Selasa, 30 Oktober 2012

PERBEDAAN PENAFSIRAN AL QUR'AN

Meskipun Al Qur’an hanya satu, penafsirannya bervariasi. Hal itu tercermin dari variasi Al Qur’an terjemahan, variasi sekte atau aliran, dan variasi pendapat dalam forum diskusi internet. Mengherankan bukan? Yang terlibat dalam penerjemahan Al Qur’an dan forum diskusi internet adalah orang-orang pandai. Yang menjadi pemuka sekte atau aliran termasuk orang-orang yang cerdas pula. Variasi penafsiran ini menimbulkan kesan bahwa seolah-olah Al Qur’an tidak mudah  dipahami. Jika yang cerdas saja mengalami masalah dalam memahami Al Qur’an, bagaimana dengan mereka yang kurang berpendidikan dan kurang cerdas?

Padahal, Allah telah membuat mudah Al Qur’an untuk pelajaran (54:17; 54:22; 54:32; dan 52:40). Selain itu, ayat-ayat Al Qur’an adalah jelas (2:99).

54:17. Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? (versi Dep. Agama RI)  

54:22. Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? (versi Dep. Agama RI)

54:32. Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? (versi Dep. Agama RI)

54:40. Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? (versi Dep. Agama RI)

2:99. Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu ayat-ayat yang jelas; dan tak ada yang ingkar kepadanya, melainkan orang-orang yang fasik. (versi Dep. Agama RI)  

Al Qur’an itu sendiri diciptakan sebagai petunjuk bagi manusia (2:185), bukan bagi golongan jin. Dalam ayat tersebut tidak disebutkan bahwa manusia yang dimaksud adalah yang cerdas atau berpendidikan. Jadi, Al Qur’an seharusnya bisa dipahami oleh semua orang tanpa memandang tingkat kecerdasan atau tingkat pendidikan.

2:185. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (versi Dep. Agama RI)

Kemungkinan penyebab variasi penafsiran pertama adalah berkaitan dengan pemberian petunjuk Allah. Orang yang mendapat petunjuk Allah akan mempunyai penafsiran yang benar tentang Al Qur’an. Dalam memberikan petunjuk, Allah menjadikan Al Qur’an menjadi cahaya. Dengan cahaya Al Qur’an, Allah memberi petunjuk kepada hamba-Nya yang dikehendaki-Nya (42:52). Barangkali, ada yang mendapat petunjuk secara jelas tetapi ada pula yang tidak demikian. Hal inilah yang mungkin menyebabkan variasi penafsiran Al Qur’an.

42:52. And thus We have revealed to you an inspiration by Our Command. You did not know what the Book is nor (what) faith is. But We have made it a light by which We guide whom We will of Our slaves. And indeed, you guide to the Straight Path, (Dan maka Kami telah mewahyukan kepadamu suatu inspirasi dengan Perintah Kami. Kamu tidak mengetahui tentang Kitab dan tidak juga tentang iman. Tetapi Kami membuatnya menjadi sebuah cahaya yang dengannya Kami memberi petunjuk orang yang Kami kehendaki dari hamba-hamba Kami. Dan sungguh, kamu memberi petunjuk ke Jalan Lurus,) (versi  Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri)

Kemungkinan penyebab variasi penafsiran kedua adalah karena masalah bahasa. Orang yang tidak berbahasa Arab berusaha memahami Al Qur’an dengan cara menerjemahkannya ke dalam bahasa yang dipahaminya. Seperti sudah disinggung di muka, Al Qur’an terjemahan juga bervariasi. Bukankah sebaiknya hanya ada satu Al Qur’an dan satu terjemahan saja? Walaupun demikian, Al Qur’an terjemahan bukanlah solusi untuk memecahkan masalah perbedaan bahasa. Hal ini dapat dijelaskan dengan ayat 41:44. Dijelaskan dalam ayat tersebut bahwa orang yang tidak memahami bahasa kitab Allah membutuhkan penjelasan.

41:44. Dan jikalau Kami jadikan Al Quran itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan: "Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?" Apakah (patut Al Quran) dalam bahasa asing sedang (rasul adalah orang) Arab? Katakanlah: "Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Quran itu suatu kegelapan bagi mereka[1334]. Mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh." (versi Dep. Agama RI)

Sampai di sini dapat dimengerti bahwa yang dibutuhkan kita sebenarnya adalah penjelasan Al Qur’an, bukan Al Qur’an terjemahan. Al Qur’an terjemahan seringkali tidak mampu menjelaskan Al Qur’an. Ada penerjemah yang hanya mengalihkan bahasa Arab ke bahasa lain dan memberi keleluasaan kepada pembaca untuk membuat penafsiran sendiri. Ada pula Al Qur’an terjemahan yang dibuat dengan menyesuaikan kepentingan kelompoknya sendiri. Sementara itu, ada penerjemah yang masih mengharapkan koreksi dari orang lain.

Walapun demikian, itu bukan berarti bahwa Al Qur’an terjemahan tidak bermanfaat. Al Qur’an terjemahan dibutuhkan untuk menjelaskan Al Qur’an. Penjelasan Al Qur’an tersebut menjelaskan isi Al Qur’an kepada pembaca yang tidak berbahasa Arab agar dapat memahami Al Qur’an dengan benar. Yang dibutuhkan sebenarnya adalah satu penjelasan Al Qur’an yang ditulis dalam bahasa internasional (bahasa Inggris) yang disetujui oleh semua orang di seluruh dunia.

Kemungkinan penyebab variasi penafsiran ketiga adalah godaan syaitan. Ketika mengaji Al Qur’an, orang harus berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk (16:98). Caranya adalah dengan menjadi orang yang beriman dan berserah diri (bertawakal) kepada Allah (16:99). Dengan kalimat lain, orang yang mengaji Al Qur’an harus beriman dan berserah diri kepada Allah agar tidak termakan godaan syaitan terkutuk.

16:98. Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. (versi Dep. Agama RI)

16:99. Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya. (versi Dep. Agama RI)

Sebagai penutup, variasi penafsiran Al Qur’an adalah merupakan masalah. Keberadaan satu Al Qur’an dengan satu penafsiran di dunia ini sangat diharapkan.