Jumat, 15 April 2016

ARTI HIJAB

Kita semakin sering mendengar kata hijab di tengah masyarakat. Wanita yang berhijab disebut hijaber. Sebagian besar anggota masyarakat menganggap hijab berarti sama dengan pakaian wajib wanita beragama islam. Istilah ini sebelumnya tidak banyak terdengar. Penulis termasuk orang yang baru saja mengenal istilah tersebut karena sering disebut di media massa dan toko-toko pakaian. Benarkah hijab adalah pakaian wajib wanita beragama islam? Makalah ini ditulis untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Sebenarnya, kata hijab sudah ada dalam kamus besar bahasa Indonesia. Berikut ini adalah kutipannya.

hijab/hi·jab/ n 1 dinding yang membatasi sesuatu dengan yang lain: 2 Isl dinding yang membatasi hati manusia dan Allah; dinding yang menghalangi seseorang dari mendapat harta waris: anak laki-laki adalah -- dari saudara sebapak”

Kutipan di atas memperlihatkan bahwa kata hijab tidak berarti pakaian wajib wanita beragama Islam. Di situ disebutkan pula bahwa dalam islam, hijab berarti dinding yang membatasi hati manusia dan Allah. Walaupun kutipan di atas sudah menjawab pertanyaan makalah ini, pembahasan tentang kata hijab tidak berhenti sampai di sini.

Kata hijab berasal dari kata bahasa Arab hijaab. Kata hijaab memang benar-benar ada dalam Al Qur’an. Ayat-ayat yang mengandung kata hijaab yaitu 7:46, 17:45, 19:17, 33:53, 38:32, 41:5, dan 42:51. Kata tersebut mempunyai akar kata ha-jiim-ba. Berikut ini adalah kutipan arti kata yang berakar kata ha-jiim-ba yang diambil dari project root list yang ada di http://www.studyquran.co.uk/PRLonline.htm.

Ha-Jiim-Ba =
something which hinders/prevents/precludes/conceals/covers/protects/intervenes,hid, seclude, partition/barrier/divider/separator.

hajaba vb. (1) pcple. pass. 83:15
hijab n.m. 7:46, 17:45, 19:17, 33:53, 38:32, 41:5, 42:51
Lane's Lexicon, Volume 2, page: 151152

Arti akar kata ha-jiim-ba di atas jika diterjemahkan akan menjadi sebagai berikut :
sesuatu yang menghalangi /mencegah/ menghalangi/ menyembunyikan/ menutup/ melindungi/ menengahi/ menyembunyikan/ mengasingkan/ sekat/ penghalang/ pembagi/ pemisah. Tampak dalam arti-arti tersebut bahwa akar kata ha-jiim-ba dapat berfungsi sebagai kata kerja maupun kata benda. Kita akan memfokuskan arti kata sebagai kata benda karena hijab yang dibahas dalam makalah ini, yaitu tentang pakaian wanita, adalah kata benda.

Sebagai kata benda, kata berakar kata ha-jiim-ba bermakna sekat, penghalang, pembagi, dan pemisah. Arti-arti kata tersebut sebenarnya menerangkan hal yang sama, yaitu suatu benda yang berada di antara dua buah benda. Dua buah benda tersebut dapat berupa benda mati dan benda mati atau benda hidup dan benda hidup atau benda hidup dan benda mati. Pemilihan kata yang menerangkan arti kata berakar kata ha-jiim-ba tergantung pada dua benda yang dibahas. Dalam kasus pakaian, dua benda yang dimaksud adalah tubuh manusia dan lingkungannya. Lingkungannya dapat berupa manusia yang lain atau udara di sekitarnya. Dalam hal ini, benda yang berada di antara tubuh manusia dan lingkungannya yang lain adalah pakaian. Dengan demikian, arti kata berakar kata ha-jiim-ba dalam kaitannya dengan pakaian adalah penghalang. Dalam hal ini, pakaian menghalangi seorang manusia melihat tubuh manusia yang lain atau pakaian menghalangi lingkungan di sekitar manusia mempengaruhi tubuh manusia tersebut secara langsung. Jadi, pakaian dapat disebut sebagai suatu hijab.

Setelah mengetahui bahwa pakaian adalah hijab, kita dapat mengatakan bahwa semua pakaian (sesuatu yang dipakai) adalah hijab. Topi adalah hijab yang menghalangi orang melihat rambut orang lain. Masker adalah hijab yang menghalangi orang melihat mulut dan hidung orang lain. Sepatu adalah hijab yang menghalangi orang melihat kaki orang lain. Celana panjang adalah hijab yang menghalangi orang melihat paha dan betis kaki orang lain. Dapat dikatakan bahwa semua orang yang tidak telanjang adalah berhijab. Kita semua adalah berhijab. Orang Amerika berhijab. Orang Jepang berhijab. Kita semua adalah hijaber.

Mengapa orang mengasosiasikan hijab dengan pakaian wajib wanita beragama islam? Adakah ayat Al Qur\an yang menjelaskan bahwa hijab adalah pakaian wajib wanita beragama islam? Marilah kita simak bersama kutipan transliterasi ayat Al Qur’an yang mengandung kata hijaab berikut ini.

007.046 Wabaynahum[a] [h]ij[a]bun waAAal[a] al-aAAr[a]fi rij[a]lun yaAArifoona kullan biseem[a]hum wan[a]daw a[s]-[ha]ba aljannati an sal[a]mun AAalaykum lam yadkhulooh[a] wahum ya[t]maAAoon(a) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

017.045 Wa-i[tha] qara/ta alqur-[a]na jaAAaln[a] baynaka wabayna alla[th]eena l[a] yu/minoona bi(a)l-[a]khirati [h]ij[a]ban mastoor[a](n) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

019.017 Fa(i)ttakha[th]at min doonihim [h]ij[a]ban faarsaln[a] ilayh[a] roo[h]an[a] fatamaththala lah[a] basharan sawiyy[a](n) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

033.053 Y[a] ayyuh[a] alla[th]eena [a]manoo l[a] tadkhuloo buyoota a(l)nnabiyyi ill[a] an yu/[th]ana lakum il[a] [t]aAA[a]min ghayra n[a]{th}ireena in[a]hu wal[a]kin i[tha] duAAeetum fa(o)dkhuloo fa-i[tha] [t]aAAimtum fa(i)ntashiroo wal[a] musta/niseena li[h]adeethin inna [tha]likum k[a]na yu/[th]ee a(l)nnabiyya fayasta[h]yee minkum wa(A)ll[a]hu l[a] yasta[h]yee mina al[h]aqqi wa-i[tha] saaltumoohunna mat[a]AAan fa(i)s-aloohunna min war[a]-i [h]ij[a]bin [tha]likum a[t]haru liquloobikum waquloobihinna wam[a] k[a]na lakum an tu/[th]oo rasoola All[a]hi wal[a] an tanki[h]oo azw[a]jahu min baAAdihi abadan inna [tha]likum k[a]na AAinda All[a]hi AAa{th}eem[a](n) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

038.032 Faq[a]la innee a[h]babtu [h]ubba alkhayri AAan [th]ikri rabbee [h]att[a] taw[a]rat bi(a)l[h]ij[a]b(i) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

041.005 Waq[a]loo quloobun[a] fee akinnatin mimm[a] tadAAoon[a] ilayhi wafee [atha]nin[a] waqrun wamin baynin[a] wabaynika [h]ij[a]bun fa(i)AAmal innan[a] AA[a]miloon(a) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

042.051 Wam[a] k[a]na libasharin an yukallimahu All[a]hu ill[a] wa[h]yan aw min war[a]-i [h]ij[a]bin aw yursila rasoolan fayoo[h]iya bi-i[th]nihi m[a] yash[a]o innahu AAaliyyun [h]akeem(un) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

Benarkah hijab berarti pakaian wajib wanita beragama islam? Marilah kita cermati ayat-ayat yang transliterasinya disajikan di atas dalam Al Qur’an terjemahan versi Dep. Agama RI berikut ini.

7:46. Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas; dan di atas A'raaf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka. Dan mereka menyeru penduduk surga: "Salaamun 'alaikum." Mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya). (versi Dep. Agama RI)

17:45. Dan apabila kamu membaca Al Quran niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup, (versi Dep. Agama RI)

19:17. maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami  kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna. (versi Dep. Agama RI)

33:53. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah- rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri- isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini isteri- isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah. (versi Dep. Agama RI)

38:32. maka ia berkata: "Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku sampai kuda itu hilang dari pandangan." (versi Dep. Agama RI)

41:5. Mereka berkata: "Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya dan telinga kami ada sumbatan dan antara kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah kamu; sesungguhnya kami bekerja (pula)." (versi Dep. Agama RI)

42:51. Dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana. (versi Dep. Agama RI)

Kutipan ayat-ayat di atas memperlihatkan bahwa tidak ada satu pun di antara ayat-ayat yang mengandung kata hijaab berhubungan dengan pakaian wajib wanita beragama islam. Jadi, anggapan bahwa hijab adalah pakaian wajib wanita beragama islam adalah tidak berdasarkan pada ayat-ayat Al Qur’an.

Makalah tentang arti hijab dicukupkan sampai di sini. Apabila ada perubahan persepsi pada diri penulis, makalah ini akan direvisi.

Minggu, 27 Maret 2016

ARTI JILBAB

Kata jilbab sering diasosiasikan dengan pakaian wanita beragama islam. Persepsi orang tentang pengertian jilbab bervariasi tergantung pada informasi yang diterimanya. Kebanyakan orang menerima informasi tersebut dari guru agama islam yang menyampaikannya melalui berbagai media. Apakah arti  jilbab yang sebenarnya? Makalah ini akan menjawab pertanyaan tersebut.

Kata jilbab muncul di Al Qur’an terjemahan versi Dep. Agama RI dalam ayat 33:59. Berikut ini adalah kutipannya.

33:59. Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (versi Dep. Agama RI)

Kata jilbab dalam terjemahan versi Dep. Agama RI hanyalah hasil penafsiran penerjemah Dep. Agama RI. Sebenarnya, kata jilbab tidak dijumpai dalam Al Qur’an. Yang ada dalam Al Qur’an ayat 33:59 adalah kata jal[a]beebihinna. Berikut ini adalah kutipannya.

033.059 Y[a] ayyuh[a] a(l)nnabiyyu qul li-azw[a]jika waban[a]tika wanis[a]-i almu/mineena yudneena AAalayhinna min jal[a]beebihinna [tha]lika adn[a] an yuAArafna fal[a] yu/[th]ayna wak[a]na All[a]hu ghafooran ra[h]eem[a](n) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

Kata jal[a]beebihinna tersusun oleh kata jal[a]beeb dan hinna. Menurut informasi yang ada di project root list dalam http://www.studyquran.co.uk/PRLonline.htm, kata jal[a]beeb mempunyai akar kata jim-lam-ba-ba. Di pihak lain, menurut informasi yang ada di kamus An ArabicEnglish Lexicon karya Edward William Lane, kata tersebut mempunyai akar kata jim-lam-ba. Kutipan arti akar kata yang diambil dari project root list adalah sebagai berikut.

Jiim-Lam-Ba-Ba = Woman's outer wrapping garment, that which envelopes the whole body, wide garment for a woman, dominion or sovereignty or rule.

jalabib (pl. of jilbab) 33:59

Penulisan kata jal[a]beeb adalah menurut transliterasi dalam bahasa Inggris. Agar lebih memudahkan pembacaan, kata tersebut akan ditulis menjadi jalaabiib. Kata hinna adalah kata ganti kepemilikan ketiga untuk wanita. Oleh sebab itu, kata yang akan dibahas lebih lanjut adalah jalaabiib. Tampak dalam kutipan di atas bahwa jalaabiib (di situ ditulis jalabib) adalah bentuk jamak dari jilbaab (di situ ditulis jilbab). Dengan demikian, jalaabiib dan jilbaab pada dasarnya mempunyai arti yang sama. Barangkali, ini yang menjadi alasan kemunculan kata jilbab dalam Al Qur’an terjemahan versi Dep. Agama RI. Walaupun kutipan yang diambil dari project root list sudah menyebutkan pengertian jilbaab, penulis akan mencoba untuk membahasnya berdasarkan informasi yang ada dalam kamus bahasa Arab An ArabicEnglish Lexicon agar menjadi lebih meyakinkan. Berikut ini adalah kutipan yang menerangkan arti jilbaab dalam kamus tersebut.

See also 1, first sentence. R. Q. جَلْبَبَهُ جلببه جلببة 1 , (K,) or جلببهُ جِلْبَابًا , (TA,) inf. n. جَلْبَبَةٌ , the second ب not being incorporated into the first because the word is quasicoordinate to the class of دَحْرَجَةٌ , (S,) He put on him a garment of the kind called جِلْبَاب . (S, K.) Accord. to Kh, the first ب in جلبب is [augmentative] like the و in جَھْوَرَ and دَھْوَرَ : accord. to Yoo, the second is [augmentative] like the ى in سَلْ قى and جَعْبَى . (IJ, TA.) R. Q. تَجَلْبَبَ تجلبب 2 , (K,) and تَجَلْبَبَتْ , (A, Msb,) He, and she, put on a garment of the kind called جِلْبَاب ; or clad himself, and herself, therewith. (A, Msb, K.) And تجلبب بِثَوْبَهَ He covered himself with his garment. (Har p.
جُلْبٌ جلب (. 162 : see ―”

Dalam kutipan di atas tampak bahwa jilbaab adalah sejenis pakaian yang dipakai oleh laki-laki dan wanita. Hal ini terungkap dalam kalimat : “He put on him a garment of the kind called جِلْبَاب “ (Ia (laki-laki) memakai pakaian bernama jilbaab) dan “He, and she, put on a garment of the kind called جِلْبَاب” (Ia (laki-laki), dan ia (wanita) memakai pakaian bernama jilbaab). Ini berbeda dengan persepsi kebanyakan orang yang menganggap bahwa jilbaab adalah jenis pakaian khusus untuk wanita. Kutipan dari kamus yang sama yang berkaitan dengan arti jilbaab yang lain adalah sebagai berikut.

“جَلَبَةٌ جلب جلبه جلبة : see جَلَبٌ , in two places. جِلِبَّاتٌ جلبات (S, A, Mgh, Msb, K, &c.) and ↓ جِلْبَابٌ ; (K;) the latter mentioned as an ex. of form by Sb, and thought by Seer to be syn. with the former, but not explained by any one except the author of the K; masc. and fem.; (TA;) A [woman's outer wrapping garment called] مِلْحَفَة : (S:) or this is its primary signification; but it is metaphorically applied to other kinds of garments: (ElKhafájee, TA:) or a shirt, (K, TA,) absolutely: or one that envelopes the whole body: (TA:) and a wide garment for a woman, less than the ملحفة : or one with which a woman covers over her other garments, like the ملحفة : or the [kind of headcovering called], خِمَار : (K:) so in the M: (TA:) or a garment wider than the خمار , but less than the رِدَآء (Mgh, L, Msb,) with which a woman covers her head and bosom: (L:) or a garment shorter, but wider, than the خمار ; the same as the مِقْنَعَة : (EnNadr, TA:) or a woman's headcovering: (TA:) or the [kind of wrapper called] :إِزَار (IAar, TA:) or a garment with which the person is entirely enveloped, so that not even a hand is left exposed, (Har p. 162, and TA,) of the kind called مُلَآءَة , worn by a woman: (TA:) or a garment, or other thing, that one uses as a covering: (IF, Msb:) pl. جَلَابِيبُ . (S, Mgh, Msb.) ― See also ― .جُلْبٌ
(assumed tropical:) Dominion, sovereignty, or rule [with which a person is invested]. (K.)”

Sebelum membahas lebih lanjut perlu disampaikan bahwa kutipan di atas mengandung problem dalam penulisan simbol tertentu dan sejumlah huruf arab sehingga ada beberapa bagian yang berubah dari aslinya. Oleh karena itu, pembaca dapat mengecek sendiri tentang hal tersebut di kamus yang asli melalui link berikut ini.

Disebutkan dalam kamus tersebut bahwa bentuk jamak (plural) jilbaab adalah jalaabiib (di situ tertulis جَلَابِيبُ (jalaabiibu). Arti jilbaab yang ada dalam kamus tersebut, yaitu :
1. pakaian penutup sebelah luar wanita yang disebut dengan milhafat (woman's outer wrapping garment called مِلْحَفَة)
2. kemeja (shirt)
3. pakaian yang menutup seluruh tubuh (one that envelopes the whole body)
4. pakaian longgar wanita, lebih kecil daripada milhafat (a wide garment for a woman, less than the  milhafat)
5. pakaian wanita yang menutup pakaian lain yang dipakainya, seperti milhafat (one with which a woman covers over her other garments, like the milhafat)
6. sejenis penutup kepala yang disebut dengan khimaar (the kind of headcovering called خِمَار)
7. pakaian wanita yang lebih longgar dari khimmar tetapi lebih kecil daripada rida’ yang menutup kepala dan dada (a garment wider than the khimaar, but less than the رِدَآء  with which a woman covers her head and bosom)
8. pakaian lebih pendek tetapi lebih longgar daripada khimaar (a garment shorter, but wider, than the khimaar)
9. pakaian yang sama dengan مِقْنَعَة (the same as the مِقْنَعَة)
10. penutup kepala wanita atau sejenis penutup bernama إِزَار (a woman's headcovering or the [kind of wrapper called] :إِزَار)
11. pakaian yang menutupi seseorang secara keseluruhan sehingga tidak ada bagian tubuh yang tampak termasuk tangan, sejenis pakaian bernama مُلَآءَة, yang dipakai seorang wanita (a garment with which the person is entirely enveloped, so that not even a hand is left exposed, of the kind called مُلَآءَة , worn by a woman)
12. pakaian, atau sesuatu yang digunakan sebagai penutup (a garment, or other thing, that one uses as a covering)
13. Kekuasaan, kedaulatan, atau aturan (yang mengikat seseorang) (dominion, sovereignty, or rule [with which a person is invested].)

Tampak bahwa jilbaab mempunyai arti beragam atau tidak unik. Sebagian besar artinya berkaitan dengan pakaian, sedangkan yang lainnya berkaitan dengan kekuasaan. Dari segi bahasa, pertanyaan yang diajukan dalam makalah ini sudah terjawab. Pertanyaan selanjutnya, arti jilbaab yang manakah yang sesuai dengan Al Qur’an?

Arti jilbaab yang manakah yang sesusai dengan arti dalam 33:59? Untuk menjawabnya, penulis akan mencoba menerjemahkan ayat tersebut secara mandiri, kecuali jalaabiib (jal[a]beeb), secara per kata lebih dahulu. Untuk itu, transliterasi yang diambil dari DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913 digunakan. Hasil terjemahan 33:59 adalah sebagai berikut.

Y[a] ayyuh[a] = Wahai
a(l)nnabiyyu = Nabi
qul = katakanlah
li-azw[a]jika = untuk isteri-isterimu
waban[a]tika = dan anak-anak wanitamu
wanis[a]-i = dan wanita-wanita
almu/mineena = beriman
yudneena = mendekat
AAalayhinna = pada mereka
min = dari
jal[a]beebihinna = jalaabiib mereka
[tha]lika = itu adalah
adn[a] = pendekatan
an = untuk
yuAArafna = diketahui
fal[a] = sehingga tidak
yu/[th]ayna = diganggu
wak[a]na = dan adalah
All[a]hu = Allah
ghafooran = pengampun
ra[h]eem[a](n) = pemurah

Jika disusun hasilnya akan menjadi :
Wahai Nabi katakanlah untuk isteri-isterimu dan anak-anak wanitamu dan wanita-wanita beriman mendekat pada mereka dari jalaabiib mereka itu adalah pendekatan untuk diketahui sehingga tidak diganggu dan adalah Allah pengampun pemurah.

Kemudian, susunan tadi diatur lagi sehingga menjadi kalimat yang lebih mudah dimengerti. Hasilnya adalah sebagai berikut.

Wahai Nabi! Katakanlah untuk isteri-isterimu dan anak-anak wanitamu dan wanita-wanita beriman, “mendekat pada mereka dari jalaabiib mereka”! Itu adalah pendekatan untuk diketahui sehingga tidak diganggu dan adalah Allah pengampun pemurah.

Menurut terjemahan versi penulis, ayat 33:59 menerangkan bahwa Allah meminta Nabi untuk menyampaikan pesan yang perlu diketahui oleh para wanita di sekitarnya yang beriman kepadanya. Pesan tersebut berbunyi “mendekat pada mereka dari jalaabiib mereka”. Perlu diperhatikan bahwa para wanita tersebut disebut dengan mereka, bukan kamu semua. Ini berarti bahwa Allah tidak menyampaikan pesan tersebut secara langsung kepada para wanita tersebut. Ketika menyampaikannya kepada para wanita tersebut, Nabi tidak merubah frasa tersebut karena tugas Nabi hanya mengatakan yang diperintahkan Allah. Artinya, Nabi tidak merubahnya menjadi “mendekat pada kamu semua dari jalaabiib kamu semua”.

Sekarang, kita akan mencoba membahas arti frasa “mendekat pada mereka dari jalaabiib mereka”. Sudah dibahas di muka bahwa jilbaab dapat berarti tentang berbagai jenis pakaian dan hal-hal yang berkaitan dengan kekuasaan. Kita akan memulai dengan mengartikan jilbaab sebagai jenis pakaian dengan cara mengganti jalaabiib mereka dengan pakaian bernama jilbaab mereka. Hasilnya akan menjadi “mendekat pada mereka dari pakaian bernama jilbaab mereka”.

Frasa “mendekat pada mereka dari pakaian bernama jilbaab mereka” menerangkan suatu peristiwa. Peristiwa tersebut adalah mendekat dari pakaian bernama jilbaab mereka, yang terjadi pada mereka. Jika demikian halnya, apa arti mendekat dari pakaian bernama jilbaab mereka? Jika pakaian bernama jilbaab mereka sudah dipakai, tentu mereka sudah dekat dengan pakaian bernama jilbaab mereka. Dengan demikian, ini tidak berhubungan dengan keadaan ketika mereka sudah berpakaian. Di pihak lain, jika pakaian bernama jilbaab mereka belum dipakai, atau jika mereka tidak berpakaian, arti mendekat dari pakaian bernama jilbaab menjadi semakin tidak jelas Bukankah pakaian dibuat untuk dipakai, bukan untuk didekati? Di samping itu, berada di dekat suatu pakaian saja tidak akan menghindarkan seorang wanita dari gangguan laki-laki. Oleh sebab itu, penulis berpendapat bahwa jilbaab dalam 33:59 tidak berarti suatu jenis pakaian.

Sekarang kita akan mengartikan jilbaab sebagai hal yang berkaitan dengan kekuasaan. Arti yang dipilih adalah kedaulatan (sovereignty). Jika jalaabiib meraka dalam “mendekat pada mereka dari jalaabiib mereka” diganti dengan kedaulatan mereka, frasa “mendekat pada mereka dari kedaulatan mereka” akan diperoleh.  Kedaulatan mereka bermakna bahwa wanita mempunyai kedaulatan. Dalam kasus ini, mendekat dapat diartikan menjadi menjaga. Sesuatu yang berada di dekat seseorang akan lebih terjaga daripada yang jauh. Dengan menjaga kedaulatan yang dimilikinya, para wanita tidak akan diganggu.

Mengapa menjaga kedaulatan dapat menyebabkan para wanita tidak diganggu? Untuk menjaga kedaulatan, para wanita akan berperilaku sedemikian rupa sehingga tidak diganggu. Perilaku menjaga kedaulatan wanita diterangkan dalam 33:32 dan 33:33.

33:32 You, the prophet's women (wives), you are not as anyone from the women, if you feared and obeyed so do not soften/submit/obey with the word/opinion and belief, so wishes/desires who in his heart/mind (is) sickness/disease, and say (F) a kind/generous word/opinion and belief.
(Kamu, para wanita Nabi, kamu tidak seperti siapapun dari wanita-wanita itu, jika kamu takut dan patuh, maka jangan bersikap menyerahkan dengan perkataan, sehingga menimbulkan nafsu laki-laki yang berpikiran tidak waras, dan ucapkanlah perkataan yang baik.) (versi Muhamed dan Samira Ahmed)

33:33 And join/dwell/be respected in your houses/homes, and do not show your beauty/decoration, the first pre-Islamic paganism's/ignorance's showing off (of) beauty/decoration, and stand/keep up (F) the prayers, and give/bring the charity/purification, and obey God and His messenger, truly God wants to eliminate/wipe off from you the filth/torture, people (of) the House/Home, and He purifies you purification. (Dan bergabung/tinggal/menjadi terhormat dalam rumah kamu semua, dan jangan mempertontonkan kecantikan, seperti perilaku mempertotonkan kecantikan pada jaman kebodohan (jahiliyah), dan patuhilah Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya Allah ingin menghilangkan siksaan dari kamu semua, orang-orang rumah, dan Dia menyucikan kamu (dengan) penyucian.) (versi Muhamed dan Samira Ahmed)

Sebelum membahas lebih lanjut, penulis akan membahas frasa join/dwell/be respected lebih dahulu. Frasa tersebut adalah hasil penerjemahan dari kata qarna. Menurut informasi yang ada dalam project root list, kata qarna mempunyai akar kata qaf-ra-ra, yang dapat berarti to be or become cool, remain quiet, be steadfast, be firm, refresh, be stable, be firm, receive satisfy, affirm, agree, settle, last. qarar - stability, a fixed or secure place, depository, place ahead. qurratun - coolness, delight. aqarra (vb. 4) - to confirm, cause to rest or remain. istaqarra (vb. 10) - to remain firm. mustaqirrun - that which remains firmly fixed or confirmed, in hiding, is lasting, which certainly comes to pass, which is settled in its being/goal/purpose. mustaqar - firmly fixed/established, sojourn, abode. qurratun - coolness, refreshment, source of joy and comfort. qawarir (pl. of qaruratun) - glasses, crystals. Menurut penulis, arti qarna yang tepat dalam konteks ini adalah be firm, yang berarti tangguh. Oleh sebab itu, penulis mengganti frasa bergabung/tinggal/menjadi terhormat menjadi bersikap tangguh. Kata tangguh dalam kamus besar bahasa Indonesia berarti : 1 sukar dikalahkan; kuat; andal; 2 kuat sekali (tt pendirian dsb); tabah dan tahan (menderita dsb); kukuh.  

Selain itu, ayat 33:32 dan 33:33 menerangkan perilaku yang harus dimiliki oleh wanita-wanita Nabi. Menurut penulis, wanita-wanita Nabi yang dimaksud dalam 33:32 mencakup isteri-isterinya, anak-anaknya, dan wanita-wanita yang beriman padanya, sedangkan yang dimaksud dengan siapapun dari wanita-wanita itu dalam ayat tersebut adalah wanita-wanita yang tidak beriman pada waktu itu. Dengan demikian, perilaku yang harus dimiliki oleh isteri-isteri Nabi, anak-anak Nabi, dan wanita-wanita yang beriman sebagai perwujudan dari perilaku mendekat dari kedaulatan mereka meliputi :
1. tidak mengucapkan kata-kata yang mendorong laki-laki berbuat kejahatan seksual,
2. berbicara dengan sopan,
3. bersikap tangguh ketika dalam rumah, dan
4. tidak memamerkan kecantikan tubuhnya seperti orang pada jaman kebodohan.
Perilaku tersebut akan menyebabkan mereka tidak diganggu.

Sampai di sini, dapat disampaikan bahwa jalaabiib (atau jilbaab) dalam 33:59 tidak berarti sama dengan suatu jenis pakaian wanita. Kata tersebut dalam 33:59 berarti kedaulatan. Walaupun demikian, kata tersebut dapat dihubungkan dengan pakaian karena pakaian dapat menjaga kedaulatan wanita. Dalam butir 4 dalam alinea di atas disebutkan bahwa para wanita dilarang memamerkan kecantikan tubuhnya seperti orang pada jaman kebodohan. Agar kecantikannya tidak terpamerkan, para wanita harus berpakaian. Di sinilah letak hubungannya. Penjelasan tentang cara berpakaian wanita dibahas dalam makalah berjudul “Cara Berpakaian Wanita” di blog ini.

Perlu juga dijelaskan di sini bahwa kata yang diterjemahkan menjadi “mendekat”, yaitu yudneena menjadi sangat penting di sini sehingga perlu ditampilkan kutipan kamus yang menerangkannya.  Kata tersebut mempunyai akar kata dal-nun-alif. Kutipan arti kata yang berakar kata dal-nun-alif dalam kamus An ArabicEnglish Lexicon di  http://www.studyquran.org/LaneLexicon/Volume3/00000086.pdf adalah :

“He, or it, was, or became, near; drew near, or approached; (Ia, atau sesuatu, dekat atau menjadi dekat; mendekati, atau mendekati)”

“He, or it, and I, was, or became, near, &c., to him, or it:'”

Tampak dalam kutipan tersebut bahwa akar kata dal-nun-alif berarti tentang hal yang berhubungan dengan “dekat”. Perlu diperhatikan bahwa di depan kata jalaabib terdapat kata depan atau preposisi min (dari). Ini berarti bahwa jalaabib tidak berfungsi sebagai objek langsung sehingga kata kerja di depannya adalah kata kerja intransitif (kata kerja yang tanpa objek langsung). Kata kerja intransitif tersebut adalah menjadi dekat atau mendekat. Sekadar untuk mengingatkan, kata kerja transitif (memerlukan objek langsung) dalam kasus ini adalah mendekati. Oleh sebab itu, penerjemahan yudneena menjadi mendekat adalah tepat.

Penerjemah dari Departemen Agama RI mengabaikan kata depan min (dari) di depan kata jalaabihinna dan kemudian menganggap yudneena sebagai kata kerja transitif. Hal itu tercermin pada frasa mengulurkan jilbabnya dalam terjemahan versinya. Dengan demikian, Dep. Agama RI telah melakukan kesalahan.

Selain itu, penerjemahan yudneena menjadi mengulurkan juga keliru. Kata mengulurkan berarti memanjangkan atau membuat panjang. Dengan demikian, kata mengulurkan berlawanan dengan arti akar kata dal-nun-alif yang bermakna tentang dekat, seperti yang ada dalam kutipan di muka. Dalam kaitannya dengan jarak, panjang berarti sama dengan jauh, sedangkan pendek berarti sama dengan dekat. Artinya, panjang adalah lawan kata dari pendek. Jadi, hal ini semakin menegaskan bahwa terjemahan 33:59 versi Dep. Agama RI dalam kasus ini mengandung kesalahan.

Penulis menutup makalah ini dengan sebuah ringkasan. Kata jilbab adalah kata serapan dari bahasa Arab jilbaab. Dari segi bahasa, jilbaab dapat berarti berbagai jenis pakaian wanita atau laki-laki dan hal yang berhubungan dengan kekuasaan. Yang ada dalam Al Qur’an adalah bentuk jamak dari jilbaab, yaitu jalaabiib, yang berarti kedaulatan. Ayat 33:59 berisi informasi bahwa para isteri Nabi, anak wanita Nabi, dan wanita beriman yang hidup pada waktu Nabi masih hidup diperintahkan oleh Allah agar menjaga kedaulatannya agar tidak diganggu laki-laki. Jika ada perubahan persepsi pada diri penulis, makalah ini akan direvisi.

Selasa, 09 Februari 2016

AHMAD ATAU MUHAMMAD?

Informasi kehadiran seorang Rasul Allah sesudah Nabi Isa sudah ada pada jaman Nabi Isa. Hal itu tersurat dalam Al Qur’an dalam ayat 61:6. Nama Rasul itu adalah bernama Ahmad.

61:6. Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: "Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)." Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata." (versi Dep. Agama RI)

061.006 Wa-i[th] q[a]la AAees[a] ibnu maryama y[a] banee isr[a]-eela innee rasoolu All[a]hi ilaykum mu[s]addiqan lim[a] bayna yadayya mina a(l)ttawr[a]ti wamubashshiran birasoolin ya/tee min baAAdee ismuhu a[h]madu falamm[a] j[a]ahum bi(a)lbayyin[a]ti q[a]loo h[atha] si[h]run mubeen(un) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

Memang benar, sesudah Nabi Isa, ada seorang Rasul Allah. Namanya adalah Muhammad. Ayat-ayat Al Qur’an yang menyebutkan nama Muhammad adalah sebagai berikut.

003.144 Wam[a] mu[h]ammadun ill[a] rasoolun qad khalat min qablihi a(l)rrusulu afa-in m[a]ta aw qutila inqalabtum AAal[a] aAAq[a]bikum waman yanqalib AAal[a] AAaqibayhi falan ya[d]urra All[a]ha shay-an wasayajzee All[a]hu a(l)shsh[a]kireen(a) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

033.040 M[a] k[a]na mu[h]ammadun ab[a] a[h]adin min rij[a]likum wal[a]kin rasoola All[a]hi wakh[a]tama a(l)nnabiyyeena wak[a]na All[a]hu bikulli shay-in AAaleem[a](n) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

047.002 Wa(a)lla[th]eena [a]manoo waAAamiloo a(l)[ssa]li[ha]ti wa[a]manoo bim[a] nuzzila AAal[a] mu[h]ammadin wahuwa al[h]aqqu min rabbihim kaffara AAanhum sayyi-[a]tihim waa[s]la[h]a b[a]lahum (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

048.029 Mu[h]ammadun rasoolu All[a]hi wa(a)lla[th]eena maAAahu ashidd[a]o AAal[a] alkuff[a]ri ru[h]am[a]o baynahum tar[a]hum rukkaAAan sujjadan yabtaghoona fa[d]lan mina All[a]hi wari[d]w[a]nan seem[a]hum fee wujoohihim min athari a(l)ssujoodi [tha]lika mathaluhum fee a(l)ttawr[a]ti wamathaluhum fee al-injeeli kazarAAin akhraja sha[t]-ahu fa[a]zarahu fa(i)staghla{th}a fa(i)staw[a] AAal[a] sooqihi yuAAjibu a(l)zzurr[a]AAa liyaghee{th}a bihimu alkuff[a]ra waAAada All[a]hu alla[th]eena [a]manoo waAAamiloo a(l)[ssa]li[ha]ti minhum maghfiratan waajran AAa{th}eem[a](n) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

Tampak bahwa ada perbedaan antara nama Rasul Allah yang disebutkan pada jaman Nabi Isa dan yang disebutkan pada jaman sesudah Nabi Isa. Nama yang satu adalah Ahmad, sedangkan nama yang lainnya adalah Muhammad. Benarkah Muhammad dan Ahmad adalah nama untuk orang yang sama? Benarkah Muhammad adalah Ahmad yang disebutkan pada jaman Nabi Isa? Pertanyaan inilah yang akan dijawab dalam makalah ini.

Pertama-tama, kita akan membahasnya dari segi arti kata. Sebenarnya, kata muhammad dan ahmad mempunyai akar kata yang sama yaitu, ha-miim-dal. Kutipan arti kata ha-miim-dal yang ada dalam project root list di http://www.studyquran.co.uk/PRLonline.htm adalah sebagai berikut. Arti kata ha-miim-dal bersifat unik karena hanya satu, yaitu memuji (to praise).

“Ha-Miim-Dal = To praise.
hamida vb. (1)
impf. pass. 3:188
n.vb. 1:2, 2:30, 6:1, 6:45, 7:43, 10:10, 13:13, 14:39, 15:98, 16:75, 17:44, 17:52, 17:111, 18:1, 20:130, 23:28, 25:58, 27:15, 27:59, 27:93, 28:70, 29:63, 30:18, 31:25, 32:15, 34:1, 34:1, 35:1, 35:34, 37:182, 39:29,  39:74, 39:75, 39:75, 40:7, 40:55, 40:65, 42:5, 45:36, 50:39, 52:48, 64:1, 110:3
pcple. act. 9:112
pcple. pass. 17:79
ahmad n. 61:6
hamid n.m. 2:267, 4:131, 11:73, 14:1, 14:8, 22:24, 22:64, 31:12, 31:26, 34:6, 35:15, 41:42, 42:28, 57:24, 60:6, 64:6, 85:8
muhammad n. 3:144, 33:40, 47:2, 48:29
Lane's Lexicon, Volume 2, page: 274275276

Tampak dalam kutipan di atas bahwa kata ahmad dan muhammad adalah kata benda (noun). Tampak pula bahwa arti akar kata ha-miim-dal adalah memuji (to praise). Kata benda memuji adalah yang memuji. Dengan demikian, kedua kata tersebut pada dasarnya bermakna sama, yaitu yang memuji.  Kata muhammad merupakan hasil sintesis antara awalan mu dan akar kata ha-miim-dal. Awalan mu berarti orang yang. Oleh sebab itu, kata muhammad berarti orang yang memuji. Agar lebih mudah dilihat, arti kedua kata didampingkan berurutan secara vertikal seperti berikut ini.

ahmad = yang memuji
muhammad = orang yang memuji

Sebelum melangkah lebih lanjut, penulis akan memberi komentar tentang pengartian ahmad menjadi yang terpuji oleh kebanyakan orang. Yang terpuji adalah Allah. Segala pujian adalah milik Allah. Padahal, Tuhan hanya satu, yaitu Allah. Jadi, pengartian ahmad menjadi yang terpuji adalah tidak tepat.

Selain itu, perlu dijelaskan sedikit alasan pengartian awalan mu menjadi orang yang. Penulis bukan ahli bahasa Arab sehingga menggunakan pendekatan sederhana untuk menggunakan arti tersebut, yaitu dengan mencari tahu arti kata serapan dari bahasa Arab atau transliterasi kata dari bahasa Arab yang menggunakan awalan mu. Contoh kata-kata tersebut adalah muslim (orang yang islam), musyrik (orang yang menyekutukan Allah), mukmin (orang yang beriman), munafik (orang yang tidak beriman tetapi mengaku beriman), mukhlis (orang yang ikhlas), muhajir (orang yang pindah), mushalliina (orang yang shalat), muzamil (orang yang berselimut), mutaki (orang yang bertaqwa), musafir (orang yang bepergian), mujahid (orang yang berjuang), muzaki (orang yang berzakat), mufasir (orang yang menafsirkan Al Qur’an), mubalig (orang yang menyiarkan agama islam), mualaf (orang yang baru masuk islam), muazin (orang yang berazan), dan mualim (orang yang ahli agama). Mungkin masih ada kata-kata lain yang menegaskan arti awalan mu tersebut tetapi belum disebutkan di sini. Atas dasar itulah penulis mengartikan mu sama dengan orang yang.

Arti kedua kata yang sudah dibahas di muka menunjukkan bahwa nama Ahmad dan Muhammad menunjuk pada orang yang sama. Ahmad adalah nama sebelum orang tersebut diciptakan, sedangkan Muhammad adalah nama sesudah orang tersebut diciptakan.

Nama bersifat unik. Perbedaan satu huruf dalam dua nama menunjukkan dua nama berbeda. Oleh karena itu, ada orang yang berpendapat bahwa Ahmad dan Muhammad adalah dua nama yang berbeda sehingga orangnya pun juga dapat berbeda. Pendapat itu tampak beralasan. Barangkali, pendapat tersebut adalah yang menyebabkan ada aliran ahmadiyah.

Pendapat tersebut didasarkan pada asumsi bahwa yang memberi nama adalah manusia. Benarkah Ahmad dan Muhammad adalah nama pemberian manusia? Menurut penulis, Ahmad dan Muhammad adalah nama pemberian Allah, bukan pemberian manusia. Perlu diingat bahwa nama Ahmad sudah ada ratusan tahun sebelum manusia itu dilahirkan sehingga bisa dipastikan bahwa yang membuat nama Ahmad adalah Allah. Sesudah dilahirkan, namanya hanya mengalami perubahan berupa tambahan awalan mu yang berarti orang yang. Artinya, Muhammad (orang yang memuji) adalah Ahmad (yang memuji), nama buatan Allah yang sudah ada pada jaman Nabi Isa. Dengan demikian, Muhammad dan Ahmad adalah nama pemberian Allah. Perlu diingat bahwa Allah pernah memberi nama manusia. Manusia itu adalah Adam (2:31).

2:31. Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!" (versi Dep. Agama RI)

002.031 WaAAallama [a]dama al-asm[a]a kullah[a] thumma AAara[d]ahum AAal[a] almal[a]-ikati faq[a]la anbi-oonee bi-asm[a]-i h[a]ol[a]-i in kuntum [sa]diqeen(a) (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

Walaupun demikian, Allah tidak pernah memanggil Rasul Allah dengan nama yang diberikan-Nya. Allah memanggil Rasul Allah dengan “hai Nabi” dan “hai Rasul”. Berikut ini adalah ayat-ayat yang menyebutkannya.

66:1. Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (versi Dep. Agama RI)

33:50. Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu isteri- isterimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki yang termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan (demikian pula) anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu yang turut hijrah bersama kamu dan perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mukmin. Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang Kami wajibkan kepada mereka tentang isteri-isteri mereka dan hamba sahaya yang mereka miliki supaya tidak menjadi kesempitan bagimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (versi Dep. Agama RI)

33:28. Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu: "Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut'ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. (versi Dep. Agama RI)

8:65. Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti. (versi Dep. Agama RI)

8:64. Hai Nabi, cukuplah Allah (menjadi Pelindung) bagimu dan bagi orang-orang mukmin yang mengikutimu. (versi Dep. Agama RI)

9:73. Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah jahannam. Dan itu adalah tempat kembali yang seburuk-buruknya. (versi Dep. Agama RI)

66:9. Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah jahannam dan itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali. (versi Dep. Agama RI)

33:45. Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gemgira dan pemberi peringatan, (versi Dep. Agama RI)

8:70. Hai Nabi, katakanlah kepada tawanan-tawanan yang ada di tanganmu: "Jika Allah mengetahui ada kebaikan dalam hatimu, niscaya Dia akan memberikan kepadamu yang lebih baik dari apa yang telah diambil daripadamu dan Dia akan mengampuni kamu." Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (versi Dep. Agama RI)

33:1. Hai Nabi, bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu menuruti (keinginan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, (versi Dep. Agama RI)

5:67. Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (versi Dep. Agama RI)

Di samping itu, tidak pernah disebutkan ada orang memanggil atau menyebut nama Muhammad dalam Al Qur’an. Kata muhammad disebutkan sebanyak 4 kali dalam Al Qur’an tetapi bukan digunakan orang untuk memanggil Rasul Allah. Kutipan ayat-ayat yang menyebutkannya sudah ditampilkan di depan. Di pihak lain, nama Rasul Allah yang lain pernah dipanggil dengan namanya dalam Al Qur’an. Berikut ini adalah beberapa kutipan ayat-ayatnya.

5:112. (Ingatlah), ketika pengikut-pengikut Isa berkata: "Hai Isa putera Maryam, sanggupkah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?." Isa menjawab: "Bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang yang beriman." (versi Dep. Agama RI)

17:101. Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Musa sembilan buah mukjizat yang nyata, maka tanyakanlah kepada Bani Israil, tatkala Musa datang kepada mereka lalu Fir'aun berkata kepadanya: "Sesungguhnya aku sangka kamu, hai Musa, seorang yang kena sihir." (versi Dep. Agama RI)

20:92. Berkata Musa: "Hai Harun, apa yang menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat, (versi Dep. Agama RI)

38:26. Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan. (versi Dep. Agama RI)

37:104. Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim, (versi Dep. Agama RI)

11:46. Allah berfirman: "Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan." (versi Dep. Agama RI)

7:77. Kemudian mereka sembelih unta betina itu, dan mereka berlaku angkuh terhadap perintah Tuhan. Dan mereka berkata: "Hai Shaleh, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah)." (versi Dep. Agama RI)

Jika Muhammad adalah nama pemberian Allah untuk Rasul Allah, lalu apa nama pemberian orang tua Rasul Allah untuk Rasul Allah? Jawabannya tidak ada dalam Al Qur’an. Menurut penulis, itu tidak penting.

Sebagai penutup, dapat disampaikan bahwa Ahmad dan Muhammad adalah nama pemberian Allah untuk seorang Rasul Allah yang menerima Al Qur’an. Makalah ini akan direvisi jika terjadi perubahan persepsi pada diri penulis.

Senin, 18 Januari 2016

NABI MUHAMMAD DIANGGAP SEBAGAI TUHAN

Perilaku menjadikan para nabi sebagai Tuhan benar-benar ada (3:80). Contoh nabi yang dijadikan sebagai Tuhan adalah Nabi Isa (Al Masih) (9:30 dan 5:116).

3:80. dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai tuhan. Apakah (patut) dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam?." (versi Dep. Agama RI)

9:30. Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair itu putera Allah" dan orang-orang Nasrani berkata: "Al Masih itu putera Allah." Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling? (versi Dep. Agama RI)

5:116. Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: "Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: "Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?." Isa menjawab: "Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib." (versi Dep. Agama RI)

Mungkinkah Nabi Muhammad juga telah dijadikan sebagai Tuhan? Sesudah Al Qur’an, tidak ada lagi kitab Allah yang menjelaskan hal tersebut sehingga kita harus menjawabnya dengan Al Qur’an.

Dijelaskan dalam 20:123 bahwa yang dapat membuat orang tidak sesat adalah petunjuk Allah. Petunjuk Allah sama dengan ajaran Allah. Dengan demikian, ajaran yang dapat membuat orang tidak sesat adalah hanya ajaran Allah. Dengan kalimat lain, ayat 20:123 menerangkan bahwa agar tidak sesat, orang harus hanya mengikuti ajaran Allah. Kata hanya digarisbawahi karena Allah hanya satu.

20:123. Allah berfirman: "Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. (versi Dep. Agama RI)

Menurut Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nabi Muhammad tergolong orang yang dapat membuat petunjuk kepada manusia karena MUI telah membuat fatwa bahwa orang yang tidak menggunakan kitab hadis sebagai pedoman adalah orang sesat. Artinya, orang yang menggunakan kitab hadis sebagai pedoman akan mendapat petunjuk dan orang yang tidak menggunakan kitab hadis akan sesat. Dalam hal ini, Nabi Muhammad telah dianggap oleh MUI sebagai orang yang mempunyai ajaran sendiri yang pengaruhnya sama dengan ajaran Allah. Jadi, secara tidak disadari, MUI telah menjadikan Nabi Muhammad sebagai Tuhan.

Nabi Muhammad tidak pernah menyatakan dirinya sebagai Tuhan. Bahkan, tidak ada isi kitab hadis yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad adalah Tuhan. Barangkali, inilah yang menyebabkan MUI tidak merasa telah menuhankan Nabi Muhammad. Tampaknya, MUI tidak menyadari bahwa perilaku menuhankan sesuatu menjadi tuhan selain Allah tercermin pada perbuatan, bukan pada perkataan atau pengakuan. Dalam hal ini, MUI merasa tidak pernah menyatakan bahwa Nabi Muhammad adalah Tuhan tetapi tindakannya menegaskan bahwa MUI telah menganggap Nabi Muhammad sebagai Tuhan.

Mengapa MUI sebagai wadah orang-orang yang mengaku beriman pada Al Qur’an justru membenci dan memusuhi orang yang mengaji Al Qur’an hanya gara-gara tidak mau menggunakan kitab hadis sebagai pedoman? Apakah itu karena Allah yang mengajarkan demikian? Tidak! Allah bahkan secara eksplisit dan sangat terang benderang mengataan bahwa orang yang mengikuti petunjuk-Nya, dalam hal ini Al Qur’an, tidak akan sesat (20:123). Jadi, MUI mengikuti ajaran siapa sehingga membenci dan memusuhi orang yang hanya menggunakan Al Qur’an saja? Jawabannya adalah ajaran tuhan selain Allah.

Petunjuk-Nya yang disebut dalam 20:123 itu apa? Apakah MUI tidak tahu? Atau, pura-pura tidak tahu? Mari kita perhatikan bersama-sama ayat berikut ini.

2:185. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.

Apakah tulisan yang berbunyi Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dalam 2:185 kurang besar ukuran font-nya sehingga MUI tidak bisa membacanya? Apakah tulisan yang berbunyi barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka dalam 20:123 kurang besar ukuran font-nya sehingga MUI tidak bisa membacanya? Apakah MUI tidak bisa menyimpulkan bahwa gabungan kedua frasa tersebut bermakna, barangsiapa yang mengikut Al Qur’an, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka?

Atau, barangkali MUI meragukan kebenaran terjemahan versi Dep. Agama RI? Marilah kita cek bersama-sama kebenaran terjemahan 20:123 versi Dep. Agama RI! Untuk itu, penulis akan menggunakan Al Qur’an terjemahan per kata yang ada di http://corpus.quran.com/wordbyword.jsp?chapter=20&verse=123. Sebelumnya, transliterasi ayat 20:123 ditampilkan berikut ini.

020.123 Q[a]la ihbi[ta] minh[a] jameeAAan baAA[d]ukum libaAA[d]in AAaduwwun fa-imm[a] ya/tiyannakum minnee hudan famani ittabaAAa hud[a]ya fal[a] ya[d]illu wal[a] yashq[a] (Text Copied from DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.913)

Bagian yang akan dicek kebenarannya adalah yang bergaris bawah saja. Berikut ini adalah hasil terjemahan bagian ayat 20:123 yang bergaris bawah yang terdapat di http://corpus.quran.com/wordbyword.jsp?chapter=20&verse=123.

fa-imm[a] = then if = kemudian jika
ya/tiyannakum = comes to you = datang kepadamu
minnee = from me = dari-Ku
hudan = guidance = petunjuk
famani = then whoever = maka siapapun
ittabaAAa = follows = mengikuti
hud[a]ya = my guidance = petunjuk-Ku
fal[a] = then not = maka tidak
ya[d]illu = he will go astray = ia akan tersesat
wal[a] = and not = dan tidak
yashq[a] = suffer = menderita

Jika disusun, terjemahan tersebut akan menjadi, “Kemudian, jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, maka siapapun mengikuti petunjuk-Ku, maka ia tidak akan tersesat dan tidak menderita.” Tampak dalam terjemahan tersebut bahwa terjemahan 20:123 versi Dep. Agama RI adalah sudah benar dari segi kandungan maknanya. Jadi, terjemahan 20:123 versi Dep. Agama RI pada bagian yang sedang dibahas di sini dapat digunakan sebagai argumen yang meyakinkan. Oleh sebab itu, MUI harus menjalankan ajaran Allah dalam Al Qur’an yang terdapat di ayat 20:123.

Apakah MUI tidak mengetahui ciri-ciri ulama? Marilah kita perhatikan dengan cermat ayat berikut ini?

35:28. Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (versi Dep. Agama RI)

Ayat 35:28 menerangkan bahwa ciri-ciri ulama menurut Allah adalah mempunyai sifat takut kepada Allah. Apakah MUI menghormati ayat 20:123 dan 2:185? Apakah MUI telah menjalankan ajaran Allah dalam 20:123 dan 2:185? Tidak! MUI tidak menghormati dan menaati ajaran Allah dalam 20:123 dan 2:185 karena menyatakan sesat kepada orang yang hanya beriman pada Al Qur’an saja. Jadi, apakah MUI benar-benar kumpulan ulama?

Penulis memang bukan siapa-siapa sehingga barangkali, isi makalah ini tidak akan dipandang sebagai nasehat oleh MUI. Walaupun demikian, yang perlu dikhawatirkan adalah jika MUI berperilaku seperti umat Nabi Hud, seperti yang dijelaskan dalam 26:136, 26:137, dan 26:138.

26:136. Mereka menjawab: "Adalah sama saja bagi kami, apakah kamu memberi nasehat atau tidak memberi nasehat, (versi Dep. Agama RI)

26:137. (agama kami) ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu. (versi Dep. Agama RI)

26:138. dan kami sekali-kali tidak akan di "azab." (versi Dep. Agama RI)

Apakah MUI juga menganut adat kebiasaan orang dahulu, seperti yang terjadi pada umat Nabi Hud? MUI menganut ajaran dalam kitab hadis. Kitab hadis berisi ajaran nenek moyang karena tidak pernah diketahui, dibaca, dikoreksi, dan disaksikan oleh Rasul Allah. Jadi, MUI memang mengikuti ajaran yang berupa adat kebiasaan orang dahulu. Tampaknya, inilah yang menyebabkan MUI menyatakan sesat kepada orang-orang yang tidak beriman pada kitab hadis.

Apakah MUI sebagai tempat berkumpulnya orang yang beriman pada Al Qur’an tidak pernah mengaji ajaran Al Qur’an? Jika mereka mengaji ajaran Al Qur’an, penulis yakin, mereka akan senang mengetahui ada orang yang mau mengaji ajaran Al Qur’an. Mereka akan memberi apresiasi pada orang-orang yang mau mengaji ajaran Al Qur’an. Tetapi, mengapa mereka justru menyatakan sesat, memusuhi, dan membenci orang yang hanya mengaji pada Al Qur’an saja, seolah-olah orang-orang yang mengaji Al Qur’an saja dianggap seperti orang-orang yang sedang mengaji kitab Iblis? Perlu diketahui bahwa orang yang sesat adalah orang yang mengikuti iblis (15:39 dan 15:42).

15:39. Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, (versi Dep. Agama RI)

15:42. Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat. (versi Dep. Agama RI)

Mengapa MUI tetap menyatakan sesat kepada orang yang hanya beriman pada Al Qur’an saja walaupun Al Qur’an tidak menyatakan demikian? Jawabannya adalah karena MUI mempunyai tuhan selain Allah, yaitu Nabi Muhammad.

MUI dan pengikutnya benci dengan pengajian atau makalah yang hanya menggunakan Al Qur’an saja tetapi tidak menggunakan ajaran kitab hadis. Sebaliknya, jika ajaran kitab hadis dikaji, mereka menjadi sangat gembira. Mengapa demikian? Mereka sangat kesal dengan orang-orang yang hanya mengaji Al Qur’an saja karena Tuhan mereka tidak disebut. Sebaliknya, mereka sangat gembira dengan orang-orang yang mengaji kitab hadis karena Tuhan mereka disebut. Gejala ini kurang lebih seperti yang digambarkan dalam Al Qur’an (39:45).

39:45. Dan apabila hanya nama Allah saja disebut, kesallah hati orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat; dan apabila nama sembahan-sembahan selain Allah yang disebut, tiba-tiba mereka bergirang hati. (versi Dep. Agama RI)

Sebagai penutup, makalah ini dicukupkan sekian saja. Yang terjadi pada Nabi Isa tampaknya juga telah terjadi pada Nabi Muhammad. Nabi Muhammad telah dianggap sebagai tuhan selain Allah. Makalah ini akan direvisi jika terjadi perubahan persepsi pada diri penulis.