Sabtu, 03 September 2011

NABI MUHAMMAD BUTA HURUF?

PENDAHULUAN
Ada orang-orang yang beranggapan bahwa Nabi Muhammad tidak bisa membaca dan menulis atau buta huruf. Dengan anggapan seperti itu, mereka yakin bahwa Al Qur’an benar-benar asli dari Allah dengan alasan bahwa tidak mungkin Al Qur’an dibuat oleh orang yang buta huruf. Demikian kira-kira yang penulis pernah ketahui beritanya. Setelah merenung-renung, penulis menjadi tidak percaya dengan anggapan tersebut. Tidak mungkin seorang Rasul Allah tidak bisa membaca dan menulis.
Yang menjadikan penulis tidak percaya bahwa Nabi Muhammad adalah seorang buta huruf adalah sebagai berikut. Pertama, Rasul Allah akan menjadi bergantung pada orang lain yang tidak buta huruf. Padahal, tidak satu ayat pun dalam Al Qur’an menyebutkan juru tulis dan juru baca sebagai pembantu Rasul Allah yang mendampinginya. Yang lebih tidak mungkin lagi adalah bahwa Rasul Allah kemudian malah harus beriman atau percaya pada juru tulis dan juru baca karena Rasul Allah tidak bisa mengecek yang ditulis mereka. Padahal, manusia yang diperintahkan oleh Allah untuk diimani hanyalah Rasul Allah.
Kedua, Rasul Allah adalah teladan. Bagaimana mungkin seorang teladan tetapi buta huruf? Bukankah Rasul Allah menerima kitab yang harus dibaca manusia? Kalau Rasul-Nya tidak bisa membaca, mengapa orang lain disuruh membaca Al Qur’an? Bukankah Rasul-Nya tidak pernah membacanya karena buta huruf? Jadi, tidak mungkin Rasul Allah buta huruf.
Ketiga, perlu diingat bahwa Rasul Allah adalah simbol Allah. Artinya, Rasul Allah bekerja atas nama Allah. Rasa-rasanya, tidak mungkin simbol Allah itu akan dijadikan ejekan orang karena dirinya hanya seorang buta huruf. Keempat, tidak mungkin manusia pilihan yang kehadirannya di muka bumi sudah lama direncanakan Allah dan disebutkan dalam kitab sebelum Al Qur’an hanyalah seorang buta huruf. Kelima, menurut cerita, Nabi Muhammad terlahir dalam keluarga terpandang sehingga sangat mungkin mendapatkan pendidikan yang baik dalam lingkungan keluarganya. Dalam pendidikan tersebut tentu ada pelajaran membaca dan menulis. Keenam, sebagai pedagang, tentulah beliau akan mencatat barang dagangan dan uang atau membaca dan menulis perjanjian perdagangan.
Sehubungan dengan hal di atas, penulis ingin mengaji Al Qur’an, walaupun hanya terjemahan, untuk membuktikan bahwa Rasul Allah tidak buta huruf. Al Qur’an terjemahan yang digunakan akan disebutkan versinya.
BUKTI BAHWA RASUL ALLAH TIDAK BUTA HURUF
Ayat yang menurut penulis cukup untuk meyakinkan bahwa Nabi Muhammad dapat membaca adalah 98:2. Disebutkan dalam ayat tersebut bahwa Rasul Allah membacakan lembaran-lembaran atau halaman-halaman yang disucikan. Ini membuktikan bahwa Rasul Allah dapat membaca naskah dalam bentuk lembaran-lembaran atau halaman-halaman. Jadi, sangat jelas bahwa Rasul Allah dapat membaca.
98:2. (yaitu) seorang Rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan (Al Quran), (versi Dep. Agama RI)
98:2. A Messenger from Allah, reciting purified pages, (Rasul Allah, membacakan halaman-halaman disucikan,) (versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri)
Memang, membaca dapat berarti mengucapkan yang sudah dihafalkan dan dapat pula berarti membaca tulisan-tulisan. Ayat 98:2 tersebut dengan jelas menyebutkan lembaran-lembaran atau halaman-halaman sehingga yang dimaksud di sini adalah membaca tulisan, bukan mengucapkan sesuatu yang sudah dihafal. Ayat lain yang menegaskan bahwa Nabi Muhammad dapat membaca adalah 17:106.
17:106. Dan Al Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian. (versi Dep. Agama RI)
Kemampuan membaca dan menulis adalah merupakan satu kesatuan. Orang yang dapat menulis akan dapat membaca yang ditulisnya. Sebaliknya, orang yang dapat membaca harus mengenal huruf. Dengan demikian, menulis hanyalah proses penggambaran imajinasi tentang huruf yang sudah dikenalnya dalam suatu media, misalnya kertas. Oleh karena itu, kemampuan membaca yang dijumpai dalam 98:2 dan 17:106 sudah menjawab bahwa Nabi Muhammad bisa membaca dan menulis atau tidak buta huruf.
Walaupun demikian, penulis akan menambahkan bukti bahwa Nabi Muhammad juga dapat membaca dan menulis. Ayat yang membuktikan hal tersebut adalah 29:48. Dalam ayat tersebut terungkap bahwa Nabi Muhammad menulis dengan tangan kanan. Seperti kita ketahui bahwa ada orang yang menulis dengan tangan kanan dan ada pula orang yang menulis dengan tangan kiri. Jadi, Allah sudah menyaksikan bahwa Nabi Muhammad ternyata menulis dengan tangan kanan. Dengan demikian, Nabi dapat menulis. Konsekuensi logisnya, Nabi juga dapat membaca karena orang yang bisa menulis akan bisa membaca. Jadi, ayat 29:48 menerangkan bahwa Nabi dapat membaca dan menulis.
29:48. Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al Quran) sesuatu Kitabpun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu). (versi Dep. Agama RI)
Jika membaca terjemahan 29:48 versi Dep. Agama RI di atas, kita akan mempunyai persepsi bahwa jika Nabi pernah membaca dan menulis, orang-orang tidak beriman akan meragukan Nabi. Persepsi itu dapat terbentuk karena frase andaikata (kamu pernah membaca dan menulis). Perlu diperhatikan bahwa yang berada dalam kurung tersebut adalah penafsiran penerjemah. Terjemahan per kata dalam bahasa Inggris berikut ini akan membentuk persepsi yang berbeda.
29:48. And you did not recite before it any Book, nor did you write it with your right hand, in that case the falsifiers would have doubted. (Dan kamu tidak membaca sebelumnya Kitab apapun, tidak juga kamu menulisnya dengan tangan kananmu, dalam kasus seperti itu para pemalsu akan telah merasa ragu-ragu.) (versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri)
Ayat 29:48 terjemahan versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri di atas menjelaskan bahwa yang membuat orang-orang tidak beriman dapat menjadi ragu-ragu adalah jika Nabi pernah membaca atau menulis kitab sebelumnya, bukan jika pernah mambaca dan menulis seperti yang disangkakan penerjemah versi Dep. Agama RI. Artinya, keragu-raguan orang tidak beriman terhadap Al Qur’an tidak akan timbul jika Nabi membaca dan menulis selain kitab, misalnya surat, pengumuman, atau puisi. Dengan demikian, kemampuan membaca dan menulis Nabi bukan sesuatu yang dijadikan alasan orang-orang tidak beriman untuk meragukan Al Qur’an. Oleh karena itu, penafsiran bahwa Nabi Muhammad dibuat buta huruf agar orang-orang tidak beriman menjadi tidak ragu-ragu terhadap Al Qur’an adalah salah.
Selain itu, dalam terjemahan versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri di atas, bentuk tenses-nya adalah past tense, yaitu you did not recite (kamu tidak membaca) dan nor did you write (kamu juga tidak menulis). Artinya, tidak membaca dan tidak menulis yang dimaksud hanya berlaku dalam kasus yang tersebut dalam 29:48, bukan bersifat permanen. Jika diartikan bersifat permanen untuk menggambarkan orang buta huruf, frase tersebut akan menjadi you do not recite dan nor do you write. Jadi, ayat 29:48 justru menunjukkan bahwa Nabi Muhammad dianggap Allah sebagai orang yang dapat membaca dan menulis.
Bukti lain bahwa Nabi dapat menulis adalah kesaksian orang-orang yang tidak beriman kepada Al Qur’an. Kesaksian mereka tersurat dalam 25:5. Dalam ayat tersebut, Nabi Muhammad diakui oleh orang tidak beriman sebagai orang yang dapat menulis. Jadi, Nabi dapat menulis.
25:5. And they say, “Tales of the former people which he has had written down, and they are dictated to him morning and evening.” (Dan mereka berkata, “Dongeng-dongeng orang-orang sebelumnya yang ia telah tulis sebelumnya, dan dongeng-dongeng tersebut didiktekan kepadanya pagi dan petang.” (versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri)
PENUTUP
Nabi Muhammad tidak buta huruf. Revisi akan dilakukan jika terjadi perubahan persepsi pada diri penulis.