Rabu, 28 September 2016

ARAFAT DAN MASY'ARILHARAM

Kata 'Arafat, ('Arafah), dan Masy'arilharam terdapat dalam Al Qur’an terjemahan versi Dep. Agama RI. Kutipannya adalah sebagai berikut.

2:198. Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Tuhanmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari 'Arafat, berdzikirlah kepada Allah di Masy'arilharam. Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat. (versi Dep. Agama RI)

2:199. Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak ('Arafah) dan mohonlah ampun kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (versi Dep. Agama RI)

Ketika mempelajari arti kata ‘arafat di kamus Lane – An Arabic English Lexicon, penulis menjadi merasa ragu-ragu dengan kebenaran hasil terjemahan Dep. Agama RI di atas. Berikut ini adalah kutipan bagian kamus tersebut yang menerangkan arti ‘arafat.

“‐ See also the next paragraph. عَرَفَاتٌ The place [or mountain] where the pilgrims halt (Mgh, O, Msb, K) on the day of عَرَفَة [above mentioned], (O, K,) [described by Burckhardt as a granite hill, about a mile, or a mile and a half, in circuit, with sloping sides, rising nearly two hundred feet above the level of the adjacent plain,] said to be nine miles, (Msb,) or twelve miles, (K,) from Mekkeh; (Msb, K;) said by J to be a place in, or at, Minè, but incorrectly, (K, TA,) unless thereby be meant near Minè; (TA;) also called by some ↓ عَرَفَةُ ; (Mgh, Msb;) but the saying نَزَلْنَا عَرَفَةَ , (S, O, K,) or نَزَلْتُ بِعَرَفَةَ , (Msb,) [We, or I, alighted at عَرَفَة ,] is like a postclassical phrase, (S, O, K,) and (S, O) it is said to be (Msb) not genuine Arabic: (S, O, Msb:) عَرَفَاتٌ is a [proper] name in the pl. form, and therefore is not itself pluralized: (S, O, K:) it is as though the term عَرَفَةٌ applied to every distinct portion thereof: (TA:) as Fr says, it has, correctly, no sing.; (S, O;) and it is determinate as denoting a particular place; (Sb, S, O, K, TA;) and therefore not admitting the article ال ; (Sb, TA;) differing from الزَّيْدُونَ [because this is a proper name common to a number of persons]: you say, ھٰؤُلَآءِ عَرَفَاتٌ حَسَنَةً [lit. These are 'Arafát, in a good state], putting the epithet in the accus. case because it is indeterminate [as a denotative of state, like مُصَدِّقًا in the saying وَھُوَ الحَقُّ مُصَدِّقًا لِمَا مَعَھُمْ , in the Kur 2:85]: (S, O:) it is decl. ( مَصْرُوفَةٌ [more properly مُعْرَبَةٌ ]) because the ت is equivalent to the ى and و in مُسْلِمِينَ and مُسْلِمُونَ , (S, O, K,) the tenween becoming equivalent to the ن, therefore, being used as a proper name, it is left in its original state, like as is مُسْلِمُونَ when used as a proper name: (Akh, S, O, K:) [i. e.,] it is decl. in the manner of مُسْلِمَاتٌ and مُؤْمِنَاتٌ , the tenween being like that which corresponds to the masc. pl. termination ن, not the tenween of perfect declinability, because it is a proper name and of the fem. gender, wherefore it does not admit the article ال . (Msb.) عَرَفَاتٌ was thus named because Adam and Eve knew each other ( تَعَارَفَا ) there (IF, O, K, TA) after their descent from Paradise: (TA:) or because Gabriel, when he taught Abraham the rites and ceremonies of the pilgrimage, said to him “ Hast thou known? ” ( أَعَرَفْتَ ), (O, K,) and he replied “ I have known ” ( عَرَفْتُ ): (K:) or because it is a place sanctified and magnified, as though it were rendered fragrant ( عُرِّفَ i. e. طُيِّبَ ): (O, K:) or because the people know one another ( يَتَعَارَفُونَ ) there: or, accord. to ErRághib, because of men's making themselves known ( نِتَعَرُّفِ العِبَادِ ) there by religious services and prayers. (TA.) [ عُرْفِىٌّ Of, or relating to, العُرْفُ as meaning the commonlyknown or commonlyreceived or conventional language, or common parlance, or common”

Tampak dalam kutipan di atas bahwa ‘arafaat diartikan sebagai suatu nama tempat dalam ibadah haji. Barangkali, inilah yang menjadi dasar penerjemahan ayat 2:198 seperti di atas. Dengan dasar tersebut, kata ‘arafaat tidak diterjemahkan karena nama tempat. Kata tersebut hanya diterjemahkan dengan cara menghilangkan satu huruf “a” setelah huruf “f”. Akan tetapi, penulis tertarik dengan diskusi tentang kata tersebut berkaitan dengan sifat kata ‘arafaat sebagai bentuk jamak (plural). Diskusi tersebut menunjukkan bahwa nama tempat dalam bentuk jamak adalah suatu keanehan. Oleh sebab itu, beberapa narasumber menyatakan bahwa kata ‘arafaat adalah bukan bahasa Arab asli (genuine Arabic). Para narasumber dalam kamus tersebut berusaha menjelaskan bahwa penerjemahan ‘arafaat sebagai nama tempat adalah suatu kebenaran. Penulis juga berpendapat bahwa nama tempat dalam bentuk jamak adalah sebuah keanehan. Jika kata ‘arafaat adalah nama tempat dalam bentuk jamak, tempat yang bernama ‘arafaat akan ada lebih dari satu. Artinya, di permukaan bumi akan ada lebih dari satu tempat bernama ‘arafaat yang dijadikan tempat ibadah haji. Dengan demikian, terjemahannya mungkin akan menjadi ‘arafat-‘arafat. Kenyataannya, tempat tersebut hanya ada satu. Oleh sebab itu, penulis meragukan kebenaran terjemahan 2:198 dan 2:199 versi Dep. Agama RI.

Makalah ini ditulis untuk mendapatkan terjemahan ayat 2:198 dan 2:199 yang dianggap benar oleh penulis. Untuk itu, penulis mencoba untuk menerjemahkannya sendiri. Penulis menggunakan transliterasi yang ada dalam DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913. Penulis melakukannya dengan cara mengecek terjemahan Al Qur’an per kata yang ada di http://corpus.quran.com/ dengan kamus bahasa Arab, project root list di  http://www.studyquran.co.uk/PRLonline.htm. dan referensi tentang bahasa Arab lainnya. Hasilnya adalah seperti berikut ini.

2:198
laysa = adalah tidak
Aaalaykum = pada kamu semua
jun[ah]un = dosa
an = bahwa
tabtaghoo = kamu semua mencari
fa[d]lan = karunia
min = dari
rabbikum = Tuhan kamu semua
fa-i[tha] = maka jika
afa[d]tum = kamu semua meneteskan air mata
min =karena
AAaraf[a]tin = pengakuan
fa(o)[th]kuroo = maka ingatlah
All[a]ha = Allah
AAinda = di
almashAAari = hati
al[h]ar[a]mi = yang suci
wa = dan
(o)[th]kuroohu = ingatlah
kam[a] = seperti
had[a]kum = Dia memberi petunjuk kamu semua
wa-in = walaupun
kuntum = kamu semua
min = dari
qablihi = sebelumnya
lamina = tentulah
a(l)[dda]lleen(a) = orang-orang yang tersesat

2:199
thumma = sekali lagi
afee[d]oo = teteskanlah air mata
min  [h]aythu = karena
af[ad]a = meneteskan air mata
a(l)nn[a]su = manusia
wa = dan
(i)staghfiroo = meminta ampunlah
All[a]ha = Allah
inna = sesungguhnya
All[a]ha = Allah
ghafoorun = pengampun
ra[h]eem(un) = penyayang

Setelah disusun, hasilnya menjadi sebagai berikut.

2:198 adalah tidak pada kamu semua dosa bahwa kamu semua mencari karunia dari Tuhan kamu semua maka jika kamu semua meneteskan air mata karena pengakuan maka ingatlah Allah di hati yang suci dan ingatlah seperti Dia memberi petunjuk kamu semua walaupun kamu semua dari sebelumnya tentulah orang-orang yang tersesat

2:199 kemudian teteskanlah air mata karena meneteskan air mata manusia dan meminta ampunlah Allah sesungguhnya Allah pengampun penyayang

Setelah disesuaikan dengan aturan penulisan dalam bahasa Indonesia, hasilnya adalah sebagai berikut ini.

2:198 Adalah tidak ada dosa pada kamu semua bahwa kamu semua mencari karunia dari Tuhan kamu semua. Maka jika kamu semua meneteskan air mata karena pengakuan, maka ingatlah Allah di hati yang suci! Dan ingatlah seperti Dia memberi petunjuk kamu semua, walaupun kamu semua dari sebelumnya tentulah orang-orang yang tersesat!

2:199 Kemudian teteskanlah air mata karena manusia meneteskan air mata! Dan meminta ampunlah kepada Allah! Sesungguhnya Allah pengampun penyayang.

Ada beberapa kata-kata yang penerjemahannya memerlukan penjelasan lebih lanjut. Pertama, kata-kata tersebut adalah afa[d]tum, afee[d]oo, dan afee[d]oo. Ketiga kata tersebut mempunyai akar kata fa-ya-dad. Kutipan isi kamus Lane-An ArabicEnglish Lexicon yang menjelaskan arti kata berakar kata fa-ya-dad adalah seperti berikut ini.

“1 , (S, M, Mgh, &c.,) aor. يَفِيضُ , inf. n. فَيْضٌ (S, M, O, Msb, K) and فَيْضُوضَةٌ (S, O, K) and فُيُوضٌ (M, O, K) and فِيُوضٌ and فُيُوضَةٌ (M, K) and فَيَضَانٌ , (M, O, K,) It (water) overflowed: poured out, or forth, from fulness: (Mgh:) it (water, S, O, K, or a torrent, Msb) became abundant, (S, O, Msb, K and flowed from [over] the brink of the valley, (Msb,) or so as to flow over the side of the valley, (S, O,) or so as to flow like a valley; (K;) and ↓ افاض signifies the same: (Msb, TA:) it (water) became abundant: (TA:) [contr. of غَاضَ , aor. يَغِيضُ :] it (water, and that of the eyes, and the like, M, or anything fluid, Msb) ran, or flowed: (M, Msb: or it poured out, or forth; or poured out, or forth, vehemently; gushed out, or forth: (M:) and it (water, and blood,) fell in drops. (Msb.) ―”

Kutipan di atas memperlihatkan bahwa kata berakar kata fa-ya-dad mempunyai makna berkaitan dengan benda cair yang mengalir. Benda cair yang mengalir tersebut dapat berupa air dan air mata. Hal ini terungkap dari frasa it (water, and that of the eyes, and the like, M, or anything fluid, Msb) ran, or flowed (benda (air, dan air mata, dan yang sejenis, M, atau cairan atau gas, Msb) pergi atau mengalir). Dalam kaitannya dengan ayat 2:198, arti kata berakar kata fa-ya-dad adalah (air mata) mengalir. Maksudnya, yang mengalir di sini adalah air mata. Kata yang tepat dalam bahasa Indonesia untuk menggambarkan hal ini adalah berlinang. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, berlinang berarti meleleh (tentang air mata). Agar lebih mudah dipahami, penulis menggunakan frasa meneteskan air mata untuk menerangkan arti kata berakar kata fa-ya-dad. Dalam bentuk perintah (imperatif), kata tersebut akan menjadi teteskanlah air mata!.

Kata kedua yang penerjemahannya memerlukan penjelasan lebih lanjut adalah AAaraf[a]tin. Kata ini mempunyai akar kata ayn-ra-fa. Kutipan arti kata berakar kata ayn-ra-fa dalam project root list di http://www.studyquran.co.uk/PRLonline.htm. adalah sebagai berikut.

“= Ayn-Ra-Fa = he knew it, had cognition of it, to discern, became acquainted with it, perceiving a thing by reflection and by consideration of the effect, he requited, to acknowledge a part, manager/orderer/overseer, become submissive/tractable/pleasant, the making to know, fragrant, to inform oneself, learn/discover, seek/desire knowledge, benefaction/goodness, mane (of a horse) waves (of the sea), elevated place/portion, higher/highest, first/foremost, a question or questioning respecting a subject of information in order to know it, commonly received/known, to confess/acknowledge/indicate, high mountain, Mount Arafat.
The difference between arafa & alima is that the former refers to distinct and specific knowledge, while the latter is more general. Opposite to arafa is ankara (to deny) and opposite ot alima is jahila (to be ignorant).
al araf - the elevated place, high dignity, distinguished position, place of discernment or acknowledgement, highest or most elevated faculties of discernment or ma'rifah (knowledge of right and wrong).
ma'ruf - honourable, known, recognised, good, befitting, fairness, kindness, custom of society, usage.
'arafaat (pl. of 'arafat, masculine 'araf, being a version of 'aarif, the active form of 'arafa and/or &arfun, the informational noun of 'arafa) means 'familiarizations, approbations, recognitions.'”

Penulis hanya menyoroti bagian akhir kutipan di atas karena ini adalah bagian yang tidak ada dalam kamus Lane – An Arabic English Lexicon. Penulis percaya bahwa bagian tersebut berdasarkan referensi tertentu walaupun tidak dicantumkan sumbernya. Disebutkan dalam kutipan tersebut bahwa ‘arafaat berarti recognitions (pengakuan). Penulis memilih pengakuan sebagai arti ‘arafaat. Tambahan, dalam kamus besar bahasa Indonesia disebutkan bahwa salah satu arti mengakui atau mengaku berkaitan dengan perbuatan dosa atau salah.

Kata ketiga yang penerjemahannya memerlukan penjelasan lebih lanjut adalah almashAAari. Kata ini mempunyai akar kata shiin-ayn-ra. Kutipan arti kata berakar kata shiin-ayn-ra dalam project root list di http://www.studyquran.co.uk/PRLonline.htm. adalah sebagai berikut.

“= Shiin-Ayn-Ra = to know/perceive/understand, to acquaint, perceive by senses. make verses, remark, poetry, poet, verse, art of poetry, feeling, knowledge. Sirius, which was worshipped by the Arabs in Pagan times. mark/marker/signs/rites/symbols/observances/ceremonies/practices, the obligatory ordinances/statutes of God. a place where a thing is known to be. measure of length. sheep/goat. hair, innermost garment. trees. a sign of people in war and in a journey, a call or cry by means of which to know another, banner. mash'ar al-Haram - holy mosque in Muadhalifah (a place which lies between Makkah and Arafat, six miles fromKabah). The name Mash'ar al-Haram is a compound of Mash'ar meaning the place of perception or knowledge andHaram meaning sacred. Ash'ara to make anyone understand, make known to.”

Dijelaskan dalam kutipan tersebut bahwa Mash'ar berarti tempat persepsi atau pengetahuan dan al-Haram berarti suci. Penulis berpendapat bahwa yang dimaksud dengan tempat persepsi atau pengetahuan adalah sistem otak manusia. Dalam bahasa Indonesia, sistem otak manusia sering dinyatakan dengan kata hati. Berikut ini adalah kutipan arti hati dalam kamus besar bahasa Indonesia.

“hati :  4 sesuatu yang ada di dalam tubuh manusia yang dianggap sebagai tempat segala perasaan batin dan tempat menyimpan pengertian (perasaan dan sebagainya): segala sesuatunya disimpan di dalam --; membaca dalam -- , membaca dalam batin (tidak dilisankan); berbicara dari -- ke -- , dengan jujur dan terbuka; 5 apa yang terasa dalam batin:sedih -- ku memikirkan nasib kawanku itu;”

Diterangkan dalam kutipan tersebut bahwa hati adalah tempat perasaan batin dan pengertian. Dengan demikian, kata hati dianggap sesuai untuk menjelaskan arti mash'ar. Yang dimaksud dengan suci dalam hal ini adalah bebas dari syirik (perbuatan mempersekutukan Allah). Jadi, mash'ar al-haram berarti hati yang suci, yaitu hati yang bebas dari perbuatan mempersekutukan Allah.  

Penerjemahan thumma menjadi sekali lagi juga perlu dijelaskan di sini. Salah satu arti thumma dalam kamus A Dictionary of Modern Wrtitten Arabic karya Wehr-Cowan yang dijumpai pada halaman 106 adalah once more (sekali lagi). Arti ini dipilih karena kandungan ayat 2:199 menegaskan kandungan ayat 2:198, yaitu agar manusia meneteskan air mata sebagai ekspresi orang bertaubat.

Sebagai penutup, penulis menampilkan kembali terjemahan ayat 2:198 dan 2:199 versi penulis. Jika ada perubahan persepsi, makalah ini akan direvisi.

2:198 Adalah tidak ada dosa pada kamu semua bahwa kamu semua mencari karunia dari Tuhan kamu semua. Maka jika kamu semua meneteskan air mata karena pengakuan, maka ingatlah Allah di hati yang suci! Dan ingatlah seperti Dia memberi petunjuk kamu semua, walaupun kamu semua dari sebelumnya tentulah orang-orang yang tersesat! (versi penulis)

2:199 Kemudian teteskanlah air mata karena manusia meneteskan air mata! Dan meminta ampunlah kepada Allah! Sesungguhnya Allah pengampun penyayang. (versi penulis)