Jumat, 24 Maret 2017

BAHIIRAH, SAAIBAH, WASHIILAH, DAN HAAM

Kata bahiirah, saaibah, washiilah dan haam muncul dalam Al Qur’an ayat 5:103 terjemahan versi Dep. Agama RI. Kata-kata tersebut adalah kata-kata dalam bahasa Arab. Dengan demikian, kata-kata tersebut belum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Pengertian kata-kata tersebut diberikan dalam catatan kaki Al Qur’an terjemahan versi Dep. Agama RI.

5:103. Allah sekali-kali tidak pernah mensyari'atkan adanya bahiirah, saaibah, washiilah dan haam. Akan tetapi orang-orang kafir membuat-buat kedustaan terhadap Allah, dan kebanyakan mereka tidak mengerti. (versi Dep. Agama RI)

Tampaknya, kata-kata tersebut dianggap oleh sebagian besar penerjemah Al Qur’an sebagai kata-kata yang sulit untuk diterjemahkan. Hal ini tercermin dari Al Qur’an terjemahan dalam bahasa Inggris berikut ini.

5:103. Allah has not made (superstitions like) Bahirah, Saibah, Wasilah, and Hami (all these animals were liberated in honor of idols as practiced by pagan Arabs in the pre- Islamic period). But those who disbelieve, invent a lie against Allah and most of them do not use reason. (versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri)

5:103 God did not make/create from a female camel in Pre-Islamic paganism whose ears were split after five deliveries and left to roam alone for their idols and of no benefit to man, and nor a female camel in Pre-Islamic paganism which gave birth to ten female litters and left to roam and feed freely and forbidden from use, and nor a female camel who gave birth seven times and was left to roam and not be slaughtered, and nor a male camel who fathered ten deliveries and was left to roam without benefit to man, and but those who disbelieved they fabricate on God the lies/falsehood, and most of them do not reason/understand/comprehend. (DISCREPANCY EXISTS ABOUT THE PRECEDING BOLD TERM) (versi Mohamed Ahmed dan Samira Ahmed)

005.103 It was not Allah who instituted (superstitions like those of) a slit-ear she-camel, or a she-camel let loose for free pasture, or idol sacrifices for twin-births in animals, or stallion-camels freed from work: It is blasphemers who invent a lie against Allah; but most of them lack wisdom. (versi Abdullah Yusuf Ali)

Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri tidak menerjemahkan kata-kata tersebut. Mereka menganggap bahwa kata-kata tersebut adalah nama sesuatu sehingga huruf pertama ditulis dengan huruf kapital.besar. Di pihak lain, Mohamed Ahmed dan Samira Ahmed dan Abdullah Yusuf Ali mengganti kata-kata tersebut dengan informasi yang ada dalam selain kamus bahasa Arab. Yang menarik, Mohamed Ahmed dan Samira Ahmed memberi komentar pada naskahnya dengan ungkapan yang mencerminkan keragu-raguan mereka, yaitu “DISCREPANCY EXISTS ABOUT THE PRECEDING BOLD TERM”. Penulis tidak setuju dengan cara penerjemahan seperti ini karena penerjemahan adalah proses peralihan bahasa, sehingga alat yang digunakan adalah kamus. Oleh sebab itu, penulis akan mencoba untuk menerjemahkannya sendiri dengan menggunakan kamus.

Pertama-tama, penulis perlu mencari tahu tentang identitas orang-orang kafir yang membuat kedustaan terhadap Allah yang disebutkan dalam 5:103. Apakah mereka hanya mencakup orang-orang kafir berkebudayaan Arab saja atau juga mencakup orang-orang kafir yang tidak berkebudayaan Arab? Ini penting karena berkaitan dengan bahiirah, saaibah, washiilah dan haam yang menjadi pokok bahasan makalah ini. Untuk itu, penulis perlu menerjemahkan ayat-ayat sebelum 5:103. Ayat-ayat tersebut adalah 5:101 dan 5:102. Oleh karena itu, ayat 5:101 sampai 5:103 akan diterjemahkan di sini.

Transliterasi ayat 5:101 sampai 5:103 adalah seperti berikut ini.

005.101 Y[a] ayyuh[a] alla[th]eena [a]manoo l[a] tas-aloo AAan ashy[a]a in tubda lakum tasu/kum wa-in tas-aloo AAanh[a] [h]eena yunazzalu alqur-[a]nu tubda lakum AAaf[a] All[a]hu AAanh[a] wa(A)ll[a]hu ghafoorun [h]aleem(un) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

005.102 Qad saalah[a] qawmun min qablikum thumma a[s]ba[h]oo bih[a] k[a]fireen(a) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

005.103 M[a] jaAAala All[a]hu min ba[h]eeratin wal[a] s[a]-ibatin wal[a] wa[s]eelatin wal[a] [ha]min wal[a]kinna alla[th]eena kafaroo yaftaroona AAal[a] All[a]hi alka[th]iba waaktharuhum l[a] yaAAqiloon(a) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

Hasil penerjemahan ketiga ayat tersebut adalah sebagai berikut.

005.101
Y[a] ayyuh[a] = wahai
alla[th]eena = orang-orang
[a]manoo = yang percaya
l[a] = jangan
tas-aloo = kamu bertanya
AAan = tentang
ashy[a]a = segala sesuatu
in = jika
tubda = dijelaskan
lakum = kepada kamu
tasu/kum = menyusahkan kamu
wa-in = dan jika
tas-aloo = kamu bertanya
AAanh[a] = tentang sesuatu
[h]eena = ketika
yunazzalu = diturunkan
alqur-[a]nu = Al Qur’an
tubda = akan dijelaskan
lakum = kepada kamu
AAaf[a] = telah memaafkanmu
All[a]hu = Allah
AAanh[a] = tentang itu
wa(A)ll[a]hu = dan Allah
ghafoorun = pemaaf
[h]aleem(un) = penyabar

005.102
Qad = sungguh
saalah[a] = sudah menanyai mereka
qawmun = kaum
min qablikum = sebelum kamu
thumma = kemudian
a[s]ba[h]oo = mereka tumbuh
bih[a] = pada mereka
k[a]fireen(a) = ketidakpercayaan

005.103
M[a] = tidak
jaAAala = membuat
All[a]hu = Allah
min = tentang
ba[h]eeratin = kekhawatiran
wal[a] = atau
s[a]-ibatin = kesesatan
wal[a] = atau
wa[s]eelatin = persekutuan
wal[a] = atau
[ha]min = pelindung
wa = dan
l[a]kinna = tetapi
alla[th]eena = orang-orang yang
kafaroo = tidak percaya
yaftaroona = mereka menciptakan
AAal[a] = pada
All[a]hi = Allah
alka[th]iba = kebohongan
waaktharuhum = dan sebagian besar dari mereka
l[a] = tidak
yaAAqiloon(a) = mereka menggunakan akal

Hasil penerjemahan ayat-ayat tersebut kemudian disajikan dengan hanya mencantumkan kata-kata yang berbahasa Indonesia. Hasilnya adalah sebagai berikut.

5:101  wahai orang-orang yang percaya jangan kamu bertanya tentang segala sesuatu jika dijelaskan kepada kamu menyusahkan kamu dan jika kamu bertanya tentang sesuatu ketika diturunkan Al Qur’an akan dijelaskan kepada kamu telah memaafkanmu Allah tentang itu dan Allah pemaaf penyabar

5:102 sungguh sudah menanyai mereka kaum sebelum kamu kemudian mereka tumbuh pada mereka ketidakpercayaan

5:103 tidak membuat Allah tentang kekhawatiran atau kesesatan atau persekutuan atau pelindung dan tetapi orang-orang yang tidak percaya mereka menciptakan pada Allah kebohongan dan sebagian besar dari mereka tidak mereka menggunakan akal

Selanjutnya, hasil terjemahan versi penulis disesuaikan dengan aturan bahasa Indonesia. Hasilnya adalah seperti berikut ini.

5:101  Wahai orang-orang yang percaya, jangan kamu bertanya tentang segala sesuatu yang jika dijelaskan kepada kamu menyusahkan kamu! Dan jika kamu bertanya tentang sesuatu ketika diturunkan Al Qur’an, akan dijelaskan kepada kamu. Allah telah memaafkanmu tentang itu, dan Allah pemaaf, penyabar. (versi penulis)

5:102 Sungguh, sudah menanyai mereka kaum sebelum kamu, kemudian tumbuh ketidakpercayaan pada mereka. (versi penulis)

5:103 Allah tidak membuat tentang kekhawatiran atau kesesatan atau persekutuan atau pelindung. Akan tetapi, orang-orang yang tidak percaya menciptakan pada Allah kebohongan, dan sebagian besar dari mereka tidak menggunakan akal. (versi penulis)

Pembahasan tentang penerjemahan akan difokuskan pada ayat 5:103. Pertama-tama, penulis tidak menggunakan kata kafir dalam terjemahan versi penulis. Kata ini sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia. Kata kafir, menurut kamus besar bahasa Indonesia (kbbI), adalah kata benda yang bermakna orang yang tidak percaya kepada Allah dan Rasul-Nya. Akan tetapi, dalam 5:103, kata kafaroo adalah kata kerja. Oleh sebab itu, penulis menerjemahkannya menjadi tidak percaya. Dalam kbbI, percaya adalah kata kerja. Frasa yang searti dengan kafir adalah alla[th]eena kafaroo. Sekadar tambahan, penggunaan frasa orang-orang kafir adalah janggal dari segi bahasa Indonesia karena kafir itu sendiri adalah orang. Dengan demikian, orang-orang kafir adalah sama dengan orang-orang orang yang tidak percaya kepada Allah dan Rasul-Nya. Frasa wal[a] diterjemahkan menjadi atau karena bersifat idiomatik dan didahului kata tidak di bagian sebelumnya.

Kata ba[h]eeratin atau bahiirah diterjemahkan menjadi kekhawatiran. Acuannya adalah kamus bahasa Arab-Inggris versi Wehr-Cowan (1976). Dalam kamus tersebut di halaman 42, ada kata bahira yang berarti takut (to be startled) (di tampilkan Lampiran). Dalam kamus tersebut, kata bersufiks a adalah transliterasi dari ta marbuta yang berbunyi ah. Dengan demikian, bahira sama dengan bahirah. Walaupun demikian, bahirah tidak sama dengan bahiirah. Perbedaannya terletak pada jumlah huruf i. Menurut penulis, bahiirah adalah kata benda dari bahirah (kata sifat). Kata benda takut adalah ketakutan. Akan tetapi, kata yang lebih tepat untuk mengartikan ba[h]eeratin atau bahiirah adalah kekhawatiran. Menurut kbbI, khawatir berarti takut (gelisah, cemas) terhadap sesuatu yang belum pasti. Oleh sebab itu, ba[h]eeratin atau bahiirah diterjemahkan menjadi kekhawatiran.

Kata s[a]-ibatin atau saa’ibah diterjemahkan menjadi kesesatan. Menurut kamus bahasa Arab-Inggris versi Wehr-Cowan (1976) halaman 446, saa’ib berarti sesat ((a)stray) (di tampilkan Lampiran). Menurut penulis, saa’ibah adalah kata benda dari saa’ib (kata sifat) sehingga s[a]-ibatin atau saa’ibah diterjemahkan menjadi kesesatan.

Kata wa[s]eelatin atau washiilah diterjemahkan menjadi persekutuan. Kata tersebut mempunyai akar kata waw-shad-lam. Menurut kamus bahasa Arab-Inggris versi Wehr-Cowan (1976) halaman 1073, kata berakar kata  waw-sad-lam mempunyai arti union (persekutuan) (di tampilkan Lampiran).

Kata [ha]min atau haam diterjemahkan menjadi pelindung. Menurut kamus bahasa Arab-Inggris versi Wehr-Cowan (1976) halaman 209, haamin berarti protector (pelindung) (di tampilkan Lampiran)

Sekarang, pembahasan tentang kandungan pesan yang ada dalam ayat 5:103 dilakukan. Dalam ayat tersebut, orang-orang yang tidak percaya membuat kebohongan pada Allah. Dalam kasus ini, kata membuat atau menciptakan dapat diartikan sama dengan mengajarkan. Dengan demikian, orang-orang yang tidak percaya mengajarkan kebohongan pada Allah. Kebohongan pada Allah yang dimaksud adalah kebohongan tentang kekhawatiran, kesesatan, persekutuan, atau pelindung. Dengan kalimat lain, orang-orang yang tidak percaya mengajarkan kebohongan pada Allah tentang kekhawatiran, kesesatan, persekutuan, atau pelindung. Dalam 5:103, Allah menegaskan bahwa Allah tidak mengajarkan kebohongan tentang kekhawatiran, kesesatan, persekutuan, atau pelindung. Perlu diperhatikan bahwa orang-orang yang tidak percaya tersebut mencakup orang-orang berkebudayaan Arab pada jaman Nabi Muhammad dan juga orang-orang tidak berkebudayaan Arab pada jaman sebelum Nabi Muhammad (5:102). Dengan demikian, arti bahiirah, saaibah, washiilah dan haam tidak berlaku hanya pada bangsa Arab saja, seperti yang dipahami oleh sebagian besar orang.

Menurut penulis, kebohongan tentang kekhawatiran dan kesesatan berkaitan dengan respon orang-orang tidak percaya terhadap petunjuk Allah yang disampaikan oleh para Rasul Allah. Mereka tidak percaya pada petunjuk Allah karena mereka menganggap bahwa petunjuk Allah mengandung kekhawatiran dan kesesatan. Mereka beranggapan bahwa petunjuk Allah adalah tidak benar sehingga mereka khawatir. Mereka beranggapan bahwa petunjuk Allah adalah menyesatkan. Mereka mengajarkan kepada orang-orang bahwa petunjuk Allah adalah mengkhawatirkan dan menyesatkan. Terhadap hal ini, Allah sudah menjelaskan bahwa orang-orang tidak akan merasakan kekhawatiran dan tidak akan mengalami kesesatan jika mengikuti petunjuk Allah (2:38 dan 20:123). Tambahan, orang-orang tidak percaya menganggap bahwa Rasul Allah Muhammad adalah sesat (34:50).

2:38. Kami berfirman: "Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (versi Dep. Agama RI)

20:123. Allah berfirman: "Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. (versi Dep. Agama RI)

34:50. Katakanlah: "Jika aku sesat maka sesungguhnya aku sesat atas kemudharatan diriku sendiri; dan jika aku mendapat petunjuk maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat." (versi Dep. Agama RI)

Kebohongan pada Allah tentang persekutuan atau pelindung berkaitan dengan anggapan orang-orang tidak percaya bahwa Allah mempunyai sekutu dan membuat pelindung selain Allah. Kebohongan tersebut terungkap dalam 14:30 dan 42:9.

14:30. Orang-orang kafir itu telah menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah supaya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: "Bersenang-senanglah kamu, karena sesungguhnya tempat kembalimu ialah neraka." (versi Dep. Agama RI)

42:9. Atau patutkah mereka mengambil pelindung-pelindung selain Allah? Maka Allah, Dialah pelindung (yang sebenarnya) dan Dia menghidupkan orang- orang yang mati, dan Dia adalah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (versi Dep. Agama RI)

Penulis beranggapan bahwa masalah berkaitan dengan penerjemahan bahiirah, saaibah, washiilah dan haam sudah terpecahkan. Oleh sebab itu, makalah ini ditutup sampai di sini. Jika terjadi perubahan persepsi pada diri penulis, makalah ini akan direvisi.


LAMPIRAN




Selasa, 07 Maret 2017

ORANG BERTAQWA SEDIKT TIDUR?

Menurut penerjemah Dep. Agama RI, orang bertaqwa mempunyai ciri-ciri sedikit tidur pada waktu malam. Hal ini terungkap dalam ayat-ayat terjemahan Al Qur’an berikut ini.

51:15. Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam taman-taman (syurga) dan mata air-mata air, (versi Dep. Agama RI)

51:16. sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. (versi Dep. Agama RI)

51:17. Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam. (versi Dep. Agama RI)

Ketiga ayat di atas menerangkan bahwa orang-orang yang bertaqwa ketika hidup di dunia sedikit sekali tidur pada waktu malam. Bagi penulis, ini merupakan suatu keanehan. Bagaimanakah rasanya orang yang kekurangan tidur karena pada waktu malam sedikit sekali tidur? Setahu penulis, orang yang kekurangan tidur akan mengalami rasa ngantuk atau sedikit pusing atau rasa lemas. Apakah ciri-ciri orang bertaqwa adalah yang mengantuk pada waktu siang hari? Di sinilah letak keanehan tersebut.

Sebenarnya, penerjemah Dep. Agama RI sudah mengetahui bahwa malam hari adalah untuk beristirahat. Buktinya adalah ayat-ayat hasil terjemahan mereka berikut ini.

40:61. Allah-lah yang menjadikan malam untuk kamu supaya kamu beristirahat padanya; dan menjadikan siang terang benderang. Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyal karunia yang dilimpahkan atas manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur. (versi Dep. Agama RI)

6:96. Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. (versi Dep. Agama RI)

Bagaimanakah cara beristirahat pada waktu malam hari? Caranya adalah dengan tidur pada waktu malam hari. Setelah tidur pada waktu malam hari, ketika bangun pagi, badan akan terasa segar dan kemudian siap beraktivitas pada siang hari. Dan jangan lupa bahwa menjadikan malam untuk beristirahat adalah ketentuan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui (6:96). Jadi, ayat 51:17 hasil terjemahan Dep. Agama RI bertentangan dengan 40:61 dan 6:96. Dalam terjemahan tersebut, ayat 51:57 mengandung ajaran sedikit tidur pada malam hari tetapi dalam 40:61 dan 6:96 mengadung ajaran beristirahat pada malam hari.

Sampai di sini dapat dikatakan kembali bahwa ada masalah dengan terjemahan 51:17 versi Dep. Agama RI. Untuk mengatasi masalah ini, penulis akan menerjemahkan sendiri ayat tersebut. Oleh sebab itu, transliterasi 51:17 ditampilkan berikut ini.

051.017 K[a]noo qaleelan mina allayli m[a] yahjaAAoon(a) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

Hasil terjemahan 51:17 versi penulis adalah sebagai berikut.

K[a]noo = adalah
qaleelan = sebagian kecil
mina = dari
allayli = malam
m[a] = tidak
yahjaAAoon(a) =mereka tidur pulas

Jika disusun hasilnya akan menjadi seperti berikut ini.

Adalah sebagian kecil dari malam tidak mereka tidur pulas

Hasil terjemahan tersebut kemudian disesuaikan dengan tata bahasa Indonesia. Hasilnya adalah terjemahan 51:17 versi penulis.

51:17 Adalah sebagian kecil dari malam mereka tidak tidur pulas. (versi penulis)

Sebelum membahas tentang kandungan informasi ayat tersebut, penjelasan tentang penerjemahannya perlu disampaikan lebih dadulu. Kata K[a]noo berakar kata kaf-waw-nun yang berarti adalah (to be) (kamus Arab-Inggris Wehr-Cowan halaman 847). Kata qaleelan adalah kata benda yang berarti sebagian kecil (a small number) (kamus Arab-Inggris Wehr-Cowan halaman 783). Kata min adalah preposisi berarti dari (of) (kamus Arab-Inggris Wehr-Cowan halaman 924). Kata allayli berarti malam (night) (kamus Arab-Inggris Wehr-Cowan halaman 886). Kata m[a] berarti tidak (not) (kamus Arab-Inggris Wehr-Cowan halaman 888). Kata yahjaAAoon(a) adalah bentuk kata kerja imperfect berakar kata ha-jim-ain yang berarti tidur pulas (to sleep peacefully) (kamus Arab-Inggris Wehr-Cowan halaman 1019, disajikan di LAMPIRAN). Akhiran n(a) menerangkan bahwa yang menjadi subjek kata kerja tersebut adalah mereka. Perlu diperhatikan pula bahwa kata berakar kata ha-jim-ain hanya dijumpai sekali dalam Al Qur’an, yaitu dalam 51:17. Sebagai perbandingan, kata yang berarti tidur (kata dasar) yang banyak dijumpai dalam Al Qur’an mempunyai akar kata nun-waw-mim, yaitu sebanyak 9 kali (project root list di http://www.studyquran.co.uk/PRLonline.htm). Kata berakar kata nun-waw-mim yang berarti tidur ada di kamus Arab-Inggris Wehr-Cowan halaman 1012 dan 1013.

Ayat 51:17 menerangkan bahwa orang-orang yang bertaqwa memanfaatkan sebagian kecil dari malam untuk tidak tidur pulas. Perlu diketahui bahwa ada perintah agar bangun pada waktu malam hari selama waktu yang sedikit (73:2). Oleh karena itu, isi 51:17 berhubungan dengan 73:2. Jadi, terjemahan 51:17 versi penulis mempunyai dasar yang kuat.

73:2. bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (versi Dep. Agama RI)

Makalah ini ditutup sampai di sini karena masalah penerjemahan 51:17 sudah terpecahkan. Apabila ada perubahan persepsi pada diri penulis, makalah ini akan direvisi.

LAMPIRAN

Senin, 27 Februari 2017

MEMOHON AMPUN DI WAKTU SAHUR?

Frasa memohon ampun di waktu sahur ada dalam Al Qur’an terjemahan versi Dep. Agama RI. Kutipannya adalah sebagai berikut.

3:17. (yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur. (versi Dep. Agama RI)

Ada yang terasa aneh dengan frasa tersebut. Mengapa orang harus mencari waktu tertentu untuk memohon ampun? Mengapa orang harus menunggu waktu sahur tiba untuk memohon ampun? Memohon ampun adalah ekspresi orang yang bertaubat. Bukankah orang diajarkan untuk segera bertaubat setelah berbuat kejahatan? Ayatnya adalah (4:17). Oleh sebab itu, penulis merasa perlu untuk mengecek kebenaran frasa hasil terjemahan tersebut. Untuk itu, transliterasi ayat 3:17 ditampilkan di sini.

4:17. Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (versi Dep. Agama RI)

003.017 A(l)[ssa]bireena wa(al)[ssa]diqeena wa(a)lq[a]niteena wa(a)lmunfiqeena wa(a)lmustaghfireena bi(a)l-as[ha]r(i) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

Frasa dalam bahasa Arab yang diterjemahkan menjadi memohon ampun di waktu sahur adalah wa(a)lmustaghfireena bi(a)l-as[ha]r(i). Ternyata, frasa bi(a)l-as[ha]r(i) juga dijumpai dalam 51:18. Kutipannya adalah sebagai berikut.

051.018 Wabi(a)l-as[ha]ri hum yastaghfiroon(a) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

Penerjemah Dep. Agama RI menerjemahkan bi(a)l-as[ha]r(i) dalam 51:18 menjadi di waktu pagi sebelum fajar. Kutipanya adalah seperti berikut ini.

51:18. Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar. (versi Dep. Agama RI)

Frasa yang akan menjadi bahan pembahasan dalam makalah ini selanjutnya adalah bi(a)l-as[ha]r(i). Penulis tidak melihat ada masalah dalam penerjemahan selain bi(a)l-as[ha]r(i) dalam frasa wa(a)lmustaghfireena bi(a)l-as[ha]r(i) dan Wabi(a)l-as[ha]ri hum yastaghfiroon(a). Oleh sebab itu, fokus pembahasan berikutnya adalah frasa bi(a)l-as[ha]r(i).

Kata as[ha]r(i) mempunyai akar kata siin-ha-ra (س -ح -ر). Kutipan arti kata berakar kata siin-ha-ra dalam kamus Arab-Inggris versi Wehr-Cowan pada halaman 400 adalah sebagai berikut.


Dalam kutipan tersebut, ha ditulis sebagai h bertitik di bawahnya. Tampak dalam kutipan di atas bahwa arti ashaar yang pertama adalah paru-paru (lungs) dan daerah paru-paru tubuh (pulmanory region of the body). Arti ashaar yang kedua adalah waktu sebelum fajar (time before daybreak), awal pagi (early morning), dan fajar (dawn). Arti yang kedua tampaknya menjadi pilihan penerjemah Dep. Agama RI. Dalam kutipan di atas juga disebutkan bahwa sahuur bermakna makanan terakhir sebelum fajar selama bulan Ramadhan (last meal before daybreak during the month of Ramadan). Perlu diingat bahwa mereka makan sahur sebelum fajar terbit ketika berpuasa pada bulan Ramadhan. Oleh sebab itu, penerjemahan as[ha]r(i) menjadi waktu sahur dan waktu pagi sebelum fajar mempunyai alasan yang kuat dari segi bahasa.

Walaupun demikian, penulis tidak setuju dengan pendapat penerjemah Dep. Agama RI. Alasannya sudah disebutkan di muka. Mengapa orang harus memohon ampun pada waktu sahur? Mengapa orang harus menunggu waktu sahur tiba untuk memohon ampun kepada Allah? Apakah orang yang berbuat dosa jam 7.00 pagi harus menunggu waktu sahur untuk meminta ampun? Bagaimana jika orang itu meninggal dunia sebelum waktu sahur tiba? Di samping itu, apakah Allah dianggap sangat sibuk sehingga hanya bisa memperhatikan permohonan ampun hamba-Nya pada waktu sahur saja?

Penulis kemudian mencari arti as[ha]r(i) alternatif. Caranya adalah dengan menelusuri arti kata berakar kata siin-ha-ra yang lain dalam kamus Lane-An Arabic English Lexicon. Dalam kamus ini, penulis mendapati bahwa kata berakar kata siin-ha-ra mempunyai arti to turn. Berikut ini kutipannya.

“1 He, or it, hit, or hurt, his سَحْر [or lungs, &c.], (Mgh, TA,) or his سُحْرَة [i. e. heart]. (TA.) ―
‐ And the same, aor. سَحَرَ , inf. n. سِحْرٌ , (T, TA,) [said to be] the only instance of a pret. and aor. and inf. n.
of these measures except the verb فَعَلَ , aor. يَفْعَلُ , inf. n. فِعْلٌ , (MF,) (tropical:) He turned it, (T,) or him, (TA,)
عَنْ وَجْھِهِ [from its, or his, course, or way, or manner of being]: and hence other significations here
following. (T, TA. [Accord. to the T, this seems to be proper; but accord. to the A, tropical.]) In this sense
the verb is used in the Kur 23: 91. (Fr.) The Arabs say to a man, مَا سَحَرَكَ عَ نْ وَجْهِ كَذَا وَ كَذَا (tropical:) What
has turned thee from such and such a course? (Yoo.) أُفِكَ and سُحِرَ are syn. [as meaning (tropical:) He was
turned from his course &c.]. (TA.) ―”

Dalam kutipan di atas terdapat sejumlah perbedaan susunan huruf dengan aslinya pada bagian tulisan Arab, yaitu pada bagian yang lebih dari satu kata. Kutipan tersebut ada di halaman 2832 dalam kamus Lane-An Arabic English Lexicon versi teks (text version).

Yang menarik dari isi kutipan di atas adalah bahwa to turn adalah arti kedua setelah paru-paru (lungs) atau jantung (heart). Artinya, kemungkinan besar, to turn adalah kata kerja yang sudah dipahami sebagai salah satu arti kata berakar kata siin-ha-ra sejak lama. Menurut Google Translate, to turn dapat berarti berbelok, membelok, membelokkan, mengubah, berubah, berbalik, membalik, memutar, menikung, berputar, membalikkan, mengarahkan, dan 32 arti lainnya. Kata kerja yang artinya dipandang cocok dalam kasus ini untuk menerangkan arti as[ha]r(i) adalah berubah.  Kata dasar berubah adalah ubah. Kata benda berkata dasar ubah yang dipancang cocok dalam kasus ini adalah perubahan. Jadi, menurut penulis, as[ha]r(i) berarti perubahan.

Sekarang, bi(a)l-as[ha]r(i) diterjemahkan berdasarkan penafsiran penulis. Hasilnya adalah sebagai berikut.

bi = dengan
(a)l-as[ha]r(i)= perubahan

Dengan demikian, frasa wa(a)lmustaghfireena bi(a)l-as[ha]r(i) berarti dan orang-orang yang memohon ampun dengan perubahan. Frasa wabi(a)l-as[ha]ri hum yastaghfiroon(a) berarti dengan perubahan mereka memohon ampun. Pesan frasa-frasa tersebut adalah bahwa orang-orang yang memohon ampun kepada Allah hendaknya melakukan perubahan perilaku, dari perilaku berbuat dosa menjadi perilaku tidak berbuat dosa. Maksudnya, permohonan ampun harus disertai perubahan perilaku.

Ada pula kata berakar kata siin-ha-ra yang diterjemahkan menjadi sebelum fajar menyingsing. Kata tersebut adalah bisa[h]ar(in). Kutipan ayatnya dan transliterasinya dalah sebagai berikut.

54:34. Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang membawa batu-batu (yang menimpa mereka), kecuali keluarga Luth. Mereka Kami selamatkan sebelum fajar menyingsing, (versi Dep. Agama RI)

054.034 Inn[a] arsaln[a] AAalayhim [has]iban ill[a] [a]la loo[t]in najjayn[a]hum bisa[h]ar(in) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

Kata bisa[h]ar(in) tersusun oleh preposisi bi yang berarti dengan dan sa[h]ar(in) (bentuk tunggal) yang berarti sebuah perubahan. Dengan demikian, dalam kisah di ayat 54:34, keluarga Luth diselamatkan dengan sebuah perubahan. Perubahan tersebut dapat berupa perubahan arah gerakan batu-batu dan atau perubahan lain yang menyebabkan mereka menjadi selamat. Menurut penulis, ini menegaskan bahwa penerjemahan bi(a)l-as[ha]r(i) menjadi dengan perubahan adalah beralasan kuat.

Barangkali, setahu penulis, yang menerjemahkan bi(a)l-as[ha]r(i) menjadi dengan perubahan hanya penulis. Makalah ini ditutup sampai di sini. Apabila terjadi persepsi pada diri penulis, makalah ini akan direvisi.

Minggu, 29 Januari 2017

MAYORITAS BERAGAMA ISLAM

Di dunia ini, ada beberapa golongan agama. Dalam tiap golongan, ada beberapa golongan lagi. Bisa dikatakan bahwa di dunia ini ada banyak golongan agama. Tiap golongan berusaha mencari pengikut sebanyak mungkin. Seringkali, usaha tersebut dibarengi dengan pertikaian atau perang, walaupun ada pula yang berlangsung secara damai. Masing-masing golongan bangga jika mempunyai pengikut yang banyak. Jika ada anggota baru berasal dari golongan lain, mereka merasa senang. Sebaliknya, mereka kecewa jika ada anggota golongannya yang pindah ke golongan lainnya. Jika ada orang yang dianggap akan mengurangi jumlah pengikutnya, mereka segera memvonis orang tersebut sebagai orang sesat dan menyesatkan atau orang yang meresahkan masyarakat. Pendek kata, tiap golongan ingin agar menjadi mayoritas dalam masyarakat.

Seperti kita ketahui bersama bahwa agama islam adalah agama mayoritas di Indonesia. Hal serupa juga terjadi di beberapa negara lain. Di antaranya, ada yang menjadikan agama islam menjadi dasar negara. Yang bermimpi untuk menjadikan agama islam menjadi agama mayoritas di seluruh dunia juga banyak. Haruskah islam menjadi agama mayoritas? Penulis akan menjawabnya dengan Al Qur’an terjemahan.

Pertama-tama, kita perlu memperhatikan terjemahan ayat Al Qur’an 16:93. Ayat 16:93 menjelaskan bahwa manusia tidak akan menjadi satu umat. Artinya, dalam suatu umat akan terdiri dari orang yang mendapat petunjuk dan orang yang tidak mendapat petunjuk. Mana yang akan menjadi mayoritas? Orang yang mendapat petunjuk? Atau, orang yang tidak mendapat petunjuk? Jawabannya ada di 17:62.

16:93. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan. (versi Dep. Agama RI)

17:62. Dia (iblis) berkata: "Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil." (versi Dep. Agama RI)

Allah mengingatkan manusia dalam 17:62 bahwa hanya sebagian kecil saja yang tidak disesatkan oleh iblis. Artinya, sebagian besar manusia kemungkinan besar akan disesatkan oleh iblis. Kemungkinan tersebut adalah sangat besar karena Allah sudah memberi kebebasan penuh kepada iblis untuk menyesatkan manusia (17:63 dan 17:64). Peringatan bahwa sebagian besar manusia akan disesatkan oleh iblis ditegaskan lagi dalam 12:103 dan 12:106.

17:63. Tuhan berfirman: "Pergilah, barangsiapa di antara mereka yang mengikuti kamu, maka sesungguhnya neraka Jahannam adalah balasanmu semua, sebagai suatu pembalasan yang cukup. (versi Dep. Agama RI)

17:64. Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaitan kepada mereka melainkan tipuan belaka. (versi Dep. Agama RI)

12:103. Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman - walaupun kamu sangat menginginkannya-.(versi Dep. Agama RI)

12:106. Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain). (versi Dep. Agama RI)

Ayat 12:103 menerangkan bahwa walaupun Rasul Allah ingin agar manusia menjadi beriman tetapi sebagian besar tidak akan beriman. Sebagian besar orang tidak beriman tersebut berada dalam keadaan mempersekutukan Allah (12:106). Dengan kalimat lain, walaupun Rasul Allah ingin agar manusia mejadi beriman tetapi hanya sebagian kecil saja yang akan beriman. Artinya, walaupun Rasul Allah berusaha mewujudkan keinginannya dengan berdakwah, hanya sebagian kecil saja yang akan beriman. Bagaimana jika yang berdakwah tersebut adalah kita semua, yang bukan Rasul Allah? Penulis yakin bahwa jumlah orang yang akan beriman adalah hanya sebagian kecil saja atau bahkan bisa lebih kecil lagi.

Sekarang, kita perhatikan keadaan di Indonesia. Di satu sisi, orang islam adalah mayoritas dalam masyarakat Indonesia. Di sisi lain, menurut Al Qur’an, orang islam kemungkinan besar adalah minoritas di masyarakat. Kita melihat ada suatu kontradiksi di sini. Bagaimana kontradiksi tersebut bisa terjadi? Menurut penulis, itu dikarenakan ada perbedaan pengertian antara orang islam dan orang beragama islam. Menurut Al Qur’an, orang islam adalah orang yang mendapat petunjuk (3:20). Menurut statistik, orang beragama islam adalah orang yang mengaku dirinya beragama islam dalam kartu tanda penduduk (KTP). Padahal, orang beragama islam belum tentu termasuk orang yang mendapat petunjuk, karena Allah memberi petunjuk kepada yang dikehendaki-Nya (16:93).

3:20. Kemudian jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam), maka katakanlah: "Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku." Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al Kitab dan kepada orang-orang yang ummi: "Apakah kamu (mau) masuk Islam." Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (versi Dep. Agama RI)

Ayat 12:106 menerangkan bahwa sebagian besar manusia dalam keadaan mempersekutukan Allah. Mungkinkah orang beragama islam mempersekutukan Allah. Menurut penulis, jawabannya adalah mungkin. Penjelasannya ada di ayat 20:123 dan 2:185.

20:123. Allah berfirman: "Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. (versi Dep. Agama RI)

2:185. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (versi Dep. Agama RI)

Dijelaskan dalam 20:123 bahwa orang yang mengikuti petunjuk Allah tidak akan sesat. Petunjuk Allah yang dimaksud adalah Al Qur’an (2:185). Ini berarti bahwa menurut Allah, orang yang mengikuti petunjuk Allah berupa Al Qur’an tidak akan sesat. Dari sini, dapat pula dikatakan bahwa orang yang mengikuti selain petunjuk Allah akan sesat. Contoh selain petunjuk Allah adalah ajaran dalam kitab hadis. Seperti kita ketahui bahwa sebagian besar orang beragama islam mengikuti ajaran dalam kitab hadis. Ajaran dalam kitab hadis dianggap sama dengan petunjuk Allah karena mereka menyatakan sesat kepada orang yang tidak mengikuti ajaran dalam kitab hadis. Padahal, ajaran dalam kitab hadis adalah bukan petunjuk Allah. Ini berarti bahwa ajaran dalam kitab hadis adalah ajaran selain Allah yang dianggap seperti Tuhan. Di sinilah letak perbuatan mempersekutukan Allah tersebut. Dapat dikatakan bahwa mereka beranggapan bahwa Al Qur’an adalah petunjuk umum, sedangkan kitab hadis adalah petunjuk khusus. Jadi, sebagian besar orang beragama islam secara tidak disadari telah beranggapan bahwa Allah mempunyai sekutu dalam pemberian petunjuk kepada manusia.

Dari uraian di atas dapat kita mengerti bahwa islam tidak harus menjadi agama mayoritas. Orang islam tidak perlu ikut-ikutan berlomba-lomba untuk menjadikan agamanya sebagai agama mayoritas. Mayoritas atau minoritas hanyalah data statistik. Yang perlu kita lakukan adalah hanya menjadikan  petunjuk Allah berupa Al Qur’an sebagai satu-satunya pedoman agar tidak tersesat. Makalah ini akan direvisi jika terjadi perubahan persepsi pada diri penulis.