Kamis, 25 Juli 2013

PERNIKAHAN

PENDAHULUAN
Pernikahan sering dipandang sebagai sesuatu yang sakral yang prosesnya dikaitkan dengan agama yang dianut oleh kedua pasangan pengantin. Cara menikah menurut agama islam yang dijalankan oleh masyarakat sudah diketahui secara luas. Persoalannya, seperti apakah cara menikah yang disebutkan dalam Al Qur’an? Cara menikah dalam Al Qur’an tidak disebutkan seperti buku petunjuk teknis buatan manusia sehingga kita perlu merangkai ayat-ayat yang berkaitan dengan cara menikah.

CARA MENIKAH
Yang Boleh Dikawini
Yang boleh dikawini oleh laki-laki beriman adalah wanita beriman, yaitu yang bukan musyrik (orang yang mempersekutukan Allah) (2:221). Yang tidak boleh dikawini adalah seperti yang dijelaskan dalam 4:22 dan 4:23.

2:221. Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran. (versi Dep. Agama RI)

4:22. Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh). (versi Dep. Agama RI)

4:23. Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (versi Dep. Agama RI)

Umur
Umur calon pengantin harus sudah cukup dewasa untuk menjalani kehidupan berumah tangga (4:6). Walaupun ayat 4:6 membahas tentang anak yatim, dapat ditafsirkan pula bahwa anak yang bukan yatim pun juga harus cukup umur lebih dahulu jika ingin menikah. Memang, tidak disebutkan bilangan umurnya secara spesifik. Barangkali, ini disebabkan oleh variasi umur mulai dewasa tiap orang. Dijelaskan dalam ayat tersebut bahwa untuk mengetahui umur untuk kawin diperlukan ujian. Dengan demikian, yang akan menikah harus sudah cukup dewasa untuk mengarungi bahtera rumah tangga.

4:6. Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. Dan janganlah kamu makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa. Barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barangsiapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut. Kemudian apabila kamu menyerahkan harta kepada mereka, maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi (tentang penyerahan itu) bagi mereka. Dan cukuplah Allah sebagai Pengawas (atas persaksian itu). (versi Dep. Agama RI)

Bagi penulis, ayat 4:6 dapat membantah berita bahwa Nabi Muhammad mengawini wanita di bawah umur. Sebagai Rasul Allah, beliau sangat memahami dan lebih paham dari siapapun tentang syarat umur kawin yang dijelaskan dalam ayat tersebut. Sebagai Rasul Allah, beliau pasti menjalankan ajaran tersebut. Jadi, berita bahwa Nabi Muhammad mengawini wanita di bawah umur adalah bohong. Yang sungguh mengherankan, banyak orang mengaku beriman pada Rasul Allah tetapi mempercayai berita bohong tersebut. Jika beriman kepada Rasul Allah, mereka tidak akan percaya pada berita tersebut dan kemudian tidak mau lagi percaya pada sang pembawa berita tersebut.

Saling Berjanji Menjadi Suami-istri
Untuk menikah, calon suami-istri saling berjanji untuk menjadi suami istri (4:21). Perjanjian tersebut dinyatakan dengan pemberian maskawin atau mahar dari yang laki-laki kepada yang wanita (4:4 dan 5:5).

4:21. Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-isteri. Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat. (versi Dep. Agama RI)

4:4. Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya. (versi Dep. Agama RI)

5:5. Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka. (Dan dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga kehormatan diantara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat termasuk orang-orang merugi. (versi Dep. Agama RI)

Sebagai konsekuensi sebagai warga negara yang berlandaskan pada hukum, perjanjian perlu dibuat dalam suatu dokumen yang terikat dengan aturan perundang-undangan dalam bentuk surat nikah. Perlu diingat pula bahwa aturan perundang-undangan adalah suatu bentuk perjanjian di antara warga negara sehingga harus ditaati (17:34).

17:34. Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik (bermanfaat) sampai ia dewasa dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya. (versi Dep. Agama RI)

Saksi
Perjanjian antara pengantin laki-laki dan perempuan membutuhkan kesaksian orang lain. Informasi tentang keberadaan saksi dalam suatu pernikahan secara tidak langsung dijumpai dalam 65:2. Dijelaskan dalam 65:2 bahwa orang yang akan bercerai atau rujuk kembali dari suatu perkawinan harus mencari dua orang saksi. Dengan demikian, orang yang akan menikah juga membutuhkan dua orang saksi. Tidak ada ketentuan tentang keimanan saksi. Saksi yang lain adalah Allah (41:53).

65:2. Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. (versi Dep. Agama RI)

41:53. Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu? (versi Dep. Agama RI)

Pernikahan Khusus
Cara melangsungkan perkawinan yang khusus adalah yang dialami Adam dan istrinya. Adam dan istrinya adalah pasangan suami istri pertama di dunia (7:19 dan 4:1). Pada khasus ini, saksi manusia tidak ada sehingga saksinya hanya Allah. Sesungguhnya, jika tidak ada saksi manusia, yang menjadi saksi adalah Allah. Selain itu, ketentuan tentang wanita yang boleh dikawini dalam 4:23 juga belum berlaku karena jika itu diberlakukan manusia sekarang tidak akan ada.

7:19. (Dan Allah berfirman): "Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan isterimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim." (versi Dep. Agama RI)

4:1. Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (versi Dep. Agama RI)

PENUTUP

Demikianlah uraian tentang cara menikah dalam Al Qur’an. Revisi akan dilakukan jika ada perubahan persepsi pada diri penulis.