Sabtu, 28 April 2012

RUKUN IMAN


PENDAHULUAN
Ketika sekolah, penulis mendapat pelajaran tentang rukun iman. Dalam pelajaran tersebut diterangkan bahwa rukun enam ada 6, yaitu 1) iman kepada Allah, 2) iman kepada Rasul Allah, 3) iman kepada Kitab Allah, 4) iman kepada Malaikat, 5) iman kepada hari kiamat, dan 6) iman kepada takdir. Apakah rukun iman yang disebutkan tadi berdasarkan Al Qur’an? Makalah ini ditulis untuk menjawab pertanyaan tersebut dan membahas secara singkat tentang arti penting rukun iman. Al Qur’an terjemahan yang digunakan adalah versi Dep. Agama RI yang terdapat dalam program komputer Al Qur’an digital versi 2.1.

RUKUN IMAN MENURUT AL QUR’AN
Ayat-ayat yang menjelaskan rukun iman adalah sebagai berikut.

4:136. Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.

2:285. Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami taat." (Mereka berdoa): "Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali."

2:177. Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.

2:3. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.

Sebelumnya, kita akan membahas penyebutan nabi-nabi dalam 2:177, yang tidak dijumpai dalam 4:136 dan 2:285. Sebaliknya, dalam 4:136 dan 2:285, yang disebutkan adalah Rasul-Nya, bukan nabi-nabi. Penyebutan nabi-nabi dalam 2:177 menunjukkan bahwa Rasul Allah yang dimaksud dalam 4:136 dan 2:285 adalah Rasul Allah yang berupa manusia karena nabi adalah manusia. Perlu diingat bahwa Rasul Allah terdiri dari malaikat dan manusia (22:75). Jadi, penyebutan malaikat dalam ayat-ayat di atas menerangkan kedudukan malaikat sebagai Rasul Allah.

22:75. Allah memilih utusan-utusan-(Nya) dari malaikat dan dari manusia; sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Selain itu, pembahasan tentang beriman kepada yang ghaib seperti yang disebutkan dalam 2:3 juga perlu dilakukan. Jika tidak dijelaskan lebih lanjut, nanti akan menimbulkan persepsi seolah-olah beriman kepada syaitan adalah perintah Allah karena syaitan adalah sesuatu yang ghaib. Oleh karena itu, menurut penulis, frase yang  tepat adalah beriman kepada keberadaan sesuatu yang ghaib.

Jika dirangkum, ayat 4:136, 2:285, 2:177, dan 2:3 berisi perintah agar kita beriman kepada Allah, Rasul Allah berupa manusia, Rasul Allah berupa malaikat, Kitab Allah, hari kemudian, dan keberadaan sesuatu yang ghaib. Dengan demikian, menurut Al Qur’an, rukun iman ada 6, yaitu :

1) iman kepada Allah,
2) iman kepada Rasul Allah berupa manusia,
3) iman kepada Rasul Allah berupa malaikat,
4) iman kepada Kitab Allah,
5) iman kepada hari kemudian, dan
6) iman kepada keberadaan sesuatu yang ghaib

Perincian rukun iman tersebut menegaskan bahwa hanya 6 yang disebutkan itu saja yang boleh diimani. Beriman kepada selain yang 6 tersebut dapat dianggap mempunyai tuhan selain Allah. Inilah alasan rukun iman menjadi sangat penting.

Kita bisa bertanya kepada orang yang mengatakan bahwa kita harus beriman kepada penulis kitab hadis. Apakah Allah memerintahkan manusia agar beriman kepada penulis kitab hadis? Tidak! Allah memerintahkan manusia agar beriman kepada Rasul Allah. Lalu, mengapa orang tersebut beriman kepada penulis kitab hadis? Jawabannya adalah karena ada tuhan selain Allah yang memerintahkan orang tersebut agar beriman kepada penulis kitab hadis.

Kita juga bisa bertanya kepada orang yang mengatakan bahwa kita harus beriman kepada kitab hadis. Apakah Allah memerintahkan manusia agar beriman kepada kitab hadis? Tidak! Allah memerintahkan manusia agar beriman kepada kitab Allah. Lalu, mengapa orang tersebut beriman kepada kitab hadis? Jawabannya adalah karena ada tuhan selain Allah yang memerintahkan orang tersebut agar beriman kepada kitab hadis.

Apakah ada orang yang mengatakan bahwa ada rukun iman yang belum disebutkan dalam Al Qur’an? Jika ada, orang tersebut tidak beriman kepada Allah. Orang tersebut tidak percaya bahwa Allah mengetahui segala sesuatu. Orang tersebut tidak percaya bahwa Allah mengetahui semua yang dilakukan-Nya. Jika Allah menyebutkan 6 rukun iman, itu berarti bahwa rukun iman memang hanya 6.

PENUTUP
Kita hanya boleh beriman kepada rukun iman yang disebutkan dalam Al Qur’an. Makalah ini akan direvisi jika terjadi perubahan persepsi pada diri penulis.