Sabtu, 07 September 2013

EVALUASI KEIMANAN

PENDAHULUAN
Orang beragama islam karena beberapa alasan. Ada yang beragama islam karena hanya mengikuti agama orang tua. Ada yang beragama islam karena masuk sekolah berbasis agama islam. Ada yang beragama islam dengan cara berguru pada seseorang. Ada yang beragama islam melalui pencarian secara mandiri dengan melalui perpindahan dari satu agama ke agama yang lain.

Variasi alasan beragama islam tersebut berpotensi menyebabkan variasi keimanan. Yang perlu dikhawatirkan adalah jika kita terjerumus pada keimanan yang salah. Makalah ini ditulis untuk mengevaluasi keimanan orang islam. Evaluasi ini penting untuk menumbuhkan keimanan yang kuat, yaitu yang berdasarkan pada kitab Allah, Al Qur’an.

EVALUASI KEIMANAN
Benarkah Al Qur’an berisi firman Allah? Orang yang percaya kepadanya akan menjawab ya sedangkan yang tidak percaya kepadanya akan menjawab tidak. Jawaban tadi sebenarnya-(ini sering tidak disadari oleh banyak orang)-dibuat berdasarkan pada asumsi bahwa tidak ada kekeliruan dalam proses penyusunan dan penulisan firman Allah menjadi sebuah dokumen tertulis. Artinya, yang menjawab ya dan tidak atas pertanyaan tersebut berasumsi bahwa proses penyusunan dan penulisan firman Allah menjadi sebuah dokumen tertulis adalah sudah benar. Kesadaran tentang penggunaan asumsi ini menjadi penting ketika kita terlibat dalam suatu diskusi, ketika menulis suatu makalah, atau ketika berkomunikasi dengan orang lain. Misalnya, ketika ada peserta diskusi, pembaca, atau lawan bicara yang tidak percaya pada Al Qur’an karena proses penyusunannya dan penulisannya meragukan atau salah, kita dapat segera meluruskan duduk persoalannya. Orang yang menjawab tidak karena proses penyusunannya dan penulisannya meragukan atau salah sesungguhnya sedang menjawab pertanyaan, ”Benarkah Al Qur’an yang sampai ke tangan kita adalah Al Qur’an yang asli?” Pertanyaan yang kedua tersebut berbeda dengan yang pertama tadi karena pertanyaan kedua berlandaskan pada asumsi bahwa kekeliruan mungkin terjadi dalam proses penyusunan dan penulisan firman Allah menjadi sebuah dokumen tertulis.

Mempersoalkan keaslian Al Qur’an yang ada sekarang ini hanya akan menimbulkan ketidaktenteraman hati yang tidak kunjung usai karena kita tidak akan pernah bisa membuktikannya. Kita tidak pernah terlibat dalam proses penyusunan dan penulisan Al Qur’an. Yang kita tahu, Al Qur’an di dunia ini sampai sekarang hanya ada satu versi. Oleh karena itu, penulis hanya dapat menerima Al Qur’an yang ada sekarang ini sebagai Al Qur’an yang asli.

Sebagai orang beriman, kita termasuk orang yang menjawab ya atas pertanyaan, ”Benarkah Al Qur’an berisi firman Allah?” Artinya, kita percaya bahwa Al Qur’an memang berisi firman-firman Allah. Mengapa percaya? Perlu kita sadari bahwa firman Allah pada dasarnya adalah perkataan Allah yang disampaikan melalui seorang Rasul (Utusan). Dapat pula dikatakan bahwa perkataan Allah adalah sama dengan berita yang berasal dari Allah yang dibawa Rasul Alah. Agar bisa mempercayainya, kita harus merasa yakin bahwa berita itu adalah benar. Bagaimana cara membuat diri kita menjadi yakin? Apakah kita harus menanyakannya atau mengkonfirmasikannya kepada Allah? Sudah barang tentu, tidak! Yang dapat kita lakukan hanyalah percaya kepada yang membawa berita tersebut. Yang membawa berita tersebut adalah Rasul Allah bernama Muhammad. Dengan demikian, kunci agar kita menjadi yakin bahwa berita tersebut benar adalah hanya dengan percaya kepada Muhammad, Rasul Allah. Dengan kalimat lain, cara agar kita menjadi yakin bahwa Al Qur’an benar-benar berisi firman-firman Allah adalah hanya dengan percaya kepada Muhammad, Rasul Allah.

Apakah beriman atau percaya kepada Rasul Allah dibenarkan oleh Allah? Orang beriman akan menjawab, ”Ya!” Bahkan, Allah secara eksplisit dan terang-benderang memerintahkan agar manusia beriman kepada Rasul Allah (64:8). Oleh karena itu, beriman kepada Rasul Allah agar kita menjadi yakin bahwa Al Qur’an berisi firman-firman Allah adalah sudah benar sehingga tidak perlu diperdebatkan lagi.

64:8. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada cahaya (Al-Quran) yang telah Kami turunkan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (versi Dep. Agama RI)

Benarkah Muhammad adalah Rasul Allah? Kita memang tidak hidup ketika Muhammad masih hidup. Kita juga tidak pernah berinteraski dengannya. Bahkan, melihat gambar wajahnya pun juga tidak pernah. Kita hanya diberitahu secara turun-temurun atau melalui buku-buku tentang dirinya. Jawaban untuk pertanyaan tadi tergantung pada iman (kepercayaan), bukan pada logika atau pengalaman. Jika tidak beriman, orang akan tidak percaya bahwa Muhammad utusan Allah. Sebaliknya, jika beriman, orang akan percaya bahwa Muhammad adalah Utusan Allah walaupun tidak pernah berinteraski dengannya atau hidup pada jamannya. Jadi, jawabannya adalah sesederhana itu.  

Kemudian, kita akan membahas kitab hadis yang oleh sebagian besar orang beragama islam dijadikan sebagai pedoman. Kita bertanya, ”Benarkah kitab hadis berisi perkataan, perbuatan, dan sikap Nabi Muhammad?” Sekadar mengingatkan, pertanyaan ini berasumsi bahwa tidak ada kekeliruan dalam proses penyusunannya dan penulisannya menjadi sebuah dokumen tertulis Bagi kita, perkataan, perbuatan, dan sikap Nabi Muhammad pada dasarnya merupakan berita. Agar bisa mempercayainya, kita harus merasa yakin bahwa berita itu adalah benar. Bagaimana cara agar kita menjadi yakin terhadap kebenaran berita tersebut? Apakah kita harus menanyakannya atau mengkonfirmasikannya kepada Nabi Muhammad? Sudah barang tentu, tidak, karena Nabi Muhammad sudah meninggal dunia. Bahkan, kitab hadis dibuat sesudah Nabi Muhammad meninggal. Perlu ditegaskan di sini bahwa penulis kitab hadis adalah penulis berita, bukan pembawa berita, karena Nabi Muhammad tidak pernah memerintahkan para penulis kitab hadis untuk menuliskan perkataannya, perbuatannya, dan sikapnya agar disebarkan kepada semua manusia. Jadi, yang dapat kita lakukan hanyalah percaya kepada yang menulis berita tersebut.

Yang menulis berita tersebut adalah penulis kitab hadis, yaitu manusia yang bukan Rasul Allah. Masalahnya, apakah beriman kepada manusia yang bukan Rasul Allah dibenarkan oleh Allah? Tidak! Tidak ada satu ayat pun dalam Al Qur’an yang mengandung perintah Allah agar manusia beriman kepada manusia yang bukan Rasul Allah. Dengan demikian, jika kita beriman kepada manusia yang bukan Rasul Allah sedangkan Allah sendiri tidak pernah memerintahkannya, sesungguhnya kita bisa bertanya pada diri kita sendiri, ”Apakah ada tuhan selain Allah yang memerintahkan kita agar beriman kepada manusia yang bukan Rasul Allah?”  Jika ada, kita akan menjadi musyrik. Sebaliknya, jika tidak ada, ”Mengapa kitab hadis dijadikan pedoman?”

Dari uraian di atas, kita bisa menyampaikan kembali bahwa tidak ada landasan yang membenarkan kita untuk percaya atau beriman kepada kitab hadis. Pertama, kita tidak bisa melakukan konfirmasi kepada Nabi Muhammad atas semua berita yang tertulis dalam kitab hadis. Kedua, tidak ada landasan berupa ayat-ayat Al Qur’an yang membenarkan kita untuk beriman kepada manusia yang bukan Rasul Allah. Akibatnya, semua berita yang tertulis dalam kitab hadis adalah hanya asumsi atau anggapan orang saja. Maksudnya, orang hanya beranggapan atau berasumsi bahwa Nabi Muhammad berkata-kata, melakukan perbuatan, atau bersikap seperti yang tertulis dalam kitab hadis.

Ada ayat Al Qur’an yang berkaitan dengan penggunaan asumsi untuk mengetahui kebenaran. Ayat tersebut adalah 10:36.

10:36. And most of them follow nothing except assumption. Indeed, assumption does not avail anything against the truth. Indeed, Allah is All-Knower of what they do. (Dan kebanyakan dari mereka tidak mengikuti sesuatu pun kecuali asumsi. Sungguh, asumsi tidak berguna sama sekali melawan kebenaran sejati. Sungguh, Allah adalah Maha Mengetahui yang mereka kerjakan.) (versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri)

Disebutkan dalam 10:36 bahwa asumsi tidak berguna sama sekali untuk melawan kebenaran sejati walaupun yang berasumsi berjumlah banyak. Artinya, asumsi tidak dapat dijadikan sebagai pegangan karena tidak sama dengan kebenaran yang sejati. Ayat tersebut juga menunjukkan bahwa penggunaan asumsi untuk mengetahui ajaran Allah adalah dilarang. Hal ini menegaskan bahwa beriman atau percaya kepada kitab hadis adalah tidak dibenarkan Al Qur’an.

Walaupun hanya asumsi, kitab hadis masih digunakan oleh sebagian besar orang beragama islam sebagai pedoman. Dalam kehidupan sehari-hari, ajaran-ajaran yang diambil dari kitab hadis telah melebur ke dalam budaya masyarakat. Semua warga masyarakat secara tidak sadar akan terikat oleh budaya masyarakat yang sudah terpengaruh oleh ajaran kitab hadis. Di samping itu, banyak warga masyarakat yang tidak pernah mengetahui atau mempelajari ajaran-ajaran kitab hadis secara langsung. Dapat dikatakan bahwa masyarakat hanya mengikuti ajaran nenek moyang yang sudah dijalankan secara turun temurun. Jadi, semua warga masyarakat tidak bisa terlepas dari budaya masyarakat yang sudah terpengaruh oleh ajaran kitab hadis.

Yang perlu dikawatirkan adalah jika budaya masyarakat yang berkembang karena pengaruh ajaran kitab hadis telah menyimpang dari ajaran Allah. Oleh sebab itu, kita harus mempunyai alat untuk menguji kebenaran budaya masyarakat tersebut. Alat untuk mengujinya adalah Al Qur’an. Dijelaskan dalam 5:48 bahwa Al Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad untuk menegaskan dan melindungi Kitab Allah yang diturunkan sebelumnya. Maksudnya, Kitab Allah sebelumnya tidak boleh bertentangan dengan Al Qur’an, dan jika Kitab Allah sebelumnya bertentangan dengan Al Qur’an, yang dipilih sebagai Kitab Allah yang benar adalah Al Qur’an. Bagaimana jika ada kitab yang muncul sesudah Al Qur’an diturunkan, seperti kitab hadis, misalnya? Tentu saja, kitab tersebut juga harus diuji dengan Al Qur’an. Kitab Allah sebelum Al Qur’an saja diuji dengan Al Qur’an, apalagi kitab hadis yang bukan kitab Allah. Jika isi kitab hadis menyimpang dari Al Qur’an, kita harus meninggalkannya. Selain itu dijelaskan juga dalam ayat tersebut bahwa Al Qur’an juga digunakan untuk memutuskan perkara di antara manusia. Salah satu perkara tersebut adalah budaya masyarakat. Budaya masyarakat yang berkembang di tengah masyarakat juga harus diuji dengan Al Qur’an untuk mengetahui praktek kehidupan sehari-hari yang menyimpang dari Al Qur’an. Jika budaya masyarakat menyimpang dari Al Qur’an, kita juga harus meninggalkannya.

5:48. And We have revealed to you the Book in truth, confirming the Book that came before it and as a guardian over it. So judge between them by what Allah has revealed and do not follow their vain desires when the truth has come to you. For each of you We have prescribed a law and a clear way. And if Allah had willed, He would have made you one community but (His plan) is to test you in what He has given you; so race to (all that is) good. Towards Allah you will all return, then He will inform you concerning that over which you used to differ. (Dan Kami wahyukan kepadamu Kitab dalam kebenaran, menegaskan Kitab yang datang sebelumnya dan sebagai pelindung terhadapnya. Maka hakimilah di antara mereka dengan yang Allah telah wahyukan dan jangan mengikuti keinginan sia-sia mereka ketika kebenaran telah datang kepadamu. Bagi masing-masing dari kamu Kami telah membuat suatu hukum dan jalan yang jelas. Dan jika Allah menghendaki, ia akan menjadikan kamu satu umat tetapi (Rencana-Nya) adalah untuk menguji kamu tentang yang Dia berikan kepadamu; maka berlomba-lombalah untuk semua yang baik. Kepada Allah kamu semua akan kembali, kemudian Dia akan memberitahu kamu tentang yang padanya dahulu kamu berbeda pendapat.) (versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri)

Sesungguhnya, para pengiman kitab hadis sudah menyadari bahwa kitab hadis mempunyai kelemahan. Hal ini ditunjukkan oleh kepercayaan mereka terhadap keberadaan hadis yang tidak asli. Berdasarkan tingkat keaslian hadis yang dibuat oleh para ahli hadis, hadis dikelompokkan menjadi beberapa tingkatan keaslian, yaitu, dari yang tertinggi ke yang terendah secara berturut-turut, shahih, hasan, dhaif (lemah), dan maudu (palsu atau buatan). Secara umum, klasifikasi tingkatan keaslian hadis tersebut dibuat berdasarkan 3 kriteria, yaitu rantai periwayat hadis (sanad), redaksi atau isi hadis (matan), serta akhlak dan daya ingat periwayat. Jadi, penilaian keaslian kitab hadis tersebut tidak dilakukan dengan cara mengujinya dengan Al Qur’an. Dalam hal ini, para ahli hadis tidak memperhatikan ajaran Allah dalam ayat 5:48.

Bagaimana kita bisa mengetahui bahwa suatu unit informasi hadis bersifat shahih, hasan, dhaif, atau maudu? Caranya, lagi-lagi, ialah hanya dengan percaya pada manusia bukan Rasul Allah yang menilai keaslian hadis. Kita tidak bisa menilai sendiri keaslian hadis. Sudah disampaikan di depan bahwa beriman kepada manusia bukan Rasul Allah adalah tidak diajarkan dalam Al Qur’an. Dengan demikian, percaya pada hadis shahih, hasan, dhaif, atau maudu adalah tidak sesuai dengan ajaran dalam Al Qur’an.

Bagaimana dengan Al Qur’an terjemahan? Penerjemahan Al Qur’an memang dapat menjadi masalah jika penerjemahnya tidak bisa menerjemahkannya dengan baik. Terjemahan yang baik adalah jika informasinya sama dengan yang asli. Oleh karena itu, yang dimaksud dengan beriman kepada Al Qur’an adalah beriman kepada Al Qur’an yang asli, yaitu yang berbahasa Arab. Al Qur’an terjemahan hanyalah sebagai alat untuk mempelajari Al Qur’an sehingga tidak boleh diimani. Penulis juga menyadari bahwa penggunaan Al Qur’an terjemahan dalam blog ini merupakan suatu kelemahan. Walaupun demikian, penggunaan Al Qur’an terjemahan adalah suatu cara terbaik bagi orang-orang yang ingin mempelajari Al Qur’an tetapi buta bahasa Arab.

PENUTUP

Demikianlah evaluasi keimanan yang dapat dilakukan. Makalah ini akan direvisi jika terjadi perubahan persepsi pada diri penulis.