Jumat, 27 Februari 2015

CARA BELAJAR ISLAM YANG BENAR

Ketika kita lahir di dunia, sudah ada banyak agama. Setelah dewasa, kita menyadari bahwa agama yang kita anut ternyata tergantung pada orang tua dan lingkungan. Seiring dengan pertambahan umur, orang akan belajar tentang ajaran-ajaran agama yang dianutnya dengan tujuan untuk mendapatkan tentang ajaran Tuhan yang benar. Sebagian orang beranggapan bahwa belajar agama dari para guru dan buku agama sudah cukup. Kemudian, mereka menjalani kehidupan dunia dan meniti karir dengan penuh percaya diri. Sebagian orang yang lain mengalami pergolakan batin dalam menjalani agama yang dianutnya dan kemudian mengorbankan sebagian hidupnya untuk mengatasinya dengan belajar agama sendiri dari sumber-sumber informasi yang ada. Bagaimana cara belajar agama dengan benar agar bisa mendapatkan ajaran Tuhan yang benar? Makalah ini akan membahas hal tersebut. Sudah barang tentu, agama yang akan dibahas di sini adalah islam. Jadi, makalah ini akan membahas tentang cara belajar islam untuk mendapatkan ajaran Tuhan yang benar.

Dalam dunia ilmu pengetahuan, status kebenaran sesuatu dapat ditentukan berdasarkan logika. Misalnya, apakah 2+3 = 5? Kita akan mengatakan bahwa “2+3 = 5” adalah benar. Siapapun orangnya akan membenarkan bahwa  2+3 = 5 jika logika digunakan.

Kebenaran agama tidak bisa ditentukan dengan logika karena agama berisi ajaran Tuhan yang menciptakan manusia. Agama pada hakekatnya adalah informasi yang berasal dari Tuhan yang menciptakan manusia. Jadi, agama adalah berupa informasi.

Kebenaran informasi ditentukan oleh rasa percaya kepada yang menyampaikan informasi tersebut, bukan pada isi informasi tersebut. Jika kita percaya kepada seorang pembawa informasi, kita akan meyakini bahwa informasi tersebut adalah benar. Walaupun isi informasi adalah salah, kita akan meyakini bahwa informasi tersebut benar jika kita percaya pada pembawa informasi tersebut. Demikian pula, walaupun isi informasi adalah benar, kita akan meyakini bahwa informasi tersebut adalah salah jika kita tidak percaya kepada pembawa informasi tersebut. Oleh sebab itu, kebenaran suatu agama ditentukan oleh rasa percaya kepada yang mengajarkan agama tersebut.

Islam adalah suatu agama. Untuk mengetahui kebenaran ajaran islam, kita harus percaya kepada yang menyampaikan ajaran tersebut. Jika kita belajar islam dari para guru agama islam, kita harus percaya kepada para guru tersebut agar bisa meyakini kebenaran materi yang disampaikannya. Jika belajar islam dari buku agama islam, kita harus percaya kepada penulis buku tersebut agar bisa meyakini kebenaran materi yang disampaikannya. Bolehkah kita percaya kepada guru agama islam dan penulis buku agama islam? Bagaimana jika mereka mengajarkan sesuatu yang salah? Sebelum menjawabnya, kita akan membahas hal berikut ini lebih dahulu.

Belajar langsung kepada Tuhan tentang ajaran-Nya bukan merupakan solusi. Solusi yang lebih realistik adalah belajar langsung kepada orang yang diutus Tuhan untuk menyampaikan ajaran-Nya. Dalam islam, orang yang diutus Tuhan paling akhir adalah Nabi Muhammad. Akan tetapi, Nabi Muhammad telah wafat sehingga kita tidak bisa belajar kepadanya. Oleh karena itu, solusi yang paling tepat adalah mempelajari kitab yang disampaikannya, yaitu Al Qur’an.

Walaupun demikian, ada orang-orang yang belajar tentang ajaran Tuhan kepada Nabi Muhammad melalui riwayat yang disampaikan secara turun-menurun dari mulut ke mulut. Riwayat tersebut didokumentasikan dalam bentuk buku oleh penulis riwayat. Buku tersebut disebut dengan kitab hadis dan penulisnya disebut dengan penulis kitab hadis. Mereka yang mempelajari kitab hadis mengaku merasa seolah-olah sedang belajar ajaran Tuhan kepada Nabi Muhammad secara langsung. Walaupun demikian, kitab hadis dianggap tidak lengkap dan kemudian mereka mempelajari Al Qur’an dan kitab hadis. Cara belajar islam inilah yang dianut oleh sebagian besar orang penganut agama islam. Para guru agama islam dan penulis buku agama islam juga mengajarkan Al Qur’an dan kitab hadis.

Sudah disinggung di depan bahwa belajar tentang ajaran Tuhan dari Al Qur’an adalah tindakan yang benar karena isinya diketahui oleh orang yang bisa dipercaya, yaitu Utusan Tuhan. Bagaimana halnya dengan kitab hadis? Apakah belajar tentang ajaran Tuhan dari kitab hadis adalah tindakan yang benar? Kita nilai lebih dahulu status penulisnya. Apakah penulis kitab hadis termasuk orang yang bisa dipercaya? Perlu diingat kembali bahwa kebenaran informasi tentang ajaran Tuhan ditentukan oleh rasa percaya kepada yang menyampaikannya, bukan logika. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, para pengguna kitab hadis kemudian menilai kepribadian dan akhlak para periwayat dan penulis kitab hadis. Jika kepribadian dan akhlaknya dinilai baik, mereka dianggap bisa dipercaya. Nah, di sini ada persoalan. Bagaimana kita bisa menilai kepribadian dan akhlak mereka sedangkan kita tidak pernah berinteraksi dengan mereka? Bagaimana jika penilaiannya salah karena mungkin saja periwayat yang dinilai adalah orang munafik? Apakah kita boleh percaya kepada penilai keperibadian dan akhlak mereka? Masalah lainnya, pengguna kitab hadis juga menggunakan isi ajaran sebagai dasar. Jika isinya dinilai shahih (sah), isi kitab hadis bisa digunakan. Siapa penilai keshahihan isi kitab hadis? Apakah mereka bisa dipercaya? Pertanyaan tersebut akan terus muncul karena semua didasarkan pada asumsi. Satu-satunya jalan untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan mencari tahu orang-orang yang diperbolehkan untuk dipercaya menyampaikan ajaran-Nya dalam Al Qur’an, sebuah kitab yang diturunkan kepada Utusan Tuhan yang bisa dipercaya.

Setelah membaca uraian dalam alinea di atas, mungkin ada yang bertanya, “Bagaimana kita bisa percaya bahwa Nabi Muhammad adalah Utusan Tuhan sedangkan kita tidak pernah berinteraksi dengannya?” Jawabannya ada pada diri kita sendiri. Makalah ini ditujukan kepada orang yang percaya bahwa Nabi Muhammad adalah seorang Utusan atau Rasul Allah.

Disebutkan dalam Al Qur’an bahwa manusia yang bisa dipercaya adalah Rasul Allah (64:8). Di dalam kitab itulah kita mengetahui bahwa Tuhan bernama Allah. Dengan demikian, Utusan Tuhan adalah sama dengan Utusan Allah atau Rasul Allah.

64:8. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada cahaya (Al-Quran) yang telah Kami turunkan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (versi Dep. Agama RI)

Ayat di atas menegaskan bahwa status kebenaran islam ditentukan oleh keimanan kepada Rasul Allah. Jika kita beriman kepada Rasul Allah, kita akan meyakini bahwa informasi yang disampaikannya adalah benar. Perlu diingat pula bahwa kita meyakini kebenaran informasi yang disampaikan Nabi Muhammad ketika bertugas sebagai Rasul Allah, bukan ketika menjalani kehidupan sehari-hari sebagai pribadi seorang manusia.

Periwayat hadis, penilai akhlak dan kepribadian periwayat hadis dan penulis kitab hadis, penilai keshahihan hadis, dan penulis kitab hadis adalah bukan Rasul Allah. Mereka semua tidak boleh diimani atau dipercaya. Mereka semua tidak boleh dipercaya sebagai pembawa informasi tentang ajaran Tuhan. Jika kita mempercayai mereka sebagai pembawa informasi tentang ajaran Tuhan, kita akan berdosa karena mengingkari ayat 64:8.

Perlu diingat kembali bahwa kita sedang membahas tentang ajaran Tuhan. Berapakah jumlah Tuhan? Satu! Berhubung Tuhan hanya satu, ajaran Tuhan pun juga hanya satu. Ajaran Tuhan disampaikan melalui Rasul Allah dan didokumentasikan dalam Al Qur’an. Ini perlu disampaikan karena mungkin ada orang-orang yang mempelajari kitab hadis dengan tujuan untuk mencari informasi tentang ajaran Rasul Allah selain yang ada di Al Qur’an. Kemudian, mereka mungkin beralasan bahwa beriman kepada orang selain Rasul Allah adalah dibenarkan jika hanya ingin mengetahui ajaran Rasul Allah. Apakah Rasul Allah mempunyai ajaran selain yang ada di Al Qur’an? Orang yang mencari ajaran Rasul Allah selain yang di Al Qur’an tidak akan memperoleh informasi yang benar karena harus beriman kepada orang selain Rasul Allah.

Kembali ke pertanyaan semula, “Bolehkah kita percaya kepada guru agama dan penulis buku agama islam?” Jika tujuan belajar islam adalah untuk mencari informasi tentang ajaran Tuhan yang benar, kita tidak boleh percaya kepada mereka karena mereka bukan Rasul Allah. Walaupun demikian, kita bisa menggunakan informasi yang disampaikan mereka untuk membantu kita dalam mempelajari ajaran Tuhan dalam Al Qur’an. Isi tulisan dalam blog ini juga hanya bersifat sebagai alat untuk membantu orang lain dalam mempelajari ajaran Tuhan dalam Al Qur’an. Barangkali, isinya dapat memberi inspirasi orang-orang dan kemudian mereka mengeceknya sendiri di Al Qur’an.

Belajar islam dari Rasul Allah tidak mungkin dilakukan karena beliau sudah wafat. Di sisi lain, beriman kepada orang selain Rasul Allah dilarang. Bagaimana cara untuk mendapatkan ajaran Tuhan yang benar? Caranya adalah dengan berusaha mempelajari Al Qur’an. Jika buta bahasa Arab, Al Qur’an terjemahan bisa digunakan sebagai alat bantu, disertai usaha untuk mendaparkan terjemahan yang benar. Pada saat yang sama, setiap hari kita membaca Al Fatihah karena di dalamnya ada doa untuk mendapatkan petunjuk-Nya kepada jalan yang lurus. Dengan petunjuk-Nya, kita akan mendapatkan ajaran Tuhan yang benar. Idealnya, semua ini bisa dilakukan oleh tiap orang islam.

Sebagai penutup, cara belajar islam yang benar adalah dengan mempelajari Al Qur’an. Tiap individu yang menganut islam sebagai agamanya wajib belajar islam dari Al Qur’an. Kita tidak perlu khawatir, tidak perlu bersedih hati, tidak akan sesat, dan tidak akan celaka jika hanya mengaji petunjuk Allah berupa Al Qur’an (2:38 dan 20:123).

2:38. Kami berfirman: "Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (versi Dep. Agama RI)

20:123. Allah berfirman: "Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. (versi Dep. Agama RI)