Minggu, 18 Januari 2015

AJARAN NENEK MOYANG

Hampir semua orang, termasuk penulis, tidak bisa terbebas dari pengaruh ajaran nenek moyang. Persepsi tentang agama yang dianut seseorang dipengaruhi oleh ajaran yang diterima dari orang tua dan orang yang hidup lebih dahulu. Ajaran tersebut menyatu dengan tradisi yang berkembang di masyarakat. Para guru agama juga menggunakan sumber informasi yang disusun oleh orang-orang yang pernah hidup pada jaman dahulu. Tradisi yang ada menjadi terpelihara karena didukung oleh ajaran para guru agama yang menggunakan informasi dari tulisan para nenek moyang. Jadi, ajaran agama yang berkembang di masyarakat adalah ajaran nenek moyang.

Bolehkah kita menggunakan ajaran agama dari nenek moyang sebagai pedoman hidup? Berikut ini ayat-ayat Al Qur’an yang menjelaskan tentang hal tersebut.

2:170. Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?" (versi Dep. Agama RI)

5:104. Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul." Mereka menjawab: "Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya." Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk? (versi Dep. Agama RI)

Ayat 2:170 dan 5:104 berisi informasi yang sama. Orang-orang di sekitar Rasul Allah diajak untuk mengikuti yang diturunkan Allah tetapi tidak mau dan lebih memilih mengikuti ajaran nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka tidak mempunyai pengetahuan dan mendapat petunjuk. Dalam ayat 5:104 disebutkan frasa “mengikuti Rasul”. Penyebutan frasa “mengikuti Rasul” di sini berarti bahwa mereka diminta agar mengikuti Rasul yang menerima wahyu yang diturunkan kepadanya dalam bentuk Al Qur’an. Dengan kalimat lain, mereka diminta untuk mengikuti yang diturunkan Allah kepada Rasul. Penyebutan frasa “mengikuti Rasul” di sini tidak berarti bahwa ada ajaran Rasul selain yang ada di Al Qur’an yang harus diikuti. Perlu dicermati kembali bahwa ayat 2:170 hanya menyebutkan “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah”. Ini menegaskan bahwa mereka hanya diperintahkan agar mengikuti ajaran Allah yang diturunkan kepada Rasul. Frase “mengikuti Rasul” juga menjelaskan bahwa mengikuti yang diturunkan Allah dilakukan dengan cara mengikuti Rasul.

Sampai di sini dapat disampaikan bahwa kita tidak boleh mengikuti ajaran nenek moyang yang tidak mempunyai pengetahuan dan tidak mendapat petunjuk. Perlu diingat bahwa pengetahuan dan petunjuk terdapat di Al Qur’an. Kita hanya diperintahkan agar mengikuti ajaran Allah yang diturunkan kepada Rasul Allah. Larangan dan perintah tersebut merupakan petunjuk bagi kita dalam menyikapi ajaran yang berkembang di masyarakat. Cara menyikapinya adalah dengan melakukan evaluasi terhadap ajaran nenek moyang untuk mengetahui ajaran nenek moyang yang sesuai dengan Al Qur’an dan tidak sesuai dengan Al Qur’an. Yang sesuai bisa dipakai sedangkan yang tidak sesuai ditinggalkan.

Bagaimana cara mengevaluasi ajaran nenek moyang yang sudah bercampur dengan tradisi masyarakat? Caranya adalah dengan mengevaluasi ajaran-ajaran yang ada dalam kitab-kitab selain Al Qur’an yang dijadikan rujukan atau pedoman. Ajaran dalam kitab selain Al Qur’an yang tidak sesuai Al Qur’an harus ditinggalkan sedangkan yang sesuai dengan Al Qur’an dapat dipakai. Jadi, cara mengevaluasi ajaran nenek moyang adalah dengan mempelajari ajaran dalam Al Qur’an.

Perlu ditambahkan di sini bahwa sebagian besar orang beragama islam menggunakan kitab hadis sebagai pedoman hidup. Kitab hadis berisi informasi tentang perkataan, perbuatan, dan sikap Nabi Muhammad yang diperoleh berdasarkan informasi yang mengalir dari mulut ke mulut. Artinya, Nabi Muhammad tidak mengetahui keberadaan kitab-kitab hadis yang ada sekarang ini. Jadi, kitab hadis adalah ajaran nenek moyang yang berisi tentang perkataan, perbuatan, dan sikap Nabi Muhammad. Ajaran nenek moyang juga ada dalam kitab-kitab selain kitab hadis.

Sebagai ajaran nenek moyang, ajaran dalam semua kitab selain Al Qur’an harus dievaluasi dengan Al Qur’an. Yang sesuai bisa dipakai sedangkan yang tidak sesuai harus ditinggalkan. Perlu dicermati bahwa “bisa dipakai” tidak sama dengan “harus dipakai”. Frasa “bisa dipakai” bermakna suatu hal yang bersifat opsional (pilihan). Artinya, dipakai boleh tetapi tidak dipakai juga boleh. Yang bersifat wajib (tidak bersifat opsional) adalah ajaran yang ada dalam Al Qur’an.

Al Qur’an bukan ajaran nenek moyang karena Nabi Muhammad sebagai Rasul Allah mengetahui semua isi Al Qur’an. Bagi orang beriman, Al Qur’an yang dibaca Rasul Allah adalah sama persis dengan yang dibaca orang pada jaman sekarang. Dengan demikian, kita hanya mengandalkan satu orang untuk menjamin bahwa Al Qur’an berasal dari Allah. Orang tersebut adalah seorang Rasul Allah yang wajib diimani. Jadi, Al Qur’an adalah ajaran Rasul Allah, bukan ajaran nenek moyang.

Ajaran nenek moyang juga berasosiasi dengan kekuasaan. Segala sesuatu yang bersifat mengancam ajaran nenek moyang akan menghadapi banyak tantangan dari penguasa. Hal ini terungkap dalam ayat 10:78. Dijelaskan dalam ayat tersebut bahwa Musa dan Harun yang berusaha merubah ajaran nenek moyang dianggap akan merebut kekuasaan. Oleh sebab itulah, ajaran nenek moyang dipertahankan oleh penguasa.  

10:78. Mereka berkata: "Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya, dan supaya kamu berdua mempunyai kekuasaan di muka bumi? Kami tidak akan mempercayai kamu berdua." (versi Dep. Agama RI)

Para penguasa yang menganut ajaran nenek moyang takut jika ajaran mereka dicek kebenarannya dengan Al Qur’an. Walaupun mengaku beriman kepada Al Qur’an, mereka beranggapan seolah-olah Al Qur’an adalah suatu ancaman bagi mereka. Ini aneh. Mereka benci dengan orang yang hanya mengaji Al Qur’an saja. Mereka ingin agar ajaran nenek moyang dipertahankan walaupun tidak sesuai dengan ajaran Allah dalam Al Qur’an.

Demikianlah, makalah yang dapat dibuat saat ini. Jika ada perubahan persepsi pada diri penulis, makalah ini akan direvisi.