Sabtu, 29 Oktober 2016

WAKTU HAJI

Waktu haji dijelaskan dalam Al Qur’an ayat 2:189 dan 2:197. Transliterasinya adalah sebagai berikut.

002.189 Yas-aloonaka AAani al-ahillati qul hiya maw[a]qeetu li(l)nn[a]si wa(a)l[h]ajji walaysa albirru bi-an ta/too albuyoota min {th}uhoorih[a] wal[a]kinna albirra mani ittaq[a] wa/too albuyoota min abw[a]bih[a] wa(i)ttaqoo All[a]ha laAAallakum tufli[h]oon(a) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

002.197 Al[h]ajju ashhurun maAAloom[a]tun faman fara[d]a feehinna al[h]ajja fal[a] rafatha wal[a] fusooqa wal[a] jid[a]la fee al[h]ajji wam[a] tafAAaloo min khayrin yaAAlamhu All[a]hu watazawwadoo fa-inna khayra a(l)zz[a]di a(l)ttaqw[a] wa(i)ttaqooni y[a] olee al-alb[a]b(i) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

Terjemahan versi Dep. Agama RI kedua ayat tersebut adalah sebagai berikut.

2:189. Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: "Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung. (versi Dep. Agama RI)

2:197. (Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal. (versi Dep. Agama RI)

Ada permasalahan dalam terjemahan versi Dep. Agama di atas. Pertama, dalam 2:189 disebutkan rumah-rumah. Rumah-rumah yang dimaksud dalam 2:189 itu rumah-rumah yang mana? Perlu diingat bahwa ayat tersebut menjelaskan tentang haji sehingga penafsirannya harus dikaitkan dengan rumah dalam haji. Di samping itu, bahwa rumah dalam haji hanya ada satu, yaitu rumah Allah. Jadi, apakah rumah-rumah dalam terjemahan ayat tersebut menerangkan bahwa rumah Allah berjumlah lebih dari satu?  Kedua, petunjuk agar orang memasuki rumah dari pintu-pintunya terasa janggal. Bukankah semua orang sudah tahu bahwa pintu dibuat agar orang bisa masuk rumah dengan mudah? Ketiga, larangan memasuki rumah dari belakang rumah (belakangnya) juga terasa aneh. Belakang rumah yang dapat berupa taman, kebun, halaman, atau kawasan bukan bagian dari rumah selainnya adalah bukan alternatif dari pintu. Apakah orang bisa masuk rumah dari taman, kebun, dan halaman tanpa melewati pintu?

Permasalahan berikutnya, disebutkan beberapa bulan dalam terjemahan 2:197 versi Dep. Agama RI. Frasa beberapa bulan mengindikasikan bahwa jumlah bulan tersebut adalah tertentu dan nama-namanya tidak tentu. Ada yang tidak jelas di sini. Berapa bulan? Apa nama bulan-bulan tersebut? Permasalahan-permasalahan tersebut mendorong penulis untuk menerjemahkan sendiri kedua ayat di atas.

Untuk mengatasi masalah tersebut, penulis mencoba untuk menerjemahkan kedua ayat tersebut sendiri. Caranya, penulis menggunakan terjemahan per kata yang ada di http://corpus.quran.com/, kemudian mengecek arti per kata yang ada dengan kamus bahasa Arab-Inggris dan informasi dalam project root list di http://www.studyquran.co.uk/PRLonline.htm. Hasilnya adalah sebagai berikut.

Terjemahan 2:189 :
yas-aloonaka = mereka bertanya kepadamu
AAani = tentang
al-ahillati = kenampakan bulan-bulan baru
qul = katakanlah
hiya = mereka
maw[a]qeetu = waktu-waktu tertentu
li(l)nn[a]si = bagi manusia
wa(a)l[h]ajji = dan haji
walaysa = dan bukan
albirru = kebenaran
bi-an = dengan
ta/too = melakukan
albuyoota = aktivitas-aktivitas malam hari
min = dari
{th}uhoorih[a] = kemunculan-kemunculannya
wal[a]kinna = dan tetapi
albirra = kebenaran
mani = orang yang
ittaq[a] = mematuhi
wa/too = dan lakukanlah
albuyoota = aktivitas-aktivitas pada malam hari
min = dari
abw[a]bih[a] = pembukaan-pembukaannya
wa(i)ttaqoo = dan patuhilah
All[a]ha = Allah
laAAallakum = dan semoga kamu
tufli[h]oon(a) = berhasil

Terjemahan 2:197:
Al[h]ajju = haji
ashhurun = pemberitahuan-pemberitahuan
maAAloom[a]tun = informasi
faman = maka siapa saja
fara[d]a = memutuskan
feehinna = dalam diri mereka
al[h]ajja = haji
fal[a] = maka tidak
rafatha = berhubungan seks
wal[a] = dan tidak
fusooqa = perbuatan menyimpang
wal[a] = dan tidak
jid[a]la = perdebatan
fee = dalam
al[h]ajji = haji
wam[a] = dan apa saja
tafAAaloo = kamu melakukan
min = dari
khayrin = kebaikan
yaAAlamhu = mengetahuinya
All[a]hu = Allah
watazawwadoo = dan berbekallah
fa-inna = maka sesungguhnya
khayra = yang baik
a(l)zz[a]di = perbekalan
a(l)ttaqw[a] = kepatuhan
wa(i)ttaqooni = dan patuhilah Aku
y[a] = wahai
olee = pemilik-pemilik
al-alb[a]b(i) = akal

Hasil penyusunan terjemahan di atas adalah sebagai berikut.

2:189 mereka bertanya kepadamu tentang kenampakan bulan-bulan baru katakanlah mereka waktu-waktu tertentu bagi manusia dan haji dan bukan kebenaran dengan melakukan aktivitas-aktivitas malam hari dari kemunculan-kemunculannya dan tetapi kebenaran orang yang mematuhi dan lakukanlah aktivitas-aktivitas pada malam hari dari  pembukaan-pembukaannya dan patuhilah Allah dan semoga kamu berhasil

2:197 haji pemberitahuan-pemberitahuan informasi maka siapa saja memutuskan dalam diri mereka haji maka tidak berhubungan seks dan tidak perbuatan menyimpang dan tidak perdebatan dalam haji dan apa saja kamu melakukan dari kebaikan mengetahuinya Allah dan berbekallah maka sesungguhnya yang baik perbekalan kepatuhan dan patuhilah Aku wahai pemilik-pemilik akal

Beberapa kata dalam 2:189 yang penerjemahannya dipandang memerlukan pembahasan lebih lanjut adalah al-ahillati, maw[a]qeetu, ta/too, albuyoota, {th}uhoorih[a], dan abw[a]bih[a]. Pertama, yang dijadikan dasar penerjemahan al-ahillati menjadi kenampakan bulan-bulan baru adalah isi kamus Arab-Inggris Wehr-Cowan halaman 1030. Disebutkan dalam kamus tersebut bahwa ahilla adalah bentuk jamak hilal yang berarti new moon, half-moon, crescent, parenthesis, any crescent-shaped object. Penulis memilih new moon yang berarti bulan baru. Penulis menerjemahkan ahillati menjadi kenampakan bulan-bulan baru karena bulan yang dimaksud adalah planet, bukan nama waktu dalam sistem kalender, dan kata tersebut adalah bentuk jamak. Di samping itu, artikel alif lam di depan ahilla menerangkan kejadian tersebut adalah dalam waktu tertentu. Artinya, dalam satu bulan hanya ada satu kenampakan bulan baru.

Kata selanjutnya adalah maw[a]qeetu. Dalam kamus Arab-Inggris Wehr-Cowan halaman 1087 disebutkan bahwa maw[a]qeetu adalah bentuk jamak dari mauqit dan miiqaat yang berarti waktu tertentu (appointed time). Sebagai bentuk jamak, maw[a]qeetu diterjemahkan menjadi waktu-waktu tertentu. Kata ta/too mempunyai akar kata alif-ta-waw, yang salah satu artinya, seperti yang ada di kamus Arab-Inggris Wehr-Cowan halaman 3, adalah to do (melakukan). Oleh sebab itu, ta/too diterjemahkan menjadi melakukan. Dengan dasar yang sama, wa/too diterjemahkan menjadi dan lakukanlah.

Kata albuyoota adalah bentuk jamak dari akar kata ba-ya-ta. Akar kata ini dapat muncul dalam bentuk baata dan bayt/bait. Dalam kamus Arab-Inggris Wehr-Cowan halaman 84, yang disebut mempunyai bentuk jamak buyuut adalah bait. Walaupun demikian, penulis berpendapat bahwa buyuut juga bentuk jamak dari baata karena mempunyai akar kata yang sama dengan bait. Dalam kamus tersebut, kedua kata tersebut dimulai dengan huruf arab yang sama (ba-ya-ta) yang berada dalam tanda kurung. Oleh sebab itu, buyuut dapat berarti baata dan bayt/bait. Menurut kamus Wehr-Cowan, arti pertama baata adalah to pass or spend the night (melewati atau menghabiskan malam). Aktivitas melewati atau menghabiskan malam tersebut dilakukan dalam keadaan tidak tidur. Dengan demikian, melewati atau menghabiskan malam dengan cara tidur bukan arti dari baata. Penjelasan tentang hal ini ada di kamus Lane – An Arabic English Lexicon. Kata benda melewati atau menghabiskan malam adalah aktivitas pada malam hari. Sebagai kata benda jamak, albuyoota dalam 2:189 diterjemahkan menjadi aktivitas-aktivitas pada malam hari. Artikel alif lam pada albuyoota menerangkan bahwa aktivitas yang dimaksud adalah aktivitas pada waktu haji.

Kata {th}uhoorih[a] diterjemahkan menjadi kemunculan-kemunculannya. Menurut kamus Arab-Inggris Wehr-Cowan halaman 583,  salah satu arti {th}uhoor adalah muncul (to appear). Kata benda muncul adalah kemunculan. Kata ganti kepemilikan nya adalah terjemahan dari haa. Bentuk jamak kemunculannya adalah kemunculan-kemunculannya. Kata nya di sini mengganti bulan.

Kata abw[a]bih[a] adalah perpaduan abw[a]b dan h[a]. Disebutkan dalam kamus Arab-Inggris Wehr-Cowan halaman 80 bahwa salah satu arti baab (bentuk tunggal dari abw[a]b) adalah opening (pembukaan). Sebagai bentuk jamak yang telah digabung dengan kata ganti kepemilikan haa (nya), abw[a]bih[a]diterjemahkan menjadi pembukaan-pembukaannya. Kata nya di sini mengganti bulan (dalam sistem kalender).

Beberapa kata dalam 2:179 yang penerjemahannya dipandang memerlukan pembahasan lebih lanjut adalah ashhurun, maAAloom[a]tun, dan feehinna.

Kata ashhur adalah bentuk jamak dari shahr. Kata shahr dapat berarti bulan (kalender), seperti yang sudah diketahui oleh banyak orang, tetapi dapat juga berarti lain. Arti lain yang dipandang cocok oleh penulis dalam kasus ini adalah to announce (memberitahukan). Sebagai kata benda jamak, ashhurun diterjemahkan menjadi pemberitahuan-pemberitahuan.

Salah satu arti kata maAAloom[a]t dalam kamus Arab-Inggris Wehr-Cowan halaman 637 adalah informasi (information). Oleh sebab itu, maAAloom[a]tun diterjemahkan menjadi informasi.

Kata feehinna adalah perpaduan antara preposisi fee (dalam) dan kata ganti orang ketiga jamak hinna (mereka). Dengan demikian, feehinna berarti dalam mereka. Agar lebih mudah dimengerti, feehinna diterjemahkan menjadi dalam diri mereka.

Kata ittaq[a], (i)ttaqoo, dan a(l)ttaqw[a] juga perlu dibahas di sini. Kata-kata tersebut berakar kata waw-qaf-ya. Penulis mendapati arti ittaq[a] yang dikaitkan dengan Allah dalam kamus Arab-Inggris Wehr-Cowan halaman 1094 adalah fear (takut). Frasa takut kepada Allah terasa kurang cocok karena Allah bukan sosok yang menakutkan, sehingga perlu dicari kata yang lebih tepat. Pada bagian lain dari kamus tersebut, taqwaa berarti godliness, devoutness, dan piety, yang semuanya berarti kesalehan. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, kesalehan bermakna ketaatan atau kepatuhan dalam menjalankan ibadah. Berdasarkan arti-arti tersebut, penulis berpendapat bahwa arti kata ittaq[a], (i)ttaqoo, dan a(l)ttaqw[a] mempunyai kata dasar yang sama, yaitu patuh. Dengan demikian, ittaq[a] bermakna mematuhi; (i)ttaqoo bermakna patuhilah; dan a(l)ttaqw[a] bermakna kepatuhan.

Hasil terjemahan di depan masih perlu diperbaiki agar mudah dimengerti dan mengikuti tata bahasa Indonesia. Hasilnya adalah seperti berikut ini.

2:189 Mereka bertanya kepadamu tentang kenampakan bulan-bulan baru. Katakanlah! Mereka adalah waktu-waktu tertentu bagi manusia dan haji. Dan adalah bukan kebenaran dengan melakukan aktivitas-aktivitas malam hari dari kemunculan-kemunculannya dan tetapi kebenaran adalah orang yang mematuhi. Dan lakukanlah aktivitas-aktivitas pada malam hari dari pembukaan-pembukaannya! Dan patuhilah Allah dan semoga kamu berhasil!

2:197 Haji, pemberitahuan-pemberitahuan informasi, maka siapa saja yang memutuskan dalam diri mereka mengerjakan haji, maka tidak berhubungan seks dan tidak melakukan perbuatan menyimpang dan tidak melakukan perdebatan dalam haji. Dan apa saja yang kamu lakukan dari kebaikan, Allah mengetahuinya. Dan berbekallah! Maka sesungguhnya, perbekalan yang baik adalah kepatuhan. Dan patuhilah Aku wahai pemilik-pemilik akal!

Ayat 2:189 menjelaskan tentang kenampakan bulan baru sebagai tanda waktu bagi manusia dan haji. Bagi manusia, kenampakan bulan baru digunakan untuk menentukan tanda pergantian bulan dalam sistem kalender. Bagi haji, kenampakan bulan baru digunakan untuk menentukan tanda waktu berhaji. Waktu berhaji adalah sejak permulaan bulan dalam sistem kalender. Makna pembukaan-pembukaannya dalam ayat tersebut adalah permulaan-permulaan bulan. Waktu berhaji yang dimulai setelah bulan tampak jelas adalah dilarang. Selain itu, waktu pelaksanaan haji adalah malam hari. Dalam ayat itu, Allah berharap agar manusia dapat menjalankannya dengan penuh kepatuhan.

Ayat 2:197 berisi pemberitahuan informasi tentang larangan-larangan yang dikerjakan dalam haji dan perintah berbuat kebaikan. Larangan tersebut meliputi tidak boleh berhubungan seks, tidak boleh berbuat menyimpang, dan tidak boleh melakukan perdebatan dalam haji. Selain itu, bekal yang dibawa dalam haji adalah kepatuhan.

Sebagai penutup, dapat disampaikan di sini bahwa terjemahan 2:189 dan 2:197 versi Dep. Agama terdapat kekeliruan. Apabila ada perubahan persepsi pada diri penulis, makalah ini akan direvisi.