Kamis, 31 Juli 2014

BERSEDEKAH WAJIB HUKUMNYA

PENDAHULUAN
Bersedekah dipercaya oleh sebagian besar orang beragama islam sebagai kegiatan bersifat opsional atau tidak wajib. Artnya, jika itu dikerjakan, orang akan mendapatkan pahala tetapi jika tidak dikerjakan, orang tidak berdosa. Benarkah bersedekah tidak wajib dilakukan oleh orang islam?

Makalah ini ditulis untuk menjawab pertanyaan tersebut. Untuk menjawabnya, Al Qur’an terjemahan digunakan.

PERINTAH MENAFKAHKAN SEBAGIAN REJEKI DARI ALLAH
Perintah menafkahkan atau membelanjakan atau mengeluarkan sebagian rejeki yang diberikan oleh Allah terdapat dalam 2:2 dan 2:3. Dalam kedua ayat tersebut dijelaskan bahwa menafkahkan sebagian rejeki adalah amal yang harus dikerjakan orang yang ingin dikategorikan sebagai orang bertaqwa. Dengan kalimat lain, menafkahkan sebagian rejeki dari Allah adalah suatu kewajiban.

2:2. Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, (versi Dep. Agama RI)

2:3. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka. (versi Dep. Agama RI)

002.003 Alla[th]eena yu/minoona bi(a)lghaybi wayuqeemoona a(l)[ss]al[a]ta wamimm[a] razaqn[a]hum yunfiqoon(a) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

Kata yunfiqoon(a) terbentuk dari akar kata nun-fa-qaf. Artinya adalah membelanjakan atau mengeluarkan atau menafkahkan.

Menafkahkan sebagian rejeki yang disebut dalam 2:3 dilakukan sesuai dengan ketentuan yang dibuat Allah. Artinya, pembelanjaan tersebut tidak dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup sendiri. Dalam proses pembelanjaan tersebut, ada sebagian rejeki dari Allah yang diberikan kepada orang lain.

ARTI SEDEKAH DAN ZAKAT
Sebagian rejeki dari Allah yang diberikan kepada orang lain dinyatakan dengan istilah apa? Istilah tersebut ada dalam ayat-ayat yang lain. Di antaranya adalah sebagai berikut.

4:114. Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keredhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar. (versi Dep. Agama RI)

004.114 L[a] khayra fee katheerin min najw[a]hum ill[a] man amara bi[s]adaqatin aw maAAroofin aw i[s]l[ah]in bayna a(l)nn[a]si waman yafAAal [tha]lika ibtigh[a]a mar[da]ti All[a]hi fasawfa nu/teehi ajran AAa{th}eem[a](n) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

Istilah untuk menyatakan sebagian rejeki dari Allah yang diberikan kepada orang lain dalam bahasa Indonesia adalah sedekah. Sedekah adalah terjemahan dari [s]adaqatin. Bagaimana dengan zakat? Ternyata, zakat adalah kata benda yang menerangkan suatu aktivitas, bukan yang menerangkan sebagian rejeki dari Allah yang dibelanjakan. Ayat 2:43 berikut ini akan menjelaskan hal tersebut.

2:43. Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku. (versi Dep. Agama RI)

002.043 Waaqeemoo a(l)[ss]al[a]ta wa[a]too a(l)zzak[a]ta wa(i)rkaAAoo maAAa a(l)rr[a]kiAAeen(a) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

Perlu diperhatikan bahwa zakat dalam teks terjemahan versi Dep. Agama adalah terjemahan dari a(l)zzak[a]ta. Dalam ayat tersebut, zakat dirangkaikan dengan tunaikanlah. Arti tunaikanlah adalah kerjakanlah! Dengan demikian, tunaikanlah zakat berarti kerjakanlah zakat. Jadi, sekali lagi, zakat adalah suatu aktivitas. Terjemahan 2:43 versi Abdullah Yusuf Ali berikut ini menegaskan hal tersebut. Disebutkan dalam terjemahan tersebut bahwa frase yang diterjemahkan menjadi tunaikanlah zakat diterjemahkan menjadi kerjakanlah kedermawanan secara teratur (practise regular charity). Oleh sebab itu, zakat tidak berarti sebagian rejeki yang diberikan Allah yang dibelanjakan. Zakat berarti kedermawanan. Kedermawanan berarti memberikan sebagian rejeki dari Allah kepada orang lain. Jadi, zakat berarti memberikan atau mengeluarkan atau menafkahkan sebagian rejeki dari Allah kepada orang lain.

002.043 And be steadfast in prayer; practise regular charity; and bow down your heads with those who bow down (in worship). (versi Abdullah Yusuf Ali)

Sampai di sini, dapat disampaikan kembali bahwa zakat adalah istilah yang berarti menafkahkan sebagian rejeki dari Allah seperti yang disebutkan dalam 2;3. Dengan demikian, zakat merupakan aktivitas yang harus dilakukan oleh orang yang bertaqwa. Jadi, hukum zakat adalah wajib bagi orang-orang yang ingin digolongkan sebagai orang bertaqwa.

Perlu disayangkan, penerjemah Dep. Agama memaknai zakat sebagai bukan aktivitas melainkan sebagai sebagian rejeki dari Allah yang diberikan kepada orang lain. Hal ini tercermin dari hasil terjemahan ayat–ayat Al Qur’an versi mereka berikut ini.

9:58. Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (distribusi) zakat; jika mereka diberi sebahagian dari padanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebahagian dari padanya, dengan serta merta mereka menjadi marah. (versi Dep. Agama RI)

9:60. Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (versi Dep. Agama RI)

9:103. Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (versi Dep. Agama RI)

9:104. Tidaklah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan menerima zakat dan bahwasanya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang? (versi Dep. Agama RI)

Jika kita membaca terjemahan di atas, kita akan berpersepsi bahwa zakat berarti sebagian rejeki dari Allah yang diberikan kepada orang lain. Benarkah terjemahan di atas? Marilah kita cek terjemahan di atas dengan transliterasi ayat-ayat di atas dalam DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913.

009.058 Waminhum man yalmizuka fee a(l)[ss]adaq[a]ti fa-in oAA[t]oo minh[a] ra[d]oo wa-in lam yuAA[t]aw minh[a] i[tha] hum yaskha[t]oon(a) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

009.060 Innam[a] a(l)[ss]adaq[a]tu lilfuqar[a]-i wa(a)lmas[a]keeni wa(a)lAA[a]mileena AAalayh[a] wa(a)lmu-allafati quloobuhum wafee a(l)rriq[a]bi wa(a)lgh[a]rimeena wafee sabeeli All[a]hi wa(i)bni a(l)ssabeeli faree[d]atan mina All[a]hi wa(A)ll[a]hu AAaleemun [h]akeemun (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

009.103 Khu[th] min amw[a]lihim [s]adaqatan tu[t]ahhiruhum watuzakkeehim bih[a] wa[s]alli AAalayhim inna [s]al[a]taka sakanun lahum wa(A)ll[a]hu sameeAAun AAaleem(un) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

009.104 Alam yaAAlamoo anna All[a]ha huwa yaqbalu a(l)ttawbata AAan AAib[a]dihi waya/khu[th]u a(l)[ss]adaq[a]ti waanna All[a]ha huwa a(l)ttaww[a]bu a(l)rra[h]eem(u) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

Ternyata, yang diterjemahkan menjadi zakat adalah kata-kata yang seharusnya diterjemahkan menjadi sedekah. Kata-kata tersebut adalah a(l)[ss]adaq[a]ti, [s]adaqatan, dan a(l)[ss]adaq[a]tu. Jadi, penerjemah Dep. Agama RI telah melakukan kesalahan. Padahal, mereka sudah mengetahui bahwa ada kata a(l)zzak[a]ta yang terjemahannya adalah zakat (Silakan periksa 2:43 di muka!). Seharusnya, kata zakat bergaris bawah dalam terjemahan ayat-ayat di atas diganti dengan sedekah.

Jadi, anggapan bahwa zakat adalah sebagian rejeki dari Allah yang diberikan kepada orang lain adalah salah karena tidak sesuai dengan Al Qur’an. Yang benar adalah bahwa zakat adalah menafkahkan atau membelanjakan atau mengeluarkan sebagaian rejeki dari Allah kepada orang lain. Sebagian rejeki dari Allah yang diberikan kepada orang lain disebut sedekah.

Sebagai tambahan, arti zakat dan sedekah berdasarkan akar katanya juga akan dibahas secara singkat. Kutipan arti menurut akar kata yang ada dalam project root list di http://www.studyquran.co.uk/PRLonline.htm  adalah sebagai berikut.

Sad-Dal-Qaf = to be truthful, true, sincere, speak the truth, establish or confirm the truth of what another has said, verify, keep faith, observe a promise faithfully, fulfill, speak veraciously, hold anyone as trustworthy. sadaqa fi al-qitaali - to fight gallantly. tsaddaqa - to give alms. sidqun - truth, veracity, sincerity, soundness, excellence in a variety of different objects, salubrious and agreeable, favourable entrance, praise. saadiqun - one who is true and sincere, one who speaks the truth. saadiqah - perfect woman. sadaqat (pl. saduqaat) - dowry. siddiiq - person who is trustworthy, sincere. saddaqa - to confirm, verify, fulfil. asdaqu - more true.

Zay-Kaf-Waw = it increased/augmented, it throve/grew well/flourished/prospered and produced fruit, it was/became pure, purification, goodness/righteousness, lead/enjoy a plentiful/easy/soft/delicate life, put into a good/right state/condition, alms, poor-rate/due

Tampak bahwa zakat dapat bermakna penyucian (purification) sedangkan sedekah dapat berarti ketulusan (sincerity). Dengan demikian, zakat adalah aktivitas yang berakibat pada penyucian diri, yaitu penghapusan dosa. Di pihak lain, sedekah adalah sebagian rejeki dari Allah yang diberikan kepada orang lain dengan tulus/ikhlas.

HUKUM BERSEDEKAH
Apakah sedekah tidak wajib hukumnya? Kita tidak bisa menjawabnya karena sedekah bukan merupakan suatu aktivitas. Yang bisa diputuskan hukumnya adalah aktivitas. Yang bisa dijawab adalah, apakah memberi sedekah atau bersedekah tidak wajib hukumnya?

Jawabannya adalah bahwa bersedekah atau memberi sedekah adalah wajib hukumnya. Alasannya, sedekah berarti sebagian rejeki dari Allah yang diberikan kepada orang lain. Memberi sedekah atau bersedekah berarti menafkahkan atau membelanjakan atau mengeluarkan sebagian rejeki dari Allah kepada orang lain. Tampak jelas di sini bahwa bersedekah mempunyai arti yang sama dengan zakat. Sudah dibahas di muka bahwa zakat adalah aktivitas menafkahkan atau membelanjakan atau mengeluarkan sebagian rejeki dari Allah kepada orang lain. Jadi, hukum bersedekah atau memberi sedekah adalah wajib, seperti hukum yang berlaku pada zakat..

PENUTUP

Bersedekah adalah wajib hukumnya. Makalah ini akan direvisi jika terjadi perubahan persepsi pada diri penulis.

Senin, 30 Juni 2014

ADAM DARI LUAR BUMI?

PENDAHULUAN
Kali ini penulis akan mencoba mengungkap asal manusia dengan menggunakan informasi yang ada dalam Al Qur’an. Sebelumnya, penulis punya persepsi bahwa manusia adalah keturunan manusia pertama bernama Adam yang diusir dari surga dan kemudian diturunkan ke bumi setelah melanggar larangan Tuhan. Persepsi seperti itu berkembang menjadi spekulasi bahwa manusia mungkin keturunan makhluk dari luar bumi atau sering disebut dengan makhluk angkasa luar. Benarkah persepsi tersebut? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penulis akan mengaji ayat-ayat Al Qur’an terjemahan.
TEMPAT TINGGAL ADAM DAN ISTERINYA
Allah sebenarnya sudah merencanakan akan menciptakan manusia yang tinggal di bumi (2:30). Disebutkan dalam ayat tersebut bahwa manusia akan dijadikan sebagai khalifah.

2:30. Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (versi Dep. Agama RI)
Apa arti khalifah? Untuk menjawabnya, arti akar kata menurut project root list yang ada di http://www.studyquran.co.uk/PRLonline.htm digunakan. Kutipan sebagian arti akar kata kh-lam-fa yang dianggap sesuai ditampilkan berikut ini.
Kh-Lam-Fa = To follow/come after/succeed another, substitute or supersede, to supply/be a supplier to someone, to restore or replace a thing to someone, smite or strike from behind, yearn towards other than one's spouse (in the spouses absence/behind his or her back), speak of/mention someone behind his or her back, remain behind/not go forth, to be kept back from all good, to not prosper or be successful, to become corrupt or altered for the worse, retire/withdraw/go away, to turn away from/avoid/shun a thing, to become foolish/idiotic/deficient in intellect, contrarious/hard in disposition, to leave behind, to appoint someone as successor, disagree with or differ from someone, contradict or oppose someone, to break/fail to perform a promise, to follow reciprocally/alternate/interchange, repeatedly move to and fro (coming and going), to differ/ be dissimilar
khalifah n.m. (pl. khala'if) 2:30, 6:165, 7:69, 7:74, 10:14, 10:73, 27:62, 35:39, 38:26”
Tampak bahwa akar kata kh-lam-fa mempunyai arti yang bervariasi. Dari sekian banyak arti akar kata tersebut, yang sesuai dengan konteks kandungan pesan dalam 2:30 menurut penulis adalah mengikuti (to follow/come after/succeed another). Sebagai kata benda, khalifah berarti yang mengikuti. Yang mengikuti siapa? Menurut penulis, jawabannya adalah yang mengikuti Allah. Jadi, kalifah berarti yang mengikuti Allah atau pengikut Allah.

Pernyataan malaikat dalam ayat 2:30 menegaskan penafsiran tersebut. Diceritakan dalam ayat tersebut bahwa malaikat menanyakan alasan Allah akan menciptakan manusia sedangkan para malaikat senantiasa patuh mengikuti semua kehendak Allah. Maksudnya, mengapa Allah ingin mencipta pengikut baru berupa manusia sedangkan Allah sudah mempunyai pengikut yang setia yaitu para malaikat?

Selain itu, penggunaan kata seorang di depan kata khalifah juga tidak tepat karena yang diciptakan pada saat itu adalah dua orang, yaitu Adam dan isterinya. Selain itu, kenyataannya, sekrang ini, ada banyak manusia di bumi. Menurut penulis, yang tepat adalah satu khalifah. Maksudnya, manusia termasuk salah satu khalifah.

Perlu disampaikan kembali bahwa manusia memang direncanakan akan bertempat tinggal di bumi. Ini menepis anggapan penulis sebelumnya bahwa keberadaan manusia di bumi adalah sebagai hukuman terhadap manusia pertama (Adam dan isterinya) karena melanggar perintah Allah. Jadi, tanpa melakukan pelanggaran terhadap perintah Allah pun, manusia akan tinggal di bumi.

Manusia pertama yang bernama Adam ditemani oleh seorang isteri (7:19). Setelah diciptakan, Adam dan isterinya di tempatkan di surga. Perlu diperhatikan bahwa sejak diciptakan, mereka telah menjadi suami-isteri. Ini merupakan petunjuk bahwa mereka diciptakan sudah dalam keadaan dewasa.

7:19. (Dan Allah berfirman): "Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan isterimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim." (versi Dep. Agama RI)
Surga mungkin seperti kebun yang sangat nyaman sebagai tempat tinggal. Perlu diketahui bahwa jannah yang diterjemahkan menjadi surga dapat pula berarti kebun (garden). Oleh sebab itu, dapat dikatakan bahwa surga adalah suatu kebun yang nyaman untuk tempat tinggal. Kutipan arti akar kata jim-nun-nun dari project root list di http://www.studyquran.co.uk/PRLonline.htm adalah sebagai berikut.

“Jiim-Nun-Nun (root of jinn) = veiled/concealed/covered/hid/protected (e.g. cloth, armour, grave, shield), invisible, become dark/posessed, darkness of night, bereft of reason, mad/insane/unsound in mind/intellect, confusedness.
Become thick/full-grown/blossom, herbage, garden.
Spiritual beings that conceal themselves from the senses (including angels), become weak and abject, greater part of mankind, devil/demon, people who are peerless having no match or equal, a being who is highly potent, sometimes refers to Kings because they are concealed from the common folk”

Gambaran keadaan surga tempat tinggal Adam dan isterinya diterangkan dalam 20:118 dan 20:119. Surga tempat tinggal mereka adalah suatu kebun yang penghuninya tidak akan kelaparan, tidak akan kehausan, tidak akan kepanasan, dan tidak akan telanjang.

20:118. Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang, (versi Dep. Agama RI)

20:119. dan sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya." (versi Dep. Agama RI)

Frase tidak akan telanjang dalam terjemahan 20:118 perlu dibahas lebih lanjut. Menurut penulis, telanjang yang dimaksud adalah bukan seperti keadaan tidak berbaju seperti pengertian telanjang yang dianut oleh kita sekarang ini. Pada waktu itu, tidak ada teknologi membuat baju. Menurut penulis, frase tersebut bermakna tidak ada hasrat untuk berhubungan seks yang dapat menyebabkan mempunyai anak. Dengan demikian, walaupun tanpa baju, mereka tidak berpikir untuk berbuat porno atau berhubungan seks.

Di samping itu, keadaan tidak telanjang yang dikategorikan sebagai sebuah kenikmatan juga menarik untuk dibahas. Tidak telanjang berarti tidak berhubungan seks. Artinya, berhubungan seks bukanlah suatu kenikmatan di surga. Padahal, dalam kehidupan sekarang ini, berhubungan seks termasuk sebagai suatu jenis kenikmatan. Mungkin benar bahwa tidak berhubungan seks merupakan suatu kenikmatan karena aktivitas tersebut sesungguhnya terjadi karena hanya dorongan nafsu saja. Jika nafsu seks tidak ada, orang tidak akan berpikir tentang hal-hal yang berhubungan dengan seks. Jika semua orang tidak mempunyai nafsu seks, orang tidak kawin adalah orang yang normal. Sebaliknya, orang yang kawin justeru dianggap sebagai orang tidak normal. Yang terjadi di dunia sekarang adalah bahwa orang mempunyai nafsu seks sehingga jika tidak tersalurkan akan menjadi suatu penderitaan. Oleh sebab itulah, penyebutan tidak telanjang sebagai suatu kenikmatan menjadi hal yang menarik untuk direnungkan. Mungkin saja, seorang laki-laki yang masuk surga dan ditemani oleh isteri yang cantik berupa bidadari juga tidak akan berhubungan seks seperti yang dialami Adam dan isterinya sebelum tergoda oleh syaitan.

Surga itu mungkin berada di tempat yang relatif tinggi sehingga udaranya cukup sejuk. Mungkin juga, mereka tinggal di bawah naungan pohon-pohon buah-buahan yang rindang sehingga tidak terkena sinar matahari secara langsung. Di surga itu, mungkin ada sungai yang mengalir terus, yang dapat menghidupi tumbuhan dan binatang, termasuk Adam dan isterinya.

Apakah pembaca memperhatikan kata matahari dalam terjemahan 20:119? Bagi penulis, matahari yang dimaksud adalah matahari yang sama dengan yang dapat kita lihat hari ini. Sudah disampaikan di muka bahwa Allah akan membuat manusia di bumi (2:30). Oleh sebab itu, sangat masuk akal jika penulis berpendapat bahwa Adam dan isterinya tinggal di suatu kebun yang ada di bumi.

Anggapan bahwa bumi tempat tinggal Adam dan isterinya adalah bukan bumi yang kita diami sekarang ini mungkin berasal dari perintah turun dari surga setelah mereka melanggar larangan Allah. Setelah melanggar perintah Allah, Adam dan isterinya mendapat sejumlah ketetapan dari Allah. Ketetapan tersebut tercantum dalam ayat berikut ini.

20:123. Allah berfirman: "Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. (versi Dep. Agama RI)

Banyak orang menafsirkan 2:123 bahwa Adam dan isterinya diturunkan dari surga yang ada di langit yang berada di atas. Kelihatannya, penafsiran seperti itu masuk akal. Akan tetapi, jika dikaji secara seksama dengan pikiran jernih, penafsiran itu akan tampak keliru.

Perlu diperhatikan bahwa kata turunlah dan diturunkan adalah berbeda. Kata turunlah bermakna bahwa yang diperintah dapat bergerak turun secara mandiri. Kata diturunkan bermakna bahwa yang bergerak turun bersifat pasif, mengikuti kemauan pihak lain yang menurunkan. Dalam hal ini, kata yang digunakan adalah turunlah. Dengan demikian, Adam dan isterinya akan bergerak ke tempat yang lebih rendah secara mandiri.

Jika Adam dan isterinya dianggap tinggal di suatu kebun yang ada di langit, mereka akan melihat bumi berada di atas. Yang terlihat oleh mereka jika bergerak turun atau melihat ke bawah adalah tanah tempat berpijak. Artinya, jika bergerak turun, mereka tidak akan sampai ke bumi yang ada di atas mereka. Agar sampai ke bumi, mereka harus bergerak ke atas. Oleh sebab itu, anggapan bahwa surga tempat tinggal Adam dan isterinya berada di langit adalah tidak benar.

Penafsiran kata turun yang berarti bergerak atau berpindah ke lokasi yang lebih rendah di surga (kebun) yang ada di bumi juga tidak mempunyai arti karena pada hakikatnya mereka tetap tinggal di bumi. Selain itu, pada saat itu hanya ada dua manusia di bumi. Mereka dapat bepergian ke tempat yang mereka inginkan. Jadi, kata turun dalam hal ini bukan berarti bergerak atau berpindah ke tempat yang lebih rendah di bumi.

Terus, apa maksud Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama? Menurut penulis, frase tersebut berarti ketetapan Allah yang berlaku bagi Adam dan isterinya bahwa sejak saat itu mereka akan mempunyai keturunan. Mereka akan mulai mempunyai anak dari surga tersebut dan kemudian jummlahnya semakin lama semakin banyak. Jika kandungan ayat 20:123 diperhatikan secara teliti, penafsiran tersebut tampak masuk akal. Setelah mereka mempunyai keturunan, keturunan mereka ada yang bermusuhan. Allah juga berpesan kepada mereka bahwa Allah akan memberikan petunjuk kepada keturunannya. Keturunannya yang mengikuti petunjuk-Nya tidak akan akan sesat dan tidak akan celaka.

Walaupun demikian, Adam dan isterinya disebutkan keluar dari surga (7:27). Dijelaskan dalam ayat tersebut bahwa yang dimaksud dengan keluar dari surga adalah perubahan dari keadaan tidak mengerti bagian kemaluan menjadi mengerti bagian kemaluan. Ayat 2:36 juga menerangkan bahwa yang dimaksud dengan keluar adalah perubahan dari keadaan semula. Artinya, mereka tetap tinggal di kebun yang sama, yaitu kebun yang tidak menyebabkan kelaparan, kehausan, dan kepanasan.

7:27 You Adam's sons and daughters, (let) not the devil test/misguide/betray you as/like he brought out your parents from the Paradise, he removes/pulls away from them (B) their (B)'s cover/dress to show them (B)/make them (B) understand their (B)'s shameful genital private parts; that he sees you, he and his group/tribe from where/when you do not see them, that We made the devils guardians/allies to those who do not believe. (Kamu anak laki-laki dan perempuan Adam, janganlah sampai syaitan menjerumuskan kamu seperti ia mengeluarkan kedua orang tuamu dari surga, ia membuang dari mereka penutup mereka untuk membuat mereka mengerti bagian kemaluannya; bahwa mereka melihat kamu, ia dan kelompoknya dari suatu tempat yang kamu tidak melihat mereka, bahwa Kami membuat syaitan teman bagi mereka yang tidak beriman.) (versi Muhamed dan Samira Ahmed)

2:36. Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: "Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan." (versi Dep. Agama RI)

Penulis tidak setuju dengan penafsiran bahwa Adam dan isterinya dikeluarkan dari surga (kebun) dan kemudian tinggal di luar surga (kebun). Yang disebutkan dalam 2:36 adalah dikeluarkan dari keadaan semula. Yang dimaksud dengan keadaan adalah keadaan Adam dan isterinya, bukan keadaan surga (kebun). Jika diartikan keluar secara fisik dan kemudian tinggal di luar surga (kebun), mereka akan kelaparan, kehausan, dan kepanasan dan kemudian akan mati.

Berdasarkan uraian di atas, kita bisa menggambarkan keadaan surga tempat tinggal Adam dan isterinya karena surga tersebut berada di bumi. Bagi orang Indonesia, surga itu mungkin seperti keadaan tanah nusantara pada jaman dahulu. Tidak heran apabila banyak orang jaman dahulu menyebut Indonesia sebagai tanah surga.

PENUTUP
Berdasarkan kajian di atas, penulis berpendapat bahwa surga tempat tinggal Adam dan isterinya berada di bumi yang sama dengan bumi tempat tinggal kita sekarang ini. Manusia tidak berasal dari angkasa luar atau tempat tinggal yang ada di langit. Di bumi itu manusia hidup, mati, dan akan dibangkitkan (7:25)

7:25. Allah berfirman: "Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan. (versi Dep. Agama RI)

Apabila terjadi perubahan persepsi pada diri penulis, makalah ini akan direvisi.

Kamis, 22 Mei 2014

KAMU TIDAK AKAN LUPA

Persepsi penerjemah Al Qur’an bahwa Nabi Muhammad adalah buta huruf tercermin dalam terjemahan Al Qur’an ayat 87:6 versi Dep. Agama RI berikut ini.

87:6. Kami akan membacakan (Al Quran) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa, (versi Dep. Agama RI)

Dengan persepsi bahwa bahwa Nabi Muhammad adalah orang yang buta huruf, Nabi Muhammad dianggap tidak akan bisa mencatat wahyu yang diterimanya sehingga Nabi Muhammad hanya akan mengandalkan ingatan saja. Agar tidak bisa lupa, Nabi Muhammad dibuat menjadi manusia yang tidak bisa lupa sesudah Al Qur’an dibacakannya kepadanya. Demikianlah kurang lebih maksud yang terkandung dalam terjemahan ayat 87:6 versi Dep. Agama RI. Benarkah penerjemahan seperti itu? Jawaban pertanyaan di atas ada di ayat berikutnya.

86:7. kecuali kalau Allah menghendaki. Sesungguhnya Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi. (versi Dep. Agama RI)

Dengan masih berpijak pada persepsi yang sama, ayat 86:7 menerangkan bahwa kalau Allah menghendaki, Nabi Muhammad dapat menjadi lupa tentang semua wahyu yang diterimanya. Mungkinkah Allah berbuat kekeliruan dalam menyusun kata-kata atau membuat Al Qur’an sehingga menghapus ingatan berisi wahyu Allah yang keliru yang ada di otak Nabi Muhammad? Tidak mungkin! Allah tidak mungkin berbuat kekeliruan. Oleh sebab itu, penafsiran seperti itu adalah salah.

Walaupun buta bahasa Arab, penulis akan berusaha mencari tahu penafsiran yang benar. Untuk itu, terjemahan versi lain digunakan.

87:6 We will make you read, so do not forget. (Kami akan membuat kamu membaca, sehingga tidak lupa.) (versi Muhamed dan Samira Ahmed)

87:7 Except what God willed/wanted/intended, that He truly knows the declared/publicized and what hides. (Kecuali yang Allah kehendaki, bahwa Dia sesungguhnya mengetahui yang dipublikasikan dan yang tersembunyi.) (versi Muhamed dan Samira Ahmed)

87:6. We will make you recite, so you will not forget, (Kami akan membuat kamu membaca, sehingga kamu tidak akan lupa.) (versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri)

87:7. Except what Allah wills. Indeed, He knows the manifest and what is hidden. (Kecuali yang Allah kehendaki. Sungguh, Dia mengetahui yang nyata dan yang disembunyikan.) (versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri)

Menurut terjemahan versi Muhamed dan Samira Ahmed dan versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri, yang membaca adalah kamu. Di pihak lain, menurut versi Dep. Agama RI, yang membaca adalah Kami. Ini adalah suatu perbedaan yang sangat nyata. Perbedaan tersebut semakin menegaskan bahwa penafsiran penerjemah Al Qur’an dari Dep. Agama RI adalah salah. Tampaknya, penafsiran yang salah tersebut terjadi karena persepsi yang salah pula.


Menurut penulis, ayat 87:6 dan 87:7 menerangkan bahwa Allah berkehendak membuat manusia membaca. Dengan kemampuan membaca tersebut, orang tidak akan lupa. Caranya, manusia mencatat segala sesuatu yang dianggap perlu. Dengan catatan itulah manusia tidak bisa lupa. Walaupun demikian, catatan yang dibuat dapat saja hilang jika Allah menghendaki. Jika catatan hilang, manusia akan menjadi tidak bisa mengingat informasi yang pernah ada. Penyebab kehilangan catatan antara lain kebakaran, banjir, sunami, angin besar, letusan gunung, gempa bumi, dan kerusakan dokumen. Demikianlah, penafsiran ayat 87:6 yang benar menurut penulis. Jadi, ayat 87:6 bukan ayat yang menjelaskan bahwa Nabi Muhammad buta huruf.

Selasa, 29 April 2014

ALLAH DAN RASULNYA

PENDAHULUAN
Bulan lalu, penulis menulis makalah berjudul “Dwi Tunggal”. Dipaparkan dalam makalah tersebut bahwa Allah dan Nabi Muhammad telah dianggap sebagai dua yang tidak terpisahkan. Dalam hal ini, Nabi Muhammad dianggap seperti Tuhan. Penulis menduga anggapan tersebut terjadi karena penafsiran yang keliru tentang hubungan antara Allah dan Rasul-Nya. Oleh sebab itu, pembahasan tentang hubungan antara Allah dan Rasul-Nya akan dilakukan dalam makalah ini.

ALLAH DAN RASULNYA DALAM PROSES PEMBERIAN PETUNJUK ALLAH
Sebelum Adam dikirim ke bumi, Allah berpesan bahwa kelak keturunannya akan diberi petunjuk-Nya. Dengan petunjuk tersebut, manusia keturunannya tidak akan sesat dan celaka (20:123), serta tidak perlu khawatir dan bersedih hati (2:38).

20:123. Allah berfirman: "Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. (versi Dep. Agama RI)

2:38. Kami berfirman: "Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (versi Dep. Agama RI)

Berdasarkan keterangan dalam ayat 20:123 dan 2:38 di atas, dapat dimengerti bahwa pemberian petunjuk Allah kepada manusia adalah sesuatu yang sudah direncanakan oleh Allah sejak penciptaan manusia pertama. Ini berarti pula bahwa pemberian petunjuk Allah untuk manusia adalah murni kehendak Allah, bukan permintaan manusia. Dalam proses pemberian petunjuk, Allah tidak memberikannya secara langsung kepada setiap manusia melainkan melalui para rasul atau utusan, yaitu para Rasul Allah atau Utusan Allah berupa manusia. Dengan demikian, Rasul Allah yang membawa petunjuk Allah adalah manusia yang memang diciptakan untuk menjadi Rasul Allah, yang sudah direncanakan sebelumnya.

Dalam proses pemberian petunjuk Allah, ada dua kelompok. Kelompok pertama adalah kelompok pemberi petunjuk Allah, yaitu Allah dan Rasul-Nya sedangkan kelompok kedua adalah kelompok yang diberi petunjuk Allah, yaitu manusia. Oleh sebab itu, dalam Al Qur’an banyak dijumpai frasa Allah dan Rasul-Nya. Berikut ini adalah beberapa ayat yang mengandung frasa Allah dan Rasul-Nya.

4:13. (Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya kedalam syurga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. (versi Dep. Agama RI)

33:57.Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan. (versi Dep. Agama RI)

9:7. Bagaimana bisa ada perjanjian (aman) dari sisi Allah dan RasulNya dengan orang-orang musyrikin, kecuali orang-orang yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) di dekat Masjidil haraam? maka selama mereka berlaku lurus terhadapmu, hendaklah kamu berlaku lurus (pula) terhadap mereka. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa. (versi Dep. Agama RI)

59:8. (Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan RasulNya. Mereka itulah orang-orang yang benar. (versi Dep. Agama RI)

9:59. Jikalau mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan RasulNya kepada mereka, dan berkata: "Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan sebagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah," (tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka). (versi Dep. Agama RI)

9:29. Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk. (versi Dep. Agama RI)

58:20. Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya, mereka termasuk orang-orang yang sangat hina. (versi Dep. Agama RI)

Sebagai kelompok, Allah dan Rasul-Nya tidak bisa dipisahkan. Dengan kalimat lain, Allah dan Rasul-Nya adalah sebuah tim. Tanpa Rasul Allah, pemberian petunjuk Allah tidak akan berjalan. Demikian pula, tanpa Allah, Rasul Allah tidak ada.

Walaupun demikian, ada yang perlu diperhatikan dengan seksama terhadap frasa Allah dan Rasul-Nya. Walaupun Muhammad seorang Rasul Allah, frasa Allah dan Rasul_Nya tidak sama dengan frasa Allah dan Muhammad. Sebagai manusia, Muhammad mempunyai aktivitas kehidupan pribadi yang mungkin tidak berkaitan dengan tugasnya sebagai Rasul Allah. Dengan demikian, penafsiran frasa Allah dan Rasul-Nya dalam Al Qur’an tidak boleh dikacaukan dengan kehidupan pribadi Muhammad sebagai manusia biasa. Penafsiran Rasul-Nya hanya berlaku ketika Muhammad menjalankan tugas sebagai seorang Rasul Allah, yaitu menyampaikan petunjuk Allah kepada manusia.

Sekarang, kita dapat membaca petunjuk Allah untuk manusia yang disampaikan Nabi Muhammad ketika berfungsi menjadi Rasul Allah dalam kitab Al Qur’an. Semua petunjuk Allah sudah disampaikan kepada manusia sehingga bisa dikatakan bahwa Nabi Muhammad sudah berhasil mmenjalankan tugasnya sebagai seorang Rasul Allah. Semua informasi tentang petunjuk Allah ada di Al Qur’an.

PENAFSIRAN ALLAH DAN RASULNYA
Taat kepada Allah dan Rasul-Nya
Ayat 4:13 menyebutkan perintah taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Apakah arti taat kepada Allah dan Rasul-Nya? Artinya adalah taat kepada Allah dan Rasul-Nya sebagai kelompok yang memberi petunjuk Allah. Bagi manusia sekarang, apa yang harus ditaati dari mereka? Tentu saja taat kepada yang disampaikan kelompok yang memberi petunjuk Allah, yaitu petunjuk Allah dalam Al Qur’an.

Diharamkan Allah dan Rasul-Nya
Ayat 9:29 menyebutkan tentang yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya. Apakah arti yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya? Yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya adalah yang diharamkan oleh kelompok yang memberi petunjuk Allah. Dengan demikian, yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya adalah yang ada di Al Qur’an.

Menyakiti Allah dan Rasul-Nya
Ayat 33:57 menyebutkan tentang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Apakah arti menyakiti Allah dan Rasul-Nya? Menyakiti Allah dan Rasul-Nya berarti menyakiti kelompok yang memberi petunjuk Allah. Kata menyakiti di sini mungkin lebih tepat apabila diganti dengan mengganggu (annoy) seperti yang ditafsirkan oleh Abdullah Yusuf Ali. Maksudnya, orang-orang pada saat itu tidak boleh mengganggu kelompok Allah dan Rasul-Nya dalam proses pemberian petunjuk Allah. Berikut ini adalah kutipan terjemahan ayat 33:57.

033.057 Those who annoy Allah and His Messenger - Allah has cursed them in this World and in the Hereafter, and has prepared for them a humiliating Punishment. (versi Abdullah Yusuf Ali)

Menolong Allah dan Rasul-Nya
Ayat 59:8 menyebutkan tentang menolong Allah dan Rasul-Nya. Apa arti menolong Allah dan Rasul-Nya? Menolong Allah dan Rasul-Nya berarti membantu kelompok Allah dan Rasul-Nya dalam proses pemberian petunjuk Allah agar berjalan lancar.

Menentang Allah dan Rasul-Nya
Ayat 58:20 menyebutkan tentang menentang Allah dan Rasul-Nya. Apa artinya? Menentang Allah dan Rasul-Nya berarti menentang yang disampaikan kelompok Allah dan Rasul-Nya dalam proses pemberian petunjuk Allah.

Mengadakan Perjanjian dengan Allah dan Rasul-Nya
Ayat 9:7 menyebutkan tentang perjanjian dari sisi Allah dan Rasul-Nya. Apa arti perjanjian dari sisi Allah dan Rasul-Nya? Perjanjian dari sisi Allah dan Rasul-Nya berarti perjanjian dengan kelompok Allah dan Rasul-Nya.

Yang Diberikan Allah dan Rasul-Nya
Ayat 9:59 menyebutkan tentang yang diberikan Allah dan Rasul-Nya. Apa arti yang diberikan Allah dan Rasul-Nya? Artinya adalah yang diberikan oleh kelompok Allah dan Rasul-Nya.

PENUTUP

Allah dan Rasul-Nya adalah dua yang tidak bisa dipisahkan dalam proses pemberian petunjuk Allah untuk manusia. Dalam hal ini, Allah berperan sebagai pemberi petunjuk sedangkan Rasul Allah berperan sebagai penyampai petunjuk Allah kepada manusia. Makalah ini akan direvisi jika terdapat perubahan persepsi pada diri penulis. 

Senin, 31 Maret 2014

DWI TUNGGAL

PENDAHULUAN
Dwi tunggal berarti sama dengan dua tetapi satu atau dua yang tidak terpisahkan. Yang dimaksudkan dalam makalah ini dengan dwi tunggal adalah bahwa antara Allah dan Nabi Muhammad dianggap tidak terpisahkan. Gejala dwi tunggal sudah teramati di sekitar kita.. Gejala ini sesungguhnya sangat mencemaskan karena ini merupakan bentuk perbuatan mempersekutukan Allah yang sangat nyata. Makalah ini ditulis untuk mengungkap gejala dwi tunggal tersebut.

GEJALA DWI TUNGGAL
Kaligrafi memang hanya tulisan. Jika tulisan tersebut dibaca, orang yang membacanya akan menyebut yang tertulis, baik secara lisan maupun secara dalam hati saja. Demikian halnya dengan yang terjadi pada kaligrafi Allah dan kaligrafi Muhammad yang terpasang pada sejumlah masjid. Orang yang membaca kaligrafi-kaligrafi tersebut akan menyebut Allah dan Muhammad baik hanya dalam hati saja atau secara lisan. Sebenarnya, pemasangan kedua kaligrafi di masjid menggambarkan persepsi pengelola masjid bahwa menyebut nama Allah dan nama selain Allah secara bersama-sama di masjid adalah tindakan yang dibenarkan. Persepsi pengelola masjid tersebut mencerminkan persepsi sebagian besar orang beragama islam. Berikut ini adalah contoh masjid yang di dalamnya terdapat kedua kaligrafi tersebut.


                                     


Penyebutan nama Allah dan nama Muhammad secara bersama-sama juga dilakukan ketika orang shalat di masjid. Shalat seseorang dianggap tidak sah oleh sebagian besar orang beragama islam jika tidak menyebut nama Allah dan nama Muhammad ketika shalat. Benarkah tindakan menyebut nama Allah dan nama Muhammad secara bersama-sama di masjid? Ayat-ayat berikut ini menjawab pertanyaan tersebut.

72:18. And that the masajid are for Allah, so do not call upon anyone with Allah. (Dan masjid-masjid adalah milik Allah, maka janganlah menyebut siapapun bersama-sama dengan Allah.) (versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri)

72:18 'And that (E) the mosques (are) to God, so do not call anyone with God.' (Dan bahwa masjid-masjid adalah untuk Allah, maka janganlah menyebut siapapun bersama-sama dengan Allah). (versi Muhamed dan Samira Ahmed)

72:18. Masjid-masjid adalah kepunyaan Allah; maka janganlah seru, berserta Allah, barang siapa pun. (versi Othman Ali)

072.018 "And the places of worship are for Allah (alone): So invoke not any one along with Allah; (Dan tempat untuk sembahyang adalah untuk Allah (semata): Maka janganlah menyebut siapapun bersama-sama dengan Allah (versi Abdullah Yusuf Ali)

Ayat 72:18 terjemahan di atas memperlihatkan bahwa menyebut Allah dan selain-Nya di masjid adalah dilarang. Oleh karena itu, menyebut nama Allah dan nama Muhammad secara bersama-sama ketika shalat adalah merupakan suatu kesalahan. Bahkan, Allah sendiri sudah menyatakan dengan tegas bahwa tidak ada Tuhan selain Dia dan orang diperintahkan shalat untuk mengingat Allah (20:14). Mengingat Allah berarti hanya mengingat Allah saja karena Allah hanya satu.

20:14. Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (versi Dep. Agama RI)

Dapat diutarakan di sini bahwa tindakan menyebut nama Allah dan nama Muhammad secara bersama-sama di masjid merupakan bentuk penyimpangan ajaran Al Qur’an. Mengapa hal tersebut dilakukan walaupun bertentangan dengan Al Qur’an? Jawabannya adalah karena mereka mempunyai dua kitab, yaitu Al Qur’an dan kitab hadis. Al Qur’an diposisikan sebagai kitab yang berisi ajaran Allah dan kitab hadis dianggap berisi ajaran Nabi Muhammad (Rasul Allah). Kedua ajaran tersebut dianggap tidak terpisahkan. Yang tidak beriman kepada salah satu ajaran tersebut akan dianggap sesat. Dengan demikian, dapat diartikan bahwa ajaran Allah dan ajaran Nabi Muhammad dianggap sebagai dua ajaran yang tidak terpisahkan. Ini menegaskan keberadaan persepsi sebagian besar orang beragama islam bahwa Allah dan Muhammad adalah dua yang tidak terpisahkan (dwi tunggal).

Jika tidak demikian halnya (mereka dianggap bukan dwi tunggal), tentu akan hanya ada satu ajaran saja yang dijadikan pegangan oleh mereka, yaitu ajaran Allah atau akan hanya ada satu kitab saja, yaitu Al Qur’an, karena Tuhan hanya satu. Di pihak lain, jika ajaran Nabi Muhammad, yang katanya tertulis di kitab hadis, adalah sama dengan ajaran Allah, tentu orang akan meyebutnya sebagai ajaran Allah dan tidak ada istilah ajaran Rasul (Nabi Muhammad).

PENUTUP
Orang yang memegang konsep dwi tunggal tidak pernah merasa berbuat kesalahan. Mereka sangat percaya bahwa Tuhan hanya satu, yaitu Allah. Mereka juga sangat percaya bahwa Nabi Muhammad adalah bukan Tuhan melainkan hanya Rasul/Utusan Allah. Dengan kepercayaan semacam itulah mereka yakin bahwa mereka tidak berbuat kemusyrikan. Tentu saja, kesalahan tersebut tidak akan terlihat selama mereka menggunakan dua kitab dan dua ajaran. Kesalahan tersebut akan terlihat jika mereka hanya menggunakan satu kitab saja, yaitu Al Qur’an. Ayat 43:37 membenarkan gejala orang-orang yang disesatkan oleh syaitan tetapi merasa mendapat petunjuk. Orang yang merasa mendapat petunjuk tidak akan atau enggan merubah keimanannya dan bahkan akan berbalik menyalahkan orang yang mencoba mengingatkannya.                        


43:37. Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. (versi Dep. Agama RI)

Jumat, 28 Februari 2014

TANGGAPAN UNTUK SANG PENCERAMAH TV

Suatu hari, ada seorang peserta pengajian di sebuah stasiun tv bertanya tentang pengajian yang hanya membahas Al Qur’an saja. Penceramah dalam pengajian tersebut kemudian menjelaskan bahwa pengajian seperti itu adalah salah. Dalam menjawabnya, penceramah tersebut menjelaskan bahwa peseeta pengajian yang hanya menggunakan Al Qur’an saja tidak akan bisa menjelaskan cara shalat. Si penanya kemudian terlihat puas dengan jawaban penceramah tersebut.

Sepintas lalu, jawaban penceramah tersebut memang tampak masuk akal. Memang benar, tidak ada penjelasan dalam Al Qur’an tentang cara shalat seperti yang dikerjakan oleh sebagian besar orang beragama islam sampai sekarang ini. Oleh sebab itu, wajar apabila peserta pengajian tersebut kemudian merasa puas dengan jawaban pemberi ceramah. Akan tetapi, penulis tidak puas dengan jawaban penceramah tersebut. Oleh sebab itu, makalah ini ditulis.

Cara menjawab pertanyaan tersebut tidak layak bagi orang tokoh agama islam yang mengaku beriman kepada Al Qur’an. Seharusnya, penceramah tersebut menggunakan ayat-ayat Al Qur’an ketika menjawab pertanyaan tersebut. Disebutkan dalam Al Qur’an bahwa kita diperintahkan memutuskan perkara dengan wahyu Allah (5:44; 5:47; 5:48; 5:49; dan 4:105). Perlu diingat bahwa yang ditanyakan dalam pengajian tersebut adalah sebuah perkara sehingga harus dijawab dengan menggunakan wahyu Allah yang ada dalam Al Qur’an. Tampaknya, penceramah tersebut merasa sangat percaya diri atau meremehkan peserta pengajian tersebut sehingga tidak mau bersusah payah dalam menjawab pertanyaan tersebut.

5:44. Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (versi Dep. Agama RI)

5:47. Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah didalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik. (versi Dep. Agama RI)

5:48. Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu, (versi Dep. Agama RI)

5:49. dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. (versi Dep. Agama RI)

4:105. Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat, (versi Dep. Agama RI)

Sebenarnya, dengan menganggap bahwa pengajian yang hanya menggunakan Al Qur’an saja adalah salah, penceramah tersebut sudah menyalahkan Al Qur’an. Al Qur’an menyatakan bahwa orang yang mengikuti petunjuk Allah tidak akan sesat (20:123)). Al Qur’an adalah petunjuk Allah bagi manusia (2:185). Jadi, sangat jelas sekali bahwa mengikuti petunjuk Allah berupa Al Qur’an adalah dibenarkan oleh Allah dan tidak akan menyebabkan orang menjadi tidak sesat..

20:123. Allah berfirman: "Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. (versi Dep. Agama RI)

2:185. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (versi Dep. Agama RI)

Bagaimana dengan anggapan bahwa petunjuk Allah dalam Al Qur’an bersifat umum? Anggapan bahwa petunjuk Allah dalam Al Qur’an bersifat umum adalah tidak berdasar. Tidak ada satu ayat pun dalam Al Qur’an yang menyebutkan bahwa Al Qur’an adalah petunjuk umum. Tuhan hanya satu sehingga petunjuk Allah juga hanya satu. Tidak ada istilah petunjuk Allah umum atau petunjuk Allah khusus. Yang ada hanya petunjuk Allah. Titik.

Yang dimaksud oleh pencermah tersebut dengan cara shalat adalah cara shalat yang dirangkum berdasarkan informasi yang ada dalam kitab-kitab hadis. Artinya, orang yang tidak shalat dengan cara seperti yang ada dalam kitab-kitab hadis dianggap sesat olehnya. Dengan kalimat lain, penceramah tersebut berpendapat bahwa orang yang tidak beriman kepada kitab hadis akan sesat. Di sinilah letak persoalannya. Cobalah kita tenangkan hati dan kemudian merenungkannya. Sudah dijelaskan bahwa orang yang mengikuti petunjuk Allah tidak akan sesat (ayat 20:123). Mengapa sekarang ada orang yang menyatakan sesat kepada orang yang tidak mengikuti kitab hadis? Bukankah kitab hadis bukan petunjuk Allah? Dari sini, kita bisa merasakan ada sesuatu yang berbahaya, yang mungkin tidak disadari oleh banyak orang. Orang yang menyatakan sesat kepada orang yang tidak mengikuti kitab hadis adalah mereka yang menganggap kitab hadis sebagai petunjuk Allah. Alasannya, orang yang mengikuti petunjuk Allah tidak akan sesat. Artinya, orang yang tidak mengikuti petunjuk Allah akan sesat. Dengan demikian, kitab hadis telah dianggap sebagai petunjuk Allah karena orang yang tidak mengikuti kitab hadis dianggap sesat. .Jadi, mereka mempunyai dua petunjuk Allah, yaitu Al Qur’an dan kitab hadis.

Sekarang, benarkah kitab hadis adalah petunjuk Allah? Jelas bahwa kitab hadis adalah bukan petunjuk Allah. Ditinjau dari definisinya saja kita bisa mengetahui bahwa kitab hadis berisi informasi yang dianggap sebagai perkataan, perbuatan, dan sikap Nabi Muhammad. Dapat dikatakan bahwa kitab hadis telah dianggap sebagai petunjuk Nabi Muhammad. Artinya, Nabi Muhammad telah dianggap sebagai Tuhan karena petunjuk Nabi Muhammad dianggap sama dengan petunjuk Allah. Inilah bahaya yang terjadi. Bukankah ini suatu bentuk kemusyrikan?

Mungkin ada yang berkilah bahwa yang ada dalam kitab hadis adalah berdasarkan wahyu Allah? Argumen seperti ini akan disampaikan oleh orang-orang yang menganggap Nabi Muhammad tidak menyampaikan semua wahyu Allah. Orang yang beriman kepada Nabi Muhammad harus percaya bahwa semua wahyu Allah telah disampaikan kepada semua manusia, sekali lagi kepda semua manusia, dalam kitab Al Qur’an. Perlu disampaikan juga bahwa tidak mungkin Nabi Muhammad menyampaikan wahyu Allah kepada sejumlah oramg di seklilingnya dan kemudian wahyu Allah tersebut disampaikan kepada orang lain secara dari telinga ke telinga. Petunjuk Allah adalah untuk semua manusia (2:185), yang mencakup manusia sejak jaman Nabi Muhammad sampai sekarang dan masa yang akan datang di seluruh permukaan bumi. Oleh sebab itu, petunjuk Allah harus ada dalam sebuah kitab, yaitu Al Qur’an, yang dapat dibaca manusia di segala tempat dan pada segala waktu. Dengan membaca Al Qur’an, orang akan seperti mendengar wahyu Allah yang disampaikan oleh Nabi Muhammad. Perlu diingat bahwa Nabi Muhammad adalah Rasul Allah yang wajib diimani.

Berita tentang Nabi Muhmaad yang didengar dari telinga ke telinga tidak bisa dijadikan pegangan karena kita tidak bisa melakukan klarifikasi kepada Nabi Muhammad. Jika akan dijadikan pegangan, kita harus beriman kepada orang yang menyampaikan berita tersebut, yang sudah pasti bukan Rasul Allah. Padahal, kita hanya diperintahkan agar beriman kepada Rasul Allah (64:8). Artinya, beriman kepada selain Rasul Allah adalah suatu dosa.

64:8. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada cahaya (Al-Qur’an) yang telah Kami turunkan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (versi Dep. Agama RI)

Orang yang hanya mengaji Al Qur’an saja juga tidak perlu khawatir karena orang yang mengikuti petunjuk Allah tidak perlu khawatir dan bersedih hati. Jika kita masih merasa khawatir dan bersedih hati karena hanya mengaji Al Qur’an saja, kita justru akan berdosa karena dapat dianggap telah mendustakan ayat (2:38).

2:38. Kami berfirman: "Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (versi Dep. Agama RI)

Jika ada yang mengatakan sesat kepada orang hanya karena mengaji Al Qur’an saja, orang tersebut dapat mengikuti yang dperintahkan Allah kepada Nabi Muhammad ketika dituduh sesat. Ayatnya adalah sebagai berikut (34:50).

34:50. Katakanlah: "Jika aku sesat maka sesungguhnya aku sesat atas kemudharatan diriku sendiri; dan jika aku mendapat petunjuk maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat." (versi Dep. Agama RI)

Yang mengikuti orang yang menyatakan sesat kepada orang yang hanya mengaji Al Qur’an saja banyak jumlahnya. Bahkan, di Indonesia, pengikutnya adalah mayoritas penduduk. Walaupun demikian, orang yang hanya mengaji Al Qur’an saja dapat menghibur diri dengan ayat 12:103; 12:106: dan 17:162) Seharusnya, ayat-ayat tersebut perlu dijadikan renungan bagi kelompok mayoritas. Bukankah menjadi mayoritas justeru mengkhawatirkanr?

12:103. Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman - walaupun kamu sangat menginginkannya-.(versi Dep. Agama RI)

12:106. Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain). (versi Dep. Agama RI)

17:62. Dia (iblis) berkata: "Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil." (versi Dep. Agama RI)

Bagaimana orang bisa mengetahui cara shalat dalam Al Qur’an? Sudah dijelaskan dalam blog ini bahwa waktu dan cara shalat juga ada dalam Al Qur’an. Implementasi cara shalat yang dijelaskan dalam Al Qur’an memang berpotensi melahirkan variasi cara shalat. Variasi cara shalat bukanlah suatu masalah sepanjang cara shalat tersebut berdasarkan petunjuk Allah dalam Al Qur’an. Artinya, cara shalat yang mengikuti petunjuk Allah tidak akan membuat orang menjadi sesat. Sudah dijelaskan bahwa orang yang mengikuti petunjuk Allah tidak akan sesat.

Jika dipikir-pikir, apakah cara shalat para Rasul Allah sama? Tidak ada penjelasan tentang hal ini dalam Al Qur’an. Jika mereka hidup pada waktu yang sama, apakah cara shalat mereka seragam? Rasa-rasanya, cara shalat mereka akan bervariasi dan itu tidak akan menjadi masalah. Jadi, jika kita mempunyai cara shalat berbeda karena mengikuti petunjuk Allah dalam Al Qur’an, tidak perlu ada yang dipermasalahkan.

Penulis kemudian teringat pada para Rasul Allah sebelum Nabi Muhammad. Mengapa di dalam Al Qur’an tidak ada informasi tentang kitab hadis Isa dan kitab hadis Musa? Apakah orang pada jaman dahulu tidak bisa mengamalkan ajaran dalam kitab Injil dan kitab Taurat karena tidak ada kitab hadis Isa dan kitab hadis Musa? Tentu saja, bisa. Bagi penulis, ini merupakan bukti bahwa kitab hadis para Rasul Allah memang tidak pernah ada. Bukti tersebut diperkuat lagi dengan kesaksian Nabi Muhammad pada hari kiamat kelak. Dalam kesaksiannya, Nabi Muhammad hanya akan menyebutkan satu kitab saja, yaitu Al Qur’an (25:29 dan 25:30).

25:29. Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia. (versi Dep. Agama RI)  

25:30. Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan." (versi Dep. Agama RI)   

Demikianlah tanggapan penulis terhadap jawaban penceramah di sebuah stasiun televisi. Barangkali, sang tokoh penceramah tersebut tidak akan pernah membaca makalah ini. Tidak ada maksud tertentu dengan penulisan makalah ini selain untuk saling ingat-mengingatkan. Jika ada perubahan persepsi pada diri penulis, makalah ini akan direvisi.