Jumat, 28 Februari 2014

TANGGAPAN UNTUK SANG PENCERAMAH TV

Suatu hari, ada seorang peserta pengajian di sebuah stasiun tv bertanya tentang pengajian yang hanya membahas Al Qur’an saja. Penceramah dalam pengajian tersebut kemudian menjelaskan bahwa pengajian seperti itu adalah salah. Dalam menjawabnya, penceramah tersebut menjelaskan bahwa peseeta pengajian yang hanya menggunakan Al Qur’an saja tidak akan bisa menjelaskan cara shalat. Si penanya kemudian terlihat puas dengan jawaban penceramah tersebut.

Sepintas lalu, jawaban penceramah tersebut memang tampak masuk akal. Memang benar, tidak ada penjelasan dalam Al Qur’an tentang cara shalat seperti yang dikerjakan oleh sebagian besar orang beragama islam sampai sekarang ini. Oleh sebab itu, wajar apabila peserta pengajian tersebut kemudian merasa puas dengan jawaban pemberi ceramah. Akan tetapi, penulis tidak puas dengan jawaban penceramah tersebut. Oleh sebab itu, makalah ini ditulis.

Cara menjawab pertanyaan tersebut tidak layak bagi orang tokoh agama islam yang mengaku beriman kepada Al Qur’an. Seharusnya, penceramah tersebut menggunakan ayat-ayat Al Qur’an ketika menjawab pertanyaan tersebut. Disebutkan dalam Al Qur’an bahwa kita diperintahkan memutuskan perkara dengan wahyu Allah (5:44; 5:47; 5:48; 5:49; dan 4:105). Perlu diingat bahwa yang ditanyakan dalam pengajian tersebut adalah sebuah perkara sehingga harus dijawab dengan menggunakan wahyu Allah yang ada dalam Al Qur’an. Tampaknya, penceramah tersebut merasa sangat percaya diri atau meremehkan peserta pengajian tersebut sehingga tidak mau bersusah payah dalam menjawab pertanyaan tersebut.

5:44. Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (versi Dep. Agama RI)

5:47. Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah didalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik. (versi Dep. Agama RI)

5:48. Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu, (versi Dep. Agama RI)

5:49. dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. (versi Dep. Agama RI)

4:105. Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat, (versi Dep. Agama RI)

Sebenarnya, dengan menganggap bahwa pengajian yang hanya menggunakan Al Qur’an saja adalah salah, penceramah tersebut sudah menyalahkan Al Qur’an. Al Qur’an menyatakan bahwa orang yang mengikuti petunjuk Allah tidak akan sesat (20:123)). Al Qur’an adalah petunjuk Allah bagi manusia (2:185). Jadi, sangat jelas sekali bahwa mengikuti petunjuk Allah berupa Al Qur’an adalah dibenarkan oleh Allah dan tidak akan menyebabkan orang menjadi tidak sesat..

20:123. Allah berfirman: "Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. (versi Dep. Agama RI)

2:185. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (versi Dep. Agama RI)

Bagaimana dengan anggapan bahwa petunjuk Allah dalam Al Qur’an bersifat umum? Anggapan bahwa petunjuk Allah dalam Al Qur’an bersifat umum adalah tidak berdasar. Tidak ada satu ayat pun dalam Al Qur’an yang menyebutkan bahwa Al Qur’an adalah petunjuk umum. Tuhan hanya satu sehingga petunjuk Allah juga hanya satu. Tidak ada istilah petunjuk Allah umum atau petunjuk Allah khusus. Yang ada hanya petunjuk Allah. Titik.

Yang dimaksud oleh pencermah tersebut dengan cara shalat adalah cara shalat yang dirangkum berdasarkan informasi yang ada dalam kitab-kitab hadis. Artinya, orang yang tidak shalat dengan cara seperti yang ada dalam kitab-kitab hadis dianggap sesat olehnya. Dengan kalimat lain, penceramah tersebut berpendapat bahwa orang yang tidak beriman kepada kitab hadis akan sesat. Di sinilah letak persoalannya. Cobalah kita tenangkan hati dan kemudian merenungkannya. Sudah dijelaskan bahwa orang yang mengikuti petunjuk Allah tidak akan sesat (ayat 20:123). Mengapa sekarang ada orang yang menyatakan sesat kepada orang yang tidak mengikuti kitab hadis? Bukankah kitab hadis bukan petunjuk Allah? Dari sini, kita bisa merasakan ada sesuatu yang berbahaya, yang mungkin tidak disadari oleh banyak orang. Orang yang menyatakan sesat kepada orang yang tidak mengikuti kitab hadis adalah mereka yang menganggap kitab hadis sebagai petunjuk Allah. Alasannya, orang yang mengikuti petunjuk Allah tidak akan sesat. Artinya, orang yang tidak mengikuti petunjuk Allah akan sesat. Dengan demikian, kitab hadis telah dianggap sebagai petunjuk Allah karena orang yang tidak mengikuti kitab hadis dianggap sesat. .Jadi, mereka mempunyai dua petunjuk Allah, yaitu Al Qur’an dan kitab hadis.

Sekarang, benarkah kitab hadis adalah petunjuk Allah? Jelas bahwa kitab hadis adalah bukan petunjuk Allah. Ditinjau dari definisinya saja kita bisa mengetahui bahwa kitab hadis berisi informasi yang dianggap sebagai perkataan, perbuatan, dan sikap Nabi Muhammad. Dapat dikatakan bahwa kitab hadis telah dianggap sebagai petunjuk Nabi Muhammad. Artinya, Nabi Muhammad telah dianggap sebagai Tuhan karena petunjuk Nabi Muhammad dianggap sama dengan petunjuk Allah. Inilah bahaya yang terjadi. Bukankah ini suatu bentuk kemusyrikan?

Mungkin ada yang berkilah bahwa yang ada dalam kitab hadis adalah berdasarkan wahyu Allah? Argumen seperti ini akan disampaikan oleh orang-orang yang menganggap Nabi Muhammad tidak menyampaikan semua wahyu Allah. Orang yang beriman kepada Nabi Muhammad harus percaya bahwa semua wahyu Allah telah disampaikan kepada semua manusia, sekali lagi kepda semua manusia, dalam kitab Al Qur’an. Perlu disampaikan juga bahwa tidak mungkin Nabi Muhammad menyampaikan wahyu Allah kepada sejumlah oramg di seklilingnya dan kemudian wahyu Allah tersebut disampaikan kepada orang lain secara dari telinga ke telinga. Petunjuk Allah adalah untuk semua manusia (2:185), yang mencakup manusia sejak jaman Nabi Muhammad sampai sekarang dan masa yang akan datang di seluruh permukaan bumi. Oleh sebab itu, petunjuk Allah harus ada dalam sebuah kitab, yaitu Al Qur’an, yang dapat dibaca manusia di segala tempat dan pada segala waktu. Dengan membaca Al Qur’an, orang akan seperti mendengar wahyu Allah yang disampaikan oleh Nabi Muhammad. Perlu diingat bahwa Nabi Muhammad adalah Rasul Allah yang wajib diimani.

Berita tentang Nabi Muhmaad yang didengar dari telinga ke telinga tidak bisa dijadikan pegangan karena kita tidak bisa melakukan klarifikasi kepada Nabi Muhammad. Jika akan dijadikan pegangan, kita harus beriman kepada orang yang menyampaikan berita tersebut, yang sudah pasti bukan Rasul Allah. Padahal, kita hanya diperintahkan agar beriman kepada Rasul Allah (64:8). Artinya, beriman kepada selain Rasul Allah adalah suatu dosa.

64:8. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada cahaya (Al-Qur’an) yang telah Kami turunkan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (versi Dep. Agama RI)

Orang yang hanya mengaji Al Qur’an saja juga tidak perlu khawatir karena orang yang mengikuti petunjuk Allah tidak perlu khawatir dan bersedih hati. Jika kita masih merasa khawatir dan bersedih hati karena hanya mengaji Al Qur’an saja, kita justru akan berdosa karena dapat dianggap telah mendustakan ayat (2:38).

2:38. Kami berfirman: "Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (versi Dep. Agama RI)

Jika ada yang mengatakan sesat kepada orang hanya karena mengaji Al Qur’an saja, orang tersebut dapat mengikuti yang dperintahkan Allah kepada Nabi Muhammad ketika dituduh sesat. Ayatnya adalah sebagai berikut (34:50).

34:50. Katakanlah: "Jika aku sesat maka sesungguhnya aku sesat atas kemudharatan diriku sendiri; dan jika aku mendapat petunjuk maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat." (versi Dep. Agama RI)

Yang mengikuti orang yang menyatakan sesat kepada orang yang hanya mengaji Al Qur’an saja banyak jumlahnya. Bahkan, di Indonesia, pengikutnya adalah mayoritas penduduk. Walaupun demikian, orang yang hanya mengaji Al Qur’an saja dapat menghibur diri dengan ayat 12:103; 12:106: dan 17:162). Seharusnya, ayat-ayat tersebut perlu dijadikan renungan bagi kelompok mayoritas. Bukankah menjadi mayoritas justeru mengkhawatirkanr?

12:103. Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman - walaupun kamu sangat menginginkannya-.(versi Dep. Agama RI)

12:106. Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain). (versi Dep. Agama RI)

17:62. Dia (iblis) berkata: "Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil." (versi Dep. Agama RI)

Bagaimana orang bisa mengetahui cara shalat dalam Al Qur’an? Sudah dijelaskan dalam blog ini bahwa waktu dan cara shalat juga ada dalam Al Qur’an. Implementasi cara shalat yang dijelaskan dalam Al Qur’an memang berpotensi melahirkan variasi cara shalat. Variasi cara shalat bukanlah suatu masalah sepanjang cara shalat tersebut berdasarkan petunjuk Allah dalam Al Qur’an. Artinya, cara shalat yang mengikuti petunjuk Allah tidak akan membuat orang menjadi sesat. Sudah dijelaskan bahwa orang yang mengikuti petunjuk Allah tidak akan sesat.

Jika dipikir-pikir, apakah cara shalat para Rasul Allah sama? Tidak ada penjelasan tentang hal ini dalam Al Qur’an. Jika mereka hidup pada waktu yang sama, apakah cara shalat mereka seragam? Rasa-rasanya, cara shalat mereka akan bervariasi dan itu tidak akan menjadi masalah. Jadi, jika kita mempunyai cara shalat berbeda karena mengikuti petunjuk Allah dalam Al Qur’an, tidak perlu ada yang dipermasalahkan.

Penulis kemudian teringat pada para Rasul Allah sebelum Nabi Muhammad. Mengapa di dalam Al Qur’an tidak ada informasi tentang kitab hadis Isa dan kitab hadis Musa? Apakah orang pada jaman dahulu tidak bisa mengamalkan ajaran dalam kitab Injil dan kitab Taurat karena tidak ada kitab hadis Isa dan kitab hadis Musa? Tentu saja, bisa. Bagi penulis, ini merupakan bukti bahwa kitab hadis para Rasul Allah memang tidak pernah ada. Bukti tersebut diperkuat lagi dengan kesaksian Nabi Muhammad pada hari kiamat kelak. Dalam kesaksiannya, Nabi Muhammad hanya akan menyebutkan satu kitab saja, yaitu Al Qur’an (25:29 dan 25:30).

25:29. Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia. (versi Dep. Agama RI)  

25:30. Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan." (versi Dep. Agama RI)   

Demikianlah tanggapan penulis terhadap jawaban penceramah di sebuah stasiun televisi. Barangkali, sang tokoh penceramah tersebut tidak akan pernah membaca makalah ini. Tidak ada maksud tertentu dengan penulisan makalah ini selain untuk saling ingat-mengingatkan. Jika ada perubahan persepsi pada diri penulis, makalah ini akan direvisi.