Rabu, 30 Agustus 2017

SHAFAA DAN MARWA

Pada kesempatan ini, penulis akan belajar bahasa Arab dengan cara menerjemahkan Al Qur’an ayat 2:158. Ayat 2:158 dipilih karena ada kata-kata bahasa Arab yang belum diterjemahkan atau hasil terjemahan yang menggunakan kata berasal dari bahasa Arab dalam terjemahan versi Dep. Agama RI. Berikut ini adalah transliterasi 2:158 beserta terjemahan versi Dep. Agama ayat tersebut.

002.158 Inna a(l)[ss]af[a] wa(a)lmarwata min shaAA[a]-iri All[a]hi faman [h]ajja albayta awi iAAtamara fal[a] jun[ah]a AAalayhi an ya[tt]awwafa bihim[a] waman ta[t]awwaAAa khayran fa-inna All[a]ha sh[a]kirun AAaleem(un) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

2:158. Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syi'ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-'umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa'i antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui. (versi Dep. Agama RI)

Dalam naskah ini, hasil terjemahan per kata dan per frasa versi penulis ditampilkan lebih dahulu, disusul kemudian oleh penjelasannya. Hasil terjemahan per kata dan per frasa versi penulis beserta keterangan yang dianggap penting adalah sebagai berikut.

AYAT 2:158
TERJEMAHAN
KETERANGAN
inna 
sesungguhnya

a(l)[ss]af[a]
kebersihan
kata benda,
akar kata sad-fa-waw, to clear,
safaa’ ([s]af[a]-) = clearness
(Wehr & Cowan 1976 hal. 519)
wa
dan

(a)lmarwata
tempat untuk
memuaskan dahaga
active participle,
prefiks ma (tempat) + kata kerja
berakar kata ra-waw-ya,
to quench one’s thirst
(memuaskan dahaga seseorang)
(Wehr & Cowan 1976 hal.369)

min
bagian dari

shaAA[a]-iri 
ajaran-ajaran
yang ada dalam
bisikan hati
Kata benda, akar kata sh-ayn-ra,
to learn or understand intuitively
(Wehr & Cowan  edisi IV hal. 553,
jamak dari sha’irah
(Wehr & Cowan 1976 hal. 473)
All[a]hi 
Allah

faman 
maka siapa

[h]ajja 
(dia) telah mengunjungi
akar kata ha-jim-jim,
to visit (kamus Brill hal. 190)
doubled verb,
bentuk I orang ketiga tunggal,
perfect tense,
albayta 
rumah tersebut

awi 
atau

iAAtamara 
(dia) mendiami
akar kata ayn-mim-ra,
to inhabit
(Wehr & Cowan 1976 hal. 643)
bentuk VIII orang ketiga tunggal,
imperfect tense,
fal[a] 
maka bukan

jun[ah]a 
pelanggaran

AAalayhi 
pada dia

an 
jika

ya[tt]awwafa 
menjelajahi
akar kata tay-waw-fa,
to wander
(Wehr & Cowan 1976 hal. 574),
bentuk V, orang ketiga tunggal.
imperfect tense
bihim[a]
dengan keduanya
Preposisi bi (dengan),
kata ganti orang ketiga dualis
him[a](keduanya)
waman 
dan siapa

ta[t]awwaAAa 
telah mematuhi
Akar kata ta-waw-ayn, to obey
(Wehr & Cowan 1976 hal. 572),
bentuk V, orang ketiga tunggal,
perfect tense
khayran 
kebajikan

fa-inna 
maka sesungguhnnya

All[a]ha 
Allah

sh[a]kirun 
yang berterima kasih

AAaleem(un)
yang mengetahui


Beberapa penjelasan tambahan yang dianggap penting diadakan. Sebelumnya, perlu disampaikan bahwa kutipan transliterasi di atas sudah mengalami beberapa perubahan dari aslinya karena masalah teknis dalam proses peng-copy-an dari program Al Qur’an viewer ke msword. Tanda garis bawah (underline) “_” berubah menjadi tanda “[ ]”. Misalnya, s menjadi [s], a menjadi [a], dan t menjadi [t]. Untuk mempermudah penulisan, penulis menggunakan transliterasi hasil peng-copy-an di atas.

Kata a(l)[ss]af[a] tersusun oleh artikel al dan kata benda [s]af[a]-. Simbol “-“ adalah transliterasi dari huruf hamzah. Huruf hamzah dalam [s]af[a]- merepresentasikan tanda berhenti dalam pengucapan (glottal stop), bukan sebuah akar kata. Menurut kamus Wehr & Cowan 1976 hal. 519, [s]af[a]- berarti kebersihan (clearness). Menurut penulis, kata a(l)[ss]af[a] berasal penggabungan dari [s]af[a]-an dan artikel al. Kemudian.dengan adanya artikel al, bunyi n (nunation) menjadi hilang dan bunyi glottal stop “-“ atau a’ tidak dibaca karena mengikuti klaster bunyi a panjang. Oleh sebab itu, a(l)[ss]af[a] diterjemahkan menjadi kebersihan.

Kata (a)lmarwata berasal dari artikel al dan marwatan. Kata marwatan adalah kata benda berasal dari penggabungan prefiks ma dan kata berakar kata ra-waw-ya, dengan pola maf’alatan. Dengan pola tersebut, ma dan akar kata ra-waw-ya akan menjadi marwayatan. Selanjutnya, marwayatan menjadi marwaatan. Artikel al dan marwaatan bergabung menjadi almarwaata. Kata almarwaata kemudian menjadi almarwata setelah klaster aa direduksi menjadi a. Prefiks ma menerangkan tempat dan akar kata ra-waw-ya berarti memuaskan dahaga seseorang (to quench one’s thirst). Oleh karena iu,  (a)lmarwata diterjemahkan menjadi tempat untuk memuaskan dahaga.

Kata shaAA[a]-iri adalah kata benda bentuk jamak berakar kata akar kata sh-ayn-ra. Kata berakar kata sh-ayn-ra berarti mempelajari atau memahami secara intuitif (berdasarkan bisikan hati) (to learn or understand intuitively). Dengan demikian, shaAA[a]-iri dapat diartikan sama dengan ajaran-ajaran atau pengetahuan-pengetahuan yang diketahui dengan cara mendengarkan bisikan hati. Oleh sebab itu, shaAA[a]-iri diterjemahkan menjadi ajaran-ajaran yang ada dalam bisikan hati.

Penulis tidak menggunakan arti shaAA[a]-iri dalam kamus Wehr & Cowan 1976, yaitu upacara keagamaan (religious ceremony) karena a(l)[ss]af[a] dan (a)lmarwata adalah bentuk kebajikan. Dalam bagian akhir terjemahan di atas, ada frasa mematuhi kebajikan. Menurut penulis, kebajikan yang dimaksud adalah a(l)[ss]af[a] dan (a)lmarwata.

Jika kata-kata dalam bahasa Arab dihilangkan dan kemudian dirangkaikan, hasilnya akan menjadi seperti berikut ini.

Sesungguhnya kebersihan dan tempat untuk memuaskan dahaga bagian dari ajaran-ajaran yang ada dalam bisikan hati Allah maka siapa (dia) telah mengunjungi rumah tersebut atau (dia) mendiami maka bukan pelanggaran pada dia jika menjelajahi dengan keduanya dan siapa telah mematuhi kebajikan maka sesungguhnnya Allah yang berterima kasih yang mengetahui

Selanjutnya, penyesuaian dengan tata bahasa Indonesia dilakukan. Hasilnya adalah terjemahan versi penulis seperti berikut ini.

Sesungguhnya, kebersihan dan tempat untuk memuaskan dahaga adalah bagian dari ajaran-ajaran Allah yang ada dalam bisikan hati. Maka, siapa yang telah mengunjungi rumah tersebut atau mendiami, maka bukan pelanggaran pada dia jika menjelajahi dengan keduanya. Dan siapa telah mematuhi kebajikan, maka sesungguhnnya Allah adalah yang berterima kasih dan yang mengetahui. (terjemahan versi penulis)

Terjemahan 2:158 versi penulis menerangkan bahwa ada dua bentuk kebajikan yang boleh dilakukan oleh orang yang telah mengunjungi Rumah Allah atau orang yang mendiaminya, yaitu mewujudkan kebersihan dan memberikan tempat untuk memuaskan dahaga. Rumah tersebut adalah Rumah-Ku atau Rumah Allah (2:125). Kebajikan tersebut dilakukan sambil menjelajahi Rumah Allah. Kedua kebajikan tersebut adalah bagian dari ajaran Allah yang dapat diketahui dengan cara menggunakan intuisi.

Penulis mengakhiri makalah ini dengan menyampaikan bahwa terjemahan 2:158 versi penulis tersebut berbeda dengan terjemahan-terjemahan lain yang pernah ada. Apabila ada perubahan persepsi pada diri penulis, makalah ini akan direvisi.

Minggu, 30 Juli 2017

PENERIMA SEDEKAH

Sambil belajar bahasa Arab, penulis kali ini akan menerjemahkan ayat 9:60. Berikut ini adalah kutipan terjemahan 9:60 versi Dep. Agama RI dan transliterasi ayat tersebut.

9:60. Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (versi Dep. Agama RI)

009.060 Innam[a] a(l)[ss]adaq[a]tu lilfuqar[a]-i wa(a)lmas[a]keeni wa(a)lAA[a]mileena AAalayh[a] wa(a)lmu-allafati quloobuhum wafee a(l)rriq[a]bi wa(a)lgh[a]rimeena wafee sabeeli All[a]hi wa(i)bni a(l)ssabeeli faree[d]atan mina All[a]hi wa(A)ll[a]hu AAaleemun [h]akeemun (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

Yang menjadi latar belakang penerjemahan tersebut adalah bahwa penulis merasa ragu-ragu terhadap hasil terjemahan 9:60 versi Dep. Agama RI. Perlu diperhatikan bahwa kata zakat (berasal dari bahasa Arab) ada dalam terjemahan versi Dep. Agama RI tetapi tidak ada dalam transliterasi 9:60. Selain itu, masih ada kata bahasa Arab yang belum diterjemahkan, yaitu mu’allaf.

Berikut ini adalah hasil terjemahan 9:60 versi penulis.

009.060
inna = sesungguhnya
m[a] = apa-apa yang
a(l)[ss]adaq[a]tu = tulus
li = untuk
lfuqar[a]-i = orang-orang yang berkekurangan yang tidak meminta-minta
wa = dan
(a)lmas[a]keeni = orang-orang yang berkekurangan yang meminta-minta
wa = dan
(a)lAA[a]mileena = orang-orang yang bekerja
AAalayh[a] = pada dia (wanita)
wa = dan
(a)lmu-allafati = seorang (wanita) yang disukai
quloobuhum = hati mereka (laki-laki)
wa = dan
fee = dalam
a(l)rriq[a]bi = pengamatan-pengamatan
wa = dan
(a)lgh[a]rimeena = orang-orang yang membayar utang
wa = dan
fee = demi
sabeeli = jalan
All[a]hi = Allah
wa = dan
(i)bni a(l)ssabeeli = pengembara
faree[d]atan = sebuah ketentuan
mina = dari
All[a]hi = Allah
wa = dan
(A)ll[a]hu = Allah
AAaleemun = yang mengetahui
[h]akeemun = yang mengadili

Jika kata-kata bahasa Arab dihilangkan, hasilnya akan menjadi seperti berikut ini.

Sesungguhnya apa-apa yang tulus untuk orang-orang yang berkekurangan yang tidak meminta-minta dan orang-orang yang berkekurangan yang meminta-minta dan orang-orang yang bekerja pada dia (wanita) dan seorang (wanita) yang disukai hati mereka (laki-laki) dan dalam pengamatan-pengamatan dan orang-orang yang membayar utang dan demi jalan Allah dan pengembara sebuah ketentuan dari Allah dan Allah yang mengetahui yang mengadili

Setelah disesuaikan dengan tata bahasa Indonesia, hasilnya menjadi seperti berikut ini.

Sesungguhnya, apa-apa yang tulus untuk orang-orang yang berkekurangan yang tidak meminta-minta, orang-orang yang berkekurangan yang meminta-minta, orang-orang yang bekerja pada dia yang wanita, seorang wanita yang disukai hati mereka yang laki-laki dan dalam pengamatan-pengamatan, orang-orang yang membayar utang dan demi jalan Allah, dan pengembara adalah sebuah ketentuan dari Allah. Allah adalah yang mengetahui dan yang mengadili.

Dengan demikian, terjemahan 9:60 versi penulis adalah seperti berikut ini.

Sesungguhnya, apa-apa yang tulus untuk orang-orang yang berkekurangan yang tidak meminta-minta, orang-orang yang berkekurangan yang meminta-minta, orang-orang yang bekerja pada dia yang wanita, seorang wanita yang disukai hati mereka yang laki-laki dan dalam pengamatan-pengamatan, orang-orang yang membayar utang dan demi jalan Allah, dan pengembara adalah sebuah ketentuan dari Allah. Allah adalah yang mengetahui dan yang mengadili. (versi penulis)

Penjelasan tentang penerjemahan di atas perlu dilakukan. Kamus yang digunakan adalah kamus Arab-Inggris versi Wehr-Cowan 1976. Buku pelajaran tata bahasa Arab yang paling banyak digunakan adalah “Arabic: An Essential Grammar” karya Faruk Abu Chacra (2007).

Pertama, kata m[a] adalah kata ganti relatif (relative pronoun) yang di sini diartikan sama dengan apa-apa yang.  Kata a(l)[ss]adaq[a]tu adalah kata sifat jamak yang  mempunyai akar kata shad-dal-qaf yang berarti tulus (be sincere) (Wehr-Cowan 1976 halaman 508).

Kata alfuqar[a]-i dan almas[a]keeni mempunyai arti dalam bahasa Inggris yang hampir sama, yaitu poor. Penulis mengartikan kata poor sama dengan yang berkekurangan. Menurut penulis, penggunaan kata fakir dan kata miskin yang berasal dari bahasa Arab dalam terjemahan ini akan masih menimbulkan pertanyaan tentang perbedaan arti antara kedua kata tersebut. Untuk membedakan arti alfuqar[a]-i dan almas[a]keeni penulis menggunakan arti akar kata kedua kata tersebut. Kata alfuqar[a]-i adalah bentuk jamak yang berakar kata fa-qaf-ra yang bermakna melubangi (to perforate) (Wehr-Cowan 1976 halaman 722-723), sedangkan almas[a]keeni berakar kata mim-siin-kaf yang berarti merebut (to grab) (Wehr-Cowan 1976 halaman 908-909). Secara harfiah, orang yang tergolong alfuqar[a]-i mengatasi masalah kekurangannya dengan cara membuat lubang, sedangkan orang yang tergolong dalam almas[a]keeni mengatasi masalah kekurangannya dengan cara merebut. Tentu saja, itu semua hanyalah ibarat. Membuat lubang adalah ibarat untuk menggambarkan usaha pemecahan masalah dengan kekuatan diri sendiri. Merebut adalah ibarat untuk menggambarkan usaha pemecahan masalah dengan meminta pihak lain. Oleh sebab itu, alfuqar[a]-i diterjemahkan menjadi orang-orang yang berkekurangan yang tidak meminta-minta, sedangkan almas[a]keeni diterjemahkan menjadi orang-orang yang berkekurangan yang meminta-minta.

Kata (a)lAA[a]mileena berakar kata ayn-mim-lam yang berarti bekerja (to work) (Wehr-Cowan 1976 halaman 644). Kata AA[a]mileena terbentuk oleh kata kerja AA[a]mala (‘aamala) (bentuk III) dan sufiks eena (iina). Sufiks eena (iina) menerangkan bahwa kata yang terbentuk adalah kata benda jamak maskulin. Oleh karena itu, (a)lAA[a]mileena diterjemahkan menjadi orang-orang yang bekerja. Kata AAalayh[a] tersusun oleh preposisi AAalaa (pada) dan sufiks untuk kata ganti orang ketiga tunggal feminin h[a] (haa). Kata AAalaa berubah menjadi AAalay karena telah bergabung dengan sebuah kata ganti (pronoun). Oleh sebab itu, AAalayh[a] diterjemahkan menjadi pada dia yang wanita.

Kata (a)lmu-allafati berakar kata alif-lam-fa yang mempunyai arti sebagai kata kerja menyukai (to like) (Wehr-Cowan 1976 halaman 23). Kata tersebut adalah suatu kata benda berbentuk partisipel pasif (passive participle) sehingga kata kerja tersebut dapat diartikan sama dengan disukai. Selain itu, kata tersebut berbentuk tunggal (singular) karena diakhiri sufiks ati, bukan aati. Artinya, jika tanpa artikel alif lam, kata tersebut akan menjadi mu-allafatin (tunggal), bukan mu-allafaatin (jamak). Hal ini didasari pada penjelasan dalam buku “Arabic: An Essential Grammar” karya Faruk Abu Chacra (2007) di halaman 73. Di samping itu, kata tersebut ber-gender feminin. Oleh sebab itu, kata (a)lmu-allafati diterjemahkan menjadi seorang wanita yang disukai.

Kata quloobuhum tersusun oleh quloobu dan sufiks hum (mereka, maskulin). Kata quloob adalah bentuk jamak kata berakar kata qaf-lam-ba yang berarti hati (heart) (Wehr-Cowan 1976 halaman 73). Atas dasar itu, quloobuhum diterjemahkan menjadi hati mereka yang laki-laki.

Kata a(l)rriq[a]bi adalah kata bentuk jamak dari kata berakar kata ra-qaf-ba. Kata berakar kata ra-qaf-ba berarti mengamati (to observe). Dalam Wehr-Cowan 1976 halaman 353 disebutkan bahwa riq[a]b berarti leher (neck) atau budak (slave). Penulis memandang bahwa arti tersebut jauh dari arti berdasarkan akar katanya. Kata mengamati dan leher atau mengamati dan budak tidak menunjukkan hubungan arti yang jelas. Kata yang mempunyai kemiripan struktur kata dengan riq[a]b dan berakar kata ra-qaf-ba adalah riqba (observation) (Wehr-Cowan 1976 halaman 353). Penulis berpendapat bahwa riq[a]b adalah bentuk jamak dari riqba. Oleh sebab itu, a(l)rriq[a]bi diterjemahkan menjadi pengamatan-pengamatan.

Kata gh[a]rimeena tersusun oleh gh[a]rim dan eena. Gh[a]rim berakar kata ghayn-ra-mim yang berarti membayar denda dan semacamnya (to pay a fine dan the like) (Wehr-Cowan 1976 halaman 671). Menurut penulis, utang termasuk dalam kategori denda dan semacamnya sehingga kata tersebut diterjemahkan menjadi yang membayar hutang. Sufiks eena menerangkan bahwa kata benda di depannya adalah jamak maskulin. Oleh sebab itu, (a)lgh[a]rimeena diterjemahkan menjadi orang-orang yang membayar utang.

Kata sabeel berakar kata siin-ba-lam dan berarti cara atau jalan (way) (Wehr-Cowan 1976 halaman 396). Frasa (i)bni a(l)ssabeeli berarti pengembara (wanderer) (Wehr-Cowan 1976 halaman 76). Barangkali, frasa tersebut berarti seperti itu karena merupakan perpaduan antara anak ((i)bni) dan jalan (a(l)ssabeeli).

Kata faree[d]atan berakar kata fa-ra-dad yang bermakna menentukan (to determine) (Wehr-Cowan 1976 halaman 705). Sebagai kata benda, faree[d]atan berarti sebuah ketentuan.

Sekarang, pembahasan tentang kandungan ayat 9:60 dibahas. Pertama, yang dimaksud dengan apa-apa yang tulus adalah segala sesuatu yang diberikan secara tulus. Dengan demikian, kata sedekah yang sudah dikenal orang sekarang ini mempunyai arti sama dengan segala sesuatu yang diberikan secara tulus.

Dalam ayat tersebut terkandung informasi tentang segala sesuatu yang diberikan secara tulus (sedekah) untuk sejumlah kategori orang yang ditentukan Allah.  Kategori-kategori tersebut dibagi menjadi 2 golongan, yaitu yang dalam pengamatan dan jauh dari pengamatan. Dengan demikian, penerima sedekah adalah sebagai berikut:
1. Yang dalam pengamatan
a. orang-orang yang berkekurangan yang tidak meminta-minta,
b. orang-orang yang berkekurangan yang meminta-minta,
c. orang-orang yang bekerja pada dia yang wanita, dan
d. seorang wanita yang disukai hati mereka yang laki-laki.
2. Yang jauh dari pengamatan
a. orang-orang yang membayar utang dan demi jalan Allah,
b. dan pengembara

Penerima sedekah yang dalam pengamatan adalah orang yang ada dalam pengamatan pemberi sedekah. Mereka mencakup istri, saudara, teman, atau tetangga. Penerima sedekah yang jauh dari pengamatan adalah mereka yang sulit diketahui oleh orang banyak. Mereka mencakup orang yang berutang dan pengembara. Orang yang berutang hanya bisa diamati oleh orang tertentu saja, misalnya pemberi utang dan anggota keluarga yang berutang karena yang berutang akan berusaha merahasiakan keadaannya. Pengembara hanya bisa diamati oleh orang tertentu dan pada waktu tertentu saja.

Barangkali, yang perlu dijelaskan lagi adalah yang dimaksud dengan orang-orang yang membayar utang dan demi jalan Allah. Frasa demi jalan Allah menerangkan bahwa pemberi sedekah untuk orang yang berutang adalah pemberi utang. Cara pemberian sedekah yang dilakukan oleh orang yang memberi utang kepada orang yang berutang adalah dengan memberikan semua utang kepada orang yang berutang secara tulus dan mengembalikan semua bunga utang jika bunga utang sudah terlanjur dibayarkan.

Yang dimaksud dengan frasa seorang wanita yang disukai hati mereka yang laki-laki, menurut penulis, adalah seorang istri. Selain itu, frasa tersebut menerangkan bahwa jumlah istri tiap-tiap laki-laki tersebut adalah satu. Perlu diperhatikan bahwa ada artikel definit (definite article) alif lam (atau the dalam bahasa Inggris) dalam kata (a)lmu-allafati.

Menurut penulis, yang dimaksud dengan orang-orang yang bekerja pada dia yang wanita adalah orang-orang yang membantu pekerjaan ibu rumah tangga, yang pada saat itu mungkin adalah para budak. Untuk jaman sekarang, mereka adalah pembantu rumah tangga atau asisten rumah tangga. Menurut penulis, untuk keadaan masyarakat sekarang, para buruh yang bekerja pada perusahaan atau pemberi pekerjaan bisa termasuk golongan ini. Alasannya adalah bahwa wanita analog dengan perusahaan atau pemberi pekerjaan dan para buruh mempunyai pendapatan yang terbatas.

Sebagai penutup, penulis ingin menyampaikan bahwa hasil terjemahan versi penulis berbeda dengan yang versi Dep. Agama RI. Apabila terjadi perubahan persepsi pada diri penulis, makalah ini akan direvisi.