Minggu, 29 Juli 2012

PERBEDAAN PENENTUAN 1 RAMADHAN


PENDAHULUAN
Perbedaan penentuan bulan Ramadhan sering atau bahkan selalu terjadi di Indonesia. Akibatnya, Ramadhan yang satu lebih cepat atau lebih lambat dari yang lain. Penyebab perbedaan tersebut adalah cara penentuan waktu awal dan akhir bulan yang bervariasi. Cara-cara tersebut meliputi metode perhitungan, metode melihat planet bulan, dan metode yang selainnya. Yang akan dibahas di dalam makalah ini adalah metode yang diterapkan sebagian besar kelompok penganut agama islam, yaitu metode perhitungan dan metode melihat planet bulan. Metode perhitungan menggunakan model matematis yang dibangun berdasarkan data astronomis. Di lain pihak, metode melihat planet bulan menggunakan hasil pengamatan kenampakan planet bulan pada akhir bulan menurut kalender berdasarkan peredaran bulan.

Kalau dipikir-pikir aneh juga. Meskipun matahari, bumi, dan bulan masing-masing hanya satu, bisa terjadi lebih dari satu bulan Ramadhan di tempat yang sama. Mungkin tidak tepat untuk dikatakan sebagai keanehan. Ini adalah konsekuensi logis jika masing-masing berprasangka bahwa pendapatnya adalah yang benar. Sebagai bentuk toleransi, mereka tidak menyalahkan pendapat yang lain. Bahkan, ada yang mengatakan bahwa perbedaan adalah rahmat. Toleransi seolah-olah dianggap menjadi solusi. Bagaimanapun juga, perbedaan tersebut adalah suatu masalah karena kebenaran hanya satu. Bagaimana solusi untuk mengatasi masalah tersebut? Penulis ingin menjawabnya dengan Al Qur’an terjemahan.

SOLUSI PERKARA ANTAR MANUSIA
Perbedaan penentuan bulan Ramadhan adalah perkara antara manusia yang perlu diselesaikan. Allah mengajarkan bahwa suatu perkara antara manusia hendaknya dipecahkan dengan Al Qur’an (4:105). Perbedaan bulan Ramadhan yang terjadi pada suatu tahun disebabkan oleh kitab-kitab selain Al Qur’an yang dgunakan untuk menentukan awal suatu bulan. Oleh karena itu, cara penyelesaiannya adalah dengan menggunakan Al Qur’an sebagai satu-satunya pedoman untuk menentukan awal suatu bulan.

4:105. Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat,

METODE MENYAKSIKAN PLANET BULAN
Sekelompok orang berpendapat bahwa awal bulan Ramadhan ditandai dengan kenampakan bulan baru. Jika bulan baru tidak tampak pada suatu batas ketinggian tertentu, pergantian kalender bulan belum terjadi. Batas ketinggian tersebut dinyatakan dalam derajat yang ditentukan secara subyektif (arbitrary) sedemikian rupa sehingga pada ketinggian tersebut bulan baru sudah terlihat jelas ketika langit dalam keadaan bersih.

Konon, yang dijadikan landasan penggunaan metode menyaksikan bulan ada di Al Qur’an, yaitu ayat 2:185. Marilah kita cermati ayat tersebut yang terjemahannya disajikan berikut ini.

2:185. Ramadhaan is the month in which the Quran was revealed as a Guidance for mankind and clear proofs of Guidance and the Criterion (of right and wrong). So whoever among you witnesses the month (of Ramadhaan) should fast in it; and whoever is sick or on a journey, then the prescribed number of days (should be made up) from other days. Allah intends for you ease and does not intend for you hardship, so that you complete the prescribed period and that you magnify Allah for having guided you, so that you may be grateful. (Ramadhan adalah bulan ketika Al Qur’an diwahyukan sebagai suatu Petunjuk bagi manusia dan bukti-bukti yang jelas dari Petunjuk dan Kriteria (yang benar dan salah). Maka barangsiapa di antara kamu menyaksikan bulan tersebut (Ramadhan) supaya berpuasa dalam bulan itu; dan barangsiapa sakit atau dalam suatu perjalanan, maka sejumlah hari yang diperintahkan (supaya digenapkan) pada hari-hari yang lain. Allah menginginkan kemudahan bagi kamu dan tidak menginginkan bagi kamu kesukaran, sehingga kamu menyempurnakan periode yang diwajibkan dan kamu mengagungkan Allah karena telah memberi petunjuk kamu, semoga kamu berterima kasih.) (versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri)

Memang benar, dalam terjemahan tersebut terdapat frase menyaksikan bulan tersebut. Namun, bulan tersebut adalah terjemahan dari the month. Ini berari bahwa bulan yang dimaksud dalam 2:185 adalah nama waktu dalam suatu kalender, bukan nama planet (the moon). Dengan demikian, menyaksikan bulan yang dimaksud adalah menjadi saksi atas kehadiran atau keberadaan bulan tersebut. Dengan kalimat lain, menyaksikan bulan Ramadhan berarti menjalani hidup pada bulan tersebut.

Transliterasi 2:185 memperlihatkan bahwa yang berarti bulan (month) dalam 2:185 adalah a(l)shshahra. Jika yang diminta untuk disaksikan adalah planet bulan, kata yang digunakan mungkin al qamar. Disebutkan dalam Al Qur’an terjemahan versi Dep. Agama RI bahwa Al Qamar (surat ke 54) berarti planet bulan. Artinya, planet bulan dalam bahasa Arab adalah al qamar.

002.185 Shahru rama[da]na alla[th]ee onzila feehi alqur-[a]nu hudan li(l)nn[a]si wabayyin[a]tin mina alhud[a] wa(a)lfurq[a]ni faman shahida minkumu a(l)shshahra falya[s]umhu waman k[a]na maree[d]an aw AAal[a] safarin faAAiddatun min ayy[a]min okhara yureedu All[a]hu bikumu alyusra wal[a] yureedu bikumu alAAusra walitukmiloo alAAiddata walitukabbiroo All[a]ha AAal[a] m[a] had[a]kum walaAAallakum tashkuroon(a) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.910)

Sampai di sini dapat diringkas bahwa tidak ada perintah agar menyaksikan planet bulan untuk berpuasa. Tidak ada pula perintah untuk menyaksikan planet bulan untuk menentukan awal bulan Ramadhan. Jadi, metode penentuan awal bulan dengan menyaksikan planet bulan tidak didukung 2:185.

Sebenarnya, metode penentuan awal bulan dengan menyaksikan kenampakan bulan baru mempunyai dasar yang masuk akal. Hanya saja, metode tersebut mempunyai kelemahan berkaitan dengan keterbatasan penglihatan manusia. Perlu diingat bahwa manusia mempunyai penglihatan yang payah (67:4). Kita sebagai manusia tidak bisa melihat bulan ketika langit dalam keadaan tidak bersih atau kenampakan bulan sangat kecil.

67:4. Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah. (Versi Dep. Agama RI)

Kenampakan bulan baru yang sulit dilihat oleh mata dalam keadaan langit bersih mendorong orang membuat kriteria bersifat perkiraan (arbitrary). Misalnya, jika ketinggian bulan baru kurang dari 2 derajat, bulan baru dianggap tidak dapat disaksikan. Sesungguhnya, kriteria ketinggian kenampakan bulan baru yang dibuat menurut perkiraan merupakan perwujudan dari sifat pandangan manusia yang payah. Kriteria tersebut dapat dipandang sebagai sesuatu asumsi sehingga tidak berguna untuk melawan kebenaran sejati (10:36). Artinya, hasilnya tidak bisa disejajarkan dengan yang sebenarnya.

10:36. And most of them follow nothing except assumption. Indeed, assumption does not avail anything against the truth. Indeed, Allah is All-Knower of what they do. (Dan kebanyakan dari mereka tidak mengikuti sesuatu pun kecuali asumsi. Sungguh, asumsi tidak berguna sama sekali melawan kebenaran sejati. Sungguh, Allah adalah Maha Mengetahui yang mereka kerjakan.) (versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri)

Dapat diringkas di sini bahwa metode penentuan awal bulan dengan mengandalkan penglihatan tidak didukung ayat-ayat Al Qur’an. Meskipun demikian, tidak ada larangan tentang penggunaan metode melihat planet bulan dalam penentuan awal bulan.

METODE PERHITUNGAN
Kini, orang bisa menentukan waktu gerhana matahari dan gerhana bulan dengan tepat. Hal tersebut terjadi karena dinamika posisi matahari, bulan, dan bumi yang bersifat dapat diduga (predictable). Dinamika tersebut dapat diketahui dengan suatu perhitungan menggunakan model matematis yang dibangun berdasarkan data yang lengkap. Ayat 55:5 menegaskan hal tersebut. Kata move dalam teks terjemahan ayat tersebut hanyalah tambahan penerjemah sehingga dianggap tidak ada. Dapat diartikan bahwa posisi matahari dan bulan ditentukan dengan suatu perhitungan yang tepat. Artinya, posisi matahari, bulan, dan planet lain seperti bumi juga ditentukan dengan suatu perhitungan yang tepat. Konsekuensinya, penentuan awal bulan dapat ditentukan berdasarkan perhitungan.

55:5. The sun and the moon (move) by precise calculation, (Matahari dan bulan dengan perhitungan yang tepat.) (versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri)

Dapat diringkas di sini bahwa metode penentuan awal bulan dengan perhitungan didukung ayat-ayat Al Qur’an. Meskipun demikian, tidak ada perintah untuk menggunakan metode perhitungan.

SATU METODE UNTUK SEMUA
Uraian di atas menunjukkan bahwa tidak ada ketentuan dalam Al Qur’an tentang metode yang harus digunakan dalam penentuan awal Ramadhan. Artinya, metode yang digunakan ditentukan oleh manusia. Hanya saja, metode yang berbeda cenderung akan menghasilkan kesimpulan yang berbeda pula. Hal ini sudah terjadi berkali-kali di Indonesia.

Satu metode yang harus disepakati perlu ditetapkan untuk menghasilkan keputusan yang sama tentang awal dan akhir bulan Ramadhan. Tiap golongan yang berbeda pendapat hendaknya memperhatikan ayat-ayat berikut ini.

30:31. dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, (Versi Dep. Agama RI)

30:32. yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. (Versi Dep. Agama RI)

Ayat 30:31 dan 30:32 menerangkan bahwa kita dilarang meniru perilaku orang yang mempersekutukan Allah (musyrik). Perilaku tersebut yaitu membentuk golongan-golongan agama dan masing-masing merasa bangga dengan yang ada pada golongannya. Bukankah ini yang tercermin dari perbedaan awal dan akhir Ramadhan yang terjadi di Indonesia? Tiap golongan mempunyai bulan Ramadhan sendiri-sendiri. Jika kita termasuk orang yang meniru perilaku orang musyrik, kita pun akan menjadi orang musyrik. Mengerikan bukan? Jadi, perbedaan-perbedaan yang terjadi harus segera diakhiri.

Untuk mengakhiri perbedaan yang terjadi, semua harus menggunakan Al Qur’an saja sebagai pedoman untuk mengatasi perkara perbedaan bulan Ramadhan ini. Silakan dicermati kembali ayat 4:105! Selanjutnya, masing-masing golongan hendaknya menyadari bahwa pedoman selain Al Qur’an telah membuat agama terpecah menjadi golongan-golongan. Dan yang lebih penting lagi, membuat agama menjadi golongan-golongan adalah perilaku orang musyrik. Apakah orang musyrik akan masuk surga? Jawabannya ada di ayat 9:113 berikut ini.

9:113. Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.

Sudah dibahas di muka bahwa metode perhitungan sudah terbukti dapat digunakan untuk menentukan posisi bumi, bulan, dan matahari. Selain itu, metode tersebut juga didukung oleh ayat 55:5 dalam Al Qur’an. Di lain pihak, metode melihat planet bulan tidak didukung ayat Al Qur’an dan mempunyai kelemahan berkaitan dengan penglihatan mata manusia. Oleh karena itu, metode perhitungan lebih tepat untuk dijadikan dasar penentuan awal dan akhir Ramadhan.

PENUTUP
Perbedaan penentuan bulan Ramadhan adalah masalah serius yang tidak bisa diatasi dengan toleransi beragama. Satu metode penentuan awal dan akhir bulan Ramadhan perlu diputuskan dan disepakati oleh semuanya. Menurut penulis, metode perhitungan adalah tepat untuk dipilih. Makalah ini akan direvisi jika terjadi persepsi pada diri penulis.