Senin, 26 Desember 2011

TAUBAT

PENDAHULUAN
Setiap manusia berbuat kesalahan. Setelah berbuat kesalahan, seseorang dapat menyesali perbuatannya atau malah melanjutkan perbuatannya yang salah. Ada pula yang menyesali perbuatannya yang salah tetapi kemudian mengulanginya lagi pada kesempatan yang lain.
Apa yang harus kita lakukan jika kita berbuat kesalahan atau dosa? Makalah ini ditulis untuk membahas persoalan tersebut dengan menggunakan Al Qur’an terjemahan. Al Qur’an terjemahan yang digunakan untuk membahas adalah Al Qur’an terjemahan versi Dep. Agama RI yang terdapat dalam program komputer Al Qur’an Digital versi 2.1.
MENGAPA HARUS BERTAUBAT
Semua manusia pernah berbuat dosa atau kesalahan atau kejahatan. Kita harus bertaubat jika berbuat dosa atau kejahatan (7:153).
7:153. Orang-orang yang mengerjakan kejahatan, kemudian bertaubat sesudah itu dan beriman; sesungguhnya Tuhan kamu sesudah taubat yang disertai dengan iman itu adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Apa arti taubat? Kata taubat mempunyai akar (root) yang terdiri dari 3 huruf, yaitu ta-waw-ba. Manurut Project Root List dalam http://www.studyquran.co.uk/PRLonline.htm, ta-waw-ba berarti to return; repent; turn one's self in a repentant manner (with ila or without it), turn with mercy (with ala), adapt. Berdasarkan arti tersebut, penulis berpendapat bahwa taubat adalah aktivitas menyesal (to repent) dan kembali (to return). Jadi, taubat adalah penyesalan setelah berbuat dosa dan kembali menjalankan perintah dan larangan Allah.
Orang yang berbuat dosa harus segera menyesali perbuatan dosanya dan kemudian kembali beriman dan beramal saleh (25:70). Dijelaskan pula dalam 25:70 dan 20:82 bahwa sesudah bertaubat dan kemudian beriman dan beramal saleh, kita akan mendapatkan ampunan Allah pada hari kiamat (25:70). Ampunan tersebut diwujudkan dengan penggantian kejahatan dengan kebajikan yang telah dilakukannya. Artinya, amal jahat atau dosa manusia akan dihapus dengan amal baik. Dengan demikian, jika kita bertaubat setelah berbuat dosa dan kemudian beriman dan beramal saleh, kita akan masuk surga (19:60) dan menjadi orang yang beruntung (28:67).
25:70. kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
20:82. Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar.
19:60. kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh, maka mereka itu akan masuk syurga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun,
28:67. Adapun orang yang bertaubat dan beriman, serta mengerjakan amal yang saleh, semoga dia termasuk orang-orang yang beruntung.
Walapun demikian, perlu diingat bahwa penerimaan taubat tidak sama dengan penghapusan atau pengampunan dosa. Maksudnya, dosa orang yang diterima taubatnya tidak hapus karena taubatnya. Dengan demikian, dosa yang telah dilakukan tetap akan diperhitungkan dalam pengadilan hari kiamat. Yang menyebabkan penghapusan dosanya adalah jika orang tersebut kemudian beriman dan beramal saleh. Dijelaskan dalam (64:9) bahwa orang yang beriman kepada Allah dan beramal saleh akan dihapuskan segala dosanya dan kemudian dimasukkan ke dalam surga.
64:9. (Ingatlah) hari (dimana) Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan, itulah hari dinampakkan kesalahan-kesalahan. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan beramal saleh, niscaya Allah akan menutupi kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar.
JIKA TIDAK BERTAUBAT
Dapat dikatakan bahwa taubat adalah bukti bahwa seseorang benar-benar beriman kepada Allah. Jika seseorang berbuat dosa dan kemudian tidak mau bertaubat, orang tersebut termasuk kategori orang yang tidak beriman kepada Allah. Contoh makhluk Allah yang berbuat dosa dan tidak mau bertaubat adalah Iblis. Iblis dinyatakan kafir atau tidak beriman kepada Allah karena tidak mau menjalankan perintah Allah agar bersujud kepada Adam dan tidak mau bertaubat (2:34).
2:34. Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.
Yang dialami Iblis dapat menimpa manusia jika manusia tidak mau bertaubat sesudah berbuat dosa. Dosa yang dimaksud dapat mencakup semua bentuk dosa. Kita disebut kafir jika berbuat dosa tetapi tidak mau bertaubat. Bukankah ini sesuatu yang sangat serius? Misalnya, kita tergolong kafir jika kita mencuri barang orang lain tetapi tidak mau bertaubat. Jika termasuk golongan orang kafir, dosa kita tidak akan dihapus dan akan dimasukkan ke dalam neraka (64:10). Oleh karena itu, taubat adalah suatu kewajiban yang harus dilakukan oleh semua orang yang ingin masuk surga.
64:10. Dan orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni-penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.
CARA BERTAUBAT
Taubat harus dilakukan dengan sebenar-benarnya (25:71 dan 66:8).
25:71. Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.
66:8. Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu."
Bagaimanakah cara bertaubat yang sebenar-benarnya? Menurut penulis, jawabannya ada pada arti taubat itu sendiri. Orang yang bertaubat harus menyesali perbuatan dosanya. Penyesalan itu antara lain ditandai dengan pengakuan dosa yang telah dilakukan (9:102). Pengakuan dosa tersebut ditujukan kepada Allah, bukan kepada orang lain. Setelah menyesali perbuatan dosanya, orang yang bertaubat harus kembali beriman dan beramal saleh (25:70).
9:102. Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampurbaurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi maha Penyayang.
Penyesalan tidak hanya berarti berhenti mengerjakan suatu perbuatan dosa. Penyesalan perlu disertai dengan pengandaian bahwa seandainya dapat kembali ke masa lalu, kita tidak mau melakukan perbuatan dosa itu. Mengapa saya melakukan perbuatan dosa itu? Demikianlah kira-kira yang dikatakan orang yang menyesal. Ada perbuatan dosa yang masih menyisakan bekas, misalnya dosa berbuat korupsi. Korupsi meninggalkan bekas berupa harta benda hasil korupsi. Pengakuan bahwa perbuatan korupsi yang telah dilakukan adalah dosa dan kemudian berhenti melakukan korupsi adalah tidak cukup. Di sisi lain, kembali ke masa lalu untuk mencegah tindakan korupsi yang telah dilakukannya adalah tidak mungkin. Yang mungkin dilakukannya adalah berusaha mengembalikan semua hasil korupsi kepada yang berhak dengan mengharapkan ridha Allah. Jika tidak mau mengembalikan hasil korupsinya, sang koruptor dianggap masih membenarkan tindakan korupsi yang dilakukannya sehingga ia termasuk orang-orang yang tidak bertaubat.
Orang mungkin akan menangis jika menyesali perbuatan dosanya. Artinya, orang yang bertaubat tidak merasa senang atau bangga atau beruntung karena telah melakukan perbuatan dosa pada masa lalu. Mereka membenci perbuatan dosanya pada masa yang telah lalu.
PENERIMAAN TAUBAT
Orang yang berbuat dosa dapat diibaratkan seperti orang yang meninggalkan Allah. Orang yang bertaubat berkeinginan kembali kepada Allah. Jika keinginan tersebut dikabulkan, orang tersebut dikatakan telah kembali kepada Allah. Dengan kalimat lain, taubat orang tersebut diterima Allah. Penerimaan taubat seseorang disebutkan dalam 4:17 dan 4:18.
4:17. Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
4:18. Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan : "Sesungguhnya saya bertaubat sekarang." Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih.
Penjelasan ayat 4:17 adalah sbb. Taubat seseorang diterima jika perbuatan dosanya dilakukan karena kejahilan dan taubatnya dilakukan dengan segera. Kejahilan (ignorance) bermakna ketidaktahuan atau kebodohan. Ketidaktahuan yang dimaksud adalah keadaan seseorang yang tidak tahu bahwa yang dilakukan adalah dosa. Dapat terjadi, ketidaktahuan tersebut terjadi karena belum datang pengetahuan dari Allah. Setelah mendapatkan pengetahuan dari Allah, orang tersebut ingin bertaubat. Kebodohan yang dimaksud adalah keadaan seseorang yang mengetahui perbuatannya adalah dosa tetapi tetap menjalankannya karena tidak mampu mencegahnya. Agar diterima taubatnya, orang-orang semacam ini harus segera bertaubat setelah mengerjakan perbuatan dosa.
Penjelasan ayat 4:18 adalah sbb. Meskipun taubat harus dilakukan dengan segera, Allah memberi kesempatan yang luas kepada seseorang untuk bertaubat. Jika setelah diberi kesempatan sampai kematiannya tetapi tetap tidak mau bertaubat, orang tersebut menjadi orang tidak beriman (kafir). Jika orang tersebut mau bertaubat tetapi pada saat menjelang kematiannya, taubatnya tidak diterima.
TAUBAT DAN HUKUMAN
Setelah mencuri, kedua tangan para pencuri dipotong sebagai pembalasan terhadap yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah (5:38). Akan tetapi, jika seorang pencuri bertaubat setelah mencuri, Allah menerima taubatnya (5:39). Artinya, pemotongan tangan tidak dilakukan kepada pencuri yang bertaubat setelah mencuri. Hal serupa berlaku pada dua orang yang berbuat keji (zina). Keduanya tidak dihukum jika mereka bertaubat (4:16). Menurut penulis, jika pencuri dan pezina yang pernah diadili melakukan lagi perbuatannya, mereka termasuk orang yang belum bertaubat.
5:38. Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
5:39. Maka barangsiapa bertaubat (di antara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
4:16. And the two among you who commit it (immorality), then punish both of them. But if they repent and correct themselves, then turn away from both of them. Indeed, Allah is Oft-Forgiving, Most Merciful. (Dan dua di antara kamu yang berzina, maka hukumlah keduanya. Tetapi jika mereka bertaubat dan memperbaiki diri mereka sendiri, maka tinggalkanlah mereka berdua. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha penyayang.) (versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri)
Penulis tidak setuju dengan terjemahan ayat 4:16 versi Dep. Agama RI karena ada penggunaan kata kemudian yang meragukan. Terjemahan versi Dep Agama tersebut adalah sbb.
4:16. Dan terhadap dua orang yang melakukan perbuatan keji di antara kamu, maka berilah hukuman kepada keduanya, kemudian jika keduanya bertaubat dan memperbaiki diri, maka biarkanlah mereka. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.
Dengan penerjemahan yang seperti itu, persepsi yang terbentuk adalah bahwa pelaku zina dihukum lebih dahulu dan sesudah itu diminta untuk bertaubat. Ini bertentangan dengan kalimat berikutnya Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Oleh karena itu, yang digunakan adalah ayat 4:16 terjemahan versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri.
Dalam menafsirkan tentang hukuman, kita harus berpedoman bahwa Allah adalah Maha Penyayang. Hal ini juga tercermin pada kisah Adam dan istrinya setelah melanggar perintah Allah. Allah menerima taubat mereka dengan disertai pemberian beberapa kalimat dari Allah (2:37). Mereka tidak disiksa melainkan diberi tahu bahwa kelak akan datang petunjuk dari Allah dan mereka diminta agar tidak khawatir dan bersedih hati jika mengikuti petunjuk Allah (2:38). Ini berarti bahwa Allah tidak menyiksa hambanya yang bertaubat.
2:37. Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.
2:38. Kami berfirman: "Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati."
TAUBAT NABI
Nabi Muhammad juga berbuat dosa dan kemudian bertaubat. Allah menerima taubat Nabi (9:117). Ini menunjukkan bahwa bertaubat adalah suatu perintah Allah yang sangat penting.
9:117. Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang muhajirin dan orang-orang anshar yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka,
PENUTUP
Setelah berbuat dosa, orang harus bertaubat dan kemudian beriman dan beramal saleh jika ingin dimasukkan ke dalam surga. Makalah ini akan direvisi jika terjadi perubahan persepsi pada diri penulis.