Minggu, 20 November 2016

PENISTAAN AGAMA

Penistaan agama sama dengan penghinaan agama. Penghinaan agama sama dengan perbuatan menghinakan agama. Menghinakan sesuatu agama berarti perbuatan merendahkan atau mencela agama.

Apa reaksi orang ketika agamanya dihina? Sudah bisa diduga, mereka akan marah. Apakah yang dimaksud dengan marah? Menurut kamus besar bahasa Indonesia (kbbI), salah satu arti kata marah adalah sangat tidak senang (karena dihina, diperlakukan tidak sepantasnya, dsb.). Apakah yang harus dilakukan orang islam ketika marah? Jawabannya ada di Al Qur’an surat 42:37.

42:37. Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan- perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf. (versi Dep. Agama RI)

Jadi, apabila orang islam marah, ia memberi maaf. Memberi maaf sama dengan memaafkan. Apa arti maaf? Menurut kbbI, maaf adalah pembebasan seseorang dari hukuman (tuntutan, denda, dsb.) karena suatu kesalahan. Dengan demikian, menurut Al Qur’an, orang islam yang marah akan membebaskan orang yang membuatnya marah dari tuntutan, denda, dan sebagainya. Dalam masa pemilihan gubernur Daerah Khusus Ibu kota Jakarta yang akan diselenggarakan pada 2017, sejumlah orang beragama islam yang marah karena merasa agamanya telah dihina menuntut agar orang yang dianggap menghina agamanya tersebut dituntut ke pengadilan agar diberi hukuman. Ini berarti bahwa mereka tidak memberi maaf kepada orang yang membuat mereka marah. Jelas sekali terlihat bahwa orang-orang yang marah tersebut tidak mematuhi ajaran Allah dalam Al Qur’an, yaitu surat 42:37. Sungguh disayangkan, mereka yang marah tersebut mengaku percaya pada Al Qur’an.

Ayat 42:37 mengajarkan kepada manusia agar tidak memberi hukuman kepada orang yang membuatnya marah. Contoh hukuman tersebut ialah tindakan kekerasan, pengrusakan, pembunuhan, dan penuntutan hukuman penjara.

Makalah ini ditutup di sini. Apabila ada perubahan persepsi pada diri penulis, makalah ini akan direvisi.

Minggu, 13 November 2016

PANCASILA DAN TERJEMAHAN AL MAIDAH 51

Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia adalah suatu perjanjian luhur. Pancasila adalah suatu perjanjian antara para pendiri negara yang meliputi semua komponen bangsa. Komponen bangsa tersebut mencakup semua rakyat Indonesia dengan agama yang berbeda-beda. Jadi, Pancasila adalah perjanjian antara semua rakyat Indonesia yang beragama islam dan yang beragama bukan islam.

Perjanjian yang dibuat oleh orang islam dan orang bukan islam dibenarkan oleh Al Qur’an. Pada waktu itu, ada perjanjian yang dibuat oleh orang islam dan orang musyrik (9:4). Allah memerintahkan agar orang islam memenuhi perjanjian tersebut, dengan syarat orang musyrik memenuhi perjanjian dan tidak membantu pihak yang memusuhi orang islam. Dengan demikian, selama pihak orang musyrik menghormati perjanjian, memenuhi perjanjian adalah kewajiban bagi orang islam. Ayatnya adalah sebagai berikut.

9:4. kecuali orang-orang musyrikin yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) dan mereka tidak mengurangi sesuatu pun (dari isi perjanjian)mu dan tidak (pula) mereka membantu seseorang yang memusuhi kamu, maka terhadap mereka itu penuhilah janjinya sampai batas waktunya. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaqwa. (versi Dep. Agama RI)

Dalam kaitannya dengan Pancasila, ayat 9:4 menunjukkan bahwa Pancasila sebagai suatu perjanjian antara orang islam dan orang bukan islam wajib diamalkan oleh orang islam dalam kehidupan bernegara, selama orang bukan islam menghormati Pancasila. Dengan demikian, orang islam tidak boleh melanggar Pancasila sebagai perjanjian luhur. Pengamalan Pancasila dalam kehidupan bernegara oleh orang islam adalah implementasi pemenuhan janji orang islam. Sudah barang tentu, orang bukan islam juga wajib mengamalkan Pancasila dalam kehidupan bernegara. Jadi, pengamalan Pancasila adalah sesuai dengan ajaran Al Qur’an.

Fungsi Pancasila di negara kesatuan Republik Indonesia adalah menjadi sumber dari segala sumber hukum. Undang-undang dasar, undang-undang, peraturan pemerintah, dan peraturan perundang-undangan lainnya dibuat berdasarkan Pancasila. Dengan demikian, semua peraturan perundang-undangan harus sesuai dengan Pancasila. Dapat dikatakan bahwa peraturan perundang-undangan adalah perwujudan Pancasila dalam penyelenggaraan kehidupan bernegara. Peraturan perundang-undangan itu sendiri pada hakikatnya merupakan bentuk perjanjian seluruh rakyat Indonesia. Dengan demikian, peraturan perundang-undangan adalah suatu bentuk perjanjian yang dibuat oleh rakyat Indonesia yang susuai dengan Pancasila. Artinya, rakyat Indonesia wajib taat pada semua peraturan perundang-undangan. Oleh karena itu, orang Indonesia beragama islam wajib taat pada semua peraturan perundang-undangan yang sesuai dengan Pancasila. Jadi, bersikap taat pada semua peraturan perundang-undangan yang sesuai dengan Pancasila adalah sesuai dengan ajaran Al Qur’an.

Pemilihan presiden dan kepala daerah diatur oleh peraturan perundang-undangan. Jadi, bersikap taat pada peraturan perundang-undangan yang mengatur pemilihan presiden dan kepala daerah adalah wujud pemenuhan janji. Dengan demikian, ketaatan tersebut sesuai dengan ajaran Al Qur’an.

Peraturan perundang-undangan pemilu menyebutkan bahwa tidak ada persyaratan yang menyebutkan bahwa presiden atau kepala daerah harus beragama islam. Ini berarti bahwa orang beragama islam, kristen, katolik, budha, hindu, dan lainnya berhak menjadi presiden dan kepala daerah. Selain itu, peraturan perundang-undangan pemilu juga tidak melarang orang islam memilih calon presiden dan calon kepala daerah yang tidak beragama islam. Tugas dan kewenangan presiden dan kepala daerah ditetapkan oleh peraturan perundang-undangan. Dalam peraturan tersebut, presiden dan kepala daerah tidak bertugas dan berwenang mengatur pengamalan agama seseorang. Jadi, bagi orang beragama islam, memilih presiden dan kepala daerah yang beragama selain islam adalah tidak melanggar ajaran Al Qur’an.

Pendapat tentang larangan untuk memilih pemimpin yang beragama bukan islam muncul karena orang menggunakan Al Qur’an terjemahan yang salah, yaitu terjemahan 5:51 versi Dep. Agama RI. Kutipannya adalah seperti berikut ini.

5:51. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (versi Dep. Agama RI)

Kesalahan terjemahan 5:51 versi Dep. Agama RI secara mudah dapat ditunjukkan dengan membandingkannya dengan terjemahan versi yang lain. Berikut ini adalah kutipannya.

5.51 O ye who believe! take not the Jews and the Christians for your friends and protectors: They are but friends and protectors to each other. And he amongst you that turns to them (for friendship) is of them. Verily Allah guideth not a people unjust. (versi Abdullah Yusuf Ali)

5:51 You, you those who believed, do not take the Jews and the Christians (as) guardians/patrons, some of them (are) guardians/patrons (of) some, and who follows them from you, so that he truly is from them, that God does not guide the nation, the unjust/oppressive. (versi Muhamed dan Samira Ahmed)

5:51. O you who believe! Do not take the Jews and the Christians as allies.They are allies of one other. And whoever among you takes them as allies, then indeed he is of them. Indeed, Allah does not guide the wrongdoing people. (versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri)

5:51. Wahai orang-orang yang percaya, janganlah mengambil orang-orang Yahudi, dan orang-orang Nasrani, sebagai sahabat; mereka adalah sahabat-sahabat satu sama lain. Barang siapa antara kamu yang menjadikan mereka sahabat-sahabatnya adalah dari mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. (Versi Othman Ali)

5:51 Believers, take neither Jews nor the Christians for your friends. They are friends with another. Whoever of you seeks their friendship shall become of their member. God does not guide the wrongdoers. (Versi N. J. Dawood)

5:51 O ye who believe! Take not the Jews and the Christians for friends. They are friends one to another. He among you who taketh them for friends is (one) of them. Lo! Allah guideth not wrongdoing folk. (versi Muhd M.W.Pickthall)

5:51 O you who believe! do not take the Jews and the Christians for friends; they are friends of each other; and whoever amongst you takes them for a friend, then surely he is one of them; surely Allah does not guide the unjust people. (versi M.H.Shakir)

5:51. O you who believe! Take not the Jews and the Christians as Auliya' (friends, protectors, helpers, etc.), they are but Auliya' to one another. And if any amongst you takes them as Auliya', then surely he is one of them. Verily, Allah guides not those people who are the Zalimun (polytheists and wrong-doers and unjust). (Versi Dr. Muhammad Taqi-ud-Din Al-Hilali, Ph.D. & Dr. Muhammad Muhsin Khan)

5:51. O you who believe, do not take certain Jews and Christians as allies; these are allies of one another. Those among you who ally themselves with these belong with them. GOD does not guide the transgressors. (versi Dr. Rashad Khalifa, Ph.D.)

5:51. O ye who believe! take not the Jews and the Christians for your friends and protectors: They are but friends and protectors to each other.And he amongst you that turns to them (for friendship) is of them.Verily Allah guideth not a people unjust. (versi Harun Yahya)

5:51 O you who believe, take not the Jews and the Christians for friends. They are friends of each other. And whoever amongst you takes them for friends he is indeed one of them. Surely Allah guides not the unjust people. (versi  Maulana Muhammad Ali)

5:51. 'O believer! Do not take the Jews and Christians as friends, they are friends of each other among themselves, and whoso of you makes them his friends, then he is one of them. Undoubtedly Allah guides not the people unjust. (versi AalaHazrat Imam Ahmed Raza Khan)

5:51 O believers! Take neither Jews nor Christians as your protecting friends: they are only protecting friends of one another. Whoever of you disobeys this commandment will be counted as one of them. Surely Allah does not guide the wrongdoers. (versi F. Malik)

5:51. O you who believe, do not take the Jews and the Christians for intimate friends. They are friends to each other. Whoever takes them as intimate friends is one of them. Surely, Allah does not take the unjust people to the right path. (versi Taqi Usmani)

Kutipan terjemahan di atas memperlihatkan bahwa tidak ada satu pun yang menyebut kata pemimpin atau leader (pemimpin). Ini menunjukkan bahwa terjemahan 5:51 versi Dep. Agama RI adalah salah.

Cara yang lebih sulit tetapi lebih meyakinkan ialah dengan melakukan penerjemahan sendiri terhadap ayat 5:51. Oleh sebab itu, penulis melakukan penerjemahan sendiri terhadap ayat 5:51. Transliterasi surat Al Maidah 51 adalah sebagai berikut.

005.051 Y[a] ayyuh[a] alla[th]eena [a]manoo l[a] tattakhi[th]oo alyahooda wa(al)nna[sa]r[a] awliy[a]a baAA[d]uhum awliy[a]o baAA[d]in waman yatawallahum minkum fa-innahu minhum inna All[a]ha l[a] yahdee alqawma a(l){thth}[a]limeen(a) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

Berikut ini adalah hasil penerjemahan 5:51 versi penulis.

Y[a] ayyuh[a] = wahai
alla[th]eena = orang-orang yang
[a]manoo = percaya
l[a] = jangan
tattakhi[th]oo = mengambil
alyahooda = kaum yahudi
wa = dan
(al)nna[sa]r[a] = kaum kristen
awliy[a]a = teman dekat
baAA[d]uhum = satu dari mereka
awliy[a]o = teman dekat
baAA[d]in = satu lainnya
waman = dan siapa saja
yatawallahum = mendekati mereka
minkum = dari kamu semua
fa-innahu = maka sesungguhnya dia
minhum = dari mereka
inna = sesungguhnya
All[a]ha = Allah
l[a] = tidak
yahdee = membimbing
alqawma = kaum
a(l){thth}[a]limeen(a) = jahat

Setelah transliterasi bahasa Arab dihapus dan disusun kembali, hasilnya adalah sebagai berikut.

wahai orang-orang yang percaya jangan mengambil kaum yahudi dan kaum kristen teman dekat satu dari mereka teman dekat satu lainnya dan mendekati mereka dari kamu semua maka sesungguhnya dia dari mereka sesungguhnya Allah tidak membimbing kaum jahat

Setelah disesuaikan dengan aturan bahasa Indonesia, hasilnya adalah sebagai berikut.

Wahai orang-orang yang percaya! Jangan mengambil kaum yahudi dan kaum kristen sebagai teman dekat! Satu dari mereka teman dekat satu lainnya. Dan siapa saja mendekati mereka dari kamu semua, maka sesungguhnya dia dari mereka. Sesungguhnya Allah tidak membimbing kaum jahat.

Jadi, terjemahan versi penulis adalah sebagai berikut.

5:51 Wahai orang-orang yang percaya! Jangan mengambil kaum yahudi dan kaum kristen sebagai teman dekat! Satu dari mereka teman dekat satu lainnya. Dan siapa saja mendekati mereka dari kamu semua, maka sesungguhnya dia dari mereka. Sesungguhnya Allah tidak membimbing kaum jahat. (versi penulis)

Ada beberapa kata yang penerjemahannya perlu penjelasan lebih lanjut. Pertama, kata tersebut adalah awliy[a]a. Kata awliy[a]a adalah bentuk jamak dari waliy, yang berakar kata waw-lam-ya. Arti awliy[a]a dalam kamus Arab-Inggris Wehr-Cowan di halaman 1100 yang dipandang cocok adalah teman dekat (close associate). Penulis memilihnya karena kata waliy berarti dekat (close). Pembaca dapat mengeceknya sendiri kutipan kamus tersebut dalam lampiran yang ditaruh di bagian akhir makalah ini.

Terlihat dalam kutipan tersebut bahwa tidak satu kata pun yang menyebut kata leader (pemimpin) sebagai arti dari awliy[a]a. Ini berarti bahwa awliy[a]a tidak bisa diartikan sama dengan pemimpin. Perlu pula dicermati bahwa kata waliy (bentuk tunggal) mempunyai arti berbeda dengan awliy[a]a (bentuk jamak). Kata waliy adalah kata sifat, sedangkan kata awliy[a]a adalah kata benda.

Ada baiknya disampaikan di sini kata dalam bahasa Arab yang berarti pemimpin. Kata dalam bahasa Arab yang berarti pemimpin dalam kamus Arab-Inggris Wehr-Cowan di halaman 377 dan 378 adalah za’im, yang berakar kata za-ayn-mim. Bentuk jamaknya adalah zu’amaa. (Penulis minta maaf atas ketidakkonsitenan dalam penulisan transliterasi.) Pembaca dapat mengeceknya sendiri kutipan kamus tersebut dalam lampiran yang ditaruh di bagian akhir makalah ini. Ini menegaskan bahwa awliy[a]a memang tidak berarti pemimpin.

Kata-kata yang perlu dibahas selanjutnya adalah baAA[d]uhum dan baAA[d]in. Kata baAA[d] mempunyai akar kata ba-ayn-dad, yang berarti part, portion, one, some, a few, a little of, some of (kamus Arab-Inggris Wehr-Cowan halaman 67). Akhiran hum berarti kata ganti orang ketiga jamak mereka, sedangkan sufiks in menerangkan kata bentuk tunggal. Mereka yang dimaksud di sini adalah kaum yahudi dan kaum kristen. Penulis memilih kata satu (one) sebagai arti yang tepat dari baAA[d]. Perlu diperhatikan juga dalam kamus tersebut bahwa baAA[d] dapat pula berarti satu dari (one of). Dengan demikian, baAA[d]uhum berarti satu dari mereka dan baAA[d]in berarti satu lainnya. Maksudnya, jika satu dari mereka adalah kaum yahudi, satu lainnya adalah kaum kristen, dan demikian juga, jika satu dari mereka adalah kaum kristen, satu lainnya adalah kaum yahudi.

Kata berikutnya yang perlu dibahas adalah yatawallahum. Kata ini mempunyai akar kata yang sama dengan awliy[a]a yaitu, waw-lam-ya. Dalam project root list di http://www.studyquran.co.uk/PRLonline.htm disebutkan bahwa yatawalla berarti he turns away (ia berpaling). Kata hum (mereka) di sini berfungsi sebagai kata ganti objek orang ketiga jamak. Jika hum diartikan sebagai kata ganti objek, yatawallahum adalah kata kerja transitif (membutuhkan objek). Kata berpaling adalah kata kerja intransitif sehingga kata berpaling tidak tepat untuk mengartikan kata yatawallahum. Oleh sebab itu, penulis perlu mencari kata lain yang tepat. Kata yatawalla mempunyai akar kata waw-lam-ya, yang bentuk tunggalnya (waliy) berarti dekat. Kata kerja transitif yang dapat dibentuk dari kata dekat adalah mendekati. Dengan demikian, yatawallahum berarti mendekati mereka. Artinya kurang lebih sama dengan berpaling ke mereka.

Kata alqawma juga perlu dibahas karena berkaitan dengan penerjemahan alyahooda dan (al)nna[sa]r[a]. Kata alqawma diterjemahkan menjadi kaum (kamus Arab-Inggris Wehr-Cowan halaman 800). Dalam ayat tersebut, kaum yang dimaksud adalah alyahooda atau (al)nna[sa]r[a]. Kata alyahoodu, yang mempunyai sinonim yahoodu dan alhoodu, berarti yahudi (the jews) (kamus Lane – An Arabic English Lexicon). Oleh sebab itu, alyahooda diterjemahkan menjadi kaum yahudi. Kata (al)nna[sa]r[a] berarti kristen (christian) ((kamus Arab-Inggris Wehr-Cowan halaman 970). Kata (al)nna[sa]r[a] diterjemahkan menjadi kaum kristen. Penambahan kata kaum menegaskan bahwa alyahooda dan (al)nna[sa]r[a] adalah kata dalam bentuk jamak. Artinya, dalam satu kaum ada lebih dari satu orang. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, kaum berarti suku bangsa dan golongan.

Kata [a]manoo adalah kata kerja yang mempunyai akar kata alif-mim-nun dan diterjemahkan menjadi percaya. Salah satu arti kata yang berakar kata alif-mim-nun adalah to believe (percaya) (kamus Arab-Inggris Wehr-Cowan halaman 28).

Sekarang, informasi dalam terjemahan ayat 5:51 versi penulis dibahas. Ayat 5:51 menerangkan bahwa orang yang percaya kepada Allah atau orang islam, yaitu yang percaya pada ajaran Al Qur’an yang diberikan kepada Nabi Muhammad, dilarang untuk menjadikan kaum yahudi dan kaum kristen sebagai teman dekat. Kaum yahudi dan kaum kristen adalah saling berteman dekat. Jika orang islam mendekati kaum yahudi dan kaum kristen, orang tersebut akan menjadi sama dengan kaum yahudi dan kaum kristen. Allah menilai bahwa kaum yahudi dan kaum kristen termasuk kaum yang jahat. Allah tidak membimbing kaum yang jahat, yaitu kaum yahudi dan kaum kristen.

Dalam konteks kondisi sekarang, maksud larangan berteman dekat dengan kaum yahudi dan kaum kristen adalah seperti berikut ini. Orang islam boleh berteman dekat dengan kaum yahudi dan kaum kristen sepanjang pertemanan tersebut tidak sampai membuat orang islam tersebut berpindah agama ke agama yang dianut kaum yahudi atau kaum kristen. Perlu diketahui bahwa kaum yahudi dan kaum kristen akan berusaha untuk membuat orang islam berpindah ke agama mereka (2:120).

2:120. Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (versi Dep. Agama RI)

Barangkali, pembaca pernah mendengar kisah orang beragama islam yang pindah ke agama kristen karena berteman dekat dengan orang kristen. Sebagai contoh, orang beragama islam itu mungkin seorang pemuda atau pemudi yang berpacaran dengan orang kristen. Kemudian, orang beragama islam tersebut menjadi orang kristen. Contoh yang lain, orang beragama islam yang miskin atau bermasalah diberi pertolongan dan perlindungan oleh orang kristen untuk mengatasi kesulitannya. Kemudian, orang beragama islam tersebut menjadi orang kristen.

Persahabatan atau pertemanan dekat dengan kaum yahudi dan kaum kristen yang tidak sampai membuat orang islam berpindah agama tidak dilarang. Persahabatan dapat terjadi karena persamaan tempat sekolah, hobi, profesi, tempat tinggal, tempat kerja, dan lain sebagainya.

Sebagai penutup, ada yang perlu diutarakan dalam makalah ini. Terjemahan ayat 5:51 versi Dep. Agama RI adalah salah sehingga perlu direvisi. Pertama, terjemahan 5:51 versi Dep. Agama RI berpotensi mengancam persatuan Indonesia. Kasus demonstrasi besar-besaran di Jakarta pada tanggal 4 November 2016 merupakan contoh di depan mata yang perlu dijadikan perhatian. Kedua, kata pemimpin dalam terjemahan 5:51 versi Dep. Agama RI menimbulkan masalah-masalah lain. Apakah orang bergama islam tidak boleh naik kereta api yang dipimpin oleh seorang masinis beragama kristen? Apakah orang beragama islam tidak boleh bermain sepak bola yang pertandingannya dipimpin oleh wasit beragama kristen? Apakah orang beragama islam tidak boleh mengikuti seminar yang dipimpin oleh seorang moderator beragama kristen? Apakah orang beragama islam tidak boleh mengikuti upacara bendera yang dipimpin oleh seorang inspektur upacara beragama kristen? Apakah kita harus keluar dari anggota PBB, FIFA, ASEAN, dan organisasi lainnya karena dipimpin oleh orang beragama kristen atau yahudi? Pertanyaan yang serupa masih banyak.

Perlu diingat pula bahwa ayat terjemahan 5:51 versi Dep. Agama RI adalah buatan lembaga pemerintah Indonesia, yaitu Departemen Agama Republik Indonesia. Cukup beralasan untuk mengatakan bahwa yang bertanggungjawab atas segala kasus yang berkaitan dengan terjemahan 5:51 versi Dep. Agama RI adalah pemerintah. Dalam hal ini, yang bertanggungjawab adalah pemerintah yang berkuasa. Oleh karena itu, penulis yang bukan siapa-siapa ini mengusulkan agar pemerintah segera merevisi terjemahan 5:51 versi Departemen Agama RI. Akan lebih baik lagi jika pemerintah melakukan penerjemahan ulang semua ayat-ayat Al Qur’an.

Agar perlu diingat pula bahwa Al Qur’an dan Al Qur’an terjemahan adalah berbeda. Al Qur’an dibuat oleh Allah, sedangkan Al Qur’an terjemahan dibuat oleh manusia. Al Qur’an terjemahan adalah bukan Al Qur’an. Menyalahkan Al Qur’an terjemahan tidak sama dengan menyalahkan Al Qur’an. Merevisi Al Qur’an terjemahan tidak sama dengan merevisi Al Qur’an.

Walaupun demikian, Al Qur’an terjemahan bersifat sebagai petunjuk. Jika benar, ia akan membawa orang ke surga. Jika salah, ia akan membawa orang ke neraka. Hanya itu pilihannya. Jadi, pemerintah wajib merevisi Al Qur’an terjemahan yang salah. Pemerintah RI dipimpin oleh Presiden RI. Penulis berharap semoga ada keajaiban yang membuat makalah ini dibaca Presiden RI.

Makalah ini dicukupkan sampai di sini. Jika ada perubahan persepsi pada diri penulis, makalah ini akan direvisi.


LAMPIRAN MAKALAH



Sabtu, 29 Oktober 2016

WAKTU HAJI

Waktu haji dijelaskan dalam Al Qur’an ayat 2:189 dan 2:197. Transliterasinya adalah sebagai berikut.

002.189 Yas-aloonaka AAani al-ahillati qul hiya maw[a]qeetu li(l)nn[a]si wa(a)l[h]ajji walaysa albirru bi-an ta/too albuyoota min {th}uhoorih[a] wal[a]kinna albirra mani ittaq[a] wa/too albuyoota min abw[a]bih[a] wa(i)ttaqoo All[a]ha laAAallakum tufli[h]oon(a) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

002.197 Al[h]ajju ashhurun maAAloom[a]tun faman fara[d]a feehinna al[h]ajja fal[a] rafatha wal[a] fusooqa wal[a] jid[a]la fee al[h]ajji wam[a] tafAAaloo min khayrin yaAAlamhu All[a]hu watazawwadoo fa-inna khayra a(l)zz[a]di a(l)ttaqw[a] wa(i)ttaqooni y[a] olee al-alb[a]b(i) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

Terjemahan versi Dep. Agama RI kedua ayat tersebut adalah sebagai berikut.

2:189. Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: "Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung. (versi Dep. Agama RI)

2:197. (Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal. (versi Dep. Agama RI)

Ada permasalahan dalam terjemahan versi Dep. Agama di atas. Pertama, dalam 2:189 disebutkan rumah-rumah. Rumah-rumah yang dimaksud dalam 2:189 itu rumah-rumah yang mana? Perlu diingat bahwa ayat tersebut menjelaskan tentang haji sehingga penafsirannya harus dikaitkan dengan rumah dalam haji. Di samping itu, bahwa rumah dalam haji hanya ada satu, yaitu rumah Allah. Jadi, apakah rumah-rumah dalam terjemahan ayat tersebut menerangkan bahwa rumah Allah berjumlah lebih dari satu?  Kedua, petunjuk agar orang memasuki rumah dari pintu-pintunya terasa janggal. Bukankah semua orang sudah tahu bahwa pintu dibuat agar orang bisa masuk rumah dengan mudah? Ketiga, larangan memasuki rumah dari belakang rumah (belakangnya) juga terasa aneh. Belakang rumah yang dapat berupa taman, kebun, halaman, atau kawasan bukan bagian dari rumah selainnya adalah bukan alternatif dari pintu. Apakah orang bisa masuk rumah dari taman, kebun, dan halaman tanpa melewati pintu?

Permasalahan berikutnya, disebutkan beberapa bulan dalam terjemahan 2:197 versi Dep. Agama RI. Frasa beberapa bulan mengindikasikan bahwa jumlah bulan tersebut adalah tertentu dan nama-namanya tidak tentu. Ada yang tidak jelas di sini. Berapa bulan? Apa nama bulan-bulan tersebut? Permasalahan-permasalahan tersebut mendorong penulis untuk menerjemahkan sendiri kedua ayat di atas.

Untuk mengatasi masalah tersebut, penulis mencoba untuk menerjemahkan kedua ayat tersebut sendiri. Caranya, penulis menggunakan terjemahan per kata yang ada di http://corpus.quran.com/, kemudian mengecek arti per kata yang ada dengan kamus bahasa Arab-Inggris dan informasi dalam project root list di http://www.studyquran.co.uk/PRLonline.htm. Hasilnya adalah sebagai berikut.

Terjemahan 2:189 :
yas-aloonaka = mereka bertanya kepadamu
AAani = tentang
al-ahillati = kenampakan bulan-bulan baru
qul = katakanlah
hiya = mereka
maw[a]qeetu = waktu-waktu tertentu
li(l)nn[a]si = bagi manusia
wa(a)l[h]ajji = dan haji
walaysa = dan bukan
albirru = kebenaran
bi-an = dengan
ta/too = melakukan
albuyoota = aktivitas-aktivitas malam hari
min = dari
{th}uhoorih[a] = kemunculan-kemunculannya
wal[a]kinna = dan tetapi
albirra = kebenaran
mani = orang yang
ittaq[a] = mematuhi
wa/too = dan lakukanlah
albuyoota = aktivitas-aktivitas pada malam hari
min = dari
abw[a]bih[a] = pembukaan-pembukaannya
wa(i)ttaqoo = dan patuhilah
All[a]ha = Allah
laAAallakum = dan semoga kamu
tufli[h]oon(a) = berhasil

Terjemahan 2:197:
Al[h]ajju = haji
ashhurun = pemberitahuan-pemberitahuan
maAAloom[a]tun = informasi
faman = maka siapa saja
fara[d]a = memutuskan
feehinna = dalam diri mereka
al[h]ajja = haji
fal[a] = maka tidak
rafatha = berhubungan seks
wal[a] = dan tidak
fusooqa = perbuatan menyimpang
wal[a] = dan tidak
jid[a]la = perdebatan
fee = dalam
al[h]ajji = haji
wam[a] = dan apa saja
tafAAaloo = kamu melakukan
min = dari
khayrin = kebaikan
yaAAlamhu = mengetahuinya
All[a]hu = Allah
watazawwadoo = dan berbekallah
fa-inna = maka sesungguhnya
khayra = yang baik
a(l)zz[a]di = perbekalan
a(l)ttaqw[a] = kepatuhan
wa(i)ttaqooni = dan patuhilah Aku
y[a] = wahai
olee = pemilik-pemilik
al-alb[a]b(i) = akal

Hasil penyusunan terjemahan di atas adalah sebagai berikut.

2:189 mereka bertanya kepadamu tentang kenampakan bulan-bulan baru katakanlah mereka waktu-waktu tertentu bagi manusia dan haji dan bukan kebenaran dengan melakukan aktivitas-aktivitas malam hari dari kemunculan-kemunculannya dan tetapi kebenaran orang yang mematuhi dan lakukanlah aktivitas-aktivitas pada malam hari dari  pembukaan-pembukaannya dan patuhilah Allah dan semoga kamu berhasil

2:197 haji pemberitahuan-pemberitahuan informasi maka siapa saja memutuskan dalam diri mereka haji maka tidak berhubungan seks dan tidak perbuatan menyimpang dan tidak perdebatan dalam haji dan apa saja kamu melakukan dari kebaikan mengetahuinya Allah dan berbekallah maka sesungguhnya yang baik perbekalan kepatuhan dan patuhilah Aku wahai pemilik-pemilik akal

Beberapa kata dalam 2:189 yang penerjemahannya dipandang memerlukan pembahasan lebih lanjut adalah al-ahillati, maw[a]qeetu, ta/too, albuyoota, {th}uhoorih[a], dan abw[a]bih[a]. Pertama, yang dijadikan dasar penerjemahan al-ahillati menjadi kenampakan bulan-bulan baru adalah isi kamus Arab-Inggris Wehr-Cowan halaman 1030. Disebutkan dalam kamus tersebut bahwa ahilla adalah bentuk jamak hilal yang berarti new moon, half-moon, crescent, parenthesis, any crescent-shaped object. Penulis memilih new moon yang berarti bulan baru. Penulis menerjemahkan ahillati menjadi kenampakan bulan-bulan baru karena bulan yang dimaksud adalah planet, bukan nama waktu dalam sistem kalender, dan kata tersebut adalah bentuk jamak. Di samping itu, artikel alif lam di depan ahilla menerangkan kejadian tersebut adalah dalam waktu tertentu. Artinya, dalam satu bulan hanya ada satu kenampakan bulan baru.

Kata selanjutnya adalah maw[a]qeetu. Dalam kamus Arab-Inggris Wehr-Cowan halaman 1087 disebutkan bahwa maw[a]qeetu adalah bentuk jamak dari mauqit dan miiqaat yang berarti waktu tertentu (appointed time). Sebagai bentuk jamak, maw[a]qeetu diterjemahkan menjadi waktu-waktu tertentu. Kata ta/too mempunyai akar kata alif-ta-waw, yang salah satu artinya, seperti yang ada di kamus Arab-Inggris Wehr-Cowan halaman 3, adalah to do (melakukan). Oleh sebab itu, ta/too diterjemahkan menjadi melakukan. Dengan dasar yang sama, wa/too diterjemahkan menjadi dan lakukanlah.

Kata albuyoota adalah bentuk jamak dari akar kata ba-ya-ta. Akar kata ini dapat muncul dalam bentuk baata dan bayt/bait. Dalam kamus Arab-Inggris Wehr-Cowan halaman 84, yang disebut mempunyai bentuk jamak buyuut adalah bait. Walaupun demikian, penulis berpendapat bahwa buyuut juga bentuk jamak dari baata karena mempunyai akar kata yang sama dengan bait. Dalam kamus tersebut, kedua kata tersebut dimulai dengan huruf arab yang sama (ba-ya-ta) yang berada dalam tanda kurung. Oleh sebab itu, buyuut dapat berarti baata dan bayt/bait. Menurut kamus Wehr-Cowan, arti pertama baata adalah to pass or spend the night (melewati atau menghabiskan malam). Aktivitas melewati atau menghabiskan malam tersebut dilakukan dalam keadaan tidak tidur. Dengan demikian, melewati atau menghabiskan malam dengan cara tidur bukan arti dari baata. Penjelasan tentang hal ini ada di kamus Lane – An Arabic English Lexicon. Kata benda melewati atau menghabiskan malam adalah aktivitas pada malam hari. Sebagai kata benda jamak, albuyoota dalam 2:189 diterjemahkan menjadi aktivitas-aktivitas pada malam hari. Artikel alif lam pada albuyoota menerangkan bahwa aktivitas yang dimaksud adalah aktivitas pada waktu haji.

Kata {th}uhoorih[a] diterjemahkan menjadi kemunculan-kemunculannya. Menurut kamus Arab-Inggris Wehr-Cowan halaman 583,  salah satu arti {th}uhoor adalah muncul (to appear). Kata benda muncul adalah kemunculan. Kata ganti kepemilikan nya adalah terjemahan dari haa. Bentuk jamak kemunculannya adalah kemunculan-kemunculannya. Kata nya di sini mengganti bulan.

Kata abw[a]bih[a] adalah perpaduan abw[a]b dan h[a]. Disebutkan dalam kamus Arab-Inggris Wehr-Cowan halaman 80 bahwa salah satu arti baab (bentuk tunggal dari abw[a]b) adalah opening (pembukaan). Sebagai bentuk jamak yang telah digabung dengan kata ganti kepemilikan haa (nya), abw[a]bih[a]diterjemahkan menjadi pembukaan-pembukaannya. Kata nya di sini mengganti bulan (dalam sistem kalender).

Beberapa kata dalam 2:179 yang penerjemahannya dipandang memerlukan pembahasan lebih lanjut adalah ashhurun, maAAloom[a]tun, dan feehinna.

Kata ashhur adalah bentuk jamak dari shahr. Kata shahr dapat berarti bulan (kalender), seperti yang sudah diketahui oleh banyak orang, tetapi dapat juga berarti lain. Arti lain yang dipandang cocok oleh penulis dalam kasus ini adalah to announce (memberitahukan). Sebagai kata benda jamak, ashhurun diterjemahkan menjadi pemberitahuan-pemberitahuan.

Salah satu arti kata maAAloom[a]t dalam kamus Arab-Inggris Wehr-Cowan halaman 637 adalah informasi (information). Oleh sebab itu, maAAloom[a]tun diterjemahkan menjadi informasi.

Kata feehinna adalah perpaduan antara preposisi fee (dalam) dan kata ganti orang ketiga jamak hinna (mereka). Dengan demikian, feehinna berarti dalam mereka. Agar lebih mudah dimengerti, feehinna diterjemahkan menjadi dalam diri mereka.

Kata ittaq[a], (i)ttaqoo, dan a(l)ttaqw[a] juga perlu dibahas di sini. Kata-kata tersebut berakar kata waw-qaf-ya. Penulis mendapati arti ittaq[a] yang dikaitkan dengan Allah dalam kamus Arab-Inggris Wehr-Cowan halaman 1094 adalah fear (takut). Frasa takut kepada Allah terasa kurang cocok karena Allah bukan sosok yang menakutkan, sehingga perlu dicari kata yang lebih tepat. Pada bagian lain dari kamus tersebut, taqwaa berarti godliness, devoutness, dan piety, yang semuanya berarti kesalehan. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, kesalehan bermakna ketaatan atau kepatuhan dalam menjalankan ibadah. Berdasarkan arti-arti tersebut, penulis berpendapat bahwa arti kata ittaq[a], (i)ttaqoo, dan a(l)ttaqw[a] mempunyai kata dasar yang sama, yaitu patuh. Dengan demikian, ittaq[a] bermakna mematuhi; (i)ttaqoo bermakna patuhilah; dan a(l)ttaqw[a] bermakna kepatuhan.

Hasil terjemahan di depan masih perlu diperbaiki agar mudah dimengerti dan mengikuti tata bahasa Indonesia. Hasilnya adalah seperti berikut ini.

2:189 Mereka bertanya kepadamu tentang kenampakan bulan-bulan baru. Katakanlah! Mereka adalah waktu-waktu tertentu bagi manusia dan haji. Dan adalah bukan kebenaran dengan melakukan aktivitas-aktivitas malam hari dari kemunculan-kemunculannya dan tetapi kebenaran adalah orang yang mematuhi. Dan lakukanlah aktivitas-aktivitas pada malam hari dari pembukaan-pembukaannya! Dan patuhilah Allah dan semoga kamu berhasil!

2:197 Haji, pemberitahuan-pemberitahuan informasi, maka siapa saja yang memutuskan dalam diri mereka mengerjakan haji, maka tidak berhubungan seks dan tidak melakukan perbuatan menyimpang dan tidak melakukan perdebatan dalam haji. Dan apa saja yang kamu lakukan dari kebaikan, Allah mengetahuinya. Dan berbekallah! Maka sesungguhnya, perbekalan yang baik adalah kepatuhan. Dan patuhilah Aku wahai pemilik-pemilik akal!

Ayat 2:189 menjelaskan tentang kenampakan bulan baru sebagai tanda waktu bagi manusia dan haji. Bagi manusia, kenampakan bulan baru digunakan untuk menentukan tanda pergantian bulan dalam sistem kalender. Bagi haji, kenampakan bulan baru digunakan untuk menentukan tanda waktu berhaji. Waktu berhaji adalah sejak permulaan bulan dalam sistem kalender. Makna pembukaan-pembukaannya dalam ayat tersebut adalah permulaan-permulaan bulan. Waktu berhaji yang dimulai setelah bulan tampak jelas adalah dilarang. Selain itu, waktu pelaksanaan haji adalah malam hari. Dalam ayat itu, Allah berharap agar manusia dapat menjalankannya dengan penuh kepatuhan.

Ayat 2:197 berisi pemberitahuan informasi tentang larangan-larangan yang dikerjakan dalam haji dan perintah berbuat kebaikan. Larangan tersebut meliputi tidak boleh berhubungan seks, tidak boleh berbuat menyimpang, dan tidak boleh melakukan perdebatan dalam haji. Selain itu, bekal yang dibawa dalam haji adalah kepatuhan.

Sebagai penutup, dapat disampaikan di sini bahwa terjemahan 2:189 dan 2:197 versi Dep. Agama terdapat kekeliruan. Apabila ada perubahan persepsi pada diri penulis, makalah ini akan direvisi.

Rabu, 28 September 2016

ARAFAT DAN MASY'ARILHARAM

Kata 'Arafat, ('Arafah), dan Masy'arilharam terdapat dalam Al Qur’an terjemahan versi Dep. Agama RI. Kutipannya adalah sebagai berikut.

2:198. Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Tuhanmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari 'Arafat, berdzikirlah kepada Allah di Masy'arilharam. Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat. (versi Dep. Agama RI)

2:199. Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak ('Arafah) dan mohonlah ampun kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (versi Dep. Agama RI)

Ketika mempelajari arti kata ‘arafat di kamus Lane – An Arabic English Lexicon, penulis menjadi merasa ragu-ragu dengan kebenaran hasil terjemahan Dep. Agama RI di atas. Berikut ini adalah kutipan bagian kamus tersebut yang menerangkan arti ‘arafat.

“‐ See also the next paragraph. عَرَفَاتٌ The place [or mountain] where the pilgrims halt (Mgh, O, Msb, K) on the day of عَرَفَة [above mentioned], (O, K,) [described by Burckhardt as a granite hill, about a mile, or a mile and a half, in circuit, with sloping sides, rising nearly two hundred feet above the level of the adjacent plain,] said to be nine miles, (Msb,) or twelve miles, (K,) from Mekkeh; (Msb, K;) said by J to be a place in, or at, Minè, but incorrectly, (K, TA,) unless thereby be meant near Minè; (TA;) also called by some ↓ عَرَفَةُ ; (Mgh, Msb;) but the saying نَزَلْنَا عَرَفَةَ , (S, O, K,) or نَزَلْتُ بِعَرَفَةَ , (Msb,) [We, or I, alighted at عَرَفَة ,] is like a postclassical phrase, (S, O, K,) and (S, O) it is said to be (Msb) not genuine Arabic: (S, O, Msb:) عَرَفَاتٌ is a [proper] name in the pl. form, and therefore is not itself pluralized: (S, O, K:) it is as though the term عَرَفَةٌ applied to every distinct portion thereof: (TA:) as Fr says, it has, correctly, no sing.; (S, O;) and it is determinate as denoting a particular place; (Sb, S, O, K, TA;) and therefore not admitting the article ال ; (Sb, TA;) differing from الزَّيْدُونَ [because this is a proper name common to a number of persons]: you say, ھٰؤُلَآءِ عَرَفَاتٌ حَسَنَةً [lit. These are 'Arafát, in a good state], putting the epithet in the accus. case because it is indeterminate [as a denotative of state, like مُصَدِّقًا in the saying وَھُوَ الحَقُّ مُصَدِّقًا لِمَا مَعَھُمْ , in the Kur 2:85]: (S, O:) it is decl. ( مَصْرُوفَةٌ [more properly مُعْرَبَةٌ ]) because the ت is equivalent to the ى and و in مُسْلِمِينَ and مُسْلِمُونَ , (S, O, K,) the tenween becoming equivalent to the ن, therefore, being used as a proper name, it is left in its original state, like as is مُسْلِمُونَ when used as a proper name: (Akh, S, O, K:) [i. e.,] it is decl. in the manner of مُسْلِمَاتٌ and مُؤْمِنَاتٌ , the tenween being like that which corresponds to the masc. pl. termination ن, not the tenween of perfect declinability, because it is a proper name and of the fem. gender, wherefore it does not admit the article ال . (Msb.) عَرَفَاتٌ was thus named because Adam and Eve knew each other ( تَعَارَفَا ) there (IF, O, K, TA) after their descent from Paradise: (TA:) or because Gabriel, when he taught Abraham the rites and ceremonies of the pilgrimage, said to him “ Hast thou known? ” ( أَعَرَفْتَ ), (O, K,) and he replied “ I have known ” ( عَرَفْتُ ): (K:) or because it is a place sanctified and magnified, as though it were rendered fragrant ( عُرِّفَ i. e. طُيِّبَ ): (O, K:) or because the people know one another ( يَتَعَارَفُونَ ) there: or, accord. to ErRághib, because of men's making themselves known ( نِتَعَرُّفِ العِبَادِ ) there by religious services and prayers. (TA.) [ عُرْفِىٌّ Of, or relating to, العُرْفُ as meaning the commonlyknown or commonlyreceived or conventional language, or common parlance, or common”

Tampak dalam kutipan di atas bahwa ‘arafaat diartikan sebagai suatu nama tempat dalam ibadah haji. Barangkali, inilah yang menjadi dasar penerjemahan ayat 2:198 seperti di atas. Dengan dasar tersebut, kata ‘arafaat tidak diterjemahkan karena nama tempat. Kata tersebut hanya diterjemahkan dengan cara menghilangkan satu huruf “a” setelah huruf “f”. Akan tetapi, penulis tertarik dengan diskusi tentang kata tersebut berkaitan dengan sifat kata ‘arafaat sebagai bentuk jamak (plural). Diskusi tersebut menunjukkan bahwa nama tempat dalam bentuk jamak adalah suatu keanehan. Oleh sebab itu, beberapa narasumber menyatakan bahwa kata ‘arafaat adalah bukan bahasa Arab asli (genuine Arabic). Para narasumber dalam kamus tersebut berusaha menjelaskan bahwa penerjemahan ‘arafaat sebagai nama tempat adalah suatu kebenaran. Penulis juga berpendapat bahwa nama tempat dalam bentuk jamak adalah sebuah keanehan. Jika kata ‘arafaat adalah nama tempat dalam bentuk jamak, tempat yang bernama ‘arafaat akan ada lebih dari satu. Artinya, di permukaan bumi akan ada lebih dari satu tempat bernama ‘arafaat yang dijadikan tempat ibadah haji. Dengan demikian, terjemahannya mungkin akan menjadi ‘arafat-‘arafat. Kenyataannya, tempat tersebut hanya ada satu. Oleh sebab itu, penulis meragukan kebenaran terjemahan 2:198 dan 2:199 versi Dep. Agama RI.

Makalah ini ditulis untuk mendapatkan terjemahan ayat 2:198 dan 2:199 yang dianggap benar oleh penulis. Untuk itu, penulis mencoba untuk menerjemahkannya sendiri. Penulis menggunakan transliterasi yang ada dalam DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913. Penulis melakukannya dengan cara mengecek terjemahan Al Qur’an per kata yang ada di http://corpus.quran.com/ dengan kamus bahasa Arab, project root list di  http://www.studyquran.co.uk/PRLonline.htm. dan referensi tentang bahasa Arab lainnya. Hasilnya adalah seperti berikut ini.

2:198
laysa = adalah tidak
Aaalaykum = pada kamu semua
jun[ah]un = dosa
an = bahwa
tabtaghoo = kamu semua mencari
fa[d]lan = karunia
min = dari
rabbikum = Tuhan kamu semua
fa-i[tha] = maka jika
afa[d]tum = kamu semua meneteskan air mata
min =karena
AAaraf[a]tin = pengakuan
fa(o)[th]kuroo = maka ingatlah
All[a]ha = Allah
AAinda = di
almashAAari = hati
al[h]ar[a]mi = yang suci
wa = dan
(o)[th]kuroohu = ingatlah
kam[a] = seperti
had[a]kum = Dia memberi petunjuk kamu semua
wa-in = walaupun
kuntum = kamu semua
min = dari
qablihi = sebelumnya
lamina = tentulah
a(l)[dda]lleen(a) = orang-orang yang tersesat

2:199
thumma = sekali lagi
afee[d]oo = teteskanlah air mata
min  [h]aythu = karena
af[ad]a = meneteskan air mata
a(l)nn[a]su = manusia
wa = dan
(i)staghfiroo = meminta ampunlah
All[a]ha = Allah
inna = sesungguhnya
All[a]ha = Allah
ghafoorun = pengampun
ra[h]eem(un) = penyayang

Setelah disusun, hasilnya menjadi sebagai berikut.

2:198 adalah tidak pada kamu semua dosa bahwa kamu semua mencari karunia dari Tuhan kamu semua maka jika kamu semua meneteskan air mata karena pengakuan maka ingatlah Allah di hati yang suci dan ingatlah seperti Dia memberi petunjuk kamu semua walaupun kamu semua dari sebelumnya tentulah orang-orang yang tersesat

2:199 kemudian teteskanlah air mata karena meneteskan air mata manusia dan meminta ampunlah Allah sesungguhnya Allah pengampun penyayang

Setelah disesuaikan dengan aturan penulisan dalam bahasa Indonesia, hasilnya adalah sebagai berikut ini.

2:198 Adalah tidak ada dosa pada kamu semua bahwa kamu semua mencari karunia dari Tuhan kamu semua. Maka jika kamu semua meneteskan air mata karena pengakuan, maka ingatlah Allah di hati yang suci! Dan ingatlah seperti Dia memberi petunjuk kamu semua, walaupun kamu semua dari sebelumnya tentulah orang-orang yang tersesat!

2:199 Kemudian teteskanlah air mata karena manusia meneteskan air mata! Dan meminta ampunlah kepada Allah! Sesungguhnya Allah pengampun penyayang.

Ada beberapa kata-kata yang penerjemahannya memerlukan penjelasan lebih lanjut. Pertama, kata-kata tersebut adalah afa[d]tum, afee[d]oo, dan afee[d]oo. Ketiga kata tersebut mempunyai akar kata fa-ya-dad. Kutipan isi kamus Lane-An ArabicEnglish Lexicon yang menjelaskan arti kata berakar kata fa-ya-dad adalah seperti berikut ini.

“1 , (S, M, Mgh, &c.,) aor. يَفِيضُ , inf. n. فَيْضٌ (S, M, O, Msb, K) and فَيْضُوضَةٌ (S, O, K) and فُيُوضٌ (M, O, K) and فِيُوضٌ and فُيُوضَةٌ (M, K) and فَيَضَانٌ , (M, O, K,) It (water) overflowed: poured out, or forth, from fulness: (Mgh:) it (water, S, O, K, or a torrent, Msb) became abundant, (S, O, Msb, K and flowed from [over] the brink of the valley, (Msb,) or so as to flow over the side of the valley, (S, O,) or so as to flow like a valley; (K;) and ↓ افاض signifies the same: (Msb, TA:) it (water) became abundant: (TA:) [contr. of غَاضَ , aor. يَغِيضُ :] it (water, and that of the eyes, and the like, M, or anything fluid, Msb) ran, or flowed: (M, Msb: or it poured out, or forth; or poured out, or forth, vehemently; gushed out, or forth: (M:) and it (water, and blood,) fell in drops. (Msb.) ―”

Kutipan di atas memperlihatkan bahwa kata berakar kata fa-ya-dad mempunyai makna berkaitan dengan benda cair yang mengalir. Benda cair yang mengalir tersebut dapat berupa air dan air mata. Hal ini terungkap dari frasa it (water, and that of the eyes, and the like, M, or anything fluid, Msb) ran, or flowed (benda (air, dan air mata, dan yang sejenis, M, atau cairan atau gas, Msb) pergi atau mengalir). Dalam kaitannya dengan ayat 2:198, arti kata berakar kata fa-ya-dad adalah (air mata) mengalir. Maksudnya, yang mengalir di sini adalah air mata. Kata yang tepat dalam bahasa Indonesia untuk menggambarkan hal ini adalah berlinang. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, berlinang berarti meleleh (tentang air mata). Agar lebih mudah dipahami, penulis menggunakan frasa meneteskan air mata untuk menerangkan arti kata berakar kata fa-ya-dad. Dalam bentuk perintah (imperatif), kata tersebut akan menjadi teteskanlah air mata!.

Kata kedua yang penerjemahannya memerlukan penjelasan lebih lanjut adalah AAaraf[a]tin. Kata ini mempunyai akar kata ayn-ra-fa. Kutipan arti kata berakar kata ayn-ra-fa dalam project root list di http://www.studyquran.co.uk/PRLonline.htm. adalah sebagai berikut.

“= Ayn-Ra-Fa = he knew it, had cognition of it, to discern, became acquainted with it, perceiving a thing by reflection and by consideration of the effect, he requited, to acknowledge a part, manager/orderer/overseer, become submissive/tractable/pleasant, the making to know, fragrant, to inform oneself, learn/discover, seek/desire knowledge, benefaction/goodness, mane (of a horse) waves (of the sea), elevated place/portion, higher/highest, first/foremost, a question or questioning respecting a subject of information in order to know it, commonly received/known, to confess/acknowledge/indicate, high mountain, Mount Arafat.
The difference between arafa & alima is that the former refers to distinct and specific knowledge, while the latter is more general. Opposite to arafa is ankara (to deny) and opposite ot alima is jahila (to be ignorant).
al araf - the elevated place, high dignity, distinguished position, place of discernment or acknowledgement, highest or most elevated faculties of discernment or ma'rifah (knowledge of right and wrong).
ma'ruf - honourable, known, recognised, good, befitting, fairness, kindness, custom of society, usage.
'arafaat (pl. of 'arafat, masculine 'araf, being a version of 'aarif, the active form of 'arafa and/or &arfun, the informational noun of 'arafa) means 'familiarizations, approbations, recognitions.'”

Penulis hanya menyoroti bagian akhir kutipan di atas karena ini adalah bagian yang tidak ada dalam kamus Lane – An Arabic English Lexicon. Penulis percaya bahwa bagian tersebut berdasarkan referensi tertentu walaupun tidak dicantumkan sumbernya. Disebutkan dalam kutipan tersebut bahwa ‘arafaat berarti recognitions (pengakuan). Penulis memilih pengakuan sebagai arti ‘arafaat. Tambahan, dalam kamus besar bahasa Indonesia disebutkan bahwa salah satu arti mengakui atau mengaku berkaitan dengan perbuatan dosa atau salah.

Kata ketiga yang penerjemahannya memerlukan penjelasan lebih lanjut adalah almashAAari. Kata ini mempunyai akar kata shiin-ayn-ra. Kutipan arti kata berakar kata shiin-ayn-ra dalam project root list di http://www.studyquran.co.uk/PRLonline.htm. adalah sebagai berikut.

“= Shiin-Ayn-Ra = to know/perceive/understand, to acquaint, perceive by senses. make verses, remark, poetry, poet, verse, art of poetry, feeling, knowledge. Sirius, which was worshipped by the Arabs in Pagan times. mark/marker/signs/rites/symbols/observances/ceremonies/practices, the obligatory ordinances/statutes of God. a place where a thing is known to be. measure of length. sheep/goat. hair, innermost garment. trees. a sign of people in war and in a journey, a call or cry by means of which to know another, banner. mash'ar al-Haram - holy mosque in Muadhalifah (a place which lies between Makkah and Arafat, six miles fromKabah). The name Mash'ar al-Haram is a compound of Mash'ar meaning the place of perception or knowledge andHaram meaning sacred. Ash'ara to make anyone understand, make known to.”

Dijelaskan dalam kutipan tersebut bahwa Mash'ar berarti tempat persepsi atau pengetahuan dan al-Haram berarti suci. Penulis berpendapat bahwa yang dimaksud dengan tempat persepsi atau pengetahuan adalah sistem otak manusia. Dalam bahasa Indonesia, sistem otak manusia sering dinyatakan dengan kata hati. Berikut ini adalah kutipan arti hati dalam kamus besar bahasa Indonesia.

“hati :  4 sesuatu yang ada di dalam tubuh manusia yang dianggap sebagai tempat segala perasaan batin dan tempat menyimpan pengertian (perasaan dan sebagainya): segala sesuatunya disimpan di dalam --; membaca dalam -- , membaca dalam batin (tidak dilisankan); berbicara dari -- ke -- , dengan jujur dan terbuka; 5 apa yang terasa dalam batin:sedih -- ku memikirkan nasib kawanku itu;”

Diterangkan dalam kutipan tersebut bahwa hati adalah tempat perasaan batin dan pengertian. Dengan demikian, kata hati dianggap sesuai untuk menjelaskan arti mash'ar. Yang dimaksud dengan suci dalam hal ini adalah bebas dari syirik (perbuatan mempersekutukan Allah). Jadi, mash'ar al-haram berarti hati yang suci, yaitu hati yang bebas dari perbuatan mempersekutukan Allah.  

Penerjemahan thumma menjadi sekali lagi juga perlu dijelaskan di sini. Salah satu arti thumma dalam kamus A Dictionary of Modern Wrtitten Arabic karya Wehr-Cowan yang dijumpai pada halaman 106 adalah once more (sekali lagi). Arti ini dipilih karena kandungan ayat 2:199 menegaskan kandungan ayat 2:198, yaitu agar manusia meneteskan air mata sebagai ekspresi orang bertaubat.

Sebagai penutup, penulis menampilkan kembali terjemahan ayat 2:198 dan 2:199 versi penulis. Jika ada perubahan persepsi, makalah ini akan direvisi.

2:198 Adalah tidak ada dosa pada kamu semua bahwa kamu semua mencari karunia dari Tuhan kamu semua. Maka jika kamu semua meneteskan air mata karena pengakuan, maka ingatlah Allah di hati yang suci! Dan ingatlah seperti Dia memberi petunjuk kamu semua, walaupun kamu semua dari sebelumnya tentulah orang-orang yang tersesat! (versi penulis)

2:199 Kemudian teteskanlah air mata karena manusia meneteskan air mata! Dan meminta ampunlah kepada Allah! Sesungguhnya Allah pengampun penyayang. (versi penulis)