Sabtu, 23 Mei 2015

SHALAT TIGA WAKTU

Walaupun hanya seorang manusia yang buta bahasa Arab, penulis memberanikan diri untuk membahas tentang penerjemahan satu ayat Al Qur’an saja, yaitu 11:114. Itu pun hanya membahas yang berkaitan dengan waktu shalat. Dalam ayat tersebut, ada informasi tentang 3 waktu shalat, yaitu dua tepi siamg (tepi siang ke 1 dan tepi siang ke 2) dan waktu shalat ke 3. Berikut ini kutipannya.

11:114. Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. (versi Dep. Agama RI)

11:114. Dan dirikanlah shalat pada dua ujung siang, dan dekat-dekat dari malam; sesungguhnya perbuatan baik menghilangkan kejahatan. Itu adalah satu peringatan bagi orang-orang yang mau ingat. (versi Othman Ali)

Tampak bahwa waktu shalat ke 3 diterjemahkan secara bervariasi. Mengapa bisa bervariasi? Penulis merasakan pengaruh persepsi para penerjemah yang sangat kuat dalam kasus ini. Bagaimanapun juga, mereka secara tidak disadari ingin membenarkan persepsinya tentang waktu shalat yang diyakininya. Persepsi mereka dipengaruhi oleh praktek shalat yang dijalaninya dan yang dijalani orang-orang di sekitarnya. Barangkali bisa diungkapkan dengan kalimat lain bahwa mereka mungkin berusaha mencocokkannya dengan persepsi dirinya dan persepsi masyarakat tentang waktu shalat.

Persepsi masyarakat tentang waktu shalat dipengaruhi oleh informasi dalam kitab hadis. Seperti kita ketahui bahwa informasi dalam kitab hadis disampaikan secara turun-temurun dari mulut ke mulut, yang tidak pernah dikonfirmasikan kepada Rasul Allah. Dapat dikatakan bahwa kitab hadis berisi ajaran nenek moyang sehingga perlu dicek dengan Al Qur’an. Oleh karena itu, penulis ingin mengeceknya sendiri kebenaran penerjemahan tentang waktu shalat ke 3 dalam 11:114.

Transliterasi ayat 11:114 adalah sebagai berikut.

011.114 Waaqimi a(l)[ss]al[a]ta [t]arafayi a(l)nnah[a]ri wazulafan mina allayli inna al[h]asan[a]ti yu[th]hibna a(l)ssayyi-[a]ti [tha]lika [th]ikr[a] li(l)[ththa]kireen(a) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

Frasa yang diterjemahkan secara bervariasi adalah “wazulafan mina allayli”. Kata-kata dalam frasa tersebut adalah sebagai berikut.

wa

zulafan

mina

allayli

Untuk menerjemahkannya, penulis menggunakan arti kata berdasarkan akar kata yang ada di The Project Root List dalam http://www.studyquran.co.uk/PRLonline.htm, kecuali kata wa yang berarti dan dan mina yang berarti dari.

Zulafan mempunyai akar kata Zay-Lam-Fa.

Zay-Lam-Fa = draw near/close, advance, nearness/closeness/proximity.

Azlafnaa (prf. 3rd. p. f. plu. IV): We brought near, caused to draw near
Uzlifat (pp. 3rd p.f. sing. IV): It is brought near
Zulafan (n. acc.): Early hours
Zulfatan (n. acc.): Night
Zulfaa (v.n.): Approach; near
zalafa vb. (1)
zulfa n.f. (pl. zulaf) - 11:114, 34:37, 38:25, 38:40, 39:3
zulfah n.f. (adv.) - 67:27
azlafa vb. (IV)
perf. act. 26:64
uzlifa perf. pass. 26:90, 50:31, 81:13

Dalam menerjemahkan zulafan, penulis hanya memperhatikan arti akar kata Zay-Lam-Fa secara umum saja. Artinya, contoh-contoh terjemahan yang disebutkan dalam kutipan di atas tidak diperhatikan, karena penulis ingin menerjemahkannya sendiri. Jadi, penulis hanya mempertimbangkan draw near/close (menarik sehingga menjadi dekat), advance (yang dahulu), dan nearness/closeness/proximity (kedekatan) saja.

Penulis akan memulainya dengan berpendapat bahwa nearness/closeness/proximity berarti kedekatan. Kedekatan berarti hal tentang dekat. Dalam konteks jarak, dekat berarti pendek. Dalam konteks waktu, dekat berarti singkat. Kata benda dari singkat adalah kesingkatan. Oleh sebab itu, zulafan dalam 11:114 dapat berarti kedekatan (hal tentang dekat) dan kesingkatan (hal tentang singkat). Di pihak lain, jika draw near/close yang berarti menarik sehingga menjadi dekat atau mendekatkan dipertimbangkan, penafsirannya menjadi lain karena arti yang ini mengandung unsur peristiwa gerakan mendekat. Arti zulafan dengan demikian dapat pula berarti pendekatan (hal tentang menjadi dekat0 atau penyingkatan (hal tentang menjadi singkat)  Oleh sebab itu, ada 2 kemungkinan arti zulafan, yaitu :

1. kesingkatan (hal tentang singkat)

2. penyingkatan (hal tentang menjadi singkat)

Kata allayli terdiri dari artikel al” dan layli yang mmpunyai akar kata lam-ya-lam. Kutipan arti akar kata dari The Project Root List dalam http://www.studyquran.co.uk/PRLonline.htm adalah sebagai berikut.

Lam-Ya-Lam = night, evening.

layl n.m. (f. laylah, pl. layali) 2:51, 2:164, 2:187, 2:187, 2:274, 3:27, 3:27, 3:113, 3:190, 6:13, 6:60, 6:76, 6:96, 7:54, 7:142, 7:142, 10:6, 10:24, 10:27, 10:67, 11:81, 11:114, 13:3, 13:10, 14:33, 15:65, 16:12, 17:1, 17:12, 17:12, 17:78, 17:79, 19:10, 20:130, 21:20, 21:33, 21:42, 22:61, 22:61, 23:80, 24:44, 25:47, 25:62, 27:86, 28:71, 28:72, 28:73, 30:23, 31:29, 31:29, 34:18, 34:33, 35:13, 35:13, 36:37, 36:40, 37:138, 39:5, 39:5, 39:9, 40:61, 41:37, 41:38, 44:3, 44:23, 45:5, 50:40, 51:17, 52:49, 57:6, 57:6, 69:7, 71:5, 73:2, 73:6, 73:20, 73:20, 74:33, 76:26, 76:26, 78:10, 79:29, 81:17, 84:17, 89:2, 89:4, 91:4, 92:1, 93:2, 97:1, 97:2, 97:3

Tampak bahwa allayli dapat berarti malam atau petang. Penulis memilih arti allayli adalah malam karena ada kata isya yang berati petang.

Sampai di sini, dapat diperoleh dua kemungkinan terjemahan “wazulafan mina allayli”, yaitu sebagai berikut.

Kemungkinan 1 :

wa = dan
zulafan = kesingkatan (hal tentang singkat)
mina = dari
allayli = malam

Kenungkinan 2 :

wa = dan
zulafan = penyingkatan (peristiwa menjadi singkat)
mina = dari
allayli = malam

Kita bahas lebih dahulu tentang terjemahan pada kenungkinan pertama. Apa arti dan kesingkatan dari malam? Frasa dan kesingkatan dari malam menerangkan bahwa waktu shalat yang dimaksud adalah kesingkatan yang ada dalam malam. Dengan kalimat lain, ada suatu bagian malam yang singkat yang dijadikan waktu shalat. Jadi, waktu shalat tersebut adalah sebagian dari malam yang berlangsung singkat.

Dalam kemungkinan 2, penyingkatan dari malam bermakna bahwa waktu shalat yang dimaksud adalah penyingkatan yang dilakukan pada waktu malam.  Dengan kalimat lain, waktu shalat tersebut adalah hasil penyingkatan pada waktu malam.

Sampai di sini, dapat terlihat bahwa terjemahan pada kemungkinan pertama menekankan pada hasil sedangkan terjemahan pada kemungkinan kedua menekankan pada proses. Hasilnya adalah kesingkatan sedangkan prosesnya adalah penyingkatan. Artinya, waktu shalat tersebut adalah suatu durasi yang singkat pada waktu malam.

Arti zulafan sama dengan yang dahulu (advance) mungkin yang dijadikan dasar penerjemah Dep. Agama RI. Oleh penerjemah Dep. Agama RI, zulafan diterjemahkan menjadi pada bahagian permulaan.

Untuk mengetahui terjemahan yang tepat, kita harus membahas waktu shalat yang dijelaskan dalam 11:114. Kita akan menggunakan terjemahan versi Dep. Agama RI. Dalam 11:114, ada 3 waktu shalat. Yang dipermasalahkan dalam makalah ini adalah waktu shalat ke 3. Ketiga waktu shalat tersebut adalah :

1. tepi siang pertama
2. tepi siang kedua
3. waktu shalat ke 3

Agar pembahasan menjadi singkat, kita cari nama waktu shalat pada tepi siang pertama dan tepi siang kedua lebih dahulu. Transliterasi 24:58 memperlihatkan bahwa ada dua nama waktu shalat, yaitu fajar (alfajri) dan isya (alAAish[a]-i). Tepi siang adalah bagian terluar dari siang. Dalam hal ini, bagian terluar dari siang adalah waktu fajar dan waktu isya (petang). Dengan demikian, waktu shalat pada tepi siang pertama adalah fajar sedangkan waktu shalat pada tepi siang kedua adalah petang (isya).

024.058 Y[a] ayyuh[a] alla[th]eena [a]manoo liyasta/[th]inkumu alla[th]eena malakat aym[a]nukum wa(a)lla[th]eena lam yablughoo al[h]uluma minkum thal[a]tha marr[a]tin min qabli [s]al[a]ti alfajri wa[h]eena ta[d]aAAoona thiy[a]bakum mina a(l){thth}aheerati wamin baAAdi [s]al[a]ti alAAish[a]-i thal[a]thu AAawr[a]tin lakum laysa AAalaykum wal[a] AAalayhim jun[ah]un baAAdahunna [t]aww[a]foona AAalaykum baAA[d]ukum AAal[a] baAA[d]in ka[tha]lika yubayyinu All[a]hu lakumu al-[a]y[a]ti wa(A)ll[a]hu AAaleemun [h]akeem(un) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

Apakah nama waktu shalat ke 3? Jawabannya ada di transliterasi 2:238 berikut ini. Dalam 2:238 disebutkan nama shalat ke 3, yaitu shalat wusta (wusthaa). Dengan demikian, nama waktu shalat ke 3 adalah wusta.

002.238 [Ha]fi{th}oo AAal[a] a(l)[ss]alaw[a]ti wa(al)[ss]al[a]ti alwus[ta] waqoomoo lill[a]hi q[a]niteen(a) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

Sampai di sini, dapat disampaikan bahwa ada 3 nama shalat dalam Al Qur’an, yaitu shalat fajar, shalat isya, dan shalat wusta. Dengan demikian, nama waktu shalat dalam 11:114 adalah fajar, isya, dan wusta. Waktu shalat yang dipermasalahkan dalam makalah ini adalah wusta. Kutipan arti wusta berdasarkan akar kata waw-siin-tay yang terdapat dalam The Project Root List dalam http://www.studyquran.co.uk/PRLonline.htm adalah sebagai berikut.

Waw-Siin-Tay = middle, midst, among, best, best part of a thing, mediate/intercede between, most remote from the extremes, equidistant, intermediate, most conforming/equitable/just/balanced, most excellent of them in particular.
wasata vb. (1) perf. act. 100:5
wasat n.m. 2:143, 2:238, 5:89, 68:28

Menurut penulis, arti wusta yang cocok adalah pertengahan  Menurut kamus besar bahasa Indonesia, pertengahan berarti tempat (titik, waktu, dsb.) yang di tengah di antara ujung dan tepi (awal dan akhir dsb.). Dalam hal ini, pengertian pertengahan adalah waktu yang di tengah di antara dua tepi. Petunjuk tentang arti wusta yang berarti pertengahan adalah ayat-ayat berikut ini.

73:2. bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya),

73:3. (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit.

73:4. atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan.

Dalam ayat-ayat di atas, terdapat informasi tentang perintah bangun pada malam hari pada seperdua malam ditambah atau dikurangi sedikit. Dalam ungkapan statistika, waktu itu adalah seperdua malam ± sedikit. Dengan kalimat lain, waktu itu berkisar dari seperdua malam dkurangi sedikit sampai seperdua malam ditambah sedikit. Pengertian seperdua adalah 1 dibagi dua. Seperdua malam berarti waktu yang terdapat pada titik yang membagi malam menjadi dua, yaitu titik pertengahan malam. Dengan demikian, wusta berarti pertengahan. Dalam komteks waktu shalat, wusta adalah pertengahan malam.

Terjemahan ayat tersebut juga menyebut “kecuali sedikit”. Frasa “kecuali sedikit” dalam konteks waktu berarti singkat. Ini cocok dengan penafsiran bahwa waktu shalat yang ke 3 adalah suatu durasi yang singkat pada waktu malam, seperti sudah disampaikan di muka.

Jika dikaitkan dengan 2 waktu shalat yang lain, gambarnya akan lebih kurang seperti berikut ini.

Tepi siang 1
(waktu fajar)

Pertengahan malam ± sedikit

Tepi siang 2
(waktu petang)
Shalat fajar

Shalat wusta

Shalat isya (petang)

Waktu fajar (tepi siang 1) adalah waktu sejak terbit fajar (cahaya matahari sudah tampak tetapi matahari belum tampak) sampai fajar hilang (matahari sudah tampak/terbit). Dengan cara berpikir yang sama, waktu petang (tepi siang 2) adalah waktu sejak matahari terbenam sampai cahaya matahari hilang sama sekali. Dapat dikatakan bahwa waktu fajar adalah kebalikan dari waktu petang. Durasi waktu fajar dan waktu petang lebih kurang sama. Pertengahan malam adalah waktu yang berada di pertengahan antara awal malam dan akhir malam. Durasi waktu wusta menurut penulis adalah lebih kurang sama dengan durasi waktu fajar atau waktu petang.

Othman Ali menerjemahkan “wazulafan mina allayli” menjadi dan dekat-dekat dari malam. Beliau berasumsi bahwa malam adalah suatu waktu tertentu yang tidak mempunyai durasi. Kemudian, malam dianggap sebagai suatu titik tertentu, yang dijadikan dasar untuk menentukan jarak suatu waktu dengan malam. Oleh karena itu, “wazulafan mina allayli” diterjemahkan menjadi dan dekat-dekat dari malam. Asumsi yang digunakan tersebut tidak tepat karena malam mempunyai durasi tertentu sehingga arti malam dalam konteks sebagai posisi menjadi tidak unik. Artinya, malam bisa berarti awal malam, pertengahan malam, akhir malam, atau bagian manapun dari malam. Jadi, terjemahan Othman Ali tersebut tidak tepat.

Di pihak lain, Dep. Agama RI menerjemahkan “wazulafan mina allayli” menjadi dan pada bahagian permulaan daripada malam. Terjemahan tersebut tidak tepat karena bahagian permulaan daripada malam adalah sama dengan salah satu tepi siang (tepi siang ke 2). Jadi, informasinya bersifat mengulang.

Pembahasan tentang waktu shalat di atas berhubungan erat dengan definisi malam. Agar menjadi jelas, pembaca dipersilakan membaca penjelasan tentang definisi malam menurut Al Qur’an di http://kajiantentangquran.blogspot.com/2013/01/definisi-malam-menurut-al-quran.html.).

Sampai di sini, penulis merasa yakin bahwa penafsiran penulis tentang “wazulafan mina allayli” adalah benar Terjemahan “wazulafan mina allayli” yang tepat menurut penulis adalah dan kesingkatan dari malam. Frasa tersebut menerangkan bahwa waktu shalat tersebut adalah suatu durasi yang singkat dari malam. Waktu shalat tersebut adalah pertengahan malam, yang berkisar dari seperdua malam dikurangi sedikit sampai seperdua malam ditambah sedikit, dengan durasi lebih kurang sama dengan durasi shalat fajar (tepi siang 1) atau shalat isya (tepi siang 2). Apabila terjadi perubahan persepsi pada diri penulis, revisi makalah ini akan dilakukan.