Jumat, 19 Juni 2015

MELAGUKAN AL QUR'AN

Beberapa waktu yang lalu, ada polemik tentang cara melagukan Al Qur’an yang dilakukan seorang pembaca Al Qur’an dalam sebuah acara. Pembaca Al Qur’an tersebut membaca Al Qur’an dengan lagu bergaya jawa (langgam jawa). Cara pembaca tersebut dikritik oleh segolongan orang yang berpendapat bahwa Al Qur’an harus dibaca dengan lagu bergaya arab. Kejadian tersebut membuat penulis terusik untuk membuat kajian tentang melagukan Al Qur’an. Bolehkah melagukan Al Qur’an?

Jawabannya terdapat dalam ayat berikut ini.

36:69 And We did not teach/instruct him the poetry, and (it) should not (be) for him that it is except (a) reminder and (a) clear/evident Koran. (Dan Kami tidak mengajarkan dia puisi, dan (puisi) tidak untuknya bahwa ini tidak lain adalah peringatan dan bacaan yang nyata.) (versi Muhamed dan Samira Ahmed)

Dijelaskan dalam 36:69 bahwa Al Qur’an adalah bukan puisi atau syair. Sebelum melakukan pembahasn lebih lanjut, ada baiknya kita bahas lebih dahulu pengertian puisi, syair, dan melagukan  menurut kamus besar bahasa Indonesia. Kutipannya adalah seperti berikut ini.

“puisi/pu·i·si/ n 1 ragam sastra yg bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait; 2 gubahan dl bahasa yg bentuknya dipilih dan ditata secara cermat sehingga mempertajam kesadaran orang akan pengalaman dan membangkitkan tanggapan khusus lewat penataan bunyi, irama, dan makna khusus; 3 sajak;”

“syair/sya·ir/ n Sas 1 puisi lama yg tiap-tiap bait terdiri atas empat larik (baris) yg berakhir dng bunyi yg sama; 2 sajak; puisi;”

melagukan/me·la·gu·kan/ v menyanyikan; menuturkan (syair, sajak, dsb) dng lagu; membawakan lagu: penyanyi itu ~ iklan di televisi;”

Kutipan di atas memperlihatkan bahwa puisi adalah suatu ragam sastra. Sinonimnya adalah syair. Jadi, bisa dikatakan bahwa syair dan puisi adalah sama. Tampak pula bahwa melagukan berarti menyanyikan.

Kita tidak boleh memperlakukan Al Qur’an seperti puisi atau syair karena Al Qur’an bukan puisi atau syair. Kita tidak boleh memperlakukan Al Qur’an seperti syair lagu. Membaca Al Qur’an dengan lagu gaya jawa (langgam) atau lagu gaya arab adalah suatu bentuk tindakan memperlakukan Al Qur’an seperti syair lagu. Dalam hal ini, yang menjadi syair lagu adalah ayat-ayat Al Qur’an dan yang menjadi nada-nadanya adalah melodi lagu jawa (langgam) atau melodi lagu arab. Sudah barang tentu, pembacanya berusaha mengeluarkan suara yang merdu seperti orang yang sedang menyanyi.  Melagukan Al Qur’an termasuk tindakan memperlakukan Al Qur’an seperti syair, tepatnya syair lagu. Oleh sebab itu, cara membaca Al Qur’an yang bertujuan untuk menghasilkan keindahan dengan cara melagukan Al Qur’an tidak boleh dilakukan karena bertentangan dengan ayat 36:69.

Sudah kita pahami bersama bahwa ada budaya membaca Al Qur’an dengan lagu dan suara yang merdu di tengah masyarakat. Bahkan, pembacaan Al Qur’an dengan cara seperti itu dilombakan di tingkat lokal, nasional, dan internasional. Ini semua adalah contoh perilaku memperlakukan ayat-ayat Al Qur’an seperti syair lagu.

Walaupun demikian, itu tidak berarti bahwa Al Qur’an tidak boleh dilagukan. Hanya saja, lagunya adalah sama dengan lagu orang yang sedang mengekspresikan kata-kata yang diucapkannya. Perlu diingat bahwa ketika berbicara, kita sesungguhynya sedang melagukan kata-kata yang kita ucapkan. Misalnya, lagu orang bertanya tidak sama dengan irama lagu orang sedang memberi perintah. Bahkan, lagu yang digunakan ketika berbicara juga bervariasi tergantung pada bangsa dan suku. Dengan demikian, lagu orang yang mengucapkan kata-kata dalam Al Qur’an akan bervariasi tergantung pada bangsa, suku, dan variabel lainnya. Oleh sebab itu, melagukan Al Qur’an dengan cara seperti orang yang sedang berkata-kata adalah dibenarkan.

Bagaimana Al Qur’an harus dibaca? Al Qur’an hendaknya dibaca sesuai dengan fungsinya. Misalnya, sebagai petunjuk, Al Qur’an dibaca sedemikian rupa sehingga yang mendengarnya seperti sedang mendengar petunjuk. Sebagai peringatan, Al Qur’an dibaca sedemikian rupa sehingga yang mendengarnya seperti sedang mendengar peringatan. Sebagai kabar gembira, Al Qur’an dibaca sedemikian rupa sehingga yang mendengarnya seperti sedang mendengar kabar gembira.

Sebagai penutup, Al Qur’an tidak boleh diperlakuan seperti puisi atau syair karena Al Qur’an adalah bukan puisi atau syair. Melagukan Al Qur’an dengan melodi gaya jawa atau melodi gaya arab termasuk perilaku memperlakukan Al Qur’an seperti syair atau puisi sehingga tidak dibenarkan. Jika terjadi perubahan persepsi pada diri penulis, makalah ini akan direvisi.