Rabu, 22 April 2015

ANDAIKAN MUI MEMBACA MAKALAH INI

Suatu hari, penulis ingin membaca kembali naskah fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia) tentang anti hadis yang ada di situs http://mui.or.id/mui_in/fatwa.php?id=36 yang tertera dalam sebuah makalah di blog ini. Ternyata naskah tersebut kini sudah tidak ada lagi atau tidak bisa diakses. Mungkinkah MUI sudah mencabut fatwa tersebut? Ketika dilacak melalui Google dengan kata kunci “mui mencabut fatwa ingkar sunnah” dan mui mencabut fatwa anti hadis”, tidak ada keterangan tentang hal tersebut yang muncul. Selain itu, jika benar-benar sudah dicabut, MUI akan sudah menggelar konferensi pers untuk menyampaikan informasi tentang pencabutan fatwa tersebut karena ini menyangkut masalah yang sangat penting. Oleh sebab itu, penulis berpendapat bahwa MUI belum mencabut fatwa tersebut.

Penulis kembali ingin memberi tanggapan terhadap fatwa MUI tentang anti hadis dengan sudut pandang agak berbeda dengan yang pernah dibuat sebelumnya. Untungnya, penulis masih dapat mendapatkan kutipan naskah fatwa tentang anti hadis di http://media-Islam.or.id/2007/09/26/fatwa-mui-ingkar-sunnah-sesaat/. Makalah ini akan membahas fatwa MUI tentang anti hadis yang ada dalam kutipan naskah tersebut.  Pada kesempatan ini, penulis ingin berandai-andai seolah-olah MUI membaca makalah ini. Kemudian, penulis menyampaikan beberapa hal yang perlu diketahui oleh MUI.

Ada baiknya disampaikan kutipan keputusan MUI yang terdapat dalam fatwa tersebut. Keputusannya adalah sebagai berikut.

“1. Aliran yang tidak mempercayai hadis Nabi Muhammad SAW sebagai sumber hukum syari’at Islam, adalah sesat menyesatkan dan berada di luar agama Islam.

2. Kepada rnereka yang secara sadar atau tidak, telah mengikuti aliran tersebut. agar segera bertaubat.

3. Menyerukan kepada ummat Islam untuk tidak terpengaruh dengan aliran yang sesat itu.

4. Mengharapkan kepada para Ulama untuk memberikan bimbingan dan petunjuk bagi mereka yang ingin bertaubat.

5. Meminta dengan sangat kepada pemerintah agar mengambil tindakan tegas berupa larangan terhadap aliran yang tidak mempercayai Hadits Nabi Muhammad SAW sebagai sumber Syari’at Islam

Tampak dalam fatwa tersebut bahwa MUI beranggapan bahwa aliran yang tidak mempercayai hadis Nabi sebagai sumber hukum dalam agama Islam adalah sesat, menyesatkan, dan di luar agama Islam. Dengan kalimat lain, orang yang tidak mempercayai kitab hadis dianggap sesat, menyesatkan, dan di luar agama Islam. Sebelum menanggapinya, perlu disampaikan bahwa orang yang tidak percaya pada kitab hadis tersebut mencakup orang yang percaya atau beriman pada Al Qur’an dan orang-orang yang tidak beriman pada Al Qur’an. Makalah ini hanya membahas orang-orang yang tidak beriman pada kitab hadis tetapi beriman pada Al Qur’an. Bagi penulis, fatwa MUI tersebut menyatakan bahwa orang-orang yang hanya beriman pada Al Qur’an saja adalah sesat, menyesatkan, dan bukan termasuk orang beragama Islam.

Benarkah orang yang hanya beriman pada Al Qur’an saja adalah sesat? Ayat-ayat berikut ini menjawab pertanyaan tersebut.

20:123. Allah berfirman: "Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. (versi Dep. Agama RI)

2:2. Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, (versi Dep. Agama RI)

Disebutkan secara tegas, terang benderang, dan eksplisit bahwa orang yang mengikuti petunjuk Allah tidak akan sesat (20:123). Petunjuk Allah yang dimaksud dalam kasus ini adalah Al Qur’an (2:2). Dengan demikian, menurut Allah, orang-orang yang hanya berpedoman pada Al Qur’an saja tidak akan sesat.

Perlu diperhatikan bahwa MUI tidak mempertimbangkan 20:123 dan 2:2 sebagai dasar pembuatan fatwa tentang anti hadis tersebut. Di snilah letak persoalannya. Ayat-ayat Al Qur’an yang digunakan MUI sebagai dasar dalam pembuatan fatwa tersebut hanya 3:31, 3:32, 4:59, 4:65, 4:80, 4:105, 4:150, 4:151, 59:7, dan 16:44. Ayat-ayat yang digunakan MUI tersebut tidak ada satu pun yang menyebut kata “sesat”. Di samping itu, fatwa tersebut hanya berisi daftar ayat terjemahan yang digunakan tanpa disertai penjelasan tentang hubungannya dengan alasan pembuatan keputusan dalam fatwa tersebut. Oleh sebab itu, penulis tidak menanggapi penggunaan ayat-ayat Al Qur’an dalam fatwa tersebut karena tidak disertai penjelasan sama sekali.

Penafsiran MUI tentang ayat-ayat Al Qur’an yang dijadikan dasar pembuatan fatwa, yaitu 3:31, 3:32, 4:59, 4:65, 4:80, 4:105, 4:150, 4:151, 59:7, dan 16:44, dengan demikian bertentangan dengan kandungan ayat 20:123 dan 2:2. Perlu diketahui bahwa tidak mungkin ada pertentangan di antara ayat-ayat dalam Al Qur’an karena Al Qur’an berasal dari Allah (4:82). Dengan demikian, MUI telah melakukan penafsiran secara salah terhadap ayat-ayat Al Qur’an yang dijadikan dasar untuk membuat fatwa tentang anti hadis. Oleh sebab itu, ayat 20:123 dan 2:2 telah mengugurkan argumen MUI yang menggunakan ayat-ayat Al Qur’an dalam pembuatan fatwa tentang anti hadis.

4:82. Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (versi Dep. Agama RI)

MUI juga lupa bahwa orang yang sesat adalah mereka yang mengikuti Iblis (15:39 dan 15:42). Ini berarti MUI melalui fatwa tersebut menyatakan bahwa orang yang berpedoman pada Al Qur’an saja adalah pengikut Iblis. Dengan kalimat lain, MUI menyatakan bahwa orang-orang yang mengikuti petunjuk Allah (Al Qur’an) adalah sama dengan mengikuti Iblis. Artinya, MUI secara tidak langsung menyatakan bahwa petunjuk Allah adalah sama dengan Iblis. Ini adalah kesalahan yang sangat fatal. Hal ini lebih menegaskan lagi bahwa fatwa MUI tentang anti hadis adalah salah.

15:39. Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, (versi Dep. Agama RI)

15:42. Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat. (versi Dep. Agama RI)

Di samping itu, syaitan mempunyai sifat selalu berusaha menyesatkan manusia dari Al Qur’an (25:29). Artinya, orang yang disesatkan oleh syaitan adalah orang yang tidak berpedoman pada Al Qur’an. Dengan kalimat lain, orang yang berpedoman pada Al Qur’an saja tidak termasuk orang yang disesatkan oleh syaitan. Ini juga membuktikan bahwa fatwa MUI tentang anti hadis adalah salah.

25:29. Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia. (versi Dep. Agama RI)

Benarkah orang yang berpedoman pada Al Qur’an saja menyesatkan? Sudah dijelaskan di depan bahwa ayat 20:123 dan 2:2 menegaskan bahwa orang yang berpedoman pada Al Qur’an saja tidak akan sesat. Oleh sebab itu, orang yang berpedoman pada Al Qur’an juga tidak akan menyesatkan. Sekali lagi, ini menunjukkan bahwa fatwa MUI tentang anti hadis adalah salah.

Benarkah orang yang berpedoman pada Al Qur’an saja tidak termasuk orang Islam? Yang menyebut Islam sebagai agama adalah Allah (5:3) sehingga orang yang mengikuti petunjuk-Nya berupa Al Qur’an adalah termasuk orang Islam. Jadi, fatwa MUI yang menyatakan bahwa orang yang hanya berpedoman pada Al Qur’an saja bukan orang Islam adalah salah.

5:3. Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (versi Dep. Agama RI)

MUI juga telah melakukan kesalahan dalam mengutip Al Qur’an. Dalam kasus ini, MUI mengutip ayat Al Qur’an secara tidak lengkap. Kutipan tersebut adalah sebagai berikut.

1. Surat al-Hasyr : 7
“apa yang diberikan Rasul kepadarnu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maku tinggalkanlah, dan bertaqwalah kepada Allah Sesungguhnya Allah sangat keras hukumannya “.

8. Surat An Nahi : 44
“Dan kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.“

Naskah terjemahan kedua ayat tersebut yang lengkap versi Dep. Agama RI adalah sebagai berikut :

59:7. Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya. (versi Dep. Agama RI)

16:44. keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan, (versi Dep. Agama RI)

Pengutipan ayat Al Qur’an terjemahan secara tidak lengkap tersebut melanggar petunjuk Allah dalam (2:159). Jika dipikir-pikir, apa susahnya mengutip ayat terjemahan secara lengkap? Apakah terlalu panjang? Apakah sulit diketik? Apakah menghabiskan tenaga? Apakah menghabiskan ruang? Oleh sebab itu, penulis menduga ada maksud terselubung di balik itu. Penulis sudah membahas tentang modus pembelokan penafsiran ayat Al Qur’an dengan cara mengutip ayat terjemahan secara tidak lengkap di http://kajiantentangquran.blogspot.com/2009/09/al-quran-sebagai-satu-satunya-pedoman.html dan di http://kajiantentangquran.blogspot.com/2011/11/terjemahan-ayat-al-quran-bermasalah.html.

2:159. Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila'nati Allah dan dila'nati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat mela'nati, (versi Dep. Agama RI)

Penggunaan kitab hadis sebagai dasar pembuatan fatwa tentang anti hadis juga merupakan kesalahan karena yang diperkarakan adalah tentang penggunaan kitab hadis itu sendiri. Di samping itu, penggunaan kitab hadis oleh MUI sebagai dasar pembuatan fatwa merupakan bentuk pelanggaran terhadap ajaran Allah dalam Al Qur’an, yaitu agar memutuskan perkara di antara manusia dengan kitab Allah (5:44, 5:47, 5:48, 5:49, dan 4:105). Perlu diingat fatwa yang dibuat MUI adalah dalam rangka memutuskan perkara di antara manusia.

5:44. Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (versi Dep. Agama RI)

5:47. Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah didalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik. (versi Dep. Agama RI)

5:48. Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu, (versi Dep. Agama RI)

5:49. dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. (versi Dep. Agama RI)

4:105. Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat, (versi Dep. Agama RI)

Sebenarnya, yang paling mengetahui orang yang sesat adalah Allah (68:7) sehingga yang boleh menyatakan sesat kepada manusia adalah Allah. Oleh sebab itu, pembuatan fatwa oleh MUI yang menyatakan sesat kepada manusia adalah suatu kesalahan.

68:7. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan Dia-lah Yang Paling Mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (versi Dep. Agama RI)

Fatwa MUI juga berisi himbauan agar orang-orang yang hanya beriman kepada Al Qur’an saja bertaubat dan mengikuti aliran mereka, yaitu dengan menggunakan kitab hadis sebagai pedoman. Di sini ada hal yang penting. Perlu diketahui bahwa dalam kasus ini masing-masing pihak akan merasa tidak sesat dan pihak lainnya dianggap sesat. Artinya, yang merasa pendapatnya benar akan berpendapat bahwa pihak yang tidak sependapat adalah sesat. Tentu saja, bagi penulis, yang pendapatnya benar adalah pihak penulis. Oleh sebab itu, menurut penulis, himbauan MUI agar wajib menggunakan kitab hadis sebagai pedoman bisa dipandang sebagai tindakan menyesatkan penulis. Tindakan menyesatkan orang lain seperti ini mirip yang dilakukan segolongan Ahli Kitab ketika ingin menyesatkan Nabi Muhammad (dalam terjemahan disebut dengan “kamu”) (3:69). Dijelaskan dalam ayat tersebut bahwa para Ahli Kitab tersebut sebenarnya menyesatkan dirinya sendiri tetapi tidak menyadarinya. Artinya, yang terjadi pada segolongan Ahli Kitab dalam 3:69 dapat terjadi pada MUI.

3:69. Segolongan dari Ahli Kitab ingin menyesatkan kamu, padahal mereka (sebenarnya) tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak menyadarinya. (versi Dep. Agama RI)

Himbauan MUI agar pemerintah terlibat dalam masalah ini juga tidak tepat karena masalah keimanan tidak boleh dipaksakan dengan kekuasaan. Perlu diingat bahwa Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya (16:93). Artinya, yang membuat orang menjadi mendapat petunjuk adalah Allah sehingga orang tidak boleh memaksa orang lain agar mengikuti keyakinannya atau agamanya.. Selain itu, masyarakat juga tidak boleh mengikuti suatu keyakinan atau agama hanya karena mengikuti pembesar atau pemimpin. Jangan sampai masyarakat kemudian menyesal seperti orang-orang yang mengikuti pembesar dan pemimpin pada jaman dahulu (33:67).

16:93. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan. (versi Dep. Agama RI)

33:67. Dan mereka berkata;:"Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). (versi Dep. Agama RI)

MUI tentu sudah mengetahui bahwa Allah telah mengajarkan cara menghadapi tuduhan sesat kepada Nabi Muhammad (34:50). Cara ini juga berlaku bagi kita dengan cara merubah frasa “apa yang diwahyukan Tuhan kepadaku” menjadi “petunjuk Allah berupa Al Qur’an”. Oleh sebab itu, jika penulis dituduh sesat maka sesungguhnya penulis sesat atas kemudharatan diri penulis sendiri, dan jika penulis mendapat petunjuk maka itu disebabkan mengikuti petunjuk Allah berupa Al Qur’an.

34:50. Katakanlah: "Jika aku sesat maka sesungguhnya aku sesat atas kemudharatan diriku sendiri; dan jika aku mendapat petunjuk maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat." (versi Dep. Agama RI)

Sebagai penutup, penulis menghimbau agar MUI mencabut fatwa tentang anti hadis. Ulama adalah orang-orang yang takut kepada Allah (35:28) sehingga tidak akan membuat fatwa yang bertentangan dengan Al Qur’an.

35:28. Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (versi Dep. Agama RI)

Jangan sampai terjadi, orang yang mengikuti petunjuk Allah menjadi khawatir dan bersedih hati karena tuduhan sesat yang dibuat MUI, tempat berkumpulnya orang takut kepada Allah. Perlu diingat bahwa Allah telah menjelaskan dalam 2:38 bahwa orang yang mengikuti petunjuk Allah tidak perlu khawatir dan bersedih hati. Sayangnya, hal ini tidak terjadi di Indonesia karena orang yang berpedoman pada Al Qur’an saja mendapat tekanan dan ancaman dari masyarakat akibat fatwa MUI tentang anti hadis.

2:38. Kami berfirman: "Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (versi Dep. Agama RI)

Kamis, 26 Maret 2015

KETELADANAN RASUL ALLAH

Banyak orang berusaha meniru segala hal yang dilakuan Rasul Allah. Mereka beralasan bahwa Rasul Allah adalah seorang teladan. Mereka juga mengaku mempunyai landasan untuk berpandangan seperti itu. Landasannya adalah ayat berikut ini.

33:21. Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (versi Dep. Agama RI)

Makalah ini ditulis untuk membahas maksud keteladanan yang dimaksud dalam ayat 33:21. Ini penting bagi kita untuk menentukan sikap terhadap kandungan ayat tersebut agar tidak terjerumus dalam kesalahan.

Kata “diri’ dalam tanda kurung adalah tambahan penerjemah. Kata tersebut bersifat mengganggu karena memberi kesan seolah-olah yang ada pada tubuh Rasul Allah adalah juga suatu teladan. Misalnya, jenggot yang mungkin ada pada dirinya bisa dianggap sebagai suatu teladan. Oleh sebab itu, dalam makalah ini kata “diri” dianggap tidak ada. Di samping itu, kata “bagimu” juga merupakan bagian yang penting. Siapa “mu” yang dimaksud dalam ayat tersebut? Apakah “mu” di sini adalah orang-orang pada jaman Rasul Allah yang diceritakan dalam surat 33? Atau, orang-orang secara umum, termasuk orang yang hidup sekarang? Agar lebih jelas tentang hal tersebut, kita perlu membahas tentang konteks keteladanan dalam 33:21. Untuk itu, beberapa ayat sebelum dan sesudah ayat 33:21 ditampilkan berikut ini.

33:9. Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikurniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan (versi Dep. Agama RI)

33:10. (Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka. (versi Dep. Agama RI)

33:11. Disitulah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat. (versi Dep. Agama RI)

33:12. Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata :"Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya." (versi Dep. Agama RI)

33:13. Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mreka berkata: "Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu." Dan sebahagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata : "Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga)." Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanya hendak lari. (versi Dep. Agama RI)

33:14. Kalau (Yatsrib) diserang dari segala penjuru, kemudian diminta kepada mereka supaya murtad, niscaya mereka mengerjakannya; dan mereka tiada akan bertangguh untuk murtad itu melainkan dalam waktu yang singkat. (versi Dep. Agama RI)

33:15. Dan sesungguhnya mereka sebelum itu telah berjanji kepada Allah: "Mereka tidak akan berbalik ke belakang (mundur)." Dan adalah perjanjian dengan Allah akan diminta pertanggungan jawabnya. (versi Dep. Agama RI)

33:16. Katakanlah: "Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika (kamu terhindar dari kematian) kamu tidak juga akan mengecap kesenangan kecuali sebentar saja." (versi Dep. Agama RI)

33:17. Katakanlah: "Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?" Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah. (versi Dep. Agama RI)

33:18. Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang menghalang- halangi di antara kamu dan orang-orang yang berkata kepada saudara- saudaranya: "Marilah kepada kami." Dan mereka tidak mendatangi peperangan melainkan sebentar. (versi Dep. Agama RI)

33:19. Mereka bakhil terhadapmu, apabila datang ketakutan (bahaya), kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik- balik seperti orang yang pingsan karena akan mati, dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan. Mereka itu tidak beriman, maka Allah menghapuskan (pahala) amalnya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (versi Dep. Agama RI)

33:20. Mereka mengira (bahwa) golongan-golongan yang bersekutu itu belum pergi; dan jika golongan-golongan yang bersekutu itu datang kembali, niscaya mereka ingin berada di dusun-dusun bersama-sama orang Arab Badwi, sambil menanya-nanyakan tentang berita-beritamu. Dan sekiranya mereka berada bersama kamu, mereka tidak akan berperang, melainkan sebentar saja. (versi Dep. Agama RI)

33:21. Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (versi Dep. Agama RI)

33:22. Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata : "Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita." Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan. (versi Dep. Agama RI)

33:23. Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merobah (janjinya), (versi Dep. Agama RI)

33:24. supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (versi Dep. Agama RI)

33:25. Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apapun. Dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan. Dan adalah Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (versi Dep. Agama RI)

Ayat-ayat tersebut di atas berisi tentang perang. Jika diperhatikan dengan tenang dan sikap netral, tampak bahwa ada perbedaan antara kaandungan sebelum ayat 33:21 dan sesudahnya. Ayat-ayat sebelum 33:21 berisi tentang perilaku orang-orang yang tidak patuh menjalankan perintah perang sedangkan ayat-ayat sesudah 33:21 berisi tentang perilaku orang-orang yang patuh terhadap perintah perang. Ini berarti bahwa orang-orang yang patuh tersebut (orang-orang mukmin atau orang-orang beriman) adalah mereka yang meneladani Rasul Allah. Perlu diingat bahwa Rasul Allah adalah orang yang menjalankan perintah perang dengan patuh dan ikhlas. Jadi, keteladanan yang dimaksud dalam 33:21 adalah berkaitan dengan sikap menjalankan perintah perang.

Walaupun demikian, keteladanan Rasul Allah juga berlaku pula bagi semua orang yang mengaku menjadi orang beriman (mukmin). Bagi kita yang tidak sedang dalam keadaan berperang bersama Rasul Allah, keteladanan Rasul Allah yang bisa dipraktekkan adalah sikap patuh terhadap semua ajaran Allah, baik yang berupa perintah maupun yang berupa larangan. Dengan demikian, cara untuk meneladani Rasul Allah adalah dengan mengamalkan semua ajaran Allah dalam Al Qur’an karena semua ajaran Allah ada di dalam Al Qur’an. Makna ajaran Allah tentang keteladanan Rasul Allah adalah bahwa orang yang tidak ingin tersesat dalam hidupnya sehingga bisa masuk surga hendaknya meneladani Rasul Allah. Agar tidak tersesat, orang harus mengikuti petunjuk Allah. Allah berfirman bahwa orang yang mengikuti petunjuk Allah tidak akan sesat dan tidak akan celaka (20:123). Petunjuk Allah tersebut ada di dalam kitab yang tidak mengandung keragu-raguan, yaitu Al Qur’an (2:2). Jadi, orang yang mengamalkan semua ajaran Allah dalam Al Qur’an sesungguhnya telah meneladani Rasul Allah.

20:123. Allah berfirman: "Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. (versi Dep. Agama RI)

2:2. Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, (versi Dep. Agama RI)

Walaupun demikian, ada orang yang meneladani Rasul Allah dengan cara menggunakan informasi tentang Rasul Allah di luar Al Qur’an. Informasi tersebut ada di dalam kitab-kitab hadis. Kitab-kitab tersebut berisi informasi tentang perkataan, perbuatan, dan sikap Rasul Allah yang diperoleh dari penelitian. Metode penelitiannya adalah dengan mengumpulkan informasi dari mulut ke mulut yang berasal dari orang-orang yang dianggap hidup di sekitar Rasul Allah. Hanya saja, setelah informasi tersebut terkumpul, tidak dilakukan konfirmasi kepada Rasul Allah tentang kebenaran informasi yang diperoleh dalam penelitian tersebut karena beliau sudah wafat. Jadi, informasi yang ada dalam kitab hadis masih bersifat sebagai dugaan atau asumsi. Menggunakan informasi yang masih bersifat dugaan atau asumsi tidak diajarkan Allah (10:36). Oleh sebab itu, meneladani Rasul Allah dengan cara meenggunakan kitab hadis adalah cara yang salah.

10:36. And most of them follow nothing except assumption. Indeed, assumption does not avail anything against the truth. Indeed, Allah is All-Knower of what they do. (Dan kebanyakan dari mereka tidak mengikuti sesuatu pun kecuali asumsi. Sungguh, asumsi tidak berguna sama sekali melawan kebenaran sejati. Sungguh, Allah adalah Maha Mengetahui yang mereka kerjakan.) (versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri)

Perbedaan praktek dalam meneladani Rasul Allah dengan hanya menggunakan Al Qur’an dari orang ke orang adalah mungkin terjadi karena variasi sifat, kondisi tubuh, kondisi lingkungan, dan kebudayaan yang dimiliki tiap orang. Perbedaan praketk tersebut tidak perlu dipermasalahkan jika yang dipraktekkan adalah sama, yaitu ajaran Allah dalam Al Qur’an. Dengan kalimat lain, persamaan lebih diutamakan daripada perbedaan. Yang sesungguhnya masih menjadi masalah adalah, “Apakah kita telah memahami semua ajaran Allah dalam Al Qur’an dengan benar dan seragam?” Perlu diingat bahwa pemahaman orang tentang ajaran Allah dalam Al Qur’an sampai sekarang masih bervariasi.  Variasi pemahaman orang tentang ajaran Allah dalam Al Qur’an  mungkin karena Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang dikehendaki (16:93).

16:93. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan.

Makalah tentang keteladaan Rasul Allah dicukupkan sampai di sini. Apabila ada perubahan persepsi pada diri penulis, makalah ini akan direvisi.

Jumat, 27 Februari 2015

CARA BELAJAR ISLAM YANG BENAR

Ketika kita lahir di dunia, sudah ada banyak agama. Setelah dewasa, kita menyadari bahwa agama yang kita anut ternyata tergantung pada orang tua dan lingkungan. Seiring dengan pertambahan umur, orang akan belajar tentang ajaran-ajaran agama yang dianutnya dengan tujuan untuk mendapatkan tentang ajaran Tuhan yang benar. Sebagian orang beranggapan bahwa belajar agama dari para guru dan buku agama sudah cukup. Kemudian, mereka menjalani kehidupan dunia dan meniti karir dengan penuh percaya diri. Sebagian orang yang lain mengalami pergolakan batin dalam menjalani agama yang dianutnya dan kemudian mengorbankan sebagian hidupnya untuk mengatasinya dengan belajar agama sendiri dari sumber-sumber informasi yang ada. Bagaimana cara belajar agama dengan benar agar bisa mendapatkan ajaran Tuhan yang benar? Makalah ini akan membahas hal tersebut. Sudah barang tentu, agama yang akan dibahas di sini adalah islam. Jadi, makalah ini akan membahas tentang cara belajar islam untuk mendapatkan ajaran Tuhan yang benar.

Dalam dunia ilmu pengetahuan, status kebenaran sesuatu dapat ditentukan berdasarkan logika. Misalnya, apakah 2+3 = 5? Kita akan mengatakan bahwa “2+3 = 5” adalah benar. Siapapun orangnya akan membenarkan bahwa  2+3 = 5 jika logika digunakan.

Kebenaran agama tidak bisa ditentukan dengan logika karena agama berisi ajaran Tuhan yang menciptakan manusia. Agama pada hakekatnya adalah informasi yang berasal dari Tuhan yang menciptakan manusia. Jadi, agama adalah berupa informasi.

Kebenaran informasi ditentukan oleh rasa percaya kepada yang menyampaikan informasi tersebut, bukan pada isi informasi tersebut. Jika kita percaya kepada seorang pembawa informasi, kita akan meyakini bahwa informasi tersebut adalah benar. Walaupun isi informasi adalah salah, kita akan meyakini bahwa informasi tersebut benar jika kita percaya pada pembawa informasi tersebut. Demikian pula, walaupun isi informasi adalah benar, kita akan meyakini bahwa informasi tersebut adalah salah jika kita tidak percaya kepada pembawa informasi tersebut. Oleh sebab itu, kebenaran suatu agama ditentukan oleh rasa percaya kepada yang mengajarkan agama tersebut.

Islam adalah suatu agama. Untuk mengetahui kebenaran ajaran islam, kita harus percaya kepada yang menyampaikan ajaran tersebut. Jika kita belajar islam dari para guru agama islam, kita harus percaya kepada para guru tersebut agar bisa meyakini kebenaran materi yang disampaikannya. Jika belajar islam dari buku agama islam, kita harus percaya kepada penulis buku tersebut agar bisa meyakini kebenaran materi yang disampaikannya. Bolehkah kita percaya kepada guru agama islam dan penulis buku agama islam? Bagaimana jika mereka mengajarkan sesuatu yang salah? Sebelum menjawabnya, kita akan membahas hal berikut ini lebih dahulu.

Belajar langsung kepada Tuhan tentang ajaran-Nya bukan merupakan solusi. Solusi yang lebih realistik adalah belajar langsung kepada orang yang diutus Tuhan untuk menyampaikan ajaran-Nya. Dalam islam, orang yang diutus Tuhan paling akhir adalah Nabi Muhammad. Akan tetapi, Nabi Muhammad telah wafat sehingga kita tidak bisa belajar kepadanya. Oleh karena itu, solusi yang paling tepat adalah mempelajari kitab yang disampaikannya, yaitu Al Qur’an.

Walaupun demikian, ada orang-orang yang belajar tentang ajaran Tuhan kepada Nabi Muhammad melalui riwayat yang disampaikan secara turun-menurun dari mulut ke mulut. Riwayat tersebut didokumentasikan dalam bentuk buku oleh penulis riwayat. Buku tersebut disebut dengan kitab hadis dan penulisnya disebut dengan penulis kitab hadis. Mereka yang mempelajari kitab hadis mengaku merasa seolah-olah sedang belajar ajaran Tuhan kepada Nabi Muhammad secara langsung. Walaupun demikian, kitab hadis dianggap tidak lengkap dan kemudian mereka mempelajari Al Qur’an dan kitab hadis. Cara belajar islam inilah yang dianut oleh sebagian besar orang penganut agama islam. Para guru agama islam dan penulis buku agama islam juga mengajarkan Al Qur’an dan kitab hadis.

Sudah disinggung di depan bahwa belajar tentang ajaran Tuhan dari Al Qur’an adalah tindakan yang benar karena isinya diketahui oleh orang yang bisa dipercaya, yaitu Utusan Tuhan. Bagaimana halnya dengan kitab hadis? Apakah belajar tentang ajaran Tuhan dari kitab hadis adalah tindakan yang benar? Kita nilai lebih dahulu status penulisnya. Apakah penulis kitab hadis termasuk orang yang bisa dipercaya? Perlu diingat kembali bahwa kebenaran informasi tentang ajaran Tuhan ditentukan oleh rasa percaya kepada yang menyampaikannya, bukan logika. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, para pengguna kitab hadis kemudian menilai kepribadian dan akhlak para periwayat dan penulis kitab hadis. Jika kepribadian dan akhlaknya dinilai baik, mereka dianggap bisa dipercaya. Nah, di sini ada persoalan. Bagaimana kita bisa menilai kepribadian dan akhlak mereka sedangkan kita tidak pernah berinteraksi dengan mereka? Bagaimana jika penilaiannya salah karena mungkin saja periwayat yang dinilai adalah orang munafik? Apakah kita boleh percaya kepada penilai keperibadian dan akhlak mereka? Masalah lainnya, pengguna kitab hadis juga menggunakan isi ajaran sebagai dasar. Jika isinya dinilai shahih (sah), isi kitab hadis bisa digunakan. Siapa penilai keshahihan isi kitab hadis? Apakah mereka bisa dipercaya? Pertanyaan tersebut akan terus muncul karena semua didasarkan pada asumsi. Satu-satunya jalan untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan mencari tahu orang-orang yang diperbolehkan untuk dipercaya menyampaikan ajaran-Nya dalam Al Qur’an, sebuah kitab yang diturunkan kepada Utusan Tuhan yang bisa dipercaya.

Setelah membaca uraian dalam alinea di atas, mungkin ada yang bertanya, “Bagaimana kita bisa percaya bahwa Nabi Muhammad adalah Utusan Tuhan sedangkan kita tidak pernah berinteraksi dengannya?” Jawabannya ada pada diri kita sendiri. Makalah ini ditujukan kepada orang yang percaya bahwa Nabi Muhammad adalah seorang Utusan atau Rasul Allah.

Disebutkan dalam Al Qur’an bahwa manusia yang bisa dipercaya adalah Rasul Allah (64:8). Di dalam kitab itulah kita mengetahui bahwa Tuhan bernama Allah. Dengan demikian, Utusan Tuhan adalah sama dengan Utusan Allah atau Rasul Allah.

64:8. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada cahaya (Al-Quran) yang telah Kami turunkan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (versi Dep. Agama RI)

Ayat di atas menegaskan bahwa status kebenaran islam ditentukan oleh keimanan kepada Rasul Allah. Jika kita beriman kepada Rasul Allah, kita akan meyakini bahwa informasi yang disampaikannya adalah benar. Perlu diingat pula bahwa kita meyakini kebenaran informasi yang disampaikan Nabi Muhammad ketika bertugas sebagai Rasul Allah, bukan ketika menjalani kehidupan sehari-hari sebagai pribadi seorang manusia.

Periwayat hadis, penilai akhlak dan kepribadian periwayat hadis dan penulis kitab hadis, penilai keshahihan hadis, dan penulis kitab hadis adalah bukan Rasul Allah. Mereka semua tidak boleh diimani atau dipercaya. Mereka semua tidak boleh dipercaya sebagai pembawa informasi tentang ajaran Tuhan. Jika kita mempercayai mereka sebagai pembawa informasi tentang ajaran Tuhan, kita akan berdosa karena mengingkari ayat 64:8.

Perlu diingat kembali bahwa kita sedang membahas tentang ajaran Tuhan. Berapakah jumlah Tuhan? Satu! Berhubung Tuhan hanya satu, ajaran Tuhan pun juga hanya satu. Ajaran Tuhan disampaikan melalui Rasul Allah dan didokumentasikan dalam Al Qur’an. Ini perlu disampaikan karena mungkin ada orang-orang yang mempelajari kitab hadis dengan tujuan untuk mencari informasi tentang ajaran Rasul Allah selain yang ada di Al Qur’an. Kemudian, mereka mungkin beralasan bahwa beriman kepada orang selain Rasul Allah adalah dibenarkan jika hanya ingin mengetahui ajaran Rasul Allah. Apakah Rasul Allah mempunyai ajaran selain yang ada di Al Qur’an? Orang yang mencari ajaran Rasul Allah selain yang di Al Qur’an tidak akan memperoleh informasi yang benar karena harus beriman kepada orang selain Rasul Allah.

Kembali ke pertanyaan semula, “Bolehkah kita percaya kepada guru agama dan penulis buku agama islam?” Jika tujuan belajar islam adalah untuk mencari informasi tentang ajaran Tuhan yang benar, kita tidak boleh percaya kepada mereka karena mereka bukan Rasul Allah. Walaupun demikian, kita bisa menggunakan informasi yang disampaikan mereka untuk membantu kita dalam mempelajari ajaran Tuhan dalam Al Qur’an. Isi tulisan dalam blog ini juga hanya bersifat sebagai alat untuk membantu orang lain dalam mempelajari ajaran Tuhan dalam Al Qur’an. Barangkali, isinya dapat memberi inspirasi orang-orang dan kemudian mereka mengeceknya sendiri di Al Qur’an.

Belajar islam dari Rasul Allah tidak mungkin dilakukan karena beliau sudah wafat. Di sisi lain, beriman kepada orang selain Rasul Allah dilarang. Bagaimana cara untuk mendapatkan ajaran Tuhan yang benar? Caranya adalah dengan berusaha mempelajari Al Qur’an. Jika buta bahasa Arab, Al Qur’an terjemahan bisa digunakan sebagai alat bantu, disertai usaha untuk mendaparkan terjemahan yang benar. Pada saat yang sama, setiap hari kita membaca Al Fatihah karena di dalamnya ada doa untuk mendapatkan petunjuk-Nya kepada jalan yang lurus. Dengan petunjuk-Nya, kita akan mendapatkan ajaran Tuhan yang benar. Idealnya, semua ini bisa dilakukan oleh tiap orang islam.

Sebagai penutup, cara belajar islam yang benar adalah dengan mempelajari Al Qur’an. Tiap individu yang menganut islam sebagai agamanya wajib belajar islam dari Al Qur’an. Kita tidak perlu khawatir, tidak perlu bersedih hati, tidak akan sesat, dan tidak akan celaka jika hanya mengaji petunjuk Allah berupa Al Qur’an (2:38 dan 20:123).

2:38. Kami berfirman: "Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (versi Dep. Agama RI)

20:123. Allah berfirman: "Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. (versi Dep. Agama RI)

Minggu, 18 Januari 2015

AJARAN NENEK MOYANG

Hampir semua orang, termasuk penulis, tidak bisa terbebas dari pengaruh ajaran nenek moyang. Persepsi tentang agama yang dianut seseorang dipengaruhi oleh ajaran yang diterima dari orang tua dan orang yang hidup lebih dahulu. Ajaran tersebut menyatu dengan tradisi yang berkembang di masyarakat. Para guru agama juga menggunakan sumber informasi yang disusun oleh orang-orang yang pernah hidup pada jaman dahulu. Tradisi yang ada menjadi terpelihara karena didukung oleh ajaran para guru agama yang menggunakan informasi dari tulisan para nenek moyang. Jadi, ajaran agama yang berkembang di masyarakat adalah ajaran nenek moyang.

Bolehkah kita menggunakan ajaran agama dari nenek moyang sebagai pedoman hidup? Berikut ini ayat-ayat Al Qur’an yang menjelaskan tentang hal tersebut.

2:170. Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?" (versi Dep. Agama RI)

5:104. Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul." Mereka menjawab: "Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya." Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk? (versi Dep. Agama RI)

Ayat 2:170 dan 5:104 berisi informasi yang sama. Orang-orang di sekitar Rasul Allah diajak untuk mengikuti yang diturunkan Allah tetapi tidak mau dan lebih memilih mengikuti ajaran nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka tidak mempunyai pengetahuan dan mendapat petunjuk. Dalam ayat 5:104 disebutkan frasa “mengikuti Rasul”. Penyebutan frasa “mengikuti Rasul” di sini berarti bahwa mereka diminta agar mengikuti Rasul yang menerima wahyu yang diturunkan kepadanya dalam bentuk Al Qur’an. Dengan kalimat lain, mereka diminta untuk mengikuti yang diturunkan Allah kepada Rasul. Penyebutan frasa “mengikuti Rasul” di sini tidak berarti bahwa ada ajaran Rasul selain yang ada di Al Qur’an yang harus diikuti. Perlu dicermati kembali bahwa ayat 2:170 hanya menyebutkan “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah”. Ini menegaskan bahwa mereka hanya diperintahkan agar mengikuti ajaran Allah yang diturunkan kepada Rasul. Frase “mengikuti Rasul” juga menjelaskan bahwa mengikuti yang diturunkan Allah dilakukan dengan cara mengikuti Rasul.

Sampai di sini dapat disampaikan bahwa kita tidak boleh mengikuti ajaran nenek moyang yang tidak mempunyai pengetahuan dan tidak mendapat petunjuk. Perlu diingat bahwa pengetahuan dan petunjuk terdapat di Al Qur’an. Kita hanya diperintahkan agar mengikuti ajaran Allah yang diturunkan kepada Rasul Allah. Larangan dan perintah tersebut merupakan petunjuk bagi kita dalam menyikapi ajaran yang berkembang di masyarakat. Cara menyikapinya adalah dengan melakukan evaluasi terhadap ajaran nenek moyang untuk mengetahui ajaran nenek moyang yang sesuai dengan Al Qur’an dan tidak sesuai dengan Al Qur’an. Yang sesuai bisa dipakai sedangkan yang tidak sesuai ditinggalkan.

Bagaimana cara mngevaluasi ajaran nenek moyang yang sudah bercampur dengan tradisi masyarakat? Caranya adalah dengan mengevaluasi ajaran-ajaran yang ada dalam kitab-kitab selain Al Qur’an yang dijadikan rujukan atau pedoman. Ajaran dalam kitab selain Al Qur’an yang tidak sesuai Al Qur’an harus ditinggalkan sedangkan yang sesuai dengan Al Qur’an dapat dipakai. Jadi, cara mengevaluasi ajaran nenek moyang adalah dengan mempelajari ajaran dalam Al Qur’an.

Perlu ditambahkan di sini bahwa sebagian besar orang beragama islam menggunakan kitab hadis sebagai pedoman hidup. Kitab hadis berisi informasi tentang perkataan, perbuatan, dan sikap Nabi Muhammad yang diperoleh berdasarkan informasi yang mengalir dari mulut ke mulut. Artinya, Nabi Muhammad tidak mengetahui keberadaan kitab-kitab hadis yang ada sekarang ini. Jadi, kitab hadis adalah ajaran nenek moyang yang berisi tentang perkataan, perbuatan, dan sikap Nabi Muhammad. Ajaran nenek moyang juga ada dalam kitab-kitab selain kitab hadis.

Sebagai ajaran nenek moyang, ajaran dalam semua kitab selain Al Qur’an harus dievaluasi dengan Al Qur’an. Yang sesuai bisa dipakai sedangkan yang tidak sesuai harus ditinggalkan. Perlu dicermati bahwa “bisa dipakai” tidak sama dengan “harus dipakai”. Frasa “bisa dipakai” bermakna suatu hal yang bersifat opsional (pilihan). Artinya, dipakai boleh tetapi tidak dipakai juga boleh. Yang bersifat wajib (tidak bersifat opsional) adalah ajaran yang ada dalam Al Qur’an.

Al Qur’an bukan ajaran nenek moyang karena Nabi Muhammad sebagai Rasul Allah mengetahui semua isi Al Qur’an. Bagi orang beriman, Al Qur’an yang dibaca Rasul Allah adalah sama persis dengan yang dibaca orang pada jaman sekarang. Dengan demikian, kita hanya mengandalkan satu orang untuk menjamin bahwa Al Qur’an berasal dari Allah. Orang tersebut adalah seorang Rasul Allah yang wajib diimani. Jadi, Al Qur’an adalah ajaran Rasul Allah, bukan ajaran nenek moyang.

Ajaran nenek moyang juga berasosiasi dengan kekuasaan. Segala sesuatu yang bersifat mengancam ajaran nenek moyang akan menghadapi banyak tantangan dari penguasa. Hal ini terungkap dalam ayat 10:78. Dijelaskan dalam ayat tersebut bahwa Musa dan Harun yang berusaha merubah ajaran nenek moyang dianggap akan merebut kekuasaan. Oleh sebab itulah, ajaran nenek moyang dipertahankan oleh penguasa.  

10:78. Mereka berkata: "Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya, dan supaya kamu berdua mempunyai kekuasaan di muka bumi? Kami tidak akan mempercayai kamu berdua." (versi Dep. Agama RI)

Para penguasa yang menganut ajaran nenek moyang takut jika ajaran mereka dicek kebenarannya dengan Al Qur’an. Walaupun mengaku beriman kepada Al Qur’an, mereka beranggapan seolah-olah Al Qur’an adalah suatu ancaman bagi mereka. Ini aneh. Mereka benci dengan orang yang hanya mengaji Al Qur’an saja. Mereka ingin agar ajaran nenek moyang dipertahankan walaupun tidak sesuai dengan ajaran Allah dalam Al Qur’an.


Demikianlah, makalah yang dapat dibuat saat ini. Jika ada perubahan persepsi pada diri penulis, makalah ini akan direvisi.

Selasa, 23 Desember 2014

TUGAS RASUL ALLAH

PENDAHULUAN
Kali ini, penulis akan membahas tentang tugas Rasul Allah. Walaupun pernah disinggung pada makalah sebelumnya, topik ini dibahas lagi dengan sudut pandang dan tingkat kedalaman yang berbeda. Setidak-tidaknya, ini akan semakin menambah keyakinan terhadap persepsi yang sudah terbentuk sebelumnya.

Sebagai manusia yang diutus Allah, seorang Rasul Allah hanya menjalankan tugas yang diberikan Allah kepadanya. Di sisi lain, sebagai manusia biasa, seorang Rasul Allah juga menjalankan aktivitas kehidupan sehari-hari seperti manusia lainnya. Kedua aktivitas tersebut bercampur menjadi satu sehingga aktivitas seorang Rasul Allah ketika menjalani hidup sebagai manusia biasa berpotensi untuk direkayasa menjadi aktivitas ketika menjalankan tugas sebagai seorang Rasul Allah. Untuk menghindari hal tersebut, pemahaman tentang tugas Rasul Allah perlu dimiliki oleh orang yang beriman kepada Allah. Oleh sebab itu, makalah ini ditulis.

TUGAS RASUL ALLAH
Tugas Rasul Allah ada 3, yaitu sebagai saksi, pembawa kabar gembira, dan pemberi peringatan. Ayat-ayatya adalah sebagai berikut (33:45 dan 48:8).

33:45. Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, (versi Dep. Agama RI)

48:8. Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, (versi Dep. Agama RI)

Tugas sebagai saksi dijalankan pada saat hari kiamat, saat manusia dihidupkan kembali. Tugas sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan dilaksanakan ketika Rasul Allah masih hidup di dunia. Ayat-ayat yang hanya menerangkan tugas Rasul Allah ketika masih hidup di dunia adalah sebagai berikut (25:56 dan 6:48).

25:56. Dan tidaklah Kami mengutus kamu melainkan hanya sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. (versi Dep. Agama RI)

6:48. Dan tidaklah Kami mengutus para rasul itu melainkan untuk memberikan kabar gembira dan memberi peringatan. Barangsiapa yang beriman dan mengadakan perbaikan, maka tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. (versi Dep. Agama RI)

Dalam menjalan tugasnya, Rasul Allah bernama Muhammad hanya menggunakan Al Qur’an saja. Ayat-ayatnya adalah sebagai berikut (19:97, 46:12, 16:102, dan 17:9).

19:97. Maka sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Quran itu dengan bahasamu, agar kamu dapat memberi kabar gembira dengan Al Quran itu kepada orang-orang yang bertakwa, dan agar kamu memberi peringatan dengannya kepada kaum yang membangkang. (versi Dep. Agama RI)

46:12. Dan sebelum Al Quran itu telah ada kitab Musa sebagai petunjuk dan rahmat. Dan ini (Al Quran) adalah kitab yang membenarkannya dalam bahasa Arab untuk memberi peringatan kepada orang-orang yang zalim dan memberi kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. (versi Dep. Agama RI)

16:102. Katakanlah: "Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Quran itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)." (versi Dep. Agama RI)

17:9. Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar, (versi Dep. Agama RI)

Ayat 19:97, 46:12, 16:102, dan 17:9 menyebutkan dengan tegas bahwa kabar gembra dan peringatan yang disampaikan Rasul Allah ada di Al Qur’an. Ini berarti bahwa dalam menjalankan tugasnya, Rasul Allah hanya menggunakan Al Qur’an saja. Kita semua yang hidup sekarang ini juga sebaiknya bersikap seperti orang-orang yang hidup pada jaman Rasul Allah masih hidup, yaitu hanya menerima kabar gembira dan peringatan dari Rasul Allah yang tertulis di Al Qur’an. Rasul Allah tidak akan melakukan sesuatu yang bukan tugasnya. Rasul Allah juga pasti menjalankan tugasnya. Kita tidak perlu melakukan penelitian untuk mengetahui kabar gembira dan peringatan yang tidak ada di Al Qur’an. Kita tidak perlu melakukan penelitian untuk mengetahui informasi dari Allah yang disampaikan kepada Rasul Allah yang tidak ada di Al Qur’an. Jika kita melakukannya, kita secara tidak langsung telah menuduh Nabi Muhammad tidak menjalankan tugasnya. Jika kita melakukannya, kita akan menjadi golongan orang yang tidak percaya atau tidak beriman kepada Al Qur’an dan Rasul Allah.

Dijelaskan pula dalam ayat-ayat di atas bahwa kabar gembira yang dibawa Rasul Allah ditujukan kepada orang yang bertakwa, berbuat baik, dan berserah diri. Peringatan yang diberikan oleh Rasul Allah ditujukan untuk orang yang zalim dan orang yang membangkang. Dari sini dapat dimengerti pula bahwa bagi orang zalim dan orang yang membangkang, Al Qur’an adalah hanya suatu peringatan, bukan merupakan petunjuk.

Jadi, sangat jelas sekali dijelaskan di dalam Al Qur’an bahwa tugas Rasul Allah di dunia hanyalah membawa kabar gembira dan memberi peringatan. Kata “hanyalah” berarti sangat penting, yaitu bahwa tidak ada tugas Rasul Allah selain dari membawa kabar gembira dan memberi peringatan. Hal ini didasarkan pada bagian terjemahan 25:56 dan 6:48 yang bergarisbawah. Kata tidaklah dan kata melainkan dalam terjemahan tersebut merupakan satu kesatuan yang menegaskan bahwa tugas Rasul Allah di dunia hanya membawa kabar gembira dan memberi peringatan, tidak ada yang lain.

Tugas Rasul Allah tersebut menegaskan bahwa isi Al Qur’an dapat dikelompokkan menjadi 2, yaitu kabar gembira dan peringatan. Isinya disebut kabar gembira karena menjelaskan cara menuju surga. Di sisi lain, isinya disebut sebagai peringatan karena menjelaskan hal-hal yang menyebabkan orang masuk neraka. Dalam menjelaskannya, Allah menggunakan sistematika dan metode seperti yang ada di Al Qur’an. Demikian, pendapat penulis tentang arti kabar gembira dan peringatan.

PERSEPSI SALAH TENTANG TUGAS RASUL ALLAH
Walaupun tugas Rasul Allah sudah disebutkan secara jelas dan terang benderang, ada juga orang yang percaya bahwa Rasul Allah mempunyai tugas selain dari membawa kabar gembira dan memberi peringatan. Contohnya adalah anggapan bahwa Nabi Muhammad diutus untuk menyempurnakan akhlak. Contoh lainnya adalah anggapan bahwa Nabi Muhammad ditugaskan untuk menjelaskan Al Qur’an. Untuk membuat agar tugas menjelaskan Al Qur’an ada, mereka merekayasa Al Qur’an terjemahan. Hasil rekayasa tersebut kemudian dijadikan dasar untuk membenarkan anggapan mereka. Penulis akan menyajikan rekayasa tersebut dalam alinea-alinea berikut ini.

Berikut ini adalah kutipan terjemahan Al Qur’an beserta transliterasinya. Silakan pembaca mengamati bagian bergarisbawah pada terjemahan dan transliterasi! Transliterasi disajikan untuk menunjukkan rekayasa terjemahan pada alinea berikutnya. Di situ terlihat bahwa Rasul Allah seolah-olah mempunyai tugas menjelaskan.

46:9. Katakanlah: "Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadapmu. Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan." (versi Dep. Agama RI)

046.009 Qul m[a] kuntu bidAAan mina a(l)rrusuli wam[a] adree m[a] yufAAalu bee wal[a] bikum in attabiAAu ill[a] m[a] yoo[ha] ilayya wam[a] an[a] ill[a] na[th]eerun mubeen(un) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

15:89. Dan katakanlah: "Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan." (versi Dep. Agama RI)

015.089 Waqul innee an[a] a(l)nna[th]eeru almubeen(u) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

67:26. Katakanlah: "Sesungguhnya ilmu (tentang hari kiamat itu) hanya pada sisi Allah. Dan sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan." (versi Dep. Agama RI)

067.026 Qul innam[a] alAAilmu AAinda All[a]hi wa-innam[a] an[a] na[th]eerun mubeen(un) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

71:2. Nuh berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepada kamu, (versi Dep. Agama RI)

071.002 Q[a]la y[a] qawmi innee lakum na[th]eerun mubeen(un) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

Benarkah terjemahan yang menyebutkan pemberi peringatan yang menjelaskan? Marilah kita simak ayat-ayat terjemahan beserta transliterasinya berikut ini!

38:70. Tidak diwahyukan kepadaku, melainkan bahwa sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang nyata." (versi Dep. Agama RI)

038.070 In yoo[ha] ilayya ill[a] annam[a] an[a] na[th]eerun mubeen(un) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

22:49. Katakanlah: "Hai manusia, sesungguhnya aku adalah seorang pemberi peringatan yang nyata kepada kamu." (versi Dep. Agama RI)

022.049 Qul y[a] ayyuh[a] a(l)nn[a]su innam[a] an[a] lakum na[th]eerun mubeen(un) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

11:25. Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, (dia berkata): "Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kamu, (versi Dep. Agama RI)

011.025 Walaqad arsaln[a] noo[h]an il[a] qawmihi innee lakum na[th]eerun mubeen(un) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

29:50. Dan orang-orang kafir Mekah berkata: "Mengapa tidak diturunkan kepadanya mukjizat-mukjizat dari Tuhannya?" Katakanlah: "Sesungguhnya mukjizat- mukjizat itu terserah kepada Allah. Dan sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan yang nyata." (versi Dep. Agama RI)

029.050 Waq[a]loo lawl[a] onzila AAalayhi [a]y[a]tun min rabbihi qul innam[a] al-[a]y[a]tu AAinda All[a]hi wa-innam[a] an[a] na[th]eerun mubeen(un) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

Tampak bahwa walaupun kata-kata yang diterjemahkan sama, hasil terjemahannya berbeda, Dalam terjemahan 38:70, 22:49, 11:25, dan 29:50 disebutkan bahwa Rasul Allah adalah pemberi peringatan yang nyata, bukan pemberi peringatan yang menjelaskan. Padahal, kata-kata bahasa Arab yang diterjemahkan adalah sama (Silakan diperhatikan bagian bergarisbawah pada transliterasi ayat-ayat!).

Terus, mana yang benar? Pemberi peringatan yang menjelaskan atau pemberi peringatan yang nyata?  Marilah kita simak kutipan arti kata berdasarkan akar kata dari project root list di http://www.studyquran.co.uk/PRLonline.htm  untuk menentukan yang benar, “yang menjelaskan” atau “yang nyata”?. Terjemahan yang dipermasalahkan tersebut berasal dari akar kata ba-ya-nun. Berikut ini adalah kutipannya.

Ba-Ya-Nun =
Becoming separated, severed, disunited, cut off or distinct
Apparent, manifest, plain, clear, known, distinguished from another
Disunion and union
Coming forth
Separation or division between two things (e.g. land)
An evidence, an indication, demonstration, proof, argument that is clear, manifest (intellectual or perceptive/perceived by sense), testimony of a witness
abana vb. (4)
impf. act. 43:52
n.vb. 3:138, 55:4, 75:19
pcple. act. 2:168, 2:208, 3:164, 4:20, 4:50, 4:91, 4:101, 4:112, 4:119, 4:144, 4:153, 4:174, 5:15, 5:92, 5:110, 6:7, 6:16, 6:59, 6:74, 6:142, 7:22, 7:60, 7:107, 7:184, 10:2, 10:61, 10:76, 11:6, 11:7, 11:25, 11:96, 12:1, 12:5, 12:8, 12:30, 14:10, 15:1, 15:18, 15:79, 15:89, 16:4, 16:35, 16:82, 16:103, 17:53, 19:38, 21:54, 22:11, 22:49, 23:45, 24:12, 24:25, 24:54, 26:2, 26:30, 26:32, 26:97, 26:115, 26:195, 27:1, 27:13, 27:16, 27:21, 27:75, 27:79, 28:2, 28:15, 28:18, 28:85, 29:18, 29:50, 31:11, 33:36, 33:58, 34:3, 34:24, 34:43, 36:12, 36:17, 36:24, 36:47, 36:60, 36:69, 36:77, 37:15, 37:106, 37:113, 37:156, 38:70, 39:15, 39:22, 40:23, 43:2, 43:15, 43:18, 43:29, 43:40, 43:62, 44:2, 44:10, 44:13, 44:19, 44:33, 45:30, 46:7, 46:9, 46:32, 48:1, 51:38, 51:50, 51:51, 52:38, 61:6, 62:2, 64:12, 67:26, 67:29, 71:2, 81:23

Tampak bahwa akar kata ba-ya-nun berarti jelas, nyata, atau terang (manifest). Jadi, terjemahan yang benar adalah pemberi peringatan yang jelas, nyata, atau terang. Frasa pemberi peringatan yang menjelaskan adalah salah.

Apakah maksud rekayasa terjemahan tersebut? Penulis pernah mendengat seorang penceramah yang menggunakan terjemahan yang menyebutkan “pemberi peringatan yang menjelaskan” untuk mendukung pendapatnya bahwa Nabi Muhammad diberi tugas untuk menjelaskan Al Qur’an. Atas dasar terjemahan rekayasa itulah penceramah berkeyakinan bahwa menggunakan kitab hadis adalah suatu kewajiban. Barangkali, inilah maksud rekayasa terjemahan tersebut.

PENUTUP
Tugas Rasul Allah di dunia hanya membawa kabar gembira dan memberi peringatan dengan Al Qur’an. Persepsi bahwa Nabi Muhammad ditugaskan untuk memberi penjelasan tentang Al Qur’an dan untuk menyempurnakan akhlak adalah salah. Revisi makalah ini akan dilakukan jika terjadi perubahan persepsi pada diri penulis.

Sabtu, 29 November 2014

ALLAH BERBICARA DENGAN MANUSIA?

Sebelum menulis makalah ini, penulis berpersepsi bahwa Allah pernah berbicara langsung dengan manusia, yaitu Nabi Musa. Persepsi itu terbangun dari cerita-cerita yang pernah penulis baca atau penulis dengar.  Jujur saja, film jaman dulu berjudul The Ten Commandments juga turut membentuk persepsi tersebut. Persepsi tersebut berubah setelah membaca terjemahan ayat 42:51.

42:51. Dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana. (versi Dep.Agama RI)

Dalam ayat 42:51 terdapat informasi bahwa Allah tidak berkata-kata dengan manusia. Berkata-kata sama artinya dengan berbicara (to speak). Definisi berbicara telah dibuat oleh para ahli bahasa. Dari definisi bahasa tersebut dapat disampaikan dengan singkat bahwa berbicara adalah aktivitas menyampaikan informasi dengan lisan atau suara. Jadi, berbicara terdiri dari kompnen suara dan informasi.

Dalam konteks 42:51, yang dimaksud dengan kekecualian adalah bahwa Allah menyampaikan informasi kepada manusia tanpa suara. Artinya, manusia tidak mendengar suara Allah. Yang sampai kepada manusia hanyalah informasi dari Allah ketika komunikasi terjadi. Disebutkan dalam ayat tersebut bahwa ada 3 cara Allah berkomunikasi dengan manusia, yaitu :
1. menyampaikan informasi kepada manusia dengan wahyu,
2. menyampaikan informasi kepada manusia dari belakang hijab (tabir/pemisah), dan
3. menyampaikan informasi kepada manusia melalui seorang Utusan.

Cara ke 2 adalah yang masih perlu dibahas lebih lanjut karena ini berkaitan dengan latar belakang penulisan makalah ini. Tampaknya, inilah yang menjadi dasar sebagian orang untuk berpersepsi bahwa Allah pernah berbicara langsung dengan Nabi Musa. Dalam hal ini, Nabi Musa dianggap mendengar suara Allah tetapi tidak melihat wujudnya karena tertutup oleh suatu tabir. Jika demikian kasusnya (suara Allah terdengar), pada saat itu Allah dianggap berbicara dengan manusia. Perlu diingat bahwa aktivitas berbicara tidak bisa dihalangi karena keberadaan tabir yang memisahkan dua pihak yang sedang berkomunikasi. Kita dapat berbicara dengan orang yang berada dalam sebuah kamar yang pintunya tertutup. Kita juga dapat berbicara melalui telepon walaupun tidak bisa melihat lawan bicaranya. Jadi, penafsiran bahwa Allah berbicara dengan Nabi Musa dalam keadaan terpisah oleh tabir adalah salah karena bertentangan dengan 42:51.

Bagaimana penafsiran yang benar dalam kasus komunikasi antara Allah dan Nabi Musa? Ada baiknya, kutipan terjemahan ayat yang berkaitan dengan kasus tersebut disajikan di sini. Dalam 28:30 dikisahkan bahwa Allah berkomunikasi dengan Nabi Musa dengan cara berkomunikasi dari belakang tabir.

28:30. Maka tatkala Musa sampai ke (tempat) api itu, diserulah dia dari (arah) pinggir lembah yang sebelah kanan(nya) pada tempat yang diberkahi, dari sebatang pohon kayu, yaitu: "Ya Musa, sesungguhnya aku adalah Allah, Tuhan semesta alam. (versi Dep.Agama RI)

Apa tabirnya? Tabirnya adalah berupa pohon yang berada di tempat yang diberkati di pinggir lembah bagian kanan. Dari pohon itulah inforrmasi dari Allah disampaikan kepada Nabi Musa. Dalam ayat tersebut, informasi tersebut adalah "Ya Musa, sesungguhnya aku adalah Allah, Tuhan semesta alam.” Informasi tersebut disampaikan tanpa disertai suara Allah. Bagaimana mekanisme komunikasi yang terjadi pada saat itu? Tidak ada keterangan tentang hal tersebut. Yang jelas, tempat itu diberkati sehingga memungkinkan terjadi komunikasi dari belakng tabir berupa pohon. Dalam komunikasi tersebut, Allah menyampaikan informasi tanpa suara dari belakang tabir berupa pohon kepada Nabi Musa. Apakah pohon itu seperti pohon yang ada di sekitar kita? Tidak ada penjelasan tentang hal itu.

Jadi, Allah tidak berbicara dengan Nabi Musa. Yang terjadi adalah bahwa Allah berkomunikasi dengan Nabi Musa tanpa suara dari tabir berupa benda, yang dalam Al Qur’an disebut sebagai pohon.

Sebagai tambahan, cara ke 3 menarik untuk dibahas. Jika Utusan yang dimaksud adalah Nabi Muhammad (tambahan kata malaikat dalam terjemahan versi Dep. Agama RI hanyalah penafsiran penerjemah), ayat-ayat Al Qur’an adalah informasi dari Allah yang ditujukan kepada manusia melalui seorang Utusan/Rasul bernama Muhammad. Artinya, membaca Al Qur’an adalah suatu cara berkomunikasi dengan Allah. Tentu saja, tujuan membaca tersebut adalah untuk mempelajari informasi yang disampaikan Allah, bukan untuk menghasilkan suara yang merdu atau tujuan-tujuan lainnya. Dengan demikian, penerjemah Al Qur’an sesungguhnya menempati kedudukan penting dalam proses komunikasi antara Allah dan manusia. Sungguh disayangkan jika ada penerjemah Al Qur’an yang dengan sengaja membelokkan arti demi kepentingan kelompok atau sekte.

Demikianlah, makalah yang dapat disampaikan kali ini. Jika ada perubahan persepsi, makalah ini akan direvisi.