Senin, 30 Juni 2014

ADAM DARI LUAR BUMI?

PENDAHULUAN
Kali ini penulis akan mencoba mengungkap asal manusia dengan menggunakan informasi yang ada dalam Al Qur’an. Sebelumnya, penulis punya persepsi bahwa manusia adalah keturunan manusia pertama bernama Adam yang diusir dari surga dan kemudian diturunkan ke bumi setelah melanggar larangan Tuhan. Persepsi seperti itu berkembang menjadi spekulasi bahwa manusia mungkin keturunan makhluk dari luar bumi atau sering disebut dengan makhluk angkasa luar. Benarkah persepsi tersebut? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penulis akan mengaji ayat-ayat Al Qur’an terjemahan.

TEMPAT TINGGAL ADAM DAN ISTERINYA
Allah sebenarnya sudah merencanakan akan menciptakan manusia yang tinggal di bumi (2:30). Disebutkan dalam ayat tersebut bahwa manusia akan dijadikan sebagai khalifah.

2:30. Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (versi Dep. Agama RI)

Apa arti khalifah? Untuk menjawabnya, arti akar kata menurut project root list yang ada di http://www.studyquran.co.uk/PRLonline.htm digunakan. Kutipan sebagian arti akar kata kh-lam-fa yang dianggap sesuai ditampilkan berikut ini.

“Kh-Lam-Fa = To follow/come after/succeed another, substitute or supersede, to supply/be a supplier to someone, to restore or replace a thing to someone, smite or strike from behind, yearn towards other than one's spouse (in the spouses absence/behind his or her back), speak of/mention someone behind his or her back, remain behind/not go forth, to be kept back from all good, to not prosper or be successful, to become corrupt or altered for the worse, retire/withdraw/go away, to turn away from/avoid/shun a thing, to become foolish/idiotic/deficient in intellect, contrarious/hard in disposition, to leave behind, to appoint someone as successor, disagree with or differ from someone, contradict or oppose someone, to break/fail to perform a promise, to follow reciprocally/alternate/interchange, repeatedly move to and fro (coming and going), to differ/ be dissimilar

khalifah n.m. (pl. khala'if) 2:30, 6:165, 7:69, 7:74, 10:14, 10:73, 27:62, 35:39, 38:26”

Tampak bahwa akar kata kh-lam-fa mempunyai arti yang bervariasi. Dari sekian banyak arti akar kata tersebut, yang sesuai dengan konteks kandungan pesan dalam 2:30 menurut penulis adalah mengikuti (to follow/come after/succeed another). Sebagai kata benda, khalifah berarti yang mengikuti. Yang mengikuti siapa? Menurut penulis, jawabannya adalah yang mengikuti Allah. Jadi, kalifah berarti yang mengikuti Allah atau pengikut Allah.

Pernyataan malaikat dalam ayat 2:30 menegaskan penafsiran tersebut. Diceritakan dalam ayat tersebut bahwa malaikat menanyakan alasan Allah akan menciptakan manusia sedangkan para malaikat senantiasa patuh mengikuti semua kehendak Allah. Maksudnya, mengapa Allah ingin mencipta pengikut baru berupa manusia sedangkan Allah sudah mempunyai pengikut yang setia yaitu para malaikat?

Selain itu, penggunaan kata seorang di depan kata khalifah juga tidak tepat karena yang diciptakan pada saat itu adalah dua orang, yaitu Adam dan isterinya. Selain itu, kenyataannya, sekrang ini, ada banyak manusia di bumi. Menurut penulis, yang tepat adalah satu khalifah. Maksudnya, manusia termasuk salah satu khalifah.

Perlu disampaikan kembali bahwa manusia memang direncanakan akan bertempat tinggal di bumi. Ini menepis anggapan penulis sebelumnya bahwa keberadaan manusia di bumi adalah sebagai hukuman terhadap manusia pertama (Adam dan isterinya) karena melanggar perintah Allah. Jadi, tanpa melakukan pelanggaran terhadap perintah Allah pun, manusia akan tinggal di bumi.

Manusia pertama yang bernama Adam ditemani oleh seorang isteri (7:19). Setelah diciptakan, Adam dan isterinya di tempatkan di surga. Perlu diperhatikan bahwa sejak diciptakan, mereka telah menjadi suami-isteri. Ini merupakan petunjuk bahwa mereka diciptakan sudah dalam keadaan dewasa.

7:19. (Dan Allah berfirman): "Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan isterimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim." (versi Dep. Agama RI)

Surga mungkin seperti kebun yang sangat nyaman sebagai tempat tinggal. Perlu diketahui bahwa jannah yang diterjemahkan menjadi surga dapat pula berarti kebun (garden). Oleh sebab itu, dapat dikatakan bahwa surga adalah suatu kebun yang nyaman untuk tempat tinggal. Kutipan arti akar kata jim-nun-nun dari project root list di http://www.studyquran.co.uk/PRLonline.htm adalah sebagai berikut.

“Jiim-Nun-Nun (root of jinn) = veiled/concealed/covered/hid/protected (e.g. cloth, armour, grave, shield), invisible, become dark/posessed, darkness of night, bereft of reason, mad/insane/unsound in mind/intellect, confusedness.
Become thick/full-grown/blossom, herbage, garden.
Spiritual beings that conceal themselves from the senses (including angels), become weak and abject, greater part of mankind, devil/demon, people who are peerless having no match or equal, a being who is highly potent, sometimes refers to Kings because they are concealed from the common folk”

Gambaran keadaan surga tempat tinggal Adam dan isterinya diterangkan dalam 20:118 dan 20:119. Surga tempat tinggal mereka adalah suatu kebun yang penghuninya tidak akan kelaparan, tidak akan kehausan, tidak akan kepanasan, dan tidak akan telanjang.

20:118. Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang, (versi Dep. Agama RI)

20:119. dan sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya." (versi Dep. Agama RI)

Frase tidak akan telanjang dalam terjemahan 20:118 perlu dibahas lebih lanjut. Menurut penulis, telanjang yang dimaksud adalah bukan seperti keadaan tidak berbaju seperti pengertian telanjang yang dianut oleh kita sekarang ini. Pada waktu itu, tidak ada teknologi membuat baju. Menurut penulis, frase tersebut bermakna tidak ada hasrat untuk berhubungan seks yang dapat menyebabkan mempunyai anak. Dengan demikian, walaupun tanpa baju, mereka tidak berpikir untuk berbuat porno atau berhubungan seks.

Di samping itu, keadaan tidak telanjang yang dikategorikan sebagai sebuah kenikmatan juga menarik untuk dibahas. Tidak telanjang berarti tidak berhubungan seks. Artinya, berhubungan seks bukanlah suatu kenikmatan di surga. Padahal, dalam kehidupan sekarang ini, berhubungan seks termasuk sebagai suatu jenis kenikmatan. Mungkin benar bahwa tidak berhubungan seks merupakan suatu kenikmatan karena aktivitas tersebut sesungguhnya terjadi karena hanya dorongan nafsu saja. Jika nafsu seks tidak ada, orang tidak akan berpikir tentang hal-hal yang berhubungan dengan seks. Jika semua orang tidak mempunyai nafsu seks, orang tidak kawin adalah orang yang normal. Sebaliknya, orang yang kawin justeru dianggap sebagai orang tidak normal. Yang terjadi di dunia sekarang adalah bahwa orang mempunyai nafsu seks sehingga jika tidak tersalurkan akan menjadi suatu penderitaan. Oleh sebab itulah, penyebutan tidak telanjang sebagai suatu kenikmatan menjadi hal yang menarik untuk direnungkan. Mungkin saja, seorang laki-laki yang masuk surga dan ditemani oleh isteri yang cantik berupa bidadari juga tidak akan berhubungan seks seperti yang dialami Adam dan isterinya sebelum tergoda oleh syaitan.

Surga itu mungkin berada di tempat yang relatif tinggi sehingga udaranya cukup sejuk. Mungkin juga, mereka tinggal di bawah naungan pohon-pohon buah-buahan yang rindang sehingga tidak terkena sinar matahari secara langsung. Di surga itu, mungkin ada sungai yang mengalir terus, yang dapat menghidupi tumbuhan dan binatang, termasuk Adam dan isterinya.

Apakah pembaca memperhatikan kata matahari dalam terjemahan 20:119? Bagi penulis, matahari yang dimaksud adalah matahari yang sama dengan yang dapat kita lihat hari ini. Sudah disampaikan di muka bahwa Allah akan membuat manusia di bumi (2:30). Oleh sebab itu, sangat masuk akal jika penulis berpendapat bahwa Adam dan isterinya tinggal di suatu kebun yang ada di bumi.

Anggapan bahwa bumi tempat tinggal Adam dan isterinya adalah bukan bumi yang kita diami sekarang ini mungkin berasal dari perintah turun dari surga setelah mereka melanggar larangan Allah. Setelah melanggar perintah Allah, Adam dan isterinya mendapat sejumlah ketetapan dari Allah. Ketetapan tersebut tercantum dalam ayat berikut ini.

20:123. Allah berfirman: "Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. (versi Dep. Agama RI)

Banyak orang menafsirkan 2:123 bahwa Adam dan isterinya diturunkan dari surga yang ada di langit yang berada di atas. Kelihatannya, penafsiran seperti itu masuk akal. Akan tetapi, jika dikaji secara seksama dengan pikiran jernih, penafsiran itu akan tampak keliru.

Perlu diperhatikan bahwa kata turunlah dan diturunkan adalah berbeda. Kata turunlah bermakna bahwa yang diperintah dapat bergerak turun secara mandiri. Kata diturunkan bermakna bahwa yang bergerak turun bersifat pasif, mengikuti kemauan pihak lain yang menurunkan. Dalam hal ini, kata yang digunakan adalah turunlah. Dengan demikian, Adam dan isterinya akan bergerak ke tempat yang lebih rendah secara mandiri.

Jika Adam dan isterinya dianggap tinggal di suatu kebun yang ada di langit, mereka akan melihat bumi berada di atas. Yang terlihat oleh mereka jika bergerak turun atau melihat ke bawah adalah tanah tempat berpijak. Artinya, jika bergerak turun, mereka tidak akan sampai ke bumi yang ada di atas mereka. Agar sampai ke bumi, mereka harus bergerak ke atas. Oleh sebab itu, anggapan bahwa surga tempat tinggal Adam dan isterinya berada di langit adalah tidak benar.

Penafsiran kata turun yang berarti bergerak atau berpindah ke lokasi yang lebih rendah di surga (kebun) yang ada di bumi juga tidak mempunyai arti karena pada hakikatnya mereka tetap tinggal di bumi. Selain itu, pada saat itu hanya ada dua manusia di bumi. Mereka dapat bepergian ke tempat yang mereka inginkan. Jadi, kata turun dalam hal ini bukan berarti bergerak atau berpindah ke tempat yang lebih rendah di bumi.

Terus, apa maksud Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama? Menurut penulis, frase tersebut berarti ketetapan Allah yang berlaku bagi Adam dan isterinya bahwa sejak saat itu mereka akan mempunyai keturunan. Mereka akan mulai mempunyai anak dari surga tersebut dan kemudian jummlahnya semakin lama semakin banyak. Jika kandungan ayat 20:123 diperhatikan secara teliti, penafsiran tersebut tampak masuk akal. Setelah mereka mempunyai keturunan, keturunan mereka ada yang bermusuhan. Allah juga berpesan kepada mereka bahwa Allah akan memberikan petunjuk kepada keturunannya. Keturunannya yang mengikuti petunjuk-Nya tidak akan akan sesat dan tidak akan celaka.

Walaupun demikian, Adam dan isterinya disebutkan keluar dari surga (7:27). Dijelaskan dalam ayat tersebut bahwa yang dimaksud dengan keluar dari surga adalah perubahan dari keadaan tidak mengerti bagian kemaluan menjadi mengerti bagian kemaluan. Ayat 2:36 juga menerangkan bahwa yang dimaksud dengan keluar adalah perubahan dari keadaan semula. Artinya, mereka tetap tinggal di kebun yang sama, yaitu kebun yang tidak menyebabkan kelaparan, kehausan, dan kepanasan.

7:27 You Adam's sons and daughters, (let) not the devil test/misguide/betray you as/like he brought out your parents from the Paradise, he removes/pulls away from them (B) their (B)'s cover/dress to show them (B)/make them (B) understand their (B)'s shameful genital private parts; that he sees you, he and his group/tribe from where/when you do not see them, that We made the devils guardians/allies to those who do not believe. (Kamu anak laki-laki dan perempuan Adam, janganlah sampai syaitan menjerumuskan kamu seperti ia mengeluarkan kedua orang tuamu dari surga, ia membuang dari mereka penutup mereka untuk membuat mereka mengerti bagian kemaluannya; bahwa mereka melihat kamu, ia dan kelompoknya dari suatu tempat yang kamu tidak melihat mereka, bahwa Kami membuat syaitan teman bagi mereka yang tidak beriman.) (versi Muhamed dan Samira Ahmed)

2:36. Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: "Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan." (versi Dep. Agama RI)

Penulis tidak setuju dengan penafsiran bahwa Adam dan isterinya dikeluarkan dari surga (kebun) dan kemudian tinggal di luar surga (kebun). Yang disebutkan dalam 2:36 adalah dikeluarkan dari keadaan semula. Yang dimaksud dengan keadaan adalah keadaan Adam dan isterinya, bukan keadaan surga (kebun). Jika diartikan keluar secara fisik dan kemudian tinggal di luar surga (kebun), mereka akan kelaparan, kehausan, dan kepanasan dan kemudian akan mati.

Berdasarkan uraian di atas, kita bisa menggambarkan keadaan surga tempat tinggal Adam dan isterinya karena surga tersebut berada di bumi. Bagi orang Indonesia, surga itu mungkin seperti keadaan tanah nusantara pada jaman dahulu. Tidak heran apabila banyak orang jaman dahulu menyebut Indonesia sebagai tanah surga.

PENUTUP
Berdasarkan kajian di atas, penulis berpendapat bahwa surga tempat tinggal Adam dan isterinya berada di bumi yang sama dengan bumi tempat tinggal kita sekarang ini. Manusia tidak berasal dari angkasa luar atau tempat tinggal yang ada di langit. Di bumi itu manusia hidup, mati, dan akan dibangkitkan (7:25).

7:25. Allah berfirman: "Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan. (versi Dep. Agama RI)


Apabila terjadi perubahan persepsi pada diri penulis, makalah ini akan direvisi.