Sabtu, 23 Juni 2012

MUHAMMAD PERNAH SESAT


Mungkin ada pembaca yang belum mengetahui bahwa Muhammad pernah menjadi orang sesat. Sebelum menerima petunjuk Allah, Muhammad adalah orang sesat (93:7).

93:7. And He found you lost, so He guided (you), (Dan Dia mendapati kamu sesat, kemudian Dia memberi petunjuk (kamu)). (versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri)

Informasi bahwa Muhammad pernah menjadi orang sesat tidak dijumpai dalam Al Qur’an terjemahan versi Dep. Agama RI. Oleh karena itu, mungkin banyak orang yang tidak mengetahui hal ini. Terjemahan 93:7 versi Dep. Agama RI adalah sebagai berikut.

93:7. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. (versi Dep. Agama RI)

Tampak bahwa kata yang diterjemahkan menjadi sesat (lost) dalam terjemahan versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri, dalam versi Dep. Agama RI diterjemahkan menjadi bingung. Dijelaskan pada catatan kaki versi Dep. Agama RI bahwa yang dimaksud dengan bingung di sini ialah “kebingungan untuk mendapatkan kebenaran yang tidak bisa dicapai oleh akal, lalu Allah menurunkan wahyu kepada Muhammad s.a.w. sebagai jalan untuk memimpin ummat menuju keselamatan dunia dan akhirat”.

Mana yang benar? Sesat atau bingung? Untuk menjawabnya, penulis mengutip transliterasi ayat 93:7. Tampak dalam transliterasi tersebut bahwa kata [da]llan diterjemahkan secara berbeda, yaitu menjadi sesat atau bingung.

093.007 Wawajadaka [da]llan fahad[a] (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.910)

Kemudian, penulis membandingkannya dengan ayat yang dalam terjemahannya mengandung kata sesat. Ayat tersebut adalah 1:7 (ayat 7 Surat Al Fatihah).  Jika kata yang dimaksud adalah sesat, kata dalam bahasa Arab yang dijumpai dalam 93:7 dan 1:7 akan sama dari segi akar kata (root).

1:7. (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (versi Dep. Agama RI)

Untuk itu, arti kata menurut akar (root) menurut The Project Root List dalam http://www.studyquran.co.uk/PRLonline.htm digunakan. Hasil penelusuran di The Project Root List tersebut memperlihatkan bahwa ayat 1:7 dan 93:7 mengandung kata yang sama dari segi akar kata, yaitu Dalliina dan Dallan.

Dalliina/Dalluuna/Dallan pcple. act. 1:7, 2:198, 3:90, 6:77, 15:56, 23:106, 26:20, 26:86, 37:69, 56:51, 56:92, 68:26, 83:32, 93:7

Arti Dalliina dan Dallan dapat diketahui dari akar kata Dad-Lam-Lam berikut ini.

Dad-Lam-Lam = Erred, strayed, or went astray. Deviated from the right way or course. Missed or lost the right way. Lost something but does not know its place. Confounded or perplexed and unable to see the right course.
Become hidden, unperceived, concealed, absent, or escaped. Went away.
A lost state. A state of perishing, coming to naught, or passing away.
Confusion, perplexity, and inability to see the right course.
Skill in guiding, or directing aright, in journeying.
One with whom is no good.
Water running beneath a rock, or among trees, which the sun does not reach.
Ragged land or ground, a hard and stony place.”

Tiga arti akar kata yang pertama tersebut adalah erred (berbuat salah), strayed (tersesat), atau went astray (tersesat). Kata yang menyebutkan confusion (kebingungan) tidak berdiri sendiri tetapi berhubungan dengan to see the right course. Confusion to see the right course berarti kebingungan melihat jalan yang benar. Frase kebingungan melihat jalan yang benar pada dasarnya sama dengan tersesat. Jadi, penerjemahan Dalliina dan Dallan menjadi sesat adalah tepat.

Setelah menyampaikan argumen tentang kesetujuan penulis dengan penafsiran Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar, implikasi ayat 93:7 akan dibahas. Ayat tersebut menjelaskan bahwa sebelum diberi petunjuk Allah, Muhammad termasuk orang yang sesat. Setelah diberi petunjuk Allah, Muhammad menjadi orang yang tidak sesat. Menurut penulis, petunjuk Allah yang dimaksud adalah Al Qur’an. Jadi, Muhammad menjadi orang tidak sesat setelah menerima Al Qur’an.

Ada baiknya kita mengetahui keadaan Muhammad sebelum mendapat petunjuk berupa Al Qur’an. Pada waktu itu, Muhammad tidak pernah membaca Kitab (29:48). Muhammad juga tidak pernah berharap untuk diberi Al Qur’an (28:86). Ini berarti bahwa Muhammad tidak pernah berharap atau meminta atau berdoa agar menjadi seorang Rasul Allah. Selain itu, sebelum menerima wahyu, Muhammad tidak mengetahui tentang Kitab dan iman (42:52). Dari sini kita dapat mengerti bahwa sebelum mendapat petunjuk Allah berupa Al Qur’an, Muhammad adalah termasuk orang awam.

29:48. And you did not recite before it any Book, nor did you write it with your right hand, in that case the falsifiers would have doubted. (Dan kamu tidak membaca sebelumnya Kitab apapun, tidak juga kamu menulisnya dengan tangan kananmu, dalam kasus seperti itu para pemalsu akan telah merasa ragu-ragu.) (versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri)

28:86. Dan kamu tidak pernah mengharap agar Al Quran diturunkan kepadamu, tetapi ia (diturunkan) karena suatu rahmat yang besar dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu menjadi penolong bagi orang-orang kafir. (versi Dep. Agama RI)

42:52. Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (versi Dep. Agama RI)

Meskipun pernah sesat, Muhammad dikenal sebagai orang yang berbudi pekerti luhur. Tidak tanggung-tanggung, yang menyatakan bahwa Muhammad berbudi pekerti luhur adalah Allah sendiri (68:4). Oleh sebab itu, budi pekerti seseorang tidak menjelaskan statusnya menjadi orang sesat atau orang tidak sesat.

68:4. Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (versi Dep. Agama RI)

Di muka bumi ini banyak orang berbudi pekerti baik. Mereka tidak berbuat jahat. Mereka suka berbuat baik. Jika Muhammad yang berbudi pekerti agung saja pernah dinyatakan sesat oleh Allah, apakah kemudian orang tidak menjadi khawatir? Dan kemudian bertanya : ”Jangan-jangan saya juga termasuk orang sesat?”

Agar tidak sesat, kita teladani saja yang dilakukan Nabi Muhammad, yaitu berpedoman hanya kepada Al Qur’an saja. Mengapa hanya Al Qur’an saja? Jawabannya adalah karena Nabi Muhammad hanya berpedoman kepada Al Qur’an saja.