Jumat, 31 Oktober 2014

AJARAN MINTA IJIN MASUK KAMAR DALAM SEBUAH KELUARGA

Kali ini penulis ingin membahas sesuatu yang baru bagi penulis, yaitu tentang ajaran meminta ijin dalam sebuah rumah tangga. Penulis merasa tidak pernah mengetahui ajaran tersebut dari sekolah-sekolah, buku-buku, atau media masa. Barangkali, ada juga yang seperti penulis. Bagi penulis, ini adalah suatu masalah penting sehingga perlu dibahas di sini.

Ayat-ayat yang menjelaskan tentang perintah meminta ijin dalam sebuah rumah tangga adalah 24:58 dan 24:59.

24:58 You, you those who believed, those who your rights (hands) owned/possessed (i.e. care-givers under contract), and those who did not reach the puberty/sexual maturity from you should ask for your permission three times, from before the dawn's prayers, and when you put your clothes/garments (on) from the noon/midday, and from after the evening/first darkness prayers, three shameful genital parts (protective times are) for you, an offense/sin is not on you, and nor on them after them (the three times) circling/walking around on you, some of you to some, as/like that God clarifies/shows/explains for you the verses/evidences, and God (is) knowledgeable, wise/judicious. (Kamu, kamu yang beriman, mereka yang tangan-tangan kamu miliki (yaitu pelayan di bawah kontrak), dan mereka yang belum mencapai pubertas/kematangan seksual hendaknya meminta ijin dari kamu sebanyak 3 kali, dari sebelum shalat fajar, dan ketika kamu meletakkan pakaian (pada) dari pertengahan siang hari, dan dari setelah shalat petang, tiga bagian kelamin memalukan (waktu yang melindungi adalah) bagimu, bukan sebagai dosa bagimu, dan juga bukan dosa bagi mereka setelah mereka (tiga waktu tersebut) bercampur dengan kamu, di antara kamu, seperti Allah menerangkan kepadamu ayat-ayat/bukti-bukti-Nya, dan Allah mengetahui segala sesuatu, bijaksana.) (versi Muhamed dan Samira Ahmed)

024.058 Y[a] ayyuh[a] alla[th]eena [a]manoo liyasta/[th]inkumu alla[th]eena malakat aym[a]nukum wa(a)lla[th]eena lam yablughoo al[h]uluma minkum thal[a]tha marr[a]tin min qabli [s]al[a]ti alfajri wa[h]eena ta[d]aAAoona thiy[a]bakum mina a(l){thth}aheerati wamin baAAdi [s]al[a]ti alAAish[a]-i thal[a]thu AAawr[a]tin lakum laysa AAalaykum wal[a] AAalayhim jun[ah]un baAAdahunna [t]aww[a]foona AAalaykum baAA[d]ukum AAal[a] baAA[d]in ka[tha]lika yubayyinu All[a]hu lakumu al-[a]y[a]ti wa(A)ll[a]hu AAaleemun [h]akeem(un) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

24:59 And if the children from you reached the puberty/sexual maturity so they should ask for permission/pardon, as/like those from before them asked for permission/pardon, as/like that God clarifies/shows/explains for you His verses/evidences, and God (is) knowledgeable, wise/judicious. (Dan jika anak-anakmu mencapai kematangan seksual maka mereka hendaknya meminta ijin, seperti mereka dari sebelum mereka yang meminta ijin, seperti Allah menerangkan kepadamu ayat-ayat/bukti-bukti-Nya, dan Allah mengetahui segala sesuatu, bijaksana.) (versi Muhamed dan Samira Ahmed)

Dalam ayat 24:58, ada perintah Allah yang ditujukan kepada orang-orang beriman dewasa agar memerintahkan kepada para budak dan anak-anak belum mencapai kematangan seksual agar meminta ijin kepada mereka (orang-orang beriman dewasa) sebanyak 3 kali, yaitu :
1. pada waktu dari sebelum shalat fajar,
2. pada waktu dari pertengahan siang hari, dan
3. pada waktu dari setelah shalat petang.
Jika diamati, petunjuk tentang waktu tersebut hanya menyebut batas awalnya saja, tanpa menyebut batas akhirnya. Menurut penulis, Allah memberi kelonggaran kepada orang beriman dewasa untuk menentukan sendiri batas waktu akhirnya. Sudah barang tentu, batas waktu tersebut harus disosialisasikan kepada seluruh anggota keluarga lebih dahulu.

Meminta ijin untuk apa? Seperti kita ketahui bahwa orang bisa meminta ijin untuk pergi bermain, keluar kota, atau keluar pada waktu malam. Jawabannya ada pada frasa “bukan sebagai dosa bagimu, dan juga bukan dosa bagi mereka setelah mereka (tiga waktu tersebut) bercampur dengan kamu, di antara kamu”. Jadi, ijin yang dimaksud adalah ijin untuk bercampur dengan orang beriman dewasa. Maksudnya, jika ingin bercampur dengan orang beriman dewasa yang sedang berada di dalam kamar pribadi, para budak dan anak-anak yang belum mencapai kematangan seksual harus meminta ijin. Ijin dapat diberikan dan dapat pula ditolak. Jika ijin diberikan, bercampur dengan orang beriman dewasa tidak berdosa. Jika ijin ditolak, bercampur dengan orang beriman dewasa menjadi perbuatan berdosa. Sebagai tambahan, ayat ini secara implisit menerangkan bahwa dosa anak-anak yang belum mencapai kematangan seksual sudah diperhitungkan.

Mengapa harus ada permintaan ijin? Untuk menjawabnya, kita bahas lebih dahulu penerjemahan frasa “thal[a]thu AAawr[a]tin”. Oleh Muhamed dan Samira Ahmed, frasa tersebut diterjemahkan menjadi “tiga bagian kelamin memalukan. Penulis tidak setuju dengan penerjemahan tersebut karena aurat yang dimaksud berkaitan dengan waktu, bukan tubuh. Yang dijelaskan dalam ayat tersebut adalah 3 waktu agar meminta ijin. Untuk mendapatkan terjemahan yang tepat, penulis menggunakan arti kata Ayn-Waw-Ra yang ada di project root list di http://www.studyquran.co.uk/PRLonline.htm. Sebagian kutipannya adalah sebagai berikut.

Ayn-Waw-Ra = To come within power or reach, to interchange, by turns [such as ascending a pulpit one after another, by turns; whenever one goes another comes after], to ask or seek a loan, weakness, faultiness, unsoundness, badness, foulness, or unseemliness in a thing, disgrace or disfigurement, a gap or opening [thus exposure or exposing a thing]. Anything which is veiled or conceals by reason of disdainful pride, or shame of prudency; anything of which one is ashamed when it appears. This root also refers to the pudendum [or external genital organs] of a human being because it is abominable to uncover and look at them. The parts or part of a person which is indecent to expose. Now this is relative because for the slave women it will be indecent to expose what is between the navel and the knee and of the free women it will be indecent to expose everything except the hands and face. A fault, defect, imperfection or blemish.

Menurut penulis, arti aurat yang cocok adalah ketidakpatutatn dalam sesuatu (unseemliness in a thing). Dalam konteks tersebut, aurat berarti ketidakpatutan dalam tiap-tiap waktu meminta ijin. Ketidakpatutan tersebut dapat mencakup hal-hal yang bersifat pribadi, misalnya sedang berhubungan seks, telanjang, bertengkar, atau berdiskusi masalah rahasia. Dengan demikian, menurut penulis, “thal[a]thu AAawr[a]tin” lebih tepat diterjemahkan menjadi ketidakpatutan dalam 3 waktu meminta ijin. Jadi, permintaan ijin diadakan karena ada ketidakpatutan dalam ketiga waktu tersebut.

Apakah orang beriman dewasa tidak perlu meminta ijin untuk bercampur dengan anggota keluarga yang lain? Ayat 24:59 menegaskan bahwa orang beriman dewasa juga perlu meminta ijin untuk bercampur dengan anggota keluarga yang lain. Hal itu tercermin pada frasa “Dan jika anak-anakmu mencapai kematangan seksual maka mereka hendaknya meminta ijin, seperti mereka dari sebelum mereka yang meminta ijin” Orang yang sudah mancapai kematangan seksual atau pubertas (berarti sudah dewasa) dikenai aturan meminta ijin. Dijelaskan pula dalam frasa tersebut bahwa orang dewasa sebelum mereka (yang sudah mencapai kematangan seksual juga mengikuti aturan meminta ijin. Selain itu, hal ini juga ditegaskan pada ayat 24:58 pada frasa “bukan sebagai dosa bagimu, dan juga bukan dosa bagi mereka setelah mereka (tiga waktu tersebut) bercampur dengan kamu, di antara kamu”. Dijelaskan bahwa orang beriman dewasa (di sini disebut dengan bagimu) juga akan berdosa jika tidak mengikuti aturan meminta ijin. Dengan demikian, perintah meminta ijin berlaku untuk semua orang beriman tanpa memandang usia dan status.

Di samping itu, frase “bukan sebagai dosa bagimu, dan juga bukan dosa bagi mereka setelah mereka (tiga waktu tersebut) bercampur dengan kamu, di antara kamu” perlu dibahas lagi agar tidak menimbulkan kesalahan persepsi. Frase tersebut tidak boleh diartikan bahwa dalam ketiga waktu yang dijelaskan dalam 24:58 tidak boleh ada pencampuran atau pergaulan di antara anggota keluarga. Pencampuran atau pergaulan di antara anggota keluarga diperbolehkan jika ada perintaan ijin lebih dahulu dan ijin tersebut dikabulkan.

Sebagai penutup, penulis ingin menyampaikan bahwa dalam setiap keluarga orang beriman harus ada aturan meminta ijin tiga kali untuk bercampur atau bergaul di antara anggota keluarga. Permintaan ijin tersebut disampaikan oleh setiap anggota keluarga yang ingin bertemu dengan anggota yang lain yang sedang berada di dalam kamar pribadi. Jika anggota keluarga sedang di ruang keluarga, ijin tersebut tidak diperlukan. Keberadaan di ruang keluarga dianggap sebegai sikap memberi ijin kepada anggota yang lain untuk bertemu. Makalah ini akan direvisi jika ada perubahan persepsi pada diri penulis.

Selasa, 30 September 2014

AURAT

Kali ini penulis akan membahas tentang aurat. Kata aurat sering diasosiasikan dengan tubuh manusia. Seringkali, tubuh yang dimaksudkan tersebut adalah tubuh wanita. Tidak hanya itu, ada pula yang memperinci bagian tubuh wanita yang termasuk aurat. Dengan pengertian seperti itu, orang kemudian menyebut istilah membuka atau menutup aurat.

Seperti apakah penjelasan tentang pengertian aurat dalam Al Qur’an? Al Qur’an terjemahan digunakan untuk menjawabnya..

Pertama-tama, kita menyimak arti kata aurat berdasarkan akar katanya. Berikut ini adalah sebagian kutipan arti kata Ayn-Waw-Ra yang ada di project root list di http://www.studyquran.co.uk/PRLonline.htm. Kata aurat (dalam kutipan ini ditulis aurah) terdapat dalam ayat 24:31, 24:58, dan 33:13.

Ayn-Waw-Ra = To come within power or reach, to interchange, by turns [such as ascending a pulpit one after another, by turns; whenever one goes another comes after], to ask or seek a loan, weakness, faultiness, unsoundness, badness, foulness, or unseemliness in a thing, disgrace or disfigurement, a gap or opening [thus exposure or exposing a thing]. Anything which is veiled or conceals by reason of disdainful pride, or shame of prudency; anything of which one is ashamed when it appears. This root also refers to the pudendum [or external genital organs] of a human being because it is abominable to uncover and look at them. The parts or part of a person which is indecent to expose. Now this is relative because for the slave women it will be indecent to expose what is between the navel and the knee and of the free women it will be indecent to expose everything except the hands and face. A fault, defect, imperfection or blemish.

awrah n.f. 24:31, 24:58, 33:13, 33:13

Sebelum membahas kata aurat dalam Al Qur’an, ada baiknya kita membahas kutipan arti kata berdasarkan akar kata Ayn-Waw-Ra di atas. Arti kata berdasarkan akar kata Ayn-Waw-Ra bervariasi, di antaranya adalah mencapai, bertukar tempat, bergilirani, mencari pinjaman, kelemahan, kesalahan, ketidaksehatan, keburukan, ketidakpatutan dalam sesuatu, yang memalukan, celah atau yang terbuka, sesuatu yang diselubungi, penyembunyian untuk menutupi harga diri yang tercela, sesuatu yang membuat orang malu jika kelihatan, bagian kemaluan manusia, bagian tubuh yang tabu untuk dibuka, kesalahan, cacat, dan ketidaksempurnaan atau cacat. Penulis mengabaikan arti bersifat relatif karena arti tersebut disimpulkan dari praktek di masyarakat yang bersumber dari ajaran aliran atau sekte tertentu.

Dakam kutipan tersebut, tampak bahwa arti kata yang mempunyai akar kata Ayn-Waw-Ra ternyata bervariasi. Dengan demikian, aurat tidak selalu berkaitan dengan tubuh manusia, apalagi tubuh wanita. Oleh sebab itu, arti aurat tergantung pada konteks penggunaannya.

Dalam Al Qur’an, ayat-ayat yang mengandung kata yang berakar kata Ayn-Waw-Ra yaitu 24:31, 24:58, dan 33:13. Kata-kata tersebut meliputi AAawr[a]ti, AAawr[a]tin, dan Aaawratun. Untuk memperlihatkan penggunaan kata aurah dalam 24:31, 24:58, dan 33:13, transliterasinya dipaparkan berikut ini.

024.031 Waqul lilmu/min[a]ti yagh[d]u[d]na min ab[sa]rihinna waya[h]fa{th}na furoojahunna wal[a] yubdeena zeenatahunna ill[a] m[a] {th}ahara minh[a] walya[d]ribna bikhumurihinna AAal[a] juyoobihinna wal[a] yubdeena zeenatahunna ill[a] libuAAoolatihinna aw [a]b[a]-ihinna aw [a]b[a]-i buAAoolatihinna aw abn[a]-ihinna aw abn[a]-i buAAoolatihinna aw ikhw[a]nihinna aw banee ikhw[a]nihinna aw banee akhaw[a]tihinna aw nis[a]-ihinna aw m[a] malakat aym[a]nuhunna awi a(l)tt[a]biAAeena ghayri olee al-irbati mina a(l)rrij[a]li awi a(l)[tt]ifli alla[th]eena lam ya{th}haroo AAal[a] AAawr[a]ti a(l)nnis[a]-i wal[a] ya[d]ribna bi-arjulihinna liyuAAlama m[a] yukhfeena min zeenatihinna watooboo il[a] All[a]hi jameeAAan ayyuh[a] almu/minoona laAAallakum tufli[h]oon(a) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

024.058 Y[a] ayyuh[a] alla[th]eena [a]manoo liyasta/[th]inkumu alla[th]eena malakat aym[a]nukum wa(a)lla[th]eena lam yablughoo al[h]uluma minkum thal[a]tha marr[a]tin min qabli [s]al[a]ti alfajri wa[h]eena ta[d]aAAoona thiy[a]bakum mina a(l){thth}aheerati wamin baAAdi [s]al[a]ti alAAish[a]-i thal[a]thu AAawr[a]tin lakum laysa AAalaykum wal[a] AAalayhim jun[ah]un baAAdahunna [t]aww[a]foona AAalaykum baAA[d]ukum AAal[a] baAA[d]in ka[tha]lika yubayyinu All[a]hu lakumu al-[a]y[a]ti wa(A)ll[a]hu AAaleemun [h]akeem(un) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

033.013 Wa-i[th] q[a]lat [ta]-ifatun minhum y[a] ahla yathriba l[a] muq[a]ma lakum fa(i)rjiAAoo wayasta/[th]inu fareequn minhumu a(l)nnabiyya yaqooloona inna buyootan[a] AAawratun wam[a] hiya biAAawratin in yureedoona ill[a] fir[a]r[a](n) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

Berikut ini adalah terjemahan ayat-ayat di atas versi Dep. Agama RI. Tampak bahwa dalam ayat 33:13, kata dengan akar kata Ayn-Waw-Ra, yaitu  Aaawratun dan Aaawratin, diterjemahkan menjadi terbuka. Di sisi lain, kata dengan akar kata Ayn-Waw-Ra dalam ayat 24:31 dan 24:58 diterjemahkan menjadi aurat, sebuah kata yang masih perlu penerjemahan lebih lanjut. Penerjemahan lebih lanjut tersebut berpotensi untuk menimbulkan penafsiran bersifat sektarian.

24:31. Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (versi Dep. Agama RI)

24:58. Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum sembahyang subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)mu di tengah hari dan sesudah sembahyang Isya'. (Itulah) tiga 'aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (versi Dep. Agama RI)

33:13. Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mereka berkata: "Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu." Dan sebahagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata : "Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga)." Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanya hendak lari. (versi Dep. Agama RI)

Marilah kita cermati arti aurat dalam ayat-ayat 24:31 dan 24:58. Pertama-tama, kita bahas kata aurat dalam 24:31. Di situ disebutkan aurat wanita. Jika terjemahan versi Dep. Agama RI tersebut digunakan, kita tidak pernah akan bisa memahaminya karena kata aurat belum diterjemahkan. Aurat dalam terjemahan ayat-ayat tersebut hanyalah kata serapan dari bahasa Arab. Menurut penulis, arti kata aurat menurut akar kata Ayn-Waw-Ra yang cocok dalam konteks kandungan ayat 24:31 adalah sesuatu yang membuat orang malu jika kelihatan. Dalam kata-kata yang lain, arti aurat di sini adalah bagian kemaluan. Terjemahan 24:31 versi Muhamed dan Samira Ahmed menegaskan hal tersebut. Di sini aurat diterjemahkan menjadi bagian-bagian kelamin yang memalukan (shameful genital parts). Dengan demikian, aurat wanita yang dimaksud adalah payudara dan alat kelamin (vagina).

24:31 And say to the believers they (F) lower/humble from their eye sights, and they (F) protect/safe keep from their genital parts between their legs, and they do not show their decoration/beauty except what appeared/is visible from it, and they hold in place/sew (E) with their head covers/covers on their collar opening in clothes/chests, and they do not show their decoration/beauty except to their husbands, or their fathers, or their husband's fathers (fathers in-law), or their sons, or their husband's sons (step- sons), or their brothers, or their brother's sons (nephews), or their sisters' sons (nephews), or their women, or what their right (hands) owned/possessed (i.e. care-giers under contract), or the followers/servants (those) not (owners) of need/desire/intelligence and resourcefulness (without a sexual drive) from the men or the child/children (the very old or very young), those who did not see and know of on the women's shameful genital parts, and they (F) do not beat/strike with their (F) feet to be known what they (F) hide from their decoration/beauty, and repent to God all together, oh you the believers, maybe/perhaps you succeed/win. (versi Muhamed dan Samira Ahmed)

Dalam ayat 24:58, arti aurat tidak berhubungan dengan tubuh manusia karena aurat yang dimaksud berkaitan dengan waktu. Dijelaskan dalam ayat tersebut bahwa ada 3 waktu yang harus ada permintaan izin dari para budak dan anak-anak yang belum cukup umur. Disebutkan dalam ayat tersebut bahwa ketiga waktu tersebut adalah aurat. Penafsiran ini didasarkan pada frasa (Itulah) tiga 'aurat bagi kamu dalam terjemahan versi Dep. Agama RI. Menurut penulis, arti aurat berdasarkan akar kata Ayn-Waw-Ra dalam konteks ini adalah ketidakpatutan dalam sesuatu. Dengan demikian, tiga aurat bermakna ketidakpatutan dalam ketiga waktu tersebut. Menurut penulis, ayat tersebut menerangkan bahwa tidak meminta ijin pada 3 waktu tersebut adalah perbuatan yang tidak patut.

Yang menarik, ada pula kata aurat dalam terjemahan Dep. Agama RI yang digunakan untuk menerjemahkan kata yang berasal dari akar kata bukan Ayn-Waw-Ra. Berikut ini adalah terjemahan dan transliterasi ayat-ayat tersebut.

7:22. maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: "Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: "Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?" (versi Dep. Agama RI)

007.022 Fadall[a]hum[a] bighuroorin falamm[a] [tha]q[a] a(l)shshajarata badat lahum[a] saw-[a]tuhum[a] wa[t]afiq[a] yakh[s]if[a]ni AAalayhim[a] min waraqi aljannati wan[a]d[a]hum[a] rabbuhum[a] alam anhakum[a] AAan tilkum[a] a(l)shshajarati waaqul lakum[a] inna a(l)shshay[ta]na lakum[a] AAaduwwun mubeen(un) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

20:121. Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia. (versi Dep. Agama RI)

020.121 Faakal[a] minh[a] fabadat lahum[a] saw-[a]tuhum[a] wa[t]afiq[a] yakh[s]if[a]ni AAalayhim[a] min waraqi aljannati waAAa[sa] [a]damu rabbahu faghaw[a] (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

Kutipan arti saw-[a]tuhum[a]  berdasarkan akar kata Siin-Waw-Alif yang ada di project root list di http://www.studyquran.co.uk/PRLonline.htm disajikan berikut ini.

Siin-Waw-Alif = to treat badly, do evil to disgrace, be evil/wicked/vicious, ill, anything that makes a person sad and sorrowful, bad action, mischief and corruption, sin, evil doer, wretched or grievous, vex, annoy. su'atun (pl. suat) - corpse, external portion of both sexes, shame.

sa'a vb. (1)
perf. act. 4:22, 4:38, 4:97, 4:115, 5:66, 6:31, 6:136, 7:177, 9:9, 16:25, 16:59, 17:32, 18:29, 20:101, 25:66, 26:173, 27:58, 29:4, 37:177, 45:21, 48:6, 58:15, 63:2
impf. act. 3:120, 5:101, 9:50, 17:7
perf. pass. 11:77, 29:33, 67:27
n.vb. 9:98, 16:60, 19:28, 21:74, 21:77, 25:40, 48:6, 48:6, 48:12

saw'ah n.f. 5:31, 5:31, 7:20, 7:22, 7:26, 7:27, 20:121

Terjemahan 7:22 dan 20:121 versi Dep. Agama RI  bermasalah karena menggunakan kata yang masih perlu diterjemahkan lagi. Arti kata saw-[a]tuhum[a] yang paling tepat dalam ayat 7:22 dan 20:121, menurut penulis adalah bagian luar jenis kelamin laki-laki dan perempuan (external portion of both sexes) atau alat kelamin laki-laki dan perempuan. Jadi, penggunaan kata aurat dalam terjemahan kedua ayat tersebut tidak tepat.

Sampai di sini, dapat disampaikan kembali bahwa pengertian aurat bervariasi tergantung pada konteks. Aurat tidak selalu berkaitan dengan tubuh, apalagi tubuh wanita. Selain itu, arti aurat dalam Al Qur’an adalah sudah jelas sehingga tidak perlu dijelaskan lagi dengan kitab selain Al Qur’an. Dalam kaitannya dengan tubuh wanita, aurat bermakna payudara dan alat kelamin wanita (vagina).

Dalam kamus besar bahasa Indonesia disebutkan bahwa aurat adalah 1.bagian badan yang tidak boleh kelihatan (menurut hukum islam), 2.kemaluan, dan 3.organ untuk mengadakan perkembangbiakan. Pengertian menurut hukum islam bisa bervariasi tergantung pada sekte islam yang diikuti. Menurut penulis, yang perlu dijadikan pegangan adalah pengertian menurut Al Qur’an.

Sekarang ini, banyak wamita menutupi rambut kepalanya dengan kain dengan alasan rambut kepala adalah aurat. Apakah rambut kepala termasuk bagian kelamin wanita? Jawabannya adalah tidak karena laki-laki juga punya rambut kepala. Apakah rambut kepala adalah sesuatu yang membuat malu sehingga dianggap sebagai kemaluan? Jawabannya adalah tidak karena wanita normal akan beranggapan bahwa rambut kepala adalah bukan kemaluan seperti alat kelamin (vagina) atau payudara. Bahkan, rambut kepala dianggap sebagai mahkota kecantikan. Memang, rambut kepala dapat membuat malu wanita jika beruban atau rontok karena sakit atau rusak. Alasan penutupan rambut kepala karena rambut beruban atau rontok atau rusak, dan mungkin agar merasa tambah percaya diri atau cantik tidak menjadi rmasalah. Yang menjadi masalah adalah jika alasannya karena rambut kepala dianggap sebagai kemaluan yang wajib ditutupi seperti alat kelamin atau payudara. Seperti sudah diketahui bersama bahwa menutupi kemaluan seperti alat kelamin atau payudara di tempat umum adalah merupakan perintah Allah.


Demikianlah makalah tentang aurat dalam blog ini. Jika ada perubahan persepsi pada diri penulis, makalah ini akan direvisi.

Jumat, 29 Agustus 2014

BADAN ZAKAT

Akhir-akhir ini, banyak lembaga atau badan atau organisasi yang bergerak di bidang penyaluran atau pembagian zakat. Mereka beriklan di televisi bahwa mereka adalah lembaga yang bisa dipercaya untuk menyalurkan atau membagi zakat. Bahkan ada di antaranya yang dibentuk secara resmi oleh pemerintah.

Konon, dasar pembentukan lembaga-lembaga tersebut adalah ayat Al Qur’an. Al Qur’an terjemahan yang digunakan adalah versi Dep. Agama RI. Berikut ini adalah kutipannya.

9:60. Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

9:103. Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Benarkah ayat-ayat tersebut di atas dapat digunakan sebagai dasar pijakan pendirian lembaga-lembaga penyaluran atau pembagian zakat? Makalah ini akan membahasnya.

Penggunaan ayat terjemahan 9:60 dan 9:103 versi Dep. Agama sebagai dasar pendirian badan atau lembaga zakat adalah tindakan yang salah karena terjemahan ayat-ayat tersebut salah. Walaupun seorang buta bahasa Arab, penulis dengan mudah dapat menunjukkan kesalahan tersebut. Untuk menunjukkan hal tersebut, transliterasi kedua ayat tersebut disajikan.

009.060 Innam[a] a(l)[ss]adaq[a]tu lilfuqar[a]-i wa(a)lmas[a]keeni wa(a)lAA[a]mileena AAalayh[a] wa(a)lmu-allafati quloobuhum wafee a(l)rriq[a]bi wa(a)lgh[a]rimeena wafee sabeeli All[a]hi wa(i)bni a(l)ssabeeli faree[d]atan mina All[a]hi wa(A)ll[a]hu AAaleemun [h]akeemun (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

009.103 Khu[th] min amw[a]lihim [s]adaqatan tu[t]ahhiruhum watuzakkeehim bih[a] wa[s]alli AAalayhim inna [s]al[a]taka sakanun lahum wa(A)ll[a]hu sameeAAun AAaleem(un) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

Tampak bahwa yang diterjemahkan menjadi zakat dalam 9:60 dan 9:103 oleh penerjemah Dep. Agama RI adalah a(l)[ss]adaq[a]tu dan [s]adaqatan yang seharusnya diterjemahkan menjadi sedekah.  Jadi, kedua ayat tersebut berbicara tentang sedekah, bukan zakat.

Zakat adalah aktivitas memberikan sedekah kepada golongan orang yang ditetapkan Allah. Zakat hanya bisa dikerjakan atau ditunaikan (Silakan cek arti tunai dalam kanus besar bahasa Indonesia!), bukan diberikan atau disalurkan (2:43). Artinya, yang bisa disalurkan adalah sedekah, bukan zakat. Jadi, istilah penyalur zakat atau pembagi zakat adalah tidak masuk akal. Yang masuk akal adalah penyalur sedekah atau pembagi sedekah. Sebenarnya, sampai di sini kita sudah bisa menjawab bahwa kedua ayat tersebut tidak bisa dijadikan dasar pendirian lembaga zakat. Walaupun demikian, pembahasannya masih perlu dilanjutkan.

2:43. Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku. (versi Dep. Agama RI)

Penggunaan kata ambilah dalam terjemahan 9:103 juga tidak tepat. Kata ambillah menimbulkan kesan seolah-olah ayat tersebut membenarkan cara meminta sedekah secara paksa. Padahal, sedekah harus diberikan secara sukarela dengan hanya mengharapkan rido Allah. Kata yang tepat adalah terimalah. Dalam konteks ayat 9:103, menurut penulis, Rasul Allah diminta untuk menerima sedekah dari orang beriman yang ingin membantu perjuangan Rasul Allah.  Jadi, ayat 9:103 juga tidak bisa membenarkan tindakan petugas yang mengambil sebagain rejeki dari Allah yang diberikan kepada hamba-Nya dengan paksa atau intimidasi.

Barangkali, yang dianggap sebagai pijakan kuat dalam pendirian lembaga zakat oleh adalah keberadaan pengurus-pengurus zakat dalam terjemahan 9:60. Sebenarnya, kata yang diterjemahkan menjadi pengurus-pengurus zakat adalah AA[a]mileena. Benarkah penerjemahan tersebut? Kutipan arti berdasarkan akar kata seperti yang ada dalam project root list di http://www.studyquran.co.uk/PRLonline.htm  ditampilkan untuk menjawabnya.

Ayn-Miim-Lam = to do/make/act/work/operate/perform/construct/manufacture, practice a handcraft, be active, one who does.

pcple. act. 3:136, 3:195, 6:135, 9:60, 11:93, 11:121, 23:63, 29:58, 37:61, 39:39, 39:74, 41:5, 88:3

Kata AA[a]mileena merupakan suatu active pariiciple. Jika dikaitkan dengan orang, artinya bisa menjadi yang melakukan atau yang mengerjakan. Dengan demikian, penerjemahan AA[a]mileena menjadi pengurus-pengurus zakat adalah bersifat tidak obyektif. Darimana asal kata pengurus dan kata zakat itu? Tampaknya, penerjemahnya berusaha mencari pembenaran terhadap persepsi yang dimilikinya. Jadi, AA[a]mileena dalam ayat 9:60 lebih tepat jika diterjemahkan menjadi yang mengerjakan atau yang berkerja.

Siapakah orang yang bekerja yang berhak menerima sedekah? Bukankah orang yang bekerja sudah menerima upah atau honor atau gaji atas pekerjaan yang dilakukannya? Menurut penulis, gaji atau honor atau upah adalah bentuk pembayaran atas jasa yang dilakukannya. Sedekah yang diterima orang yang bekerja adalah sebagian rejeki dari Allah yang diterima oleh orang yang memperkerjakannya. Dengan kalimat lain, karyawan, pegawai, atau buruh berhak mendapatkan sedekah secara pribadi dari bosnya atau yang memberi pekerjaannya.

Seandainya ada yang berdalih bahwa yang dimaksud dengan zakat adalah sedekah dan kemudian meralat istilah badan zakat menjadi badan sedekah, tetap saja ayat 9:60 tidak bisa dijadikan dasar pendirian badan seperti itu. Perlu diingat bahwa sedekah yang diterima orang yang bekerja adalah untuk dirinya, bukan untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang yang berhak menerima sedekah lainnya. Jadi, penggunaan ayat 9:60 sebagai dasar pembentukan pengurus zakat juga merupakan tindakan yang salah.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa tidak ada ayat Al Qur’an yang bisa dijadikan pijakan atas pendirian lembaga/badan zakat atau badan sedekah. Terjemahan Al Qur'an yang keliru sebaiknya segera dilrevisi agar tidak menyesatkan para penggunanya. Jika ada perubahan persepsi pada diri penulis, makalah ini akan direvisi.

Kamis, 31 Juli 2014

BERSEDEKAH WAJIB HUKUMNYA

PENDAHULUAN
Bersedekah dipercaya oleh sebagian besar orang beragama islam sebagai kegiatan bersifat opsional atau tidak wajib. Artnya, jika itu dikerjakan, orang akan mendapatkan pahala tetapi jika tidak dikerjakan, orang tidak berdosa. Benarkah bersedekah tidak wajib dilakukan oleh orang islam?

Makalah ini ditulis untuk menjawab pertanyaan tersebut. Untuk menjawabnya, Al Qur’an terjemahan digunakan.

PERINTAH MENAFKAHKAN SEBAGIAN REJEKI DARI ALLAH
Perintah menafkahkan atau membelanjakan atau mengeluarkan sebagian rejeki yang diberikan oleh Allah terdapat dalam 2:2 dan 2:3. Dalam kedua ayat tersebut dijelaskan bahwa menafkahkan sebagian rejeki adalah amal yang harus dikerjakan orang yang ingin dikategorikan sebagai orang bertaqwa. Dengan kalimat lain, menafkahkan sebagian rejeki dari Allah adalah suatu kewajiban.

2:2. Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, (versi Dep. Agama RI)

2:3. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka. (versi Dep. Agama RI)

002.003 Alla[th]eena yu/minoona bi(a)lghaybi wayuqeemoona a(l)[ss]al[a]ta wamimm[a] razaqn[a]hum yunfiqoon(a) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

Kata yunfiqoon(a) terbentuk dari akar kata nun-fa-qaf. Artinya adalah membelanjakan atau mengeluarkan atau menafkahkan.

Menafkahkan sebagian rejeki yang disebut dalam 2:3 dilakukan sesuai dengan ketentuan yang dibuat Allah. Artinya, pembelanjaan tersebut tidak dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup sendiri. Dalam proses pembelanjaan tersebut, ada sebagian rejeki dari Allah yang diberikan kepada orang lain.

ARTI SEDEKAH DAN ZAKAT
Sebagian rejeki dari Allah yang diberikan kepada orang lain dinyatakan dengan istilah apa? Istilah tersebut ada dalam ayat-ayat yang lain. Di antaranya adalah sebagai berikut.

4:114. Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keredhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar. (versi Dep. Agama RI)

004.114 L[a] khayra fee katheerin min najw[a]hum ill[a] man amara bi[s]adaqatin aw maAAroofin aw i[s]l[ah]in bayna a(l)nn[a]si waman yafAAal [tha]lika ibtigh[a]a mar[da]ti All[a]hi fasawfa nu/teehi ajran AAa{th}eem[a](n) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

Istilah untuk menyatakan sebagian rejeki dari Allah yang diberikan kepada orang lain dalam bahasa Indonesia adalah sedekah. Sedekah adalah terjemahan dari [s]adaqatin. Bagaimana dengan zakat? Ternyata, zakat adalah kata benda yang menerangkan suatu aktivitas, bukan yang menerangkan sebagian rejeki dari Allah yang dibelanjakan. Ayat 2:43 berikut ini akan menjelaskan hal tersebut.

2:43. Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku. (versi Dep. Agama RI)

002.043 Waaqeemoo a(l)[ss]al[a]ta wa[a]too a(l)zzak[a]ta wa(i)rkaAAoo maAAa a(l)rr[a]kiAAeen(a) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

Perlu diperhatikan bahwa zakat dalam teks terjemahan versi Dep.Agama RI adalah terjemahan dari a(l)zzak[a]ta. Dalam ayat tersebut, zakat dirangkaikan dengan tunaikanlah. Arti tunaikanlah adalah kerjakanlah! Dengan demikian, tunaikanlah zakat berarti kerjakanlah zakat. Jadi, sekali lagi, zakat adalah suatu aktivitas. Terjemahan 2:43 versi Abdullah Yusuf Ali berikut ini menegaskan hal tersebut. Disebutkan dalam terjemahan tersebut bahwa frase yang diterjemahkan menjadi tunaikanlah zakat diterjemahkan menjadi kerjakanlah kedermawanan secara teratur (practise regular charity). Oleh sebab itu, zakat tidak berarti sebagian rejeki yang diberikan Allah yang dibelanjakan. Zakat berarti kedermawanan. Kedermawanan berarti memberikan sebagian rejeki dari Allah kepada orang lain. Jadi, zakat berarti memberikan atau mengeluarkan atau menafkahkan sebagian rejeki dari Allah kepada orang lain.

002.043 And be steadfast in prayer; practise regular charity; and bow down your heads with those who bow down (in worship). (versi Abdullah Yusuf Ali)

Sampai di sini, dapat disampaikan kembali bahwa zakat adalah istilah yang berarti menafkahkan sebagian rejeki dari Allah seperti yang disebutkan dalam 2;3. Dengan demikian, zakat merupakan aktivitas yang harus dilakukan oleh orang yang bertaqwa. Jadi, hukum zakat adalah wajib bagi orang-orang yang ingin digolongkan sebagai orang bertaqwa.

Perlu disayangkan, penerjemah Dep.Agama RI memaknai zakat sebagai bukan aktivitas melainkan sebagai sebagian rejeki dari Allah yang diberikan kepada orang lain. Hal ini tercermin dari hasil terjemahan ayat–ayat Al Qur’an versi mereka berikut ini.

9:58. Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (distribusi) zakat; jika mereka diberi sebahagian dari padanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebahagian dari padanya, dengan serta merta mereka menjadi marah. (versi Dep. Agama RI)

9:60. Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (versi Dep. Agama RI)

9:103. Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (versi Dep. Agama RI)

9:104. Tidaklah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan menerima zakat dan bahwasanya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang? (versi Dep. Agama RI)

Jika kita membaca terjemahan di atas, kita akan berpersepsi bahwa zakat berarti sebagian rejeki dari Allah yang diberikan kepada orang lain. Benarkah terjemahan di atas? Marilah kita cek terjemahan di atas dengan transliterasi ayat-ayat di atas dalam DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913.

009.058 Waminhum man yalmizuka fee a(l)[ss]adaq[a]ti fa-in oAA[t]oo minh[a] ra[d]oo wa-in lam yuAA[t]aw minh[a] i[tha] hum yaskha[t]oon(a) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

009.060 Innam[a] a(l)[ss]adaq[a]tu lilfuqar[a]-i wa(a)lmas[a]keeni wa(a)lAA[a]mileena AAalayh[a] wa(a)lmu-allafati quloobuhum wafee a(l)rriq[a]bi wa(a)lgh[a]rimeena wafee sabeeli All[a]hi wa(i)bni a(l)ssabeeli faree[d]atan mina All[a]hi wa(A)ll[a]hu AAaleemun [h]akeemun (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

009.103 Khu[th] min amw[a]lihim [s]adaqatan tu[t]ahhiruhum watuzakkeehim bih[a] wa[s]alli AAalayhim inna [s]al[a]taka sakanun lahum wa(A)ll[a]hu sameeAAun AAaleem(un) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

009.104 Alam yaAAlamoo anna All[a]ha huwa yaqbalu a(l)ttawbata AAan AAib[a]dihi waya/khu[th]u a(l)[ss]adaq[a]ti waanna All[a]ha huwa a(l)ttaww[a]bu a(l)rra[h]eem(u) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

Ternyata, yang diterjemahkan menjadi zakat adalah kata-kata yang seharusnya diterjemahkan menjadi sedekah. Kata-kata tersebut adalah a(l)[ss]adaq[a]ti, [s]adaqatan, dan a(l)[ss]adaq[a]tu. Jadi, penerjemah Dep. Agama RI telah melakukan kesalahan. Padahal, mereka sudah mengetahui bahwa ada kata a(l)zzak[a]ta yang terjemahannya adalah zakat (Silakan periksa 2:43 di muka!). Seharusnya, kata zakat bergaris bawah dalam terjemahan ayat-ayat di atas diganti dengan sedekah.

Anehnya, penerjemah dari Dep. Agama RI menerjemahkan kata yang mempunyai akar kata sad-dal-qaf, yaitu bi[s]adaqatin menjadi sedekah pada ayat 4:114, yang kutipannya sudah dipaparkan di muka). Hal serupa juga terjadi pada penerjemahan ayat-ayat berikut ini.

2:263. Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.

002.263 Qawlun maAAroofun wamaghfiratun khayrun min [s]adaqatin yatbaAAuh[a] a[th]an wa(A)ll[a]hu ghaniyyun [h]aleem(un) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

2:264. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir

002.264 Y[a] ayyuh[a] alla[th]eena [a]manoo l[a] tub[t]iloo [s]adaq[a]tikum bi(a)lmanni wa(a)l-a[tha] ka(a)lla[th]ee yunfiqu m[a]lahu ri-[a]a a(l)nn[a]si wal[a] yu/minu bi(A)ll[a]hi wa(a)lyawmi al-[a]khiri famathaluhu kamathali [s]afw[a]nin AAalayhi tur[a]bun faa[sa]bahu w[a]bilun fatarakahu [s]aldan l[a] yaqdiroona AAal[a] shay-in mimm[a] kasaboo wa(A)ll[a]hu l[a] yahdee alqawma alk[a]fireen(a). (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

2:271. Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

002.271 In tubdoo a(l)[ss]adaq[a]ti faniAAimm[a] hiya wa-in tukhfooh[a] watu/tooh[a] alfuqar[a]a fahuwa khayrun lakum wayukaffiru AAankum min sayyi-[a]tikum wa(A)ll[a]hu bim[a] taAAmaloona khabeer(un) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

2:276. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.

002.276 Yam[h]aqu All[a]hu a(l)rrib[a] wayurbee a(l)[ss]adaq[a]ti wa(A)ll[a]hu l[a] yu[h]ibbu kulla kaff[a]rin atheem(in) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

9:79. (Orang-orang munafik itu) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka azab yang pedih.

009.079 Alla[th]eena yalmizoona almu[tt]awwiAAeena mina almu/mineena fee a(l)[ss]adaq[a]ti wa(a)lla[th]eena l[a] yajidoona ill[a] juhdahum fayaskharoona minhum sakhira All[a]hu minhum walahum AAa[tha]bun aleem(un) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

58:12. Hai orang-orang beriman, apabila kamu mengadakan pembicaraan khusus dengan Rasul hendaklah kamu mengeluarkan sedekah (kepada orang miskin) sebelum pembicaraan itu. Yang demikian itu lebih baik bagimu dan lebih bersih; jika kamu tidak memperoleh (yang akan disedekahkan) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

058.012 Y[a] ayyuh[a] alla[th]eena [a]manoo i[tha] n[a]jaytumu a(l)rrasoola faqaddimoo bayna yaday najw[a]kum [s]adaqatan [tha]lika khayrun lakum waa[t]haru fa-in lam tajidoo fa-inna All[a]ha ghafoorun ra[h]eem(un) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

58:13. Apakah kamu takut akan (menjadi miskin) karena kamu memberikan sedekah sebelum mengadakan pembicaraan dengan Rasul? Maka jika kamu tiada memperbuatnya dan Allah telah memberi taubat kepadamu maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

058.013 Aashfaqtum an tuqaddimoo bayna yaday najw[a]kum [s]adaq[a]tin fa-i[th] lam tafAAaloo wat[a]ba All[a]hu AAalaykum faaqeemoo a(l)[ss]al[a]ta wa[a]too a(l)zzak[a]ta waa[t]eeAAoo All[a]ha warasoolahu wa(A)ll[a]hu khabeerun bim[a] taAAmaloon(a) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

Jadi, anggapan bahwa zakat adalah sebagian rejeki dari Allah yang diberikan kepada orang lain adalah salah karena tidak sesuai dengan Al Qur’an. Yang benar adalah bahwa zakat adalah menafkahkan atau membelanjakan atau mengeluarkan sebagaian rejeki dari Allah kepada orang lain. Sebagian rejeki dari Allah yang diberikan kepada orang lain disebut sedekah.

Sebagai tambahan, arti zakat dan sedekah berdasarkan akar katanya juga akan dibahas secara singkat. Kutipan arti menurut akar kata yang ada dalam project root list di http://www.studyquran.co.uk/PRLonline.htm  adalah sebagai berikut.

Sad-Dal-Qaf = to be truthful, true, sincere, speak the truth, establish or confirm the truth of what another has said, verify, keep faith, observe a promise faithfully, fulfill, speak veraciously, hold anyone as trustworthy. sadaqa fi al-qitaali - to fight gallantly. tsaddaqa - to give alms. sidqun - truth, veracity, sincerity, soundness, excellence in a variety of different objects, salubrious and agreeable, favourable entrance, praise. saadiqun - one who is true and sincere, one who speaks the truth. saadiqah - perfect woman. sadaqat (pl. saduqaat) - dowry. siddiiq - person who is trustworthy, sincere. saddaqa - to confirm, verify, fulfil. asdaqu - more true.

Zay-Kaf-Waw = it increased/augmented, it throve/grew well/flourished/prospered and produced fruit, it was/became pure, purification, goodness/righteousness, lead/enjoy a plentiful/easy/soft/delicate life, put into a good/right state/condition, alms, poor-rate/due

Tampak bahwa zakat dapat bermakna penyucian (purification) sedangkan sedekah dapat berarti ketulusan (sincerity). Dengan demikian, zakat adalah aktivitas yang berakibat pada penyucian diri, yaitu penghapusan dosa. Di pihak lain, sedekah adalah sebagian rejeki dari Allah yang diberikan kepada orang lain dengan tulus/ikhlas.

HUKUM BERSEDEKAH
Apakah sedekah tidak wajib hukumnya? Kita tidak bisa menjawabnya karena sedekah bukan merupakan suatu aktivitas. Yang bisa ditentukan hukumnya adalah aktivitas. Yang bisa dijawab adalah, apakah memberi sedekah atau bersedekah tidak wajib hukumnya?

Jawabannya adalah bahwa bersedekah atau memberi sedekah adalah wajib hukumnya. Alasannya, sedekah berarti sebagian rejeki dari Allah yang diberikan kepada orang lain. Memberi sedekah atau bersedekah berarti menafkahkan atau membelanjakan atau mengeluarkan sebagian rejeki dari Allah kepada orang lain. Tampak jelas di sini bahwa bersedekah mempunyai arti yang sama dengan zakat. Sudah dibahas di muka bahwa zakat adalah aktivitas menafkahkan atau membelanjakan atau mengeluarkan sebagian rejeki dari Allah kepada orang lain. Jadi, hukum bersedekah atau memberi sedekah adalah wajib, seperti hukum yang berlaku pada zakat..

PENUTUP

Bersedekah adalah wajib hukumnya. Makalah ini akan direvisi jika terjadi perubahan persepsi pada diri penulis.

Senin, 30 Juni 2014

ADAM DARI LUAR BUMI?

PENDAHULUAN
Kali ini penulis akan mencoba mengungkap asal manusia dengan menggunakan informasi yang ada dalam Al Qur’an. Sebelumnya, penulis punya persepsi bahwa manusia adalah keturunan manusia pertama bernama Adam yang diusir dari surga dan kemudian diturunkan ke bumi setelah melanggar larangan Tuhan. Persepsi seperti itu berkembang menjadi spekulasi bahwa manusia mungkin keturunan makhluk dari luar bumi atau sering disebut dengan makhluk angkasa luar. Benarkah persepsi tersebut? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penulis akan mengaji ayat-ayat Al Qur’an terjemahan.

TEMPAT TINGGAL ADAM DAN ISTERINYA
Allah sebenarnya sudah merencanakan akan menciptakan manusia yang tinggal di bumi (2:30). Disebutkan dalam ayat tersebut bahwa manusia akan dijadikan sebagai khalifah.

2:30. Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (versi Dep. Agama RI)

Apa arti khalifah? Untuk menjawabnya, arti akar kata menurut project root list yang ada di http://www.studyquran.co.uk/PRLonline.htm digunakan. Kutipan sebagian arti akar kata kh-lam-fa yang dianggap sesuai ditampilkan berikut ini.

“Kh-Lam-Fa = To follow/come after/succeed another, substitute or supersede, to supply/be a supplier to someone, to restore or replace a thing to someone, smite or strike from behind, yearn towards other than one's spouse (in the spouses absence/behind his or her back), speak of/mention someone behind his or her back, remain behind/not go forth, to be kept back from all good, to not prosper or be successful, to become corrupt or altered for the worse, retire/withdraw/go away, to turn away from/avoid/shun a thing, to become foolish/idiotic/deficient in intellect, contrarious/hard in disposition, to leave behind, to appoint someone as successor, disagree with or differ from someone, contradict or oppose someone, to break/fail to perform a promise, to follow reciprocally/alternate/interchange, repeatedly move to and fro (coming and going), to differ/ be dissimilar

khalifah n.m. (pl. khala'if) 2:30, 6:165, 7:69, 7:74, 10:14, 10:73, 27:62, 35:39, 38:26”

Tampak bahwa akar kata kh-lam-fa mempunyai arti yang bervariasi. Dari sekian banyak arti akar kata tersebut, yang sesuai dengan konteks kandungan pesan dalam 2:30 menurut penulis adalah mengikuti (to follow/come after/succeed another). Sebagai kata benda, khalifah berarti yang mengikuti. Yang mengikuti siapa? Menurut penulis, jawabannya adalah yang mengikuti Allah. Jadi, kalifah berarti yang mengikuti Allah atau pengikut Allah.

Pernyataan malaikat dalam ayat 2:30 menegaskan penafsiran tersebut. Diceritakan dalam ayat tersebut bahwa malaikat menanyakan alasan Allah akan menciptakan manusia sedangkan para malaikat senantiasa patuh mengikuti semua kehendak Allah. Maksudnya, mengapa Allah ingin mencipta pengikut baru berupa manusia sedangkan Allah sudah mempunyai pengikut yang setia yaitu para malaikat?

Selain itu, penggunaan kata seorang di depan kata khalifah juga tidak tepat karena yang diciptakan pada saat itu adalah dua orang, yaitu Adam dan isterinya. Selain itu, kenyataannya, sekrang ini, ada banyak manusia di bumi. Menurut penulis, yang tepat adalah satu khalifah. Maksudnya, manusia termasuk salah satu khalifah.

Perlu disampaikan kembali bahwa manusia memang direncanakan akan bertempat tinggal di bumi. Ini menepis anggapan penulis sebelumnya bahwa keberadaan manusia di bumi adalah sebagai hukuman terhadap manusia pertama (Adam dan isterinya) karena melanggar perintah Allah. Jadi, tanpa melakukan pelanggaran terhadap perintah Allah pun, manusia akan tinggal di bumi.

Manusia pertama yang bernama Adam ditemani oleh seorang isteri (7:19). Setelah diciptakan, Adam dan isterinya di tempatkan di surga. Perlu diperhatikan bahwa sejak diciptakan, mereka telah menjadi suami-isteri. Ini merupakan petunjuk bahwa mereka diciptakan sudah dalam keadaan dewasa.

7:19. (Dan Allah berfirman): "Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan isterimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim." (versi Dep. Agama RI)

Surga mungkin seperti kebun yang sangat nyaman sebagai tempat tinggal. Perlu diketahui bahwa jannah yang diterjemahkan menjadi surga dapat pula berarti kebun (garden). Oleh sebab itu, dapat dikatakan bahwa surga adalah suatu kebun yang nyaman untuk tempat tinggal. Kutipan arti akar kata jim-nun-nun dari project root list di http://www.studyquran.co.uk/PRLonline.htm adalah sebagai berikut.

“Jiim-Nun-Nun (root of jinn) = veiled/concealed/covered/hid/protected (e.g. cloth, armour, grave, shield), invisible, become dark/posessed, darkness of night, bereft of reason, mad/insane/unsound in mind/intellect, confusedness.
Become thick/full-grown/blossom, herbage, garden.
Spiritual beings that conceal themselves from the senses (including angels), become weak and abject, greater part of mankind, devil/demon, people who are peerless having no match or equal, a being who is highly potent, sometimes refers to Kings because they are concealed from the common folk”

Gambaran keadaan surga tempat tinggal Adam dan isterinya diterangkan dalam 20:118 dan 20:119. Surga tempat tinggal mereka adalah suatu kebun yang penghuninya tidak akan kelaparan, tidak akan kehausan, tidak akan kepanasan, dan tidak akan telanjang.

20:118. Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang, (versi Dep. Agama RI)

20:119. dan sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya." (versi Dep. Agama RI)

Frase tidak akan telanjang dalam terjemahan 20:118 perlu dibahas lebih lanjut. Menurut penulis, telanjang yang dimaksud adalah bukan seperti keadaan tidak berbaju seperti pengertian telanjang yang dianut oleh kita sekarang ini. Pada waktu itu, tidak ada teknologi membuat baju. Menurut penulis, frase tersebut bermakna tidak ada hasrat untuk berhubungan seks yang dapat menyebabkan mempunyai anak. Dengan demikian, walaupun tanpa baju, mereka tidak berpikir untuk berbuat porno atau berhubungan seks.

Di samping itu, keadaan tidak telanjang yang dikategorikan sebagai sebuah kenikmatan juga menarik untuk dibahas. Tidak telanjang berarti tidak berhubungan seks. Artinya, berhubungan seks bukanlah suatu kenikmatan di surga. Padahal, dalam kehidupan sekarang ini, berhubungan seks termasuk sebagai suatu jenis kenikmatan. Mungkin benar bahwa tidak berhubungan seks merupakan suatu kenikmatan karena aktivitas tersebut sesungguhnya terjadi karena hanya dorongan nafsu saja. Jika nafsu seks tidak ada, orang tidak akan berpikir tentang hal-hal yang berhubungan dengan seks. Jika semua orang tidak mempunyai nafsu seks, orang tidak kawin adalah orang yang normal. Sebaliknya, orang yang kawin justeru dianggap sebagai orang tidak normal. Yang terjadi di dunia sekarang adalah bahwa orang mempunyai nafsu seks sehingga jika tidak tersalurkan akan menjadi suatu penderitaan. Oleh sebab itulah, penyebutan tidak telanjang sebagai suatu kenikmatan menjadi hal yang menarik untuk direnungkan. Mungkin saja, seorang laki-laki yang masuk surga dan ditemani oleh isteri yang cantik berupa bidadari juga tidak akan berhubungan seks seperti yang dialami Adam dan isterinya sebelum tergoda oleh syaitan.

Surga itu mungkin berada di tempat yang relatif tinggi sehingga udaranya cukup sejuk. Mungkin juga, mereka tinggal di bawah naungan pohon-pohon buah-buahan yang rindang sehingga tidak terkena sinar matahari secara langsung. Di surga itu, mungkin ada sungai yang mengalir terus, yang dapat menghidupi tumbuhan dan binatang, termasuk Adam dan isterinya.

Apakah pembaca memperhatikan kata matahari dalam terjemahan 20:119? Bagi penulis, matahari yang dimaksud adalah matahari yang sama dengan yang dapat kita lihat hari ini. Sudah disampaikan di muka bahwa Allah akan membuat manusia di bumi (2:30). Oleh sebab itu, sangat masuk akal jika penulis berpendapat bahwa Adam dan isterinya tinggal di suatu kebun yang ada di bumi.

Anggapan bahwa bumi tempat tinggal Adam dan isterinya adalah bukan bumi yang kita diami sekarang ini mungkin berasal dari perintah turun dari surga setelah mereka melanggar larangan Allah. Setelah melanggar perintah Allah, Adam dan isterinya mendapat sejumlah ketetapan dari Allah. Ketetapan tersebut tercantum dalam ayat berikut ini.

20:123. Allah berfirman: "Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. (versi Dep. Agama RI)

Banyak orang menafsirkan 2:123 bahwa Adam dan isterinya diturunkan dari surga yang ada di langit yang berada di atas. Kelihatannya, penafsiran seperti itu masuk akal. Akan tetapi, jika dikaji secara seksama dengan pikiran jernih, penafsiran itu akan tampak keliru.

Perlu diperhatikan bahwa kata turunlah dan diturunkan adalah berbeda. Kata turunlah bermakna bahwa yang diperintah dapat bergerak turun secara mandiri. Kata diturunkan bermakna bahwa yang bergerak turun bersifat pasif, mengikuti kemauan pihak lain yang menurunkan. Dalam hal ini, kata yang digunakan adalah turunlah. Dengan demikian, Adam dan isterinya akan bergerak ke tempat yang lebih rendah secara mandiri.

Jika Adam dan isterinya dianggap tinggal di suatu kebun yang ada di langit, mereka akan melihat bumi berada di atas. Yang terlihat oleh mereka jika bergerak turun atau melihat ke bawah adalah tanah tempat berpijak. Artinya, jika bergerak turun, mereka tidak akan sampai ke bumi yang ada di atas mereka. Agar sampai ke bumi, mereka harus bergerak ke atas. Oleh sebab itu, anggapan bahwa surga tempat tinggal Adam dan isterinya berada di langit adalah tidak benar.

Penafsiran kata turun yang berarti bergerak atau berpindah ke lokasi yang lebih rendah di surga (kebun) yang ada di bumi juga tidak mempunyai arti karena pada hakikatnya mereka tetap tinggal di bumi. Selain itu, pada saat itu hanya ada dua manusia di bumi. Mereka dapat bepergian ke tempat yang mereka inginkan. Jadi, kata turun dalam hal ini bukan berarti bergerak atau berpindah ke tempat yang lebih rendah di bumi.

Terus, apa maksud Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama? Menurut penulis, frase tersebut berarti ketetapan Allah yang berlaku bagi Adam dan isterinya bahwa sejak saat itu mereka akan mempunyai keturunan. Mereka akan mulai mempunyai anak dari surga tersebut dan kemudian jummlahnya semakin lama semakin banyak. Jika kandungan ayat 20:123 diperhatikan secara teliti, penafsiran tersebut tampak masuk akal. Setelah mereka mempunyai keturunan, keturunan mereka ada yang bermusuhan. Allah juga berpesan kepada mereka bahwa Allah akan memberikan petunjuk kepada keturunannya. Keturunannya yang mengikuti petunjuk-Nya tidak akan akan sesat dan tidak akan celaka.

Walaupun demikian, Adam dan isterinya disebutkan keluar dari surga (7:27). Dijelaskan dalam ayat tersebut bahwa yang dimaksud dengan keluar dari surga adalah perubahan dari keadaan tidak mengerti bagian kemaluan menjadi mengerti bagian kemaluan. Ayat 2:36 juga menerangkan bahwa yang dimaksud dengan keluar adalah perubahan dari keadaan semula. Artinya, mereka tetap tinggal di kebun yang sama, yaitu kebun yang tidak menyebabkan kelaparan, kehausan, dan kepanasan.

7:27 You Adam's sons and daughters, (let) not the devil test/misguide/betray you as/like he brought out your parents from the Paradise, he removes/pulls away from them (B) their (B)'s cover/dress to show them (B)/make them (B) understand their (B)'s shameful genital private parts; that he sees you, he and his group/tribe from where/when you do not see them, that We made the devils guardians/allies to those who do not believe. (Kamu anak laki-laki dan perempuan Adam, janganlah sampai syaitan menjerumuskan kamu seperti ia mengeluarkan kedua orang tuamu dari surga, ia membuang dari mereka penutup mereka untuk membuat mereka mengerti bagian kemaluannya; bahwa mereka melihat kamu, ia dan kelompoknya dari suatu tempat yang kamu tidak melihat mereka, bahwa Kami membuat syaitan teman bagi mereka yang tidak beriman.) (versi Muhamed dan Samira Ahmed)

2:36. Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: "Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan." (versi Dep. Agama RI)

Penulis tidak setuju dengan penafsiran bahwa Adam dan isterinya dikeluarkan dari surga (kebun) dan kemudian tinggal di luar surga (kebun). Yang disebutkan dalam 2:36 adalah dikeluarkan dari keadaan semula. Yang dimaksud dengan keadaan adalah keadaan Adam dan isterinya, bukan keadaan surga (kebun). Jika diartikan keluar secara fisik dan kemudian tinggal di luar surga (kebun), mereka akan kelaparan, kehausan, dan kepanasan dan kemudian akan mati.

Berdasarkan uraian di atas, kita bisa menggambarkan keadaan surga tempat tinggal Adam dan isterinya karena surga tersebut berada di bumi. Bagi orang Indonesia, surga itu mungkin seperti keadaan tanah nusantara pada jaman dahulu. Tidak heran apabila banyak orang jaman dahulu menyebut Indonesia sebagai tanah surga.

PENUTUP
Berdasarkan kajian di atas, penulis berpendapat bahwa surga tempat tinggal Adam dan isterinya berada di bumi yang sama dengan bumi tempat tinggal kita sekarang ini. Manusia tidak berasal dari angkasa luar atau tempat tinggal yang ada di langit. Di bumi itu manusia hidup, mati, dan akan dibangkitkan (7:25).

7:25. Allah berfirman: "Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan. (versi Dep. Agama RI)


Apabila terjadi perubahan persepsi pada diri penulis, makalah ini akan direvisi.

Kamis, 22 Mei 2014

KAMU TIDAK AKAN LUPA

Persepsi penerjemah Al Qur’an bahwa Nabi Muhammad adalah buta huruf tercermin dalam terjemahan Al Qur’an ayat 87:6 versi Dep. Agama RI berikut ini.

87:6. Kami akan membacakan (Al Quran) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa, (versi Dep. Agama RI)

Dengan persepsi bahwa bahwa Nabi Muhammad adalah orang yang buta huruf, Nabi Muhammad dianggap tidak akan bisa mencatat wahyu yang diterimanya sehingga Nabi Muhammad hanya akan mengandalkan ingatan saja. Agar tidak bisa lupa, Nabi Muhammad dibuat menjadi manusia yang tidak bisa lupa sesudah Al Qur’an dibacakannya kepadanya. Demikianlah kurang lebih maksud yang terkandung dalam terjemahan ayat 87:6 versi Dep. Agama RI. Benarkah penerjemahan seperti itu? Jawaban pertanyaan di atas ada di ayat berikutnya.

86:7. kecuali kalau Allah menghendaki. Sesungguhnya Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi. (versi Dep. Agama RI)

Dengan masih berpijak pada persepsi yang sama, ayat 86:7 menerangkan bahwa kalau Allah menghendaki, Nabi Muhammad dapat menjadi lupa tentang semua wahyu yang diterimanya. Mungkinkah Allah berbuat kekeliruan dalam menyusun kata-kata atau membuat Al Qur’an sehingga menghapus ingatan berisi wahyu Allah yang keliru yang ada di otak Nabi Muhammad? Tidak mungkin! Allah tidak mungkin berbuat kekeliruan. Oleh sebab itu, penafsiran seperti itu adalah salah.

Walaupun buta bahasa Arab, penulis akan berusaha mencari tahu penafsiran yang benar. Untuk itu, terjemahan versi lain digunakan.

87:6 We will make you read, so do not forget. (Kami akan membuat kamu membaca, sehingga tidak lupa.) (versi Muhamed dan Samira Ahmed)

87:7 Except what God willed/wanted/intended, that He truly knows the declared/publicized and what hides. (Kecuali yang Allah kehendaki, bahwa Dia sesungguhnya mengetahui yang dipublikasikan dan yang tersembunyi.) (versi Muhamed dan Samira Ahmed)

87:6. We will make you recite, so you will not forget, (Kami akan membuat kamu membaca, sehingga kamu tidak akan lupa.) (versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri)

87:7. Except what Allah wills. Indeed, He knows the manifest and what is hidden. (Kecuali yang Allah kehendaki. Sungguh, Dia mengetahui yang nyata dan yang disembunyikan.) (versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri)

Menurut terjemahan versi Muhamed dan Samira Ahmed dan versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri, yang membaca adalah kamu. Di pihak lain, menurut versi Dep. Agama RI, yang membaca adalah Kami. Ini adalah suatu perbedaan yang sangat nyata. Perbedaan tersebut semakin menegaskan bahwa penafsiran penerjemah Al Qur’an dari Dep. Agama RI adalah salah. Tampaknya, penafsiran yang salah tersebut terjadi karena persepsi yang salah pula.


Menurut penulis, ayat 87:6 dan 87:7 menerangkan bahwa Allah berkehendak membuat manusia membaca. Dengan kemampuan membaca tersebut, orang tidak akan lupa. Caranya, manusia mencatat segala sesuatu yang dianggap perlu. Dengan catatan itulah manusia tidak bisa lupa. Walaupun demikian, catatan yang dibuat dapat saja hilang jika Allah menghendaki. Jika catatan hilang, manusia akan menjadi tidak bisa mengingat informasi yang pernah ada. Penyebab kehilangan catatan antara lain kebakaran, banjir, sunami, angin besar, letusan gunung, gempa bumi, dan kerusakan dokumen. Demikianlah, penafsiran ayat 87:6 yang benar menurut penulis. Jadi, ayat 87:6 bukan ayat yang menjelaskan bahwa Nabi Muhammad buta huruf.