Senin, 11 Desember 2017

ALLAH SWT

Kita sering mendengar orang menyebut frasa “Allaah subhaanahu wata’aalaa”. Frasa tersebut kadang ditulis menjadi Allah SWT atau Allah Swt. Frasa Allaah subhaanahu wata’aalaa diperlakukan seperti nama Tuhan. Apakah Allaah subhaanahu wata’aalaa adalah nama Tuhan yang diajarkan oleh Allah dalam Al Qur’an? Jika jawabannya ya, frasa tersebut tentu dijumpai dalam Al Qur’an. Setahu penulis, tidak ada frasa Allaah subhaanahu wata’aalaa dalam Al Qur’an. Yang ada dalam Al Qur’an adalah frasa subhaanahu wata’aalaa. Frasa tersebut dijumpai dalam Al Qur’an dalam ayat 16:1 dan 30:40. Dalam kutipan transliterasi kedua ayat tersebut, frasa tersebut tertulis sebagai sub[ha]nahu wataAA[a]l[a]. Berikut ini adalah kutipan kedua ayat di atas.

016.001 At[a] amru All[a]hi fal[a] tastaAAjiloohu sub[ha]nahu wataAA[a]l[a] AAamm[a] yushrikoon(a) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.910)

030.040 All[a]hu alla[th]ee khalaqakum thumma razaqakum thumma yumeetukum thumma yu[h]yeekum hal min shurak[a]-ikum man yafAAalu min [tha]likum min shay-in sub[ha]nahu wataAA[a]l[a] AAamm[a] yushrikoon(a) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.910)

Jika Allaah subhaanahu wata’aalaa sebagai nama Tuhan adalah benar, subhaanahu wata’aalaa adalah nama Tuhan. Logika berpikirnya adalah sebagai berikut. Allah sebagai nama Tuhan adalah sudah jelas. Dengan demikian, Allaah subhaanahu wata’aalaa dapat dianggap sebagai lebih dari satu nama Tuhan yang disebut secara bersamaan. Apakah subhaanahu wata’aalaa adalah nama Tuhan? Menurut, kamus besar bahasa Indonesia (kbbI), subhanahu wa taala berarti Yang Mahasuci lagi Mahatinggi. Tampaknya, arti tersebut ditetapkan berdasarkan Al Qur’an terjemahan versi Dep. Agama RI. Hal itu terlihat pada frasa bergaris dalam kutipan kedua ayat tersebut.  Kutipan terjemahan versi Dep. Agama RI kedua ayat tersebut adalah sebagai berikut.

16:1. Telah pasti datangnya ketetapan Allah maka janganlah kamu meminta agar disegerakan (datang) nya. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan. (versi Dep. Agama RI)

30:40. Allah-lah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezki, kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali). Adakah di antara yang kamu sekutukan dengan Allah itu yang dapat berbuat sesuatu dari yang demikian itu? Maha Sucilah Dia dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan. (versi Dep. Agama RI)

Benarkah subhaanahu wata’aalaa berarti Maha Suci Allah dan Maha Tinggi atau Maha Suci Allah dan Maha Tinggi, seperti yang ada dalam terjemahan versi Dep. Agama RI tersebut? Makalah ini ditulis untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Dalam melakukan penerjemahan tersebut, penulis menggunakan buku tata bahasa Arab Arabic: An Essential Grammar” karya Faruk Abu Chacra (2007), kamus bahasa Arab-Inggris Wehr-Cowan edisi III, dan referensi lainnya. Sebagai catatan, simbol-simbol dalam kutipan transliterasi dalam makalah ini telah berubah dari aslinya karena masalah teknis dalam peng-copy-an dari DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.910 ke msword.

Hasil penerjemahan per kata ayat 16:1 dan 30:40 disajikan dalam bentuk tabel seperti berikut ini.

AYAT 16:1
TERJEMAHAN
KETERANGAN
At[a]
telah datang
to come (Wehr-Cowan edisi III hal. 3), perfektif, bentuk I
amru
suatu ketetapan
decree (Wehr-Cowan edisi III hal. 26), tunggal
All[a]hi
Allah
Allah (Wehr-Cowan edisi III hal. 24)
fal[a]
kemudian tidak
fa = then, l[a] = not (Faruk Abu Chacra 2007)
tastaAAjiloohu
kamu semua menyegerakannya
to hurry (Wehr-Cowan edisi III hal. 592), imperfektif, bentuk X, jussive, orang kedua jamak, hu = nya,
sub[ha]nahu
pujian bagi-Nya!
Praise the Lord! (Wehr-Cowan edisi III hal. 393)
wataAA[a]l[a]
dan Dia telah mencabut
wa = and (Faruk Abu Chacra 2007), to lift (Wehr-Cowan edisi III hal. 638), perfektif, bentuk VI, orang ketiga tunggal
AAamm[a]
tentang apa
AAamm[a] = Aaan + m[a] (Wehr-Cowan edisi III hal. 640), Aaan = about, m[a] = what (Faruk Abu Chacra 2007)
yushrikoon(a)
kamu semua membuat sesuatu menjadi sekutu
to make someone a partner (Wehr-Cowan edisi III hal. 468), bentuk IV, imperfektif, orang kedua jamak


AYAT 30:40
TERJEMAHAN
KETERANGAN
All[a]hu
Allah
Allah (Wehr-Cowan edisi III hal. 24)
alla[th]ee
yang
relative pronoun (the one who) (Faruk Abu Chacra 2007)
khalaqakum
telah menciptakan kamu semua
to create (Wehr-Cowan edisi III hal. 258), kum = kamu semua
thumma
kemudian
then (Wehr-Cowan edisi III hal. 106)
razaqakum
telah menyediakan kebutuhan hidup kamu semua
to provide with the means of subsistence (Wehr-Cowan edisi III hal. 336)
thumma
kemudian
then (Wehr-Cowan edisi III hal. 106)
yumeetukum
mematikan kamu semua
to deaden (Wehr-Cowan edisi III hal. 930), m-w-t, imperfektif, bentuk IV
thumma
kemudian
then (Wehr-Cowan edisi III hal. 106)
yu[h]yeekum
menghidupkan kembali kamu semua
to revive (Wehr-Cowan edisi III hal. 220), imperfektif, bentuk IV
hal
apakah
interrogative particle (Wehr-Cowan edisi III hal. 1030)
min
dari
of (Wehr-Cowan edisi III hal. 924)
shurak[a]-ikum
sekutu-sekutu kamu semua
partner (Wehr-Cowan edisi III hal. 468), jamak
man
yang
the one who (Faruk Abu Chacra 2007)
yafAAalu
Dia melakukan
to do (Wehr-Cowan edisi III hal. 721), imperfektif, bentuk I
min
tentang
pertaining to (Wehr-Cowan edisi III hal. 924)
[tha]likum
yang itu
that one (Wehr-Cowan edisi III hal. 307)
min
bagian dari
part of (Wehr-Cowan edisi III hal. 924)
shay-in
sesuatu?
thing (Wehr-Cowan edisi III hal. 495)
sub[ha]nahu
pujian bagi-Nya
Praise the Lord! (Wehr-Cowan edisi III hal. 393)
wataAA[a]l[a]
dan Dia telah mencabut
wa = and (Faruk Abu Chacra 2007), to lift (Wehr-Cowan edisi III hal. 638), perfektif, bentuk VI, orang ketiga tunggal
AAamm[a]
tentang apa
AAamm[a] = Aaan + m[a] (Wehr-Cowan edisi III hal. 640), Aaan = about, m[a] = what (Faruk Abu Chacra 2007)
yushrikoon(a)
kamu semua membuat sesuatu menjadi sekutu
to make someone a partner (Wehr-Cowan edisi III hal. 468), bentuk IV, imperfekif, orang kedua jamak

Setelah disusun seperti apa adanya hasilnya seperti berikut ini

16:1 telah datang suatu ketetapan Allah kemudian tidak kamu semua menyegerakannya pujian bagi-Nya! dan Dia telah mencabut tentang apa kamu semua membuat sesuatu menjadi sekutu

30:40 Allah yang telah menciptakan kamu semua kemudian telah menyediakan kebutuhan hidup kamu semua kemudian mematikan kamu semua kemudian menghidupkan kembali kamu semua apakah dari sekutu-sekutu kamu semua yang Dia melakukan tentang yang itu bagian dari sesuatu? pujian bagi-Nya dan Dia telah mencabut tentang apa kamu semua membuat sesuatu menjadi sekutu

Setelah disusun berdasarkan tata bahasa Indonesia, hasilnya adalah terjemahan versi penulis seperti berikut ini.

16:1 Telah datang suatu ketetapan Allah, kemudian kamu semua tidak menyegerakannya. Pujian bagi-Nya! Dan Dia telah mencabut tentang yang kamu semua membuat sesuatu menjadi sekutu. (versi penulis)

30:40 Allah adalah yang telah menciptakan kamu semua, kemudian telah menyediakan kebutuhan hidup kamu semua, kemudian mematikan kamu semua, kemudian menghidupkan kembali kamu semua. Apakah dari sekutu-sekutu kamu semua adalah bagian dari sesuatu yang Dia melakukan tentang yang itu? Pujian bagi-Nya! Dan Dia telah mencabut tentang yang kamu semua membuat sesuatu menjadi sekutu. (versi penulis)

Penjelasan tambahan tentang penerjemahan yang perlu dilakukan adalah tentang kata sub[ha]nahu dan  wataAA[a]l[a]. Frasa sub[ha]nahu tersusun oleh sub[ha]na dan hu. Kata sub[ha]na adalah kata benda verbal (verbal noun) (Arabic-English Dictionary of Qur’anic Usage karya M. Said Badawi dan Muhammad Abdel Haleem 2008 halaman 417), sedangkan hu adalah kata ganti (pronoun) orang ketiga tunggal. Selain itu, kata sub[ha]na adalah kata seru yang dalam penggunaannya selalu dikaitkan dengan Tuhan sehingga selalu diikuti tanda seru “!”. Dengan demikian, penerjemahan sub[ha]na (kata benda verbal) menjadi maha suci (kata sifat (ajektiva)) oleh penerjemah Dep. Agama RI dan tanpa tanda seru adalah tidak tepat. Frasa wataAA[a]l[a] tersusun oleh preposisi wa dan kata kerja taAA[a]l[a]. Dengan demikian, penerjemahan taAA[a]l[a] (kata kerja) menjadi maha tinggi (kata sifat (ajektiva)) oleh penerjemah Dep. Agama RI adalah tidak tepat.

Frasa kamu semua membuat seseorang menjadi sekutu juga perlu dibahas karena berkaitan dengan istilah sekutu-sekutu kamu semua dalam 30:40. Isitlah sekutu-sekutu kamu semua berarti sekutu-sekutu Allah yang dibuat oleh mereka (kamu semua). Jadi, dalam hal ini, istilah sekutu-sekutu kamu semua tidak berarti bahwa manusia mempunyai sekutu.

Kata sesuatu dalam frasa kamu semua membuat sesuatu menjadi sekutu dalam terjemahan versi penulis juga perlu dibahas. Kata tersebut adalah terjemahan dari someone. Secara harfiah, someone bararti seseorang. Akan tetapi, jika kata tersebut diterjemahkan menjadi seseorang akan menimbulkan masalah karena yang bisa dianggap sebagai sekutu Allah dapat berupa selain manusia, misalnya jin atau malaikat. Menurut penulis, istilah seorang malaikat atau seorang jin adalah tidak tepat karena malaikat dan jin adalah bukan manusia.

Ayat 16:1 menjelaskan tentang ketetapan Allah yang tidak segera dijalankan. Ketetapan tersebut adalah bahwa Allah telah mencabut perbuatan mempersekutukan Allah. Dengan kalimat lain, Allah telah melarang orang melakukan perbuatan mempersekutukan Allah. Seruan “Pujian bagi-Nya!” mengekspresikan ketidaksukaan Allah terhadap perbuatan mempersekutukan Allah tersebut.

Ayat 30:40 menjelaskan hal yang kurang lebih sama, yaitu bahwa Allah telah mencabut perbuatan mempersekutukan Allah dan tidak suka dengan perbuatan mempersekutukan Allah. Dijelaskan pula dalam ayat tersebut bahwa yang dianggap sebagai sekutu Allah tidak mampu melakukan yang dilakukan Allah seperti menciptakan, memberi kebutuhan hidup, mematikan, dan menghidupan kembali manusia.

Sampai di sini, dapat disampaikan bahwa frasa sub[ha]nahu wataAA[a]l[a] berarti Pujian bagi-Nya! Dan Dia telah mencabut. Ini berarti bahwa hasil penerjemahan penulis berbeda dengan hasil penerjemahan versi Dep. Agama RI. Apakah frasa Pujian bagi-Nya! Dan Dia telah mencabut adalah nama Tuhan? Untuk menjawabnya, kita perlu mengetahui penjelasan Allah tentang nama Tuhan. Sebenarnya, Allah sudah menjelaskan cara menyebut nama Tuhan secara jelas dalam Al Qur’an dalam ayat 17:110.

Kutipan transliterasi ayat 17:110 adalah sebagai berikut.

017.110 Quli odAAoo All[a]ha awi odAAoo a(l)rra[h]m[a]na ayyan m[a] tadAAoo falahu al-asm[a]o al[h]usn[a] wal[a] tajhar bi[s]al[a]tika wal[a] tukh[a]fit bih[a] wa(i)btaghi bayna [tha]lika sabeel[a](n) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

Hasil penerjemahan per kata ayat 17:110 disajikan dalam bentuk tabel seperti berikut ini.

AYAT 17:110
TERJEMAHAN
KETERANGAN
Quli
kamu katakanlah
to say (Wehr-Cowan edisi III hal. 797), imperatif, orang kedua tunggal
odAAoo
kamu semua panggillah
to call (Wehr-Cowan edisi III hal. 282), imperatif, orang kedua jamak
All[a]ha
Allah
Allah (Wehr-Cowan edisi III hal. 24)
awi
atau
or (Wehr-Cowan edisi III hal. 33)
odAAoo
kamu semua panggillah
to call (Wehr-Cowan edisi III hal. 282), imperatif, orang kedua jamak
a(l)rra[h]m[a]na
pemurah
the mercyful (Wehr-Cowan edisi III hal. 332)
ayyan
yang
which (Wehr-Cowan edisi III hal. 36)
m[a]
apa
what (Wehr-Cowan edisi III hal. 888)
tadAAoo
kamu semua memanggil
to call (Wehr-Cowan edisi III hal. 282), subjunctive
falahu
maka untuk dia
fa = maka, lahu = untuk dia
al-asm[a]o
nama-nama
name (Wehr-Cowan edisi III hal. 427), jamak
al[h]usn[a]
terbaik
the best outcome (Wehr-Cowan edisi III hal. 178)
wal[a]
dan jangan
wa =dan, l[a] = jangan
tajhar
kamu kelihatan
to appear (Wehr-Cowan edisi III hal. 143), jussive, orang kedua tunggal, bentuk I, intransitif
bi[s]al[a]tika
dengan doa kamu
benediction (Wehr-Cowan edisi III hal. 524)
wal[a]
dan jangan
wa =dan, l[a] = jangan
tukh[a]fit
kamu menjadi tidak terdengar
to become inaudible (Wehr-Cowan edisi III hal. 249), jussive, orang kedua tunggal, bentuk III, intransitif
bih[a]
dengannya
bi = dengan, h[a] = nya =  [s]al[a]h (tunggal, feminin)
wa(i)btaghi
kamu carilah
to seek (Wehr-Cowan edisi III hal. 68), orang kedua tunggal, imperatif
bayna
di antara
between (Wehr-Cowan edisi III hal. 87)
[tha]lika
yang itu
that one (Wehr-Cowan edisi III hal. 306)
sabeel[a](n)
suatu cara
way (Wehr-Cowan edisi III hal. 396)

Setelah disusun seperti apa adanya hasilnya seperti berikut ini

kamu katakanlah kamu semua panggillah Allah atau kamu semua panggillah pemurah yang apa kamu semua memanggil maka untuk dia nama-nama terbaik dan jangan kamu kelihatan dengan doa kamu dan jangan kamu menjadi tidak terdengar dengannya kamu carilah di antara yang itu suatu cara

Setelah disusun berdasarkan tata bahasa Indonesia, hasilnya adalah terjemahan versi penulis seperti berikut ini.

Kamu katakanlah : “Kamu semua panggillah Allah atau kamu semua panggillah Pemurah! Apa saja yang kamu semua memanggil, maka untuk dia adalah nama-nama terbaik, dan jangan kamu kelihatan dengan doa kamu, dan jangan kamu menjadi tidak terdengar dengannya. Kamu carilah suatu cara di antara yang itu.” (versi penulis)

Dalam ayat 17:110 dijelaskan bahwa nama yang diperintahkan untuk untuk memanggil Tuhan adalah Allah, Pemurah, atau nama lainya yang bersifat terbaik. Apakah Pujian bagi-Nya! Dan Dia telah mencabut sebagai arti dari sub[ha]nahu wataAA[a]l[a] adalah nama Tuhan yang terbaik? Menurut penulis, jawaban untuk pertanyaan tersebut adalah bukan. Frasa tersebut hanyalah bagian dari ayat dalam Al Qur’an. Frasa Pujian bagi-Nya! adalah bukan nama yang terbaik seperti yang diajarkan Allah dalam 17:110. Dalam ayat tersebut, a(l)rra[h]m[a]n (Pemurah) adalah nama Tuhan. Dengan demikian, nama Tuhan ditandai oleh kebaradaan artikel “al”. Selain itu, nama Tuhan tidak dalam bentuk kata seru. Frasa Dan Dia telah mencabut mempunyai arti yang tidak jelas karena itu hanyalah potongan dari sebuah kalimat.

Tambahan, ayat 17:110 menjelaskan tentang cara berdoa. Ketika seseorang berdoa, ia akan memanggil Tuhannya, misalnya dengan mengatakan “ya Allah” atau “ya Pemurah/Ar-Rahman”. Ketika berdoa, hendaknya kita melakukannya dengan tidak memperlihatkannya kepada orang lain, tetapi tidak berarti harus sampai menjadi tidak terdengar. Menurut penulis, kita diminta untuk berdoa secara rahasia dengan melakukaannya dalam hati atau dengan bersuara yang hanya dapat didengar oleh diri sendiri. Orang bisu atau orang yang tidak bisa berbicara karena sedang sakit berdoa dalam hati. Orang normal dapat berdoa dengan bersuara yang hanya dapat didengar oleh diri sendiri atau seperti yang dilakukan oleh orang bisu. Menurut penulis, inilah yang dimaksud dengan ajaran “Kamu carilah suatu cara di antara yang itu!”.

Sebagai penutup, dapat disampaikan kembali bahwa Allaah subhaanahu wata’aalaa atau yang sering disingkat menjadi Allah SWT atau Allah Swt adalah bukan nama Tuhan yang diajarkan dalam Al Qur’an. Apabila ada perubahan persepsi pada diri penulis, makalah ini akan direvisi.