Jumat, 07 Agustus 2015

SHALAT JUMAT

Walaupun masalah shalat Jumat sudah dibahas dalam makalah tentang waktu dan cara shalat dalam blog ini, penulis akan membahasnya lagi pada kesempatan ini dengan sudut pandang berbeda, dengan maksud agar terbangun persepsi tentang shalat Jumat yang lebih meyakinkan. Shalat Jumat diyakini oleh sebagian besar orang beragama islam sebagai kegiatan ibadah yang didasari oleh perintah Allah dalam dalam Al Qur’an. Benarkah shalat Jumat ada dalam Al Qur’an? Makalah ini akan menjawab pertanyaan tersebut.

Istilah shalat Jumat ada dalam Al Qur’an terjemahan versi Dep. Agama RI, yaitu dalam ayat 62:9. Kutipannya adalah sebagai berikut.

62:9. Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (versi Dep. Agama RI)

Jika terjemahan di atas adalah benar, keberadaan shalat Jumat memang ada dalam Al Qur’an. Akan tetapi, benarkah terjemahan versi Dep. Agama tersebut? Penulis akan mencoba menerjemahkannya sendiri pada bagian yang berkatan dengan istilah shalat Jumat saja. Untuk itu, transliterasi ayat 62:9 ditampilkan berikut ini.

062.009 Y[a] ayyuh[a] alla[th]eena [a]manoo i[tha] noodiya li(l)[ss]al[a]ti min yawmi aljumuAAati fa(i)sAAaw il[a] [th]ikri All[a]hi wa[th]aroo albayAAa [tha]likum khayrun lakum in kuntum taAAlamoon(a) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

Yang akan diterjemahkan adalah frasa yang bergaris bawah saja. Jika frasa tersebut disusun secara vertikal, tampilannya akan seperti berikut ini.

Y[a] ayyuh[a]
alla[th]eena
[a]manoo
 i[tha]
 noodiya
 li(l)
[ss]al[a]ti
 min
yawmi
aljumuAAati

Setelah dilakukan riset kecil-kecilan dari berbagai referensi tentang bahasa Arab, penulis memperoleh hasil terjemahan sebagai berikut.

Y[a] ayyuh[a] = wahai
alla[th]eena = orang-orang yang
[a]manoo = beriman
 i[tha] = jika
 noodiya = telah dipanggil
 li(l) = untuk
[ss]al[a]ti = shalat
 min = dari
yawmi = hari
aljumuAAati = Jumat

Jika disusun, hasil terjemahan di atas akan menjadi : “Wahai orang-orang yang beriman, jika telah dipanggil untuk shalat dari hari Jumat”. Tampak dalam frasa tersebut bahwa tidak ada istilah shalat Jumat. Yang ada adalah shalat dari hari Jumat/. Ayat 62:9 tidak menyebut ibadah shalat Jumat yang dipraktekkan oleh sebagian besar orang beragama islam. Jadi, shalat Jumat tidak ada dalam Al Qur’an.

Arti frasa shalat dari hari Jumat adalah shalat-shalat yang diperintahkan yang ada selama hari Jumat.  Shalat-shalat yang ada selama hari Jumat adalah sama dengan shalat-shalat yang disebut dalam Al Qur’an, yaitu shalat isya (petang), shalat wusta (pertengahan), dan shalat fajar. Dengan demikian, shalat dari hari Jumat dapat berupa satu atau dua atau tiga shalat yang ada selama hari Jumat.

Dari sini bisa disampaikan bahwa frasa Wahai orang-orang yang beriman, jika telah dipanggil untuk shalat dari hari Jumat menjelaskan tentang peringatan kepada orang-orang beriman jika telah dipanggil untuk shalat selama hari Jumat. Panggilan untuk shalat tersebut dapat berupa suara manusia atau tanda-tanda alam. Dengan kalimat lain, frasa tersebut menjelaskan tentang peringatan kepada orang-orang beriman jika telah tiba waktu untuk shalat selama hari Jumat

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, “Mengapa hari Jumat?”Mengapa tidak hari senin, selasa, atau hari-hari yang lain? Apa yang istimewa dengan hari Jumat? Jawabannya ada pada kata-kata berikutnya dalam ayat 62:9. Disebutkan dalam ayat tersebut bahwa ada kegiatan jual beli. Artinya, hari Jumat yang dimaksud adalah hari Jumat yang berlangsung jual beli. Kegiatan jual beli tersebut hanya terjadi selama hari Jumat. Dengan demikian, hari Jumat di sini menjadi sangat penting karena terdapat aktivitas jual beli yang tidak terjadi pad waktu yang lain. Jadi, ada aktivitas jual beli sangat penting yang hanya terjadi selama hari Jumat.

Aktivitas jual beli sangat penting apakah yang hanya terjadi selama hari Jumat? Penulis akan mencoba menjawabnya dengan melakukan penelitian sederhana dengan cara browsing di internet. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada jaman dahulu ada peristiwa penting yang terjadi setahun sekali di Arab. Peristiwa itu adalah penyelenggaraan pasar malam Ukaz (Ukaz fair). Istilah lain dari Ukaz adalah Okadh. Pasar tersebut berlangsung 21 hari di suatu tempat antara Ta’if dan Nakhlah dan dibuka pada hari pertama bulan Zulkaidah. Di pasar tersebut terjadi kegiatan jual beli dan pembacaan puisi. Pasar malam Ukaz dihapus oleh Nabi Muhammad.  Informasi tentang pasar malam Ukaz tersebut diperoleh dari buku A Dictionary of Arab karya Thomas Patrick Hughes (1885) yang bisa dibaca melalui Google Books di link
Menurut penulis, aktivitas jual beli yang disebut dalam 62:9 terjadi di pasar malam Ukaz.

Apakah pasar malam Ukaz terjadi pada hari Jumat? Pasar malam Ukaz tidak terjadi hanya pada hari Jumat karena pasar tersebut berlangsung 21 hari secara terus menerus. Dengan demkian, kegiatan jual beli yang disebut dalam 62:9 tidak terjadi hanya pada hari Jumat saja. Jika bukan hari Jumat, itu hari apa? Untuk menjawabnya, penulis menggunakan arti kata jumat, yaitu berkumpul. Oleh sebab itu, penulis berpendapat bahwa hari yang dimaksud dalam 62:9 adalah hari berkumpul. Hari berkumpul adalah istilah yang digunakan untuk menyatakan waktu berdasarkan aktivitas berkumpul, bukan nama hari dalam satu minggu. Perlu diingat bahwa pasar adalah aktivitas berkumpul untuk melakukan jual beli. Oleh sebab itu, terjemahan frasa Y[a] ayyuh[a] alla[th]eena [a]manoo i[tha] noodiya li(l)[ss]al[a]ti min yawmi aljumuAAati yang tepat adalah Wahai orang-orang yang beriman, jika telah dipanggil untuk shalat dari hari berkumpul.

Jika yang dimaksud dalam 62:9 adalah hari berkumpul, bagaimana dengan keberadaan nama hari Jumat? Apakah pada waktu itu ada nama hari Jumat seperti sekarang ini? Lagi-lagi, penulis melakukan penelitian kecil-kecilan tentang perkembangan nama-nama hari dalam seminggu di Arab. Hasilnya ditampilkan dalam Tabel 1. Pembaca yang ingin membaca langsung sumbernya dipersilakan mengunjungi situs berikut ini.

Tabel 1. Perkembangan nama hari dalam seminggu di Arab
No.
Kuno
Sebelum Islam
Sesudah Islam
1
awwal
Yaum al-ahad
Yaum al-ahad
2
ahuwan or awhad
Yaum al-ithnayn
Yaum al-ithnayn
3
jubaar
Yaum al-thalaathaa
Yaum al-thalaathaa
4
dubaar
Yaum al-arba’aa
Yaum al-arba’aa
5
mu'nis
Yaum al-khamiis
Yaum al-khamiis
6
aroobah
Yaum al ‘aruuba
Yaum al jum’a
7
sheeyar
Yaum al-sabt
Yaum al-sabt
Yaum berarti hari.

Tabel di atas memperlihatkan bahwa nama Yaum al jum’a (hari Jumat) ada setelah agama islam ada. Sebelumnya, Yaum al jum’a (hari Jumat) bernama Yaum al ‘aruuba. Boris Rosenfeld, peneliti Religion dan The Seven-day Week yang dijadikan referensi tentang nama-nama hari dalam seminggu di Arab dalam makalah ini, menerangkan bahwa perubahan dari Yaum al ‘aruuba menjadi Yaum al jum’a (hari Jumat) terjadi setelah kehadiran islam. Jika demikian, ada kemungkinan sangat besar bahwa pada saat ayat tersebut diturunkan, nama hari ke 6 adalah Yaum al ‘aruuba.

Sampai di sini dapat disampaikan kembali bahwa shalat Jumat tidak ada dalam Al Qur’an. Yang ada dalam Al Quran adalah shalat dari hari berkumpul. Walaupun demikian, makalah ini perlu dilanjutkan karena akibat penerjemahan yang keliru tampaknya juga berpengaruh pada terjemahan ayat-ayat berikutnya. Berikut ini kutipan ayat-ayat berikutnya.

62:10. Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (versi Dep. Agama RI)

62:11. Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: "Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan", dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezki. (versi Dep. Agama RI)

Penulis akan menyoroti frasa sedang berdiri (berkhotbah). Frasa terjebut sangat jelas dipengaruhi oleh penafsiran keberadaan shalat Jumat. Sudah diketahui bersama bahwa dalam shalat Jumat yang dijalankan oleh sebagian besar orang beragama islam ada orang yang berkotbah. Benarkah terjemahan 62:11 versi Dep. Agama RI tersebut? Penulis akan menerjemahkan kata yang diterjemahkan menjadi sedang berdiri oleh penerjemah Dep. Agama RI. Kata berkotbah dalam tanda kurung adalah hanya tambahan penerjemah Dep. Agama saja sehingga tidak perlu dibahas. Untuk itu, transliterasi ayat tersebut ditampilkan berikut ini.

062.011 Wa-i[tha] raaw tij[a]ratan aw lahwan infa[dd]oo ilayh[a] watarakooka q[a]-iman qul m[a] AAinda All[a]hi khayrun mina allahwi wamina a(l)ttij[a]rati wa(A)ll[a]hu khayru a(l)rr[a]ziqeen(a) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

Kata yang diterjemahkan menjadi berdiri adalah q[a]-iman. Kutipan arti kata berdasarkan akar kata Qaf-Waw-Miim dalam project root list di http://www.studyquran.co.uk/PRLonline.htm adalah sebagai berikut.

Qaf-Waw-Miim = stand still or firm, rose/stand up, managed/conducted/ordered/regulated/superintended, established, made it straight/right, maintain/erect/observe/perform, set up, people/community/company, abode, stature/dignity/rank. aqama - to keep a thing or an affair in a right state.

qama vb. (1)
perf. act. 2:20, 4:142, 4:142, 5:6, 18:14, 72:19
impf. act. 2:275, 2:275, 4:102, 4:127, 5:107, 9:84, 9:108, 9:108, 14:41, 26:218, 27:39, 30:12, 30:14, 30:25, 30:55, 34:46, 40:46, 40:51, 45:27, 52:48, 57:25, 73:20, 78:38, 83:6
impv. 2:238, 73:2, 74:2
n.vb. 51:45
pcple. act. 3:18, 3:39, 3:75, 3:113, 10:12, 11:71, 11:100, 13:33, 18:36, 22:26, 39:9, 41:50, 59:5, 62:11, 70:33

Penerjemahan q[a]-iman menjadi sedang berdiri memang berdasar karena q[a]-iman memang berarti berdiri. Hanya saja, kata sedang berdiri dapat mendorong orang untuk mengartikannya sama dengan keadaan tubuh tegak pada kedua kaki, bukan berbaring atau jongkok. Oleh karena itu, penulis memilih maintain/erect/observe/perform yang berarti memelihara/mendirikan/mematuhi/mengerjakan sebagai arti yang tepat dari q[a]-iman. Dalam hal ini, Rasul Allah adalah orang yang memelihara shalat, mendirikan shalat, mematuhi perintah shalat, mengerjakan shalat di antara orang-orang beriman pada hari berkumpul. Dengan demikian, terjemahan yang lebih tepat untuk q[a]-iman dalam 62:11 menurut penulis adalah mendirikan shalat. Jika terjemahan versi Dep. Agama RI tersebut direvisi dengan penafsiran arti q[a]-iman menurut penulis, hasilnya akan seperti berikut ini.

62:11. Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu mendirikan shalat. Katakanlah: "Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan", dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezki.

Jadi, tidak ada penjelasan tentang Rasul Allah sedang berdiri untuk berkotbah dalam 62:11. Ini menegaskan lagi bahwa ayat 62:9 tidak menjelaskan tentang keberadaan shalat Jumat.

Makalah tentang shalat Jumat ditutup di sini. Sebagai kesimpulan, shalat Jumat tidak ada dalam Al Qur’an. Jika terjadi perubahan persepsi pada diri penulis, makalah ini akan direvisi.

Selasa, 07 Juli 2015

BENANG PUTIH BENANG HITAM

Istilah benang putih dan benang putih terdapat dalam Al Qur’an terjemahan versi Dep. Agama RI. Kutipan ayat yang menyebutkannya adalah sebagai berikut.

2:187. Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma'af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa. (versi Dep. Agama RI)

Dijelaskan dalam terjemahan di atas bahwa fajar adalah ketika terang bagi manusia benang putih dari benang hitam. Artinya, fajar didefinisikan sebagai waktu ketika benang putih dari benang hitam tampak terang bagi manusia. Kata yaitu dalam frasa terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar menunjukkan bahwa frasa tersebut dianggap sebagai sebuah definisi. Kemudian, orang akan berpersepsi bahwa puasa dimulai sejak fajar. Benarkah terjemahan tersebut?

Marilah kita jawab pertanyaan tersebut dengan hati-hati. Pertama, kita memperhatikan kata hingga. Kata tersebut menerangkan bahwa sesudah kata hingga ada sesuatu yang berubah atau variabel. Variabel tersebut bersifat berubah dari waktu ke waktu. Variabel tersebut akan berubah dari waktu ke waktu hingga suatu saat mempunyai sifat yang sama dengan sifat yang dijadikan sebagai tolok ukur atau patokan untuk menentukan suatu batas waktu. Yang dijadikan tolok ukur bersifat konstan atau tidak berubah. Dengan demikian, tolok ukur tersebut adalah suatu konstanta. Dalam ayat terjemahan 2:187 di atas, variabelnya adalah kenampakan benang putih sedangkan konstantanya adalah kenampakan benang hitam. Kenampakan benang putih berubah-ubah tergantung pada intensitas cahaya. Di pihak lain, kenampakan benang hitam tidak tergantung pada intensitas cahaya. Pada saat tanpa intensitas cahaya, benang hitam tampak hitam. Demikian pula, pada saat intensitas cahaya banyak, misalnya keadaan pada jam 12 siang dengan langit yang sangat bersih, benang hitam tampak hitam. Selain itu, kata terang juga perlu dibahas. Kata terang di sini bermakna jelas karena benang putih bukan suatu sumber cahaya seperti lampu.

Sekarang kita coba terapkan terjemahan tersebut ketika berpuasa di bulan Ramadhan. Ketika jam 24 malam, benang putih tidak tampak putih. Benang putih pada saat itu akan tampak berwarna kehitam-hitaman. Warna kehitam-hitaman (tidak hitam sama sekali) tersebut disebabkan oleh intensitas cahaya yang sangat lemah. Ketika bulan purnama yang terangpun, warnanya masih tampak kehitam-hitaman. Ketika sinar matahari mulai tampak walaupun matahari belum tampak, atau seriing disebut fajar terbit, sifat kehitam-hitaman benang putih mulai berkurang secara tidak signifikan. Pada saat fajar terbit, langit masih tampak gelap dan bintang-bintang masih tampak. Pada saat fajar terbit, benang putih masih tampak kehitam-hitaman. Sampai keadaan ini, kita akan coba menerapkan terjemahan 2:187 versi Dep. Agama RI  di atas. Apakah benang putih terang bagi kita dari benang hitam ketika fajar terbit? Apakah benang putih jelas bagi kita dari benang hitam ketika fajar terbit?Tidak!. Pada saat fajar terbit, benang putih tidak tampak seperti benang putih. Pada saat fajar terbit, benang putih masih tampak seperti benang yang kehitam-hitaman. Pada saat fajar terbit, benang putih belum berbeda dengan jelas dari benang hitam. Jadi, terjemahan 2:187 versi Dep. Agama RI di atas adalah salah. Oleh sebab itu, penulis merasa perlu untuk mendapatkan sendiri terjemahan yang benar.

Penulis akan mencoba menerjemahkan sendiri bagian ayat 2:187 yang menerangkan batas waktu masih boleh makan dan minum. Pertama-tama, penulis akan menyajikan transliterasi ayat 2:187. Berikut ini adalah transliterasinya.

002.187 O[h]illa lakum laylata a(l)[ss]iy[a]mi a(l)rrafathu il[a] nis[a]-ikum hunna lib[a]sun lakum waantum lib[a]sun lahunna AAalima All[a]hu annakum kuntum takht[a]noona anfusakum fat[a]ba AAalaykum waAAaf[a] AAankum fa(a)l-[a]na b[a]shiroohunna wa(i)btaghoo m[a] kataba All[a]hu lakum wakuloo wa(i)shraboo [h]att[a] yatabayyana lakumu alkhay[t]u al-abya[d]u mina alkhay[t]i al-aswadi mina alfajri thumma atimmoo a(l)[ss]iy[a]ma il[a] allayli wal[a] tub[a]shiroohunna waantum AA[a]kifoona fee almas[a]jidi tilka [h]udoodu All[a]hi fal[a] taqrabooh[a] ka[tha]lika yubayyinu All[a]hu [a]y[a]tihi li(l)nn[a]si laAAallahum yattaqoon(a). (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

Frasa yang akan diterjemahkan adalah [h]att[a] yatabayyana lakumu alkhay[t]u al-abya[d]u mina alkhay[t]i al-aswadi mina alfajri. Jika disajikan per kata secara vertikal, tampilannya adalah sebagai berikut.

[h]att[a]
yatabayyana
lakumu
alkhay[t]u
al-abya[d]u
 mina
alkhay[t]i
al-aswadi
mina
alfajri

Hasil penerjemahan berdasarkan informasi yang diperoleh dari project root list di http://www.studyquran.co.uk/PRLonline.htm., kamus Al Qur’an The Easy Dictionary of the Qur'an (Compiled By Shaikh AbdulKarim Parekh; Translated By (Late) AbdurRasheed Kampte, Dr. Abdulazeez Abdulrahee, dan Shaikh AbdulGhafoor Parekh), dan kamus Al Qur’an di : http://corpus.quran.com/qurandictionary.jsp?q=byn disajikan berikut ini.

[h]att[a] = hingga
yatabayyana = menjadi jelas
lakumu = bagimu (jamak)
alkhay[t]u = benang
al-abya[d]u = putih
 mina = dari
alkhay[t]i = benang
al-aswadi = hitam
mina = dari
alfajri = fajar

Jika disusun, frasa hasil terjemahan tersebut adalah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam dari fajar. Perbedaan dengan terjemahan versi Dep. Agama RI adalah pada kata di depan fajar. Dalam terjemahan penulis, di depan kata fajar adalah dari. Dalam terjemahan Dep. Agama RI, di depan kata fajar adalah yaitu. Penerjemahan kata mina menjadi yaitu adalah suatu kesalahan fatal. Pada kata mina di depan alkhay[t]i diterjemahkan dengan benar tetapi pada kata di depan alfajri, mina diterjemahkan secara salah. Apakah ini kesalahan yang tidak disengaja? Rasa-rasanya, sangat kecil kemungkinan kesalahan tersebut terjadi karena tidak disengaja.

Perbedaan yang lain adalah pada kata sesudah kata hingga. Kata sesudah kata hingga dalam terjemahan versi Dep. Agama RI adalah terang sedangkan sesudah kata hingga dalam terjemahan versi penulis adalah menjadi jelas. Menurut kamus Al Qur’an di http://corpus.quran.com/qurandictionary.jsp?q=byn, yatabayyana berarti becomes distinct, yang dalam bahasa Indonesia berarti menjadi jelas.

Sekarang, kita bahas makna frasa hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam dari fajar. Pertama, frasa hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam adalah bukan definisi fajar. Frasa tersebut menerangkan bahwa ada suatu waktu tertentu dari fajar (sejak dari terbit sampai hilang) yang ditentukan sebagai batas waktu masih boleh makan dan minum. Batas waktu tersebut adalah ketika benang putih tampak jelas oleh kita dari benang hitam.

Untuk menjelaskan makna frasa hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam dari fajar, perlu dibuat model perbedaan kenampakan benang putih dan benang hitam dari waktu ke waktu. Gambar 1 adalah model yang menjelaskan perbedaan kenampakan benang putih dan benang hitam dari waktu, sejak sebelum fajar sampai matahari terbit. Gambaran perbedaan tersebut hanyalah sebuah model, yang dibuat untuk menyederhanakan cara berpikir kita agar mudah dimengerti. Dengan model itu, kita bisa lebih obyektif dalam memahami makna perbedaan kenampakan benang putih dan benang hitam. Gambaran perbedaan kenampakan benang putih dan benang hitam dari waktu ke waktu yang sebenarnya mungkin dapat diamati dengan suatu teknik fotografi tingkat tinggi.


Gambar 1. Model perbedaan kenampakan benang putih dan benang hitam dari waktu ke waktu.

Gambar di atas menerangkan bahwa kenampakan benang hitam tidak tergantung pada intensitas cahaya. Pada saat gelap, benang hitam tampak hitam. Demikian pula, pada saat terang, benang hitam tampak hitam. Di pihak lain, kenampakan benang putih tergantung pada intensitas cahaya. Pada saat gelap, benang putih tampak hitam, sedangkan pada saat terang, benang putih tampak putih. Dalam kenyataan, keadaan di sekitar kita pada waktu malam tidak tampak gelap 100% karena keberadaan cahaya bulan, bintang, lampu penerangan, dan sumber cahaya lain yang mungkin ada. Oleh sebab itu, kenampakan benang putih di alam terbuka pada waktu malam tidak hitam sama sekali. Artinya, model di atas berasumsi bahwa yang dianggap sebagai sumber cahaya adalah hanya sinar matahari.

Gambar 1 juga memperlihatkan bahwa kenampakan benang putih semakin lama semakin berbeda jelas dengan kenampakan benang hitam. Benang putih tampak jelas oleh kita dari benang hitam pada saat matahari terbit. Pada saat matahari terbit, intensitas cahaya matahari yang diserap oleh benang putih membuat mata mempunyai kesan bahwa benang putih tampak seperti warna aslinya. Dengan demikian, pada saat matahari terbit, benang putih tampak putih dan benang hitam tampak hitam. Pada saat matahari terbit, benang putih sudah tampak jelas dari benang hitam. Oleh sebab itu, kita tidak boleh makan dan minum sesudah matahari terbit. Dengan kalimat lain, kita masih boleh makan dan minum hingga sesaat sebelum matahari terbit. Artinya, puasa dimulai sejak matahari terbit.

Kita bisa mengamalkan pedoman yang dibuat Allah dalam 2:187 untuk menentukan batas waktu orang masih boleh makan dan minum. Caranya, kita menggantungkan seutas benang putih di alam terbuka sejak sebelum fajar sampai matahari terbit. Ketika benang putih sudah tampak putih sempurna menurut kita, makan dan minum dihentikan atau puasa sudah dimulai. Walaupun cara tersebut mungkin belum menghasilkan tingkat ketelitian yang tinggi, batas waktu yang diperoleh dengan cara tersebut dapat dipandang sebagai batas waktu yang aman.

Untuk mendapatkan tingkat ketelitian yang tinggi dan untuk mengatasi problem yang muncul ketika cahaya matahari tidak tampak karena terhalang awan atau penyebab lainya, informasi waktu ketika matahari terbit dibutuhkan. Dengan teknologi sekarang ini, menentukan waktu matahari terbit sudah bukan masalah lagi. Di internet, sudah ada situs yang dapat menyebutkan waktu matahari terbit di tempat tertentu, walaupun masih terbatas hanya di kota-kota besar tertentu. Contohnya adalah di . http://www.timeanddate.com/worldclock/sunrise.html. Walaupun masih hanya terbatas di kota-kota besar tertentu, informasi tersebut dapat dijadikan alat bantu untuk menentukan waktu matahari terbit di daerah yang berdekatan dengan kota besar.

Sebenarnya, frasa hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam dari fajar bukan seuatu yang sulit untuk dipahami jika kita benar-benar ingin mengamalkannya. Kuncinya adalah pada pemahaman arti fajar. Fajar adalah waktu sejak fajar terbit (sinar matahari mulai tampak) sampai matahari terbit. Dari sini, kita bisa mengerti bahwa fajar bukan waktu ketika fajar terbit. Fajar mempunyai durasi. Fajar dan fajar terbit adalah dua hal yang berbeda. Artinya, batas waktu masih boleh makan dan minum terjadi pada suatu waktu tertentu dalam waktu fajar, bukan pada saat fajar terbit. Oleh sebab itu, dengan menggunakan benang putih kita bisa mengetahui batas waktu masih boleh makan dan minum selama puasa Ramadhan.

Sebelum ditutup, tidak ada salahnya kita meluangkan waktu untuk membahas informasi yang dipercaya oleh sebagian besar orang. Konon ada kitab hadis yang isinya menjelaskan arti benang putih dan benang hitam. Yang ingin membaca kutipan isi kitab hadis tersebut dipersilakan membacanya di http://muslimafiyah.com/maksud-ayat-membedakan-benang-hitam-dan-benang-putih-adalah-kiasan.html. Dijelaskan dalam isi kitab hadis yang pertama bahwa yang dimaksud dalam ayat 2:187 adalah putihnya siang dan hitamnya malam. Di pihak lain, dijelaskan dalam isi kitab hadis yang kedua bahwa yang dimaksud dalam ayat 2:187 adalah siang dan malam. Penulis masih bingung juga dengan kedua isi kitab hadis kedua tersebut. Maksudnya, putih adalah siang atau benang putih adalah siang? Hitam adalah malam atau benang hitam adalah malam? Kita coba jabarkan di sini. Kemungkinan pertama, putih adalah siang dan hitam adalah malam. Dengan demikian, benang putih adalah benang siang dan benang hitam adalah benang siang. Akan tetapi, siang dan malam tidak mempunyai benang dan tidak menyerupai benang. Jadi, kemungkinan pertama tidak terjadi. Oleh sebab itu, kemungkinan kedua adalah yang terjadi, yaitu bahwa benang putih adalah siang dan benang hitam adalah siang. Jadi, isi kitab hadis tersebut menerangkan bahwa benang putih menggambarkan siang dan benang hitam menggambarkan malam.

Sekarang, marilah kita gunakan informasi dalam kitab tersebut untuk membahas frasa hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam dari fajar. Jika informasi dari kitab hadis tersebut disubstitusikan ke dalam frasa tersebut, hasilnya akan menjadi hingga jelas bagimu siang dari malam dari fajar. Frasa yang dihasilkan tersebut tidak masuk akal karena pada waktu malam, siang tidak ada sehingga tidak ada variabel yang diamati perubahannya. Siang ada setelah malam hilang. Bagaimana jika frasa tersebut diganti dengan hingga jelas bagimu putihnya siang dari hitamnya malam dari fajar. Hasilnya juga tidak masuk akal karena pada waktu malam tidak ada siang. Di samping itu, jika demikian, benang ditafsirkan secara tidak konsisten. Di satu sisi, benang dianggap sebagai siang. Di sisi yang lain, benang dianggap malam. Penjelasannya adalah sebagai berikut. Benang putih berarti yang mempunyai warna putih adalah benang. Putihnya siang berarti yang mempunyai warna putih adalah siang. Jadi, benang sama dengan siang. Di sisi lain, benang hitam berarti yang mempunyai warna hitam adalah benang. Hitamnya malam berarti yang mempunyai warna hitam adalah malam. Jadi, benang sama dengan malam.

Dari uraian dalam alinea di atas, tampak bahwa yang tertulis dalam ayat 2:187 tersebut bukan merupakan suatu kata-kata kiasan. Anggapan tentang penggunaan kata kiasan justeru menghasilkan frasa yang tidak bisa digunakan untuk mengetahui waktu awal berpuasa dalam suatu hari atau waktu masih boleh makan dan minum. Oleh sebab itu, benang yang dimaksud dalam ayat 2:187 adalah benang yang sudah dikenal orang pada saat itu. Perlu diketahui bahwa benang adalah bahan untuk membuat pakaian. Bukankah orang pada saat itu sudah berpakaian?

Sebagai penutup, Al Qur’an terjemahan ayat 2:187 versi Dep. Agama RI sebaiknya direvisi karena mengandung kesalahan. Benang putih dan benang hitam yang disebutkan dalam 2:187 adalah bukan kata-kata kiasan. Cara mengetahui batas waktu orang masih boleh makan atau batas orang memulai puasa selama bulan Ramadhan dengan mengamati kenampakan benang putih dan benang hitam adalah wajib dijalankan karena itu petunjuk Allah.  Batas waktu masih boleh makan dan minum dalam puasa Ramadhan adalah sesaat sebelum matahari terbit pada waktu fajar. Artinya, puasa dimulai sejak matahari terbit. Apabila terjadi perubahan persepsi pada diri penulis, makalah ini akan direvisi.


Jumat, 19 Juni 2015

MELAGUKAN AL QUR'AN

Beberapa waktu yang lalu, ada polemik tentang cara melagukan Al Qur’an yang dilakukan seorang pembaca Al Qur’an dalam sebuah acara. Pembaca Al Qur’an tersebut membaca Al Qur’an dengan lagu bergaya jawa (langgam jawa). Cara pembaca tersebut dikritik oleh segolongan orang yang berpendapat bahwa Al Qur’an harus dibaca dengan lagu bergaya arab. Kejadian tersebut membuat penulis terusik untuk membuat kajian tentang melagukan Al Qur’an. Bolehkah melagukan Al Qur’an?

Jawabannya terdapat dalam ayat berikut ini.

36:69 And We did not teach/instruct him the poetry, and (it) should not (be) for him that it is except (a) reminder and (a) clear/evident Koran. (Dan Kami tidak mengajarkan dia puisi, dan (puisi) tidak untuknya bahwa ini tidak lain adalah peringatan dan bacaan yang nyata.) (versi Muhamed dan Samira Ahmed)

Dijelaskan dalam 36:69 bahwa Al Qur’an adalah bukan puisi atau syair. Sebelum melakukan pembahasn lebih lanjut, ada baiknya kita bahas lebih dahulu pengertian puisi, syair, dan melagukan  menurut kamus besar bahasa Indonesia. Kutipannya adalah seperti berikut ini.

“puisi/pu·i·si/ n 1 ragam sastra yg bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait; 2 gubahan dl bahasa yg bentuknya dipilih dan ditata secara cermat sehingga mempertajam kesadaran orang akan pengalaman dan membangkitkan tanggapan khusus lewat penataan bunyi, irama, dan makna khusus; 3 sajak;”

“syair/sya·ir/ n Sas 1 puisi lama yg tiap-tiap bait terdiri atas empat larik (baris) yg berakhir dng bunyi yg sama; 2 sajak; puisi;”

melagukan/me·la·gu·kan/ v menyanyikan; menuturkan (syair, sajak, dsb) dng lagu; membawakan lagu: penyanyi itu ~ iklan di televisi;”

Kutipan di atas memperlihatkan bahwa puisi adalah suatu ragam sastra. Sinonimnya adalah syair. Jadi, bisa dikatakan bahwa syair dan puisi adalah sama. Tampak pula bahwa melagukan berarti menyanyikan.

Kita tidak boleh memperlakukan Al Qur’an seperti puisi atau syair karena Al Qur’an bukan puisi atau syair. Kita tidak boleh memperlakukan Al Qur’an seperti syair lagu. Membaca Al Qur’an dengan lagu gaya jawa (langgam) atau lagu gaya arab adalah suatu bentuk tindakan memperlakukan Al Qur’an seperti syair lagu. Dalam hal ini, yang menjadi syair lagu adalah ayat-ayat Al Qur’an dan yang menjadi nada-nadanya adalah melodi lagu jawa (langgam) atau melodi lagu arab. Sudah barang tentu, pembacanya berusaha mengeluarkan suara yang merdu seperti orang yang sedang menyanyi.  Melagukan Al Qur’an termasuk tindakan memperlakukan Al Qur’an seperti syair, tepatnya syair lagu. Oleh sebab itu, cara membaca Al Qur’an yang bertujuan untuk menghasilkan keindahan dengan cara melagukan Al Qur’an tidak boleh dilakukan karena bertentangan dengan ayat 36:69.

Sudah kita pahami bersama bahwa ada budaya membaca Al Qur’an dengan lagu dan suara yang merdu di tengah masyarakat. Bahkan, pembacaan Al Qur’an dengan cara seperti itu dilombakan di tingkat lokal, nasional, dan internasional. Ini semua adalah contoh perilaku memperlakukan ayat-ayat Al Qur’an seperti syair lagu.

Walaupun demikian, itu tidak berarti bahwa Al Qur’an tidak boleh dilagukan. Hanya saja, lagunya adalah sama dengan lagu orang yang sedang mengekspresikan kata-kata yang diucapkannya. Perlu diingat bahwa ketika berbicara, kita sesungguhynya sedang melagukan kata-kata yang kita ucapkan. Misalnya, lagu orang bertanya tidak sama dengan irama lagu orang sedang memberi perintah. Bahkan, lagu yang digunakan ketika berbicara juga bervariasi tergantung pada bangsa dan suku. Dengan demikian, lagu orang yang mengucapkan kata-kata dalam Al Qur’an akan bervariasi tergantung pada bangsa, suku, dan variabel lainnya. Oleh sebab itu, melagukan Al Qur’an dengan cara seperti orang yang sedang berkata-kata adalah dibenarkan.

Bagaimana Al Qur’an harus dibaca? Al Qur’an hendaknya dibaca sesuai dengan fungsinya. Misalnya, sebagai petunjuk, Al Qur’an dibaca sedemikian rupa sehingga yang mendengarnya seperti sedang mendengar petunjuk. Sebagai peringatan, Al Qur’an dibaca sedemikian rupa sehingga yang mendengarnya seperti sedang mendengar peringatan. Sebagai kabar gembira, Al Qur’an dibaca sedemikian rupa sehingga yang mendengarnya seperti sedang mendengar kabar gembira.

Sebagai penutup, Al Qur’an tidak boleh diperlakuan seperti puisi atau syair karena Al Qur’an adalah bukan puisi atau syair. Melagukan Al Qur’an dengan melodi gaya jawa atau melodi gaya arab termasuk perilaku memperlakukan Al Qur’an seperti syair atau puisi sehingga tidak dibenarkan. Jika terjadi perubahan persepsi pada diri penulis, makalah ini akan direvisi.

Sabtu, 23 Mei 2015

SHALAT TIGA WAKTU

Walaupun hanya seorang manusia yang buta bahasa Arab, penulis memberanikan diri untuk membahas tentang penerjemahan satu ayat Al Qur’an saja, yaitu 11:114. Itu pun hanya membahas yang berkaitan dengan waktu shalat. Dalam ayat tersebut, ada informasi tentang 3 waktu shalat, yaitu dua tepi siamg (tepi siang ke 1 dan tepi siang ke 2) dan waktu shalat ke 3. Berikut ini kutipannya.

11:114. Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. (versi Dep. Agama RI)

11:114. Dan dirikanlah shalat pada dua ujung siang, dan dekat-dekat dari malam; sesungguhnya perbuatan baik menghilangkan kejahatan. Itu adalah satu peringatan bagi orang-orang yang mau ingat. (versi Othman Ali)

Tampak bahwa waktu shalat ke 3 diterjemahkan secara bervariasi. Mengapa bisa bervariasi? Penulis merasakan pengaruh persepsi para penerjemah yang sangat kuat dalam kasus ini. Bagaimanapun juga, mereka secara tidak disadari ingin membenarkan persepsinya tentang waktu shalat yang diyakininya. Persepsi mereka dipengaruhi oleh praktek shalat yang dijalaninya dan yang dijalani orang-orang di sekitarnya. Barangkali bisa diungkapkan dengan kalimat lain bahwa mereka mungkin berusaha mencocokkannya dengan persepsi dirinya dan persepsi masyarakat tentang waktu shalat.

Persepsi masyarakat tentang waktu shalat dipengaruhi oleh informasi dalam kitab hadis. Seperti kita ketahui bahwa informasi dalam kitab hadis disampaikan secara turun-temurun dari mulut ke mulut, yang tidak pernah dikonfirmasikan kepada Rasul Allah. Dapat dikatakan bahwa kitab hadis berisi ajaran nenek moyang sehingga perlu dicek dengan Al Qur’an. Oleh karena itu, penulis ingin mengeceknya sendiri kebenaran penerjemahan tentang waktu shalat ke 3 dalam 11:114.

Transliterasi ayat 11:114 adalah sebagai berikut.

011.114 Waaqimi a(l)[ss]al[a]ta [t]arafayi a(l)nnah[a]ri wazulafan mina allayli inna al[h]asan[a]ti yu[th]hibna a(l)ssayyi-[a]ti [tha]lika [th]ikr[a] li(l)[ththa]kireen(a) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

Frasa yang diterjemahkan secara bervariasi adalah “wazulafan mina allayli”. Kata-kata dalam frasa tersebut adalah sebagai berikut.

wa

zulafan

mina

allayli

Untuk menerjemahkannya, penulis menggunakan arti kata berdasarkan akar kata yang ada di The Project Root List dalam http://www.studyquran.co.uk/PRLonline.htm, kecuali kata wa yang berarti dan dan mina yang berarti dari.

Zulafan mempunyai akar kata Zay-Lam-Fa.

Zay-Lam-Fa = draw near/close, advance, nearness/closeness/proximity.

Azlafnaa (prf. 3rd. p. f. plu. IV): We brought near, caused to draw near
Uzlifat (pp. 3rd p.f. sing. IV): It is brought near
Zulafan (n. acc.): Early hours
Zulfatan (n. acc.): Night
Zulfaa (v.n.): Approach; near
zalafa vb. (1)
zulfa n.f. (pl. zulaf) - 11:114, 34:37, 38:25, 38:40, 39:3
zulfah n.f. (adv.) - 67:27
azlafa vb. (IV)
perf. act. 26:64
uzlifa perf. pass. 26:90, 50:31, 81:13

Dalam menerjemahkan zulafan, penulis hanya memperhatikan arti akar kata Zay-Lam-Fa secara umum saja. Artinya, contoh-contoh terjemahan yang disebutkan dalam kutipan di atas tidak diperhatikan, karena penulis ingin menerjemahkannya sendiri. Jadi, penulis hanya mempertimbangkan draw near/close (menarik sehingga menjadi dekat), advance (yang dahulu), dan nearness/closeness/proximity (kedekatan) saja.

Penulis akan memulainya dengan berpendapat bahwa nearness/closeness/proximity berarti kedekatan. Kedekatan berarti hal tentang dekat. Dalam konteks jarak, dekat berarti pendek. Dalam konteks waktu, dekat berarti singkat. Kata benda dari singkat adalah kesingkatan. Oleh sebab itu, zulafan dalam 11:114 dapat berarti kedekatan (hal tentang dekat) dan kesingkatan (hal tentang singkat). Di pihak lain, jika draw near/close yang berarti menarik sehingga menjadi dekat atau mendekatkan dipertimbangkan, penafsirannya menjadi lain karena arti yang ini mengandung unsur peristiwa gerakan mendekat. Arti zulafan dengan demikian dapat pula berarti pendekatan (hal tentang menjadi dekat0 atau penyingkatan (hal tentang menjadi singkat)  Oleh sebab itu, ada 2 kemungkinan arti zulafan, yaitu :

1. kesingkatan (hal tentang singkat)

2. penyingkatan (hal tentang menjadi singkat)

Kata allayli terdiri dari artikel al” dan layli yang mmpunyai akar kata lam-ya-lam. Kutipan arti akar kata dari The Project Root List dalam http://www.studyquran.co.uk/PRLonline.htm adalah sebagai berikut.

Lam-Ya-Lam = night, evening.

layl n.m. (f. laylah, pl. layali) 2:51, 2:164, 2:187, 2:187, 2:274, 3:27, 3:27, 3:113, 3:190, 6:13, 6:60, 6:76, 6:96, 7:54, 7:142, 7:142, 10:6, 10:24, 10:27, 10:67, 11:81, 11:114, 13:3, 13:10, 14:33, 15:65, 16:12, 17:1, 17:12, 17:12, 17:78, 17:79, 19:10, 20:130, 21:20, 21:33, 21:42, 22:61, 22:61, 23:80, 24:44, 25:47, 25:62, 27:86, 28:71, 28:72, 28:73, 30:23, 31:29, 31:29, 34:18, 34:33, 35:13, 35:13, 36:37, 36:40, 37:138, 39:5, 39:5, 39:9, 40:61, 41:37, 41:38, 44:3, 44:23, 45:5, 50:40, 51:17, 52:49, 57:6, 57:6, 69:7, 71:5, 73:2, 73:6, 73:20, 73:20, 74:33, 76:26, 76:26, 78:10, 79:29, 81:17, 84:17, 89:2, 89:4, 91:4, 92:1, 93:2, 97:1, 97:2, 97:3

Tampak bahwa allayli dapat berarti malam atau petang. Penulis memilih arti allayli adalah malam karena ada kata isya yang berati petang.

Sampai di sini, dapat diperoleh dua kemungkinan terjemahan “wazulafan mina allayli”, yaitu sebagai berikut.

Kemungkinan 1 :

wa = dan
zulafan = kesingkatan (hal tentang singkat)
mina = dari
allayli = malam

Kenungkinan 2 :

wa = dan
zulafan = penyingkatan (peristiwa menjadi singkat)
mina = dari
allayli = malam

Kita bahas lebih dahulu tentang terjemahan pada kenungkinan pertama. Apa arti dan kesingkatan dari malam? Frasa dan kesingkatan dari malam menerangkan bahwa waktu shalat yang dimaksud adalah kesingkatan yang ada dalam malam. Dengan kalimat lain, ada suatu bagian malam yang singkat yang dijadikan waktu shalat. Jadi, waktu shalat tersebut adalah sebagian dari malam yang berlangsung singkat.

Dalam kemungkinan 2, penyingkatan dari malam bermakna bahwa waktu shalat yang dimaksud adalah penyingkatan yang dilakukan pada waktu malam.  Dengan kalimat lain, waktu shalat tersebut adalah hasil penyingkatan pada waktu malam.

Sampai di sini, dapat terlihat bahwa terjemahan pada kemungkinan pertama menekankan pada hasil sedangkan terjemahan pada kemungkinan kedua menekankan pada proses. Hasilnya adalah kesingkatan sedangkan prosesnya adalah penyingkatan. Artinya, waktu shalat tersebut adalah suatu durasi yang singkat pada waktu malam.

Arti zulafan sama dengan yang dahulu (advance) mungkin yang dijadikan dasar penerjemah Dep. Agama RI. Oleh penerjemah Dep. Agama RI, zulafan diterjemahkan menjadi pada bahagian permulaan.

Untuk mengetahui terjemahan yang tepat, kita harus membahas waktu shalat yang dijelaskan dalam 11:114. Kita akan menggunakan terjemahan versi Dep. Agama RI. Dalam 11:114, ada 3 waktu shalat. Yang dipermasalahkan dalam makalah ini adalah waktu shalat ke 3. Ketiga waktu shalat tersebut adalah :

1. tepi siang pertama
2. tepi siang kedua
3. waktu shalat ke 3

Agar pembahasan menjadi singkat, kita cari nama waktu shalat pada tepi siang pertama dan tepi siang kedua lebih dahulu. Transliterasi 24:58 memperlihatkan bahwa ada dua nama waktu shalat, yaitu fajar (alfajri) dan isya (alAAish[a]-i). Tepi siang adalah bagian terluar dari siang. Dalam hal ini, bagian terluar dari siang adalah waktu fajar dan waktu isya (petang). Dengan demikian, waktu shalat pada tepi siang pertama adalah fajar sedangkan waktu shalat pada tepi siang kedua adalah petang (isya).

024.058 Y[a] ayyuh[a] alla[th]eena [a]manoo liyasta/[th]inkumu alla[th]eena malakat aym[a]nukum wa(a)lla[th]eena lam yablughoo al[h]uluma minkum thal[a]tha marr[a]tin min qabli [s]al[a]ti alfajri wa[h]eena ta[d]aAAoona thiy[a]bakum mina a(l){thth}aheerati wamin baAAdi [s]al[a]ti alAAish[a]-i thal[a]thu AAawr[a]tin lakum laysa AAalaykum wal[a] AAalayhim jun[ah]un baAAdahunna [t]aww[a]foona AAalaykum baAA[d]ukum AAal[a] baAA[d]in ka[tha]lika yubayyinu All[a]hu lakumu al-[a]y[a]ti wa(A)ll[a]hu AAaleemun [h]akeem(un) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

Apakah nama waktu shalat ke 3? Jawabannya ada di transliterasi 2:238 berikut ini. Dalam 2:238 disebutkan nama shalat ke 3, yaitu shalat wusta (wusthaa). Dengan demikian, nama waktu shalat ke 3 adalah wusta.

002.238 [Ha]fi{th}oo AAal[a] a(l)[ss]alaw[a]ti wa(al)[ss]al[a]ti alwus[ta] waqoomoo lill[a]hi q[a]niteen(a) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

Sampai di sini, dapat disampaikan bahwa ada 3 nama shalat dalam Al Qur’an, yaitu shalat fajar, shalat isya, dan shalat wusta. Dengan demikian, nama waktu shalat dalam 11:114 adalah fajar, isya, dan wusta. Waktu shalat yang dipermasalahkan dalam makalah ini adalah wusta. Kutipan arti wusta berdasarkan akar kata waw-siin-tay yang terdapat dalam The Project Root List dalam http://www.studyquran.co.uk/PRLonline.htm adalah sebagai berikut.

Waw-Siin-Tay = middle, midst, among, best, best part of a thing, mediate/intercede between, most remote from the extremes, equidistant, intermediate, most conforming/equitable/just/balanced, most excellent of them in particular.
wasata vb. (1) perf. act. 100:5
wasat n.m. 2:143, 2:238, 5:89, 68:28

Menurut penulis, arti wusta yang cocok adalah pertengahan  Menurut kamus besar bahasa Indonesia, pertengahan berarti tempat (titik, waktu, dsb.) yang di tengah di antara ujung dan tepi (awal dan akhir dsb.). Dalam hal ini, pengertian pertengahan adalah waktu yang di tengah di antara dua tepi. Petunjuk tentang arti wusta yang berarti pertengahan adalah ayat-ayat berikut ini.

73:2. bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya),

73:3. (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit.

73:4. atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan.

Dalam ayat-ayat di atas, terdapat informasi tentang perintah bangun pada malam hari pada seperdua malam ditambah atau dikurangi sedikit. Dalam ungkapan statistika, waktu itu adalah seperdua malam ± sedikit. Dengan kalimat lain, waktu itu berkisar dari seperdua malam dkurangi sedikit sampai seperdua malam ditambah sedikit. Pengertian seperdua adalah 1 dibagi dua. Seperdua malam berarti waktu yang terdapat pada titik yang membagi malam menjadi dua, yaitu titik pertengahan malam. Dengan demikian, wusta berarti pertengahan. Dalam komteks waktu shalat, wusta adalah pertengahan malam.

Terjemahan ayat tersebut juga menyebut “kecuali sedikit”. Frasa “kecuali sedikit” dalam konteks waktu berarti singkat. Ini cocok dengan penafsiran bahwa waktu shalat yang ke 3 adalah suatu durasi yang singkat pada waktu malam, seperti sudah disampaikan di muka.

Jika dikaitkan dengan 2 waktu shalat yang lain, gambarnya akan lebih kurang seperti berikut ini.

Tepi siang 1
(waktu fajar)

Pertengahan malam ± sedikit

Tepi siang 2
(waktu petang)
Shalat fajar

Shalat wusta

Shalat isya (petang)

Waktu fajar (tepi siang 1) adalah waktu sejak terbit fajar (cahaya matahari sudah tampak tetapi matahari belum tampak) sampai fajar hilang (matahari sudah tampak/terbit). Dengan cara berpikir yang sama, waktu petang (tepi siang 2) adalah waktu sejak matahari terbenam sampai cahaya matahari hilang sama sekali. Dapat dikatakan bahwa waktu fajar adalah kebalikan dari waktu petang. Durasi waktu fajar dan waktu petang lebih kurang sama. Pertengahan malam adalah waktu yang berada di pertengahan antara awal malam dan akhir malam. Durasi waktu wusta menurut penulis adalah lebih kurang sama dengan durasi waktu fajar atau waktu petang.

Othman Ali menerjemahkan “wazulafan mina allayli” menjadi dan dekat-dekat dari malam. Beliau berasumsi bahwa malam adalah suatu waktu tertentu yang tidak mempunyai durasi. Kemudian, malam dianggap sebagai suatu titik tertentu, yang dijadikan dasar untuk menentukan jarak suatu waktu dengan malam. Oleh karena itu, “wazulafan mina allayli” diterjemahkan menjadi dan dekat-dekat dari malam. Asumsi yang digunakan tersebut tidak tepat karena malam mempunyai durasi tertentu sehingga arti malam dalam konteks sebagai posisi menjadi tidak unik. Artinya, malam bisa berarti awal malam, pertengahan malam, akhir malam, atau bagian manapun dari malam. Jadi, terjemahan Othman Ali tersebut tidak tepat.

Di pihak lain, Dep. Agama RI menerjemahkan “wazulafan mina allayli” menjadi dan pada bahagian permulaan daripada malam. Terjemahan tersebut tidak tepat karena bahagian permulaan daripada malam adalah sama dengan salah satu tepi siang (tepi siang ke 2). Jadi, informasinya bersifat mengulang.

Pembahasan tentang waktu shalat di atas berhubungan erat dengan definisi malam. Agar menjadi jelas, pembaca dipersilakan membaca penjelasan tentang definisi malam menurut Al Qur’an di http://kajiantentangquran.blogspot.com/2013/01/definisi-malam-menurut-al-quran.html.).

Sampai di sini, penulis merasa yakin bahwa penafsiran penulis tentang “wazulafan mina allayli” adalah benar Terjemahan “wazulafan mina allayli” yang tepat menurut penulis adalah dan kesingkatan dari malam. Frasa tersebut menerangkan bahwa waktu shalat tersebut adalah suatu durasi yang singkat dari malam. Waktu shalat tersebut adalah pertengahan malam, yang berkisar dari seperdua malam dikurangi sedikit sampai seperdua malam ditambah sedikit, dengan durasi lebih kurang sama dengan durasi shalat fajar (tepi siang 1) atau shalat isya (tepi siang 2). Apabila terjadi perubahan persepsi pada diri penulis, revisi makalah ini akan dilakukan.