Selasa, 09 Februari 2016

AHMAD ATAU MUHAMMAD?

Informasi kehadiran seorang Rasul Allah sesudah Nabi Isa sudah ada pada jaman Nabi Isa. Hal itu tersurat dalam Al Qur’an dalam ayat 61:6. Nama Rasul itu adalah bernama Ahmad.

61:6. Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: "Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)." Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata." (versi Dep. Agama RI)

061.006 Wa-i[th] q[a]la AAees[a] ibnu maryama y[a] banee isr[a]-eela innee rasoolu All[a]hi ilaykum mu[s]addiqan lim[a] bayna yadayya mina a(l)ttawr[a]ti wamubashshiran birasoolin ya/tee min baAAdee ismuhu a[h]madu falamm[a] j[a]ahum bi(a)lbayyin[a]ti q[a]loo h[atha] si[h]run mubeen(un) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

Memang benar, sesudah Nabi Isa, ada seorang Rasul Allah. Namanya adalah Muhammad. Ayat-ayat Al Qur’an yang menyebutkan nama Muhammad adalah sebagai berikut.

003.144 Wam[a] mu[h]ammadun ill[a] rasoolun qad khalat min qablihi a(l)rrusulu afa-in m[a]ta aw qutila inqalabtum AAal[a] aAAq[a]bikum waman yanqalib AAal[a] AAaqibayhi falan ya[d]urra All[a]ha shay-an wasayajzee All[a]hu a(l)shsh[a]kireen(a) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

033.040 M[a] k[a]na mu[h]ammadun ab[a] a[h]adin min rij[a]likum wal[a]kin rasoola All[a]hi wakh[a]tama a(l)nnabiyyeena wak[a]na All[a]hu bikulli shay-in AAaleem[a](n) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

047.002 Wa(a)lla[th]eena [a]manoo waAAamiloo a(l)[ssa]li[ha]ti wa[a]manoo bim[a] nuzzila AAal[a] mu[h]ammadin wahuwa al[h]aqqu min rabbihim kaffara AAanhum sayyi-[a]tihim waa[s]la[h]a b[a]lahum (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

048.029 Mu[h]ammadun rasoolu All[a]hi wa(a)lla[th]eena maAAahu ashidd[a]o AAal[a] alkuff[a]ri ru[h]am[a]o baynahum tar[a]hum rukkaAAan sujjadan yabtaghoona fa[d]lan mina All[a]hi wari[d]w[a]nan seem[a]hum fee wujoohihim min athari a(l)ssujoodi [tha]lika mathaluhum fee a(l)ttawr[a]ti wamathaluhum fee al-injeeli kazarAAin akhraja sha[t]-ahu fa[a]zarahu fa(i)staghla{th}a fa(i)staw[a] AAal[a] sooqihi yuAAjibu a(l)zzurr[a]AAa liyaghee{th}a bihimu alkuff[a]ra waAAada All[a]hu alla[th]eena [a]manoo waAAamiloo a(l)[ssa]li[ha]ti minhum maghfiratan waajran AAa{th}eem[a](n) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

Tampak bahwa ada perbedaan antara nama Rasul Allah yang disebutkan pada jaman Nabi Isa dan yang disebutkan pada jaman sesudah Nabi Isa. Nama yang satu adalah Ahmad, sedangkan nama yang lainnya adalah Muhammad. Benarkah Muhammad dan Ahmad adalah nama untuk orang yang sama? Benarkah Muhammad adalah Ahmad yang disebutkan pada jaman Nabi Isa? Pertanyaan inilah yang akan dijawab dalam makalah ini.

Pertama-tama, kita akan membahasnya dari segi arti kata. Sebenarnya, kata muhammad dan ahmad mempunyai akar kata yang sama yaitu, ha-miim-dal. Kutipan arti kata ha-miim-dal yang ada dalam project root list di http://www.studyquran.co.uk/PRLonline.htm adalah sebagai berikut. Arti kata ha-miim-dal bersifat unik karena hanya satu, yaitu memuji (to praise).

“Ha-Miim-Dal = To praise.
hamida vb. (1)
impf. pass. 3:188
n.vb. 1:2, 2:30, 6:1, 6:45, 7:43, 10:10, 13:13, 14:39, 15:98, 16:75, 17:44, 17:52, 17:111, 18:1, 20:130, 23:28, 25:58, 27:15, 27:59, 27:93, 28:70, 29:63, 30:18, 31:25, 32:15, 34:1, 34:1, 35:1, 35:34, 37:182, 39:29,  39:74, 39:75, 39:75, 40:7, 40:55, 40:65, 42:5, 45:36, 50:39, 52:48, 64:1, 110:3
pcple. act. 9:112
pcple. pass. 17:79
ahmad n. 61:6
hamid n.m. 2:267, 4:131, 11:73, 14:1, 14:8, 22:24, 22:64, 31:12, 31:26, 34:6, 35:15, 41:42, 42:28, 57:24, 60:6, 64:6, 85:8
muhammad n. 3:144, 33:40, 47:2, 48:29
Lane's Lexicon, Volume 2, page: 274275276

Tampak dalam kutipan di atas bahwa kata ahmad dan muhammad adalah kata benda (noun). Tampak pula bahwa arti akar kata ha-miim-dal adalah memuji (to praise). Kata benda memuji adalah yang memuji. Dengan demikian, kedua kata tersebut pada dasarnya bermakna sama, yaitu yang memuji.  Kata muhammad merupakan hasil sintesis antara awalan mu dan akar kata ha-miim-dal. Awalan mu berarti orang yang. Oleh sebab itu, kata muhammad berarti orang yang memuji. Agar lebih mudah dilihat, arti kedua kata didampingkan berurutan secara vertikal seperti berikut ini.

ahmad = yang memuji
muhammad = orang yang memuji

Sebelum melangkah lebih lanjut, penulis akan memberi komentar tentang pengartian ahmad menjadi yang terpuji oleh kebanyakan orang. Yang terpuji adalah Allah. Segala pujian adalah milik Allah. Padahal, Tuhan hanya satu, yaitu Allah. Jadi, pengartian ahmad menjadi yang terpuji adalah tidak tepat.

Selain itu, perlu dijelaskan sedikit alasan pengartian awalan mu menjadi orang yang. Penulis bukan ahli bahasa Arab sehingga menggunakan pendekatan sederhana untuk menggunakan arti tersebut, yaitu dengan mencari tahu arti kata serapan dari bahasa Arab atau transliterasi kata dari bahasa Arab yang menggunakan awalan mu. Contoh kata-kata tersebut adalah muslim (orang yang islam), musyrik (orang yang menyekutukan Allah), mukmin (orang yang beriman), munafik (orang yang tidak beriman tetapi mengaku beriman), mukhlis (orang yang ikhlas), muhajir (orang yang pindah), mushalliina (orang yang shalat), muzamil (orang yang berselimut), mutaki (orang yang bertaqwa), musafir (orang yang bepergian), mujahid (orang yang berjuang), muzaki (orang yang berzakat), mufasir (orang yang menafsirkan Al Qur’an), mubalig (orang yang menyiarkan agama islam), mualaf (orang yang baru masuk islam), muazin (orang yang berazan), dan mualim (orang yang ahli agama). Mungkin masih ada kata-kata lain yang menegaskan arti awalan mu tersebut tetapi belum disebutkan di sini. Atas dasar itulah penulis mengartikan mu sama dengan orang yang.

Arti kedua kata yang sudah dibahas di muka menunjukkan bahwa nama Ahmad dan Muhammad menunjuk pada orang yang sama. Ahmad adalah nama sebelum orang tersebut diciptakan, sedangkan Muhammad adalah nama sesudah orang tersebut diciptakan.

Nama bersifat unik. Perbedaan satu huruf dalam dua nama menunjukkan dua nama berbeda. Oleh karena itu, ada orang yang berpendapat bahwa Ahmad dan Muhammad adalah dua nama yang berbeda sehingga orangnya pun juga dapat berbeda. Pendapat itu tampak beralasan. Barangkali, pendapat tersebut adalah yang menyebabkan ada aliran ahmadiyah.

Pendapat tersebut didasarkan pada asumsi bahwa yang memberi nama adalah manusia. Benarkah Ahmad dan Muhammad adalah nama pemberian manusia? Menurut penulis, Ahmad dan Muhammad adalah nama pemberian Allah, bukan pemberian manusia. Perlu diingat bahwa nama Ahmad sudah ada ratusan tahun sebelum manusia itu dilahirkan sehingga bisa dipastikan bahwa yang membuat nama Ahmad adalah Allah. Sesudah dilahirkan, namanya hanya mengalami perubahan berupa tambahan awalan mu yang berarti orang yang. Artinya, Muhammad (orang yang memuji) adalah Ahmad (yang memuji), nama buatan Allah yang sudah ada pada jaman Nabi Isa. Dengan demikian, Muhammad dan Ahmad adalah nama pemberian Allah. Perlu diingat bahwa Allah pernah memberi nama manusia. Manusia itu adalah Adam (2:31).

2:31. Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!" (versi Dep. Agama RI)

002.031 WaAAallama [a]dama al-asm[a]a kullah[a] thumma AAara[d]ahum AAal[a] almal[a]-ikati faq[a]la anbi-oonee bi-asm[a]-i h[a]ol[a]-i in kuntum [sa]diqeen(a) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

Walaupun demikian, Allah tidak pernah memanggil Rasul Allah dengan nama yang diberikan-Nya. Allah memanggil Rasul Allah dengan “hai Nabi” dan “hai Rasul”. Berikut ini adalah ayat-ayat yang menyebutkannya.

66:1. Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (versi Dep. Agama RI)

33:50. Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu isteri- isterimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki yang termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan (demikian pula) anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu yang turut hijrah bersama kamu dan perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mukmin. Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang Kami wajibkan kepada mereka tentang isteri-isteri mereka dan hamba sahaya yang mereka miliki supaya tidak menjadi kesempitan bagimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (versi Dep. Agama RI)

33:28. Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu: "Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut'ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. (versi Dep. Agama RI)

8:65. Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti. (versi Dep. Agama RI)

8:64. Hai Nabi, cukuplah Allah (menjadi Pelindung) bagimu dan bagi orang-orang mukmin yang mengikutimu. (versi Dep. Agama RI)

9:73. Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah jahannam. Dan itu adalah tempat kembali yang seburuk-buruknya. (versi Dep. Agama RI)

66:9. Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah jahannam dan itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali. (versi Dep. Agama RI)

33:45. Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gemgira dan pemberi peringatan, (versi Dep. Agama RI)

8:70. Hai Nabi, katakanlah kepada tawanan-tawanan yang ada di tanganmu: "Jika Allah mengetahui ada kebaikan dalam hatimu, niscaya Dia akan memberikan kepadamu yang lebih baik dari apa yang telah diambil daripadamu dan Dia akan mengampuni kamu." Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (versi Dep. Agama RI)

33:1. Hai Nabi, bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu menuruti (keinginan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, (versi Dep. Agama RI)

5:67. Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (versi Dep. Agama RI)

Di samping itu, tidak pernah disebutkan ada orang memanggil atau menyebut nama Muhammad dalam Al Qur’an. Kata muhammad disebutkan sebanyak 4 kali dalam Al Qur’an tetapi bukan digunakan orang untuk memanggil Rasul Allah. Kutipan ayat-ayat yang menyebutkannya sudah ditampilkan di depan. Di pihak lain, nama Rasul Allah yang lain pernah dipanggil dengan namanya dalam Al Qur’an. Berikut ini adalah beberapa kutipan ayat-ayatnya.

5:112. (Ingatlah), ketika pengikut-pengikut Isa berkata: "Hai Isa putera Maryam, sanggupkah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?." Isa menjawab: "Bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang yang beriman." (versi Dep. Agama RI)

17:101. Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Musa sembilan buah mukjizat yang nyata, maka tanyakanlah kepada Bani Israil, tatkala Musa datang kepada mereka lalu Fir'aun berkata kepadanya: "Sesungguhnya aku sangka kamu, hai Musa, seorang yang kena sihir." (versi Dep. Agama RI)

20:92. Berkata Musa: "Hai Harun, apa yang menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat, (versi Dep. Agama RI)

38:26. Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan. (versi Dep. Agama RI)

37:104. Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim, (versi Dep. Agama RI)

11:46. Allah berfirman: "Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan." (versi Dep. Agama RI)

7:77. Kemudian mereka sembelih unta betina itu, dan mereka berlaku angkuh terhadap perintah Tuhan. Dan mereka berkata: "Hai Shaleh, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah)." (versi Dep. Agama RI)

Jika Muhammad adalah nama pemberian Allah untuk Rasul Allah, lalu apa nama pemberian orang tua Rasul Allah untuk Rasul Allah? Jawabannya tidak ada dalam Al Qur’an. Menurut penulis, itu tidak penting.

Sebagai penutup, dapat disampaikan bahwa Ahmad dan Muhammad adalah nama pemberian Allah untuk seorang Rasul Allah yang menerima Al Qur’an. Makalah ini akan direvisi jika terjadi perubahan persepsi pada diri penulis.

Senin, 18 Januari 2016

NABI MUHAMMAD DIANGGAP SEBAGAI TUHAN

Perilaku menjadikan para nabi sebagai Tuhan benar-benar ada (3:80). Contoh nabi yang dijadikan sebagai Tuhan adalah Nabi Isa (Al Masih) (9:30 dan 5:116).

3:80. dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai tuhan. Apakah (patut) dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam?." (versi Dep. Agama RI)

9:30. Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair itu putera Allah" dan orang-orang Nasrani berkata: "Al Masih itu putera Allah." Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling? (versi Dep. Agama RI)

5:116. Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: "Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: "Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?." Isa menjawab: "Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib." (versi Dep. Agama RI)

Mungkinkah Nabi Muhammad juga telah dijadikan sebagai Tuhan? Sesudah Al Qur’an, tidak ada lagi kitab Allah yang menjelaskan hal tersebut sehingga kita harus menjawabnya dengan Al Qur’an.

Dijelaskan dalam 20:123 bahwa yang dapat membuat orang tidak sesat adalah petunjuk Allah. Petunjuk Allah sama dengan ajaran Allah. Dengan demikian, ajaran yang dapat membuat orang tidak sesat adalah hanya ajaran Allah. Dengan kalimat lain, ayat 20:123 menerangkan bahwa agar tidak sesat, orang harus hanya mengikuti ajaran Allah. Kata hanya digarisbawahi karena Allah hanya satu.

20:123. Allah berfirman: "Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. (versi Dep. Agama RI)

Menurut Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nabi Muhammad tergolong orang yang dapat membuat petunjuk kepada manusia karena MUI telah membuat fatwa bahwa orang yang tidak menggunakan kitab hadis sebagai pedoman adalah orang sesat. Artinya, orang yang menggunakan kitab hadis sebagai pedoman akan mendapat petunjuk dan orang yang tidak menggunakan kitab hadis akan sesat. Dalam hal ini, Nabi Muhammad telah dianggap oleh MUI sebagai orang yang mempunyai ajaran sendiri yang pengaruhnya sama dengan ajaran Allah. Jadi, secara tidak disadari, MUI telah menjadikan Nabi Muhammad sebagai Tuhan.

Nabi Muhammad tidak pernah menyatakan dirinya sebagai Tuhan. Bahkan, tidak ada isi kitab hadis yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad adalah Tuhan. Barangkali, inilah yang menyebabkan MUI tidak merasa telah menuhankan Nabi Muhammad. Tampaknya, MUI tidak menyadari bahwa perilaku menuhankan sesuatu menjadi tuhan selain Allah tercermin pada perbuatan, bukan pada perkataan atau pengakuan. Dalam hal ini, MUI merasa tidak pernah menyatakan bahwa Nabi Muhammad adalah Tuhan tetapi tindakannya menegaskan bahwa MUI telah menganggap Nabi Muhammad sebagai Tuhan.

Mengapa MUI sebagai wadah orang-orang yang mengaku beriman pada Al Qur’an justru membenci dan memusuhi orang yang mengaji Al Qur’an hanya gara-gara tidak mau menggunakan kitab hadis sebagai pedoman? Apakah itu karena Allah yang mengajarkan demikian? Tidak! Allah bahkan secara eksplisit dan sangat terang benderang mengataan bahwa orang yang mengikuti petunjuk-Nya, dalam hal ini Al Qur’an, tidak akan sesat (20:123). Jadi, MUI mengikuti ajaran siapa sehingga membenci dan memusuhi orang yang hanya menggunakan Al Qur’an saja? Jawabannya adalah ajaran tuhan selain Allah.

Petunjuk-Nya yang disebut dalam 20:123 itu apa? Apakah MUI tidak tahu? Atau, pura-pura tidak tahu? Mari kita perhatikan bersama-sama ayat berikut ini.

2:185. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.

Apakah tulisan yang berbunyi Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dalam 2:185 kurang besar ukuran font-nya sehingga MUI tidak bisa membacanya? Apakah tulisan yang berbunyi barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka dalam 20:123 kurang besar ukuran font-nya sehingga MUI tidak bisa membacanya? Apakah MUI tidak bisa menyimpulkan bahwa gabungan kedua frasa tersebut bermakna, barangsiapa yang mengikut Al Qur’an, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka?

Atau, barangkali MUI meragukan kebenaran terjemahan versi Dep. Agama RI? Marilah kita cek bersama-sama kebenaran terjemahan 20:123 versi Dep. Agama RI! Untuk itu, penulis akan menggunakan Al Qur’an terjemahan per kata yang ada di http://corpus.quran.com/wordbyword.jsp?chapter=20&verse=123. Sebelumnya, transliterasi ayat 20:123 ditampilkan berikut ini.

020.123 Q[a]la ihbi[ta] minh[a] jameeAAan baAA[d]ukum libaAA[d]in AAaduwwun fa-imm[a] ya/tiyannakum minnee hudan famani ittabaAAa hud[a]ya fal[a] ya[d]illu wal[a] yashq[a] (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

Bagian yang akan dicek kebenarannya adalah yang bergaris bawah saja. Berikut ini adalah hasil terjemahan bagian ayat 20:123 yang bergaris bawah yang terdapat di http://corpus.quran.com/wordbyword.jsp?chapter=20&verse=123.

fa-imm[a] = then if = kemudian jika
ya/tiyannakum = comes to you = datang kepadamu
minnee = from me = dari-Ku
hudan = guidance = petunjuk
famani = then whoever = maka siapapun
ittabaAAa = follows = mengikuti
hud[a]ya = my guidance = petunjuk-Ku
fal[a] = then not = maka tidak
ya[d]illu = he will go astray = ia akan tersesat
wal[a] = and not = dan tidak
yashq[a] = suffer = menderita

Jika disusun, terjemahan tersebut akan menjadi, “Kemudian, jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, maka siapapun mengikuti petunjuk-Ku, maka ia tidak akan tersesat dan tidak menderita.” Tampak dalam terjemahan tersebut bahwa terjemahan 20:123 versi Dep. Agama RI adalah sudah benar dari segi kandungan maknanya. Jadi, terjemahan 20:123 versi Dep. Agama RI pada bagian yang sedang dibahas di sini dapat digunakan sebagai argumen yang meyakinkan. Oleh sebab itu, MUI harus menjalankan ajaran Allah dalam Al Qur’an yang terdapat di ayat 20:123.

Apakah MUI tidak mengetahui ciri-ciri ulama? Marilah kita perhatikan dengan cermat ayat berikut ini?

35:28. Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (versi Dep. Agama RI)

Ayat 35:28 menerangkan bahwa ciri-ciri ulama menurut Allah adalah mempunyai sifat takut kepada Allah. Apakah MUI menghormati ayat 20:123 dan 2:185? Apakah MUI telah menjalankan ajaran Allah dalam 20:123 dan 2:185? Tidak! MUI tidak menghormati dan menaati ajaran Allah dalam 20:123 dan 2:185 karena menyatakan sesat kepada orang yang hanya beriman pada Al Qur’an saja. Jadi, apakah MUI benar-benar kumpulan ulama?

Penulis memang bukan siapa-siapa sehingga barangkali, isi makalah ini tidak akan dipandang sebagai nasehat oleh MUI. Walaupun demikian, yang perlu dikhawatirkan adalah jika MUI berperilaku seperti umat Nabi Hud, seperti yang dijelaskan dalam 26:136, 26:137, dan 26:138.

26:136. Mereka menjawab: "Adalah sama saja bagi kami, apakah kamu memberi nasehat atau tidak memberi nasehat, (versi Dep. Agama RI)

26:137. (agama kami) ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu. (versi Dep. Agama RI)

26:138. dan kami sekali-kali tidak akan di "azab." (versi Dep. Agama RI)

Apakah MUI juga menganut adat kebiasaan orang dahulu, seperti yang terjadi pada umat Nabi Hud? MUI menganut ajaran dalam kitab hadis. Kitab hadis berisi ajaran nenek moyang karena tidak pernah diketahui, dibaca, dikoreksi, dan disaksikan oleh Rasul Allah. Jadi, MUI memang mengikuti ajaran yang berupa adat kebiasaan orang dahulu. Tampaknya, inilah yang menyebabkan MUI menyatakan sesat kepada orang-orang yang tidak beriman pada kitab hadis.

Apakah MUI sebagai tempat berkumpulnya orang yang beriman pada Al Qur’an tidak pernah mengaji ajaran Al Qur’an? Jika mereka mengaji ajaran Al Qur’an, penulis yakin, mereka akan senang mengetahui ada orang yang mau mengaji ajaran Al Qur’an. Mereka akan memberi apresiasi pada orang-orang yang mau mengaji ajaran Al Qur’an. Tetapi, mengapa mereka justru menyatakan sesat, memusuhi, dan membenci orang yang hanya mengaji pada Al Qur’an saja, seolah-olah orang-orang yang mengaji Al Qur’an saja dianggap seperti orang-orang yang sedang mengaji kitab Iblis? Perlu diketahui bahwa orang yang sesat adalah orang yang mengikuti iblis (15:39 dan 15:42).

15:39. Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, (versi Dep. Agama RI)

15:42. Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat. (versi Dep. Agama RI)

Mengapa MUI tetap menyatakan sesat kepada orang yang hanya beriman pada Al Qur’an saja walaupun Al Qur’an tidak menyatakan demikian? Jawabannya adalah karena MUI mempunyai tuhan selain Allah, yaitu Nabi Muhammad.

MUI dan pengikutnya benci dengan pengajian atau makalah yang hanya menggunakan Al Qur’an saja tetapi tidak menggunakan ajaran kitab hadis. Sebaliknya, jika ajaran kitab hadis dikaji, mereka menjadi sangat gembira. Mengapa demikian? Mereka sangat kesal dengan orang-orang yang hanya mengaji Al Qur’an saja karena Tuhan mereka tidak disebut. Sebaliknya, mereka sangat gembira dengan orang-orang yang mengaji kitab hadis karena Tuhan mereka disebut. Gejala ini kurang lebih seperti yang digambarkan dalam Al Qur’an (39:45).

39:45. Dan apabila hanya nama Allah saja disebut, kesallah hati orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat; dan apabila nama sembahan-sembahan selain Allah yang disebut, tiba-tiba mereka bergirang hati. (versi Dep. Agama RI)

Sebagai penutup, makalah ini dicukupkan sekian saja. Yang terjadi pada Nabi Isa tampaknya juga telah terjadi pada Nabi Muhammad. Nabi Muhammad telah dianggap sebagai tuhan selain Allah. Makalah ini akan direvisi jika terjadi perubahan persepsi pada diri penulis.

Sabtu, 05 Desember 2015

TERJEMAHAN ALTERNATIF AYAT 49:12

Kali ini, penulis akan mengecek kebenaran penerjemahan Al Qur’an ayat 49:12 versi Dep. Agama RI. Kutipannya adalah sebagai berikut.

49:12. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (versi Dep. Agama RI)

Penulis merasakan ada kejanggalan dalam terjemahan di atas. Pertama, tidak ada kata purba-sangka dalam kamus besar bahasa Indonesia. Di samping itu, perintah untuk menjauhi kecurigaan juga terasa aneh karena kecurigaan bermanfaat untuk menghindari tindakan kejahatan. Sebagai contoh, penjaga keamanan yang memeriksa barang yang dibawa orang bermula dari kecurigaan terhadap kemugkinan keberadaan senjata, bom, atau benda berbahaya lainnya. Demikian pula, pengawas ujian dibentuk karena kecurigaan terhadap kemungkinan terjadi kecurangan dalam ujian tersebut. Kedua, larangan mencari keburukan orang lain juga terasa aneh. Dalam sebuah pertandingan, persaingan, atau pertempuran, mencari keburukan atau kelemahan orang lain yang mejadi lawan adalah wajar. Dalam sebuah organisasi, mengetahui keburukan atau kelemahan anggota adalah penting dalam pengembangan sumberdaya manusia suatu organisasi. Ketiga, larangan menggunjingkan juga terasa aneh. Perlu diingat bahwa menurut kamus besar bahasa Indonesia, menggunjingkan berarti memperkatakan. Apakah memperkatakan kejahatan seseorang dalam peristiwa pembunuhan, perampokan, penipuan, atau korupsi dilarang? Demikianlah, kejanggalan yang penulis rasakan. Oleh sebab itu, penulis akan mencoba untuk melakukan pengecekan dengan cara menerjemahkannya sendiri.

Untuk menerjemahkan ayat 49:12, transliterasinya disajikan berikut ini.

049.012 Y[a] ayyuh[a] alla[th]eena [a]manoo ijtaniboo katheeran mina a(l){thth}anni inna baAA[d]a a(l){thth}anni ithmun wal[a] tajassasoo wal[a] yaghtab baAA[d]ukum baAA[d]an ayu[h]ibbu a[h]adukum an ya/kula la[h]ma akheehi maytan fakarihtumoohu wa(i)ttaqoo All[a]ha inna All[a]ha taww[a]bun ra[h]eem(un) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

Metode penerjemahannya adalah dengan menggunakan berbagai referensi pelajaran bahasa Arab dan arti kata berdasarkan akar kata yang ada di project root list di http://www.studyquran.co.uk/PRLonline.htm. Kutipan dari project root list ditampilkan pada bagian akhir makalah ini untuk memudahkan proses pembacaan dan memungkinkan pembaca mengecek hasil terjemahan.

Hasil penerjemahan per kata ayat 49:12 adalah seperti berikut ini.

Y[a] ayyuh[a] = Wahai
alla[th]eena = orang-orang yang
[a]manoo = beriman
Ijtaniboo = hilangkanlah
katheeran = kebanyakan
mina = dari
a(l){thth}anni = asumsi
inna = sesungguhnya
baAA[d]a = suatu
a(l){thth}anni= asumsi
 ithmun = dosa
wal[a] = dan jangan
tajassasoo = menyelidiki untuk membentuk penilaian
 wal[a] = dan jangan
yaghtab = menyembunyikan
baAA[d]ukum = seseorang dari kamu
baAA[d]an = sesuatu
ayu[h]ibbu = sukakah
a[h]adukum = siapapun dari kamu
an = (Dalam bahasa Inggris berarti sama dengan to sehingga tidak diterjemahkan)
ya/kula = memakan
la[h]ma = daging
akheehi = saudara
maytan = yang mati
fa = maka
karihtumoohu = kamu benci
wa = dan
(i)ttaqoo = melindungi
All[a]ha = Allah
inna = sesungguhnya
All[a]ha = Allah
taww[a]bun =taubat
ra[h]eem(un) = pengampun

Jika disusun, hasil penerjemahan tersebut akan menjadi seperti berikut ini.

Wahai orang-orang yang beriman hilangkanlah kebanyakan dari asumsi sesungguhnya suatu asumsi dosa dan jangan menyelidiki untuk membentuk penilaian dan jangan menyembunyikan seseorang dari kamu sesuatu sukakah siapapun dari kamu memakan daging saudara yang mati maka kamu benci dan melindungi Allah sesungguhnya Allah taubat pengampun

Terjemahan di atas masih perlu diperbaiki agar sesuai dengan aturan bahasa Indonesia. Hasilnya adalah sebagai berikut.

Wahai orang-orang yang beriman! Hilangkanlah kebanyakan dari asumsi! Sesungguhnya, suatu asumsi adalah dosa. Dan jangan menyelidiki untuk membentuk penilaian! Dan jangan seseorang dari kamu menyembunyikan sesuatu! Sukakah siapapun dari kamu memakan daging saudara yang mati? Maka, kamu benci. Dan Allah melindungi. Sesungguhnya, Allah pengampun taubat.

Terjemahan versi penulis memperlihatkan bahwa ayat 49:12 berisi ajaran agar orang hanya mengikuti kebenaran, yaitu informasi yang berasal dari Allah. Kebenaran tersebut adalah berupa informasi dari Allah yang disampaikan oleh Rasul Allah. Informasi yang disampaikan oleh selain Rasul Allah adalah hanya asumsi. Dalam ayat tersebut, ada perintah untuk menghilangkan asumsi. Artinya, Allah memerintahkan orang agar membuang ajaran-ajaran yang hanya berupa asumsi sehingga yang ada hanyalah ajaran Allah saja. Selain itu, ada larangan untuk menyembunyikan sesuatu. Menurut penulis, sesuatu yang dimaksud dalam hal ini adalah informasi dari Allah yang telah disampaikan oleh Rasul Allah. Dengan demikian, orang dilarang untuk menyembunyikan informasi dari Allah yang telah disampaikan oleh Rasul Allah. Dalam ayat itu pula, ada larangan untuk melakukan penyelidikan untuk membuat penilaian. Penilaian yang dimaksud adalah penilaian terhadap kebenaran informasi dari Allah. Maksudnya, kebenaran informasi dari Allah tidak bisa dinilai berdasarkan hasil penyelidikan. Atau, orang tidak boleh mencari ajaran Allah dengan cara melakukan penyelidikan atau penelitian. Kebenaran informasi dari Allah dinilai benar jika disampaikan oleh Rasul Allah.

Selanjutya, kalimat “Sukakah siapapun dari kamu memakan daging saudara yang mati? Maka, kamu benci.” menggambarkan siksaan di neraka bagi orang-orang yang melanggar perintah dalam 49:12. Artinya, orang yang melanggar perintah dalam 49:12 akan disiksa dengan cara memakan daging saudaranya yang mati. Gambaran siksaan di neraka berupa aktivitas memakan sesuatu yang bersifat menyiksa, yaitu memakan api, ada di ayat 2:174 (kutipannya ditampilkan bersamaan dengan kutipan ayat tentang menyembunyikan). Contoh lainya adalah siksaan memakan pohon zaqqum (pohon yang membuat tersiksa orang yang memakanya) (56:52 dan 56:53).

56:52. benar-benar akan memakan pohon zaqqum, (versi Dep. Agama RI)

56:53. dan akan memenuhi perutmu dengannya. (versi Dep. Agama RI)

Perilaku orang mengikuti ajaran yang hanya berupa asumsi terdapat dalam ayat 4:157, 6:116, 6:148; 10:36, 10:66, 49:12, 53:23, dan 53:28. Informasi ini ada dalam kutipan arti kata berdasarkan akar kata za-nun-nun pada kata thanni/a dalam project root list. Agar lebih jelas, kutipan terjemahan versi Dep. Agama yang memuat ayat-ayat tersebut ditampilkan berikut ini..

4:157. dan karena ucapan mereka: "Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. (versi Dep. Agama RI)

6:116. Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah) (versi Dep. Agama RI)

6:148. Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan, akan mengatakan: "Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apapun." Demikian pulalah orang-orang sebelum mereka telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah: "Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada Kami?" Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanyalah berdusta. (versi Dep. Agama RI)

10:36. Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. (versi Dep. Agama RI)

10:66. Ingatlah, sesungguhnya kepunyaan Allah semua yang ada di langit dan semua yang ada di bumi. Dan orang-orang yang menyeru sekutu-sekutu selain Allah, tidaklah mengikuti (suatu keyakinan). Mereka tidak mengikuti kecuali prasangka belaka, dan mereka hanyalah menduga-duga. (versi Dep. Agama RI)

49:12. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (versi Dep. Agama RI)

53:23. Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengadakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah) nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka. (versi Dep. Agama RI)

53:28. Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran. (versi Dep. Agama RI)

Tampak dalam kutipan di atas bahwa kata thanni/a (asumsi) diterjemahkan menjadi kata yang berbeda-beda, yaitu persangkaan, sangkaan-sangkaan, purba-sangka, dan prasangka.

Perilaku orang menyembunyikan informasi dari Allah yang disampaikan oleh Rasul Allah diterangkan dalam ayat-ayat berikut ini.

2:159. Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila'nati Allah dan dila'nati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat mela'nati, (versi Dep. Agama RI)

2:174. Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih. (versi Dep. Agama RI)

2:146. Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui. (versi Dep. Agama RI)

3:71. Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampur adukkan yang haq dengan yang bathil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahuinya? (versi Dep. Agama RI)

Penjelasan bahwa kebenaran yang disembunyikan yang dimaksud adalah informasi dari Allah yang disampaikan oleh Rasul Allah terdapat dalam 2:159 dan 2:174. Dalam kedua ayat tersebut, informasi dari Allah yang disampaikan oleh Rasul Allah dinyatakan dengan frasa “apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk” dan “apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al Kitab”. Di sisi lain, ayat 2:146 dan 3:71 menerangkan bahwa yang disembunyikan adalah kebenaran. Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa kebenaran yang dimaksudkan dalam Al Qur’an adalah informasi dari Allah yang disampaikan oleh Rasul Allah yang terdapat dalam kitab Allah. Ayat lain yang menegaskan bahwa informasi dari Allah yang disampaikan oleh Rasul Allah adalah kebenaran yaitu 35:24. Jadi, ayat 49:12 berisi larangan menyembunyikan kebenaran, yaitu informasi dari Allah yang disampaikan oleh Rasul Allah.

35:24. Sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. Dan tidak ada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan. (versi Dep. Agama RI)

Semua keterangan tentang perilaku menggunakan asumsi dan menyembunyikan kebenaran seperti yang terkandung dalam ayat-ayat Al Qur’an di atas menjelaskan tentang kejadian-kejadian pada saat Al Qur’an diturunkan. Bagaimanakah dengan kejadian-kejadian sesudah itu? Apakah perilaku menggunakan asumsi dan menyembunyikan kebenaran masih terjadi?

Penggunaan asumsi untuk mendapatkan kebenaran masih terjadi sesudah Al Qur’an diturunkan. Penggunaan asumsi untuk mendapatkan kebenaran yang paling menonjol adalah penggunaan kitab hadis sebagai pedoman hidup. Informasi dalam kitab hadis adalah hanya asumsi karena isinya tidak dikonfirmasikan kepada Nabi Muhammad sebagai Rasul Allah. Ini menunjukkan bahwa penggunaan kitab hadis adalah dosa sehingga perlu ditinggalkan.

Penggunaan asumsi untuk mengetahui penilaian Allah terhadap seseorang juga sering dilakukan. Banyak orang merasa mendapat petunjuk Allah walaupun Allah tidak pernah memberi wahyu kepada orang-orang tersebut tentang hal tersebut. Dengan demikian, orang-orang tersebut hanyalah menggunakan asumsi. Hal ini dapat terjadi pada semua orang, termsuk penulis. Oleh sebab itu, kita harus selalu berdoa agar diberi petunjuk Allah. Selain itu, banyak orang menuduh sesat orang lain walaupun Allah tidak pernah memberitahu kepada yang menuduhnya tentang penilaian Allah terhadap orang yang dituduh. Ini berarti bahwa tuduhan sesat yang hanya bersifat asumsi sebaiknya ditinggalkan..

Perilaku melakukan penyelidikan untuk menilai kebenaran juga terjadi sesudah Al Qur’an diturunkan. Banyak orang beraggapan bahwa suatu informasi dalam kitab hadis dinyatakan benar apabila informasi tersebut dinyatakan sahih. Untuk menyatakan sahih suatu informasi dalam kitab hadis, orang melakukan penyelidikan dengan metode tertentu. Ini menunjukkan bahwa penggunaan kitab hadis berdasarkan tingkat kesahihan adalah dosa sehingga sebaiknya ditinggalkan..

Perilaku menyembunyikan kebenaran dapat dilakukan dengan berbagai cara. Penyembunyian kebenaran dapat dilakukan dengan cara :merubah isi kitab Allah, menerjemahkan kitab Allah secara salah, dan menampilkan kitab Allah terjemahan secara tidak lengkap. Merubah isi kitab Allah, yaitu Al Qur’an tidak terjadi. Namun, penerjemahan Al Qur’an secara salah masih terjadi. Perilaku menampilkan Al Qur’an terjemahan secara tidak lengkap dan disengaja juga sering terjadi. Selain itu, ada pula penyembunyian kebenaran yang terselubung, yaitu mengalihkan perhatian orang dengan memperlakukan Al Qur’an seperti syair lagu sehingga orang lebih memperhatikan suara merdu atau teknik menyanyi yang bagus daripada informasi dari Allah yang terkandung di dalamnya. Dalam hal ini, kebenaran informasi dari Allah disembunyikan dengan suara merdu dan teknik menyanyi.

Demikianlah hasil dan penjelasan penerjemahan ayat 49:12 secara mandiri. Apabila terjadi perubahan persepsi pada diri penulis, makalah ini akan direvisi.

LAMPIRAN
Lampiran berupa kutipan arti kata berdasarkan akar kata yang diambil dari project root list http://www.studyquran.co.uk/PRLonline.htm. ditampilkan di sini karena penulis merasa tidak bisa berbahasa Arab. Di samping itu, ini mungkin akan membantu pembaca yang tidak bisa berbahasa Arab seperti penulis. Berikut ini adalah kutipan tersebut.

Jiim-Nun-Ba = To break or hit or hurt one's side, to lead one by his side, place or put a thing aside, to remove or send a thing far away or far off, estrange or alienate someone, descend and abode/settle as a stranger among people, to be remote/distant/far off/aloof from someone, shun or avoid someone, alienate or estrange oneself from someone, to be under the obligation of performing a total bath or ablution (by reason of sexual intercourse and semenal discharge), to be lateral or adjacent to someone or to a thing, walk by the side of another, to be gentle/compliant/easy to deal with, to be much of.
janaba vb. (1)
impv. 14:35
janb n.m. (pl. junub) 3:191, 4:36, 4:103, 9:35, 10:12, 22:36, 32:16, 39:56
janib n.m. 17:68, 17:83, 19:52, 20:80, 28:29, 28:44, 28:46, 37:8, 41:51
junub n.m. 4:36, 4:43, 5:6, 28:11
jannaba vb. (2) impf. pass. 92:17
tajannaba vb. (5) impf. act. 87:11
ijtanaba vb. (8)
perf. act. 39:17
impf. act. 4:31, 42:37, 53:32
impv. 5:90, 16:36, 22:30, 22:30, 49:12
Lane's Lexicon, Volume 2, page: 100101102103104

Kaf-Tha-Ra = To surpass in number or quantity, increase, multiply, happen often; To be much, many, numerous.
kathura vb. (1)
perf. act. 4:7, 8:19
kathir n.m. 2:26, 2:26, 2:100, 2:109, 2:243, 2:245, 2:249, 2:269, 3:41, 3:110, 3:146, 3:186, 4:1, 4:12, 4:19, 4:82, 4:94, 4:100, 4:114, 4:160, 5:15, 5:15, 5:32, 5:49, 5:59, 5:62, 5:64, 5:66, 5:68, 5:71, 5:77, 5:80, 5:81, 5:103, 6:37, 6:91, 6:111, 6:116, 6:119, 6:137, 7:17, 7:102, 7:102, 7:131, 7:179, 7:187, 8:34, 8:43, 8:45, 9:8, 9:25, 9:34, 9:69, 9:82, 10:36, 10:55, 10:60, 10:92, 11:17, 11:91, 12:21, 12:38, 12:40, 12:68, 12:103, 13:1, 14:36, 16:38, 16:75, 16:83, 16:101, 17:6, 17:70, 17:74, 17:89, 18:34, 18:54, 20:33, 20:34, 21:24, 22:18, 22:18, 22:40, 23:19, 23:21, 23:70, 25:14, 25:38, 25:44, 25:49, 25:50, 26:8, 26:67, 26:103, 26:121, 26:139, 26:158, 26:174, 26:190, 26:223, 26:227, 27:15, 27:61, 27:73, 27:76, 28:13, 28:57, 28:78, 29:63, 30:6, 30:8, 30:9, 30:30, 30:42, 31:25, 33:21, 33:35, 33:41, 34:28, 34:35, 34:36, 34:41, 36:7, 36:62, 37:71, 38:24, 38:51, 39:29, 39:49, 40:57, 40:59, 40:61, 40:82, 41:4, 41:22, 42:30, 42:34, 43:73, 43:78, 44:39, 45:26, 48:19, 48:20, 49:4, 49:7, 49:12, 52:47, 56:32, 57:16, 57:26, 57:27, 58:7, 62:10, 71:24
kathrah n.f. 5:100, 9:25
kawthar n.m. 108:1
kaththara vb. (2) perf. act. 7:86
akthara vb. (4) perf. act. 11:32, 89:12
takathara vb. (6)
n.vb. 57:20, 102:1
istakthara vb. (10)
perf. act. 6:128, 7:188
impf. act. 74:6
LL, V7, p: 121122

Za-Nun-Nun = To think, suppose, doubt, assume, deem, believe, know, imagine, suspect, conjunctive, be sure of something in view of one's observations. As a general rule often this verb is succeeded by 'anna or 'an, that means to be sure about.
يظنون yathunnoona - They know/believe/conjecture [2:46, 78, 249; 3:154; 45:24]
ظنا thannaan - Thinking, conjecture, idea [2:230; 10:36; 45:32]
ظن thannu/a - He thought, imagined, deemed, believed, assumed, conjectured, suspected; He was sure [3:154; 10:60; 12:42; 24:12; 38:27; 48:6, 12; 84:14]
الظن thanni/a - [4:157; 6:116, 148; 10:36, 66; 49:12 (2x); 53:23; 28 (2x)]
لنظنك thunnuka - Believe, think [7:66]
وظنوا thannoo - They imagined [7:171; 9:118; 10:22; 12:110; 28:39; 41:48; 59:2]
ظننتم thanantum - You thought [41:22, 23; 48:12; 59:2; 72:7]
ظنوا thannoo - They thought [72:7]
وظن thanna - Conclude [10:24; 38:24; 75:28]
نظنكم nathunnu - We think [11:27]
وتظنون thunnoona - Diverse thoughts, You thought [17:52; 33:10]
لاظنك thunnu - I think [17:101, 102]
فظنوا thannoo - They imagined [18:53]
فظن thanna - He imagined [21:87]
يظن yathunnu - He thinks [22:15; 83:4]
نظنك nathunnu - We deem [26:186]
لاظنه athunnu - I think [28:38; 40:37]
ظنه thanna - His idea [34:20]
ظنكم thannu - [37:87; 41:23]
نظن nathunnu - We deem [45:32]
الظانين thanneena - Entertainers of evil thought [48:6]
ظننت thanantu - I was sure [69:20]
ظننا thanannaan - We thought [72:5, 12]
تظن Tathunnu - She thinks [75:25]
LL, V5, pages: 209210211

Ba-Ayn-Dad =
Gnats, mosquitoes, bitten, annoyed or molested by gnats or mosquitoes
Dividing into parts or portions, which are distinct or separate from each other
Part or portion
Something or someone
An impossible or difficult thing imposed on someone.
ba'udah n.f. 2:26
LL, V1, p: 264

Alif-Tha-Miim = to commit a crime/sin or lie. ithm - sin, crime, guilt, iniquity, lie, anything that hinders from good deeds, harmful, anything which renders a person deserving of punishment, anything that pricks the mind as something evil, unlawful. athaam - punishment of wickedness, the requital. aathim - evil doer, one who sins. athiim - wicked person. taa'thiim - accusation of crime.
athima vb. (1) pcple. act. 2:283, 5:106, 76:24
atham n.m. 25:68
athim n.m. 2:276, 4:107, 2:222, 44:44, 45:7, 68:12, 83:12
ithm n.m. 2:85, 2:173, 2:181, 2:182, 2:182, 2:188, 2:203, 2:203, 2:206, 2:219, 2:219, 3:178, 4:20, 4:48, 4:50, 4:111, 4:112, 4:112, 5:2, 5:3, 5:29, 5:29, 5:62, 5:63, 5:107, 6:120, 6:120, 7:33, 24:11, 33:58, 42:37, 49:12, 53:32, 58:8, 58:9
aththama vb. (2) n.vb. 52:23, 56:25
Lane's Lexicon, Volume 1, page: 58, 59

Jiim-Siin-Siin = To test or judge or scrutinize a thing, to spy or investigate or examine in order to form a judgement, inquire about or spy into a thing.
tajassasa vb. (5) impf. act. 49:12
Lane's Lexicon, Volume 2, page: 5859

غ ي ب
Ghayn-Ya-Ba = absent/remote/hidden/concealed, absent from the range or beyond the reach of perception by sense or of mental perception, unseen/invisible.
To read the full Lane's Lexicon entry, please click here.
ghaba vb. (1)
n.vb. 2:3, 2:33, 3:44, 3:179, 4:34, 5:94, 5:109, 5:116, 6:50, 6:59, 6:73, 7:188, 9:78, 9:94, 9:105, 10:20, 11:31, 11:49, 11:123, 12:52, 12:81, 12:102, 13:9, 16:77, 18:22, 18:26, 19:61, 19:78, 21:49, 23:92, 27:65, 32:6, 34:3, 34:14, 34:48, 34:53, 35:18, 35:38, 36:11, 39:46, 49:18, 50:33, 52:41, 53:35, 57:25, 59:22, 62:8, 64:18, 67:12, 68:47, 72:26, 72:26, 81:24 (ghaybi, ghayba, ghuyuubi, ghaybu, ghaybihi)
pcple. act. 7:7, 27:20, 27:75, 82:16 (ghaa-ibiina, ghaa-ibatin)
ghayabah n.f. 12:10, 12:15 (ghayaabati)
ightaba vb. (8) impf. act. 49:12 (yaghtab)
Lane’s Lexicon, Volume 6, pages: 969798

Ha-Ba-Ba = To love, like, wish.
Habbun = Grain; Corn; Seed.
ahibba n.m. (pl. of habib) 5:18
habbah n.f. (pl. habb) 2:261, 2:261, 6:59, 6:95, 6:99, 21:47, 31:16, 36:33, 50:9, 55:12, 78:15, 80:27
hubb n.m. 2:165, 2:165, 2:177, 3:14, 12:30, 38:32, 76:8, 89:20, 100:8
mahabbah n.f. 20:39
ahabb n.com. 9:24, 12:8, 12:33
habbaba vb. (2)
perf. act. 49:7
ahabba vb. (4)
perf. act. 28:56, 38:32
impf. act. 2:165, 2:190, 2:195, 2:205, 2:216, 2:222, 2:222, 2:276, 3:31, 3:31, 3:32, 3:57, 3:76, 3:92, 3:119, 3:119, 3:134, 3:140, 3:146, 3:148, 3:152, 3:159, 3:188, 4:36, 4:107, 4:148, 5:13, 5:42, 5:54, 5:54, 5:64, 5:87, 5:93, 6:76, 6:141, 7:31, 7:55, 7:79, 8:58, 9:4, 9:7, 9:108, 16:23, 22:38, 24:19, 24:22, 28:76, 28:77, 30:45, 31:18, 42:40, 49:9, 49:12, 57:23, 59:9, 60:8, 61:4, 61:13, 75:20, 76:27, 89:20
istahabba vb. (10)
perf. act. 9:23, 16:107, 41:17
impf. act. 14:3
Lane's Lexicon, Volume 2, page: 131132133134

Alif-Ha-Dal = make/call it one, unity, anyone/anything.
ahada ashara (eleven).
ahad n. 2:96, 2:102, 2:102, 2:136, 2:180, 2:266, 2:282, 2:282, 2:285, 3:73, 3:84, 3:91, 3:153, 4:18, 4:20, 4:43, 4:152, 5:6, 5:20, 5:27, 5:106, 5:115, 6:61, 7:80, 8:7, 9:4, 9:6, 9:52, 9:84, 9:127, 11:81, 12:36, 12:41, 12:78, 15:65, 16:58, 16:76, 17:23, 18:19, 18:22, 18:26, 18:32, 18:38, 18:42, 18:47, 18:49, 18:110, 19:26, 19:98, 23:99, 24:6, 24:21, 24:28, 28:25, 28:26, 28:27, 29:28, 33:32, 33:39, 33:40, 35:41, 35:42, 38:35, 43:!7, 49:9, 49:12, 59:11, 63:10, 69:47, 72:2, 72:7, 72:18, 72:20, 72:22, 72:26, 74:35, 89:25, 89:26, 90:5, 90:7, 92:19, 112:1, 112:4
ahada ashara n. num. 12:4
Lane's Lexicon, Volume 1, pages: 63, 64, 65

Alif-Kaf-Lam = swallowing food after chewing, means of subsistence, devoured/consumed, fed/supplied, things to be eaten, eatables
akala vb. (1)
perf. act. 5:3, 5:66, 12:14, 12:17, 20:121
impf. act. 2:174, 2:188, 2:188, 2:275, 3:49, 3:130, 3:183, 4:2, 4:6, 4:6, 4:10, 4:10, 4:29, 5:75, 5:113, 6:119, 6:121, 7:73, 9:34, 10:24, 11:64, 12:13, 12:36, 12:41, 12:43, 12:46, 12:47, 12:48, 15:3, 16:5, 16:14, 21:8, 23:19, 23:21, 23:33, 23:33, 24:61, 24:61, 25:7, 25:8, 25:20, 32:27, 34:14, 35:12, 36:33, 36:35, 36:72, 37:91, 40:79,, 43:73, 47:12, 47:12, 49:12, 51:27, 69:37, 89:19
impv. 2:35, 2:57, 2:58, 2:60, 2:168, 2:172, 2:187, 4:4, 5:4, 5:88, 6:118, 6:141, 6:142, 7:19, 7:31, 7:160, 7:161, 8:69, 16:69, 16:114, 19:26, 20:54, 20:81, 22:28, 22:36, 23:51, 34:15, 52:19, 67:15, 69:24, 77:43, 77:46
n.vb. 4:161, 5:62, 5:63, 89:19
pcple. act. 23:20, 37:66, 56:52
pcple. pass. 105:5
akkal n.m. 5:42
ukul n.m. 2:265, 6:141, 13:4, 13:35, 14:25, 18:33, 34:16
Lane's Lexicon, Volume 1, pages: 108, 109, 110

Lam-Ha-Miim = flesh/meat, to feed with flesh, skin/hide/cloth.
[lahm n.m. (pl. luhum) - 2:173, 2:259, 5:3, 6:145, 16:14, 16:115, 22:37, 23:14, 35:12, 49:12, 52:22, 56:21]
LL, V8, p: 262263

Alif-Kha-Waw = Male person having the same parents as another or a male only having one parent in common; person of the same descent/land/creed/faith with others; brother; friend; companion; match; fellow of a pair; kinsman; intimately acquainted.
Signifying the relation of a brother - brotherhood/fraternity. Act in a brotherly manner. An associate/fellow. Sister, female friend. When it does not relate to birth, it means conformity/similarity and combination/agreement or unison in action.
akh n.m. (pl. ikhwah, ikhwan) 2:178, 2:220, 3:103, 3:156, 3:168, 4:11, 4:12, 4:23, 4:176, 5:25, 5:30, 5:31, 5:31, 6:87, 7:65, 7:73, 7:85, 7:111, 7:142, 7:150, 7:151, 7:202, 9:11, 9:23, 9:24, 10:87, 11:50, 11:61, 11:85, 12:5, 12:7, 12:8, 12:58, 12:59, 12:63, 12:64, 12:65, 12:69, 12:69, 12:70, 12:76, 12:76, 12:76, 12:77, 12:87, 12:89, 12:90, 12:100, 15:47, 17:27, 19:53, 20:30, 20:42, 23:45, 24:31, 24:31, 24:61, 25:35, 26:36, 26:106, 26:124, 26:142, 26:161, 27:45, 28:34, 28:35, 29:36, 33:5, 33:18, 33:55, 38:23, 46:21, 49:10, 49:12, 50:13, 58:22, 59:10, 59:11, 70:12, 80:34
ukht n.f. (pl. akhawat) 4:12, 4:23, 4:23, 4:23, 4:23, 4:176, 7:38, 19:28, 20:40, 24:31, 24:61, 28:11, 33:55, 43:48
Lane's Lexicon, Volume 1, pages: 69, 70, 71

Miim-Waw-Ta = To die, to pass away from the earthly life, to be destitute or deprived of life, deprived of sensation, deprived of the intellectual faculty, to be still/quiet/motionless, to be calm/still, to sleep, lifeless, to be assuaged, dried up by the earth, to cease, wear out/be worn out, to be poor/reduced to poverty, abject/base/despicable/vile, disobedient or rebellious, lowly/humble/submissive, to be soft/loose/flabby/relaxed, lack spirit or life.
mata vb. (1)
perf. act. 2:161, 3:91, 3:144, 3:156, 3:157, 3:158, 9:84, 9:84, 9:125, 19:23, 19:66, 21:34, 22:58, 23:35, 23:82, 37:16, 37:53, 47:34, 50:3, 56:47
impf. act. 2:132, 2:217, 3:102, 3:145, 4:18, 7:25, 16:38, 19:15, 19:33, 20:74, 23:37, 25:58, 31:34, 35:36, 39:42, 45:24, 87:13
impv. 2:243, 3:119
n.vb. 2:19, 2:56, 2:94, 2:133, 2:164, 2:180, 2:243, 2:259, 3:143, 3:168, 3:185, 4:15, 4:18, 4:78, 4:100, 4:159, 5:106, 5:106, 6:61, 6:93, 8:6, 11:7, 14:17, 16:65, 21:35, 23:99, 25:3, 29:57, 29:63, 30:19, 30:24, 30:50, 32:11, 33:16, 33:19, 34:14, 34:14, 35:9, 39:42, 44:56, 45:5, 47:20, 50:19, 56:60, 57:17, 62:6, 62:8, 63:10, 67:2
mamat n.m. 6:162, 17:75, 45:21
mawtah n.f. 37:59, 44:35, 44:56
mayt n.m. (pl. amwat) 2:28, 2:154, 3:169, 6:122, 16:21, 25:49, 35:22, 43:11, 49:12, 50:11, 77:26
maytah n.f. 2:173, 5:3, 6:139, 6:145, 16:115, 36:33
mayyit n.m. (pl. mawta and mayyitun) 2:73, 2:260, 3:27, 3:27, 3:49, 5:110, 6:36, 6:95, 6:95, 6:111, 7:57, 7:57, 10:31, 10:31, 13:31, 14:17, 22:6, 23:15, 27:80, 30:19, 30:19, 30:50, 30:52, 35:9, 36:12, 37:58, 39:30, 39:30, 41:39, 42:9, 46:33, 75:40
amata vb. (4)
perf. act. 2:259, 40:11, 53:44, 80:21
impf. act. 2:28, 2:258, 2:258, 3:156, 7:158, 9:116, 10:56, 15:23, 22:66, 23:80, 26:81, 30:40, 40:68, 44:8, 45:26, 50:43, 57:2
LL, V7, p: 269270271

Kaf-Ra-ha = To find difficult, dislike, disapprove, feel aversion to, be averse from, loathe, abhor, hate, detest, be unwilling.
kariha vb. (I)
perf. act. - 4:19, 8:8, 9:32, 9:33, 9:46, 9:81, 10:82, 40:14, 47:9, 47:26, 47:28, 49:12, 61:8, 61:9
impf. act. - 2:216, 4:19, 16:62
n. vb. - 2:216, 3:83, 4:19, 9:53, 13:15, 41:11, 46:15, 46:15
pcple. act. - 7:88, 8:5, 9:48, 9:54, 11:28, 23:70, 43:78
pcple. pass. 17:38
karraha vb. (II) - 49:7
akraha vb. (IV)
perf. act. 20:73
impf. act. 10:99, 24:33, 24:33
perf. pass. 16:106
n. vb. 2:256, 24:33
LL, V8 supplement, p: 254

Waw-Qaf-Ya = to protect, save, preserve, ward off, guard against evil and calamity, be secure, take as a shield, regard the duty. muttaqii - one who guard against evil and against that which harms and injures and is regardful of his duty towards human beings and God.
waqa vb. (1) perf. act. 40:45, 44:56, 52:18, 52:27, 76:11
impf. act. 16:81, 16:81, 40:9
impv. 2:201, 3:16, 3:191, 40:7, 40:9, 66:6
impf. pass. 59:9, 64:16
pcple. act. 13:34, 13:37, 40:21
taqiy n.m. (adj. comp. atqa) 19:13, 19:18, 19:63, 49:13, 92:17
taqwa n.f. 2:197, 2:237, 5:2, 5:8, 7:26, 9:108, 9:109, 20:132, 22:32, 22:37, 47:17, 48:26, 49:3, 58:9, 74:56, 91:8, 96:12
tuqat n.f. 3:28, 3:102
ittaqa vb. (8)
perf. act. 2:103, 2:189, 2:203, 2:212, 3:15, 3:76, 3:172, 3:198, 4:77, 5:65, 5:93, 5:93, 5:93, 7:35, 7:96, 7:201, 12:109, 13:35, 16:30, 16:128, 19:72, 33:32, 39:20, 39:61, 39:73, 53:32, 92:5
impf. act. 2:21, 2:63, 2:179, 2:183, 2:187, 2:224, 2:282, 2:283, 3:28, 3:120, 3:125, 3:179, 3:186, 4:9, 4:128, 4:129, 6:32, 6:51, 6:69, 6:69, 6:153, 7:63, 7:65, 7:156, 7:164, 7:169, 7:171, 8:29, 8:56, 9:115, 10:6, 10:31, 10:63, 12:57, 12:90, 16:52, 20:113, 23:23, 23:32, 23:87, 24:52, 26:11, 26:106, 26:124, 26:142, 26:161, 26:177, 27:53, 37:124, 39:24, 39:28, 41:18, 47:36, 65:2, 65:4, 65:5, 73:17
impv. 2:24, 2:41, 2:48, 2:123, 2:189, 2:194, 2:196, 2:197, 2:203, 2:206, 2:223, 2:231, 2:233, 2:278, 2:281, 2:282, 3:50, 3:102, 3:123, 3:130, 3:131, 3:200, 4:1, 4:1, 4:131, 5:2, 5:4, 5:7, 5:8, 5:11, 5:35, 5:57, 5:88, 5:96, 5:100, 5:108, 5:112, 6:72, 6:155, 8:1, 8:25, 8:69, 9:119, 11:78, 15:69, 16:2, 22:1, 23:52, 26:108, 26:110, 26:126, 26:131, 26:132, 26:144, 26:150, 26:163, 26:179, 26:184, 29:16, 30:31, 31:33, 33:1, 33:37, 33:55, 33:70, 36:45, 39:10, 39:16, 43:63, 49:1, 49:10, 49:12, 57:28, 58:9, 59:7, 59:18, 59:18, 60:11, 64:16, 65:1, 65:10, 71:3
pcple. act. 2:2, 2:66, 2:177, 2:180, 2:194, 2:241, 3:76, 3:115, 3:133, 3:138, 5:27, 5:46, 7:128, 8:34, 9:4, 9:7, 9:36, 9:44, 9:123, 11:49, 13:35, 15:45, 16:30, 16:31, 19:85, 19:97, 21:48, 24:34, 25:15, 25:74, 26:90, 28:83, 38:28, 38:49, 39:33, 39:57, 43:35, 43:67, 44:51, 45:19, 47:15, 50:13, 51:15, 52:17, 54:54, 68:34, 69:48, 77:41, 78:31
Lane's Lexicon, Volume 8, pages: 313

Ta-Waw-Ba = To return; repent; turn one's self in a repentant manner (with ila or without it), turn with mercy (with ala), adapt.
taba vb. (1)
perfect active state: [2:37, 2:54, 2:160, 2:187, 2:279, 3:89, 4:16, 4:18, 4:146, 5:34, 5:39, 5:71, 6:54, 7:143, 7:153, 9:3, 9:5, 9:11, 9:117 (x2), 9:118, 11:112, 16:119, 19:60, 20:82, 20:122, 24:5, 25:70, 25:71, 28:67, 40:7, 46:15, 58:13, 73:20]
imperfect active state - [2:160, 3:128, 4:17 (x2), 4:26, 4:27, 5:39, 5:74, 9:15, 9:27, 9:74, 9:102, 9:106, 9:118, 9:126, 25:71, 33:24, 33:73, 49:11, 66:4, 85:10]
imperative state - [2:54, 2:128, 11:3, 11:52, 11:61, 11:90, 24:31, 66:8, noun verb - 3:90, 4:17, 4:18, 4:92, 9:104, 40:3, 42:25, 66:8, participle active - 9:112, 66:5]
matab, noun masculine - [13:30, 25:71]
tawwab, noun masculine - [2:37, 2:54, 2:128, 2:160, 2:222, 4:16, 4:64, 9:104, 9:118, 24:10, 49:12, 110:3]
Lane's Lexicon, Volume 1, page: 358

Ra-Ha-Miim =
Rahima - He favored, benefited, pardoned, or forgave him. To love, have tenderness, mercy, pity, forgiveness, have all that is required for exercising beneficence.
Tarhamu - He had mercy, pity, or compassion on him; he pitied or compassionated him much.
Arham - Wombs (singular) womb, i.e. place of origin. The receptacle of the young in the belly.
Ruhmun - Relationship, i.e. nearness of kin, connection by birth; relationship connecting with an ancestor. A connection or tie of relationship.
Rahman - it is active participle noun in the measure of fa'lan which conveys the idea of fullness and extensiveness.
Rahim - it is in the measure of fa'il which denotes the idea of constant repetition and giving.
rahima vb. (1)
perf. act. 6:16, 11:43, 11:119, 12:53, 23:75, 40:9, 44:42, 67:28
impf. act. 7:23, 7:149, 9:71, 11:47, 17:8, 17:54, 29:21
impv. 2:286, 7:155, 17:24, 23:109, 23:118
impf. pass. 3:132, 6:155, 7:63, 7:204, 24:56, 27:46, 36:45, 49:10
n.vb. 2:64, 2:105, 2:157, 2:178, 2:218, 3:8, 3:74, 3:107, 3:157, 3:159, 4:83, 4:96, 4:113, 4:175, 6:12, 6:54, 6:133, 6:147, 6:154, 6:157, 7:49, 7:52, 7:56, 7:57, 7:72, 7:151, 7:154, 7:156, 7:203, 9:21, 9:61, 9:99, 10:21, 10:57, 10:58, 10:86, 11:9, 11:17, 11:28, 11:58, 11:63, 11:66, 11:73, 11:94, 12:56, 12:111, 12:56, 16:64, 16:89, 17:24, 17:28, 17:57, 17:82, 17:87, 17:100, 18:10, 18:16, 18:58, 18:65, 18:82, 18:98, 19:2, 19:21, 19:50, 19:53, 21:75, 21:84, 21:86, 21:107, 24:10, 24:14, 24:20, 24:21, 25:48, 27:19, 27:63, 27:77, 28:43, 28:46, 28:73, 28:86, 29:23, 29:51, 30:21, 30:33, 30:36, 30:46, 30:50, 31:3, 33:17, 35:2, 36:44, 38:9, 38:43, 39:9, 39:38, 39:38, 39:53, 40:7, 41:50, 42:8, 42:28, 42:48, 43:32, 43:32, 44:6, 45:20, 45:30, 46:12, 48:25, 57:13, 57:27, 57:28, 76:31
pcple. act. 7:151, 7:151, 12:64, 12:64, 12:92, 12:92, 21:83, 21:83, 23:109, 23:118
arham n.m. (pl. of rahim or rihm) 2:228, 3:6, 4:1, 6:143, 6:144, 8:75, 13:8, 22:5, 31:34, 33:6, 47:22, 60:3
marhamah n.f. 90:17
rahim n.m. (pl. ruhama) 1:1, 1:3, 2:37, 2:54, 2:128, 2:143, 2:160, 2:163, 2:173, 2:182, 2:192, 2:199, 2:218, 2:226, 3:31, 3:89, 3:129, 4:16, 4:23, 4:25, 4:29, 4:64, 4:96, 4:100, 4:106, 4:110, 4:129, 4:152, 5:3, 5:34, 5:39, 5:74, 5:98, 6:54, 6:145, 6:165, 7:153, 7:167, 8:69, 8:70, 9:5, 9:27, 9:91, 9:99, 9:102, 9:104, 9:117, 9:118, 9:128, 10:107, 11:41, 11:90, 12:53, 12:98, 14:36, 15:49, 16:7, 16:18, 16:47, 16:110, 16:115, 16:119, 17:66, 22:65, 24:5, 24:20, 24:22, 24:33, 24:62, 25:6, 25:70, 26:9, 26:68, 26:104, 26:122, 26:140, 26:159, 26:175, 26:191, 26:217, 27:11, 27:30, 28:16, 30:5, 32:6, 33:5, 33:24, 33:43, 33:50, 33:59, 33:73, 34:2, 36:5, 36:58, 39:53, 41:2, 41:32, 42:5, 44:42, 46:8, 48:14, 48:29, 49:5, 49:12, 49:14, 52:28, 57:9, 57:28, 58:12, 59:10, 59:22, 60:7, 60:12, 64:14, 66:1, 73:20
rahman n.m. (always with the definite article)1:1, 1:3, 2:163, 13:30, 17:110, 19:18, 19:26, 19:44, 19:45, 19:58, 19:61, 19:69, 19:75, 19:78, 19:85, 19:87, 19:88, 19:91, 19:92, 19:93, 19:96, 20:5, 20:90, 20:108, 20:109, 21:26, 21:36, 21:42, 21:112, 25:26, 23:59, 25:60, 25:60, 25:63, 26:5, 27:30, 36:11, 36:15, 36:23, 36:52, 41:2, 43:17, 43:19, 43:20, 43:33, 43:36, 43:45, 43:81, 50:33, 55:1, 59:22, 67:3, 67:19, 67:20, 67:29, 78:37, 78:38
ruhm n.m. 18:81
LL, V3, p: 221222223

ت ق ي = Ta-Qaf-Ya = to fear, be cautious, guarded, prepared, preserve, forethoughtful, reverential & pious fear (of God), righteous/virtuous/just/honest.
see Waw-Qaf-Ya

Lane's Lexicon, Volume 1, pages: 346, 347