Senin, 31 Maret 2014

DWI TUNGGAL

PENDAHULUAN
Dwi tunggal berarti sama dengan dua tetapi satu atau dua yang tidak terpisahkan. Yang dimaksudkan dalam makalah ini dengan dwi tunggal adalah bahwa antara Allah dan Nabi Muhammad dianggap tidak terpisahkan. Gejala dwi tunggal sudah teramati di sekitar kita.. Gejala ini sesungguhnya sangat mencemaskan karena ini merupakan bentuk perbuatan mempersekutukan Allah yang sangat nyata. Makalah ini ditulis untuk mengungkap gejala dwi tunggal tersebut.

GEJALA DWI TUNGGAL
Kaligrafi memang hanya tulisan. Jika tulisan tersebut dibaca, orang yang membacanya akan menyebut yang tertulis, baik secara lisan maupun secara dalam hati saja. Demikian halnya dengan yang terjadi pada kaligrafi Allah dan kaligrafi Muhammad yang terpasang pada sejumlah masjid. Orang yang membaca kaligrafi-kaligrafi tersebut akan menyebut Allah dan Muhammad baik hanya dalam hati saja atau secara lisan. Sebenarnya, pemasangan kedua kaligrafi di masjid menggambarkan persepsi pengelola masjid bahwa menyebut nama Allah dan nama selain Allah secara bersama-sama di masjid adalah tindakan yang dibenarkan. Persepsi pengelola masjid tersebut mencerminkan persepsi sebagian besar orang beragama islam. Berikut ini adalah contoh masjid yang di dalamnya terdapat kedua kaligrafi tersebut.


                                     


Penyebutan nama Allah dan nama Muhammad secara bersama-sama juga dilakukan ketika orang shalat di masjid. Shalat seseorang dianggap tidak sah oleh sebagian besar orang beragama islam jika tidak menyebut nama Allah dan nama Muhammad ketika shalat. Benarkah tindakan menyebut nama Allah dan nama Muhammad secara bersama-sama di masjid? Ayat-ayat berikut ini menjawab pertanyaan tersebut.

72:18. And that the masajid are for Allah, so do not call upon anyone with Allah. (Dan masjid-masjid adalah milik Allah, maka janganlah menyebut siapapun bersama-sama dengan Allah.) (versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri)

72:18 'And that (E) the mosques (are) to God, so do not call anyone with God.' (Dan bahwa masjid-masjid adalah untuk Allah, maka janganlah menyebut siapapun bersama-sama dengan Allah). (versi Muhamed dan Samira Ahmed)

72:18. Masjid-masjid adalah kepunyaan Allah; maka janganlah seru, berserta Allah, barang siapa pun. (versi Othman Ali)

072.018 "And the places of worship are for Allah (alone): So invoke not any one along with Allah; (Dan tempat untuk sembahyang adalah untuk Allah (semata): Maka janganlah menyebut siapapun bersama-sama dengan Allah (versi Abdullah Yusuf Ali)

Ayat 72:18 terjemahan di atas memperlihatkan bahwa menyebut Allah dan selain-Nya di masjid adalah dilarang. Oleh karena itu, menyebut nama Allah dan nama Muhammad secara bersama-sama ketika shalat adalah merupakan suatu kesalahan. Bahkan, Allah sendiri sudah menyatakan dengan tegas bahwa tidak ada Tuhan selain Dia dan orang diperintahkan shalat untuk mengingat Allah (20:14). Mengingat Allah berarti hanya mengingat Allah saja karena Allah hanya satu.

20:14. Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (versi Dep. Agama RI)

Dapat diutarakan di sini bahwa tindakan menyebut nama Allah dan nama Muhammad secara bersama-sama di masjid merupakan bentuk penyimpangan ajaran Al Qur’an. Mengapa hal tersebut dilakukan walaupun bertentangan dengan Al Qur’an? Jawabannya adalah karena mereka mempunyai dua kitab, yaitu Al Qur’an dan kitab hadis. Al Qur’an diposisikan sebagai kitab yang berisi ajaran Allah dan kitab hadis dianggap berisi ajaran Nabi Muhammad (Rasul Allah). Kedua ajaran tersebut dianggap tidak terpisahkan. Yang tidak beriman kepada salah satu ajaran tersebut akan dianggap sesat. Dengan demikian, dapat diartikan bahwa ajaran Allah dan ajaran Nabi Muhammad dianggap sebagai dua ajaran yang tidak terpisahkan. Ini menegaskan keberadaan persepsi sebagian besar orang beragama islam bahwa Allah dan Muhammad adalah dua yang tidak terpisahkan (dwi tunggal).

Jika tidak demikian halnya (mereka dianggap bukan dwi tunggal), tentu akan hanya ada satu ajaran saja yang dijadikan pegangan oleh mereka, yaitu ajaran Allah atau akan hanya ada satu kitab saja, yaitu Al Qur’an, karena Tuhan hanya satu. Di pihak lain, jika ajaran Nabi Muhammad, yang katanya tertulis di kitab hadis, adalah sama dengan ajaran Allah, tentu orang akan meyebutnya sebagai ajaran Allah dan tidak ada istilah ajaran Rasul (Nabi Muhammad).

PENUTUP
Orang yang memegang konsep dwi tunggal tidak pernah merasa berbuat kesalahan. Mereka sangat percaya bahwa Tuhan hanya satu, yaitu Allah. Mereka juga sangat percaya bahwa Nabi Muhammad adalah bukan Tuhan melainkan hanya Rasul/Utusan Allah. Dengan kepercayaan semacam itulah mereka yakin bahwa mereka tidak berbuat kemusyrikan. Tentu saja, kesalahan tersebut tidak akan terlihat selama mereka menggunakan dua kitab dan dua ajaran. Kesalahan tersebut akan terlihat jika mereka hanya menggunakan satu kitab saja, yaitu Al Qur’an. Ayat 43:37 membenarkan gejala orang-orang yang disesatkan oleh syaitan tetapi merasa mendapat petunjuk. Orang yang merasa mendapat petunjuk tidak akan atau enggan merubah keimanannya dan bahkan akan berbalik menyalahkan orang yang mencoba mengingatkannya.                        


43:37. Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. (versi Dep. Agama RI)

Jumat, 28 Februari 2014

TANGGAPAN UNTUK SANG PENCERAMAH TV

Suatu hari, ada seorang peserta pengajian di sebuah stasiun tv bertanya tentang pengajian yang hanya membahas Al Qur’an saja. Penceramah dalam pengajian tersebut kemudian menjelaskan bahwa pengajian seperti itu adalah salah. Dalam menjawabnya, penceramah tersebut menjelaskan bahwa peseeta pengajian yang hanya menggunakan Al Qur’an saja tidak akan bisa menjelaskan cara shalat. Si penanya kemudian terlihat puas dengan jawaban penceramah tersebut.

Sepintas lalu, jawaban penceramah tersebut memang tampak masuk akal. Memang benar, tidak ada penjelasan dalam Al Qur’an tentang cara shalat seperti yang dikerjakan oleh sebagian besar orang beragama islam sampai sekarang ini. Oleh sebab itu, wajar apabila peserta pengajian tersebut kemudian merasa puas dengan jawaban pemberi ceramah. Akan tetapi, penulis tidak puas dengan jawaban penceramah tersebut. Oleh sebab itu, makalah ini ditulis.

Cara menjawab pertanyaan tersebut tidak layak bagi orang tokoh agama islam yang mengaku beriman kepada Al Qur’an. Seharusnya, penceramah tersebut menggunakan ayat-ayat Al Qur’an ketika menjawab pertanyaan tersebut. Disebutkan dalam Al Qur’an bahwa kita diperintahkan memutuskan perkara dengan wahyu Allah (5:44; 5:47; 5:48; 5:49; dan 4:105). Perlu diingat bahwa yang ditanyakan dalam pengajian tersebut adalah sebuah perkara sehingga harus dijawab dengan menggunakan wahyu Allah yang ada dalam Al Qur’an. Tampaknya, penceramah tersebut merasa sangat percaya diri atau meremehkan peserta pengajian tersebut sehingga tidak mau bersusah payah dalam menjawab pertanyaan tersebut.

5:44. Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (versi Dep. Agama RI)

5:47. Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah didalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik. (versi Dep. Agama RI)

5:48. Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu, (versi Dep. Agama RI)

5:49. dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. (versi Dep. Agama RI)

4:105. Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat, (versi Dep. Agama RI)

Sebenarnya, dengan menganggap bahwa pengajian yang hanya menggunakan Al Qur’an saja adalah salah, penceramah tersebut sudah menyalahkan Al Qur’an. Al Qur’an menyatakan bahwa orang yang mengikuti petunjuk Allah tidak akan sesat (20:123)). Al Qur’an adalah petunjuk Allah bagi manusia (2:185). Jadi, sangat jelas sekali bahwa mengikuti petunjuk Allah berupa Al Qur’an adalah dibenarkan oleh Allah.

20:123. Allah berfirman: "Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. (versi Dep. Agama RI)

2:185. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (versi Dep. Agama RI)

Bagaimana dengan anggapan bahwa petunjuk Allah dalam Al Qur’an bersifat umum? Anggapan bahwa petunjuk Allah dalam Al Qur’an bersifat umum adalah tidak berdasar. Tidak ada satu ayat pun dalam Al Qur’an yang menyebutkan bahwa Al Qur’an adalah petunjuk umum. Tuhan hanya satu sehingga petunjuk Allah juga hanya satu. Tidak ada istilah petunjuk Allah umum atau petunjuk Allah khusus. Yang ada hanya petunjuk Allah. Titik.

Yang dimaksud oleh pencermah tersebut dengan cara shalat adalah cara shalat yang dirangkum berdasarkan informasi yang ada dalam kitab-kitab hadis. Artinya, orang yang tidak shalat dengan cara seperti yang ada dalam kitab-kitab hadis dianggap sesat olehnya. Dengan kalimat lain, penceramah tersebut berpendapat bahwa orang yang tidak beriman kepada kitab hadis akan sesat. Di sinilah letak persoalannya. Cobalah kita tenangkan hati dan kemudian merenungkannya. Sudah dijelaskan bahwa orang yang mengikuti petunjuk Allah tidak akan sesat (ayat 20:123). Mengapa sekarang ada orang yang menyatakan sesat kepada orang yang tidak mengikuti kitab hadis? Bukankah kitab hadis bukan petunjuk Allah? Dari sini, kita bisa merasakan ada sesuatu yang berbahaya, yang mungkin tidak disadari oleh banyak orang. Orang yang meyatakan sesat kepada orang yang tidak mengikuti kitab hadis adalah mereka yang menganggap kitab hadis sebagai petunjuk Allah. Alasannya, orang yang mengikuti petunjuk Allah tidak akan sesat. Artinya, orang yang tidak mengikuti petunjuk Allah akan sesat. Dengan demikian, kitab hadis telah dianggap sebagai petunjuk Allah karena orang yang tidak mengikuti kitab hadis dianggap sesat. .Jadi, mereka mempunyai dua petunjuk Allah, yaitu Al Qur’an dan kitab hadis.

Sekarang, benarkah kitab hadis adalah petunjuk Allah? Jelas bahwa kitab hadis adalah bukan petunjuk Allah. Ditinjau dari definisinya saja kita bisa mengetahui bahwa kitab hadis berisi informasi yang dianggap sebagai perkataan, perbuatan, dan sikap Nabi Muhammad. Dapat dikatakan bahwa kitab hadis telah dianggap sebagai petunjuk Nabi Muhammad. Artinya, Nabi Muhammad telah dianggap sebagai Tuhan karena petunjuk Nabi Muhammad dianggap sama dengan petunjuk Allah. Inilah bahaya yang terjadi. Bukankah ini suatu bentuk kemusyrikan?

Mungkin ada yang berkilah bahwa yang ada dalam kitab hadis adalah berdasarkan wahyu Allah? Argumen seperti ini akan disampaikan oleh orang-orang yang menganggap Nabi Muhammad tidak menyampaikan semua wahyu Allah. Orang yang beriman kepada Nabi Muhammad harus percaya bahwa semua wahyu Allah telah disampaikan kepada semua manusia, sekali lagi kepda semua manusia, dalam kitab Al Qur’an. Perlu disampaikan juga bahwa tidak mungkin Nabi Muhammad menyampaikan wahyu Allah kepada sejumlah oramg di seklilingnya dan kemudian wahyu Allah tersebut disampaikan kepada orang lain secara dari telinga ke telinga. Petunjuk Allah adalah untuk semua manusia, yang mencakup manusia sejak jaman Nabi Muhammad sampai sekarang dan masa yang akan datang di seluruh permukaan bumi. Oleh sebab itu, petunjuk Allah harus ada dalam sebuah kitab, yaitu Al Qur’an, yang dapat dibaca manusia di segala tempat dan pada segala waktu. Dengan membaca Al Qur’an, orang akan seperti mendengar wahyu Allah yang disampaikan oleh Nabi Muhammad. Perlu diingat bahwa Nabi Muhammad adalah Rasul Allah yang wajib diimani.

Berita tentang Nabi Muhmaad yang didengar dari telinga ke telinga tidak bisa dijadikan peganga karena kita tidak bisa melakukan klarifikasi kepada Nabi Muhammad. Jika akan dijadikan pegangan, kita harus beriman kepada orang yang menyampaikan berita tersebut, yang sudah pasti bukan Rasul Allah. Padahal, kita hanya diperintahkan agar beriman kepada Rasul Allah (64:8). Artinya, beriman kepada selain Rasul Allah adalah suatu dosa.

64:8. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada cahaya (Al-Qur’an) yang telah Kami turunkan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (versi Dep. Agama RI)

Orang yang hanya mengaji Al Qur’an saja juga tidak perlu khawatir karena orang yang mengikuti petunjuk Allah tidak perlu khawatir dan bersedih hati. Jika kita masih merasa khawatir dan bersedih hati karena hanya mengaji Al Qur’an saja, kita justru akan berdosa karena dapat dianggap telah mendustakan ayat (2:38).

2:38. Kami berfirman: "Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (versi Dep. Agama RI)

Jika ada yang mengatakan sesat kepada orang hanya karena mengaji Al Qur’an saja, orang tersebut dapat mengikuti yang dperintahkan Allah kepada Nabi Muhammad ketika dituduh sesat. Ayatnya adalah sebagai berikut (34:50).

34:50. Katakanlah: "Jika aku sesat maka sesungguhnya aku sesat atas kemudharatan diriku sendiri; dan jika aku mendapat petunjuk maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat." (versi Dep. Agama RI)

Yang mengikuti orang yang menyatakan sesat kepada orang yang hanya mengaji Al Qur’an saja banyak jumlahnya. Bahkan, di Indonesia, pengikutnya adalah mayoritas penduduk. Walaupun demikian, orang yang hanya mengaji Al Qur’an saja dapat menghibur diri dengan ayat 12:103; 12:106: dan 17:162) Seharusnya, ayat-ayat tersebut perlu dijadikan renungan bagi kelompok mayoritas. Bukankah menjadi mayoritas justeru mengkhawatirkanr?

12:103. Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman - walaupun kamu sangat menginginkannya-.(versi Dep. Agama RI)

12:106. Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain). (versi Dep. Agama RI)

17:62. Dia (iblis) berkata: "Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil." (versi Dep. Agama RI)

Bagaimana orang bisa mengetahui cara shalat dalam Al Qur’an? Sudah dijelaskan dalam blog ini bahwa waktu dan cara shalat juga ada dalam Al Qur’an. Implementasi cara shalat yang dijelaskan dalam Al Qur’an memang berpotensi melahirkan variasi cara shalat. Variasi cara shalat bukanlah suatu masalah sepanjang cara shalat tersebut berdasarkan petunjuk Allah dalam Al Qur’an. Artinya, cara shalat yang mengikuti petunjuk Allah tidak akan membuat orang menjadi sesat. Sudah dijelaskan bahwa orang yang mengikuti petunjuk Allah tidak akan sesat.

Jika dipikir-pikir, apakah cara shalat para Rasul Allah sama? Tidak ada penjelasan tentang hal ini dalam Al Qur’an. Jika mereka hidup pada waktu yang sama, apakah cara shalat mereka seragam? Rasa-rasanya, cara shalat mereka akan bervariasi dan itu tidak akan menjadi masalah. Jadi, jika kita mempunyai cara shalat berbeda karena mengikuti petunjuk Allah dalam Al Qur’an, tidak perlu ada yang dipermasalahkan.

Penulis kemudian teringat pada para Rasul Allah sebelum Nabi Muhammad. Mengapa di dalam Al Qur’an tidak ada informasi tentang kitab hadis Isa dan kitab hadis Musa? Apakah orang pada jaman dahulu tidak bisa mengamalkan ajaran dalam kitab Injil dan kitab Taurat? Bagi penulis, ini merupakan bukti bahwa kitab hadis para Rasul Allah memang tidak pernah ada. Bukti tersebut diperkuat lagi dengan kesaksian Nabi Muhammad pada hari kiamat kelak. Dalam kesaksiannya, Nabi Muhammad hanya akan menyebutkan satu kitab saja, yaitu Al Qur’an (25:29 dan 25:30).

25:29. Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia. (versi Dep. Agama RI)  

25:30. Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan." (versi Dep. Agama RI)   

Demikianlah tanggapan penulis terhadap jawaban penceramah di sebuah stasiun televisi. Barangkali, sang tokoh penceramah tersebut tidak akan pernah membaca makalah ini. Tidak ada maksud tertentu dengan penulisan makalah ini selain untuk saling ingat-mengingatkan. Jika ada perubahan persepsi pada diri penulis, makalah ini akan direvisi.


Selasa, 28 Januari 2014

WARISAN RASUL

PENDAHULUAN
Seringkali kita dengar atau baca tentang informasi bahwa Rasul Allah meninggalkan dua perkara, yaitu kitab Allah (Al Qur’an) dan sunnahnya. Disebutkan pula dalam informasi tersebut bahwa orang tidak akan sesat jika berpegang pada kedua perkara tersebut. Konon, informasi tersebut bersunber pada kitab hadis yang dinilai sebagai shahih walaupun ada juga juga yang meragukannya. Beredar pula informasi bahwa ada 3 informasi yang mirip tetapi tidak sama.  Dua perkara tersebut juga sering disebut sebagai warisan Rasul Allah. Barangkali, dua perkara tersebut dianggap sebagai tinggalan Rasul Allah sehingga disebut warisan Rasul Allah.

Benarkah orang akan sesat jika meninggalkan Al Qur’an dan sunnah rasul? Benarkah Al Qur’an adalah warisan Rasul Allah? Makalah ini ditulis untuk membahas masalah tersebut. Untuk menjawabnya, Al Qur’an terjemahan digunakan.

JIKA MENINGGALKAN Al QUR’AN DAN SUNNAH RASUL
Jika Meninggalkan Al Qur’an
Al Qur’an adalah petunjuk Allah (2:185 dan 22:77). Orang yang mengikuti petunjuk Allah tidak akan sesat (20:123). Dengan demikian, orang yang mengikuti ajaran Allah dalam Al Qur’an tidak akan sesat. Dengan kalimat lain, orang yang meninggalkan ajaran dalam Al Qur’an akan sesat. Jadi, memang benar bahwa orang yang tidak berpegang pada Al Qur’akan sesat.

2:185. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (versi Dep. Agama RI)

27:77. Dan sesungguhnya Al Qur'an itu benar-benar menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (versi Dep. Agama RI)

20:123. Allah berfirman: "Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. (versi Dep. Agama RI)

Jika Meninggalkan Sunnah Rasul
Sudah dijelaskan di depan bahwa menurut Al Qur’an, yang dimaksud dengan petunjuk Allah adalah Al Qur’an. Sejak jaman Nabi Muhammad, kitab selain Al Qur’an adalah bukan petunjuk Allah. Oleh sebab itu, kitab hadis yang dianggap berisi sunnah rasul juga bukan merupakan petunjuk Allah. Ini berarti bahwa sunnah rasul yang terdapat dalam kitab hadis adalah bukan petunjuk Allah. Jadi, orang yang meninggalkan sunnah rasul yang terdapat dalam kitab hadis tidak akan sesat selama orang tersebut tidak meninggalkan ajaran Allah dalam Al Qur’an.

TENTANG WARISAN
Warisan adalah milik seseorang yang diberikan kepada ahli waris. Jika Al Qur’an adalah warisan Rasul Allah, Al Qur’an adalah milik Rasul Allah bernama Muhammad. Dalam hal ini, Allah dianggap memberi Al Qur’an kepada Nabi Muhammad dan kemudian oleh Nabi Muhamad Al Qur’an diwariskan kepada orang lain. Padahal, Al Qur’an berasal dari Allah dan diberikan kepada manusia semuanya (2:185). Jadi, Al Qur’an adalah bukan warisan Nabi Muhammad tetapi pemberian Allah untuk semua manusia. Yang diutus untuk menyampaikan Al Qur’an kepada semua manusia adalah Nabi Muhammad. Jadi, tidak benar anggapan bahwa Al Qur’an adalah warisan Nabi Muhammad.

Sunnah rasul yang ada sekarang ini ada di kitab hadis yang tidak pernah dimiliki, dipegang, dibaca, diketahui, dan di-edit oleh Nabi Muhammad. Apakah kitab hadis bisa dianggap sebagai warisan Nabi Muhammad? Tentu saja, tidak! Kitab hadis adalah warisan penulis kitab hadis yang tidak pernah berinteraksi dengan Nabi Muhammad. Jadi, sunnah rasul yang dianut oleh banyak orang sebenarnya adalah warisan para penulis kitab hadis..

BAHAYA SYIRIK
Orang yang beranggapan bahwa sunnah rasul yang tertulis dalam kitab hadis dapat menentukan seseorang termasuk sesat atau tidak adalah orang yang memaksakan diri untuk beranggapan bahwa sunnah rasul yang tertulis dalam kitab hadis adalah petunjuk Allah. Sudah dijelaskan di muka bahwa hanya petunjuk Allah saja yang dapat menentukan seseorang termasuk sesat atau tidak. Dengan demikian, orang yang memaksakan diri untuk beranggapan bahwa kitab hadis berisi petunjuk Allah secara tidak sadar telah menganggap Nabi Muhammad sebagai tuhan selain Allah karena perbuatan, perkataan, dan sikapnya dianggap sama dengan petunjuk Allah. Anggapan seperti itu termasuk syirik (mempersekutukan Allah). Orang yang syirik (musyrik) adalah orang sesat (4:116) dan akan masuk neraka (9:113). Di sinilah letak bahayanya.

4:116. Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. (versi Dep. Agama RI)

9:113. Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam. (versi Dep. Agama RI)

PENUTUP

Penulis menyadari bahwa pendapat penulis berbeda dengan anggapan sebagian besar orang. Walaupun demikian, pendapat tersebut berdasarkan pada Al Qur’an. Makalah ini akan direvisi jika terdapat perubahan persepsi pada diri penulis.

Senin, 30 Desember 2013

PENAFSIRAN ALTERNATIF TENTANG NABI SULAIMAN, BURUNG, DAN SEMUT

PENDAHULUAN
Sebelumnya, saya punya persepsi bahwa Nabi Sulaiman dapat mengerti bahasa binatang. Persepsi tersebut terbangun dari buku-buku, pelajaran di sekolah, dan cerita orang. Setelah membaca Al Qur’an terjemahan, saya menjadi tahu bahwa cerita tersebut bersumber dari penafsiran penerjemah Al Qur’an. Penerjemah Al Qur’an mungkin juga dipengaruhi oleh penafsiran orang-orang sebelumnya. Dalam terjemahan tersebut, Nabi Sulaiaman diceritakan dapat mengerti bahasa burung Hudhud dan bahasa semut. Selama bertahun-tahun, saya tidak mempermasalahkan tentang persepsi tersebut. Dengan kalimat lain, saya mempercayai bahwa Nabi Sulaiman bisa mengerti bahasa binatang selama bertahun-tahun.

Akan tetapi, kejadian-kejadian yang melibatkan semut  di rumah membuat saya mempertanyakan kembali persepsi tersebut. Saya sering jengkel karena beras, mie instan, dan roti di rumah diserang semut. Tidak hanya itu, semut sering masuk ke telinga ibu saya. Di satu sisi, ingin rasanya membunuh semut-semut itu. Di sisi lain, saya merasa agak ragu-ragu untuk membunuh semut karena mereka diceritakan sebagai bintang yang lucu dan tidak berdosa dalam Al Qur’an terjemahan. Dalam Al Qur’an terjemahan, Nabi Sulaiman tersenyum dan tertawa mendengar ucapan semut. Pernah juga saya memarahi semut-semut itu dengan alasan bahwa mungkin mereka mengetahui ucapan saya walaupun saya tidak mengetahui ucapan mereka. Tentu saja, mereka tidak mengetahui ucapan saya dan mereka terus memangsa bahan makanan atau kadang-kadang menggigit saya.

Semuanya itu membuat saya menjadi ragu-ragu tentang penafsiran bahwa Nabi Sulaiman dapat mengerti bahasa binatang. Oleh karena itu, makalah untuk manjawab keragu-raguan tersebut ditulis d sini.

AYAT-AYAT KISAH NABI SULAIMAN DAN BINATANG DALAM AL QUR’AN TERJEMAHAN

Berikut ini adalah terjemahan ayat-ayat Al Qur’an versi Dep. Agama RI yang mengandung cerita tentang Nabi Sulaiman, burung, dan semut.

27:15. Dan sesungguhnya Kami telah memberi ilmu kepada Daud dan Sulaiman; dan keduanya mengucapkan: "Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hambanya yang beriman."

27:16. Dan Sulaiman telah mewarisi Daud, dan dia berkata: "Hai Manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu kurnia yang nyata."

27:17. Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan).

27:18. Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari";

27:19. maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa: "Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh."

27:20. Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata: "Mengapa aku tidak melihat hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir.

27:21. Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang."

27:22. Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: "Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini.

27:23. Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar.

27:24. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk,

27:25. agar mereka tidak menyembah Allah Yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan Yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan.

27:26. Allah, tiada Tuhan Yang disembah kecuali Dia, Tuhan Yang mempunyai 'Arsy yang besar."

27:27. Berkata Sulaiman: "Akan kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta.

27:28. Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkan kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan"

27:29. Berkata ia (Balqis): "Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia.

27:30. Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan sesungguhnya (isi)nya: "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

27:31. Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri."

27:32. Berkata dia (Balqis): "Hai para pembesar berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini) aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelis(ku)."

27:33. Mereka menjawab: "Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan), dan keputusan berada ditanganmu: maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan."

27:34. Dia berkata: "Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat.

27:35. Dan sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku akan) menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu."

27:36. Maka tatkala utusan itu sampai kepada Sulaiman, Sulaiman berkata: "Apakah (patut) kamu menolong aku dengan harta? maka apa yang diberikan Allah kepadaku lebih baik daripada apa yang diberikan-Nya kepadamu; tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu.

27:37. Kembalilah kepada mereka sungguh kami akan mendatangi mereka dengan balatentara yang mereka tidak kuasa melawannya, dan pasti kami akan mengusir mereka dari negeri itu (Saba) dengan terhina dan mereka menjadi (tawanan-tawanan) yang hina dina."

27:38. Berkata Sulaiman: "Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri."

27:39. Berkata 'Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: "Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgsana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya."

27:40. Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab: "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip." Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: "Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia."

27:41. Dia berkata: "Robahlah baginya singgasananya; maka kita akan melihat apakah dia mengenal ataukah dia termasuk orang-orang yang tidak mengenal(nya)."

27:42. Dan ketika Balqis datang, ditanyakanlah kepadanya: "Serupa inikah singgasanamu?" Dia menjawab: "Seakan-akan singgasana ini singgasanaku, kami telah diberi pengetahuan sebelumnya[1098] dan kami adalah orang-orang yang berserah diri."

27:43. Dan apa yang disembahnya selama ini selain Allah, mencegahnya (untuk melahirkan keislamannya), karena sesungguhnya dia dahulunya termasuk orang-orang yang kafir.

27:44. Dikatakan kepadanya: "Masuklah ke dalam istana." Maka tatkala dia melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya kedua betisnya. Berkatalah Sulaiman: "Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca." Berkatalah Balqis: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam."

PENAFSIRAN YANG MERAGUKAN
Burung Berperilaku Seperti manusia
Dalam Al Qur’an terjemahan, burung bernama Hudhud mampu menjelaskan informasi yang kompleks seperti layaknya manusia (27:22 sampai 22:26). Informasi tersebut mencakup nama kerajaan, jenis kelamin pemimpin kerjaaan, keadaan kerajaan, dan yang disembah pemimpin dan rakyatnya. Selain itu, burung tersebut juga mampu menjelaskan ajaran Allah seperti layaknya seorang manusia. Perilaku burung seperti manusia juga terlihat pada ayat yang menjelaskan sifat  burung yang bisa berbohong (27:27) dan bisa mencari-cari alasan-alasan agar tidak dimarahi (27:21).

Tambahan, ketika terjadi percakapan antara Nabi Sulaiman dan burung bernama Hudhud, apakah Nabi Sulaiman bersuara seperti burung? Atau, apakah burungnya yang bersuara seperti manusia? Rasa-rasanya, keduanya tidak mungkin.

Pada jaman sekarang, ada burung bernama Hudhud yang wujud dan perilakunya dapat dilihat di video. Pembaca dapat melihatnya ketika sedang mencari makan di http://www.youtube.com/watch?v=T3eqNy6_yPQ dan ketika sedang memberi makanan anaknya di sarangnya di http://www.youtube.com/watch?v=dMSthccjLLM. Jika benar burung Hudhud seperti itu, apakah mungkin mereka secerdas manusia?

Tambahan, yang dikatakan diberi pengertian suara burung adalah dua orang, yaitu Nabi Daud dan Nabi Sulaiman (disebut sebagai “kami”). Jika benar penafsiran tersebut, berarti Nabi Daud juga dapat bercakap-cakap dengan burung. Akan tetapi, mengapa yang dianggap bisa berbicara dengan burung hanya Nabi Sulaiman? Hal ini menjadi petunjuk lain bahwa penafsiran bahwa Nabi Sulaiman dapat bercakap-cakap dengan burung bersifat tidak unik (tidak satu penafsiran). Oleh sebab itu, cukup beralasan bagi penulis untuk membuat penafsiran berbeda.

Semut Berperilaku Seperti Manusia  
Dalam kasus ini, semut dapat menyebut nama “Sulaiman” dan istilah “tentara” (27:18). Mungkinkah sistem syaraf semut menyimpan informasi seperti itu dan mengekspresikannya dengan kata-kata? Untuk bisa menyebut “Sulaiman” dan “tentera”, semut harus memahami isi percakapan manusia atau membaca tulisan manusia. Mungkinkah semut bisa memahami percakapan manusia melalui indera pendengarannya atau bisa membaca tulisan manusia?

Demikianlah kurang lebih alasan untuk meragukan penafsiran yang berkembang sampai saat ini. Sejauh yang penulis ketahui, semua penerjemah Al Qur’an mempunyai penafsiran seperti itu. Di sini, penulis menyodorkan penafsiran alternatif tentang Nabi Sulaiman, burung, dan semut seperti yang ada dalam surat 27.

PENAFSIRAN ALTERNATIF
Penafsiran alternatif dilakukan dengan menerjemahkan beberapa kata kunci secara berbeda yang masih sesuai dengan arti menurut akar kata. Arti akar kata yang dipakai adalah yang ada di project root list di http://www.studyquran.co.uk/PRLonline.htm.

Burung
Kemunculan kata burung dalam Al Qur’an terjemahan berasal dari penerjemahan akar kata ط ي ر atau Tay-Ya-Ra. Transliterasi ayat-ayat yang ada kata burung dalam terjemahannya adalah sebagai berikut (DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913).

027.016 Wawaritha sulaym[a]nu d[a]wooda waq[a]la y[a] ayyuh[a] a(l)nn[a]su AAullimn[a] man[t]iqa a(l)[tt]ayri waooteen[a] min kulli shay-in inna h[atha] lahuwa alfa[d]lu almubeen(u)

027.016 And Solomon was David's heir. He said: "O ye people! We have been taught the speech of birds, and on us has been bestowed (a little) of all things: this is indeed Grace manifest (from Allah.)"

027.017 Wa[h]ushira lisulaym[a]na junooduhu mina aljinni wa(a)l-insi wa(al)[tt]ayri fahum yoozaAAoon(a)

027.017 And before Solomon were marshalled his hosts,- of Jinns and men and birds, and they were all kept in order and ranks.

027.020 Watafaqqada a(l)[tt]ayra faq[a]la m[a] liya l[a] ar[a] alhudhuda am k[a]na mina algh[a]-ibeen(a)

027.020 And he took a muster of the Birds; and he said: "Why is it I see not the Hoopoe? Or is he among the absentees?

Kutipan arti Tay-Ya-Ra dalam project root list adalah sebagai berikut.

ط ي ر = Tay-Ya-Ra = flew, hasten to it, outstripped, become foremost, fled, love, become attached, famous, conceive, scatter/disperse, fortune.

tara vb. (1) impf. act. 6:38
pcple. act. 6:38, 7:131, 17:13, 27:47, 36:19

tayr n.m. (coll) 2:260, 3:49, 3:49, 5:110, 5:110, 12:36, 12:41, 16:79, 21:79, 22:31, 24:41, 27:16, 27:17, 27:20, 34:10, 38:19, 56:21, 67:19, 105:3

ittayyara vb. (5) perf. act. 27:47, 36:18
impf. act. 7:131

istatara vb. (10) pcple. act. 76:7

Lane's Lexicon, Volume 5, pages: 188189190

Tampak dalam kuripan tersebut bahwa tidak ada arti kata yang menyebutkan bird (burung) secara eksplisit. Yang disebutkan berkaitan dengan burung adalah flew (bentuk past tense dari to fly (terbang)). Padahal, dalam ayat 27:16, 27:17, dan 27:20, Tay-Ya-Ra adalah kata benda. Dengan demikian, kata benda dari terbang dalam hal ini adalah yang terbang. Oleh para penerjemah, yang terbang diartikan sama dengan burung walaupun sebemarnya yang terbang tidak selalu berupa burung. Jika Tay-Ya-Ra diartikan sama dengan burung, hasilnya adalah kutipan Al Qur’an terjemahan di atas.

Di sini, penulis akan mengartikan Tay-Ya-Ra sama dengan fled (bentuk past tense dari to flee). Kutipan arti to flee menurut http://www.thefreedictionary.com/fled) adalah sebagai berikut :

(flee (fli)

v. fled, flee•ing. v.i.
1. to run away, as from danger or pursuers; take flight.
2. to move or pass swiftly; fly; speed.
v.t.
3. to run away from.

Secara umum, artinya mengandung unsur berlari. Menurut Google Translate, to take flight sama dengan berlari dengan cepat. To move or pass swiftly sama dengan bergerak/berlalu dengan cepat. Dengan demikian, artinya dapat disamakan dengan berlari dengan cepat.

Apa kata benda dari berlari dengan cepat dalam hal ini? Menurut penulis, kata bendanya adalah yang berlari dengan cepat. Dalam konteks ini, yang berlari dengan cepat adalah kuda, bukan burung. Kuda adalah binatang yang dikendarai oleh manusia. Dengan demikian, jika diterapkan pada ayat 27:17, yang menjadi tentara Sulaiman adalah manusia, jin, dan kuda. Sangat masuk akal jika dalam sebuah sistem pertahanan ada pasukan berkuda. Artinya, kuda yang dapat berlari cepat dikendarai oleh tentara Sulaiman.

Bagaimana dengan Hudhud yang disebutkan dalam 27:18? Menurut penulis, Hudhud adalah nama seorang tentara berkuda Sulaiman yang pada saat dilakukan inspeksi oleh Sulaiman tidak hadir. Artinya, percakapan yang disebutkan dalam 27:22 sampai 27:28 adalah percakapan antara Nabi Sulaiman dan seorang tentara berkuda bernama Hudhud.

Bagaimana dengan “diberi pengertian tentang suara burung” dalam 27:16? Apakah akan berganti menjadi “diberi pengertian tentang suara kuda”? Ya! Mengapa, tidak? Untuk menjelaskannya, penulis menggunakan Al Qur’an terjemahan versi Muhamed dan Samira Ahmed. .Menurut versi ini, Nabi Daud dan Sulaiman telah diajari perkataan (bahasa)/logika burung (we had been taught the birds' speech (language)/logic). Jika burung diganti dengan kuda, frase tersebut akan menjadi “Nabi Daud dan Sulaiman telah diajari perkataan (bahasa)/logika kuda”.

27:16 And Soliman inherited David, and he said: "You, you the people we had been taught the birds' speech (language)/logic, and we were given from every thing, that truly that it is (E) the grace/favour/blessing, the clear/evident." (versi Muhamed dan Samira Ahmed)

27:16 And Soliman inherited David, and he said: "You, you the people we had been taught the horses' speech (language)/logic, and we were given from every thing, that truly that it is (E) the grace/favour/blessing, the clear/evident." (modifikasi versi Muhamed dan Samira Ahmed menurut persepsi penulis)

Apakah yang dimaksud dengan perkataan (bahasa) logika kuda di sini? Jelas, kuda tidak berkata-kata seperti manusia. Sebaliknya, manusia juga tidak bersuara persis seperti kuda. Meskipun demikian, kuda bisa berkomunikasi. Oleh sebab itu, perkataan atau logika yang dimaksud adalah alat yang digunakan manusia untuk berkomunikasi dengan kuda. Artinya, Allah mengajari Nabi Daud dan Nabi Sulaiman cara berkomunikasi dengan kuda sehingga mereka dapat memerintahkan kuda untuk melakukan sesuatu yang diinginkan mereka. Dengan kemampuan berkomunikasi dengan kuda tersebut, mereka dapat membangun pasukan berkuda yang tangguh.

Bagaimana kira-kira cara Allah mengajari perkataan atau logika kuda kepada Nabi Daud dan Nabi Sulaiman? Menurut penulis, itu seperti cara Allah mengajari manusia dengan pena atau alat tulis (96:4). Maksudnya, mereka juga melakukan usaha dengan cara mempelajarinya melalui percobaan atau penelitian.

96:4 Who taught/instructed by the pen/writing utensil. (Yang mengajarkan dengan pena/alat tulis).(versi Muhamed dan Samira Ahmed)

Bagaimana dengan frase “Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkan kepada mereka” dalam 27:28? Penerjemahan seperti itu sangat jelas dipengaruhi oleh persepsi bahwa Hudhud adalah burung yang bisa terbang. Sambil terbang, burung tersebut kemudian menjatuhkan surat Nabi Sulaiman. Menurut penulis, frase bergarisbawah tersebut adalah “dan kirimkanlah surat tersebut kepada mereka” (and deliver it to them), seperti yang tertera dalam terjemahan versi Abdullah yusuf Ali. Jadi, seorang tentara berkuda bernama Hudhud dapat menyampaikan surat tanpa harus menjatuhkannya dari langit.

027.028 "Go thou, with this letter of mine, and deliver it to them: then draw back from them, and (wait to) see what answer they return". (versi Abdullah yusuf Ali) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

Semut
Penafsiran tentang kisah semut secara berbeda dilakukan dengan mengartikan arti akar kata secara berbeda pula. Berikut ini adalah transliterasi dan terjemahan ayat-ayat tentang semut dan Nabi Sulaiman versi Abdullah Yusuf Ali dalam DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913.

027.018 [H]att[a] i[tha] ataw AAal[a] w[a]di a(l)nnamli q[a]lat namlatun y[a] ayyuh[a] a(l)nnamlu odkhuloo mas[a]kinakum l[a] ya[ht]imannakum sulaym[a]nu wajunooduhu wahum l[a] yashAAuroon(a)

027.018 At length, when they came to a (lowly) valley of ants, one of the ants said: "O ye ants, get into your habitations, lest Solomon and his hosts crush you (under foot) without knowing it." (Akhirnya, ketika mereka sampai ke lembah semut (yang rendah), salah satu semut berkata: "Hai semut, masuklah ke tempat tinggalmu, jangan sampai Sulaiman dan tentaranya menghancurkan kamu (di bawah kaki) tanpa menyadarinya.”

Ternyata yang diterjemahkan menjadi semut adalah a(l)nnamli, namlatun, dan a(l)nnamlu. Kutipan sebagaian arti kata berdasarkan akar kata Nun-Miim-Lam  dalam project root list adalah seperti berikut ini.

Nun-Miim-Lam = to slander, disclose a thing maliciously, climb. Ant. namil - clever man. Name of a valley situated between Jibrin and Asqalaan a town on the seacost 12 miles to the north of Gaza, in Sinai and namlah is the name of a tribe living in this valley. anaamil - fingers.

anamil n.f. (pl. of ammulah) 3:119

namlah n.f. (pl. naml) 27:18, 27:18, 27:18

Lane's Lexicon, Volume 8, pages: 292

Tampak dalam kutipan di atas bahwa salah satu arti kata dari akar kata Nun-Miim-Lam adalah nama suatu lembah di antara Jibrin dan Azqalaan, sebuah kota di pantai laut (seacoast), 12 mil ke utara Gaza, di Sinai. Dijelaskan lebih lanjut bahwa namlah adalah nama suatu suku yang tinggal di lembah tersebut. Berdasarkan keterangan tersebut, pemulis berusaha untuk membuat penyesuaian terjemahan versi Muhamed dan Samira Ahmed.

27:18 Until when they passed by the ants' valley, an ant said: "You, you the ants, enter your residences, (let) not Soliman and his warriors smash/destroy you (E) and they are not feeling/sensing (Hingga ketika mereka melewati lembahnya semut, seekor semut : “Kamu, kamu para semut, masuklah ke tempat tinggalmu, (agar) Sulaiman dan tentaranya tidak mengancurkan kamu dan mereka tidak merasakan/mengetahui) (versi Muhamed dan Samira Ahmed yang asli)

Hasil penyesuaiannya adalah sebagai berikut.

Hingga ketika mereka melewati Lembah Semut, seorang Namlah : “Kamu, kamu orang-orang Namlah, masuklah ke tempat tinggalmu, (sehingga) Sulaiman dan tentaranya tidak mengancurkan kamu dan mereka tidak merasakan/mengetahui.” (hasil penyesuaiani)

Orang-orang pada saat itu memang takut pada raja yang memasuki suatu negeri karena takut jika dibinasakan dan menghinakan penduduknya yang mulia (27:34). Ketika mengetahui Nabi Sulaiman dan tentaranya datang, Suku Semut diminta bersembunyi oleh seorang pemimpinnya agar tidak dibinasakan dan dihinakan oleh Sulaiman dan tentaranya dan agar Sulaiman dan tentaranya tidak mengetahui keberadaan Suku Semut. Jadi, tujuan bersembunyi tersebut ada dua.

27:34. Dia berkata: "Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat.

Jika yang berkata di situ adalah manusia dari Suku Namlah, bagaimana Nabi Sulaiman bisa mengetahui perkataan tersebut? Jika perkataan tersebut dikatakan dihadapan Nabi Sulaiman, Suku Semut akan ditaklukkan dan tujuan agar keberadaan Suku Semut tidak diketahui Nabi Sulaiman dan tentaranya akan tidak tercapai. Jika tidak dikatakan secara langsung dihadapan Nabi Sulaiman, bagaimana Nabi Sulaiman bisa mengetahuinya? Menurut penulis, ada seorang pasukan Nabi Sulaiman yang berada di depan dan bertugas mencari informasi. Mungkin, orang tersebut adalah orang seperti Hudhud yang diceritakan mencari informasi tentang negeri Saba. Informasi tentang perkataan tersebut kemudian disampaikan kepada Nabi Sulaiman. Mendengar perkataan yang disampaikan informan tersebut, Nabi Sulaiman tersennyum dan tertawa (27:19). Senyum dan tawa tersebut bukan karena sesuatu yang lucu, tetapi karena senang bahwa ia diberi kerajaan yang kuat dan besar. Kemungkinan yang lain, yang menceritakan perkataan suku semut tersebut adalah tentara dari golongan jin. Perlu diingat bahwa Nabi Sulaiman bisa bercakap-cakap dengan jin (27:39),

Selaramg, akan kita bahas jika yang berkata-kata adalah semut. Bagaimana Nabi Sulaiman bisa mendengar suara semut dalam jarak yang jauh (dari telinga sampai tanah) tanpa alat bantu pendengaran dan di tengah situasi yang gaduh oleh suara kaki manusia dan kuda? Rasa-rasanya, itu tidak mungkin. Oleh sebab itu, penafsiran bahwa semut dapat berkata-kata seperti manusia adalah tidak tepat.

PENUTUP

Sebagai penutup, perlu disampaikan kembali bahwa Nabi Sulaiman tidak dapat mengetahui bahasa binatang. Penafsiran dalam makalah ini memang berbeda dengan penafsiran sebagian besar penerjemah Al Qur’an. Bagi penulis, hal tersebut tidak menjadi masalah karena inilah persepsi yang ada dalam diri penulis sampai saat ini. Jika terjadi perubahan persepsi pada diri penulis, revisi makalah akan dilakukan.