Jumat, 01 Juli 2011

CARA MENDAPATKAN PETUNJUK (HIDAYAH)

PENDAHULUAN

Suatu hari ada seseorang yang mendoakan penulis agar diberi hidayah-Nya. Setelah penulis selidiki dalam kamus besar Bahasa Indonesia, ternyata hidayat (hidayah) berarti petunjuk atau pimpinan dari Tuhan. Doa orang tersebut menginspirasi penulis untuk membahas tentang petunjuk. Petunjuk sangat penting dalam kehidupan manusia. Hal ini tercermin dalam doa yang dibuat sendiri oleh Allah untuk hamba-hamba-Nya yang tersurat dalam surat 1 ayat 6.

1:6. Tunjukilah kami jalan yang lurus,

Penulis menggunakan kata petunjuk sebagai pengganti kata hidayah untuk menyesuaikan istilah yang digunakan dalam Al Qur’an terjemahan versi Dep. Agama RI seperti yang tertulis dalam program komputer Al Qur’an digital versi 2.1.

DEFINISI PETUNJUK

Orang yang mendapat petunjuk adalah orang yang tidak sesat. Sebaliknya, orang yang sesat adalah orang yang tidak mendapat petunjuk. Hal tersebut terungkap dalam 68:7; 34:50; 39:41; dan 16:93. Selain itu, yang memberi petunjuk tersebut adalah Allah (16:93).

68:7. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan Dia-lah Yang Paling Mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

34:50. Katakanlah: "Jika aku sesat maka sesungguhnya aku sesat atas kemudharatan diriku sendiri; dan jika aku mendapat petunjuk maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat."

39:41. Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk manusia dengan membawa kebenaran; siapa yang mendapat petunjuk maka (petunjuk itu) untuk dirinya sendiri, dan siapa yang sesat maka sesungguhnya dia semata-mata sesat buat (kerugian) dirinya sendiri, dan kamu sekali-kali bukanlah orang yang bertanggung jawab terhadap mereka.

16:93. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan.

Petunjuk yang dimaksudkan adalah petunjuk ke jalan yang lurus (42:52). Pengertian jalan yang lurus adalah jalan orang-orang yang telah Allah beri nikmat dan bukan jalan orang-orang yang dimurkai-Nya dan sesat (1:6 dan 1.7). Artinya, jalan yang lurus adalah jalan yang benar. Jadi, jalan yang lurus adalah jalan orang-orang yang diberi kebaikan di dunia dan di akhirat.

1:6. Tunjukilah kami jalan yang lurus,

1:7. (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Hidup orang dapat diibaratkan seperti sebuah perjalanan menelusuri jalan-jalan untuk mencapai suatu tujuan. Ada orang yang berhasil mencapai tujuan tetapi ada pula orang yang tersesat dan tidak mencapai tujuan. Mereka yang berhasil mencapai tujuannya mungkin pernah tersesat tetapi kemudian dapat kembali ke jalan yang benar. Dalam hal ini, tujuan tersebut adalah surga. Jika kesesatannya terlalu jauh, orang akan mengalami kesulitan kembali ke jalan yang benar. Orang yang tersesat terlalu jauh adalah orang yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah (4:116).

4:116. Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.

Berdasarkan uraian di atas, petunjuk dalam islam dapat didefinisikan sebagai pemberian Allah yang membuat orang dapat memperoleh kebaikan di dunia dan akhirat.

CARA MENDAPATKAN PETUNJUK

Cara mendapatkan petunjuk-Nya adalah dengan mempelajari Al Qur’an (42:52). Dijelaskan dalam ayat tersebut bahwa Allah membuat Al Qur’an menjadi cahaya sebagai alat untuk memberi petunjuk orang-orang yang dikehendaki-Nya.

42:52. And thus We have revealed to you an inspiration by Our Command. You did not know what the Book is nor (what) faith is. But We have made it a light by which We guide whom We will of Our slaves. And indeed, you guide to the Straight Path, (Dan maka Kami telah mewahyukan kepadamu suatu inspirasi dengan Perintah Kami. Kamu tidak mengetahui tentang Kitab dan tidak juga tentang iman. Tetapi Kami membuatnya menjadi sebuah cahaya yang dengannya Kami memberi petunjuk orang yang Kami kehendaki dari hamba-hamba Kami. Dan sungguh, kamu memberi petunjuk ke Jalan Lurus,) (versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri)

Sebelumnya. perlu dijelaskan di sini tentang maksud penggunaan terjemahan selain versi Dep. Agama pada ayat 42:52. Alasannya adalah bahwa ada kata dia yang dapat menumbuhkan persepsi bahwa yang digunakan Allah untuk memberi petunjuk adalah Nabi Muhammad, bukan Al Qur’an. Apalagi, dalam kalimat terakhir dalam terjemahan ayat tersebut disebutkan bahwa Nabi memberi petunjuk ke jalan yang lurus. Penggunaan terjemahan bahasa Inggris kadang-kadang lebih tajam daripada bahasa Indonesia. Kata by which (kata ganti benda) menegaskan bahwa dia yang dimaksudkan adalah cahaya (benda), bukan Nabi Muhammad (manusia). Yang dijadikan cahaya adalah Kitab Al Qur’an. Berikut ini terjemahan versi Dep. Agama RI yang tidak penulis gunakan.

42:52. Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.

Meskipun dalam 42:52 disebutkan bahwa Nabi memberi petunjuk ke jalan yang lurus, ini tidak berarti bahwa yang memberi petunjuk manusia adalah Nabi. Maksud dari kalimat tersebut adalah bahwa Nabi Muhammad memberi peringatan dengan Al Qur’an (42:7) sehingga yang disampaikannya kepada manusia adalah petunjuk ke jalan yang lurus. Perlu diingat bahwa Al Qur’an adalah merupakan petunjuk bagi orang beriman (27:77).

42:7. Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al Qur’an dalam bahasa Arab, supaya kamu memberi peringatan kepada ummul Qura (penduduk Mekah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya serta memberi peringatan (pula) tentang hari berkumpul (kiamat) yang tidak ada keraguan padanya. Segolongan masuk surga, dan segolongan masuk Jahannam.

27:77. Dan sesungguhnya Al Qur'an itu benar-benar menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.

Yang menjadi pemberi petunjuk sebenarnya adalah Allah. Nabi Muhammad tidak dapat memberi petunjuk kepada orang lain bahkan kepada orang yang dikasihinya sekalipun (20:56).

20:56. Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.

Contoh orang-orang yang tidak mendapatkan petunjuk Allah meskipun menjadi istri para Rasul Allah adalah istri Nabi Luth dan istri Nabi Nuh (66:10). Selain itu, anak seorang Rasul Allah yang tidak mendapatkan petunjuk Allah adalah anak Nabi Nuh (11:42 dan 11:43). Di sisi lain, Musa adalah contoh anak manusia yang mendapatkan petunjuk Allah meskipun berada dalam keluarga tidak beriman (28:14). Contoh-contoh tersebut menegaskan bahwa Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya. Selain itu, contoh-contoh tersebut perlu dijadikan sebagai bahan renungan para orang tua dalam sebuah keluarga ketika mendidik anak-anaknya.

66:10. Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): "Masuklah ke dalam jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam)."

11:42. Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: "Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir."

11:43. Anaknya menjawab: "Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!" Nuh berkata: "Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang." Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.

28:14. Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya, Kami berikan kepadanya hikmah (kenabian) dan pengetahuan. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

SESAT

Kata sesat sering disalahartikan oleh banyak orang. Mereka menggunakan kata sesat untuk menilai orang yang tidak sependapat dengan golongannya. Masing-masing golongan bangga dengan golongannya masing-masing. Hal ini sebenarnya sudah disebut dalam Al Qur’an (30:32) tetapi banyak orang tidak menghiraukannya.

30:32. yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.

Setiap orang hendaknya berhati-hati dalam menilai seseorang. Jangan sampai mulutnya begitu mudah mengatakan orang lain sesat seolah-olah dirinya adalah orang yang mendapat petunjuk. Dapat terjadi, seseorang mengira dirinya mendapat petunjuk padahal kenyataannya tidak demikian (43:7). Yang paling mengetahui orang yang mendapat petunjuk dan orang yang sesat adalah Allah sendiri (68:7). Jadi, orang-orang yang menganggap orang lain sesat adalah orang-orang yang merasa dirinya lebih tahu daripada Allah. Alangkah sombongnya mereka itu!

43:37. Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk.

68:7. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan Dia-lah Yang Paling Mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

Tambahan, orang-orang yang mempelajari Al Qur’an tidak akan mendapatkan petunjuk jika mereka tidak beriman. Contoh golongan orang-orang ini adalah mereka yang mempelajari Al Qur’an tetapi bertujuan untuk menjelek-jelekkan islam. Sebenarnya, hal ini mudah dipahami karena Al Qur’an menjadi petunjuk bagi orang beriman (27:77).

Cara lain untuk mendapatkan petunjuk Allah adalah dengan berdoa kepada Allah seperti yang diajarkan-Nya dalam surat Al Fatihah ayat 6. Jadi, cara mendapatkan petunjuk Allah adalah dengan mengaji Al Qur’an dan memohon petunjuk kepada-Nya.

PETUNJUK DAN IMAN

Orang yang beriman kepada Allah adalah orang yang mendapatkan petunjuk karena orang yang beriman kepada Allah mewujudkan keimanannya dengan beramal saleh. Orang yang beriman kepada Allah dan beramal saleh akan dimasukkan ke dalam surga. Padahal, orang yang masuk surga adalah orang yang mendapatkan petunjuk Allah. Jadi, ada hubungan antara iman dan petunjuk. Hubungannya adalah bahwa orang yang beriman kepada Allah adalah orang yang mendapatkan petunjuk Allah. Artinya, keimanan seseorang adalah bukan karena prestasi tetapi karena petunjuk Allah.

Di tengah masyarakat, ada sekelompok orang yang merasa dapat membuat orang lain menjadi beriman. Mereka menghukum orang yang dipandangnya melanggar perintah dan larangan Allah dengan tindakan kekerasan. Mereka mengira bahwa Allah menghendaki semua orang beriman sehingga mereka menghukum orang yang melanggar petintah dan larangan-Nya dengan tindakan kekerasan. Padahal, Allah sendiri telah menyatakan dengan sangat jelas bahwa jika Allah menghendaki semua orang beriman, semua orang pasti akan beriman dan Allah tidak menginginkan ada pemaksaan terhadap keimanan seseorang (10:99).

10:99. Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya ?

Selain itu, mereka lupa bahwa menghukum manusia yang melanggar perintah dan larangan-Nya adalah hak Allah (16:61). Dalam ayat 16:61 diterangkan bahwa Allah menangguhkan pemberian hukuman terhadap orang zalim sampai pada waktu yang ditentukan. Secara garis besar, orang zalim adalah orang yang melanggar perintah dan larangan-Nya. Dengan demikian, yang berhak menghukum orang zalim adalah Allah. Jadi, secara tidak disadari, mereka yang menghukum orang yang dipandangnya melanggar perintah dan larangan Allah dengan tindakan kekerasan telah menjadikan dirinya sebagai tuhan selain Allah.

16:61. Jikalau Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak akan ditinggalkan-Nya di muka bumi sesuatupun dari makhluk yang melata, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai kepada waktu yang ditentukan. Maka apabila telah tiba waktunya (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukannya.

Selain itu, ada sejumlah orang yang berpendapat bahwa perlu dibuat aturan perundang-undangan untuk menghukum orang yang dipandangnya melanggar perintah dan larangan Allah. Dalam pandangan mereka, aturan perundang-undangan tersebut akan mengatur hukuman terhadap orang yang melanggar perintah Allah, misalnya shalat. Dengan aturan perundang-undangan tersebut, mereka menganggap dirinya akan telah membantu Allah. Akan tetapi, yang akan terjadi adalah bahwa negara akan dianggap sebagai tuhan selain Allah karena negara mengatur hukuman terhadap orang-orang yang tidak shalat yang menjadi hak Allah. Jadi, selain melanggar 10:99, ide pembuatan aturan perundang-undangan semacam itu justru melahirkan perbuatan syirik.

PENUTUP

Marilah kita megaji Al Qur’an dengan disertai doa agar Allah memberi petunjuk-Nya karena dengan Al Qur’an itulah Allah memberi petunjuk kepada hamba-Nya. Revisi akan dilakukan jika terjadi perubahan persepsi pada diri penulis.