Jumat, 29 Agustus 2014

BADAN ZAKAT

Akhir-akhir ini, banyak lembaga atau badan atau organisasi yang bergerak di bidang penyaluran atau pembagian zakat. Mereka beriklan di televisi bahwa mereka adalah lembaga yang bisa dipercaya untuk menyalurkan atau membagi zakat. Bahkan ada di antaranya yang dibentuk secara resmi oleh pemerintah.

Konon, dasar pembentukan lembaga-lembaga tersebut adalah ayat Al Qur’an. Al Qur’an terjemahan yang digunakan adalah versi Dep. Agama RI. Berikut ini adalah kutipannya.

9:60. Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

9:103. Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Benarkah ayat-ayat tersebut di atas dapat digunakan sebagai dasar pijakan pendirian lembaga-lembaga penyaluran atau pembagian zakat? Makalah ini akan membahasnya.

Penggunaan ayat terjemahan 9:60 dan 9:103 versi Dep. Agama sebagai dasar pendirian badan atau lembaga zakat adalah tindakan yang salah karena terjemahan ayat-ayat tersebut salah. Walaupun seorang buta bahasa Arab, penulis dengan mudah dapat menunjukkan kesalahan tersebut. Untuk menunjukkan hal tersebut, transliterasi kedua ayat tersebut disajikan.

009.060 Innam[a] a(l)[ss]adaq[a]tu lilfuqar[a]-i wa(a)lmas[a]keeni wa(a)lAA[a]mileena AAalayh[a] wa(a)lmu-allafati quloobuhum wafee a(l)rriq[a]bi wa(a)lgh[a]rimeena wafee sabeeli All[a]hi wa(i)bni a(l)ssabeeli faree[d]atan mina All[a]hi wa(A)ll[a]hu AAaleemun [h]akeemun (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

009.103 Khu[th] min amw[a]lihim [s]adaqatan tu[t]ahhiruhum watuzakkeehim bih[a] wa[s]alli AAalayhim inna [s]al[a]taka sakanun lahum wa(A)ll[a]hu sameeAAun AAaleem(un) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

Tampak bahwa yang diterjemahkan menjadi zakat dalam 9:60 dan 9:103 oleh penerjemah Dep. Agama RI adalah a(l)[ss]adaq[a]tu dan [s]adaqatan yang seharusnya diterjemahkan menjadi sedekah.  Jadi, kedua ayat tersebut berbicara tentang sedekah, bukan zakat.

Zakat adalah aktivitas memberikan sedekah kepada golongan orang yang ditetapkan Allah. Zakat hanya bisa dikerjakan atau ditunaikan (Silakan cek arti tunai dalam kanus besar bahasa Indonesia!), bukan diberikan atau disalurkan (2:43). Artinya, yang bisa disalurkan adalah sedekah, bukan zakat. Jadi, istilah penyalur zakat atau pembagi zakat adalah tidak masuk akal. Yang masuk akal adalah penyalur sedekah atau pembagi sedekah. Sebenarnya, sampai di sini kita sudah bisa menjawab bahwa kedua ayat tersebut tidak bisa dijadikan dasar pendirian lembaga zakat. Walaupun demikian, pembahasannya masih perlu dilanjutkan.

2:43. Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku. (versi Dep. Agama RI)

Penggunaan kata ambilah dalam terjemahan 9:103 juga tidak tepat. Kata ambillah menimbulkan kesan seolah-olah ayat tersebut membenarkan cara meminta sedekah secara paksa. Padahal, sedekah harus diberikan secara sukarela dengan hanya mengharapkan rido Allah. Kata yang tepat adalah terimalah. Dalam konteks ayat 9:103, menurut penulis, Rasul Allah diminta untuk menerima sedekah dari orang beriman yang ingin membantu perjuangan Rasul Allah.  Jadi, ayat 9:103 juga tidak bisa membenarkan tindakan petugas yang mengambil sebagain rejeki dari Allah yang diberikan kepada hamba-Nya dengan paksa atau intimidasi.

Barangkali, yang dianggap sebagai pijakan kuat dalam pendirian lembaga zakat oleh adalah keberadaan pengurus-pengurus zakat dalam terjemahan 9:60. Sebenarnya, kata yang diterjemahkan menjadi pengurus-pengurus zakat adalah AA[a]mileena. Benarkah penerjemahan tersebut? Kutipan arti berdasarkan akar kata seperti yang ada dalam project root list di http://www.studyquran.co.uk/PRLonline.htm  ditampilkan untuk menjawabnya.

Ayn-Miim-Lam = to do/make/act/work/operate/perform/construct/manufacture, practice a handcraft, be active, one who does.

pcple. act. 3:136, 3:195, 6:135, 9:60, 11:93, 11:121, 23:63, 29:58, 37:61, 39:39, 39:74, 41:5, 88:3

Kata AA[a]mileena merupakan suatu active pariiciple. Jika dikaitkan dengan orang, artinya bisa menjadi yang melakukan atau yang mengerjakan. Dengan demikian, penerjemahan AA[a]mileena menjadi pengurus-pengurus zakat adalah bersifat tidak obyektif. Darimana asal kata pengurus dan kata zakat itu? Tampaknya, penerjemahnya berusaha mencari pembenaran terhadap persepsi yang dimilikinya. Jadi, AA[a]mileena dalam ayat 9:60 lebih tepat jika diterjemahkan menjadi yang mengerjakan atau yang berkerja.

Siapakah orang yang bekerja yang berhak menerima sedekah? Bukankah orang yang bekerja sudah menerima upah atau honor atau gaji atas pekerjaan yang dilakukannya? Menurut penulis, gaji atau honor atau upah adalah bentuk pembayaran atas jasa yang dilakukannya. Sedekah yang diterima orang yang bekerja adalah sebagian rejeki dari Allah yang diterima oleh orang yang memperkerjakannya. Dengan kalimat lain, karyawan, pegawai, atau buruh berhak mendapatkan sedekah secara pribadi dari bosnya atau yang memberi pekerjaannya.

Seandainya ada yang berdalih bahwa yang dimaksud dengan zakat adalah sedekah dan kemudian meralat istilah badan zakat menjadi badan sedekah, tetap saja ayat 9:60 tidak bisa dijadikan dasar pendirian badan seperti itu. Perlu diingat bahwa sedekah yang diterima orang yang bekerja adalah untuk dirinya, bukan untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang yang berhak menerima sedekah lainnya. Jadi, penggunaan ayat 9:60 sebagai dasar pembentukan pengurus zakat juga merupakan tindakan yang salah.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa tidak ada ayat Al Qur’an yang bisa dijadikan pijakan atas pendirian lembaga/badan zakat atau badan sedekah. Terjemahan Al Qur'an yang keliru sebaiknya segera dilrevisi agar tidak menyesatkan para penggunanya. Jika ada perubahan persepsi pada diri penulis, makalah ini akan direvisi.