Jumat, 29 Agustus 2014

BADAN ZAKAT

Akhir-akhir ini, banyak lembaga atau badan atau organisasi yang bergerak di bidang penyaluran atau pembagian zakat. Mereka beriklan di televisi bahwa mereka adalah lembaga yang bisa dipercaya untuk menyalurkan atau membagi zakat. Bahkan ada di antaranya yang dibentuk secara resmi oleh pemerintah.

Konon, dasar pembentukan lembaga-lembaga tersebut adalah ayat Al Qur’an. Al Qur’an terjemahan yang digunakan adalah versi Dep. Agama RI. Berikut ini adalah kutipannya.

9:60. Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

9:103. Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Benarkah ayat-ayat tersebut di atas dapat digunakan sebagai dasar pijakan pendirian lembaga-lembaga penyaluran atau pembagian zakat? Makalah ini akan membahasnya.

Penggunaan ayat terjemahan 9:60 dan 9:103 versi Dep. Agama sebagai dasar pendirian badan atau lembaga zakat adalah tindakan yang salah karena terjemahan ayat-ayat tersebut salah. Walaupun seorang buta bahasa Arab, penulis dengan mudah dapat menunjukkan kesalahan tersebut. Untuk menunjukkan hal tersebut, transliterasi kedua ayat tersebut disajikan.

009.060 Innam[a] a(l)[ss]adaq[a]tu lilfuqar[a]-i wa(a)lmas[a]keeni wa(a)lAA[a]mileena AAalayh[a] wa(a)lmu-allafati quloobuhum wafee a(l)rriq[a]bi wa(a)lgh[a]rimeena wafee sabeeli All[a]hi wa(i)bni a(l)ssabeeli faree[d]atan mina All[a]hi wa(A)ll[a]hu AAaleemun [h]akeemun (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

009.103 Khu[th] min amw[a]lihim [s]adaqatan tu[t]ahhiruhum watuzakkeehim bih[a] wa[s]alli AAalayhim inna [s]al[a]taka sakanun lahum wa(A)ll[a]hu sameeAAun AAaleem(un) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

Tampak bahwa yang diterjemahkan menjadi zakat dalam 9:60 dan 9:103 oleh penerjemah Dep. Agama RI adalah a(l)[ss]adaq[a]tu dan [s]adaqatan yang seharusnya diterjemahkan menjadi sedekah.  Jadi, kedua ayat tersebut berbicara tentang sedekah, bukan zakat.

Zakat adalah aktivitas memberikan sedekah kepada golongan orang yang ditetapkan Allah. Zakat hanya bisa dikerjakan atau ditunaikan (Silakan cek arti tunai dalam kanus besar bahasa Indonesia!), bukan diberikan atau disalurkan (2:43). Artinya, yang bisa disalurkan adalah sedekah, bukan zakat. Jadi, istilah penyalur zakat atau pembagi zakat adalah tidak masuk akal. Yang masuk akal adalah penyalur sedekah atau pembagi sedekah. Sebenarnya, sampai di sini kita sudah bisa menjawab bahwa kedua ayat tersebut tidak bisa dijadikan dasar pendirian lembaga zakat. Walaupun demikian, pembahasannya masih perlu dilanjutkan.

2:43. Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku. (versi Dep. Agama RI)

Penggunaan kata ambilah dalam terjemahan 9:103 juga tidak tepat. Kata ambillah menimbulkan kesan seolah-olah ayat tersebut membenarkan cara meminta sedekah secara paksa. Padahal, sedekah harus diberikan secara sukarela dengan hanya mengharapkan rido Allah. Kata yang tepat adalah terimalah. Dalam konteks ayat 9:103, menurut penulis, Rasul Allah diminta untuk menerima sedekah dari orang beriman yang ingin membantu perjuangan Rasul Allah.  Jadi, ayat 9:103 juga tidak bisa membenarkan tindakan petugas yang mengambil sebagain rejeki dari Allah yang diberikan kepada hamba-Nya dengan paksa atau intimidasi.

Barangkali, yang dianggap sebagai pijakan kuat dalam pendirian lembaga zakat oleh adalah keberadaan pengurus-pengurus zakat dalam terjemahan 9:60. Sebenarnya, kata yang diterjemahkan menjadi pengurus-pengurus zakat adalah AA[a]mileena. Benarkah penerjemahan tersebut? Kutipan arti berdasarkan akar kata seperti yang ada dalam project root list di http://www.studyquran.co.uk/PRLonline.htm  ditampilkan untuk menjawabnya.

Ayn-Miim-Lam = to do/make/act/work/operate/perform/construct/manufacture, practice a handcraft, be active, one who does.

pcple. act. 3:136, 3:195, 6:135, 9:60, 11:93, 11:121, 23:63, 29:58, 37:61, 39:39, 39:74, 41:5, 88:3

Kata AA[a]mileena merupakan suatu active pariiciple. Jika dikaitkan dengan orang, artinya bisa menjadi yang melakukan atau yang mengerjakan. Dengan demikian, penerjemahan AA[a]mileena menjadi pengurus-pengurus zakat adalah bersifat tidak obyektif. Darimana asal kata pengurus dan kata zakat itu? Tampaknya, penerjemahnya berusaha mencari pembenaran terhadap persepsi yang dimilikinya. Jadi, AA[a]mileena dalam ayat 9:60 lebih tepat jika diterjemahkan menjadi yang mengerjakan atau yang berkerja.

Siapakah orang yang bekerja yang berhak menerima sedekah? Bukankah orang yang bekerja sudah menerima upah atau honor atau gaji atas pekerjaan yang dilakukannya? Menurut penulis, gaji atau honor atau upah adalah bentuk pembayaran atas jasa yang dilakukannya. Sedekah yang diterima orang yang bekerja adalah sebagian rejeki dari Allah yang diterima oleh orang yang memperkerjakannya. Dengan kalimat lain, karyawan, pegawai, atau buruh berhak mendapatkan sedekah secara pribadi dari bosnya atau yang memberi pekerjaannya.

Seandainya ada yang berdalih bahwa yang dimaksud dengan zakat adalah sedekah dan kemudian meralat istilah badan zakat menjadi badan sedekah, tetap saja ayat 9:60 tidak bisa dijadikan dasar pendirian badan seperti itu. Perlu diingat bahwa sedekah yang diterima orang yang bekerja adalah untuk dirinya, bukan untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang yang berhak menerima sedekah lainnya. Jadi, penggunaan ayat 9:60 sebagai dasar pembentukan pengurus zakat juga merupakan tindakan yang salah.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa tidak ada ayat Al Qur’an yang bisa dijadikan pijakan atas pendirian lembaga/badan zakat atau badan sedekah. Terjemahan Al Qur'an yang keliru sebaiknya segera dilrevisi agar tidak menyesatkan para penggunanya. Jika ada perubahan persepsi pada diri penulis, makalah ini akan direvisi.

Kamis, 31 Juli 2014

BERSEDEKAH WAJIB HUKUMNYA

PENDAHULUAN
Bersedekah dipercaya oleh sebagian besar orang beragama islam sebagai kegiatan bersifat opsional atau tidak wajib. Artnya, jika itu dikerjakan, orang akan mendapatkan pahala tetapi jika tidak dikerjakan, orang tidak berdosa. Benarkah bersedekah tidak wajib dilakukan oleh orang islam?

Makalah ini ditulis untuk menjawab pertanyaan tersebut. Untuk menjawabnya, Al Qur’an terjemahan digunakan.

PERINTAH MENAFKAHKAN SEBAGIAN REJEKI DARI ALLAH
Perintah menafkahkan atau membelanjakan atau mengeluarkan sebagian rejeki yang diberikan oleh Allah terdapat dalam 2:2 dan 2:3. Dalam kedua ayat tersebut dijelaskan bahwa menafkahkan sebagian rejeki adalah amal yang harus dikerjakan orang yang ingin dikategorikan sebagai orang bertaqwa. Dengan kalimat lain, menafkahkan sebagian rejeki dari Allah adalah suatu kewajiban.

2:2. Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, (versi Dep. Agama RI)

2:3. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka. (versi Dep. Agama RI)

002.003 Alla[th]eena yu/minoona bi(a)lghaybi wayuqeemoona a(l)[ss]al[a]ta wamimm[a] razaqn[a]hum yunfiqoon(a) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

Kata yunfiqoon(a) terbentuk dari akar kata nun-fa-qaf. Artinya adalah membelanjakan atau mengeluarkan atau menafkahkan.

Menafkahkan sebagian rejeki yang disebut dalam 2:3 dilakukan sesuai dengan ketentuan yang dibuat Allah. Artinya, pembelanjaan tersebut tidak dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup sendiri. Dalam proses pembelanjaan tersebut, ada sebagian rejeki dari Allah yang diberikan kepada orang lain.

ARTI SEDEKAH DAN ZAKAT
Sebagian rejeki dari Allah yang diberikan kepada orang lain dinyatakan dengan istilah apa? Istilah tersebut ada dalam ayat-ayat yang lain. Di antaranya adalah sebagai berikut.

4:114. Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keredhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar. (versi Dep. Agama RI)

004.114 L[a] khayra fee katheerin min najw[a]hum ill[a] man amara bi[s]adaqatin aw maAAroofin aw i[s]l[ah]in bayna a(l)nn[a]si waman yafAAal [tha]lika ibtigh[a]a mar[da]ti All[a]hi fasawfa nu/teehi ajran AAa{th}eem[a](n) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

Istilah untuk menyatakan sebagian rejeki dari Allah yang diberikan kepada orang lain dalam bahasa Indonesia adalah sedekah. Sedekah adalah terjemahan dari [s]adaqatin. Bagaimana dengan zakat? Ternyata, zakat adalah kata benda yang menerangkan suatu aktivitas, bukan yang menerangkan sebagian rejeki dari Allah yang dibelanjakan. Ayat 2:43 berikut ini akan menjelaskan hal tersebut.

2:43. Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku. (versi Dep. Agama RI)

002.043 Waaqeemoo a(l)[ss]al[a]ta wa[a]too a(l)zzak[a]ta wa(i)rkaAAoo maAAa a(l)rr[a]kiAAeen(a) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

Perlu diperhatikan bahwa zakat dalam teks terjemahan versi Dep.Agama RI adalah terjemahan dari a(l)zzak[a]ta. Dalam ayat tersebut, zakat dirangkaikan dengan tunaikanlah. Arti tunaikanlah adalah kerjakanlah! Dengan demikian, tunaikanlah zakat berarti kerjakanlah zakat. Jadi, sekali lagi, zakat adalah suatu aktivitas. Terjemahan 2:43 versi Abdullah Yusuf Ali berikut ini menegaskan hal tersebut. Disebutkan dalam terjemahan tersebut bahwa frase yang diterjemahkan menjadi tunaikanlah zakat diterjemahkan menjadi kerjakanlah kedermawanan secara teratur (practise regular charity). Oleh sebab itu, zakat tidak berarti sebagian rejeki yang diberikan Allah yang dibelanjakan. Zakat berarti kedermawanan. Kedermawanan berarti memberikan sebagian rejeki dari Allah kepada orang lain. Jadi, zakat berarti memberikan atau mengeluarkan atau menafkahkan sebagian rejeki dari Allah kepada orang lain.

002.043 And be steadfast in prayer; practise regular charity; and bow down your heads with those who bow down (in worship). (versi Abdullah Yusuf Ali)

Sampai di sini, dapat disampaikan kembali bahwa zakat adalah istilah yang berarti menafkahkan sebagian rejeki dari Allah seperti yang disebutkan dalam 2;3. Dengan demikian, zakat merupakan aktivitas yang harus dilakukan oleh orang yang bertaqwa. Jadi, hukum zakat adalah wajib bagi orang-orang yang ingin digolongkan sebagai orang bertaqwa.

Perlu disayangkan, penerjemah Dep.Agama RI memaknai zakat sebagai bukan aktivitas melainkan sebagai sebagian rejeki dari Allah yang diberikan kepada orang lain. Hal ini tercermin dari hasil terjemahan ayat–ayat Al Qur’an versi mereka berikut ini.

9:58. Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (distribusi) zakat; jika mereka diberi sebahagian dari padanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebahagian dari padanya, dengan serta merta mereka menjadi marah. (versi Dep. Agama RI)

9:60. Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (versi Dep. Agama RI)

9:103. Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (versi Dep. Agama RI)

9:104. Tidaklah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan menerima zakat dan bahwasanya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang? (versi Dep. Agama RI)

Jika kita membaca terjemahan di atas, kita akan berpersepsi bahwa zakat berarti sebagian rejeki dari Allah yang diberikan kepada orang lain. Benarkah terjemahan di atas? Marilah kita cek terjemahan di atas dengan transliterasi ayat-ayat di atas dalam DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913.

009.058 Waminhum man yalmizuka fee a(l)[ss]adaq[a]ti fa-in oAA[t]oo minh[a] ra[d]oo wa-in lam yuAA[t]aw minh[a] i[tha] hum yaskha[t]oon(a) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

009.060 Innam[a] a(l)[ss]adaq[a]tu lilfuqar[a]-i wa(a)lmas[a]keeni wa(a)lAA[a]mileena AAalayh[a] wa(a)lmu-allafati quloobuhum wafee a(l)rriq[a]bi wa(a)lgh[a]rimeena wafee sabeeli All[a]hi wa(i)bni a(l)ssabeeli faree[d]atan mina All[a]hi wa(A)ll[a]hu AAaleemun [h]akeemun (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

009.103 Khu[th] min amw[a]lihim [s]adaqatan tu[t]ahhiruhum watuzakkeehim bih[a] wa[s]alli AAalayhim inna [s]al[a]taka sakanun lahum wa(A)ll[a]hu sameeAAun AAaleem(un) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

009.104 Alam yaAAlamoo anna All[a]ha huwa yaqbalu a(l)ttawbata AAan AAib[a]dihi waya/khu[th]u a(l)[ss]adaq[a]ti waanna All[a]ha huwa a(l)ttaww[a]bu a(l)rra[h]eem(u) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

Ternyata, yang diterjemahkan menjadi zakat adalah kata-kata yang seharusnya diterjemahkan menjadi sedekah. Kata-kata tersebut adalah a(l)[ss]adaq[a]ti, [s]adaqatan, dan a(l)[ss]adaq[a]tu. Jadi, penerjemah Dep. Agama RI telah melakukan kesalahan. Padahal, mereka sudah mengetahui bahwa ada kata a(l)zzak[a]ta yang terjemahannya adalah zakat (Silakan periksa 2:43 di muka!). Seharusnya, kata zakat bergaris bawah dalam terjemahan ayat-ayat di atas diganti dengan sedekah.

Anehnya, penerjemah dari Dep. Agama RI menerjemahkan kata yang mempunyai akar kata sad-dal-qaf, yaitu bi[s]adaqatin menjadi sedekah pada ayat 4:114, yang kutipannya sudah dipaparkan di muka). Hal serupa juga terjadi pada penerjemahan ayat-ayat berikut ini.

2:263. Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.

002.263 Qawlun maAAroofun wamaghfiratun khayrun min [s]adaqatin yatbaAAuh[a] a[th]an wa(A)ll[a]hu ghaniyyun [h]aleem(un) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

2:264. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir

002.264 Y[a] ayyuh[a] alla[th]eena [a]manoo l[a] tub[t]iloo [s]adaq[a]tikum bi(a)lmanni wa(a)l-a[tha] ka(a)lla[th]ee yunfiqu m[a]lahu ri-[a]a a(l)nn[a]si wal[a] yu/minu bi(A)ll[a]hi wa(a)lyawmi al-[a]khiri famathaluhu kamathali [s]afw[a]nin AAalayhi tur[a]bun faa[sa]bahu w[a]bilun fatarakahu [s]aldan l[a] yaqdiroona AAal[a] shay-in mimm[a] kasaboo wa(A)ll[a]hu l[a] yahdee alqawma alk[a]fireen(a). (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

2:271. Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

002.271 In tubdoo a(l)[ss]adaq[a]ti faniAAimm[a] hiya wa-in tukhfooh[a] watu/tooh[a] alfuqar[a]a fahuwa khayrun lakum wayukaffiru AAankum min sayyi-[a]tikum wa(A)ll[a]hu bim[a] taAAmaloona khabeer(un) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

2:276. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.

002.276 Yam[h]aqu All[a]hu a(l)rrib[a] wayurbee a(l)[ss]adaq[a]ti wa(A)ll[a]hu l[a] yu[h]ibbu kulla kaff[a]rin atheem(in) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

9:79. (Orang-orang munafik itu) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka azab yang pedih.

009.079 Alla[th]eena yalmizoona almu[tt]awwiAAeena mina almu/mineena fee a(l)[ss]adaq[a]ti wa(a)lla[th]eena l[a] yajidoona ill[a] juhdahum fayaskharoona minhum sakhira All[a]hu minhum walahum AAa[tha]bun aleem(un) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

58:12. Hai orang-orang beriman, apabila kamu mengadakan pembicaraan khusus dengan Rasul hendaklah kamu mengeluarkan sedekah (kepada orang miskin) sebelum pembicaraan itu. Yang demikian itu lebih baik bagimu dan lebih bersih; jika kamu tidak memperoleh (yang akan disedekahkan) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

058.012 Y[a] ayyuh[a] alla[th]eena [a]manoo i[tha] n[a]jaytumu a(l)rrasoola faqaddimoo bayna yaday najw[a]kum [s]adaqatan [tha]lika khayrun lakum waa[t]haru fa-in lam tajidoo fa-inna All[a]ha ghafoorun ra[h]eem(un) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

58:13. Apakah kamu takut akan (menjadi miskin) karena kamu memberikan sedekah sebelum mengadakan pembicaraan dengan Rasul? Maka jika kamu tiada memperbuatnya dan Allah telah memberi taubat kepadamu maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

058.013 Aashfaqtum an tuqaddimoo bayna yaday najw[a]kum [s]adaq[a]tin fa-i[th] lam tafAAaloo wat[a]ba All[a]hu AAalaykum faaqeemoo a(l)[ss]al[a]ta wa[a]too a(l)zzak[a]ta waa[t]eeAAoo All[a]ha warasoolahu wa(A)ll[a]hu khabeerun bim[a] taAAmaloon(a) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

Jadi, anggapan bahwa zakat adalah sebagian rejeki dari Allah yang diberikan kepada orang lain adalah salah karena tidak sesuai dengan Al Qur’an. Yang benar adalah bahwa zakat adalah menafkahkan atau membelanjakan atau mengeluarkan sebagaian rejeki dari Allah kepada orang lain. Sebagian rejeki dari Allah yang diberikan kepada orang lain disebut sedekah.

Sebagai tambahan, arti zakat dan sedekah berdasarkan akar katanya juga akan dibahas secara singkat. Kutipan arti menurut akar kata yang ada dalam project root list di http://www.studyquran.co.uk/PRLonline.htm  adalah sebagai berikut.

Sad-Dal-Qaf = to be truthful, true, sincere, speak the truth, establish or confirm the truth of what another has said, verify, keep faith, observe a promise faithfully, fulfill, speak veraciously, hold anyone as trustworthy. sadaqa fi al-qitaali - to fight gallantly. tsaddaqa - to give alms. sidqun - truth, veracity, sincerity, soundness, excellence in a variety of different objects, salubrious and agreeable, favourable entrance, praise. saadiqun - one who is true and sincere, one who speaks the truth. saadiqah - perfect woman. sadaqat (pl. saduqaat) - dowry. siddiiq - person who is trustworthy, sincere. saddaqa - to confirm, verify, fulfil. asdaqu - more true.

Zay-Kaf-Waw = it increased/augmented, it throve/grew well/flourished/prospered and produced fruit, it was/became pure, purification, goodness/righteousness, lead/enjoy a plentiful/easy/soft/delicate life, put into a good/right state/condition, alms, poor-rate/due

Tampak bahwa zakat dapat bermakna penyucian (purification) sedangkan sedekah dapat berarti ketulusan (sincerity). Dengan demikian, zakat adalah aktivitas yang berakibat pada penyucian diri, yaitu penghapusan dosa. Di pihak lain, sedekah adalah sebagian rejeki dari Allah yang diberikan kepada orang lain dengan tulus/ikhlas.

HUKUM BERSEDEKAH
Apakah sedekah tidak wajib hukumnya? Kita tidak bisa menjawabnya karena sedekah bukan merupakan suatu aktivitas. Yang bisa ditentukan hukumnya adalah aktivitas. Yang bisa dijawab adalah, apakah memberi sedekah atau bersedekah tidak wajib hukumnya?

Jawabannya adalah bahwa bersedekah atau memberi sedekah adalah wajib hukumnya. Alasannya, sedekah berarti sebagian rejeki dari Allah yang diberikan kepada orang lain. Memberi sedekah atau bersedekah berarti menafkahkan atau membelanjakan atau mengeluarkan sebagian rejeki dari Allah kepada orang lain. Tampak jelas di sini bahwa bersedekah mempunyai arti yang sama dengan zakat. Sudah dibahas di muka bahwa zakat adalah aktivitas menafkahkan atau membelanjakan atau mengeluarkan sebagian rejeki dari Allah kepada orang lain. Jadi, hukum bersedekah atau memberi sedekah adalah wajib, seperti hukum yang berlaku pada zakat..

PENUTUP

Bersedekah adalah wajib hukumnya. Makalah ini akan direvisi jika terjadi perubahan persepsi pada diri penulis.

Senin, 30 Juni 2014

ADAM DARI LUAR BUMI?

PENDAHULUAN
Kali ini penulis akan mencoba mengungkap asal manusia dengan menggunakan informasi yang ada dalam Al Qur’an. Sebelumnya, penulis punya persepsi bahwa manusia adalah keturunan manusia pertama bernama Adam yang diusir dari surga dan kemudian diturunkan ke bumi setelah melanggar larangan Tuhan. Persepsi seperti itu berkembang menjadi spekulasi bahwa manusia mungkin keturunan makhluk dari luar bumi atau sering disebut dengan makhluk angkasa luar. Benarkah persepsi tersebut? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penulis akan mengaji ayat-ayat Al Qur’an terjemahan.

TEMPAT TINGGAL ADAM DAN ISTERINYA
Allah sebenarnya sudah merencanakan akan menciptakan manusia yang tinggal di bumi (2:30). Disebutkan dalam ayat tersebut bahwa manusia akan dijadikan sebagai khalifah.

2:30. Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (versi Dep. Agama RI)

Apa arti khalifah? Untuk menjawabnya, arti akar kata menurut project root list yang ada di http://www.studyquran.co.uk/PRLonline.htm digunakan. Kutipan sebagian arti akar kata kh-lam-fa yang dianggap sesuai ditampilkan berikut ini.

“Kh-Lam-Fa = To follow/come after/succeed another, substitute or supersede, to supply/be a supplier to someone, to restore or replace a thing to someone, smite or strike from behind, yearn towards other than one's spouse (in the spouses absence/behind his or her back), speak of/mention someone behind his or her back, remain behind/not go forth, to be kept back from all good, to not prosper or be successful, to become corrupt or altered for the worse, retire/withdraw/go away, to turn away from/avoid/shun a thing, to become foolish/idiotic/deficient in intellect, contrarious/hard in disposition, to leave behind, to appoint someone as successor, disagree with or differ from someone, contradict or oppose someone, to break/fail to perform a promise, to follow reciprocally/alternate/interchange, repeatedly move to and fro (coming and going), to differ/ be dissimilar

khalifah n.m. (pl. khala'if) 2:30, 6:165, 7:69, 7:74, 10:14, 10:73, 27:62, 35:39, 38:26”

Tampak bahwa akar kata kh-lam-fa mempunyai arti yang bervariasi. Dari sekian banyak arti akar kata tersebut, yang sesuai dengan konteks kandungan pesan dalam 2:30 menurut penulis adalah mengikuti (to follow/come after/succeed another). Sebagai kata benda, khalifah berarti yang mengikuti. Yang mengikuti siapa? Menurut penulis, jawabannya adalah yang mengikuti Allah. Jadi, kalifah berarti yang mengikuti Allah atau pengikut Allah.

Pernyataan malaikat dalam ayat 2:30 menegaskan penafsiran tersebut. Diceritakan dalam ayat tersebut bahwa malaikat menanyakan alasan Allah akan menciptakan manusia sedangkan para malaikat senantiasa patuh mengikuti semua kehendak Allah. Maksudnya, mengapa Allah ingin mencipta pengikut baru berupa manusia sedangkan Allah sudah mempunyai pengikut yang setia yaitu para malaikat?

Selain itu, penggunaan kata seorang di depan kata khalifah juga tidak tepat karena yang diciptakan pada saat itu adalah dua orang, yaitu Adam dan isterinya. Selain itu, kenyataannya, sekrang ini, ada banyak manusia di bumi. Menurut penulis, yang tepat adalah satu khalifah. Maksudnya, manusia termasuk salah satu khalifah.

Perlu disampaikan kembali bahwa manusia memang direncanakan akan bertempat tinggal di bumi. Ini menepis anggapan penulis sebelumnya bahwa keberadaan manusia di bumi adalah sebagai hukuman terhadap manusia pertama (Adam dan isterinya) karena melanggar perintah Allah. Jadi, tanpa melakukan pelanggaran terhadap perintah Allah pun, manusia akan tinggal di bumi.

Manusia pertama yang bernama Adam ditemani oleh seorang isteri (7:19). Setelah diciptakan, Adam dan isterinya di tempatkan di surga. Perlu diperhatikan bahwa sejak diciptakan, mereka telah menjadi suami-isteri. Ini merupakan petunjuk bahwa mereka diciptakan sudah dalam keadaan dewasa.

7:19. (Dan Allah berfirman): "Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan isterimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim." (versi Dep. Agama RI)

Surga mungkin seperti kebun yang sangat nyaman sebagai tempat tinggal. Perlu diketahui bahwa jannah yang diterjemahkan menjadi surga dapat pula berarti kebun (garden). Oleh sebab itu, dapat dikatakan bahwa surga adalah suatu kebun yang nyaman untuk tempat tinggal. Kutipan arti akar kata jim-nun-nun dari project root list di http://www.studyquran.co.uk/PRLonline.htm adalah sebagai berikut.

“Jiim-Nun-Nun (root of jinn) = veiled/concealed/covered/hid/protected (e.g. cloth, armour, grave, shield), invisible, become dark/posessed, darkness of night, bereft of reason, mad/insane/unsound in mind/intellect, confusedness.
Become thick/full-grown/blossom, herbage, garden.
Spiritual beings that conceal themselves from the senses (including angels), become weak and abject, greater part of mankind, devil/demon, people who are peerless having no match or equal, a being who is highly potent, sometimes refers to Kings because they are concealed from the common folk”

Gambaran keadaan surga tempat tinggal Adam dan isterinya diterangkan dalam 20:118 dan 20:119. Surga tempat tinggal mereka adalah suatu kebun yang penghuninya tidak akan kelaparan, tidak akan kehausan, tidak akan kepanasan, dan tidak akan telanjang.

20:118. Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang, (versi Dep. Agama RI)

20:119. dan sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya." (versi Dep. Agama RI)

Frase tidak akan telanjang dalam terjemahan 20:118 perlu dibahas lebih lanjut. Menurut penulis, telanjang yang dimaksud adalah bukan seperti keadaan tidak berbaju seperti pengertian telanjang yang dianut oleh kita sekarang ini. Pada waktu itu, tidak ada teknologi membuat baju. Menurut penulis, frase tersebut bermakna tidak ada hasrat untuk berhubungan seks yang dapat menyebabkan mempunyai anak. Dengan demikian, walaupun tanpa baju, mereka tidak berpikir untuk berbuat porno atau berhubungan seks.

Di samping itu, keadaan tidak telanjang yang dikategorikan sebagai sebuah kenikmatan juga menarik untuk dibahas. Tidak telanjang berarti tidak berhubungan seks. Artinya, berhubungan seks bukanlah suatu kenikmatan di surga. Padahal, dalam kehidupan sekarang ini, berhubungan seks termasuk sebagai suatu jenis kenikmatan. Mungkin benar bahwa tidak berhubungan seks merupakan suatu kenikmatan karena aktivitas tersebut sesungguhnya terjadi karena hanya dorongan nafsu saja. Jika nafsu seks tidak ada, orang tidak akan berpikir tentang hal-hal yang berhubungan dengan seks. Jika semua orang tidak mempunyai nafsu seks, orang tidak kawin adalah orang yang normal. Sebaliknya, orang yang kawin justeru dianggap sebagai orang tidak normal. Yang terjadi di dunia sekarang adalah bahwa orang mempunyai nafsu seks sehingga jika tidak tersalurkan akan menjadi suatu penderitaan. Oleh sebab itulah, penyebutan tidak telanjang sebagai suatu kenikmatan menjadi hal yang menarik untuk direnungkan. Mungkin saja, seorang laki-laki yang masuk surga dan ditemani oleh isteri yang cantik berupa bidadari juga tidak akan berhubungan seks seperti yang dialami Adam dan isterinya sebelum tergoda oleh syaitan.

Surga itu mungkin berada di tempat yang relatif tinggi sehingga udaranya cukup sejuk. Mungkin juga, mereka tinggal di bawah naungan pohon-pohon buah-buahan yang rindang sehingga tidak terkena sinar matahari secara langsung. Di surga itu, mungkin ada sungai yang mengalir terus, yang dapat menghidupi tumbuhan dan binatang, termasuk Adam dan isterinya.

Apakah pembaca memperhatikan kata matahari dalam terjemahan 20:119? Bagi penulis, matahari yang dimaksud adalah matahari yang sama dengan yang dapat kita lihat hari ini. Sudah disampaikan di muka bahwa Allah akan membuat manusia di bumi (2:30). Oleh sebab itu, sangat masuk akal jika penulis berpendapat bahwa Adam dan isterinya tinggal di suatu kebun yang ada di bumi.

Anggapan bahwa bumi tempat tinggal Adam dan isterinya adalah bukan bumi yang kita diami sekarang ini mungkin berasal dari perintah turun dari surga setelah mereka melanggar larangan Allah. Setelah melanggar perintah Allah, Adam dan isterinya mendapat sejumlah ketetapan dari Allah. Ketetapan tersebut tercantum dalam ayat berikut ini.

20:123. Allah berfirman: "Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. (versi Dep. Agama RI)

Banyak orang menafsirkan 2:123 bahwa Adam dan isterinya diturunkan dari surga yang ada di langit yang berada di atas. Kelihatannya, penafsiran seperti itu masuk akal. Akan tetapi, jika dikaji secara seksama dengan pikiran jernih, penafsiran itu akan tampak keliru.

Perlu diperhatikan bahwa kata turunlah dan diturunkan adalah berbeda. Kata turunlah bermakna bahwa yang diperintah dapat bergerak turun secara mandiri. Kata diturunkan bermakna bahwa yang bergerak turun bersifat pasif, mengikuti kemauan pihak lain yang menurunkan. Dalam hal ini, kata yang digunakan adalah turunlah. Dengan demikian, Adam dan isterinya akan bergerak ke tempat yang lebih rendah secara mandiri.

Jika Adam dan isterinya dianggap tinggal di suatu kebun yang ada di langit, mereka akan melihat bumi berada di atas. Yang terlihat oleh mereka jika bergerak turun atau melihat ke bawah adalah tanah tempat berpijak. Artinya, jika bergerak turun, mereka tidak akan sampai ke bumi yang ada di atas mereka. Agar sampai ke bumi, mereka harus bergerak ke atas. Oleh sebab itu, anggapan bahwa surga tempat tinggal Adam dan isterinya berada di langit adalah tidak benar.

Penafsiran kata turun yang berarti bergerak atau berpindah ke lokasi yang lebih rendah di surga (kebun) yang ada di bumi juga tidak mempunyai arti karena pada hakikatnya mereka tetap tinggal di bumi. Selain itu, pada saat itu hanya ada dua manusia di bumi. Mereka dapat bepergian ke tempat yang mereka inginkan. Jadi, kata turun dalam hal ini bukan berarti bergerak atau berpindah ke tempat yang lebih rendah di bumi.

Terus, apa maksud Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama? Menurut penulis, frase tersebut berarti ketetapan Allah yang berlaku bagi Adam dan isterinya bahwa sejak saat itu mereka akan mempunyai keturunan. Mereka akan mulai mempunyai anak dari surga tersebut dan kemudian jummlahnya semakin lama semakin banyak. Jika kandungan ayat 20:123 diperhatikan secara teliti, penafsiran tersebut tampak masuk akal. Setelah mereka mempunyai keturunan, keturunan mereka ada yang bermusuhan. Allah juga berpesan kepada mereka bahwa Allah akan memberikan petunjuk kepada keturunannya. Keturunannya yang mengikuti petunjuk-Nya tidak akan akan sesat dan tidak akan celaka.

Walaupun demikian, Adam dan isterinya disebutkan keluar dari surga (7:27). Dijelaskan dalam ayat tersebut bahwa yang dimaksud dengan keluar dari surga adalah perubahan dari keadaan tidak mengerti bagian kemaluan menjadi mengerti bagian kemaluan. Ayat 2:36 juga menerangkan bahwa yang dimaksud dengan keluar adalah perubahan dari keadaan semula. Artinya, mereka tetap tinggal di kebun yang sama, yaitu kebun yang tidak menyebabkan kelaparan, kehausan, dan kepanasan.

7:27 You Adam's sons and daughters, (let) not the devil test/misguide/betray you as/like he brought out your parents from the Paradise, he removes/pulls away from them (B) their (B)'s cover/dress to show them (B)/make them (B) understand their (B)'s shameful genital private parts; that he sees you, he and his group/tribe from where/when you do not see them, that We made the devils guardians/allies to those who do not believe. (Kamu anak laki-laki dan perempuan Adam, janganlah sampai syaitan menjerumuskan kamu seperti ia mengeluarkan kedua orang tuamu dari surga, ia membuang dari mereka penutup mereka untuk membuat mereka mengerti bagian kemaluannya; bahwa mereka melihat kamu, ia dan kelompoknya dari suatu tempat yang kamu tidak melihat mereka, bahwa Kami membuat syaitan teman bagi mereka yang tidak beriman.) (versi Muhamed dan Samira Ahmed)

2:36. Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: "Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan." (versi Dep. Agama RI)

Penulis tidak setuju dengan penafsiran bahwa Adam dan isterinya dikeluarkan dari surga (kebun) dan kemudian tinggal di luar surga (kebun). Yang disebutkan dalam 2:36 adalah dikeluarkan dari keadaan semula. Yang dimaksud dengan keadaan adalah keadaan Adam dan isterinya, bukan keadaan surga (kebun). Jika diartikan keluar secara fisik dan kemudian tinggal di luar surga (kebun), mereka akan kelaparan, kehausan, dan kepanasan dan kemudian akan mati.

Berdasarkan uraian di atas, kita bisa menggambarkan keadaan surga tempat tinggal Adam dan isterinya karena surga tersebut berada di bumi. Bagi orang Indonesia, surga itu mungkin seperti keadaan tanah nusantara pada jaman dahulu. Tidak heran apabila banyak orang jaman dahulu menyebut Indonesia sebagai tanah surga.

PENUTUP
Berdasarkan kajian di atas, penulis berpendapat bahwa surga tempat tinggal Adam dan isterinya berada di bumi yang sama dengan bumi tempat tinggal kita sekarang ini. Manusia tidak berasal dari angkasa luar atau tempat tinggal yang ada di langit. Di bumi itu manusia hidup, mati, dan akan dibangkitkan (7:25).

7:25. Allah berfirman: "Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan. (versi Dep. Agama RI)


Apabila terjadi perubahan persepsi pada diri penulis, makalah ini akan direvisi.

Kamis, 22 Mei 2014

KAMU TIDAK AKAN LUPA

Persepsi penerjemah Al Qur’an bahwa Nabi Muhammad adalah buta huruf tercermin dalam terjemahan Al Qur’an ayat 87:6 versi Dep. Agama RI berikut ini.

87:6. Kami akan membacakan (Al Quran) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa, (versi Dep. Agama RI)

Dengan persepsi bahwa bahwa Nabi Muhammad adalah orang yang buta huruf, Nabi Muhammad dianggap tidak akan bisa mencatat wahyu yang diterimanya sehingga Nabi Muhammad hanya akan mengandalkan ingatan saja. Agar tidak bisa lupa, Nabi Muhammad dibuat menjadi manusia yang tidak bisa lupa sesudah Al Qur’an dibacakannya kepadanya. Demikianlah kurang lebih maksud yang terkandung dalam terjemahan ayat 87:6 versi Dep. Agama RI. Benarkah penerjemahan seperti itu? Jawaban pertanyaan di atas ada di ayat berikutnya.

86:7. kecuali kalau Allah menghendaki. Sesungguhnya Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi. (versi Dep. Agama RI)

Dengan masih berpijak pada persepsi yang sama, ayat 86:7 menerangkan bahwa kalau Allah menghendaki, Nabi Muhammad dapat menjadi lupa tentang semua wahyu yang diterimanya. Mungkinkah Allah berbuat kekeliruan dalam menyusun kata-kata atau membuat Al Qur’an sehingga menghapus ingatan berisi wahyu Allah yang keliru yang ada di otak Nabi Muhammad? Tidak mungkin! Allah tidak mungkin berbuat kekeliruan. Oleh sebab itu, penafsiran seperti itu adalah salah.

Walaupun buta bahasa Arab, penulis akan berusaha mencari tahu penafsiran yang benar. Untuk itu, terjemahan versi lain digunakan.

87:6 We will make you read, so do not forget. (Kami akan membuat kamu membaca, sehingga tidak lupa.) (versi Muhamed dan Samira Ahmed)

87:7 Except what God willed/wanted/intended, that He truly knows the declared/publicized and what hides. (Kecuali yang Allah kehendaki, bahwa Dia sesungguhnya mengetahui yang dipublikasikan dan yang tersembunyi.) (versi Muhamed dan Samira Ahmed)

87:6. We will make you recite, so you will not forget, (Kami akan membuat kamu membaca, sehingga kamu tidak akan lupa.) (versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri)

87:7. Except what Allah wills. Indeed, He knows the manifest and what is hidden. (Kecuali yang Allah kehendaki. Sungguh, Dia mengetahui yang nyata dan yang disembunyikan.) (versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri)

Menurut terjemahan versi Muhamed dan Samira Ahmed dan versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri, yang membaca adalah kamu. Di pihak lain, menurut versi Dep. Agama RI, yang membaca adalah Kami. Ini adalah suatu perbedaan yang sangat nyata. Perbedaan tersebut semakin menegaskan bahwa penafsiran penerjemah Al Qur’an dari Dep. Agama RI adalah salah. Tampaknya, penafsiran yang salah tersebut terjadi karena persepsi yang salah pula.


Menurut penulis, ayat 87:6 dan 87:7 menerangkan bahwa Allah berkehendak membuat manusia membaca. Dengan kemampuan membaca tersebut, orang tidak akan lupa. Caranya, manusia mencatat segala sesuatu yang dianggap perlu. Dengan catatan itulah manusia tidak bisa lupa. Walaupun demikian, catatan yang dibuat dapat saja hilang jika Allah menghendaki. Jika catatan hilang, manusia akan menjadi tidak bisa mengingat informasi yang pernah ada. Penyebab kehilangan catatan antara lain kebakaran, banjir, sunami, angin besar, letusan gunung, gempa bumi, dan kerusakan dokumen. Demikianlah, penafsiran ayat 87:6 yang benar menurut penulis. Jadi, ayat 87:6 bukan ayat yang menjelaskan bahwa Nabi Muhammad buta huruf.

Selasa, 29 April 2014

ALLAH DAN RASULNYA

PENDAHULUAN
Bulan lalu, penulis menulis makalah berjudul “Dwi Tunggal”. Dipaparkan dalam makalah tersebut bahwa Allah dan Nabi Muhammad telah dianggap sebagai dua yang tidak terpisahkan. Dalam hal ini, Nabi Muhammad dianggap seperti Tuhan. Penulis menduga anggapan tersebut terjadi karena penafsiran yang keliru tentang hubungan antara Allah dan Rasul-Nya. Oleh sebab itu, pembahasan tentang hubungan antara Allah dan Rasul-Nya akan dilakukan dalam makalah ini.

ALLAH DAN RASULNYA DALAM PROSES PEMBERIAN PETUNJUK ALLAH
Sebelum Adam dikirim ke bumi, Allah berpesan bahwa kelak keturunannya akan diberi petunjuk-Nya. Dengan petunjuk tersebut, manusia keturunannya tidak akan sesat dan celaka (20:123), serta tidak perlu khawatir dan bersedih hati (2:38).

20:123. Allah berfirman: "Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. (versi Dep. Agama RI)

2:38. Kami berfirman: "Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (versi Dep. Agama RI)

Berdasarkan keterangan dalam ayat 20:123 dan 2:38 di atas, dapat dimengerti bahwa pemberian petunjuk Allah kepada manusia adalah sesuatu yang sudah direncanakan oleh Allah sejak penciptaan manusia pertama. Ini berarti pula bahwa pemberian petunjuk Allah untuk manusia adalah murni kehendak Allah, bukan permintaan manusia. Dalam proses pemberian petunjuk, Allah tidak memberikannya secara langsung kepada setiap manusia melainkan melalui para rasul atau utusan, yaitu para Rasul Allah atau Utusan Allah berupa manusia. Dengan demikian, Rasul Allah yang membawa petunjuk Allah adalah manusia yang memang diciptakan untuk menjadi Rasul Allah, yang sudah direncanakan sebelumnya.

Dalam proses pemberian petunjuk Allah, ada dua kelompok. Kelompok pertama adalah kelompok pemberi petunjuk Allah, yaitu Allah dan Rasul-Nya sedangkan kelompok kedua adalah kelompok yang diberi petunjuk Allah, yaitu manusia. Oleh sebab itu, dalam Al Qur’an banyak dijumpai frasa Allah dan Rasul-Nya. Berikut ini adalah beberapa ayat yang mengandung frasa Allah dan Rasul-Nya.

4:13. (Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya kedalam syurga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. (versi Dep. Agama RI)

33:57.Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan. (versi Dep. Agama RI)

9:7. Bagaimana bisa ada perjanjian (aman) dari sisi Allah dan RasulNya dengan orang-orang musyrikin, kecuali orang-orang yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) di dekat Masjidil haraam? maka selama mereka berlaku lurus terhadapmu, hendaklah kamu berlaku lurus (pula) terhadap mereka. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa. (versi Dep. Agama RI)

59:8. (Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan RasulNya. Mereka itulah orang-orang yang benar. (versi Dep. Agama RI)

9:59. Jikalau mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan RasulNya kepada mereka, dan berkata: "Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan sebagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah," (tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka). (versi Dep. Agama RI)

9:29. Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk. (versi Dep. Agama RI)

58:20. Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya, mereka termasuk orang-orang yang sangat hina. (versi Dep. Agama RI)

Sebagai kelompok, Allah dan Rasul-Nya tidak bisa dipisahkan. Dengan kalimat lain, Allah dan Rasul-Nya adalah sebuah tim. Tanpa Rasul Allah, pemberian petunjuk Allah tidak akan berjalan. Demikian pula, tanpa Allah, Rasul Allah tidak ada.

Walaupun demikian, ada yang perlu diperhatikan dengan seksama terhadap frasa Allah dan Rasul-Nya. Walaupun Muhammad seorang Rasul Allah, frasa Allah dan Rasul_Nya tidak sama dengan frasa Allah dan Muhammad. Sebagai manusia, Muhammad mempunyai aktivitas kehidupan pribadi yang mungkin tidak berkaitan dengan tugasnya sebagai Rasul Allah. Dengan demikian, penafsiran frasa Allah dan Rasul-Nya dalam Al Qur’an tidak boleh dikacaukan dengan kehidupan pribadi Muhammad sebagai manusia biasa. Penafsiran Rasul-Nya hanya berlaku ketika Muhammad menjalankan tugas sebagai seorang Rasul Allah, yaitu menyampaikan petunjuk Allah kepada manusia.

Sekarang, kita dapat membaca petunjuk Allah untuk manusia yang disampaikan Nabi Muhammad ketika berfungsi menjadi Rasul Allah dalam kitab Al Qur’an. Semua petunjuk Allah sudah disampaikan kepada manusia sehingga bisa dikatakan bahwa Nabi Muhammad sudah berhasil mmenjalankan tugasnya sebagai seorang Rasul Allah. Semua informasi tentang petunjuk Allah ada di Al Qur’an.

PENAFSIRAN ALLAH DAN RASULNYA
Taat kepada Allah dan Rasul-Nya
Ayat 4:13 menyebutkan perintah taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Apakah arti taat kepada Allah dan Rasul-Nya? Artinya adalah taat kepada Allah dan Rasul-Nya sebagai kelompok yang memberi petunjuk Allah. Bagi manusia sekarang, apa yang harus ditaati dari mereka? Tentu saja taat kepada yang disampaikan kelompok yang memberi petunjuk Allah, yaitu petunjuk Allah dalam Al Qur’an.

Diharamkan Allah dan Rasul-Nya
Ayat 9:29 menyebutkan tentang yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya. Apakah arti yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya? Yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya adalah yang diharamkan oleh kelompok yang memberi petunjuk Allah. Dengan demikian, yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya adalah yang ada di Al Qur’an.

Menyakiti Allah dan Rasul-Nya
Ayat 33:57 menyebutkan tentang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Apakah arti menyakiti Allah dan Rasul-Nya? Menyakiti Allah dan Rasul-Nya berarti menyakiti kelompok yang memberi petunjuk Allah. Kata menyakiti di sini mungkin lebih tepat apabila diganti dengan mengganggu (annoy) seperti yang ditafsirkan oleh Abdullah Yusuf Ali. Maksudnya, orang-orang pada saat itu tidak boleh mengganggu kelompok Allah dan Rasul-Nya dalam proses pemberian petunjuk Allah. Berikut ini adalah kutipan terjemahan ayat 33:57.

033.057 Those who annoy Allah and His Messenger - Allah has cursed them in this World and in the Hereafter, and has prepared for them a humiliating Punishment. (versi Abdullah Yusuf Ali)

Menolong Allah dan Rasul-Nya
Ayat 59:8 menyebutkan tentang menolong Allah dan Rasul-Nya. Apa arti menolong Allah dan Rasul-Nya? Menolong Allah dan Rasul-Nya berarti membantu kelompok Allah dan Rasul-Nya dalam proses pemberian petunjuk Allah agar berjalan lancar.

Menentang Allah dan Rasul-Nya
Ayat 58:20 menyebutkan tentang menentang Allah dan Rasul-Nya. Apa artinya? Menentang Allah dan Rasul-Nya berarti menentang yang disampaikan kelompok Allah dan Rasul-Nya dalam proses pemberian petunjuk Allah.

Mengadakan Perjanjian dengan Allah dan Rasul-Nya
Ayat 9:7 menyebutkan tentang perjanjian dari sisi Allah dan Rasul-Nya. Apa arti perjanjian dari sisi Allah dan Rasul-Nya? Perjanjian dari sisi Allah dan Rasul-Nya berarti perjanjian dengan kelompok Allah dan Rasul-Nya.

Yang Diberikan Allah dan Rasul-Nya
Ayat 9:59 menyebutkan tentang yang diberikan Allah dan Rasul-Nya. Apa arti yang diberikan Allah dan Rasul-Nya? Artinya adalah yang diberikan oleh kelompok Allah dan Rasul-Nya.

PENUTUP

Allah dan Rasul-Nya adalah dua yang tidak bisa dipisahkan dalam proses pemberian petunjuk Allah untuk manusia. Dalam hal ini, Allah berperan sebagai pemberi petunjuk sedangkan Rasul Allah berperan sebagai penyampai petunjuk Allah kepada manusia. Makalah ini akan direvisi jika terdapat perubahan persepsi pada diri penulis. 

Senin, 31 Maret 2014

DWI TUNGGAL

PENDAHULUAN
Dwi tunggal berarti sama dengan dua tetapi satu atau dua yang tidak terpisahkan. Yang dimaksudkan dalam makalah ini dengan dwi tunggal adalah bahwa antara Allah dan Nabi Muhammad dianggap tidak terpisahkan. Gejala dwi tunggal sudah teramati di sekitar kita.. Gejala ini sesungguhnya sangat mencemaskan karena ini merupakan bentuk perbuatan mempersekutukan Allah yang sangat nyata. Makalah ini ditulis untuk mengungkap gejala dwi tunggal tersebut.

GEJALA DWI TUNGGAL
Kaligrafi memang hanya tulisan. Jika tulisan tersebut dibaca, orang yang membacanya akan menyebut yang tertulis, baik secara lisan maupun secara dalam hati saja. Demikian halnya dengan yang terjadi pada kaligrafi Allah dan kaligrafi Muhammad yang terpasang pada sejumlah masjid. Orang yang membaca kaligrafi-kaligrafi tersebut akan menyebut Allah dan Muhammad baik hanya dalam hati saja atau secara lisan. Sebenarnya, pemasangan kedua kaligrafi di masjid menggambarkan persepsi pengelola masjid bahwa menyebut nama Allah dan nama selain Allah secara bersama-sama di masjid adalah tindakan yang dibenarkan. Persepsi pengelola masjid tersebut mencerminkan persepsi sebagian besar orang beragama islam. Berikut ini adalah contoh masjid yang di dalamnya terdapat kedua kaligrafi tersebut.


                                     


Penyebutan nama Allah dan nama Muhammad secara bersama-sama juga dilakukan ketika orang shalat di masjid. Shalat seseorang dianggap tidak sah oleh sebagian besar orang beragama islam jika tidak menyebut nama Allah dan nama Muhammad ketika shalat. Benarkah tindakan menyebut nama Allah dan nama Muhammad secara bersama-sama di masjid? Ayat-ayat berikut ini menjawab pertanyaan tersebut.

72:18. And that the masajid are for Allah, so do not call upon anyone with Allah. (Dan masjid-masjid adalah milik Allah, maka janganlah menyebut siapapun bersama-sama dengan Allah.) (versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri)

72:18 'And that (E) the mosques (are) to God, so do not call anyone with God.' (Dan bahwa masjid-masjid adalah untuk Allah, maka janganlah menyebut siapapun bersama-sama dengan Allah). (versi Muhamed dan Samira Ahmed)

72:18. Masjid-masjid adalah kepunyaan Allah; maka janganlah seru, berserta Allah, barang siapa pun. (versi Othman Ali)

072.018 "And the places of worship are for Allah (alone): So invoke not any one along with Allah; (Dan tempat untuk sembahyang adalah untuk Allah (semata): Maka janganlah menyebut siapapun bersama-sama dengan Allah (versi Abdullah Yusuf Ali)

Ayat 72:18 terjemahan di atas memperlihatkan bahwa menyebut Allah dan selain-Nya di masjid adalah dilarang. Oleh karena itu, menyebut nama Allah dan nama Muhammad secara bersama-sama ketika shalat adalah merupakan suatu kesalahan. Bahkan, Allah sendiri sudah menyatakan dengan tegas bahwa tidak ada Tuhan selain Dia dan orang diperintahkan shalat untuk mengingat Allah (20:14). Mengingat Allah berarti hanya mengingat Allah saja karena Allah hanya satu.

20:14. Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (versi Dep. Agama RI)

Dapat diutarakan di sini bahwa tindakan menyebut nama Allah dan nama Muhammad secara bersama-sama di masjid merupakan bentuk penyimpangan ajaran Al Qur’an. Mengapa hal tersebut dilakukan walaupun bertentangan dengan Al Qur’an? Jawabannya adalah karena mereka mempunyai dua kitab, yaitu Al Qur’an dan kitab hadis. Al Qur’an diposisikan sebagai kitab yang berisi ajaran Allah dan kitab hadis dianggap berisi ajaran Nabi Muhammad (Rasul Allah). Kedua ajaran tersebut dianggap tidak terpisahkan. Yang tidak beriman kepada salah satu ajaran tersebut akan dianggap sesat. Dengan demikian, dapat diartikan bahwa ajaran Allah dan ajaran Nabi Muhammad dianggap sebagai dua ajaran yang tidak terpisahkan. Ini menegaskan keberadaan persepsi sebagian besar orang beragama islam bahwa Allah dan Muhammad adalah dua yang tidak terpisahkan (dwi tunggal).

Jika tidak demikian halnya (mereka dianggap bukan dwi tunggal), tentu akan hanya ada satu ajaran saja yang dijadikan pegangan oleh mereka, yaitu ajaran Allah atau akan hanya ada satu kitab saja, yaitu Al Qur’an, karena Tuhan hanya satu. Di pihak lain, jika ajaran Nabi Muhammad, yang katanya tertulis di kitab hadis, adalah sama dengan ajaran Allah, tentu orang akan meyebutnya sebagai ajaran Allah dan tidak ada istilah ajaran Rasul (Nabi Muhammad).

PENUTUP
Orang yang memegang konsep dwi tunggal tidak pernah merasa berbuat kesalahan. Mereka sangat percaya bahwa Tuhan hanya satu, yaitu Allah. Mereka juga sangat percaya bahwa Nabi Muhammad adalah bukan Tuhan melainkan hanya Rasul/Utusan Allah. Dengan kepercayaan semacam itulah mereka yakin bahwa mereka tidak berbuat kemusyrikan. Tentu saja, kesalahan tersebut tidak akan terlihat selama mereka menggunakan dua kitab dan dua ajaran. Kesalahan tersebut akan terlihat jika mereka hanya menggunakan satu kitab saja, yaitu Al Qur’an. Ayat 43:37 membenarkan gejala orang-orang yang disesatkan oleh syaitan tetapi merasa mendapat petunjuk. Orang yang merasa mendapat petunjuk tidak akan atau enggan merubah keimanannya dan bahkan akan berbalik menyalahkan orang yang mencoba mengingatkannya.                        


43:37. Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. (versi Dep. Agama RI)