Selasa, 13 Agustus 2013

FIR'AUN DAN ISTERINYA

PENDAHULUAN
Kali ini, penulis menulis makalah yang berbau sejarah. Yang dijadikan topik adalah sekitar kisah Fir’aun dan isterinya. Di berbagai media di internet dijelaskan tentang penemuan-penemuan yang berhubungan dengan sejarah Mesir kuno. Di antaranya adalah mumi, piramid, dan kuburan tua. Makalah ini ditulis untuk mencari tahu tentang hubungan antara yang tertulis dalam Al Qur’an, yaitu tentang Fir’aun dan isterinya, dan hasil penemuan tersebut.

FIR’AUN DALAM AL QUR’AN
Fir’aun (bahasa Inggris : Pharaoh) adalah seorang tokoh Mesir yang disebutkan dalam Al Qur’an (43:51). Fir’aun adalah julukan bagi raja-raja di kerajaan Mesir. Dengan demikian, para Fir’aun Mesir mempunyai nama gelar raja yang berbeda-beda. Misalnya, nama gelar raja Mesir dinasti ke 19 adalah Rameses/Ramesses atau Ramses.

43:51. Dan Fir'aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata: "Hai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku; maka apakah kamu tidak melihat(nya)?

Kisah Fir’aun dan Nabi Musa disebutkan dalam Al Qur’an (7:103). Fir’aun yang manakah yang hidup dan berinteraksi dengan Nabi Musa? Apakah Ramses I, Ramses II, atau yang selainnya? Inilah yang menjadi pertanyaan banyak orang.

7:103. Kemudian Kami utus Musa sesudah rasul-rasul itu dengan membawa ayat-ayat Kami kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya, lalu mereka mengingkari ayat-ayat itu. Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang membuat kerusakan.

Penemuan mumi (tubuh orang mati yang diawetkan) di Mesir sering dikaitkan dengan nama raja di Mesir. Menurut http://en.wikipedia.org/wiki/Ramesses_II, salah satu mumi yang pernah ditemukan adalah mumi Fir’aun yang bergelar raja Ramses II yang hidup dari 1303 BC – 1213 BC (sekadar mengingatkan bahwa kisaran waktu BC (Before Christ) adalah menurun dari yang besar ke yang lebih kecil). Gambar mumi Rameses II adalah sebagai berikut (sumber : http://ancienthistory.about.com/od/egypt/ig/Ancient-Egypt/Pharaoh-Ramses-II-of-Egypt.htm).


Gambarnya yang lebih detail disajikan pula untuk memperlihatkan tingkat keutuhan mumi Ramses II. Gambarnya adalah sebagai berikut (sumber : http://www.nadeemdownloads.com/Pharoah%20(Ramses%202).html).


Benarkah itu mumi raja Mesir yang disebutkan dalam Al Qur’an? Makalah ini akan berusaha menjawabnya dengan ayat-ayat Al Qur’an. Ayat-ayat Al Qur’an yang diduga kuat berhubungan dengan penemuan mumi tersebut adalah 10:90 sampai 10:92.

10:90. Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir'aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir'aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: "Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)."

10:91. Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.

10:92. Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.

Kunci jawaban pertanyaan tentang mumi tersebut ada pada 10:92. Dalam terjemahan 10:92 versi Dep. Agama RI, secara eksplisit disebutkan penyelamatan badan Fir’aun. Artinya, yang diselamatkan adalah badannya. Bagaimana dengan jiwanya? Apakah Fir’aun benar-benar mati pada kejadian itu? Ini perlu diklarifikasi lebih lanjut karena ada terjemahan versi lain yang membangkitkan pertanyaan tersebut. Ayat terjemahan tersebut adalah sebagai berikut.

010.092 "This day shall We save thee in the body, that thou mayest be a sign to those who come after thee! but verily, many among mankind are heedless of Our Signs!" (versi Abdullah Yusuf Ali).

Terjemahan frase yang bergarisbawah adalah Kami selamatkan kamu dalam tubuh tersebut. Di sini, Fir’aun diselamatkan dalam tubuh tersebut. Tubuh apa? Apakah tubuh kapal atau tubuh ikan atau tubuh yang selainnya? Hal ini berpotensi menimbulkan penafsiran bahwa Fir’aun tidak mati pada waktu itu. Pertanyaan spekulatif tersebut perlu dijawab dahulu karena menurut yang penulis tonton dalam film ”The Ten Commandments”, Fir’aun tidak mati ketika Nabi Musa membelah laut. Oleh karena itu, kita perlu menegaskan lebih dahulu sebelum menyimpulkan bahwa Fir’aun mati atau tidak dalam peristiwa tersebut.

Dijelaskan bahwa Fir’aun akhirnya tenggelam dalam pengejaran Nabi Musa dan umatnya (20:78; 2:50; 43:55; dan 7:136). Orang yang tenggelam dalam air laut akan mati karena manusia tidak bisa hidup dalam air laut. Penenggelaman Fir’aun dan pengikutnya adalah sebagai hukuman (43:55 dan 7:136) sehingga mereka pasti mati.

20:78. Maka Fir'aun dengan bala tentaranya mengejar mereka, lalu mereka ditutup oleh laut yang menenggelamkan mereka.

2:50. Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir'aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan.

43:55. Maka tatkala mereka membuat Kami murka, Kami menghukum mereka lalu kami tenggelamkan mereka semuanya (di laut),

7:136. Kemudian Kami menghukum mereka, maka Kami tenggelamkan mereka di laut disebabkan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami itu.

Bagaimana dengan spekulasi bahwa Allah menerima taubat Fir’aun dan kemudian menyelamatkan jiwanya dalam peristiwa itu? Ayat 20:40 dan 20:41 menegaskan bahwa taubatnya tidak diterima karena pada hari kiamat mereka akan masuk neraka.

20:40. Maka Kami hukumlah Fir'aun dan bala tentaranya, lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut. Maka lihatlah bagaimana akibat orang-orang yang zalim.

20:41. Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menyeru (manusia) ke neraka dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong.

Dari uraian di atas, dapat disampaikan di sini bahwa Fir’aun mati karena ditenggelamkan ke dalam laut oleh Allah. Lalu, apa maksud Kami selamatkan kamu dalam tubuh tersebut? Menurut penulis, yang selamat adalah nama dan kisah kehidupannya. Nama dan kisah Fir’aun melekat dalam tubuhnya dan akan tetap hidup sampai sekarang, tidak hanya ada dalam Al Qur’an. Menurut penulis, setelah tenggelam dan mati, tubuhnya masih dalam keadaan utuh dan tidak dimakan binatang laut. Kemudian, oleh keluarga kerajaan yang tidak ikut dalam pengejaran Nabi Musa, tubuhnya diawetkan dalam bentuk mumi. Perlu diingat bahwa yang diinginkan Allah pasti terjadi. Jika Allah ingin menyelamatkan tubuh Fir’aun, tubuh Fir’aun pun pasti akan selamat. Itulah kurang-lebih makna Allah menyelamatkan badan Fir’aun dalam 10:92.

Jika mumi tersebut ditemukan, mumi tersebut akan menjadi bukti bahwa kisah Fir’aun dalam Al Qur’an adalah fakta sejarah. Dan yang lebih penting lagi, mumi tersebut akan menjadi pelajaran bagi manusia sesudah Nabi Musa yaitu tentang akibat yang akan dialami oleh orang yang kehidupannya seperti Fir’aun.

Berkaitan dengan penemuan mumi yang diduga adalah Fir’aun bergelar Ramses II, kita belum dapat memastikan bahwa yang ditenggelamkan di laut oleh Allah adalah Ramses II. Yang dapat disampaikan adalah bahwa mungkin saja Fir’aun yang disebutkan dalam Al Qur’an adalah Ramses II. Oleh karena itu, kepastian bahwa Ramses II adalah Fir’aun yang dikisahkan dalam Al Qur’an membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Sebuah makalah dalam
 menyebutkan bahwa ada seorang dokter Perancis bernama Maurice Bucaille yang menyelidiki penyebab kematian Ramses II. Beliau mendapati kondisi mumi raja tersebut lebih terselamatkan daripada mumi-mumi yang lain. Ini menunjukkan bahwa ada suatu mekanisme penyelamatan tubuh seperti yang disebutkan dalam 10:92. Selain itu, beliau mendapati kandungan garam pada mumi tersebut, yang diduga menjadi penyebab kematian raja Ramses II. Temuan tersebut mendukung dugaan bahwa Ramses II mati karena tenggekam dalam air laut. Berdasarkan temuan tersebut, banyak orang beranggapan bahwa Ramses II adalah Fir’aun yang disebutkan dalam Al Qur’an.

Suatu anggapan belum tentu benar sehingga perlu dibuktikan lagi kebenarannya melalui penelitian. Walaupun demikian, berdasarkan hasil penelitian yang sudah ada hingga saat ini, penulis berpendapat bahwa Ramses II adalah Fir’aun yang disebutkan dalam Al Qur’an.

ISTERI FIR’AUN CONTOH WANITA BERIMAN
Isteri Fir’aun adalah contoh bagi orang-orang yang beriman (66:11). Sebelum membahas lebih lanjut, kata perumpamaan dalam terjemahan versi Dep. Agama RI perlu dibahas lebih dahulu. Perumpamaan mempunyai arti yang bersifat pengandaian (tidak sebenarnya) yang jika disambung dengan kata bagi (kata yang mengikuti dalam naskah terjemahan) menjadi tidak cocok.

66:11. Dan Allah membuat isteri Fir'aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: "Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim. (versi Dep. Agama RI)

Abdullah Yusuf Ali menerjemahkan kata yang diterjemahkan menjadi perumpamaan tersebut menjadi an example (sebuah contoh). Kutipan terjemahannya adalah sebagai berikut.

066.011 And Allah sets forth, as an example to those who believe the wife of Pharaoh: Behold she said: "O my Lord! Build for me, in nearness to Thee, a mansion in the Garden, and save me from Pharaoh and his doings, and save me from those that do wrong";  (versi Abdullah Yusuf Ali)

Jadi, terjemahan 66:11 versi Dep. Agama adalah tidak tepat. Jika direvisi, terjemahan tersebut akan menjadi seperti berikut ini.

66:11. Dan Allah membuat isteri Fir'aun satu contoh bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: "Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.

Ayat tersebut menerangkan bahwa isteri Fir’aun beriman kepada Allah. Ia lebih memilih beriman kepada Allah daripada mengikuti suaminya yang kafir. Sebagai contoh orang beriman, ia tentu termasuk orang-orang yang berada di jalan Allah dan akan dimasukkan ke dalam surga.

Siapa yang mengajari isteri Fir’aun tentang keimanan pada Allah? Tentu saja, yang mengajari adalah Nabi Musa karena Nabi Musa sudah lama tinggal bersama keluarga Fir’aun (26:18). Menurut penulis, istri Fir’aun yang disebut dalam 66:11 adalah ibu angkat Musa (20:9). Dengan demikian, wajar jika istri Fir’aun mendapat ajaran islam dari anak angkatnya, yaitu Musa. Ayat 20:9 juga menunjukkan bahwa isteri Fir’aun jauh lebih tua daripada Nabi Musa karena selisih umurnya sama dengan selisih umur antara seorang bayi dan ibunya. Demikian juga, Fir’aun sendiri juga jauh lebih tua daripada Musa karena menjumpai Musa ketika masih kanak-kanak (26:18). Kisah tentang hal tersebut dalam Al Qur’an berbeda dengan yang ada dalam film ”The Ten Commandments”. Dalam film itu, Fir’aun yang bermusuhan dengan Nabi Musa kurang lebih mempunyai umur yang sebaya dengan Nabi Musa. Isterinya pun demikian juga. Dalam film itu pula, yang mengasuh Musa kecil adalah isteri ayah Fir’aun yang bermusuhan dengan Nabi Musa, bukan isteri Fir”aun yang bermusuhan dengan Musa.

20:9. Dan berkatalah isteri Fir'aun: "(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak", sedang mereka tiada menyadari.

26:18. Fir'aun menjawab: "Bukankah kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu.

Jadi, kondisi keluarga Fir’aun yang tertuang dalam Al Qur’an adalah sebagai berikut. Fir’aun yang bermusuhan dengan Musa mempunyai isteri yang memungut Musa sebagai anaknya. Fir’aun yang bermusuhan dengan Musa mempunyai umur yang jauh lebih tua daripada Musa karena hubungannya seperti antara ayah dan anak. Hubungan antara isteri Fir’aun yang bermusuhan dengan Musa adalah seperti antara ibu dan anak.

Isteri Fir’aun yang menjadi contoh wanita beriman yang disebutkan dalam 66:11 adalah isteri Fir’aun yang memungut Musa sebagai anaknya. Hal tersebut tercermin pada doanya yang disebutkan dalam ayat tersebut. Doa tersebut menunjukkan bahwa Fir’aun yang dimaksud adalah yang bermusuhan dengan Nabi Musa. Artinya, ia adalah istri Fir’aun pada saat Fir’aun yang bermusuhan dengan Nabi Musa masih hidup.

Siapakah isteri Fir’aun tersebut? Isteri Ramses II yang kuburannya ditemukan bernama Nefertari. Gambar Nefertari yang terdapat pada tembok makamnya adalah seperti berikut ini (sumber : http://en.wikipedia.org/wiki/Nefertari).


Apakah Nefertari adalah isteri Fir’aun yang menjadi contoh wanita beriman? Rasa-rasanya, sulit untuk mendapatkan jawaban yang meyakinkan. Mungkin saja, Fir’aun mempunyai isteri lebih dari satu. Yang memungut Musa menjadi anak angkat dan kemudian beriman kepada Nabi Musa mungkin hanyalah salah satu dari sejumlah isteri Fir’aun. Oleh karena itu, Nefertari belum tentu ibu angkat Nabi Musa.

Walaupun demikian, kita bisa mengambil pelajaran dari gambar Nefertari dalam kuburannya, yaitu tentang busana atau pakaian yang dikenakan oleh isteri-isteri Fir’aun. Menurut penulis, pakaian yang dipakai oleh isteri Fir’aun yang dijadikan sebagai contoh wanita beriman oleh Allah kurang lebih sama dengan yang dipakai Nefertari. Pakaian isteri Fir’aun mencerminkan selera Fir’aun tentang pakaian isteri-isterinya sehingga yang dipakai oleh mereka mengikuti ketentuan kerajaan. Oleh karena itu, pakaian yang dipakai Nefertari menggambarkan pakaian isteri Fir’aun yang dijadikan sebagai contoh wanita beriman oleh Allah.

Jika dicermati, pakaian Nefertari dalam gambar tersebut mencitrakan wanita terhormat. Rambutnya ditutupi sejenis mahkota dan sebagian darinya kelihatan terurai ke bawah. Bagian dadanya tertutup sedangkan bagian lengannya adalah kain transparan bermotif garis. Selebihnya, pembaca dapat mengamatinya sendiri.

Yang menarik adalah bahwa Nefertari tidak menggunakan jilbab atau kerudung yang menutupi rambut. Kemudian, bagian dadanya tertutup kain. Dengan demikian, para isteri Fir’aun tidak menutupi seluruh rambutnya atau tidak berjilbab atau tidak berkerudung. Oleh karena itu, penulis berpendapat bahwa contoh wanita beriman yang disebutkan dalam Al Qur’an juga tidak menutupi seluruh rambutnya atau tidak berjilbab atau tidak berkerudung.

PENUTUP
Berdasarkan hasil penelitian yang ada hingga saat ini, penulis berpendapat bahwa Fir’aun yang disebutkan dalam Al Qur’an adalah Ramses II yang hidup dari dari 1303 BC – 1213 BC. Selain itu, isterinya yang bernama Nefertari belum tentu isteri Fir’aun yang dijadikan sebagai contoh wanita beriman oleh Allah. Menurut penulis, isteri Fir’aun yang dijadikan sebagai contoh wanita beriman oleh Allah tidak berkerudung atau tidak berjilbab. Artinya, untuk menjadi wanita beriman, seorang wanita tidak harus menutupi seluruh rambutnya dengan kerudung atau penutup rambut lainya.