Selasa, 25 Juni 2013

KAWINKANLAH

Ada ayat Al Qur’an berisi perintah mengawinkan orang-orang sendirian (single), yaitu ayat 24:32. Hal tersebut tercermin dari frase ”Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu” dalam Al Qur’an terjemahan versi Dep. Agama RI. Penerjemah Dep. Agama menafsirkannya bahwa laki-laki dan wanita yang tidak bersuami perlu dibantu agar mereka dapat kawin. Benarkah penafsiran tersebut?   

24:32. Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (versi Dep. Agama RI)

Dalam menafsirkan perintah Allah dalam Al Qur’an, kita harus mengetahui orang yang diperintah. Dalam 24:32, yang diperintah disebut sebagai kamu. Siapakah kamu dalam terjemahan 24:32 di atas? Apakah kamu di sini sama dengan semua orang, sekelompok orang tertentu, atau satu orang tertentu? Dalam konteks 24:32, kamu adalah bukan satu orang tertentu karena kata kamu didahului oleh di antara. Jadi, kamu dapat ditafsirkan sama dengan semua orang atau sekelompok orang.

Pertama-tama, kita akan mencoba menafsirkan kamu sama dengan semua orang. Tentu saja, semua orang tersebut adalah orang-orang yang beriman pada Al Qur’an karena orang tidak beriman pada Al Qur’an akan menganggap kawinkanlah dalam 24:32 bukan suatu perintah. Jika ditafsirkan demikian, semua orang wajib menjalankan perintah agar mengawinkan orang-orang sendirian. Semua orang, tanpa memandang umur, jenis kelamin, status perkawinan (bujangan, janda, duda, atau menikah), status dalam masyarakat, jenis kelamin, tingkat kesejahteraan, kondisi fisik, kondisi kejiwaan, dan keadaan-keadaan lainnya wajib mengawinkan orang-orang sendirian. Konsekuensinya, semua orang tersebut akan berdosa jika tidak menjalankan perintah tersebut. Selain itu, perlu diingat bahwa perintah tersebut tidak menyebutkan waktu dan frekuensi pelaksanaannya. Artinya, selama hidupnya, tiap orang harus menjalankan perintah tersebut. Dapatkah perintah tersebut dijalankan oleh semua orang? Rasa-rasanya, perintah tersebut akan sulit dikerjakan oleh semua orang sehingga penafsiran kamu sama dengan semua orang adalah tidak tepat.

Penafsiran yang tepat adalah kamu sama dengan sekolompok orang tertentu. Dalam 24:32, sekelompok orang tertentu yang diperintahkan untuk mengawinkan orang sendirian adalah para pemilik budak yang beriman pada Al Qur’an. Yang berada di antara pemilik budak adalah anggota keluarganya dan para budaknya. Pemilik budak tidak membutuhkan perintah untuk mengawinkan anggota keluarganya. Oleh sebab itu, orang sendirian yang diperintahkan agar dikawinkan dalam 24:32 adalah para budak. Untuk penafsiran lebih lanjut, penulis menggunakan Al Qur’an terjemahan versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri. Ditampilkan juga transliterasinya di sini.

24:32. And marry the single among you and the righteous among your male slaves and female slaves. If they are poor, Allah will enrich them from His Bounty. And Allah is All-Encompassing, All-Knowing. (Dan kawinkanlah orang yang sendirian di antara kamu dan saleh di antara budak laki-laki dan budak perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan mengayakan mereka dari Karunia-Nya. Dan Allah adalah Maha Kuasa, Maha Mengetahui.) (versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri)

024.032 Waanki[h]oo al-ay[a]m[a] minkum wa(al)[ssa]li[h]eena min AAib[a]dikum wa-im[a]-ikum in yakoonoo fuqar[a]a yughnihimu All[a]hu min fa[d]lihi wa(A)ll[a]hu w[a]siAAun AAaleem(un) (A Y ALI) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.910)

Penulis tidak sependapat dengan penerjemahan alshshaalihhiina menjadi righteous (saleh). Penulis menerjemahkan alshshaalihhiina menjadi cocok (suit atau fit) karena ini berkaitan dengan perkawinan. Dalam project root list di http://www.studyquran.co.uk/PRLonline.htm, kata tersebut mempunyai akar kata sad-lam-ha yang di antara artinya adalah suit dan fit yang berarti cocok. Berikut ini adalah kutipannya.

Sad-Lam-Ha = to be right/good/honest/upright/sound/righteous, suit, fit. aslaha - to set a thing aright, reform, do good. saalihaat - good works, fit and suiting deeds. aslaha (vb. 4) - to make whole sound, set things right, effect an agreement between, render fit. islaah - uprightness, reconciliation, amendment, reformation. muslihun - reformer, one who is upright, righteous, a person of integrity, peacemaker, suitable. saalih - name of a prophet sent to the tribe of Thamuud.
salaha vb. (1)
perf. act. 13:23, 40:8
pcple. act. 2:25, 2:62, 2:82, 2:130, 2:277, 3:39, 3:46, 3:57, 3:114, 4:34, 4:57, 4:69, 4:122, 4:124, 4:173, 5:9, 5:69, 5:84, 5:93, 5:93, 6:85, 7:42, 7:168, 7:189, 7:190, 7:196, 9:75, 9:102, 9:120, 10:4, 10:9, 11:11, 11:23, 11:46, 12:9, 12:101, 13:29, 14:23, 16:97, 16:122, 17:9, 17:25, 18:2, 18:30, 18:46, 18:82, 18:88, 18:107, 18:110, 19:60, 19:76, 19:96, 20:75, 20:82, 20:112, 21:72, 21:75, 21:86, 21:94, 21:105, 22:14, 22:23, 22:50, 22:56, 23:51, 23:100, 24:32, 24:55, 25:70, 25:71, 26:83, 26:227, 27:19, 27:19, 28:27, 28:67, 28:80, 29:7, 29:9, 29:9, 29:27, 29:58, 30:15, 30:44, 30:45, 31:8, 32:12, 32:19, 33:31, 34:4, 34:11, 34:37, 35:7, 35:10, 35:37, 37:100, 37:112, 38:24, 38:28, 40:40, 40:58, 41:8, 41:33, 41:46, 42:22, 42:23, 42:26, 45:15, 45:21, 45:30, 46:15, 47:2, 47:12, 48:29, 63:10, 64:9, 65:11, 65:11, 66:4, 66:10, 68:50, 72:11, 84:25, 85:11, 95:6, 98:7, 103:3
salih n. prop. 7:73, 7:75, 7:77, 11:61, 11:62, 11:66, 11:89, 26:142, 27:45
sulh n.m. 4:128, 4:128
aslaha vb. (4)
perf. act. 2:160, 2:182, 3:89, 4:16, 4:146, 5:39, 6:48, 6:54, 7:35, 16:119, 21:90, 24:5, 42:40, 47:2
impf. act. 2:224, 4:128, 4:129, 10:81, 26:152, 27:48, 33:71, 47:5
impv.
7:142, 8:1, 46:15, 49:9, 49:9, 49:10
n.vb. 2:220, 2:228, 4:35, 4:114, 7:56, 7:85, 11:88
pcple. act. 2:11, 2:220, 7:170, 11:117, 28:19
LL, V4, p: 438, 439
Dengan menerjemahkan alshshaalihhiina menjadi cocok (suit atau fit), terjemahan 24:32 versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri dimodifikasi menjadi sebagai berikut.

”Dan kawinkanlah orang yang sendirian di antara kamu dan cocok di antara budak laki-laki dan budak perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan mengayakan mereka dari Karunia-Nya. Dan Allah adalah Maha Kuasa, Maha Mengetahui.”

Jika dinyatakan dengan kalimat lain, ayat 24:32 mengandung pesan sebagai berikut. Pasangan budak laki-laki sendirian dan budak perempuan sendirian yang cocok agar dikawinkan oleh para pemilik budak. Dalam konteks ini, cocok berarti saling menyukai. Jadi, pasangan budak laki-laki sendirian dan budak perempuan sendirian yang saling menyukai atau saling mencintai agar dikawinkan oleh para pemilik budak.

Diterangkan lebih lanjut bahwa jika mereka miskin, Allah akan mengayakan mereka dengan karunia-Nya. Siapakah mereka itu? Para pemilik budak atau para budak? Tentu saja, yang dimaksud dengan mereka dalam kasus ini adalah para budak yang diperintahkan agar dikawinkan karena ayat ini ditujukan kepada para pemilik budak. Dengan demikian, perintah mengawinkan dalam 24:32 ditujukan kepada para pemilik budak (disebut dengan kamu) sedangkan yang dikawinkan adalah para budak (disebut dengan mereka). Barangkali, di antara pemilik budak ada yang merasa keberatan mengawinkan para budaknya dengan alasan mereka miskin. Dalam ayat tersebut, Allah menjanjikan akan meningkatkan kesejahteraan para budak yang miskin. Dan bisa saja, proses peningkatan kesejahteraan para budak tersebut melibatkan para pemiliknya, yaitu dengan cara meningkatkan kesejahteraan pemilik budak. Jika pemilik budak bertambah kaya, para budak juga akan ikut sejahtera. Perlu diingat bahwa para pemilik budak yang beriman pada Al Qur’an mempunyai sifat yang baik sehingga mereka tentu akan memperhatikan nasib budak yang dimilikinya.

Ayat 24:32 tidak bisa dipisahkan dari ayat berikutnya.

24:33. And let those who do not find (means for) marriage keep themselves chaste until Allah enriches them of His Bounty. And those who seek a writing (of freedom) from among whom your right hands possess, give them the writing if you know any good in them, and give them from the wealth of Allah, which He has given you. And do not compel your slave girls to prostitution, if they desire chastity, to seek enjoyment of the life of this world. And whoever compels them, then indeed, Allah is, after they have been compelled, Oft-Forgiving, Most Merciful (to the women). (Dan hendaknya mereka yang tidak menemukan (sarana untuk) perkawinan menjaga diri mereka suci sampai Allah mengayakan mereka dengan Karunia-Nya. Dan mereka yang mencari suatu surat (kebebasan) dari di antara yang tangan kanan kamu memlikinya, berilah mereka surat tersebut jika kamu mengetahui kebaikan pada mereka, dan berilah mereka dari kekayaan Allah, yang Dia telah memberikan-Nya kepadamu. Dan jangan kamu paksa perempuan-perempuan budak ke pelacuran, jika mereka menghendaki kesucian, untuk menikmati kenikmatan kehidupan dunia. Dan siapa saja memaksa mereka, kemudian sungguh, Allah adalah, setelah mereka dipaksa, Pengampun, Maha Penyayang (kepada perempuan-perempuan tersebut).) (versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri)

Ayat 24:33 menjelaskan bahwa pasangan-pasangan budak yang saling menyukai diperintahkan menjaga kesuciannya jika perkawinan belum terwujud sambil menunggu sampai Allah memberikan Karunia-Nya. Jika ada orang-orang yang meminta surat pembebasan di antara budak yang dimiliki pemilik budak dan itu dinilai baik bagi para budak, pemilik budak diperintahkan agar mengabulkannya disertai pemberian sebagian kekayaannya kepada budak-budak mereka. Dijelaskan pula dalam 24:33 bahwa para pemilik budak tidak boleh memaksa budaknya menjadi pelacur. Lebih lanjut, perempuan budak yang dipaksa menjadi pelacur sedangkan ia menghendaki kesucian akan diampuni Allah karena Allah Maha Penyayang.


Sampai di sini dapat diringkas bahwa penafsiran penerjemah Dep. Agama RI terhadap ayat 24:32 yang menyatakan bahwa laki-laki dan wanita yang tidak bersuami perlu dibantu agar mereka dapat kawin adalah tidak tepat. Selain  itu, walaupun 24:32 dan 24:33 membahas tentang perkawinan budak, kita dapat mengambil pelajaran. Pertama, orang yang sendirian, yaitu bujangan atau janda atau duda, wajib menjaga kesucian dirinya, yaitu tidak melakukan hubungan sex di luar perkawinan. Kedua, kita dilarang memaksa wanita menjadi pelacur. Ketiga, wanita yang dipaksa menjadi pelacur akan diampuni dosanya jika ia menghendaki kesucian. Meskipun demikian, para wanita harus ingat bahwa Allah mengetahui segala isi hati manusia sehingga mereka tidak bisa berbohong dihadapan-Nya.