Senin, 18 Januari 2016

NABI MUHAMMAD DIANGGAP SEBAGAI TUHAN

Perilaku menjadikan para nabi sebagai Tuhan benar-benar ada (3:80). Contoh nabi yang dijadikan sebagai Tuhan adalah Nabi Isa (Al Masih) (9:30 dan 5:116).

3:80. dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai tuhan. Apakah (patut) dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam?." (versi Dep. Agama RI)

9:30. Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair itu putera Allah" dan orang-orang Nasrani berkata: "Al Masih itu putera Allah." Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling? (versi Dep. Agama RI)

5:116. Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: "Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: "Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?." Isa menjawab: "Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib." (versi Dep. Agama RI)

Mungkinkah Nabi Muhammad juga telah dijadikan sebagai Tuhan? Sesudah Al Qur’an, tidak ada lagi kitab Allah yang menjelaskan hal tersebut sehingga kita harus menjawabnya dengan Al Qur’an.

Dijelaskan dalam 20:123 bahwa yang dapat membuat orang tidak sesat adalah petunjuk Allah. Petunjuk Allah sama dengan ajaran Allah. Dengan demikian, ajaran yang dapat membuat orang tidak sesat adalah hanya ajaran Allah. Dengan kalimat lain, ayat 20:123 menerangkan bahwa agar tidak sesat, orang harus hanya mengikuti ajaran Allah. Kata hanya digarisbawahi karena Allah hanya satu.

20:123. Allah berfirman: "Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. (versi Dep. Agama RI)

Menurut Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nabi Muhammad tergolong orang yang dapat membuat petunjuk kepada manusia karena MUI telah membuat fatwa bahwa orang yang tidak menggunakan kitab hadis sebagai pedoman adalah orang sesat. Artinya, orang yang menggunakan kitab hadis sebagai pedoman akan mendapat petunjuk dan orang yang tidak menggunakan kitab hadis akan sesat. Dalam hal ini, Nabi Muhammad telah dianggap oleh MUI sebagai orang yang mempunyai ajaran sendiri yang pengaruhnya sama dengan ajaran Allah. Jadi, secara tidak disadari, MUI telah menjadikan Nabi Muhammad sebagai Tuhan.

Nabi Muhammad tidak pernah menyatakan dirinya sebagai Tuhan. Bahkan, tidak ada isi kitab hadis yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad adalah Tuhan. Barangkali, inilah yang menyebabkan MUI tidak merasa telah menuhankan Nabi Muhammad. Tampaknya, MUI tidak menyadari bahwa perilaku menuhankan sesuatu menjadi tuhan selain Allah tercermin pada perbuatan, bukan pada perkataan atau pengakuan. Dalam hal ini, MUI merasa tidak pernah menyatakan bahwa Nabi Muhammad adalah Tuhan tetapi tindakannya menegaskan bahwa MUI telah menganggap Nabi Muhammad sebagai Tuhan.

Mengapa MUI sebagai wadah orang-orang yang mengaku beriman pada Al Qur’an justru membenci dan memusuhi orang yang mengaji Al Qur’an hanya gara-gara tidak mau menggunakan kitab hadis sebagai pedoman? Apakah itu karena Allah yang mengajarkan demikian? Tidak! Allah bahkan secara eksplisit dan sangat terang benderang mengataan bahwa orang yang mengikuti petunjuk-Nya, dalam hal ini Al Qur’an, tidak akan sesat (20:123). Jadi, MUI mengikuti ajaran siapa sehingga membenci dan memusuhi orang yang hanya menggunakan Al Qur’an saja? Jawabannya adalah ajaran tuhan selain Allah.

Petunjuk-Nya yang disebut dalam 20:123 itu apa? Apakah MUI tidak tahu? Atau, pura-pura tidak tahu? Mari kita perhatikan bersama-sama ayat berikut ini.

2:185. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.

Apakah tulisan yang berbunyi Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dalam 2:185 kurang besar ukuran font-nya sehingga MUI tidak bisa membacanya? Apakah tulisan yang berbunyi barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka dalam 20:123 kurang besar ukuran font-nya sehingga MUI tidak bisa membacanya? Apakah MUI tidak bisa menyimpulkan bahwa gabungan kedua frasa tersebut bermakna, barangsiapa yang mengikut Al Qur’an, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka?

Atau, barangkali MUI meragukan kebenaran terjemahan versi Dep. Agama RI? Marilah kita cek bersama-sama kebenaran terjemahan 20:123 versi Dep. Agama RI! Untuk itu, penulis akan menggunakan Al Qur’an terjemahan per kata yang ada di http://corpus.quran.com/wordbyword.jsp?chapter=20&verse=123. Sebelumnya, transliterasi ayat 20:123 ditampilkan berikut ini.

020.123 Q[a]la ihbi[ta] minh[a] jameeAAan baAA[d]ukum libaAA[d]in AAaduwwun fa-imm[a] ya/tiyannakum minnee hudan famani ittabaAAa hud[a]ya fal[a] ya[d]illu wal[a] yashq[a] (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

Bagian yang akan dicek kebenarannya adalah yang bergaris bawah saja. Berikut ini adalah hasil terjemahan bagian ayat 20:123 yang bergaris bawah yang terdapat di http://corpus.quran.com/wordbyword.jsp?chapter=20&verse=123.

fa-imm[a] = then if = kemudian jika
ya/tiyannakum = comes to you = datang kepadamu
minnee = from me = dari-Ku
hudan = guidance = petunjuk
famani = then whoever = maka siapapun
ittabaAAa = follows = mengikuti
hud[a]ya = my guidance = petunjuk-Ku
fal[a] = then not = maka tidak
ya[d]illu = he will go astray = ia akan tersesat
wal[a] = and not = dan tidak
yashq[a] = suffer = menderita

Jika disusun, terjemahan tersebut akan menjadi, “Kemudian, jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, maka siapapun mengikuti petunjuk-Ku, maka ia tidak akan tersesat dan tidak menderita.” Tampak dalam terjemahan tersebut bahwa terjemahan 20:123 versi Dep. Agama RI adalah sudah benar dari segi kandungan maknanya. Jadi, terjemahan 20:123 versi Dep. Agama RI pada bagian yang sedang dibahas di sini dapat digunakan sebagai argumen yang meyakinkan. Oleh sebab itu, MUI harus menjalankan ajaran Allah dalam Al Qur’an yang terdapat di ayat 20:123.

Apakah MUI tidak mengetahui ciri-ciri ulama? Marilah kita perhatikan dengan cermat ayat berikut ini?

35:28. Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (versi Dep. Agama RI)

Ayat 35:28 menerangkan bahwa ciri-ciri ulama menurut Allah adalah mempunyai sifat takut kepada Allah. Apakah MUI menghormati ayat 20:123 dan 2:185? Apakah MUI telah menjalankan ajaran Allah dalam 20:123 dan 2:185? Tidak! MUI tidak menghormati dan menaati ajaran Allah dalam 20:123 dan 2:185 karena menyatakan sesat kepada orang yang hanya beriman pada Al Qur’an saja. Jadi, apakah MUI benar-benar kumpulan ulama?

Penulis memang bukan siapa-siapa sehingga barangkali, isi makalah ini tidak akan dipandang sebagai nasehat oleh MUI. Walaupun demikian, yang perlu dikhawatirkan adalah jika MUI berperilaku seperti umat Nabi Hud, seperti yang dijelaskan dalam 26:136, 26:137, dan 26:138.

26:136. Mereka menjawab: "Adalah sama saja bagi kami, apakah kamu memberi nasehat atau tidak memberi nasehat, (versi Dep. Agama RI)

26:137. (agama kami) ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu. (versi Dep. Agama RI)

26:138. dan kami sekali-kali tidak akan di "azab." (versi Dep. Agama RI)

Apakah MUI juga menganut adat kebiasaan orang dahulu, seperti yang terjadi pada umat Nabi Hud? MUI menganut ajaran dalam kitab hadis. Kitab hadis berisi ajaran nenek moyang karena tidak pernah diketahui, dibaca, dikoreksi, dan disaksikan oleh Rasul Allah. Jadi, MUI memang mengikuti ajaran yang berupa adat kebiasaan orang dahulu. Tampaknya, inilah yang menyebabkan MUI menyatakan sesat kepada orang-orang yang tidak beriman pada kitab hadis.

Apakah MUI sebagai tempat berkumpulnya orang yang beriman pada Al Qur’an tidak pernah mengaji ajaran Al Qur’an? Jika mereka mengaji ajaran Al Qur’an, penulis yakin, mereka akan senang mengetahui ada orang yang mau mengaji ajaran Al Qur’an. Mereka akan memberi apresiasi pada orang-orang yang mau mengaji ajaran Al Qur’an. Tetapi, mengapa mereka justru menyatakan sesat, memusuhi, dan membenci orang yang hanya mengaji pada Al Qur’an saja, seolah-olah orang-orang yang mengaji Al Qur’an saja dianggap seperti orang-orang yang sedang mengaji kitab Iblis? Perlu diketahui bahwa orang yang sesat adalah orang yang mengikuti iblis (15:39 dan 15:42).

15:39. Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, (versi Dep. Agama RI)

15:42. Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat. (versi Dep. Agama RI)

Mengapa MUI tetap menyatakan sesat kepada orang yang hanya beriman pada Al Qur’an saja walaupun Al Qur’an tidak menyatakan demikian? Jawabannya adalah karena MUI mempunyai tuhan selain Allah, yaitu Nabi Muhammad.

MUI dan pengikutnya benci dengan pengajian atau makalah yang hanya menggunakan Al Qur’an saja tetapi tidak menggunakan ajaran kitab hadis. Sebaliknya, jika ajaran kitab hadis dikaji, mereka menjadi sangat gembira. Mengapa demikian? Mereka sangat kesal dengan orang-orang yang hanya mengaji Al Qur’an saja karena Tuhan mereka tidak disebut. Sebaliknya, mereka sangat gembira dengan orang-orang yang mengaji kitab hadis karena Tuhan mereka disebut. Gejala ini kurang lebih seperti yang digambarkan dalam Al Qur’an (39:45).

39:45. Dan apabila hanya nama Allah saja disebut, kesallah hati orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat; dan apabila nama sembahan-sembahan selain Allah yang disebut, tiba-tiba mereka bergirang hati. (versi Dep. Agama RI)

Sebagai penutup, makalah ini dicukupkan sekian saja. Yang terjadi pada Nabi Isa tampaknya juga telah terjadi pada Nabi Muhammad. Nabi Muhammad telah dianggap sebagai tuhan selain Allah. Makalah ini akan direvisi jika terjadi perubahan persepsi pada diri penulis.