Kamis, 29 Juni 2017

TERJEMAHAN AYAT PUASA ALTERNATIF

Pada bulan puasa tahun ini, penulis teringat kepada terjemahan 2:183 versi Dep. Agama RI. Sudah bertahun-tahun penulis berpersepsi bahwa ayat ini adalah ayat yang menjadi dasar pelaksanaan puasa pada bulan Ramadhan. Kutipan terjemahan tersebut adalah seperti berikut ini.

2:183. Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (versi Dep. Agama RI)

Seiring dengan perjalanan waktu, penulis merasakan ada informsi yang perlu diteliti lagi kebenarannya. Informasi tersebut adalah bahwa puasa adalah syarat agar menjadi bertakwa karena dalam terjemahan tersebut ada informasi bahwa puasa dikerjakan agar bertakwa. Menurut kamus besar bahasa Indonesia (kbbI), takwa berarti terpeliharanya diri untuk tetap taat melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Dengan demikian, bertakwa berarti taat melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Menurut penulis, orang yang bersedia untuk berpuasa pada bulan Ramadhan adalah orang yang taat menjalankan perintah Allah. Artinya, orang yang bersedia untuk berpuasa karena menjalankan perintah Allah adalah orang bertakwa. Mengapa orang bertakwa harus berpuasa agar menjadi bertakwa? Selain itu, frasa agar bertakwa mengindikasikan bahwa ada perubahan keadaan dari tidak bertakwa menjadi keadaan bertakwa. Apakah ayat 2:183 menerangkan bahwa orang beriman dianggap tidak bertakwa sehingga diperintahkan berpuasa? Apakah orang beriman tidak pernah bisa menjadi bertakwa karena setiap tahun pada bulan Ramadhan selama kehidupannya di dunia selalu diperintahkan untuk berpuasa?

Berawal dari pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas, penulis ingin menerjemahkan sendiri ayat-ayat yang berkaitan dengan puasa Ramadhan. Ayat-ayat terebut adalah 2:183 sampai 2:185. Selain itu, penerjemahan ini juga dilakukan agar penulis bisa belajar bahasa Arab. Untuk itu, transliterasi ayat-ayat tersebut disajikan berikut ini.

002.183 Y[a] ayyuh[a] alla[th]eena [a]manoo kutiba AAalaykumu a(l)[ss]iy[a]mu kam[a] kutiba AAal[a] alla[th]eena min qablikum laAAallakum tattaqoon(a) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

002.184 Ayy[a]man maAAdood[a]tin faman k[a]na minkum maree[d]an aw AAal[a] safarin faAAiddatun min ayy[a]min okhara waAAal[a] alla[th]eena yu[t]eeqoonahu fidyatun [t]aAA[a]mu miskeenin faman ta[t]awwaAAa khayran fahuwa khayrun lahu waan ta[s]oomoo khayrun lakum in kuntum taAAlamoon(a) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

002.185 Shahru rama[da]na alla[th]ee onzila feehi alqur-[a]nu hudan li(l)nn[a]si wabayyin[a]tin mina alhud[a] wa(a)lfurq[a]ni faman shahida minkumu a(l)shshahra falya[s]umhu waman k[a]na maree[d]an aw AAal[a] safarin faAAiddatun min ayy[a]min okhara yureedu All[a]hu bikumu alyusra wal[a] yureedu bikumu alAAusra walitukmiloo alAAiddata walitukabbiroo All[a]ha AAal[a] m[a] had[a]kum walaAAallakum tashkuroon(a) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

Hasil penerjemahannya adalah berikut ini.

2:183
Y[a] ayyuh[a] = Wahai
alla[th]eena = orang-orang yang
[a]manoo = telah percaya
kutiba = telah ditulis
AAalaykumu = pada kamu semua
a(l)[ss]iy[a]mu = puasa
kam[a] = seperti apa
kutiba = telah ditulis
AAal[a] = pada
alla[th]eena = orang-orang yang
min = dari
qablikum = sebelum kamu semua
laAAallakum = barangkali kamu semua
tattaqoon(a) = menjaga

2:184
Ayy[a]man = untuk beberapa hari
maAAdood[a]tin = dari yang bisa dihitung
faman = maka siapa
k[a]na = telah
minkum = di antara kamu semua
maree[d]an = sakit
aw = atau
AAal[a] = pada
safarin = suatu perjalanan
fa = maka
AAiddatun = jumlah
min = dari
ayy[a]min = beberapa hari
okhara = lain
waAAal[a] = dan pada
alla[th]eena = orang-orang yang
yu[t]eeqoonahu =  (mereka) mampu itu
fidyatun = suatu penebusan
[t]aAA[a]mu = (mereka) telah memberi makan
miskeenin = yang miskin
faman = maka siapa
ta[t]awwaAAa = (dia) telah mematuhi
khayran = kebajikan
fahuwa = maka itu
khayrun = kebajikan
lahu = bagi dia
waan = dan bahwa
ta[s]oomoo = berpuasa
khayrun = kebajikan
lakum = bagi kamu semua
in = jika
kuntum = kamu semua
taAAlamoon(a) = mengetahui

2:185
Shahru = bulan
rama[da]na = tanah dalam keadaan panas
alla[th]ee = yang
onzila = telah diturunkan
feehi = di dalamnya
alqur-[a]nu = Al Qur’an
hudan = petunjuk
li = untuk
(l)nn[a]si = manusia
wa = dan
bayyin[a]tin = bukti-bukti yang jelas
mina = dari
alhud[a] = petunjuk tersebut
wa = dan
(a)lfurq[a]ni = penjelas tersebut
faman = maka siapa
shahida = (dia) telah menyatakan kebenaran
minkumu = di antara kamu semua
a(l)shshahra = bulan tersebut
falya[s]umhu = maka (dia) berpuasalah
waman = dan siapa
k[a]na = telah dalam keadaan
maree[d]an = sakit
aw = atau
AAal[a] = pada
safarin = suatu perjalanan
fa = maka
AAiddatun = jumlah
min = dari
ayy[a]min = beberapa hari
okhara = lain
yureedu = menginginkan
All[a]hu = Allah
bikumu = dengan kamu semua
alyusra = kemudahan
wal[a] = dan tidak
yureedu = menginginkan
bikumu = dengan kamu semua
alAAusra = kesulitan
wa = dan
litukmiloo = lengkapilah
alAAiddata = jumlah tersebut
wa = dan
litukabbiroo = agungkanlah
All[a]ha = Allah
AAal[a] = pada
m[a] = apa
had[a]kum = telah memberi petunjuk kamu semua
wa = dan
laAAallakum = barangkali kamu semua
tashkuroon(a) = berterima kasih

Setelah kata-kata bahasa Arab dihapus dan kemudian disusun, hasilnya adalah sebagai berikut.

2:183 wahai orang-orang yang telah percaya telah ditulis pada kamu semua puasa seperti apa telah ditulis pada orang-orang yang dari sebelum kamu semua barangkali kamu semua menjaga

2:184 untuk beberapa hari dari yang bisa dihitung maka siapa telah di antara kamu semua sakit atau pada suatu perjalanan maka jumlah dari beberapa hari lain dan pada orang-orang yang (mereka) mampu itu suatu penebusan (mereka) telah memberi makan yang miskin maka siapa (dia) telah mematuhi kebajikan maka itu kebajikan bagi dia dan bahwa berpuasa kebajikan bagi kamu semua jika kamu semua mengetahui

2:185 bulan tanah dalam keadaan panas yang telah diturunkan di dalamnya Al Qur’an petunjuk untuk manusia dan bukti-bukti yang jelas dari  petunjuk tersebut dan penjelas tersebut maka siapa (dia) telah menyatakan kebenaran di antara kamu semua bulan tersebut maka (dia) berpuasalah dan siapa telah dalam keadaan sakit atau pada suatu perjalanan maka jumlah dari beberapa hari lain menginginkan Allah dengan kamu semua kemudahan dan tidak menginginkan dengan kamu semua kesulitan dan lengkapilah jumlah tersebut dan agungkanlah Allah pada apa telah memberi petunjuk kamu semua dan barangkali kamu semua berterima kasih

Selanjutnya, penyesuaian hasil di atas dengan tata bahasa Indonesia dilakukan. Hasilnya adalah seperti berikut ini.

2:183 Wahai orang-orang yang telah percaya! Telah ditulis pada kamu semua puasa, seperti yang telah ditulis pada orang-orang yang dari sebelum kamu semua. Barangkali, kamu semua menjaga. (versi penulis)

2:184 untuk beberapa hari dari yang bisa dihitung, maka siapa saja di antara kamu semua telah sakit atau pada suatu perjalanan, maka jumlah dari beberapa hari lain. Dan pada orang-orang yang mampu mengerjakan suatu penebusan, mereka telah memberi makan yang miskin. Maka siapa saja telah mematuhi kebajikan, maka itu kebajikan bagi dia. Dan bahwa berpuasa adalah kebajikan bagi kamu semua jika kamu semua mengetahui. (versi penulis)

2:185 Bulan ketika tanah dalam keadaan panas adalah yang telah diturunkan di dalamnya Al Qur’an, petunjuk untuk manusia dan bukti-bukti yang jelas dari petunjuk dan penjelas tersebut. Maka siapa saja di antara kamu semua telah menyatakan kebenaran bulan tersebut, maka berpuasalah! Dan siapa saja telah dalam keadaan sakit atau pada suatu perjalanan maka jumlah dari beberapa hari lain. Allah menginginkan kemudahan dengan kamu semua dan tidak menginginkan kesulitan dengan kamu semua. Dan lengkapilah jumlah tersebut! Dan agungkanlah Allah yang telah memberi petunjuk pada kamu semua! Dan barangkali kamu semua berterima kasih. (versi penulis)

Sekarang, penjelasan tentang penerjemahan ayat-ayat di atas yang dipandang perlu dilakukan. Penjelasan akan dimulai dari ayat 2:183. Kata kataba berakar kata kaf-ta-ba (kamus Arab-Inggris versi Wehr-Cowan 1976 halaman 812). Kata ini digunakan dalam pembahasan tentang kata kerja pasif bahasa Arab dalam buku Arabic: An Essential Grammar” karya Faruk Abu Chacra (2007) di halaman 128. Bentuk aktifnya adalah kataba (he wrote = dia telah menulis), sedangkan bentuk pasifnya adalah kutiba (it was written = itu telah ditulis). Oleh sebab itu, kata kutiba diterjemahkan menjadi telah ditulis. Kata laAAallakum tersusun oleh laAAalla (barangkali) dan kum (kamu semua). Arti laAAalla menurut kamus Arab-Inggris versi Wehr-Cowan 1976 halaman 632) adalah barangkali (perhaps, maybe). Arti kata laAAalla sama dengan barangkali (perhaps) juga dijumpai di buku Arabic: An Essential Grammar” karya Faruk Abu Chacra (2007) di halaman 193.

Kata selanjutnya yang perlu dibahas adalah tattaqoon(a). Kata kerja tattaqoon(a) berakar kata waw-qaf-ya yang berarti menjaga (to protect) (kamus Arab-Inggris versi Wehr-Cowan 1976 halaman 1094). Kata kerja tersebut adalah untuk subjek orang kedua jamak laki-laki dan ber-mood imperfective indicative. Oleh sebab itu, tattaqoon(a) diterjemahkan menjadi kamu semua menjaga. Dengan mood seperti itu (imperfective indicative), kata di depanya tidak bisa berupa subjunctive particles, misalnya agar (in order to). Kata yang bisa didahului oleh subjunctive particles adalah yang ber-mood imperfective subjunctive (buku Arabic: An Essential Grammar” karya Faruk Abu Chacra (2007) halaman 209). Oleh sebab itu, menurut penulis, kata agar dalam terjemahan 2:183 versi Dep. Agama RI adalah tidak tepat. Jadi, frasa agar kamu bertakwa dalam dalam terjemahan 2:183 versi Dep. Agama RI adalah tidak tepat.

Penjelasan selanjutnya adalah tentang kata ayy[a]man dalam 2:184. Kata tersebut adalah kata benda jamak kolektif dan menjelaskan keadaan frasa telah sakit atau pada suatu perjalanan. Kata tersebut diterjemahkan menjadi untuk beberapa hari (for a few days) (kamus Arab-Inggris versi Wehr-Cowan 1976 halaman 1110). Kata maAAdood[a]tin adalah kata benda bersifat genitive yang menerangkan kepemilikan karena mempunyai akhiran “in”. Menurut kamus Arab-Inggris versi Wehr-Cowan 1976 halaman 595, ma’duud berari yang bisa dihitung (countable). Dengan demikian, antara ayy[a]man dan maAAdood[a]tin ada hubungan kepemilikan. Untuk menerangkan hubungan tersebut, kata “dari” ditambahkan di depan yang bisa dihitung. Oleh karena itu, maAAdood[a]tin diterjemahkan menjadi dari yang bisa dihitung.

Dalam ayat 2:185, kata yang perlu dijelaskan pertama kali adalah rama[da]na. Kata ini diartikan sama dengan nama bulan ke 9 dalam kalender hijrah oleh sebagian besar orang. Memang benar, nama bulan ke 9 dalam kalender hijrah adalah Ramadhan. Persoalannya, menurut informasi dalam makalah berjudul “The Islamic Jewish Calendar : How the Pilgrimage of the 9th of Av became the Hajj of the 9th of Dhu'al-Hijjah” karya Ben Abrahamson and Joseph Katz di http://www.eretzyisroel.org/~jkatz/The%20Islamic%20Jewish%20Calendar.pdf, kalender hijrah dimulai pada jaman kalifah Umar tahun 639. Ini berarti bahwa pada masa Al Qur’an diturunkan, kalender yang dipakai masyarakat Arab adalah bukan kalender hijrah yang digunakan sekarang ini. Apakah nama bulan Ramadhan sudah ada pada kalender yang berlaku pada waktu Al Qur’an diturunkan? Menurut informasi dalam wikiperdia di https://en.wikipedia.org/wiki/Pre-Islamic_Arabian_calendar, pada jaman sebelum islam, nama bulan Ramadhaan tidak ada dan nama bulan ke 9 adalah nātiq. Oleh sebab itu, ada kemungkinan bahwa nama bulan Ramadhaan belum ada ketika Al Qur’an diturunkan.

Selain itu, ada beberapa hal yang menumbuhkan keraguan bahwa rama[da]na dalam 2:185 adalah nama bulan dalam kalender hijrah yang berlaku sekarang ini. Pertama, pemberian nama bulan Ramadhan adalah berdasarkan pada kondisi musim yang ditandai dengan beberapa hari yang sangat panas (the days of vehement heat) (kamus Lane-An Arabic English lexicon, text version halaman 2507). Artinya, ciri bulan Ramadhan adalah mempunyai musim yang panas. Jika demikian kasusnya, di sini ada masalah karena kalender hijrah berbasis pada peredaran bulan sehingga waktunya selalu berubah dari musim ke musim. Pada suatu saat, bulan Ramadhan ada pada musim panas, pada saat yang lain, bulan tersebut ada pada bukan musim panas. Ini berarti bahwa bulan Ramadhan dengan kondisi musim yang panas tidak selalu ada dalam setiap tahun. Dengan demikian, ada kemungkinan bahwa rama[da]na adalah bukan nama bulan dalam suatu kalender pada saat Al Qur’an diturunkan. Kedua, isi Al Qur’an akan bisa berubah jika ada kata-kata di dalamnya yang berkaitan dengan nama bulan buatan manusia. Jika kalender buatan manusia menjadi bagian dari Al Qur’an, isi Al Qur’an dapat diubah manusia karena kalender bisa diubah manusia.

Berdasarkan uraian dalam kedua alinea di atas, penulis berpendapat bahwa rama[da]na dalam 2:185 adalah bukan nama bulan dalam kalender hijrah. Menurut penulis, kata ramadhaan adalah kata keterangan yang ditandai dengan akhiran “an”, yang menjelaskan kata shahru di depannya, yang diturunkan dari kata ramad yang berarti kepanasan tanah karena panas yang berlebihan (parchedness of the ground due to excessive heat) (kamus Arab-Inggris versi Wehr-Cowan 1976 halaman 360). Oleh sebab itu, penulis menerjemahkannya menjadi tanah dalam keadaan panas.

Penjelasan selanjutnya dilakukan pada kata shahida. Kata shahida adalah kata kerja perfektif untuk orang ketiga tunggal laki-laki. Kata kerja perfektif menjelaskan bahwa pekerjaan telah selesai dikerjakan. Untuk menyatakan pekerjaan yang telah selesai dikerjakan, penulis menambahkan kata “telah”. Kata shahida mempunyai akar kata shiin-ha-dal yang berarti menyaksikan (to witness) (kamus kamus Arab-Inggris versi Wehr-Cowan 1976 halaman 488). Arti menyaksikan menurut kbbI yang dipandang sesuai dengan kasus ini adalah menyatakan kebenaran.  Oleh sebab itu, shahida diterjemahkan menjadi (dia) telah menyatakan kebenaran.

Sekarang, pembahasan kandungan informasi dalam masing-masing ayat dibahas. Ayat 2:183 menerangkan bahwa puasa telah ditulis dalam Al Qur’an dan kitab-kitab sebelumnya. Ayat 2:183 tidak menjelaskan tentang perintah puasa. Perintah puasa ada dalam 2:185, yang ditunjukkan dengan frasa maka berpuasalah! Ayat 2:183 tidak menerangkan bahwa berpuasa adalah wajib karena karena puasa bisa diganti dengan membayar tebusan. Artinya, orang bisa tidak berpuasa dengan cara membayar tebusan. Pada bagian akhir ayat tersebut, Allah berharap agar orang-orang yang percaya menjaga tulisan dalam kitab yang berisi informasi tentang puasa. Harapan tersebut dinyatakan dengan kata barangkali. Penulis tidak menggunakan kata semoga karena kata ini digunakan untuk menyatakan suatu doa. Allah tidak berdoa. Yang berdoa adalah manusia.

Ayat 2:184 menjelaskan tentang cara berpuasa. Durasi atau lama waktu berpuasa dinyatakan dengan frasa yang bisa dihitung. Jumlah hari yang bisa dihitung tergantung pada kasusnya. Ada yang 3 hari (5:89), tetapi ada juga yang 2 bulan secara berturut-turut (58:4 dan 4:92). Ada pula yang bergantung pada putusan pengadilan (5:95). Dijelaskan pula bahwa puasa selama tiga hari setara dengan memberi makan sepuluh orang miskin. Ini penting dalam perhitungan tebusan pengganti puasa. Berikut ini adalah ayat yang menjelaskan durasi berpuasa.

5:89. Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya). (versi Dep. Agama RI)

58:4. Barangsiapa yang tidak mendapatkan (budak), maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Maka siapa yang tidak kuasa (wajiblah atasnya) memberi makan enam puluh orang miskin. Demikianlah supaya kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan itulah hukum-hukum Allah, dan bagi orang kafir ada siksaan yang sangat pedih. (versi Dep. Agama RI)

5:95. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram. Barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu sebagai had-yad yang dibawa sampai ke Ka'bah atau (dendanya) membayar kaffarat dengan memberi makan orang-orang miskin atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu, supaya dia merasakan akibat buruk dari perbuatannya. Allah telah memaafkan apa yang telah lalu. Dan barangsiapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya. Allah Maha Kuasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) menyiksa. (versi Dep. Agama RI)

4:92. Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja), dan barangsiapa membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah. Jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang beriman. Barangsiapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut untuk penerimaan taubat dari pada Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (versi Dep. Agama RI)

Dijelaskan pula dalam 2:184 bahwa jika telah dalam perjalanan atau keadaan sakit, orang diperintahkan berpuasa dengan durasi selama waktu ketika dalam perjalanan atau dalam keadaan sakit, pada hari lain di luar waktu puasa yang sedang dijalani. Jika mampu, orang tersebut bisa membayar tebusan. Dijelaskan pula bahwa berpuasa adalah suatu kebajikan.

Ayat 2:185 menerangkan tentang perintah berpuasa bagi orang yang telah menyatakan kebenaran atau bersaksi bahwa bulan ketika tanah dalam keadaan panas adalah bulan yang telah diturunkan di dalamnya Al Qur’an, petunjuk untuk manusia dan bukti-bukti yang jelas dari petunjuk dan penjelas tersebut. Dengan kalimat lain, orang diperintahkan untuk bersaksi bahwa bulan ketika tanah dalam keadaan panas adalah bulan yang telah diturunkan di dalamnya Al Qur’an petunjuk untuk manusia dan bukti-bukti yang jelas dari petunjuk dan penjelas tersebut dengan disertai berpuasa. Orang yang telah bersaksi bahwa bulan ketika tanah dalam keadaan panas adalah bulan yang telah diturunkan di dalamnya Al Qur’an, petunjuk untuk manusia dan bukti-bukti yang jelas dari petunjuk dan penjelas tersebut adalah orang yang telah percaya kepada kitab Allah bernama Al Qur’an. Dapat pula dikatakan bahwa orang dinyatakan sebagai orang yang percaya pada Al Qur’an jika telah melakukan kesaksian seperti dijelaskan di muka yang disertai dengan puasa.

Pembahasan tentang kesaksian yang dijelaskan dalam 2:185 perlu diakukan lagi karena ada orang yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan telah menyaksikan kebenaran bulan tersebut adalah telah menyatakan kebenaran bahwa bulan tersebut telah hadir. Maksudnya, apabila bulan tersebut telah hadir, orang kemudian menjalankan perintah berpuasa. Pendapat ini diikuti oleh sebagian besar orang. Menurut penulis, pendapat ini tidak tepat. Perlu diingat bahwa bulan tersebut hanya terjadi sekali pada jaman Nabi Muhammad sehingga orang jaman sekarang tidak akan pernah bisa menyatakan kebenaran kehadiran bulan tersebut. Di pihak lain, bulan rama[da]na yang ada sekarang ini tidak mengandung peristiwa penurunan Al Qur’an sehingga tidak sesuai dengan bulan tersebut (a(l)shshahra) yang dimaksud dalam 2:185. Yang bisa dilakukan orang jaman sekarang adalah menyatakan kebenaran bahwa bulan ketika tanah dalam keadaan panas adalah bulan yang telah diturunkan di dalamnya Al Qur’an, petunjuk untuk manusia dan bukti-bukti yang jelas dari petunjuk dan penjelas tersebut. Untuk bisa menyatakan kebenaran tersebut, orang menggunakan rasa percaya.

Tidak ada informasi yang tegas dalam 2:183 sampai 2:185 tentang durasi waktu berpuasa karena bersaksi dalam kasus ini. Penjelasan tentang durasi yang ada bersifat umum, yaitu sama dengan yang bisa dihitung. Yang bisa dihitung dapat sebanyak 3 hari, 2 bulan, seperti telah dibahas di muka, atau sejumlah hari yang lain. Ditinjau dari artinya, bersumpah dan menyatakan kebenaran mempunyai kemiripan. Menurut kbbI, bersumpah berarti menyatakan kebenaran suatu hal atau kesetiaan dengan sumpah. Jika demikian, apakah durasi puasa tersebut juga 3 hari seperti yang berlaku pada orang yang melanggar sumpah (2:89)? Pedoman lain yang bisa digunakan adalah bahwa puasa adalah suatu kebajikan. Semakin banyak hari berpuasa, semakin banyak pula kebajikan yang dibuat.

Waktu berpuasa dilakukan setelah menyatakan kebenaran bahwa bulan ketika tanah dalam keadaan panas adalah bulan yang telah diturunkan di dalamnya Al Qur’an, petunjuk untuk manusia dan bukti-bukti yang jelas dari petunjuk dan penjelas tersebut. Dengan kalimat lain, waktu berpuasa dilakukan setelah orang beriman atau percaya kepada Al Qur’an. Dengan demikian, waktunya bervariasi dari orang ke orang, tergantung pada waktu telah percaya kepada Al Qur’an.

Perintah agar mengagungkan Allah yang telah memberi petunjuk dalam 2:185 menegaskan bahwa perintah puasa berkaitan dengan Al Qur’an. Menjalankan perintah puasa dapat dipandang sebagai bentuk nyata tindakan mengagungkan Allah dan bentuk rasa terima kasih kepada Allah yang telah memberi petunjuk.

Setelah melakukan penerjemahan sendiri terhadap ayat 2:183 sampai 2:185, penulis mendapati informasi baru yang berbeda dengan terjemahan versi-versi yang lain. Barangkali, ada hal-hal baru yang perlu dibahas berkaitan dengan implikasi dari informasi baru tersebut. Namun, makalah ini tidak akan sampai ke situ.

Makalah ini ditutup sampai di sini. Apabila ada perubahan persepsi pada diri penulis, makalah ini akan direvisi.

Minggu, 28 Mei 2017

DOA SAPU JAGAT?

Istilah doa sapu jagat yang digunakan sebagai judul makalah ini ditemui di internet. Bunyi doa yang dimaksud adalah “rabban[a] [a]tin[a] fee a(l)dduny[a] [h]asanatan wafee al-[a]khirati [h]asanatan waqin[a] AAa[tha]ba a(l)nn[a]r(i)”. Doa tersebut ada di Al Qur’an dalam 2:201. Transliterasinya adalah sebagai berikut.

2:201 Waminhum man yaqoolu rabban[a] [a]tin[a] fee a(l)dduny[a] [h]asanatan wafee al-[a]khirati [h]asanatan waqin[a] AAa[tha]ba a(l)nn[a]r(i) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

Arti doa tersebut ada dalam Al Qur’an terjemahan versi Dep. Agama RI ayat 2:201. Kutipannya adalah sebagai berikut.

2:201. Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka". (versi Dep. Agama RI)

Arti doa sapu jagat menurut Dep. Agama RI adalah “berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”. Doa tersebut dianggap sebagai doa sapu jagat mungkin karena kebaikan diartikan sama dengan kebahagiaan. Dengan demikian, doa tersebut berisi permohonan agar diberi kebahagiaan di dunia dan akhirat, sekaligus dipelihara dari siksa neraka. Permohonan tersebut dianggap sudah mencakup semua keinginan manusia sehingga disebut dengan doa sapu jagat.

Sekadar informasi tambahan, istilah sapu jagat muncul dalam komik “Si Buta dari Goa Hantu” karya Ganes TH. Dalam komik tersebut dikisahkan ada tokoh persilatan dengan julukan Si Sapu Jagat. Tokoh tersebut berkepala gundul, berkaki satu, dan bersenjata bernama sapu jagat. Senjata tersebut berbentuk bola besi berduri sebesar buah semangka yang diikatkan pada rantai yang panjang. Bola besi berduri tersebut diayunkan dengan menggunakan rantainya dalam gerakan memutar seperti baling-baling sebelum diarahkan ke arah lawan. Maksud pengarangnya, barangkali, siapa saja yang kena senjata tersebut akan mati sehingga disebut dengan sapu jagat. Dalam perkembangannya, istilah sapu jagat digunakan untuk menyebut kereta api yang mengangkut semua penumpang yang belum terangkut ketika mudik lebaran pada hari raya idul fitri (kereta sapu jagat). Dan sekarang, isitlah tersebut digunakan untuk memberi nama doa. Demikianlah sekadar tambahan informasi tersebut.

Penulis akan membahas tentang Al Qur’an terjemahan versi Dep. Agama RI karena bunyi doa tersebut berasal dari terjemahan tersebut. Ada masalah dengan terjemahan 2:201 versi Dep. Agama RI. Menurut kbbI (kamus besar bahasa Indonesia), kebaikan berarti perbuatan baik. Mengapa orang memohon diberi perbuatan baik? Agar mempunyai perbuatan baik, orang harus berbuat kebaikan. Orang tidak bisa mendapatkan perbuatan baik dari pihak lain. Untuk mengatasi masalah ini, penulis akan menerjemahkan ayat 2:200 sampai 2:202. Berikut ini transliterasi ketiga ayat tersebut.

2:200 Fa-i[tha] qa[d]aytum man[a]sikakum fa(o)[th]kuroo All[a]ha ka[th]ikrikum [a]b[a]akum aw ashadda [th]ikran famina a(l)nn[a]si man yaqoolu rabban[a] [a]tin[a] fee a(l)dduny[a] wam[a] lahu fee al-[a]khirati min khal[a]q(in) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

2:201 Waminhum man yaqoolu rabban[a] [a]tin[a] fee a(l)dduny[a] [h]asanatan wafee al-[a]khirati [h]asanatan waqin[a] AAa[tha]ba a(l)nn[a]r(i) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

2:202 Ol[a]-ika lahum na[s]eebun mimm[a] kasaboo wa(A)ll[a]hu sareeAAu al[h]is[a]b(i) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

Hasil penerjemahan ayat 2:200 sampai 2:202 adalah sebagai berikut.

002.200
Fa-i[tha] = kemudian jika
qa[d]aytum = kamu semua sudah menyelesaikan
man[a]sikakum = pertapaan kamu semua
fa(o)[th]kuroo = maka ingatlah
All[a]ha = Allah
ka[th]ikrikum = seperti cara mengingat kamu semua
[a]b[a]akum = nenek moyang kamu semua
aw = atau
ashadda = lebih kuat
[th]ikran = cara mengingat
famina = kemudian di antara
a(l)nn[a]si = orang-orang
man = yang
yaqoolu = berkata
rabban[a] = Tuhan kami
[a]tin[a] = berilah
fee = dalam
a(l)dduny[a] = kehidupan dunia
wam[a] = dan tidak
lahu = bagi dia
fee = dalam
al-[a]khirati = kehidupan akhirat
min =dari
khal[a]q(in) = bagian yang baik

002.201
Waminhum = dan di antara mereka
man = yang
yaqoolu = berkata
rabban[a] = Tuhan kami
[a]tin[a] = berilah
fee = dalam
a(l)dduny[a] = kehidupan dunia
[h]asanatan = pahala kebajikan
wafee =dan dalam
al-[a]khirati = kehidupan akhirat
[h]asanatan = pahala kebajikan
waqin[a] = dan lindungilah kami dari
AAa[tha]ba = siksa
a(l)nn[a]r(i) = neraka

002.202
Ol[a]-ika = itu semua
lahum = bagi mereka
na[s]eebun = bagian
mimm[a] = dari yang
kasaboo = (mereka) telah peroleh
wa(A)ll[a]hu =dan Allah
sareeAAu = cepat
al[h]is[a]b(i) = perhitungan

Selanjutnya, hasil penerjemahan di atas disusun lagi setelah kata-kata bahasa Arabnya dihapus. Hasilnya adalah sebagai berikut.

2:200 kemudian jika kamu semua sudah menyelesaikan pertapaan kamu semua maka ingatlah Allah seperti cara mengingat kamu semua nenek moyang kamu semua atau lebih kuat cara mengingat kemudian di antara orang-orang yang berkata Tuhan kami berilah dalam kehidupan dunia dan tidak bagi dia dalam kehidupan akhirat dari bagian yang baik

2:201 dan di antara mereka yang berkata Tuhan kami berilah dalam kehidupan dunia pahala kebajikan dan dalam kehidupan akhirat pahala kebajikan dan lindungilah kami dari siksa neraka

2:202 itu semua bagi mereka bagian dari yang (mereka) telah peroleh dan Allah cepat perhitungan

Kemudian, penyesuaian dengan tata bahasa Indonesia dilakukan agar mudah dimengerti. Hasilnya adalah sebagai berikut.

2:200 Kemudian, jika kamu semua sudah menyelesaikan pertapaan kamu semua, maka ingatlah Allah seperti cara kamu semua mengingat nenek moyang kamu semua atau cara mengingat yang lebih kuat. Kemudian, di antara orang-orang ada yang berkata, “Tuhan kami, berilah dalam kehidupan dunia!” Dan tidak bagi dia dalam kehidupan akhirat dari bagian yang baik. (versi penulis)

2:201 Dan di antara mereka ada yang berkata, “Tuhan kami, berilah dalam kehidupan dunia pahala kebajikan dan dalam kehidupan akhirat pahala kebajikan dan  lindungilah kami dari siksa neraka!” (versi penulis)

2:202 Itu semua bagi mereka bagian dari yang (mereka) telah peroleh dan Allah mempunyai perhitungan yang cepat. (versi penulis)

Sebelum dilakukan pembahasan kandungan informasi ketiga ayat di atas, pembahasan tentang penerjemahan beberapa kata perlu dilakukan. Kata pertama yang perlu dibahas adalah [h]asanatan. Kata tersebut adalah kata benda berakar kata ha-siin-nun yang mempunyai arti perbuatan baik atau kebajikan atau kebaikan (good deed) (kamus Arab-Inggris versi Wehr-Cowan 1976 halaman 178, di Lampiran). Barangkali, inilah yang menjadi alasan penerjemah Dep. Agama RI menerjemahkannya menjadi kebaikan. Hanya saja, penerjemahan seperti itu kurang tepat karena kebaikan tidak bisa diberikan kepada pihak lain. Selain itu, orang mudah tergoda untuk mengartikan kebaikan sama dengan kebahagiaan. Arti [h]asanatan yang tepat adalah pahala kebajikan (the reward [of a good action]). Penerjemahan seperti ini didukung oleh informasi dalam kamus An ArabicEnglish Lexicon karya Edward William Lane versi teks (text version) di halaman 1254. Kutipannya yang diperoleh melalui copy-paste adalah sebagai berikut.

“حسن حسنه حسننه حسنة fem. of
حَسَنٌ [q. v.]. (S, Msb, K.) ―
Also, [used as a subst., or as an epithet in which the quality of a subst. is predominant, A good act or action;] an act of obedience [to God; often particularly applied to an almsdeed]: (Ksh and Bd in 4:80:) and the reward [of a good action]: (ErRághib, TA:) a good, benefit, benefaction, boon, or blessing: (Ksh and Bd ibid.:) contr. of سَيِّئَةٌ [in all these senses]: (S, K:) as contr. of this latter word, it signifies any rejoicing, or gladdening, good or benefit &c. that betides a man in his soul and his body and his circumstances: (ErRághib, TA:) pl. حَسَنَاتٌ : (K, and Kur 7:167, &c.:) it has no broken pl. (TA.) Hence, in the Kur 4:80, it means Abundance of herbage, or of the goods, conveniences, and comforts, of life; ampleness of circumstances; and success: and سَيِّئَة there means the contr. of these. (ErRághib, TA.) In the Kur الحَسَنَات , 11:116 is said to mean The five daily prayers, as expiating what has been between them. (TA.) ―”

Kata berikutnya yang perlu dibahas adalah man[a]sikakum karena penerjemahannya berbeda dengan versi Dep. Agama RI. Dalam kamus kamus Arab-Inggris versi Wehr-Cowan 1976 halaman 962, manaasik berarti pertapaan (hermitage) (di Lampiran). Sufiks kum berarti kamu semua. Dengan demikian, man[a]sikakum berarti pertapaan kamu semua. Pertapaan berarti segala sesuatu mengenai bertapa (kbbI). Bertapa berarti mengasingkan diri dari keramaian dunia dengan menahan hawa nafsu (makan, minum, tidur, birahi) untuk mencari ketenangan batin (kbbI). Perlu diingat bahwa ayat-ayat yang dibahas di sini berkaitan dengan haji. Dengan demikian, haji merupakan bentuk pengasingan diri.

Kata [th]ikr berarti remembrance (kamus Arab-Inggris versi Wehr-Cowan 1976 halaman 310). Remembrance adalah kata benda dari to remember (ingat). Kata benda ingat adalah peringatan (kbbI). Akan tetapi, kata peringatan dapat dikacaukan dengan arti peringatan dalam frasa peringatan hari kemerdekaan atau arti peringatan yang dalam bahasa Inggris bermakna warning. Di sisi lain, kata pengingatan yang bermakna proses, cara, perbuatan mengingat tidak ada dalam kbbI. Cara mengingat ditentukan sebagai arti dari remembrance karena ada penjelasan bahwa remembrance yang dimaksud adalah yang lebih kuat. Frasa lebih kuat adalah keterangan suatu cara. Oleh sebab itu, [th]ikr (remembrance) diterjemahkan menjadi cara mengingat.

Kata khal[a]q(in) diterjemahkan menjadi bagian yang baik (share of positive qualities) (kamus Arab-Inggris versi Wehr-Cowan 1976 halaman 259). Kutipannya ada di Lampiran.

Sekarang, pembahasan makna ayat-ayat di atas yang berkaitan dengan doa sapu jagat dilakukan. Ayat 2:200 berisi penjelasan tentang orang yang memohon.agar diberi pahala kebajikan dalam kehidupan dunia saja. Orang tersebut akan tidak mendapat pahala kebajikan dalam kehidupan akhirat, yaitu berupa bagian yang baik. Dengan demikian, orang tersebut akan mendapat pahala kebajikan dalam kehidupan dunia saja, tetapi tidak mendapat pahala kebajikan dalam kehidupan akhirat. Ayat 2:201 berisi penjelasan tentang orang yang memohon agar diberi pahala kebajikan dalam kehidupan dunia dan akhirat, dan dilindungi dari siksa neraka. Orang tersebut akan memperoleh semua bagian pahala kebajikan, yaitu pahala kebajikan dalam kehidupan dunia dan akhirat (2:202).

Terjemahan versi penulis memperlihatkan bahwa frasa rabban[a] [a]tin[a] fee a(l)dduny[a] [h]asanatan wafee al-[a]khirati [h]asanatan waqin[a] AAa[tha]ba a(l)nn[a]r(i) adalah bukan doa sapu jagat. Frasa tersebut menjelaskan tentang permohonan agar diberi pahala kebajikan dalam kehidupan dunia dan akhirat, bukan tentang permohonan agar diberi kebahagiaan dalam kehidupan dunia dan akhirat. Kemudian, pahala kebajikan dalam kehidupan dunia dan akhirat yang dimohonkan tersebut adalah dalam jumlah yang cukup sehingga dapat menjadikan pemohon terlindung dari siksa neraka (karena masuk ke dalam surga). 

Ada pertanyaan yang muncul dari terjemahan 2:200. Adakah orang yang percaya pada Tuhan tetapi hanya memohon agar diberi pahala kebajikan dalam kehidupan dunia saja? Tidak ada! Semua orang yang percaya pada Tuhan ingin masuk surga sehingga mereka akan memohon agar diberi pahala kebajikan dalam kehidupan dunia dan akhirat. Akan tetapi, mengapa dalam 2:200 dijelaskan ada orang percaya pada Tuhan yang memohon agar diberi pahala kebajikan dalam kehidupan dunia saja? Menurut penulis, itu disebabkan karena perkataan orang-orang dalam 2:200 dan 2:201 adalah bentuk implikasi dari perbuatan orang dalam menjalani kehidupan dunia. Maksudnya, ada orang yang dianggap berkata rabban[a] [a]tin[a] fee a(l)dduny[a] [h]asanatan wafee al-[a]khirati [h]asanatan waqin[a] AAa[tha]ba a(l)nn[a]r(i), walaupun orang tersebut tidak mengatakannya dengan mulutnya. Demikian pula, ada orang yang dianggap berkata rabban[a] [a]tin[a] fee a(l)dduny[a], walaupun orang tersebut tidak mengatakannya dengan mulutnya.

Orang yang percaya pada Tuhan tetapi dianggap memohon agar diberi pahala kebajikan dalam kehidupan dunia saja adalah orang yang mempersekutukan Allah (orang musyrik). Orang yang mempersekutukan Allah percaya pada Allah dan kehidupan akhirat. Mereka juga ingin masuk surga. Mereka juga berdoa agar masuk surga. Orang-orang musyrik juga berbuat baik di dunia. Bahkan, banyak di antara mereka yang amal baiknya sangat banyak.  Walaupun demikian, mereka akan dimasukkan ke neraka (9:113).  Mereka tergolong orang yang menghendaki kehidupan dunia dan mereka akan mendapatkan semua pahala amal baik di dunia saja (11:15), dan kelak akan dimasukkan neraka (11:16).

9:113. Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam. (versi Dep. Agama RI)

11:15. Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. (versi Dep. Agama RI)

11:16. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan. (versi Dep. Agama RI)

Di pihal lain, orang yang dianggap memohon agar diberi pahala kebajikan dalam kehidupan dunia dan akhirat adalah orang yang beriman kepada Allah dan berbuat kebaikan  (3:147 dan 3:148).

3:147. Tidak ada doa mereka selain ucapan: "Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir." (versi Dep. Agama RI)

3:148. Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan. (versi Dep. Agama RI)

Berdasarkan uraian di atas, dapat disampaikan bahwa frasa rabban[a] [a]tin[a] fee a(l)dduny[a] [h]asanatan wafee al-[a]khirati [h]asanatan waqin[a] AAa[tha]ba a(l)nn[a]r(i) adalah bukan doa sapu jagat. Agar kita bisa masuk surga, kita harus menjadi orang yang beriman kepada Allah dan beramal saleh (64:9). Dengan menjadi orang yang beriman dan beramal saleh, kita akan dianggap Allah sudah berdoa agar diberi pahala kebajikan dalam kehidupan dunia dan akhirat, dan dimasukkan ke dalam surga/dilindungi dari siksa nereka.

64:9. (Ingatlah) hari (dimana) Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan, itulah hari dinampakkan kesalahan-kesalahan. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan beramal saleh, niscaya Allah akan menutupi kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar. (versi Dep. Agama RI)

Majakah ini ditutup sampai di sini. Apabila terjadi perubahan persepsi pada diri penulis, makalah ini akan direvisi.

LAMPIRAN