Selasa, 24 April 2018

HALAMAN KERTAS AL QUR'AN JAMAN RASUL ALLAH

Sebuah penelitian telah menghasilkan kesimpulan bahwa dua potongan lembaran kertas Al Qur’an kuno yang di simpan di Universitas Birmingham sejak 1936 berasal dari Al Qur’an yang ada pada waktu dalam kisaran dari tahun 568 sampai 645 Masehi. Penelitian tersebut dilakukan dengan metode carbon dating di the Oxford University Radiocarbon Accelarator Unit. Ini berarti bahwa potongan-potongan lembaran kertas Al Qur’an tersebut ada pada jaman Rasul Allah, yang hidup pada tahun 570 sampai 632 Masehi. Sumber informasi hasil penelitian tersebut adalah http://theconversation.com/discovery-of-oldest-quran-fragments-could-resolve-enigmatic-history-of-holy-text-45066. Berikut ini adalah gambar dua potongan kertas tersebut.


Hasil penelitian yang disampaikan di atas berimplikasi bahwa Al Qur’an dalam bentuk lembaran kertas sudah ada pada jaman Rasul Allah masih hidup. Benarkah Al Qur’an dalam bentuk lembaran kertas sudah ada pada jaman Rasul Alah masih hidup? Untuk menjawabnya, penulis akan menerjemahkan ayat 98:2, 98:3, dan 96:4. Kutipan transliterasinya adalah sebagai berikut.

098.002 Rasoolun mina Allahi yatloo suhufan mutahharatan (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.910)

098.003 Feeha kutubun qayyimatun (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.910)

096.004 Allathee AAallama bialqalami (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.910)

Hasil terjemahan ketiga ayat tersebut dalam bentuk tabel adalah seperti berikut ini.

AYAT 98:2
TERJEMAHAN
KETERANGAN
rasoolun
seorang utusan
r-s-l, (Wehr-Cowan edisi III hal. 338), messenger (tunggal)
mina
dari
m-n, (Wehr-Cowan edisi III hal. 924),
from
Allahi
Allah
a-l-h, (Wehr-Cowan edisi III hal. 24),
Allah
yatloo
mengikuti
t-l-w, (Wehr-Cowan edisi III hal. 97),
to follow, imperfect verb
suhufan
sejumlah halaman
s-h-f, (Wehr-Cowan edisi III hal. 505),
page, broken plural (feminine singular)
mutahharatan
yang asli
t-h-r, (Wehr-Cowan edisi III hal. 571),
pure, feminin

AYAT 98:3
TERJEMAHAN
KETERANGAN
feeha
di dalamnya
fee = di dalam (in);
ha = nya (it) = sejumlah halaman
kutubun
sejumlah catatan
k-t-b, (Wehr-Cowan edisi III hal. 812),
record, broken plural (feminine singular)
qayyimatun
yang berharga
q-w-m, (Wehr-Cowan edisi III hal. 800)
valuable, feminin

AYAT 96:4
TERJEMAHAN
KETERANGAN
allathee
yang
a-l-th, (Wehr-Cowan edisi III hal. 23),
AAallama
Dia telah mengajar
AA-l-m, (Wehr-Cowan edisi III hal. 635),
to teach, perfect verb
bialqalami
dengan pena
bi = dengan;
q-l-m, alqalami,
(Wehr-Cowan edisi III hal. 788), pen

Hasil penerjemahan yang belum disesuaikan dengan tata bahasa Indonesia adalah seperti berikut ini.

98:2 seorang utusan dari Allah mengikuti sejumlah halaman yang asli

98:3 di dalamnya sejumlah catatan yang berharga

96:4 yang Dia telah mengajar dengan pena

Hasil penerjemahan yang sudah disesuaikan dengan tata bahasa Indonesia adalah seperti berikut ini.

98:2 Seorang Utusan Allah mengikuti sejumlah halaman yang asli. (versi penulis)

98:3 Di dalamnya adalah sejumlah catatan yang berharga. (versi penulis)

96:4 Dia telah mengajar dengan pena. (versi penulis)

Ayat 98:2 dan 98:3 menjelaskan bahwa seorang Utusan Allah mengikuti sejumlah halaman yang asli, yang di dalamnya ada sejumlah catatan yang berharga. Frasa “mengikuti sejumlah halaman” bermakna mengikuti yang ada dalam tiap halaman. Halaman-halaman tersebut tidak bisa berjalan sehingga kata mengikuti di sini tidak berarti menurutkan, mengiringi, atau menyertai, tetapi berarti memperhatikan (kbbI). Yang diperhatikan adalah catatan yang ada dalam tiap halaman. Catatan dalam suatu halaman adalah informasi berupa tulisan. Memperhatikan catatan berupa tulisan dilakukan dengan cara membaca. Dengan demikian, arti kata mengikuti di sini pada dasarnya sama dengan membaca. Perlu disampaikan bahwa arti kedua dari kata berakar kata t-l-w dalam kamus Wehr-Cowan adalah to read (membaca). Walaupun demikian, kata mengikuti dipandang sebagai terjemahan “yatloo” yang lebih tepat. Dalam kata mengikuti ada pengertian bahwa pekerjaan tersebut membutuhkan tulisan yang dibaca. Di pihak lain, pekerjaan membaca bisa dilakukan dengan tanpa tulisan, yaitu dengan sesuatu yang ada dalam ingatan. Orang buta huruf dapat membaca tulisan berdasarkan ingatan. Dengan demikian, pekerjaan mengikuti sejumlah halaman hanya bisa dilakukan oleh orang yang bisa membaca. Ayat 98:2 dan 98:3 menjelaskan tentang seorang Utusan Allah yang membaca tulisan pada halaman-halaman asli berisi catatan-catatan yang berharga.

Frasa “Seorang Utusan Allah” dalam 98:2 tidak menjelaskan tentang seorang Utusan Allah tertentu karena kata “rasoolun” bersifat indefinite (tidak ada artikel al). Frasa “halaman yang asli” dalam 98:2 berarti halaman yang benar-benar berasal dari Allah (bukan halaman buatan selain Allah). Kata “yatloo” adalah kata kerja imperfect sehingga kata kerja tersebut menerangkan pekerjaan yang dilakukan secara terus menerus. Dengan demikian, kata kerja tersebut menjelaskan tentang pekerjaan seorang Utusan Allah. Artinya, mengikuti halaman-halaman asli yang berisi catatan-catatan yang berharga adalah pekerjaan seorang Utusan Allah. Sebagai seorang Utusan Allah, Nabi Muhammad juga mempunyai pekerjaan mengikuti halaman-halaman asli yang berisi catatan-catatan yang berharga. Halaman-halaman asli yang berisi catatan-catatan yang berharga yang diikuti oleh Nabi Muhammad adalah Al Qur’an. Jadi, Nabi Muhammad mempunyai pekerjaan membaca tulisan pada halaman-halaman Al Qur’an. Oleh sebab itu, Nabi Muhammad tidak buta huruf.

Alinea di atas menerangkan bahwa Nabi Muhammad membaca tulisan pada halaman-halaman Al Qur’an. Apakah halaman-halaman tersebut berupa kertas? Ayat 96:4 menjawab pertanyaan tersebut. Dalam ayat tersebut disebutkan bahwa Allah mengajar dengan pena. Pena digunakan untuk menulisi kertas. Tinta yang keluar dari pena akan meresap ke dalam pori-pori kertas. Oleh sebab itu, halaman-halaman Al Qur’an yang tulisannya dibaca Nabi Muhammad adalah berupa kertas. Oleh karena itu, hasil penelitian yang dijelaskan pada awal makalah ini menegaskan bahwa pada jaman Nabi Muhammad masih hidup ada Al Qur’an yang terdiri dari halaman-halaman berupa kertas.

Makalah ini ditutup di sini. Apabila ada perubahan persepsi pada diri penulis, makalah ini akan direvisi.

Selasa, 27 Maret 2018

DASAR PEMOTONGAN GAJI UNTUK ZAKAT

Akhir-akhir ini, beredar berita bahwa pemerintah akan memotong gaji pegawai negeri sipil (PNS) atau aparatur sipil negara (ASN) untuk membayar zakat. Dalam hal ini, pemerintah memposisikan dirinya sebagai lembaga pengambil atau penerima zakat. Dalam sebuah diskusi di acara televisi, terungkap bahwa wacana pemotongan zakat tersebut didasarkan pada ayat Al Qur’an terjemahan versi Dep. Agama RI. Ayat terjemahan yang dimaksud adalah sebagai berikut.

9:103. Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (versi Dep. Agama RI)

Tampaknya, yang dijadikan sebagai dasar oleh pemerintah adalah frasa “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka. Dengan dasar tersebut, pemerintah dianggap boleh mengambil zakat dari masyarakat.

Jika diperhatikan secara teliti, penggunaan ayat terjemahan versi Dep. Agama tersebut sebagai dasar pengambilan zakat oleh pemerintah lainnya menimbulkan pertanyaan. Siapakah pemerintah itu sehingga mampu membersihkan dan mensucikan orang? Siapakah pemerintah itu sehingga mampu mendoakan orang sehingga orang tersebut menjadi tenteram jiwanya? Setelah mengetahui bahwa alasan wacana pemotongan zakat PNS atau ASN adalah karena ada potensi zakat yang sangat besar, pertanyaannya menjadi bertambah. Jika ingin mengamalkan Al Qur’an, mengapa alasannya bukan untuk membersihkan dan mensucikan orang? Jika ingin mengamalkan Al Qur’an, mengapa alasannya bukan untuk mendoakan orang sehingga orang tersebut menjadi tenteram jiwanya?

Bagi penulis yang sedang belajar menerjemahkan teks berbahasa Arab, wacana pemotongan zakat PNS adalah sebuah pendorong untuk menerjemahkan sendiri ayat 9:103. Setelah melakukan riset sederhana, penulis mendapatkan ayat-ayat lain yang berkaitan dengan ayat 9:103, yang juga perlu diterjemahkan. Ayat tersebut adalah 2:43 dan 9:99. Berikut ini adalah kutipan transliterasi ayat-ayat Al Qur’an yang akan diterjemahkan dalam makalah ini.

009.103 Khuth min amwalihim sadaqatan tutahhiruhum watuzakkeehim biha wasalli AAalayhim inna salataka sakanun lahum waAllahu sameeAAun Aaaleemun (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.910)

002.043 Waaqeemoo alssalata waatoo alzzakata wairkaAAoo maAAa alrrakiAAeena (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.910)

009.099 Wamina al-aAArabi man yu/minu biAllahi waalyawmi al-akhiri wayattakhithu ma yunfiqu qurubatin AAinda Allahi wasalawati alrrasooli ala innaha qurbatun lahum sayudkhiluhumu Allahu fee rahmatihi inna Allaha ghafoorun raheemun (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.910)

Hasil penerjemahan ketiga ayat di atas yang disusun dalam bentuk tabel adalah sebagai berikut.

AYAT 9:103
TERJEMAHAN
KETERANGAN
khuth
kamu terimalah
imperatif, orang kedua maskulin tunggal,
a-kh-th,
to receive (Wehr-Cowan edisi III hal. 6)
min
beberapa
some (Wehr-Cowan edisi III hal. 924)
amwalihim
harta-harta mereka
amwali, m-w-l, property
(Wehr-Cowan edisi III hal. 931),
broken plural (feminine singular); 
him = mereka
sadaqatan
yang tulus
be sincere
(Wehr-Cowan edisi III hal. 509),
ajektiva, tunggal, feminin
tutahhiruhum
kamu membersihkan mereka
tutahhiru, to clean
(Wehr-Cowan edisi III hal. 570),
bentuk II,
orang kedua maskulin tunggal;
hum = mereka
watuzakkeehim
dan kamu menjadikan suci hati mereka
wa = dan; him = mereka;
tuzakkee = to be pure in heart
(Wehr-Cowan edisi III hal. 379),
bentuk II,
orang kedua maskulin tunggal
biha
dengannya
bi = dengan;
ha = nya (feminine singular) = 
amwali
wasalli
dan kamu lakukanlah pemberkatan
wa = dan;
salli = imperatif,
orang kedua maskulin tunggal,
 to bless
(Wehr-Cowan edisi III hal. 524),
AAalayhim
pada mereka
Aaalay= pada; him = mereka
inna
sungguh

salataka
pemberkatan kamu
salata = blessing, ka = kamu (tunggal)
sakanun
suatu tempat tinggal
habitation
(Wehr-Cowan edisi III hal. 418)
lahum
bagi mereka
la = bagi; hum = mereka
waAllahu
dan Allah
wa = dan; Allahu = Allah
sameeAAun
yang mendengar
listening
(Wehr-Cowan edisi III hal. 430)
AAaleemun
yang mengetahui
knowing
(Wehr-Cowan edisi III hal. 636)


AYAT 2:43
TERJEMAHAN
KETERANGAN
Waaqeemoo
dan kamu semua kerjakanlah
wa = dan;
aqeemoo, imperatif,
orang kedua maskulin jamak,
to perform
(Wehr-Cowan edisi III hal. 799),
bentuk IV
alssalata
pemujaan dan penyampaian permohonan kepada Allah (salat)
adoration and supplication
to God by all beings
(Arabic-English Dictionary
of Qur’anic Usage hal. 534
(pdf 560))
waatoo
dan kamu semua bawalah
wa = dan;
atoo, imperatif,
orang kedua maskulin jamak,
to bring
(Wehr-Cowan edisi III hal. 3),
bentuk IV
alzzakata
kesucian hati (zakat)
verbal noun dari
to be pure in heart,
purity (kesucian hati)
(Wehr-Cowan edisi III hal. 379)
wairkaAAoo
dan kamu semua tunduklah
wa = dan;
irkaAAoo, imperatif,
orang kedua maskulin jamak,
to submit
(Arabic-English Dictionary
of Qur’anic Usage hal. 381
(pdf 407))
maAAa
dengan
with
alrrakiAAeena
orang-orang yang tunduk
active participle dari
to submit (Arabic-English
Dictionary of Qur’anic Usage
hal. 391 (pdf 407)), jamak


AYAT 9:99
TERJEMAHAN
KETERANGAN
Wamina
dan sebagian dari
wa = dan; mina = a part of,
(Wehr-Cowan edisi III hal. 924)
al-aAArabi
orang-orang Arab padang pasir
arab of the desert
(Wehr-Cowan edisi III hal. 601),
jamak
man
yang (siapa)

yu/minu
dia percaya
to believe
(Wehr-Cowan edisi III hal. 28),
bentuk IV, orang ketiga tunggal
biAllahi
dengan Allah
bi = dengan; Allahi = Allah
waalyawmi
dan hari
wa = dan; alyawmi, day
(Wehr-Cowan edisi III hal. 1110)
al-akhiri
penghabisan
latest
(Wehr-Cowan edisi III hal. 8)
wayattakhithu
dan dia menganggap
wa = dan;  yattakhithu,
to assume
(Wehr-Cowan edisi III hal.7),
bentuk VIII,
orang ketiga maskulin tunggal
ma
yang (apa)

yunfiqu
mereka membelanjakan
to spend
(Wehr-Cowan edisi III hal. 987),
bentuk IV, orang ketiga jamak
qurubatin
(untuk) pendekatan-pendekatan
approaches
(Dictionary of the Holy Quran
Abdul M. O edisi II, hal. 449
(pdf 821)), jamak, feminin
AAinda
dengan

Allahi
Allah

wasalawati
dan pemberkatan-pemberkatan
wa = dan; salawati, blessing
(Wehr-Cowan edisi III hal. 524)
alrrasooli
Rasul

ala
sungguh!
indeed (intensifying interjections
introducing sentences)
(Wehr-Cowan edisi III hal. 1)
innaha
sesungguhnya dia
ha = dia (feminin) = pendekatan
qurbatun
pendekatan
approach
(Dictionary of the Holy Quran
Abdul M. O edisi II, hal. 449
(pdf 821)), jamak, feminin
lahum
oleh mereka
la = by (designating the author
or originator)
(Wehr-Cowan edisi III hal. 851)
sayudkhiluhumu
akan memasukkan mereka
sa = akan; yudkhilu. bentuk IV,
akar kata d-kh-l, to make enter
(Wehr-Cowan edisi III hal. 273);
hum = mereka
Allahu
Allah

fee
dalam

rahmatihi
belas kasihan-Nya
rahmati, mercy
(Wehr-Cowan edisi III hal. 332);
hi = Nya
inna
sungguh

Allaha
Allah

ghafoorun
pengampun
readily inclined to pardon
(Wehr-Cowan edisi III hal. 678)
raheemun
penuh belas kasihan
merciful
(Wehr-Cowan edisi III hal. 332)

Hasil penerjemahan yang belum disesuaikan dengan tata bahasa Indonesia adalah sebagai berikut.

9:103 kamu terimalah beberapa harta-harta mereka yang tulus kamu membersihkan mereka dan kamu menjadikan suci hati mereka dengannya dan kamu lakukanlah pemberkatan pada mereka sungguh pemberkatan kamu suatu tempat tinggal bagi mereka dan Allah yang mendengar yang mengetahui

2:43 dan kamu semua kerjakanlah pemujaan dan penyampaian permohonan kepada Allah (salat) dan kamu semua bawalah kesucian hati (zakat) dan kamu semua tunduklah dengan orang-orang yang tunduk

9:99 dan sebagian dari orang-orang Arab padang pasir yang (siapa) dia percaya dengan Allah dan hari penghabisan dan dia menganggap yang (apa) mereka membelanjakan (untuk) pendekatan-pendekatan dengan Allah dan pemberkatan-pemberkatan Rasul sungguh! sesungguhnya dia pendekatan oleh mereka akan memasukkan mereka Allah dalam belas kasihan-Nya sungguh Allah pengampun penuh belas kasihan

Hasil penerjemahan yang sudah disesuaikan dengan tata bahasa Indonesia adalah sebagai berikut.

9:103 Kamu terimalah beberapa harta-harta mereka yang tulus! Kamu membersihkan mereka dan kamu menjadikan suci hati mereka dengannya. Dan kamu lakukanlah pemberkatan pada mereka! Sungguh, pemberkatan kamu adalah suatu tempat tinggal bagi mereka dan Allah adalah yang mendengar yang mengetahui. (versi penulis)

2:43 Dan kamu semua kerjakanlah pemujaan dan penyampaian permohonan kepada Allah (salat)! Dan kamu semua bawalah kesucian hati (zakat)! Dan kamu semua tunduklah dengan orang-orang yang tunduk! (versi penulis)

9:99 Dan sebagian dari orang-orang Arab padang pasir adalah dia yang percaya dengan Allah dan hari penghabisan. Dan dia menganggap yang mereka belanjakan adalah (untuk) pendekatan-pendekatan dengan Allah dan pemberkatan-pemberkatan Rasul. Sungguh! Sesungguhnya, pendekatan oleh mereka akan memasukkan mereka dalam belas kasihan-Nya. Sungguh, Allah adalah pengampun yang penuh belas kasihan. (versi penulis)

Dalam memutuskan penggunaan terjemahan 9:103 versi Dep. Agama sebagai dasar pemotongan gaji untuk membayar zakat (pengertian zakat versi kamus besar Bahasa Indonesia), pemerintah tidak memperhatikan kata perintah “Ambillah!” secara teliti. Berapa jumlah orang yang diperintah dalam 9:103? Yang diperintah adalah berjumlah satu orang karena perintah tersebut ditujukan kepada orang kedua tunggal. Perlu diingat bahwa kata kamu (tunggal) dan frasa kamu semua (jamak) adalah berbeda. Dalam bahasa Arab, bentuk kata perintah untuk orang kedua tunggal (kamu) dan orang kedua jamak (kamu semua) berbeda. Siapakah orang yang berjumlah satu itu? Apakah Rasul Allah? Ataukah tiap orang selain Rasul Allah? Jika yang dimaksud adalah tiap orang selain Rasul Allah, ini berarti bahwa tiap orang diperintahkan untuk mengambil zakat. Jika tiap orang mengambil zakat, siapa yang akan diambil zakatnya? Oleh sebab itu, yang diperintah dalam 9:103 adalah bukan tiap orang selain Rasul Allah.

Orang yang diperintah dalam 9:103 adalah satu orang, yaitu Rasul Allah. Yang memberikan sebagian hartanya adalah orang-orang Arab padang pasir yang percaya pada Allah dan hari penghabisan (9:99). Dalam Al Qur’an terjemahan versi Dep. Agama RI, orang-orang Arab padang pasir ditulis orang-orang Arab Badwi. Orang-orang Arab padang pasir yang percaya pada Allah dan hari penghabisan beranggapan bahwa membelanjakan harta akan mendekatkan mereka dengan Allah dan mendapatkan pemberkatan Rasul Allah (9:99). Dari sini, kita bisa mengetahui bahwa yang berinisiatif untuk membelanjakan harta adalah orang-orang Arab padang pasir yang percaya pada Allah dan hari penghabisan. Rasul Allah diperintahkan untuk menerima yang mereka belanjakan (9:103). Sebagai tambahan penjelasan, kata menerima dan mengambil mempunyai persamaan. Menerima pemberian dan mengambil pemberiaan bermakna sama. Hanya saja, penulis merasa bahwa kata terimalah lebih cocok untuk kasus ini.

Menurut penulis, yang dimaksud dengan “harta-harta mereka yang tulus” adalah harta-harta mereka yang dibelanjakan secara tulus. Harta-harta yang dibelanjakan secara tulus oleh orang-orang Arab padang pasir yang percaya pada Allah dan hari penghabisan yang diterima oleh Rasul Allah membersihkan orang-orang Arab padang pasir. Maksudnya, pembelanjaan harta-harta tersebut menghapus dosa mereka. Harta-harata yang dibelanjakan secara tulus tersebut mensucikan hati orang-orang Arab padang pasir yang percaya pada Allah dan hari penghabisan. Maksudnya, pembelanjaan harta-harta tersebut menjadikan mereka terbebas dari perbuatan mempersekutukan Allah. Selain itu, pembelanjaan harta-harta tersebut menyebabkan mereka mendapat pemberkatan Rasul Allah. Pemberkatan Rasul Allah tersebut menjadi tempat tinggal bagi mereka. Tentu saja, ini adalah kata kiasan. Menurut penulis, maksudnya adalah bahwa walaupun mereka berpindah-pindah tempat tinggal, mereka merasa tinggal bersama-sama Rasul Allah. Perlu disampaikan di sini bahwa, menurut wikipedia (https://en.wikipedia.org/wiki/Bedouin), orang-orang Arab padang pasir atau Arab badawii (the Bedouin) hidup secara nomadik (berpindah-pindah tempat tinggal). Yang membuat mereka berpindah terus menerus adalah keadaan kekurangan air dan lahan penggembalaan.

Penerjemahan 2:43 dilakukan untuk menjelaskan bahwa dalam Al Qur’an ada kata “alzzakata” (zakat). Dalam 2:43 ada kata “alzzakata”, yang kata serapannya dalam bahsa Indonesia adalah zakat. Selain itu, untuk menjelaskan bahwa kata “alzzakata” (zakat) dalam 9:103 adalah tidak ada. Jika yang dimaksud dalam 9:103 adalah zakat, kata “alzzakata” atau kata yang berakar kata z-k-w akan telah digunakan.

Penerjemahan “sadaqatan” menjadi zakat juga bermasalah. Kata “sadaqatan” berakar kata s-d-q sedangkan kata “alzzakata” berakar kata z-k-w sehingga artinya pun juga berbeda. Penerjemah Dep. Agama RI tampaknya bersikap tidak konsisten. Di situ sisi, mereka membedakan pengertian sedekah (“sadaqatan”) dengan pengertian zakat. Di sisi lain, dalam 9:103, mereka menganggap pengertian sedekah sama dengan pengertian zakat.

Apa arti zakat (alzzakata)? Zakat berarti kesucian hati. Menurut penulis, kesucian hati bermakna bebas dari perbuatan mempersekutukan Allah. Ayat 2:43 berisi ajaran agar membawa kesucian hati selama menjalani kehidupan. Dapat dikatakan dengan kalimat lain bahwa kesucian hati (zakat) adalah bekal hidup yang harus dibawa selama menjalani kehidupan. Jadi, ayat 2:43 tidak menerangkan tentang hal membelanjakan harta. 

Jika zakat berarti kesucian hati, ayat-ayat Al Qur’an manakah yang berisi ajaran membelanjakan atau menafkahkan harta? Untuk menjawabnya kita bisa menggunakan software Al Qur’an Digital versi 2.1. Jika kita memasukkan kata kunci “membelanjakan”, “belanjakanlah”, “menafkahkan”, “nafkahkan”, atau “nafkahkanlah” dalam menu search, kita akan menjumpai ayat-ayat yang dicari.

Sebelum ditutup, perlu ditegaskan kembali bahwa ayat 9:103 menerangkan tentang perintah Allah kepada Rasul Allah agar menerima sebagian harta-harta yang dibelanjakan secara tulus oleh orang-orang Arab padang pasir yang percaya pada Allah dan hari penghabisan. Oleh sebab itu, ayat 9:103 tidak bisa dijadikan dasar pemotongan gaji untuk membayar zakat (pengertian zakat versi kamus besar Bahasa Indonesia) oleh pemerintah.

Makalah ditutup di sini. Makalah ini telah mengalami revisi sejak dipublikasikan. Apabila ada perubahan persepsi lagi pada diri penulis, makalah ini akan direvisi lagi.