Sabtu, 29 November 2014

ALLAH BERBICARA DENGAN MANUSIA?

Sebelum menulis makalah ini, penulis berpersepsi bahwa Allah pernah berbicara langsung dengan manusia, yaitu Nabi Musa. Persepsi itu terbangun dari cerita-cerita yang pernah penulis baca atau penulis dengar.  Jujur saja, film jaman dulu berjudul The Ten Commandments juga turut membentuk persepsi tersebut. Persepsi tersebut berubah setelah membaca terjemahan ayat 42:51.

42:51. Dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana. (versi Dep.Agama RI)

Dalam ayat 42:51 terdapat informasi bahwa Allah tidak berkata-kata dengan manusia. Berkata-kata sama artinya dengan berbicara (to speak). Definisi berbicara telah dibuat oleh para ahli bahasa. Dari definisi bahasa tersebut dapat disampaikan dengan singkat bahwa berbicara adalah aktivitas menyampaikan informasi dengan lisan atau suara. Jadi, berbicara terdiri dari kompnen suara dan informasi.

Dalam konteks 42:51, yang dimaksud dengan kekecualian adalah bahwa Allah menyampaikan informasi kepada manusia tanpa suara. Artinya, manusia tidak mendengar suara Allah. Yang sampai kepada manusia hanyalah informasi dari Allah ketika komunikasi terjadi. Disebutkan dalam ayat tersebut bahwa ada 3 cara Allah berkomunikasi dengan manusia, yaitu :
1. menyampaikan informasi kepada manusia dengan wahyu,
2. menyampaikan informasi kepada manusia dari belakang hijab (tabir/pemisah), dan
3. menyampaikan informasi kepada manusia melalui seorang Utusan.

Cara ke 2 adalah yang masih perlu dibahas lebih lanjut karena ini berkaitan dengan latar belakang penulisan makalah ini. Tampaknya, inilah yang menjadi dasar sebagian orang untuk berpersepsi bahwa Allah pernah berbicara langsung dengan Nabi Musa. Dalam hal ini, Nabi Musa dianggap mendengar suara Allah tetapi tidak melihat wujudnya karena tertutup oleh suatu tabir. Jika demikian kasusnya (suara Allah terdengar), pada saat itu Allah dianggap berbicara dengan manusia. Perlu diingat bahwa aktivitas berbicara tidak bisa dihalangi karena keberadaan tabir yang memisahkan dua pihak yang sedang berkomunikasi. Kita dapat berbicara dengan orang yang berada dalam sebuah kamar yang pintunya tertutup. Kita juga dapat berbicara melalui telepon walaupun tidak bisa melihat lawan bicaranya. Jadi, penafsiran bahwa Allah berbicara dengan Nabi Musa dalam keadaan terpisah oleh tabir adalah salah karena bertentangan dengan 42:51.

Bagaimana penafsiran yang benar dalam kasus komunikasi antara Allah dan Nabi Musa? Ada baiknya, kutipan terjemahan ayat yang berkaitan dengan kasus tersebut disajikan di sini. Dalam 28:30 dikisahkan bahwa Allah berkomunikasi dengan Nabi Musa dengan cara berkomunikasi dari belakang tabir.

28:30. Maka tatkala Musa sampai ke (tempat) api itu, diserulah dia dari (arah) pinggir lembah yang sebelah kanan(nya) pada tempat yang diberkahi, dari sebatang pohon kayu, yaitu: "Ya Musa, sesungguhnya aku adalah Allah, Tuhan semesta alam. (versi Dep.Agama RI)

Apa tabirnya? Tabirnya adalah berupa pohon yang berada di tempat yang diberkati di pinggir lembah bagian kanan. Dari pohon itulah inforrmasi dari Allah disampaikan kepada Nabi Musa. Dalam ayat tersebut, informasi tersebut adalah "Ya Musa, sesungguhnya aku adalah Allah, Tuhan semesta alam.” Informasi tersebut disampaikan tanpa disertai suara Allah. Bagaimana mekanisme komunikasi yang terjadi pada saat itu? Tidak ada keterangan tentang hal tersebut. Yang jelas, tempat itu diberkati sehingga memungkinkan terjadi komunikasi dari belakang tabir berupa pohon. Dalam komunikasi tersebut, Allah menyampaikan informasi tanpa suara dari belakang tabir berupa pohon kepada Nabi Musa. Apakah pohon itu seperti pohon yang ada di sekitar kita? Tidak ada penjelasan tentang hal itu.

Jadi, Allah tidak berbicara dengan Nabi Musa. Yang terjadi adalah bahwa Allah berkomunikasi dengan Nabi Musa tanpa suara dari tabir berupa benda, yang dalam Al Qur’an disebut sebagai pohon.

Sebagai tambahan, cara ke 3 menarik untuk dibahas. Jika Utusan yang dimaksud adalah Nabi Muhammad (tambahan kata malaikat dalam terjemahan versi Dep. Agama RI hanyalah penafsiran penerjemah), ayat-ayat Al Qur’an adalah informasi dari Allah yang ditujukan kepada manusia melalui seorang Utusan/Rasul bernama Muhammad. Artinya, membaca Al Qur’an adalah suatu cara berkomunikasi dengan Allah. Tentu saja, tujuan membaca tersebut adalah untuk mempelajari informasi yang disampaikan Allah, bukan untuk menghasilkan suara yang merdu atau tujuan-tujuan lainnya. Dengan demikian, penerjemah Al Qur’an sesungguhnya menempati kedudukan penting dalam proses komunikasi antara Allah dan manusia. Sungguh disayangkan jika ada penerjemah Al Qur’an yang dengan sengaja membelokkan arti demi kepentingan kelompok atau sekte.

Demikianlah, makalah yang dapat disampaikan kali ini. Jika ada perubahan persepsi, makalah ini akan direvisi.