Minggu, 30 April 2017

SALAT WAKTU PERANG

Selama ini, penulis masih bergantung pada Al Qur’an terjemahan versi orang lain. Untuk mengurangi ketergantungan tersebut, penulis akhir-akhir ini sedang belajar bahasa Arab dari buku berjudul “Arabic : An Essential Grammar” karya Farouk Abu Chacra terbitan 2007 dan “ A New Arabic Grammar of The Written Language” karya J. A. Haywood dan H.M. Nahmad edisi kedua 1965. Di samping itu, penulis juga menggunakan artikel-artikel tentang bahasa Arab di internet dan kamus bahasa Arab. Pada suatu hari, penulis memilih sebuah ayat yang panjang sebagai sarana untuk belajar. Ayat tersebut adalah 4:102 yang berisi cara salat waktu perang. Setelah penerjemahan selesai, penulis mendapati hasil yang mengandung perbedaan dengan terjemahan versi-versi lain yang sudah ada. Oleh sebab itu, penulis memutuskan untuk menyajikan hasil terjemahan versi penulis dalam makalah ini.

Pertama-tama, transliterasi ayat 4:102 ditampilkan. Transliterasi tersebut adalah sebagai berikut.

004.102 Wa-i[tha] kunta feehim faaqamta lahumu a(l)[ss]al[a]ta faltaqum [ta]-ifatun minhum maAAaka walya/khu[th]oo asli[h]atahum fa-i[tha] sajadoo falyakoonoo min war[a]-ikum walta/ti [ta]-ifatun okhr[a] lam yu[s]alloo falyu[s]alloo maAAaka walya/khu[th]oo [h]i[th]rahum waasli[h]atahum wadda alla[th]eena kafaroo law taghfuloona AAan asli[h]atikum waamtiAAatikum fayameeloona AAalaykum maylatan w[ah]idatan wal[a] jun[ah]a AAalaykum in k[a]na bikum a[th]an min ma[t]arin aw kuntum mar[da] an ta[d]aAAoo asli[h]atakum wakhu[th]oo [h]i[th]rakum inna All[a]ha aAAadda lilk[a]fireena AAa[tha]ban muheen[a](n) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

Hasil terjemahannya adalah sebagai berikut.

4.102
Wa-i[tha] = dan jika
kunta = kamu sudah
feehim = di antara mereka
faaqamta = maka (kamu tunggal) sudah mengerjakan
lahumu = demi mereka
a(l)[ss]al[a]ta = salat
faltaqum = kemudian (kamu tunggal) berdirilah
[ta]-ifatun = sekelompok
minhum = dari mereka
maAAaka = bersama dengan kamu (tunggal)
walya/khu[th]oo = dan (mereka) bawalah
asli[h]atahum = senjata-senjata mereka
fa-i[tha] = kemudian jika
sajadoo = (mereka) sudah bersujud
falyakoonoo = maka (mereka) biarlah
min = dari
war[a]-ikum = belakang kamu semua
walta/ti = dan (kamu (tunggal)) datanglah
[ta]-ifatun = sekelompok
okhr[a] = lain
lam = tidak
yu[s]alloo = (dia laki-laki) diikuti dengan ketat
falyu[s]alloo = maka (dia) biarlah diikuti dengan ketat
maAAaka = bersama dengan kamu (tunggal)
walya/khu[th]oo = dan (mereka) biarlah membawa
[h]i[th]rahum = kewaspadaan mereka
waasli[h]atahum = dan senjata-senjata mereka
wadda = senang
alla[th]eena = orang-orang yang
kafaroo = tidak percaya
law = jika
taghfuloona = kamu mengabaikan
AAan = tentang
asli[h]atikum = senjata-senjata kamu semua
waamtiAAatikum = dan barang-barang milik kamu semua
fayameeloona = sehingga mereka bersandar
AAalaykum = pada kamu semua
maylatan = sandaran
w[ah]idatan = satu
wal[a] = dan bukan
jun[ah]a = dosa
AAalaykum = pada kamu semua
in = apabila
k[a]na = terjadi
bikum = dengan kamu semua
a[th]an = gangguan
min = karena
ma[t]arin = hujan
aw = atau
kuntum = kamu semua
mar[da] = orang-orang sakit
an = untuk
ta[d]aAAoo = meletakkan
asli[h]atakum = senjata kamu
wa = sambil
khu[th]oo = membawa
[h]i[th]rakum = kewaspadaan
inna = sesungguhnya
All[a]ha = Allah
aAAadda = sudah memperhitungkan
lilk[a]fireena = untuk orang-orang tidak percaya
AAa[tha]ban = hukuman
muheen[a](n) = memalukan

Setelah kata-kata bahasa Arab beserta tanda sama dengan dihilangkan, hasilnya adalah sebagai berikut.

4.102 dan jika kamu sudah di antara mereka maka (kamu) sudah mengerjakan demi mereka salat kemudian (kamu tunggal, laki-laki) berdirilah sekelompok dari mereka bersama dengan kamu (tunggal) dan (mereka) bawalah senjata-senjata mereka kemudian jika (mereka) sudah bersujud maka (mereka) biarlah dari belakang kamu semua dan (kamu, tunggal, laki-laki) datanglah sekelompok lain tidak (dia, tunggal, laki-laki) diikuti dengan ketat maka (dia, tunggal, laki-laki) biarlah diikuti dengan ketat bersama dengan kamu (tunggal) dan (mereka) biarlah membawa kewaspadaan mereka dan senjata-senjata mereka senang orang-orang yang tidak percaya jika kamu mengabaikan tentang senjata-senjata kamu semua dan barang-barang milik kamu semua sehingga mereka bersandar pada kamu semua sandaran satu dan bukan dosa pada kamu semua apabila terjadi dengan kamu semua gangguan karena hujan atau kamu semua sakit untuk meletakkan senjata kamu sambil membawa kewaspadaan sesungguhnya Allah sudah memperhitungkan untuk orang-orang tidak percaya hukuman memalukan

Setelah disesuaikan dengan bahasa Indonesia, terjemahan versi penulis diperolah. Terjemahan versi penulis adalah seperti berikut ini.

4.102 Dan jika kamu sudah di antara mereka maka (kamu) sudah mengerjakan salat demi mereka. Kemudian (kamu, tunggal, laki-laki) berdirilah sekelompok dari mereka bersama dengan kamu (tunggal) dan (mereka) bawalah senjata-senjata mereka. Kemudian jika (mereka) sudah bersujud maka (mereka) biarlah dari belakang kamu semua. Dan (kamu, tunggal, laki-laki) datanglah sekelompok lain (dia, tunggal, laki-laki) tidak diikuti dengan ketat. Maka (dia, tunggal, laki-laki) biarlah diikuti dengan ketat bersama dengan kamu (tunggal). Dan (mereka) biarlah membawa kewaspadaan mereka dan senjata-senjata mereka. Orang-orang yang tidak percaya senang jika kamu mengabaikan tentang senjata-senjata kamu semua dan barang-barang milik kamu semua, sehingga mereka bersandar pada kamu semua, satu sandaran. Dan bukan dosa pada kamu semua apabila terjadi dengan kamu semua gangguan karena hujan atau kamu semua sakit untuk meletakkan senjata kamu, sambil membawa kewaspadaan. Sesungguhnya Allah sudah memperhitungkan untuk orang-orang tidak percaya hukuman memalukan. (versi penulis)

Penjelasan tentang penerjemahan tersebut perlu dilakukan pada beberapa bagian yang dipandang penting. Yang pertama adalah penjelasan tentang kata yu[s]alloo. Kata ini berakar kata shad-lam-wau. Akar kata pertama mempunyai huruf hidup u (dammah), sedangkan akar kata kedua mempunyai huruf hidup a (fathah). Pola dasarnya adalah yufa’alu. Dengan struktur kata yu[s]alloo yang seperti itu, yu[s]alloo adalah kata kerja pasif. Penjelasan tentang ciri-ciri kata kerja pasif yang berkaitan dengan kasus ini dijumpai dalam buku berjudul “Arabic : An Essential Grammar” karya Farouk Abu Chacra terbitan 2007 halaman 128-129. Sebagai kata kerja pasif, akar kata shad-lam-wau tidak bisa diartikan sama dengan bersalat (to perform the salat, kamus Arab-Inggris versi Wehr-Cowan 1976 halaman 524), karena kata kerja bersalat tidak bisa diubah menjadi bentuk pasif. Oleh sebab itu, arti lain akar kata shad-lam-wau yang lebih tepat perlu dicari.

Menurut penulis, arti shad-lam-wau yang cocok dalam kasus ini adalah mengikuti dengan ketat. Arti ini dijumpai dalam kamus An ArabicEnglish Lexicon karya Edward William Lane versi teks (text version) halaman 3683 dan 3585. Dalam kamus tersebut dijelaskan bahwa dalam dunia pacuan kuda, kata dengan akar kata shad-lam-wau berarti mengikuti dengan ketat setelah yang terdepan (to follow next after the foremost). Kutipan bagian kamus tersebut yang menjjelaskan arti tersebut adalah sebagai berikut.

said of a horse, (S, K,) inf. n. تَصْلِيَةٌ, (TA,) He followed next after the foremost [in a race, at the goal]. (S, K.) Hence the saying [in a trad. of 'Alee], سَبَقَ رَسُولُ لٰلهِّ وَصَلَّى أَبُو بَكْرٍ وَثَلَّثَ عُمَرُ [expl. in art. .[سبق (Mgh.) ―” (halaman 3683)

= And ىَ المُصَلِّ signifies, as applied to a horse, The one that follows next after the foremost [at the goal] (S, M, Mgh, Msb) in a race: (Mgh, Msb:) because his head is next to the part called صَلًا, (Lh, S, M, Msb,) or next to the صَ لَوَانِ, (Mgh,) of the foremost. (Lh, S, M, Mgh, Msb.) صلى” (halaman 3685)

Kata fayameeloona dan maylatan mempunyai akar kata mim-ya-lam. Arti akar kata tersebut sebagai kata kerja yang dipandang tepat adalah bersandar (to lean, kamus Arab-Inggris versi Wehr-Cowan 1976 halaman 935). Dengan demikian, arti kata benda maylatan adalah sandaran.

Keberadaan kata sudah dalam kalimat “Dan jika kamu sudah di antara mereka maka (kamu) sudah mengerjakan salat demi mereka.” juga perlu dijelaskan di sini. Kalimat tersebut tergolong kalimat kondisional karena ada kata “i[tha]” (jika) dan “fa” (maka). Kalimat tersebut mengandung kata kuntum yang berakar kata kaf-wau-nun. Dalam buku “ A New Arabic Grammar of The Written Language” karya J. A. Haywood dan H.M. Nahmad edisi kedua 1965 di halaman 292 diterangkan bahwa jika kata kerja dalam kalimat kondisional didahului oleh kaana, kalimat tersebut dapat dibuat secara tegas sebagai perfect atau pluperfect. Perlu diketahui bahwa kuntum dan kaana berakar kata sama, yaitu kaf-wau-nun. Kuntum berarti you were, sedangkan kaana berarti he was. Oleh sebab itu, penulis berpendapat bahwa kalimat tersebut adalah perfective (kata kerjanya menerangkan aktivitas yang sudah dijalankan) sehingga kata sudah dibubuhkan dalam kalimat tersebut.

Kata sudah di depan kata bersujud dalam kalimat “Kemudian jika (mereka) sudah bersujud maka (mereka) biarlah dari belakang kamu semua.”juga perlu dijelaskan. Dalam buku “ A New Arabic Grammar of The Written Language” karya J. A. Haywood dan H.M. Nahmad edisi kedua 1965 di halaman 292 dijelaskan bahwa penafsiran waktu pelaksanaan kata kerja dalam kalimat kondisional sering kali bergantung pada konteks. Dalam konteks ini, penulis memandang bahwa aktivitas bersujud sudah dikerjakan sehingga kata sudah ditambahkan.

Kandungan informasi dalam 4:102 adalah sebagai berikut. Rasul Allah adalah orang yang sangat dijaga keselamatannya. Ketika perang, Rasul Allah tidak boleh terluka, apalagi wafat. Seandainya terluka, Rasul Allah akan tidak bisa menjalankan tugas sebagai Rasul dengan baik. Apabila wafat karena perang, Rasul Allah akan berhenti menjalankan tugas sebagai Rasul Allah. Perlu diketahui bahwa seorang Rasul Allah juga dapat dibunuh. Jadi, ayat 4:102 menerangkan cara salat yang menjamin keselamatan Rasul Allah. Berikut ini ayat yang menyebutkan pembunuhan beberapa Rasul Allah sebelum Nabi Muhammad.

3:183. (Yaitu) orang-orang (Yahudi) yang mengatakan: "Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada kami, supaya kami jangan beriman kepada seseorang rasul, sebelum dia mendatangkan kepada kami korban yang dimakan api." Katakanlah: "Sesungguhnya telah datang kepada kamu beberapa orang rasul sebelumku membawa keterangan-keterangan yang nyata dan membawa apa yang kamu sebutkan, maka mengapa kamu membunuh mereka jika kamu adalah orang-orang yang benar." (versi Dep. Agama RI)

Cara salat pada waktu perang yang menjamin keselamatan Rasul Allah seperti yang dijelaskan dalam 4:102 adalah sebagai berikut. Pertama, Rasul Allah mengerjakan salat sendiri terlebih dahulu dengan dijaga oleh semua pengikut perang. Salat secara sendiri tersebut dilakukan demi semua pengikut perang agar mereka juga bisa mengerjakan shalat. Maksudnya, para pengikut perang tidak mungkin menjaga Rasul secara terus menerus karena mereka juga harus menerjakan salat. Agar mereka bisa salat, pekerjaan menjaga Rasul Allah harus ditinggalkan. Akan tetapi, penjagaan terhadap Rasul Allah harus tetap dijalankan walaupun sedang mengerjakan salat. Agar ini bisa terwujud, Rasul Allah yang sudah mengerjakan salat secara sendiri sebelumnya berdiri di antara pengikut perang yang sedang mengerjakan salat. Siapa yang akan menjaga pengikut perang jika semuanya mengerjalan salat?  Untuk mengatasi masalah ini, pengikut perang dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama mengerjakan salat sambil menjaga Rasul Allah dengan cara mereka berdiri bersama-sama Rasul Allah. Menurut imajinasi penulis, Rasul Allah dikelilingi penjaga sedemikian rupa sehingga tidak memungkinkan senjata jarak jauh seperti panah bisa mengenai Rasul Allah. Kelompok kedua bertugas menjaga pengikut perang yang sedang mengerjakan salat, sekaligus menjaga Rasul Allah. Kelompok kedua mengerjakan salat setelah kelompok pertama selesai mengerjakan salat. Menurut penulis, tanda salat selesai adalah aktivitas bersujud. Pada saat bersujud, kelompok pertama mundur dari posisi semula ketika berdiri dan posisi kelompok pertama ketika berdiri tersebut diganti oleh kelompok kedua. Kelompok kedua kemudian berdiri bersama Rasul Allah untuk melakukan penjagaan terhadap Rasul Allah dan kelompok pertama yang sedang bersujud. Kelompok kedua mengerjakan salat setelah kelompok pertama berdiri karena aktivitas bersujud telah selesai dilakukan. Dengan demikian, kelompok kedua mengerjakan salat sambil menjaga Rasul Allah dan dijaga oleh kelompok pertama yang sudah selesai mengerjakan salat. Selama salat, pengikut perang membawa senjata dalam keadaan waspada. Menurut penulis, Rasul Allah tidak membawa senjata karena dalam ayat tersebut, yang membawa senjata adalah mereka. Mereka yang dimaksud adalah pengikut perang.

Di samping itu, pihak orang tidak percaya yang memusuhi pihak Rasul Allah sangat menginginkan senjata dan harta benda yang dimiliki pihak Rasul Allah, sehingga mereka sangat bergantung pada pihak Rasul Allah. Rasul Allah beserta pengikutnya diperbolehkan meletakkan senjata karena hujan atau sakit,dengan catatan bahwa mereka senantiasa dalam keadaan waspada. Akhirnya, Allah memberitahukan bahwa orang-orang yang tidak percaya tersebut akan dihukun dengan hukuman yang memalukan.

Makalah tentang penerjemahan 4:102 dicukupkan sampai di sini. Jika ada perubahan persepsi pada diri penulis, makalah ini akan direvisi.

Jumat, 24 Maret 2017

BAHIIRAH, SAAIBAH, WASHIILAH, DAN HAAM

Kata bahiirah, saaibah, washiilah dan haam muncul dalam Al Qur’an ayat 5:103 terjemahan versi Dep. Agama RI. Kata-kata tersebut adalah kata-kata dalam bahasa Arab. Dengan demikian, kata-kata tersebut belum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Pengertian kata-kata tersebut diberikan dalam catatan kaki Al Qur’an terjemahan versi Dep. Agama RI.

5:103. Allah sekali-kali tidak pernah mensyari'atkan adanya bahiirah, saaibah, washiilah dan haam. Akan tetapi orang-orang kafir membuat-buat kedustaan terhadap Allah, dan kebanyakan mereka tidak mengerti. (versi Dep. Agama RI)

Tampaknya, kata-kata tersebut dianggap oleh sebagian besar penerjemah Al Qur’an sebagai kata-kata yang sulit untuk diterjemahkan. Hal ini tercermin dari Al Qur’an terjemahan dalam bahasa Inggris berikut ini.

5:103. Allah has not made (superstitions like) Bahirah, Saibah, Wasilah, and Hami (all these animals were liberated in honor of idols as practiced by pagan Arabs in the pre- Islamic period). But those who disbelieve, invent a lie against Allah and most of them do not use reason. (versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri)

5:103 God did not make/create from a female camel in Pre-Islamic paganism whose ears were split after five deliveries and left to roam alone for their idols and of no benefit to man, and nor a female camel in Pre-Islamic paganism which gave birth to ten female litters and left to roam and feed freely and forbidden from use, and nor a female camel who gave birth seven times and was left to roam and not be slaughtered, and nor a male camel who fathered ten deliveries and was left to roam without benefit to man, and but those who disbelieved they fabricate on God the lies/falsehood, and most of them do not reason/understand/comprehend. (DISCREPANCY EXISTS ABOUT THE PRECEDING BOLD TERM) (versi Mohamed Ahmed dan Samira Ahmed)

005.103 It was not Allah who instituted (superstitions like those of) a slit-ear she-camel, or a she-camel let loose for free pasture, or idol sacrifices for twin-births in animals, or stallion-camels freed from work: It is blasphemers who invent a lie against Allah; but most of them lack wisdom. (versi Abdullah Yusuf Ali)

Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri tidak menerjemahkan kata-kata tersebut. Mereka menganggap bahwa kata-kata tersebut adalah nama sesuatu sehingga huruf pertama ditulis dengan huruf kapital.besar. Di pihak lain, Mohamed Ahmed dan Samira Ahmed dan Abdullah Yusuf Ali mengganti kata-kata tersebut dengan informasi yang ada dalam selain kamus bahasa Arab. Yang menarik, Mohamed Ahmed dan Samira Ahmed memberi komentar pada naskahnya dengan ungkapan yang mencerminkan keragu-raguan mereka, yaitu “DISCREPANCY EXISTS ABOUT THE PRECEDING BOLD TERM”. Penulis tidak setuju dengan cara penerjemahan seperti ini karena penerjemahan adalah proses peralihan bahasa, sehingga alat yang digunakan adalah kamus. Oleh sebab itu, penulis akan mencoba untuk menerjemahkannya sendiri dengan menggunakan kamus.

Pertama-tama, penulis perlu mencari tahu tentang identitas orang-orang kafir yang membuat kedustaan terhadap Allah yang disebutkan dalam 5:103. Apakah mereka hanya mencakup orang-orang kafir berkebudayaan Arab saja atau juga mencakup orang-orang kafir yang tidak berkebudayaan Arab? Ini penting karena berkaitan dengan bahiirah, saaibah, washiilah dan haam yang menjadi pokok bahasan makalah ini. Untuk itu, penulis perlu menerjemahkan ayat-ayat sebelum 5:103. Ayat-ayat tersebut adalah 5:101 dan 5:102. Oleh karena itu, ayat 5:101 sampai 5:103 akan diterjemahkan di sini.

Transliterasi ayat 5:101 sampai 5:103 adalah seperti berikut ini.

005.101 Y[a] ayyuh[a] alla[th]eena [a]manoo l[a] tas-aloo AAan ashy[a]a in tubda lakum tasu/kum wa-in tas-aloo AAanh[a] [h]eena yunazzalu alqur-[a]nu tubda lakum AAaf[a] All[a]hu AAanh[a] wa(A)ll[a]hu ghafoorun [h]aleem(un) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

005.102 Qad saalah[a] qawmun min qablikum thumma a[s]ba[h]oo bih[a] k[a]fireen(a) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

005.103 M[a] jaAAala All[a]hu min ba[h]eeratin wal[a] s[a]-ibatin wal[a] wa[s]eelatin wal[a] [ha]min wal[a]kinna alla[th]eena kafaroo yaftaroona AAal[a] All[a]hi alka[th]iba waaktharuhum l[a] yaAAqiloon(a) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

Hasil penerjemahan ketiga ayat tersebut adalah sebagai berikut.

005.101
Y[a] ayyuh[a] = wahai
alla[th]eena = orang-orang
[a]manoo = yang percaya
l[a] = jangan
tas-aloo = kamu bertanya
AAan = tentang
ashy[a]a = segala sesuatu
in = jika
tubda = dijelaskan
lakum = kepada kamu
tasu/kum = menyusahkan kamu
wa-in = dan jika
tas-aloo = kamu bertanya
AAanh[a] = tentang sesuatu
[h]eena = ketika
yunazzalu = diturunkan
alqur-[a]nu = Al Qur’an
tubda = akan dijelaskan
lakum = kepada kamu
AAaf[a] = telah memaafkanmu
All[a]hu = Allah
AAanh[a] = tentang itu
wa(A)ll[a]hu = dan Allah
ghafoorun = pemaaf
[h]aleem(un) = penyabar

005.102
Qad = sungguh
saalah[a] = sudah menanyai mereka
qawmun = kaum
min qablikum = sebelum kamu
thumma = kemudian
a[s]ba[h]oo = mereka tumbuh
bih[a] = pada mereka
k[a]fireen(a) = ketidakpercayaan

005.103
M[a] = tidak
jaAAala = membuat
All[a]hu = Allah
min = tentang
ba[h]eeratin = kekhawatiran
wal[a] = atau
s[a]-ibatin = kesesatan
wal[a] = atau
wa[s]eelatin = persekutuan
wal[a] = atau
[ha]min = pelindung
wa = dan
l[a]kinna = tetapi
alla[th]eena = orang-orang yang
kafaroo = tidak percaya
yaftaroona = mereka menciptakan
AAal[a] = pada
All[a]hi = Allah
alka[th]iba = kebohongan
waaktharuhum = dan sebagian besar dari mereka
l[a] = tidak
yaAAqiloon(a) = mereka menggunakan akal

Hasil penerjemahan ayat-ayat tersebut kemudian disajikan dengan hanya mencantumkan kata-kata yang berbahasa Indonesia. Hasilnya adalah sebagai berikut.

5:101  wahai orang-orang yang percaya jangan kamu bertanya tentang segala sesuatu jika dijelaskan kepada kamu menyusahkan kamu dan jika kamu bertanya tentang sesuatu ketika diturunkan Al Qur’an akan dijelaskan kepada kamu telah memaafkanmu Allah tentang itu dan Allah pemaaf penyabar

5:102 sungguh sudah menanyai mereka kaum sebelum kamu kemudian mereka tumbuh pada mereka ketidakpercayaan

5:103 tidak membuat Allah tentang kekhawatiran atau kesesatan atau persekutuan atau pelindung dan tetapi orang-orang yang tidak percaya mereka menciptakan pada Allah kebohongan dan sebagian besar dari mereka tidak mereka menggunakan akal

Selanjutnya, hasil terjemahan versi penulis disesuaikan dengan aturan bahasa Indonesia. Hasilnya adalah seperti berikut ini.

5:101  Wahai orang-orang yang percaya, jangan kamu bertanya tentang segala sesuatu yang jika dijelaskan kepada kamu menyusahkan kamu! Dan jika kamu bertanya tentang sesuatu ketika diturunkan Al Qur’an, akan dijelaskan kepada kamu. Allah telah memaafkanmu tentang itu, dan Allah pemaaf, penyabar. (versi penulis)

5:102 Sungguh, sudah menanyai mereka kaum sebelum kamu, kemudian tumbuh ketidakpercayaan pada mereka. (versi penulis)

5:103 Allah tidak membuat tentang kekhawatiran atau kesesatan atau persekutuan atau pelindung. Akan tetapi, orang-orang yang tidak percaya menciptakan pada Allah kebohongan, dan sebagian besar dari mereka tidak menggunakan akal. (versi penulis)

Pembahasan tentang penerjemahan akan difokuskan pada ayat 5:103. Pertama-tama, penulis tidak menggunakan kata kafir dalam terjemahan versi penulis. Kata ini sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia. Kata kafir, menurut kamus besar bahasa Indonesia (kbbI), adalah kata benda yang bermakna orang yang tidak percaya kepada Allah dan Rasul-Nya. Akan tetapi, dalam 5:103, kata kafaroo adalah kata kerja. Oleh sebab itu, penulis menerjemahkannya menjadi tidak percaya. Dalam kbbI, percaya adalah kata kerja. Frasa yang searti dengan kafir adalah alla[th]eena kafaroo. Sekadar tambahan, penggunaan frasa orang-orang kafir adalah janggal dari segi bahasa Indonesia karena kafir itu sendiri adalah orang. Dengan demikian, orang-orang kafir adalah sama dengan orang-orang orang yang tidak percaya kepada Allah dan Rasul-Nya. Frasa wal[a] diterjemahkan menjadi atau karena bersifat idiomatik dan didahului kata tidak di bagian sebelumnya.

Kata ba[h]eeratin atau bahiirah diterjemahkan menjadi kekhawatiran. Acuannya adalah kamus bahasa Arab-Inggris versi Wehr-Cowan (1976). Dalam kamus tersebut di halaman 42, ada kata bahira yang berarti takut (to be startled) (di tampilkan di Lampiran). Dalam kamus tersebut, kata bersufiks a adalah transliterasi dari ta marbuta yang berbunyi ah. Dengan demikian, bahira sama dengan bahirah. Walaupun demikian, bahirah tidak sama dengan bahiirah. Perbedaannya terletak pada jumlah huruf i. Menurut penulis, bahiirah adalah kata benda dari bahirah (kata sifat). Kata benda takut adalah ketakutan. Akan tetapi, kata yang lebih tepat untuk mengartikan ba[h]eeratin atau bahiirah adalah kekhawatiran. Menurut kbbI, khawatir berarti takut (gelisah, cemas) terhadap sesuatu yang belum pasti. Oleh sebab itu, ba[h]eeratin atau bahiirah diterjemahkan menjadi kekhawatiran.

Kata s[a]-ibatin atau saa’ibah diterjemahkan menjadi kesesatan. Menurut kamus bahasa Arab-Inggris versi Wehr-Cowan (1976) halaman 446, saa’ib berarti sesat ((a)stray) (di tampilkan di Lampiran). Menurut penulis, saa’ibah adalah kata benda dari saa’ib (kata sifat) sehingga s[a]-ibatin atau saa’ibah diterjemahkan menjadi kesesatan.

Kata wa[s]eelatin atau washiilah diterjemahkan menjadi persekutuan. Kata tersebut mempunyai akar kata waw-shad-lam. Menurut kamus bahasa Arab-Inggris versi Wehr-Cowan (1976) halaman 1073, kata berakar kata  waw-sad-lam mempunyai arti union (persekutuan) (di tampilkan di Lampiran).

Kata [ha]min atau haam diterjemahkan menjadi pelindung. Menurut kamus bahasa Arab-Inggris versi Wehr-Cowan (1976) halaman 209, haamin berarti protector (pelindung) (di tampilkan di Lampiran)

Sekarang, pembahasan tentang kandungan pesan yang ada dalam ayat 5:103 dilakukan. Dalam ayat tersebut, orang-orang yang tidak percaya membuat kebohongan pada Allah. Dalam kasus ini, kata membuat atau menciptakan dapat diartikan sama dengan mengajarkan. Dengan demikian, orang-orang yang tidak percaya mengajarkan kebohongan pada Allah. Kebohongan pada Allah yang dimaksud adalah kebohongan tentang kekhawatiran, kesesatan, persekutuan, atau pelindung. Dengan kalimat lain, orang-orang yang tidak percaya mengajarkan kebohongan pada Allah tentang kekhawatiran, kesesatan, persekutuan, atau pelindung. Dalam 5:103, Allah menegaskan bahwa Allah tidak mengajarkan kebohongan tentang kekhawatiran, kesesatan, persekutuan, atau pelindung. Perlu diperhatikan bahwa orang-orang yang tidak percaya tersebut mencakup orang-orang berkebudayaan Arab pada jaman Nabi Muhammad dan juga orang-orang tidak berkebudayaan Arab pada jaman sebelum Nabi Muhammad (5:102). Dengan demikian, arti bahiirah, saaibah, washiilah dan haam tidak berlaku hanya pada bangsa Arab saja, seperti yang dipahami oleh sebagian besar orang.

Menurut penulis, kebohongan tentang kekhawatiran dan kesesatan berkaitan dengan respon orang-orang tidak percaya terhadap petunjuk Allah yang disampaikan oleh para Rasul Allah. Mereka tidak percaya pada petunjuk Allah karena mereka menganggap bahwa petunjuk Allah mengandung kekhawatiran dan kesesatan. Mereka beranggapan bahwa petunjuk Allah adalah tidak benar sehingga mereka khawatir. Mereka beranggapan bahwa petunjuk Allah adalah menyesatkan. Mereka mengajarkan kepada orang-orang bahwa petunjuk Allah adalah mengkhawatirkan dan menyesatkan. Terhadap hal ini, Allah sudah menjelaskan bahwa orang-orang tidak akan merasakan kekhawatiran dan tidak akan mengalami kesesatan jika mengikuti petunjuk Allah (2:38 dan 20:123). Tambahan, orang-orang tidak percaya menganggap bahwa Rasul Allah Muhammad adalah sesat (34:50).

2:38. Kami berfirman: "Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (versi Dep. Agama RI)

20:123. Allah berfirman: "Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. (versi Dep. Agama RI)

34:50. Katakanlah: "Jika aku sesat maka sesungguhnya aku sesat atas kemudharatan diriku sendiri; dan jika aku mendapat petunjuk maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat." (versi Dep. Agama RI)

Kebohongan pada Allah tentang persekutuan atau pelindung berkaitan dengan anggapan orang-orang tidak percaya bahwa Allah mempunyai sekutu dan membuat pelindung selain Allah. Kebohongan tersebut terungkap dalam 14:30 dan 42:9.

14:30. Orang-orang kafir itu telah menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah supaya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: "Bersenang-senanglah kamu, karena sesungguhnya tempat kembalimu ialah neraka." (versi Dep. Agama RI)

42:9. Atau patutkah mereka mengambil pelindung-pelindung selain Allah? Maka Allah, Dialah pelindung (yang sebenarnya) dan Dia menghidupkan orang- orang yang mati, dan Dia adalah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (versi Dep. Agama RI)

Penulis beranggapan bahwa masalah berkaitan dengan penerjemahan bahiirah, saaibah, washiilah dan haam sudah terpecahkan. Oleh sebab itu, makalah ini ditutup sampai di sini. Jika terjadi perubahan persepsi pada diri penulis, makalah ini akan direvisi.


LAMPIRAN