Sabtu, 19 Oktober 2013

HARTA DAN ANAK-ANAK SEBAGAI COBAAN

PENDAHULUAN
Semua orang menginginkan harta dan anak. Bisa dikatakan, kehidupan manusia tidak bisa lepas dari persoalan harta dan anak. Bagaimana Al Qur’an mengajarkan kita tentang cara bersikap terhadap harta dan anak? Makalah ini ditulis untuk membahasnya.

HARTA, ANAK,  DAN SYAITAN
Harta adalah segala sesuatu yang dimiliki. Dengan demikian, harta dapat berupa benda nyata seperti rumah, mobil, anak, isteri, dan uang, dan dapat pula berupa benda tidak nyata seperti kedudukan, kehormatan, dan harga diri. Anak adalah keturunan manusia dari pasangan seorang ayah dan seorang ibu atau orang yang dipungut sebagai anak oleh seseorang. Walaupun demikian, arti harta dapat bervariasi. Dalam frase harta dan anak-anak, yang dimaksud dengan harta di sini adalah segala sesuatu yang dimiliki selain anak-anak. Dalam frasa harta, anak-anak dan isteri, yang dimaksud dengan harta di sini adalah segala sesuatu yang dimiliki selain anak-anak dan isteri.

Perkara harta dan anak-anak sudah teridentifikasi sejak penciptaan manusia pertama. Ayat 17:62 sampai 17:64 menjelaskan hal tersebut.

17:62. Dia (iblis) berkata: "Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil." (versi Depag. RI)

17:63. Tuhan berfirman: "Pergilah, barangsiapa di antara mereka yang mengikuti kamu, maka sesungguhnya neraka Jahannam adalah balasanmu semua, sebagai suatu pembalasan yang cukup. (versi Depag. RI)

17:64. Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaitan kepada mereka melainkan tipuan belaka. (versi Depag. RI)

Ayat-ayat di atas menerangkan bahwa sejak penciptaan manusia pertama, syaitan bertekad untuk menyesatkan manusia sehingga semuanya masuk neraka. Dalam ayat 17:64, Allah memberi ijin syaitan untuk menggoda manusia dengan segala cara, termasuk menggoda manusia melalui harta dan anak-anak. Ayat tersebut sesungguhnya memberi tahu manusia bahwa syaitan akan menggoda manusia melalui harta dan anak-anak. Disebutkan dalam ayat tersebut bahwa syaitan akan berserikat atau bersekutu atau berasosiasi dengan harta dan anak-anak. Artinya, di situ ada harta dan anak-anak, di situ ada syaitan.

Walaupun syaitan berserikat dengan harta dan anak-anak, ini tidak berarti bahwa manusia tidak boleh mempunyai harta dan anak-anak. Keinginan memiliki harta dan anak adalah sifat semua manusia. Hanya saja, kita perlu waspada dengan keberadaan syaitan yang menggoda manusia melalui sarana berupa harta dan anak-anak. Ada resiko yang harus dibayar dengan kepemilikan harta dan anak-anak. Resiko ini tidak berhubungan dengan kuantitas kepemilikannya. Maksudnya, yang memiliki harta dan anak-anak banyak dan yang memiliki harta dan anak-anak sedikit juga akan beresiko digoda oleh syaitan melalui harta dan anak-anaknya. Jadi, yang dimaksud dengan syaitan berserikat dengan harta dan anak-anak adalah bahwa harta dan anak-anak digunakan oleh syaitan untuk menggoda semua manusia.

Oleh sebab itu, harta dan anak-anak sesungguhnya adalah suatu cobaan bag manusia (8:28 dan 64:15). Dengan cobaan itu, manusia dapat menjadi sesat (7:155).

8:28. Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. (versi Depag. RI)

64:15. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar. (versi Depag. RI)

7:155. Dan Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk (memohonkan taubat kepada Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan. Maka ketika mereka digoncang gempa bumi, Musa berkata: "Ya Tuhanku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami? Itu hanyalah cobaan dari Engkau, Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki. Engkaulah Yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkaulah Pemberi ampun yang sebaik-baiknya." (versi Depag. RI)

Contoh orang yang tergoda pertama kali oleh syaitan adalah Adam (20:121). Harta yang dijadikan sarana untuk menggoda adalah buah pohon yang dijelaskan dalam ayat tersebut. Dalam hal ini, Adam ingin memiliki harta berupa buah pohon itu. Setelah termakan godaan syaitan, Adam menjadi orang sesat. Kenudian, ia bertobat dan diberi petunjuk oleh Allah sehingga tidak sesat lagi  (20:122).

20:121. Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia. (versi Depag. RI)

20:122. Kemudian Tuhannya memilihnya maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk. (versi Depag. RI)

PENUTUP
Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu waspada terhadap potensi godaan syaitan yang berasosiasi dengan harta dan anak. Jangan sampai kita berbuat dosa gara-gara harta dan anak-anak karena harta dan anak-anak hanyalah perhiasan kehidupan dunia (18:46).

18:46. Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. (versi Depag. RI)


Makalah ini akan direvisi jika terjadi perubahan persepsi pada diri penulis.