Jumat, 31 Oktober 2014

AJARAN MINTA IJIN MASUK KAMAR DALAM SEBUAH KELUARGA

Kali ini penulis ingin membahas sesuatu yang baru bagi penulis, yaitu tentang ajaran meminta ijin dalam sebuah rumah tangga. Penulis merasa tidak pernah mengetahui ajaran tersebut dari sekolah-sekolah, buku-buku, atau media masa. Barangkali, ada juga yang seperti penulis. Bagi penulis, ini adalah suatu masalah penting sehingga perlu dibahas di sini.

Ayat-ayat yang menjelaskan tentang perintah meminta ijin dalam sebuah rumah tangga adalah 24:58 dan 24:59.

24:58 You, you those who believed, those who your rights (hands) owned/possessed (i.e. care-givers under contract), and those who did not reach the puberty/sexual maturity from you should ask for your permission three times, from before the dawn's prayers, and when you put your clothes/garments (on) from the noon/midday, and from after the evening/first darkness prayers, three shameful genital parts (protective times are) for you, an offense/sin is not on you, and nor on them after them (the three times) circling/walking around on you, some of you to some, as/like that God clarifies/shows/explains for you the verses/evidences, and God (is) knowledgeable, wise/judicious. (Kamu, kamu yang beriman, mereka yang tangan-tangan kamu miliki (yaitu pelayan di bawah kontrak), dan mereka yang belum mencapai pubertas/kematangan seksual hendaknya meminta ijin dari kamu sebanyak 3 kali, dari sebelum shalat fajar, dan ketika kamu meletakkan pakaian (pada) dari pertengahan siang hari, dan dari setelah shalat petang, tiga bagian kelamin memalukan (waktu yang melindungi adalah) bagimu, bukan sebagai dosa bagimu, dan juga bukan dosa bagi mereka setelah mereka (tiga waktu tersebut) bercampur dengan kamu, di antara kamu, seperti Allah menerangkan kepadamu ayat-ayat/bukti-bukti-Nya, dan Allah mengetahui segala sesuatu, bijaksana.) (versi Muhamed dan Samira Ahmed)

024.058 Y[a] ayyuh[a] alla[th]eena [a]manoo liyasta/[th]inkumu alla[th]eena malakat aym[a]nukum wa(a)lla[th]eena lam yablughoo al[h]uluma minkum thal[a]tha marr[a]tin min qabli [s]al[a]ti alfajri wa[h]eena ta[d]aAAoona thiy[a]bakum mina a(l){thth}aheerati wamin baAAdi [s]al[a]ti alAAish[a]-i thal[a]thu AAawr[a]tin lakum laysa AAalaykum wal[a] AAalayhim jun[ah]un baAAdahunna [t]aww[a]foona AAalaykum baAA[d]ukum AAal[a] baAA[d]in ka[tha]lika yubayyinu All[a]hu lakumu al-[a]y[a]ti wa(A)ll[a]hu AAaleemun [h]akeem(un) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

24:59 And if the children from you reached the puberty/sexual maturity so they should ask for permission/pardon, as/like those from before them asked for permission/pardon, as/like that God clarifies/shows/explains for you His verses/evidences, and God (is) knowledgeable, wise/judicious. (Dan jika anak-anakmu mencapai kematangan seksual maka mereka hendaknya meminta ijin, seperti mereka dari sebelum mereka yang meminta ijin, seperti Allah menerangkan kepadamu ayat-ayat/bukti-bukti-Nya, dan Allah mengetahui segala sesuatu, bijaksana.) (versi Muhamed dan Samira Ahmed)

Dalam ayat 24:58, ada perintah Allah yang ditujukan kepada orang-orang beriman dewasa agar memerintahkan kepada para budak dan anak-anak belum mencapai kematangan seksual agar meminta ijin kepada mereka (orang-orang beriman dewasa) sebanyak 3 kali, yaitu :
1. pada waktu dari sebelum shalat fajar,
2. pada waktu dari pertengahan siang hari, dan
3. pada waktu dari setelah shalat petang.
Jika diamati, petunjuk tentang waktu tersebut hanya menyebut batas awalnya saja, tanpa menyebut batas akhirnya. Menurut penulis, Allah memberi kelonggaran kepada orang beriman dewasa untuk menentukan sendiri batas waktu akhirnya. Sudah barang tentu, batas waktu tersebut harus disosialisasikan kepada seluruh anggota keluarga lebih dahulu.

Meminta ijin untuk apa? Seperti kita ketahui bahwa orang bisa meminta ijin untuk pergi bermain, keluar kota, atau keluar pada waktu malam. Jawabannya ada pada frasa “bukan sebagai dosa bagimu, dan juga bukan dosa bagi mereka setelah mereka (tiga waktu tersebut) bercampur dengan kamu, di antara kamu”. Jadi, ijin yang dimaksud adalah ijin untuk bercampur dengan orang beriman dewasa. Maksudnya, jika ingin bercampur dengan orang beriman dewasa yang sedang berada di dalam kamar pribadi, para budak dan anak-anak yang belum mencapai kematangan seksual harus meminta ijin. Ijin dapat diberikan dan dapat pula ditolak. Jika ijin diberikan, bercampur dengan orang beriman dewasa tidak berdosa. Jika ijin ditolak, bercampur dengan orang beriman dewasa menjadi perbuatan berdosa. Sebagai tambahan, ayat ini secara implisit menerangkan bahwa dosa anak-anak yang belum mencapai kematangan seksual sudah diperhitungkan.

Mengapa harus ada permintaan ijin? Untuk menjawabnya, kita bahas lebih dahulu penerjemahan frasa “thal[a]thu AAawr[a]tin”. Oleh Muhamed dan Samira Ahmed, frasa tersebut diterjemahkan menjadi “tiga bagian kelamin memalukan. Penulis tidak setuju dengan penerjemahan tersebut karena aurat yang dimaksud berkaitan dengan waktu, bukan tubuh. Yang dijelaskan dalam ayat tersebut adalah 3 waktu agar meminta ijin. Untuk mendapatkan terjemahan yang tepat, penulis menggunakan arti kata Ayn-Waw-Ra yang ada di project root list di http://www.studyquran.co.uk/PRLonline.htm. Sebagian kutipannya adalah sebagai berikut.

Ayn-Waw-Ra = To come within power or reach, to interchange, by turns [such as ascending a pulpit one after another, by turns; whenever one goes another comes after], to ask or seek a loan, weakness, faultiness, unsoundness, badness, foulness, or unseemliness in a thing, disgrace or disfigurement, a gap or opening [thus exposure or exposing a thing]. Anything which is veiled or conceals by reason of disdainful pride, or shame of prudency; anything of which one is ashamed when it appears. This root also refers to the pudendum [or external genital organs] of a human being because it is abominable to uncover and look at them. The parts or part of a person which is indecent to expose. Now this is relative because for the slave women it will be indecent to expose what is between the navel and the knee and of the free women it will be indecent to expose everything except the hands and face. A fault, defect, imperfection or blemish.

Menurut penulis, arti aurat yang cocok adalah ketidakpatutatn dalam sesuatu (unseemliness in a thing). Dalam konteks tersebut, aurat berarti ketidakpatutan dalam tiap-tiap waktu meminta ijin. Ketidakpatutan tersebut dapat mencakup hal-hal yang bersifat pribadi, misalnya sedang berhubungan seks, telanjang, bertengkar, atau berdiskusi masalah rahasia. Dengan demikian, menurut penulis, “thal[a]thu AAawr[a]tin” lebih tepat diterjemahkan menjadi ketidakpatutan dalam 3 waktu meminta ijin. Jadi, permintaan ijin diadakan karena ada ketidakpatutan dalam ketiga waktu tersebut.

Apakah orang beriman dewasa tidak perlu meminta ijin untuk bercampur dengan anggota keluarga yang lain? Ayat 24:59 menegaskan bahwa orang beriman dewasa juga perlu meminta ijin untuk bercampur dengan anggota keluarga yang lain. Hal itu tercermin pada frasa “Dan jika anak-anakmu mencapai kematangan seksual maka mereka hendaknya meminta ijin, seperti mereka dari sebelum mereka yang meminta ijin” Orang yang sudah mancapai kematangan seksual atau pubertas (berarti sudah dewasa) dikenai aturan meminta ijin. Dijelaskan pula dalam frasa tersebut bahwa orang dewasa sebelum mereka (yang sudah mencapai kematangan seksual) juga mengikuti aturan meminta ijin. Selain itu, hal ini juga ditegaskan pada ayat 24:58 pada frasa “bukan sebagai dosa bagimu, dan juga bukan dosa bagi mereka setelah mereka (tiga waktu tersebut) bercampur dengan kamu, di antara kamu”. Dijelaskan bahwa orang beriman dewasa (di sini disebut dengan bagimu) juga akan berdosa jika tidak mengikuti aturan meminta ijin. Dengan demikian, perintah meminta ijin berlaku untuk semua orang beriman tanpa memandang usia dan status.

Di samping itu, frase “bukan sebagai dosa bagimu, dan juga bukan dosa bagi mereka setelah mereka (tiga waktu tersebut) bercampur dengan kamu, di antara kamu” perlu dibahas lagi agar tidak menimbulkan kesalahan persepsi. Frase tersebut tidak boleh diartikan bahwa dalam ketiga waktu yang dijelaskan dalam 24:58 tidak boleh ada pencampuran atau pergaulan di antara anggota keluarga. Pencampuran atau pergaulan di antara anggota keluarga diperbolehkan jika ada perintaan ijin lebih dahulu dan ijin tersebut dikabulkan.

Sebagai penutup, penulis ingin menyampaikan bahwa dalam setiap keluarga orang beriman harus ada aturan meminta ijin tiga kali untuk bercampur atau bergaul di antara anggota keluarga. Permintaan ijin tersebut disampaikan oleh setiap anggota keluarga yang ingin bertemu dengan anggota yang lain yang sedang berada di dalam kamar pribadi. Jika anggota keluarga sedang di ruang keluarga, ijin tersebut tidak diperlukan. Keberadaan di ruang keluarga dianggap sebegai sikap memberi ijin kepada anggota yang lain untuk bertemu. Makalah ini akan direvisi jika ada perubahan persepsi pada diri penulis.