Senin, 31 Maret 2014

DWI TUNGGAL

PENDAHULUAN
Dwi tunggal berarti sama dengan dua tetapi satu atau dua yang tidak terpisahkan. Yang dimaksudkan dalam makalah ini dengan dwi tunggal adalah bahwa antara Allah dan Nabi Muhammad dianggap tidak terpisahkan. Gejala dwi tunggal sudah teramati di sekitar kita.. Gejala ini sesungguhnya sangat mencemaskan karena ini merupakan bentuk perbuatan mempersekutukan Allah yang sangat nyata. Makalah ini ditulis untuk mengungkap gejala dwi tunggal tersebut.

GEJALA DWI TUNGGAL
Kaligrafi memang hanya tulisan. Jika tulisan tersebut dibaca, orang yang membacanya akan menyebut yang tertulis, baik secara lisan maupun secara dalam hati saja. Demikian halnya dengan yang terjadi pada kaligrafi Allah dan kaligrafi Muhammad yang terpasang pada sejumlah masjid. Orang yang membaca kaligrafi-kaligrafi tersebut akan menyebut Allah dan Muhammad baik hanya dalam hati saja atau secara lisan. Sebenarnya, pemasangan kedua kaligrafi di masjid menggambarkan persepsi pengelola masjid bahwa menyebut nama Allah dan nama selain Allah secara bersama-sama di masjid adalah tindakan yang dibenarkan. Persepsi pengelola masjid tersebut mencerminkan persepsi sebagian besar orang beragama islam. Berikut ini adalah contoh masjid yang di dalamnya terdapat kedua kaligrafi tersebut.


                                     


Penyebutan nama Allah dan nama Muhammad secara bersama-sama juga dilakukan ketika orang shalat di masjid. Shalat seseorang dianggap tidak sah oleh sebagian besar orang beragama islam jika tidak menyebut nama Allah dan nama Muhammad ketika shalat. Benarkah tindakan menyebut nama Allah dan nama Muhammad secara bersama-sama di masjid? Ayat-ayat berikut ini menjawab pertanyaan tersebut.

72:18. And that the masajid are for Allah, so do not call upon anyone with Allah. (Dan masjid-masjid adalah milik Allah, maka janganlah menyebut siapapun bersama-sama dengan Allah.) (versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri)

72:18 'And that (E) the mosques (are) to God, so do not call anyone with God.' (Dan bahwa masjid-masjid adalah untuk Allah, maka janganlah menyebut siapapun bersama-sama dengan Allah). (versi Muhamed dan Samira Ahmed)

72:18. Masjid-masjid adalah kepunyaan Allah; maka janganlah seru, berserta Allah, barang siapa pun. (versi Othman Ali)

072.018 "And the places of worship are for Allah (alone): So invoke not any one along with Allah; (Dan tempat untuk sembahyang adalah untuk Allah (semata): Maka janganlah menyebut siapapun bersama-sama dengan Allah (versi Abdullah Yusuf Ali)

Ayat 72:18 terjemahan di atas memperlihatkan bahwa menyebut Allah dan selain-Nya di masjid adalah dilarang. Oleh karena itu, menyebut nama Allah dan nama Muhammad secara bersama-sama ketika shalat adalah merupakan suatu kesalahan. Bahkan, Allah sendiri sudah menyatakan dengan tegas bahwa tidak ada Tuhan selain Dia dan orang diperintahkan shalat untuk mengingat Allah (20:14). Mengingat Allah berarti hanya mengingat Allah saja karena Allah hanya satu.

20:14. Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (versi Dep. Agama RI)

Dapat diutarakan di sini bahwa tindakan menyebut nama Allah dan nama Muhammad secara bersama-sama di masjid merupakan bentuk penyimpangan ajaran Al Qur’an. Mengapa hal tersebut dilakukan walaupun bertentangan dengan Al Qur’an? Jawabannya adalah karena mereka mempunyai dua kitab, yaitu Al Qur’an dan kitab hadis. Al Qur’an diposisikan sebagai kitab yang berisi ajaran Allah dan kitab hadis dianggap berisi ajaran Nabi Muhammad (Rasul Allah). Kedua ajaran tersebut dianggap tidak terpisahkan. Yang tidak beriman kepada salah satu ajaran tersebut akan dianggap sesat. Dengan demikian, dapat diartikan bahwa ajaran Allah dan ajaran Nabi Muhammad dianggap sebagai dua ajaran yang tidak terpisahkan. Ini menegaskan keberadaan persepsi sebagian besar orang beragama islam bahwa Allah dan Muhammad adalah dua yang tidak terpisahkan (dwi tunggal).

Jika tidak demikian halnya (mereka dianggap bukan dwi tunggal), tentu akan hanya ada satu ajaran saja yang dijadikan pegangan oleh mereka, yaitu ajaran Allah atau akan hanya ada satu kitab saja, yaitu Al Qur’an, karena Tuhan hanya satu. Di pihak lain, jika ajaran Nabi Muhammad, yang katanya tertulis di kitab hadis, adalah sama dengan ajaran Allah, tentu orang akan meyebutnya sebagai ajaran Allah dan tidak ada istilah ajaran Rasul (Nabi Muhammad).

PENUTUP
Orang yang memegang konsep dwi tunggal tidak pernah merasa berbuat kesalahan. Mereka sangat percaya bahwa Tuhan hanya satu, yaitu Allah. Mereka juga sangat percaya bahwa Nabi Muhammad adalah bukan Tuhan melainkan hanya Rasul/Utusan Allah. Dengan kepercayaan semacam itulah mereka yakin bahwa mereka tidak berbuat kemusyrikan. Tentu saja, kesalahan tersebut tidak akan terlihat selama mereka menggunakan dua kitab dan dua ajaran. Kesalahan tersebut akan terlihat jika mereka hanya menggunakan satu kitab saja, yaitu Al Qur’an. Ayat 43:37 membenarkan gejala orang-orang yang disesatkan oleh syaitan tetapi merasa mendapat petunjuk. Orang yang merasa mendapat petunjuk tidak akan atau enggan merubah keimanannya dan bahkan akan berbalik menyalahkan orang yang mencoba mengingatkannya.                        


43:37. Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. (versi Dep. Agama RI)