewah.
Foto dan video yang dengan mudah di-download di internet memperlihatkan keadaan di dalam Kabah yang sungguh mengherankan. Berikut ini adalah gambar kaadaan dalam Kabah yang di-download dari http://hamzajennings.com/2007/08/14/inside-the-kaaba/.


Tampak dalam gambar di atas sebuah meja yang digunakan untuk menaruh dua buah benda. Menurut yang penulis baca dalam http://www.123muslim.com/islamic-articles/16600-kaba-sacred-house-god.html, benda tersebut adalah pembakar dupa (incense burner). Bagi penulis, ini merupakan suatu perkara sangat serius. Seperti sering kita lihat atau dengar dalam kehidupan sehari-hari bahwa dupa atau kemenyan digunakan dalam kegiatan yang berhubungan dengan perdukunan atau dunia jin. Di lain pihak, dalam Al Qur’an tidak dijumpai ajaran peribadatan yang menggunakan dupa atau kemenyan. Lalu, untuk siapakah dupa itu dibakar? Apakah itu untuk jin? Ataukah, Allah dianggap menyukai bau dupa atau kemenyan? Semua itu adalah pertanyaan-pertanyaan yang sangat mencemaskan hati orang yang menjadikan Allah sebagai satu-satunya Tuhan.
Selain itu, dijelaskan pula dalam http://www.123muslim.com/islamic-articles/16600-kaba-sacred-house-god.html bahwa di bagian atas tergantung sederet lampu lantera. Namun, pemasangannya tidak mempertimbangkan fungsi lantera tersebut. Selain jumlahnya banyak dan ukurannya bervariasi, lampu-lampu tersebut disusun seperti barang dagangan dan tidak mempetimbangkan keindahan. Selain itu, jelas sekali bahwa lampu-lampu tersebut tidak digunakan sebagai alat penerangan karena pemasangannya yang seperti itu. Dan yang lebih mengherankan lagi, menurut yang penulis baca di http://riangold.wordpress.com/2011/04/25/ada-apa-di-dalam-kabah/#respond, lampu-lampu tersebut terbuat dari emas dan permata. Jadi, benda-benda yang menggantung di atas tersebut adalah emas dan permata yang dibuat menyerupai lampu lantera. Lalu, apakah lampu-lampu emas permata tersebut dipersembahkan oleh manusia kepada Allah? Atau, apakah Allah dianggap menyukai perhiasan berupa permata? Atau, apakah Allah dianggap membutuhkan harta?
Disebutkan dalam 47:36 bahwa Allah tidak meminta harta manusia. Dijelaskan lebih lanjut dalam 2 ayat berikutnya, yaitu 47:36 dan 47:38 bahwa membelanjakan harta di jalan Allah bukan berarti Allah membutuhkan harta karena Allah bebas dari kebutuhan. Dengan demikian, tindakan menghias Kabah dengan emas dan permata dapat dianggap telah menganggap Allah membutuhkan harta. Oleh karena itu, perbuatan terebut termasuk perbuatan dosa. Jika kita mempunyai harta, hendaknya harta tersebut diberikan kepada orang lain dalam bentuk sedekah sebagai tindakan membelanjakan harta di jalan Allah, bukan untuk menghias Rumah Allah. Oleh karena itu, tidak sepantasnya emas dan permata dan perhiasan mewah berada di Kabah. Tidak mungkin perhiasan mewah tersebut ditempatkan di Rumah Allah oleh orang-orang bertaqwa karena mereka mengetahui bahwa Allah tidak membutuhkannya.
47:36. The life of this world is only play and amusement. And if you believe and fear Allah, He will give you your rewards and will not ask you for your wealth. (Kehidupan di dunia ini hanyalah permainan dan hiburan. Dan jika kamu beriman dan takut kepada Allah, Dia akan memberikan kepadamu balasanmu dan tidak akan meminta kamu hartamu.) (versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri)
47:37. If He were to ask you for it and press you, you will withhold, and He will expose your hatred. (Jika Dia meminta kamu hartamu dan menekan kamu, kamu akan tidak mau membelanjakannya, dan Dia akan menampakkan rasa benci kamu.) (versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri)
47:38. Here you are – those called to spend in the way of Allah - but among you are some who withhold. And whoever withholds, then he only withholds from himself. But Allah is Free of need and you are the needy. And if you turn away, He will replace you with another people, then they will not be like you. (Inilah - mereka yang diminta membelanjakannya di jalan Allah - tetapi di antara kamu ada beberapa yang tidak mau membelanjakannya. Dan siapa saja yang tidak mau membelanjakan, maka ia hanya tidak mau membelanjakan dari dirinya sendiri. Namun Allah adalah bebas dari kebutuhan dan kamu adalah miskin. Dan jika kamu berpaling, Dia akan mengganti kamu dengan orang-orang yang lain, kemudian mereka tidak akan seperti kamu.) (versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri)
Penulis kadang-kadang merasa penasaran dengan alasan penggantungan banyak lampu lantera yang tidak digunakan sebagai alat penerangan dan bukan pula sebagai hiasan. Lagi-lagi, dugaannya mengarah pada dunia jin. Ini juga hanya dugaan karena penulis bukan dukun atau ahli paranormal. Bagaimana jadinya jika lampu-lampu itu adalah tempat tinggal jin? Bagaimana jika lampu-lampu tersebut adalah berhala jaman jahiliyah yang berubah bentuk?
Berdasarkan pengamatan video yang dapat diakses di http://www.youtube.com/watch?v=EWzJXUAQQEE, di dalam Kabah tidak terdapat tempat Ibrahim. Di lain pihak, tanda kaki Ibrahim yang dipercaya sebagai tempat Ibrahim justeru berada di luar Kabah. Gambar berikut ini adalah gambar kurungan yang di dalamnya terdapat tanda cetakan telapak kaki yang dipercaya sebagai telapak kaki Ibrahim. Lokasi tanda cetakan telapak kaki Ibrahim tersebut dipercaya sebagai maqam Ibrahim (tempat Ibrahim).


Gambar maqam Ibrahim (di-download dari http://www.tohajj.com/eng/DATA/tabeeb/Haram20.htm)
Di samping itu, jika maqam Ibrahim dianggap seperti itu, bagaimana orang-orang akan bisa shalat di maqam Ibrahim seperti yang diperintahkan Allah dalam 2:125? Jadi. kenyataan ini bertentangan dengan keadaan Rumah Allah yang dijelaskan dalam 3:96 dan 3:97.
Melalui video tersebut dapat terlihat keberadaan kaligrafi-kaligrafi pada dinding dalam Kabah. Di antaranya ada yang berupa simbol-simbol atau rajah-rajah yang tidak jelas kaitannya dengan Allah. Penempatannya pun seperti tidak memperhatikan tata letak yang baik. Sayangnya, penulis adalah buta huruf Arab sehingga tidak bisa membahas tulisan pada dinding dalam Kabah. Yang jelas, hal tersebut hanya menambah keragu-raguan penulis terhadap anggapan Kabah sebagai Rumah Allah.
Benda lain di Kabah yang tidak jelas fungsinya adalah batu hitam yang terletak di sudut bagian luar Kabah. Apakah itu adalah hiasan? Rasa-rasanya, itu bukan hiasan karena bentuknya tidak indah. Jika bukan hiasan dan bukan bagian pendukung konstruksi bangunan, lalu untuk apa dipasang di situ? Keberadaan batu hitam berpotensi untuk mendorong orang berbuat kemusyrikan. Tidak mungkin batu hitam itu dipasang oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail karena mereka berdua benci pada kemusyrikan. Di Al Qur’an juga tidak disebutkan tentang batu hitam pada Rumah Allah. Gambar batu hitam yang di-download dari http://www.ezsoftech.com/hajj/hajj_article5.asp disajikan berikut ini.




Kondisi Fungsional
Kabah bersifat eksklusif karena tidak dapat digunakan oleh semua orang. Sekarang, hanya orang tertentu saja yang bisa memasukinya. Dengan demikian, Kabah tidak bisa digunakan semua orang untuk mengasingkan diri dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah dan digunakan untuk orang yang berdiri, ruku’, dan sujud seperti dijelaskan dalam Al Qur’an. Demikian juga, Kabah tidak dapat digunakan sebagai tempat berkumpul dan tempat keamanan karena tidak dapat dimasuki oleh semua orang. Selain itu, ruangan dalam Kabah terlalu sempit untuk dijadikan tempat berkumpul orang banyak sehingga menimbulkan rasa tidak aman bagi orang-orang yang berkumpul di dalamnya. Jadi, pemanfaatan Kabah tidak sesuai dengan pemanfaatan Rumah Allah yang dijelaskan dalam Al Qur’an.
Sampai di sini dapat diringkas bahwa kondisi dan pemanfaatan Kabah sekarang ini tidak sesuai dengan Al Qur’an. Jadi, benarkah Kabah yang di Mekah sekarang ini adalah Rumah Allah? Pertanyaan ini mendorong penulis untuk melanjutkan pembahasan tentang Rumah Allah ini. Jika Rumah Allah tidak berupa bangunan rumah seperti Kabah, seperti apa dan dimana Rumah Allah yang sebenarnya?
RUMAH ALLAH BERUPA KAWASAN PERMUKAAN BUMI
Rumah tujuan haji dijelaskan dalam 3:96 dan 3:97 (Kedua ayat tersebut sudah disajikan di muka.). Dalam ayat 3:97, haji diistilahkan dengan ziarah ke Rumah (pilgrimage to the House). Dalam kedua ayat tersebut diterangkan bahwa Rumah Pertama yang dibuat di Bakkah adalah tujuan ziarah (haji). Rumah tersebut diberkati.
Penulis manafsirkan suatu petunjuk bagi seluruh dunia dalam 3:96 sebagai frase yang berkaitan dengan ayat berikutnya. Maksudnya, petunjuk lebih rinci tentang keberadaan Rumah Allah dijelaskan dalam ayat berikutnya, yaitu 3:97. Dijelaskan bahwa ciri-cirinya adalah keberadaan tanda-tanda yang jelas, di antaranya yaitu tempat Ibrahim (maqam Ibrahim). Oleh karena itu, tempat Ibrahim menjadi penting.
Menurut penulis, tempat Ibrahim adalah tempat tinggal Ibrahim. Jika ingin pergi ke Rumah Allah, kita pergi menuju ke tempat tinggal Ibrahim. Ibrahim adalah orang terkenal sehingga kediamannya dijadikan petunjuk lokasi beradaan Rumah Allah. Tempat tinggal Ibrahim meliputi bangunan rumah tempat beliau berteduh, halaman rumah, dan tempat mencari rejeki. Dengan demikian, penafsiran yang tepat menurut penulis adalah bahwa Rumah Allah adalah berupa kawasan permukaan bumi. Di dalam kawasan itulah Ibrahim tinggal. Allah menetapkan tempat kawasan tersebut dan kemudian Ibrahim tinggal di dalamnya. Frase Dan ketika Kami menetapkan bagi Ibrahim tempat untuk Rumah dalam 22:26 menegaskan hal tersebut.

Walaupun demikian, ada ayat yang dapat menimbulkan perbedaan penafsiran yang perlu dibahas di sini. Ayat tersebut adalah 2:127.

2:127 And when Abraham raises the foundations/bases from The House, and Ishmael: "Our Lord accept from us, that you are the hearing/listening the knowledgeable." (Dan ketika Ibrahim mendirikan dasar-dasar dari Rumah, dan Ismail : “Tuhan kami terimalah dari kami, bahwa Engkau yang mendengar dan mengetahui.(versi Muhamed dan Samira Ahmed)

Dijelaskan dalam ayat tersebut bahwa Ibrahim dan Ismail mendirikan dasar-dasar Rumah. Frase dasar-dasar Rumah mungkin akan ditafsirkan sebagian orang seperti dasar rumah tempat tinggal manusia jaman sekarang, yang di atas dasar tersebut kemudian dibuat tembok atau dinding rumah. Akan tetapi, jika frase “Tuhan kami terimalah dari kami, bahwa Engkau yang mendengar dan mengetahui.” dipertimbangkan, penafsirannya bisa berbeda. Apakah pada saat itu Ibrahim dan Ismail sedang mempersembahkan dasar bangunan rumah secara fisik yang di atasnya dapat dibuat tembok atau dinding kepada Allah? Rasa-rasanya, itu tidak demikian. Menurut penulis, dasar-dasar Rumah yang dimaksud adalah keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan. Dengan kalimat lain, Rumah Allah didirikan di atas dasar keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan. Artinya, di Rumah tersebut tidak boleh ada Tuhan selain Allah. Dalam hal ini, Ibrahim dan Ismail mengajarkan bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan. Jadi, mereka pada saat itu sedang menunjukkan bukti kepada Allah bahwa mereka berdua telah menjalankan perintah untuk menyucikan Rumah Allah dari perbuatan menyekutukan Allah seperti yang terkandung dalam 22:26. Oleh karena itu, penulis tetap berpendapat bahwa Rumah Allah adalah berupa kawasan permukaan bumi.
Dengan penafsiran bahwa Rumah Allah berupa kawasan permukaan bumi, kita dapat mengevaluasinya dengan ayat-ayat Al Qur’an. Yang pertama adalah tentang perintah menjadikan tempat Ibrahim sebagai tempat shalat (2:125). Shalat di tempat Ibrahim bisa dilakukan oleh banyak orang karena tempat tinggalnya luas. Yang kedua adalah tentang perintah menyucikan Rumah kepada Ibrahim dan Ismail (2:125 dan 22:26). Menyucikan Rumah bukanlah membersihkan dengan sapu atau mengepel atau mengecat tembok, dll. Menyucikan Rumah dalam konteks ini adalah aktivitas membersihkan semua kemusyrikan di Rumah Allah yang berupa kawasan permukaan bumi. Dijelaskan dalam 22:26 bahwa Allah melarang kemusyrikan (Janganlah mengasosiasikan sesuatu dengan Aku) di Rumah Allah. Di dalam Rumah Allah tersebut tidak boleh ada tuhan selain Allah. Ini adalah logika sederhana yang sangat jelas bahwa di dalam Rumah Allah tentu hanya ada Allah. Selain itu, di dalam Rumah Allah yang berbentuk kawasan ini orang-orang dapat berkumpul, merasa aman, menyendiri untuk mendekatkan dari kepada Allah, berdiri, rukuk, dan sujud. Dan tentu saja, adalah masuk akal apabila di dalam Rumah Allah tersebut terdapat tempat tinggal Ibrahim karena kawasan Rumah Allah lebih luas daripada tempat tinggal Ibrahim.

Bagaimana dengan mengelilingi Rumah Allah? Kata mengelilingi tidak selalu berarti berjalan dengan pola gerakan membentuk lingkaran. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, mengelilingi dapat bermakna menjelajah. Artinya, Rumah Allah yang berbentuk kawasan tersebut dikelilingi dengan cara menjelajahinya. Berikut ini adalah kutipan arti mengelilingi dalam kamus besar bahasa Indonesia.

”mengelilingi v 1 ada (bergerak, berjalan, terbang) di sekitar sesuatu (tempat dsb); melingkari; mengitari: pagar tembok tinggi dan pagar kawat berduri dibangun ~ penjara; 2 menjelajah: rombongan misi kesenian Indonesia akan mengadakan perjalanan ~ negara-negara ASEAN;”

Kawasan yang manakah yang menjadi Rumah Allah? Ada Rumah Tua yang dikelilingi (22:29). Menurut penulis, Rumah Tua tersebut adalah Rumah Allah yang dijadikan tujuan haji. Seperti telah disajikan di muka, bahwa tujuan haji adalah Rumah Pertama yang berada di Bakkah (3:96). Jika ada Rumah Pertama, tentu ada Rumah yang berikutnya. Rumah Pertama adalah Rumah Tua sedangkan Rumah yang berikutnya adalah Rumah yang lebih muda. Menurut penulis, Rumah yang berikutnya itu adalah yang disebut dalam 17:1, yaitu Masjid Aqsa atau Masjidil Aqsa yang juga diberkati seperti yang berlaku pada Rumah Pertama, yaitu Rumah Allah tujuan haji. Oleh karena itu, Rumah Allah yang dimaksud adalah Masjid Haram atau lebih terkenal dengan sebutan Masjidil Haram.
17:1. Exalted is the One Who took His servant (Muhammad SAWS) by night from Al- Masjid Al-Haram to Al-Masjid Al-Aqsa whose surroundings We have blessed so that We may show him Our Signs. Indeed, He is the All-Hearer, the All-Seer. (Diagungkan Yang membawa hamba-Nya pada waktu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang sekitarnya telah Kami berkati agar Kami bisa menunjukkan Tanda-tanda Kami . Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.) (versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri)
Masjid Haram berarti Masjid Terlarang, yaitu terlarang dari kemusyrikan atau perbuatan menyekutukan Tuhan (22:26). Dapat pula Masjid Haram diartikan Masjid Suci. Artinya, Masjid tersebut bersih dari kemusyrikan. Istilah Masjid Suci (Sacred Mosque) dijumpai dalam terjemahan 17:1 versi Muhamed dan Samira Ahmed.
17:1 Praise/glory (to) who went/moved/traveled/departed by night with/by His worshipper/slave at night/nightly from the Mosque the Respected/Sacred to the Mosque the Farthest/Remotest/Most Distant which We blessed around/surrounding it, to show him/make him understand from Our verses/signs/evidences, that He is the hearing/listening, the seeing/knowing/understanding. (versi Muhamed dan Samira Ahmed)
Bukti bahwa Rumah Allah adalah Masjid Haram atau sering disebut dengan Masjidil Haram ada dalam ayat 2:196. Frase (i.e., Kabah) atau (yaitu, Kabah) adalah tambahan penerjemah, bukan hasil terjemahan, sehingga dianggap tidak ada. Dalam ayat tersebut disebutkan bahwa orang yang tidak tinggal di dekat Masjidil Haram perlu berpuasa jika tidak dapat menyembelih binatang ternak ketika berhaji. Ini menunjukkan bahwa lokasi berhaji ada di Masjidil Haram. Artinya, Masjidil Haram atau Masjid Haram adalah Rumah Allah. Dengan kalimat lain, Rumah Allah adalah kawasan yang disebut dengan nama Masjidil Haram atau Masjid Haram.
2:196. And complete Hajj and Umrah for Allah, but if you are held back, then offer whatever you can obtain with ease of the sacrificial animal. And do not shave your head until the sacrificial animal reaches its destination. Then whoever among you is ill or has an ailment of the scalp he must offer a ransom of fasting or charity or sacrifice. Then when you feel secure, perform Umrah followed by Hajj and offer whatever can be obtained with ease of the sacrificial animal. And whoever cannot afford it should fast for three days during Hajj and seven days after returning, making ten (days) in all. This is for those whose family does not live near Al-Masjid Al-Haraam (i.e., Kabah). And fear Allah and know that Allah is severe in retribution. (Dan sempurnakanlah Haji dan Umrah untuk Allah, tetapi jika kamu tertahan, maka persembahan yang kamu dapat mendapatkannya dengan mudah berupa binatang korban. Dan jangan mencukur kepalamu sampai binatang korban mencapai tujuannya. Kemudian siapapun di antara kamu sakit atau mempunyai sakit di kulit kepala ia harus membayar denda berupa berpuasa atau bersedekah atau berkorban. Kemudian jika kamu merasa aman, lakukan Umrah dilanjutkan dengan haji dan persembahan yang dapat diperoleh dengan mudah berupa binatang korban. Dan barangsiapa tidak mendapatkannya agar berpuasa tiga hari selama Haji dan tujuh hari setelah kembali, sehingga menjadi 10 (hari) semuanya. Ini untuk mereka yang keluarga tidak tinggal di dekat Masjidil Haram (yaitu, Kabah). Dan takutilah Allah dan ketahuilah bahwa Allah keras dalam pembalasannya.) (versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri)
Mengapa Masjid Haram berupa kawasan permukaan bumi? Mengapa bukan berupa bangunan seperti rumah? Menurut artikel di www.islamic-awareness.org/Quran/Contrad/External/aqsa.html, dari segi bahasa, masjid adalah tempat untuk sujud. Dari segi legalitas, masjid mencakup setiap tempat di bumi yang cocok untuk bersujud tanpa memandang keberadaan bangunan. Jadi, kawasan permukaan bumi juga merupakan masjid sehingga penafsiran Masjid Haram sebagai suatu kawasan permukaan bumi tidak salah.
Jika demikian, bagaimana dengan Kabah? Kata Kabah disebut dalam 5:97 dan 5:95.
5:97. Allah has made Kabah, the Sacred House, an establishment for mankind and the sacred months and the animals for offering and the garlands (that mark them). That is so that you may know that Allah knows what is in the heavens and what is in the earth and that Allah is All-Knower of everything. (Allah telah membuat Kabah, Rumah Suci, penetapan untuk manusia dan bulan-bulan suci, dan binatang untuk persembahan dan kalung (yang menandai mereka). Bahwa itu agar kamu bisa tahu bahwa Allah mengetahui yang di langit dan yang di bumi dan bahwa Allah Maha mengetahui segala sesuatu.) (versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri)
5:95. O you who believe! Do not kill the game when you are in Ihram. And whoever of you killed it intentionally, then the penalty is an equivalent to what he killed of the cattle, as judged by two men among you as an offering reaching the Kabah or an expiation - feeding needy people or the equivalent of that in fasting, that he may taste the consequences of his deed. Allah pardoned what is past; but whoever returns, then Allah will take retribution from him. And Allah is All-Mighty, Owner of Retribution. (Hai orang beriman! Jangan membunuh buruan ketika kamu dalam Ihram. Dan barangsiapa membunuhnya secara sengaja, maka hukumannya adalah yang sama dengan ternak yang ia membunuhnya, ketika dihakimi dua orang di antara kamu sebagai suatu persembahan mencapai Kabah atau suatu penebusan-memberi makan orang-orang miskin atau yang setara dengannya dalam berpuasa, bahwa ia mungkin merasakan akibat perbuatannya. Allah memaafkan yang sudah lalu, tetapi barangsiapa mengulanginya, maka Allah akan melakukan pembalasan kepadanya, dan Allah Maha Perkasa, Pemilik Pembalasan.) (versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri)
Dijelaskan dalam ayat 5:97 bahwa Kabah dan Rumah Suci merupakan dua benda yang berbeda. Menurut penulis, Rumah Suci adalah Masjid Suci yang sudah dibahas di muka. Alasannya, Rumah yang sedang dibicarakan di sini adalah Rumah Allah. Sudah disebutkan pula dalam 22:26 dan 2:125 bahwa Ibrahim diperintahkan agar menyucikan Rumah Allah sehingga Rumah Allah adalah Rumah Suci. Di lain pihak, Kabah adalah tempat tujuan penyembelihan binatang ternak bagi orang-orang yang dihukum karena membunuh buruan dalam ihram (5:95).
Dimana lokasi Rumah Allah? Dalam 3:96 disebutkan bahwa lokasinya ada di Bakkah. Dimanakah Bakkah? Apakah Bakkah sama dengan Makkah (Mekah)? Menurut penulis, Bakkah tidak sama dengan Makkah karena Allah sudah mengetahui keberadaan nama Makkah. Hal ini tersurat dalam 48:24. Jika keduanya sama, tentu Allah akan menyebutkannya dengan nama yang sama pula. Penulis yakin bahwa Allah mengetahui segala sesuatu dan tidak pernah berbuat kesalahan. Jadi, Rumah Allah tidak berada di Mekah. Dengan kalimat lain, Masjidil Haram atau Masjid Haram atau Masjid Suci tidak berada di Makkah.
48:24. And He is the One Who withheld their hands from you and your hands from them within Makkah, after that He gave you victory over them. And Allah is All- Seer of what you do. (Dan Dia adalah Yang menahan tengan-tangan mereka dari kamu dan tangan kamu dari mereka di dalam Makkah, setelah itu Dia memberimu kemenangan atas mereka. Dan Allah adalah Maha Melihat yang kamu kerjakan.) (versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri)
Jika Rumah Allah berada di Bakkah, dimanakah Bakkah? Penulis tidak dapat menjawabnya. Inilah persoalannya. Di satu sisi, jika mengikuti yang dipercaya banyak orang sekarang ini, penulis menjumpai pertentangan antara kenyataan dan yang tertulis di Al Qur’an. Di lain pihak, jika mencari sendiri lokasi Rumah Allah menurut persepsi penulis, penulis hanya bisa membuat dugaan-dugaan atau asumsi-asumsi. Misalnya dengan berasumsi bahwa Mekah sama dengan Bakkah. Kemudian, Masjidil Haram yang di Mekah itu dianggap sebagai Rumah Allah karena Bakkah adalah sinonim Mekah. Siapa tahu jaman dahulu ada orang-orang yang merekasaya Bakkah berubah menjadi Mekah? Asumsi-asumsi semacam itu akan bermunculan. Dalam hal ini, penulis tidak mau berasumsi karena asumsi tidak berguna sama sekali untuk melawan kebenaran sejati (10:36).
10:36. And most of them follow nothing except assumption. Indeed, assumption does not avail anything against the truth. Indeed, Allah is All-Knower of what they do. (Dan kebanyakan dari mereka tidak mengikuti apapun kecuali asumsi. Sungguh, asumsi tidak berguna sama sekali melawan kebenaran sejati. Sungguh, Allah Maha Mengetahui yang mereka kerjakan.)
Lantas, bagaimana dengan perintah berhaji? Dalam terjemahan 3:97 disebutkan bahwa haji adalah suatu kewajiban yang manusia berhutang kepada Allah bagi mereka yang mendapatkan caranya. Yang dimaksud dengan cara tersebut adalah kondisi yang memungkinkan sampai ke lokasi. Kondisi tersebut dapat berupa dalam keadaan mempunyai uang, sehat, ada kendaraan, dan mengetahui lokasinya. Yang paling penting adalah mengetahui lokasinya. Meskipun mempunyai uang, kendaraan, dan sehat, jika tidak mengetahui lokasinya, orang tidak akan sampai ke tujuan. Selain itu, pengetahuan tentang lokasi bisa jadi tidak ada karena lokasinya sudah hilang atau belum ditemukan. Oleh karena itu, orang yang tidak mengetahui lokasi Rumah Allah dapat saja dianggap belum mendapatkan caranya.
Mungkinkah Rumah Allah suatu saat akan sirna ditelan jaman sehingga tidak bisa dicari? Ada ayat yang menunjukkan bahwa keberadaan Rumah Allah hanya sampai waktu tertentu. Ayat tersebut adalah 22:33.
22:33 For you in it (are) benefits/uses to a named/identified term/time, then its place/destination (is) to the House/Home the Honoured/Ancient. (Bagi Kamu di dalamnya manfaat-manfaat sampai suatu waktu tertentu, maka tujuannya adalah Rumah Tua.) (versi Muhamed dan Samira Ahmed).
Perlu diketahi bahwa selama berhaji orang diperintahkan menyaksikan manfaat-manfaat (22:28). Disebutkan dalam 22:33 bahwa manfaat-manfaat tersebut berlaku sampai waktu tertentu. Artinya, dapat saja manfaat-manfaat yang dapat disaksikan dalam Rumah Allah hilang pada suatu saat. Dan mungkin saja, kita sudah tidak dapat lagi menyaksikan manfaat-manfaat tersebut sekarang. Jadi, menurut penulis, Rumah Allah yang dijelaskan dalam Al Qur’an mungkin sudah hilang.
22:28. That they may witness benefits for themselves and mention the name of Allah on the known days over the beast of cattle which He has provided for them. So eat of them and feed the miserable and the poor. (Bahwa mereka hendaknya menyaksikan manfaat-manfaat untuk mereka sendiri dan menyebut nama Allah pada hari-hari yang diketahui pada binatang ternak yang Kami telah berikan kepada mereka. Maka makanlah darinya dan beri makanlah yang menderita dan miskin.) (versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri)
Sebelum ditutup, ada baiknya ditampilkan terjemahan 22:33 versi lain untuk menjelaskan alasan keberpihakan penulis pada terjemahan versi Muhamad dan Samira Ahmed. Terjemahan versi Dep. Agama RI berbeda dengan dua versi lainnya yaitu pada penyebutan binatang-binatang hadyu sedangkan yang lainnnya tidak menyebutkan sama sekali. Terjemahan 22:33 versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri menyebutkan tempat kurban sedangkan versi Muhamad dan Samira Ahmed tidak menyebutkannya.
22:33. For you therein are benefits for an appointed term; then their place of sacrifice is at the Ancient House. (Bagimu di dalamnya ada manfaat-manfaat sampai waktu tertentu; maka tempat korban mereka adalah di Rumah Tua.) (versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri)
22:33. Bagi kamu pada binatang-binatang hadyu itu ada beberapa manfaat, sampai kepada waktu yang ditentukan, kemudian tempat wajib (serta akhir masa) menyembelihnya ialah setelah sampai ke Baitul Atiq (Baitullah). (versi Dep. Agama RI)
Berdasarkan penelusuran akar kata yang terdapat dalam project root list di http://www.studyquran.co.uk/PRLonline.htm, kata mahill terdapat dalam ayat 2:196; 22:33; dan 48:25. Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri menerjemahkan mahill secara bervariasi, yaitu mahillahu dalam 2:196 diterjemahkan menjadi its destination (tujuannya); mahilluha dalam 22:33 diterjemahkan menjadi their place of sacrifice (tempat kurban mereka); dan mahillahu dalam 48:25 diterjemahkan menjadi its place (of sacrifice) (tempatnya (kurban)). Dalam ketiga ayat tersebut, tidak disebutkan unsur kata qurban sehingga kata sacrifice (kurban) adalah hasil penafsiran penerjemah. Penulis berpendapat bahwa terjemahan yang netral dari mahillahu adalah tujuannya, seperti yang dijumpai dalam terjemahan 22:33 versi Muhamed dan Samira Ahmed dan dalam terjemahan 2:196 versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri. Jadi, penulis memilih terjemahan 22:33 versi Muhamed dan Samira Ahmed.
Implikasi dari terjemahan 22:33 versi Muhamed dan Samira Ahmed sangat berarti. Dengan penafsiran seperti itu, ayat tersebut menegaskan bahwa Rumah Tua atau Rumah Allah yang pertama adalah tujuan haji, bukan tempat kurban. Demikianlah penjelasan tentang alasan pemilihan terjemahan 22:33 versi Muhamed dan Samira Ahmed.
PENUTUP
Kabah bukan Rumah Allah. Kabah adalah tempat tujuan penyembelihan binatang ternak bagi orang-orang yang dihukum karena membunuh buruan dalam ihram. Rumah Allah adalah suatu kawasan permukaan bumi yang tempatnya ditetapkan Allah dan di dalam kawasan tersebut tidak boleh ada kemusyrikan atau perbuatan menyekutukan Allah. Makalah ini akan direvisi jika terjadi perubahan persepsi pada diri penulis.