Sabtu, 07 Januari 2012

HERAN


Sebenarnya, tuduhan sesat yang dilontarkan majelis ulama Indonesia (MUI) kepada orang yang hanya beriman kepada Al Qur’an saja adalah sangat aneh. Bagaimana mungkin orang-orang yang mengaku beriman kepada Al Qur’an seperti mereka malah menuduh orang yang juga beriman kepada Al Qur’an sebagai pengikut aliran sesat? Tidak mungkin Al Qur’an menyatakan sesat kepada orang yang beriman kepada Al Qur’an! Artinya, jika mereka benar-benar beriman kepada Al Qur’an, tuduhan seperti itu tidak akan dilontarkan.

Sebenarnya, ada orang yang beriman kepada Al Qur’an saja pada jaman Nabi Muhammad yang juga dituduh sesat. Orang itu adalah Nabi Muhammad sendiri. Buktinya adalah ayat 34:50 berikut ini.

34:50. Katakanlah: "Jika aku sesat maka sesungguhnya aku sesat atas kemudharatan diriku sendiri; dan jika aku mendapat petunjuk maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat." (versi Dep. Agama RI)

Dalam 34:50, Allah memerintahkan Nabi untuk mengatakan seperti yang tertuang dalam ayat tersebut. Menurut penulis, perintah tersebut adalah respon terhadap tuduhan sesat yang ditujukan kepada Nabi Muhammad pada waktu itu. Dalam hal ini, cara menanggapi tuduhan sesat tersebut adalah dengan mengatakan seperti yang dinyatakan dalam 34:50. Bagi penulis, ayat 34:50 dapat dijadikan petunjuk bagi orang-orang yang hanya beriman kepada Al Qur’an saja untuk menjawab tuduhan sesat yang dilontarkan MUI.

Ada ayat-ayat yang dapat menghibur hati orang orang-orang yang beriman kepada Al Qur’an saja. Ayat-ayat tersebut adalah 2:37 dan 2:38.

2:37. Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (versi Dep. Agama RI)

2:38. Kami berfirman: "Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (versi Dep. Agama RI)

Dalam 2:38 disebutkan bahwa barang siapa yang mengikuti petunjuk Allah niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak pula mereka bersedih hati. Petunjuk Allah disampaikan kepada para Utusan Allah. Salah satu petunjuk tersebut adalah Al Qur’an (22:77). Dengan demikian, orang-orang yang beriman kepada Al Qur’an saja tidak perlu khawatir dan bersedih hati. Demikianlah yang diajarkan Allah dalam Al Qur’an.

27:77. Dan sesungguhnya Al Qur'an itu benar-benar menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (versi Dep. Agama RI)

Sungguh malang benar, yang terjadi di Indonesia adalah sebaliknya, yaitu orang-orang yang hanya beriman kepada Al Qur’an saja justeru harus merasakan kekhawatiran dan bersedih hati. Mereka khawatir akan keselamatannya dan bersedih hati karena tidak bebas menjalankan kehidupan beragama. Dan yang lebih menyedihkan lagi, yang membuat khawatir dan bersedih hati tersebut adalah para ulama islam Indonesia terkemuka.

Ada satu lagi yang amat sangat mengherankan. Allah dengan jelas mengatakan bahwa barangsiapa mengikuti petunjuk Allah, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka (20:123). Sudah ditegaskan bahwa Al Qur’an adalah petunjuk Allah (27:77). Itu berarti bahwa orang yang beriman kepada Al Qur’an saja tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Anehnya, majelis ulama Indonesia (MUI) justeru menyatakan bahwa orang yang beriman kepada Al Qur’an saja adalah sesat.

20:123. Allah berfirman: "Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.