Jumat, 07 Agustus 2015

SHALAT JUMAT

Walaupun masalah shalat Jumat sudah dibahas dalam makalah tentang waktu dan cara shalat dalam blog ini, penulis akan membahasnya lagi pada kesempatan ini dengan sudut pandang berbeda, dengan maksud agar terbangun persepsi tentang shalat Jumat yang lebih meyakinkan. Shalat Jumat diyakini oleh sebagian besar orang beragama islam sebagai kegiatan ibadah yang didasari oleh perintah Allah dalam dalam Al Qur’an. Benarkah shalat Jumat ada dalam Al Qur’an? Makalah ini akan menjawab pertanyaan tersebut.

Istilah shalat Jumat ada dalam Al Qur’an terjemahan versi Dep. Agama RI, yaitu dalam ayat 62:9. Kutipannya adalah sebagai berikut.

62:9. Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (versi Dep. Agama RI)

Jika terjemahan di atas adalah benar, keberadaan shalat Jumat memang ada dalam Al Qur’an. Akan tetapi, benarkah terjemahan versi Dep. Agama tersebut? Penulis akan mencoba menerjemahkannya sendiri pada bagian yang berkatan dengan istilah shalat Jumat saja. Untuk itu, transliterasi ayat 62:9 ditampilkan berikut ini.

062.009 Y[a] ayyuh[a] alla[th]eena [a]manoo i[tha] noodiya li(l)[ss]al[a]ti min yawmi aljumuAAati fa(i)sAAaw il[a] [th]ikri All[a]hi wa[th]aroo albayAAa [tha]likum khayrun lakum in kuntum taAAlamoon(a) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

Yang akan diterjemahkan adalah frasa yang bergaris bawah saja. Jika frasa tersebut disusun secara vertikal, tampilannya akan seperti berikut ini.

Y[a] ayyuh[a]
alla[th]eena
[a]manoo
 i[tha]
 noodiya
 li(l)
[ss]al[a]ti
 min
yawmi
aljumuAAati

Setelah dilakukan riset kecil-kecilan dari berbagai referensi tentang bahasa Arab, penulis memperoleh hasil terjemahan sebagai berikut.

Y[a] ayyuh[a] = wahai
alla[th]eena = orang-orang yang
[a]manoo = beriman
 i[tha] = jika
 noodiya = telah dipanggil
 li(l) = untuk
[ss]al[a]ti = shalat
 min = dari
yawmi = hari
aljumuAAati = Jumat

Jika disusun, hasil terjemahan di atas akan menjadi : “Wahai orang-orang yang beriman, jika telah dipanggil untuk shalat dari hari Jumat”. Tampak dalam frasa tersebut bahwa tidak ada istilah shalat Jumat. Yang ada adalah shalat dari hari Jumat/. Ayat 62:9 tidak menyebut ibadah shalat Jumat yang dipraktekkan oleh sebagian besar orang beragama islam. Jadi, shalat Jumat tidak ada dalam Al Qur’an.

Arti frasa shalat dari hari Jumat adalah shalat-shalat yang diperintahkan yang ada selama hari Jumat.  Shalat-shalat yang ada selama hari Jumat adalah sama dengan shalat-shalat yang disebut dalam Al Qur’an, yaitu shalat isya (petang), shalat wusta (pertengahan), dan shalat fajar. Dengan demikian, shalat dari hari Jumat dapat berupa satu atau dua atau tiga shalat yang ada selama hari Jumat.

Dari sini bisa disampaikan bahwa frasa Wahai orang-orang yang beriman, jika telah dipanggil untuk shalat dari hari Jumat menjelaskan tentang peringatan kepada orang-orang beriman jika telah dipanggil untuk shalat selama hari Jumat. Panggilan untuk shalat tersebut dapat berupa suara manusia atau tanda-tanda alam. Dengan kalimat lain, frasa tersebut menjelaskan tentang peringatan kepada orang-orang beriman jika telah tiba waktu untuk shalat selama hari Jumat

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, “Mengapa hari Jumat?”Mengapa tidak hari senin, selasa, atau hari-hari yang lain? Apa yang istimewa dengan hari Jumat? Jawabannya ada pada kata-kata berikutnya dalam ayat 62:9. Disebutkan dalam ayat tersebut bahwa ada kegiatan jual beli. Artinya, hari Jumat yang dimaksud adalah hari Jumat yang berlangsung jual beli. Kegiatan jual beli tersebut hanya terjadi selama hari Jumat. Dengan demikian, hari Jumat di sini menjadi sangat penting karena terdapat aktivitas jual beli yang tidak terjadi pada waktu yang lain. Jadi, ada aktivitas jual beli sangat penting yang hanya terjadi selama hari Jumat.

Aktivitas jual beli sangat penting apakah yang hanya terjadi selama hari Jumat? Penulis akan mencoba menjawabnya dengan melakukan penelitian sederhana dengan cara browsing di internet. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada jaman dahulu ada peristiwa penting yang terjadi setahun sekali di Arab. Peristiwa itu adalah penyelenggaraan pasar malam Ukaz (Ukaz fair). Istilah lain dari Ukaz adalah Okadh. Pasar tersebut berlangsung 21 hari di suatu tempat antara Ta’if dan Nakhlah dan dibuka pada hari pertama bulan Zulkaidah. Di pasar tersebut terjadi kegiatan jual beli dan pembacaan puisi. Pasar malam Ukaz dihapus oleh Nabi Muhammad.  Informasi tentang pasar malam Ukaz tersebut diperoleh dari buku A Dictionary of Arab karya Thomas Patrick Hughes (1885) yang bisa dibaca melalui Google Books di link
Menurut penulis, aktivitas jual beli yang disebut dalam 62:9 terjadi di pasar malam Ukaz.

Apakah pasar malam Ukaz terjadi pada hari Jumat? Pasar malam Ukaz tidak terjadi hanya pada hari Jumat karena pasar tersebut berlangsung 21 hari secara terus menerus. Dengan demkian, kegiatan jual beli yang disebut dalam 62:9 tidak terjadi hanya pada hari Jumat saja. Jika bukan hari Jumat, itu hari apa? Untuk menjawabnya, penulis menggunakan arti kata jumat, yaitu berkumpul. Oleh sebab itu, penulis berpendapat bahwa hari yang dimaksud dalam 62:9 adalah hari berkumpul. Hari berkumpul adalah istilah yang digunakan untuk menyatakan waktu berdasarkan aktivitas berkumpul, bukan nama hari dalam satu minggu. Perlu diingat bahwa pasar adalah aktivitas berkumpul untuk melakukan jual beli. Oleh sebab itu, terjemahan frasa Y[a] ayyuh[a] alla[th]eena [a]manoo i[tha] noodiya li(l)[ss]al[a]ti min yawmi aljumuAAati yang tepat adalah Wahai orang-orang yang beriman, jika telah dipanggil untuk shalat dari hari berkumpul.

Jika yang dimaksud dalam 62:9 adalah hari berkumpul, bagaimana dengan keberadaan nama hari Jumat? Apakah pada waktu itu ada nama hari Jumat seperti sekarang ini? Lagi-lagi, penulis melakukan penelitian kecil-kecilan tentang perkembangan nama-nama hari dalam seminggu di Arab. Hasilnya ditampilkan dalam Tabel 1. Pembaca yang ingin membaca langsung sumbernya dipersilakan mengunjungi situs berikut ini.

Tabel 1. Perkembangan nama hari dalam seminggu di Arab
No.
Kuno
Sebelum Islam
Sesudah Islam
1
awwal
Yaum al-ahad
Yaum al-ahad
2
ahuwan or awhad
Yaum al-ithnayn
Yaum al-ithnayn
3
jubaar
Yaum al-thalaathaa
Yaum al-thalaathaa
4
dubaar
Yaum al-arba’aa
Yaum al-arba’aa
5
mu'nis
Yaum al-khamiis
Yaum al-khamiis
6
aroobah
Yaum al ‘aruuba
Yaum al jum’a
7
sheeyar
Yaum al-sabt
Yaum al-sabt
Yaum berarti hari.

Tabel di atas memperlihatkan bahwa nama Yaum al jum’a (hari Jumat) ada setelah agama islam ada. Sebelumnya, Yaum al jum’a (hari Jumat) bernama Yaum al ‘aruuba. Boris Rosenfeld, peneliti Religion dan The Seven-day Week yang dijadikan referensi tentang nama-nama hari dalam seminggu di Arab dalam makalah ini, menerangkan bahwa perubahan dari Yaum al ‘aruuba menjadi Yaum al jum’a (hari Jumat) terjadi setelah kehadiran islam. Jika demikian, ada kemungkinan sangat besar bahwa pada saat ayat tersebut diturunkan, nama hari ke 6 adalah Yaum al ‘aruuba.

Sampai di sini dapat disampaikan kembali bahwa shalat Jumat tidak ada dalam Al Qur’an. Yang ada dalam Al Quran adalah shalat dari hari berkumpul. Walaupun demikian, makalah ini perlu dilanjutkan karena akibat penerjemahan yang keliru tampaknya juga berpengaruh pada terjemahan ayat-ayat berikutnya. Berikut ini kutipan ayat-ayat berikutnya.

62:10. Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (versi Dep. Agama RI)

62:11. Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: "Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan", dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezki. (versi Dep. Agama RI)

Penulis akan menyoroti frasa sedang berdiri (berkhotbah). Frasa terjebut sangat jelas dipengaruhi oleh penafsiran keberadaan shalat Jumat. Sudah diketahui bersama bahwa dalam shalat Jumat yang dijalankan oleh sebagian besar orang beragama islam ada orang yang berkotbah. Benarkah terjemahan 62:11 versi Dep. Agama RI tersebut? Penulis akan menerjemahkan kata yang diterjemahkan menjadi sedang berdiri oleh penerjemah Dep. Agama RI. Kata berkotbah dalam tanda kurung adalah hanya tambahan penerjemah Dep. Agama saja sehingga tidak perlu dibahas. Untuk itu, transliterasi ayat tersebut ditampilkan berikut ini.

062.011 Wa-i[tha] raaw tij[a]ratan aw lahwan infa[dd]oo ilayh[a] watarakooka q[a]-iman qul m[a] AAinda All[a]hi khayrun mina allahwi wamina a(l)ttij[a]rati wa(A)ll[a]hu khayru a(l)rr[a]ziqeen(a) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

Kata yang diterjemahkan menjadi berdiri adalah q[a]-iman. Kutipan arti kata berdasarkan akar kata Qaf-Waw-Miim dalam project root list di http://www.studyquran.co.uk/PRLonline.htm adalah sebagai berikut.

Qaf-Waw-Miim = stand still or firm, rose/stand up, managed/conducted/ordered/regulated/superintended, established, made it straight/right, maintain/erect/observe/perform, set up, people/community/company, abode, stature/dignity/rank. aqama - to keep a thing or an affair in a right state.

qama vb. (1)
perf. act. 2:20, 4:142, 4:142, 5:6, 18:14, 72:19
impf. act. 2:275, 2:275, 4:102, 4:127, 5:107, 9:84, 9:108, 9:108, 14:41, 26:218, 27:39, 30:12, 30:14, 30:25, 30:55, 34:46, 40:46, 40:51, 45:27, 52:48, 57:25, 73:20, 78:38, 83:6
impv. 2:238, 73:2, 74:2
n.vb. 51:45
pcple. act. 3:18, 3:39, 3:75, 3:113, 10:12, 11:71, 11:100, 13:33, 18:36, 22:26, 39:9, 41:50, 59:5, 62:11, 70:33

Penerjemahan q[a]-iman menjadi sedang berdiri memang berdasar karena q[a]-iman memang berarti berdiri. Hanya saja, kata sedang berdiri dapat mendorong orang untuk mengartikannya sama dengan keadaan tubuh tegak pada kedua kaki, bukan berbaring atau jongkok. Oleh karena itu, penulis memilih maintain/erect/observe/perform yang berarti memelihara/mendirikan/mematuhi/mengerjakan sebagai arti yang tepat dari q[a]-iman. Dalam hal ini, Rasul Allah adalah orang yang memelihara shalat, mendirikan shalat, mematuhi perintah shalat, mengerjakan shalat di antara orang-orang beriman pada hari berkumpul. Dengan demikian, terjemahan yang lebih tepat untuk q[a]-iman dalam 62:11 menurut penulis adalah mendirikan shalat. Jika terjemahan versi Dep. Agama RI tersebut direvisi dengan penafsiran arti q[a]-iman menurut penulis, hasilnya akan seperti berikut ini.

62:11. Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu mendirikan shalat. Katakanlah: "Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan", dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezki.

Jadi, tidak ada penjelasan tentang Rasul Allah sedang berdiri untuk berkotbah dalam 62:11. Ini menegaskan lagi bahwa ayat 62:9 tidak menjelaskan tentang keberadaan shalat Jumat.

Makalah tentang shalat Jumat ditutup di sini. Sebagai kesimpulan, shalat Jumat tidak ada dalam Al Qur’an. Jika terjadi perubahan persepsi pada diri penulis, makalah ini akan direvisi.