Minggu, 28 April 2013

KEHIDUPAN DUNIA DAN KEBENARAN AGAMA


PENDAHULUAN
Tiap pemeluk agama meyakini kebenaran agama yang dipeluknya. Masing-masing merasa mendapatkan rejeki, berkat, pertolongan, kasih sayang, dan perlindungan dari Tuhan. Mereka tidak merasa disiksa Tuhan karena agama yang dipeluknya tersebut. Yang mereka rasakan tersebut adalah berdasarkan kenyataan yang dialami dalam kehidupan dunia sehari-hari. Di samping itu, dalam tiap agama ada pemeluk yang berpendidikan tinggi. Ada yang bergelar sarjana, master, doktor, atau profesor. Semua ini dapat menumbuhkan kesan bahwa semua agama seolah-olah sama. Tidak sedikit orang yang berpendapat bahwa semua agama adalah sama. Mereka beranggapan bahwa tujuan agama adalah sama dan yang berbeda hanya jalan mencapai tujuan tersebut.

Semua yang dipaparkan dalam alinea di atas adalah penilaian agama berdasarkan kehidupan dunia. Jika yang digunakan untuk menilai kebenaran suatu agama adalah kehidupan dunia, semua agama memang akan tampak sama. Cara penilaian agama seperti itu dapat dimengerti dengan mudah karena semua orang baru menjalani hidup di dunia fana ini. Persoalannya, apakah cara penilaian seperti itu benar?

KEHIDUPAN DUNIA
Sebelum menjawab pertanyaan di atas, ada baiknya kita bahas lebih dahulu tentang arti kehidupan dunia. Ayat-ayat Al Qur’an yang menjelaskan arti kehidupan dunia adalah 57:20; 29:64; dan 6:32.

57:20. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (versi Dep. Agama RI)

29:64. Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui. (versi Dep. Agama RI)

6:32. Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? (versi Dep. Agama RI)

Jika diringkas, ketiga ayat tersebut menerangkan bahwa kehidupan dunia adalah hanya permainan dan sendau-gurau. Di samping itu, kehidupan dunia adalah kesenangan yang menipu.

Permainan dan Sendau-gurau
Apa yang dimaksud dengan kehidupan dunia adalah permainan dan sendau-gurau? Ketika bersendau-gurau, orang akan merasakan kesenangan yang bersifat sementara. Di sisi lain, dalam sebuah permainan ada yang kalah dan ada yang menang. Setelah sendau-gurau atau permainan selesai, kita akan kembali merasakan masalah kehidupan yang sebenarnya. Dalam kehidupan dunia, kesenangan bersifat sementara, seperti yang dialami ketika orang sedang bersendau-gurau. Dalam kehidupan dunia, kesedihan atau kebahagiaan bersifat sementara, seperti yang dialami orang ketika mengalami kekalahan atau kemenangan dalam suatu permainan. Kehidupan yang sebenarnya adalah kehidupan akhirat (29:64).

Kesenangan Yang Menipu
Apa yang dimaksud dengan kehidupan dunia adalah kesenangan yang menipu? Kesenangan dalam kehidupan dunia dapat menipu orang sehingga terjerumus ke jalan yang menuju neraka. Orang yang tertipu oleh kehidupan dunia tidak menyadari bahwa agama yang dianutnya adalah salah.

KORBAN KEHIDUPAN DUNIA
Di dunia ini, ada orang beragama tetapi termasuk orang kafir (tidak beriman). Contoh orang beragama tetapi termasuk orang kafir adalah yang percaya bahwa Al Masih anak Maryam (Yesus) adalah Allah (5:72), Al Masih adalah anak Allah (9:30), atau Uzair adalah anak Allah (9:30). Mungkin masih ada lagi orang beragama yang termasuk orang kafir selain dari contoh tersebut. Orang tidak beriman (kafir) tidak akan masuk surga tetapi akan masuk neraka (35:56). Dengan demikian, orang beragama yang termasuk kafir tersebut juga akan masuk neraka.

9:30. Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair itu putera Allah" dan orang-orang Nasrani berkata: "Al Masih itu putera Allah." Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling? (versi Dep. Agama RI)

5:72. Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam", padahal Al Masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu." Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (versi Dep. Agama RI)

35:36. Dan orang-orang kafir bagi mereka neraka Jahannam. Mereka tidak dibinasakan sehingga mereka mati dan tidak (pula) diringankan dari mereka azabnya. Demikianlah Kami membalas setiap orang yang sangat kafir. (versi Dep. Agama RI)

Mengapa orang beragama dapat masuk neraka? Padahal, mereka mungkin suka berbuat baik. Penjelasannya adalah sebagai berikut. Perbuatan baik akan menjadi sia-sia jika tidak dilandasi oleh keimanan yang benar (18:104). Meskipun begitu, kebaikan-kebaikan yang dilakukannya akan dibalas dengan sempurna di dunia (11:15) dan di akhirat tidak mendapatkan balasan kecuali neraka (11:16). Dengan demikian, orang beragama yang dilandasi oleh keimanan yang salah juga akan diberi balasan dengan sempurna atas semua kebaikan yang dilakukan ketika hidup di dunia ini. Perlu diingat bahwa Allah memberikan pahala di dunia, di samping pahala di akhirat (3:148). Selain itu, Allah memberikan rejeki kepada yang dikehendakinya, tidak terkecuali orang beragama yang dilandasi oleh keimanan yang yang salah (17:18 dan 13:26). Oleh sebab itu dapat dimengerti jika mereka juga merasa mendapatkan rejeki dan pertolongan dari Tuhan. Mereka juga merasa terkabul doanya. Mereka merasakan keajaiban-keajaiban dalam kehidupannya. Oleh sebab itu, kesenangan yang mereka terima menyebabkan mereka tertipu dalam menilai agama yang dianutnya.

18:104. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. (versi Dep. Agama RI)

11:15. Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. (versi Dep. Agama RI)

11:16. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan. (versi Dep. Agama RI)

3:148. Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan. (versi Dep. Agama RI)

17:18. Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. (versi Dep. Agama RI)

13:26. Allah meluaskan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit). (versi Dep. Agama RI)

CARA MEMANDANG KEHIDUPAN ORANG KAFIR
Allah mengajarkan kepada kita agar tidak terpengaruh oleh kenikmatan hidup yang diberikan-Nya kepada orang kafir (20:131 dan 13:88). Kita tidak boleh iri kepada mereka karena mereka telah memilih jalan untuk membeli kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat (2:86).

20:131. Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal. (versi Dep. Agama RI)

13:88. Janganlah sekali-kali kamu menunjukkan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka (orang-orang kafir itu), dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman. (versi Dep. Agama RI)

2:86. Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat, maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong. (versi Dep. Agama RI)

Walaupun demikian, kita juga perlu berhati-hati dalam menilai diri kita sendiri. Apakah orang beragama islam secara otomatis termasuk orang yang beriman dengan benar? Ini perlu dijadikan renungan karena agama yang tertulis di KTP (Kartu Tanda Penduduk) hanyalah data administratif saja.

PENUTUP
Kita tidak bisa menilai kebenaran suatu agama berdasarkan kejadian-kejadian dalam kehidupan dunia. Makalah ini akan direvisi jika terjadi perubahan persepsi pada diri penulis.