Senin, 27 Agustus 2012

MEMPERSEKUTUKAN ALLAH


PENDAHULUAN
Mempersekutukan Allah dengan sesuatu adalah dosa besar yang tidak diampuni-Nya (4:48 dan 4:116).

4:48. Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (versi Dep. Agama RI)

4:116. Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. (versi Dep. Agama RI)

Kedua ayat di atas menegaskan bahwa mempersekutukan Allah adalah suatu perbuatan yang harus dihindari jika seseorang ingin masuk surga. Oleh karena itu, kita harus dapat mengetahui perbuatan-perbuatan yang tergolong mempersekutukan Allah dengan benar. Jangan sampai terjadi, orang merasa tidak mempersekutukan Allah tetapi ia sebenarnya melakukannya.  Oleh karena itu, penulis ingin membahas tentang perbuatan-perbuatan mempersekutukan Allah.

ALLAH HANYA SATU DAN TIDAK MEMPUNYAI SEKUTU
Allah hanya satu dan tidak mempunyai sekutu (18:110 dan 6:163).

18:110. Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa." Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya." (versi Dep. Agama RI)

6:163. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)." (versi Dep. Agama RI)

PENGERTIAN MEMPERSEKUTUKAN ALLAH
Arti Kata
Mempersekutukan Allah bermakna menganggap Allah mempunyai sekutu. Mempersekutukan Allah diistilahkan dengan syirik. Jadi, syirik berarti perbuatan mempersekutukan Allah dengan sesuatu. Orang yang berbuat syirik atau orang yang mempersekutukan Allah disebut musyrik.  Walaupun demikian, orang seringkali menggunakan istilah orang musyrik daripada musyrik. Seringkali, syirik disamakan artinya dengan perbuatan musyrik. Maksudnya, syirik adalah perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang yang mempersekutukan Allah. Orang yang mempersekutukan Allah beranggapan bahwa Allah mempunyai sekutu (partner).

Ketika menyebutkan sesuatu yang dianggap oleh orang musyrik sebagai sekutu Allah, Allah menggunakan istilah sekutu-sekutumu atau sekutu-sekutu-Ku. Hal tersebut dijumpai dalam ayat-ayat berikut ini.

35:40. Katakanlah: "Terangkanlah kepada-Ku tentang sekutu-sekutumu yang kamu seru selain Allah. Perlihatkanlah kepada-Ku (bahagian) manakah dari bumi ini yang telah mereka ciptakan ataukah mereka mempunyai saham dalam (penciptaan) langit atau adakah Kami memberi kepada mereka sebuah Kitab sehingga mereka mendapat keterangan-keterangan yang jelas daripadanya? Sebenarnya orang-orang yang zalim itu sebahagian dari mereka tidak menjanjikan kepada sebahagian yang lain, melainkan tipuan belaka." (versi Dep. Agama RI)

10:34. Katakanlah: "Apakah di antara sekutu-sekutumu ada yang dapat memulai penciptaan makhluk, kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali?" katakanlah: "Allah-lah yang memulai penciptaan makhluk, kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali; maka bagaimanakah kamu dipalingkan (kepada menyembah yang selain Allah)?" (versi Dep. Agama RI)

41:47. Kepada-Nyalah dikembalikan pengetahuan tentang hari Kiamat. Dan tidak ada buah-buahan keluar dari kelopaknya dan tidak seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan, melainkan dengan sepengetahuan-Nya. Pada hari Tuhan memanggil mereka: "Dimanakah sekutu-sekutu-Ku itu?", mereka menjawab: "Kami nyatakan kepada Engkau bahwa tidak ada seorangpun di antara kami yang memberi kesaksian (bahwa Engkau punya sekutu)." (versi Dep. Agama RI)

18:52. Dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) Dia berfirman: "Serulah olehmu sekalian sekutu-sekutu-Ku yang kamu katakan itu." Mereka lalu memanggilnya tetapi sekutu-sekutu itu tidak membalas seruan mereka dan Kami adakan untuk mereka tempat kebinasaan (neraka). (versi Dep. Agama RI)

16:27. Kemudian Allah menghinakan mereka di hari kiamat, dan berfirman: "Di manakah sekutu-sekutu-Ku itu (yang karena membelanya) kamu selalu memusuhi mereka (nabi-nabi dan orang-orang mukmin)?" Berkatalah orang-orang yang telah diberi ilmu: "Sesungguhnya kehinaan dan azab hari ini ditimpakan atas orang-orang yang kafir",(versi Dep. Agama RI)

28:62. Dan (ingatlah) hari (di waktu) Allah menyeru mereka, seraya berkata: "Di manakah sekutu-sekutu-Ku yang dahulu kamu katakan?" (versi Dep. Agama RI)

28:74. Dan (ingatlah) hari (di waktu) Allah menyeru mereka, seraya berkata: "Di manakah sekutu-sekutu-Ku yang dahulu kamu katakan?" (versi Dep. Agama RI)

Ada baiknya, perlu dijelaskan lebih dahulu istilah sekutu-sekutumu dan sekutu-sekutu-Ku agar tidak membuat bingung. Mengapa digunakan sekutu-sekutumu dalam 35:40 dan 10:34? Bukankah yang dianggap mempunyai sekutu adalah Allah? Mengapa bukan sekutu-sekutu-Ku? Menurut penulis, ini merupakan ekspresi ketidakberkenanan Allah jika dianggap mempunyai sekutu. Sekutu-sekutumu yang dimaksud hanyalah anggapan orang-orang saja. Artinya, sekutu-sekutumu dalam ayat tersebut adalah sekutu-sekutu Allah yang dibuat oleh orang-orang. Dengan kalimat lain, kata ganti mu di situ berarti yang dibuat kamu, bukan milik kamu. Jadi, sekutu-sekutumu dalam ayat-ayat tersebut tidak berarti bahwa Allah menganggap orang-orang mempunyai sekutu. Di lain pihak, sekutu-sekutu-Ku berarti sekutu-sekutu Allah yang dikatakan orang. Rasa-rasanya, istilah sekutu-sekutu-Ku mudah dimengerti.

Sekutu Allah sebagai Anggapan
Mempersekutukan Allah adalah suatu perbuatan menganggap Allah mempunyai sekutu. Kata menganggap perlu digarisbawahi karena sebenarnya Allah tidak mempunyai sekutu. Dengan demikian, istilah sekutu Allah ada karena ada orang yang menganggap bahwa Allah mempunyai sekutu. Selain itu, menganggap Allah mempunyai sekutu dapat tidak disadari oleh si pelaku. Dapat terjadi, seseorang mengatakan bahwa Allah tidak mempunyai sekutu tetapi dalam kehidupannya ia melakukan perbuatan yang dapat dikategorikan termasuk perbuatan mempersekutukan Allah. Mempersekutukan Allah adalah suatu perbuatan. Oleh sebab itu, perbuatan seseorang lebih tepat untuk dijadikan sebagai indikator untuk mengetahui kesyirikan seseorang. Jadi, orang yang mengatakan bahwa Allah tidak mempunyai sekutu belum tentu tidak mempersekutukan Allah. Dengan kalimat lain, orang yang mengaku tidak mempersekutukan Allah belum tentu tidak mempersekutukan Allah.

Selain itu, yang dianggap sebagai sekutu Allah adalah sama dengan tuhan selain Allah. Maksudnya, orang yang beranggapan bahwa ada tuhan selain Allah adalah sama dengan musyrik.  

Alasan Mempersekutukan Allah
Alasan mempersekutukan Allah adalah agar yang dijadikan sebagai sekutu Allah menjadi pemberi syafa’at (10:18) dan membuat menjadi lebih dekat kepada Allah (46:28 dan 39:3).

10:18. Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: "Mereka itu adalah pemberi syafa'at kepada kami di sisi Allah." Katakanlah: "Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) dibumi?" Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka mempersekutukan (itu). (versi Dep. Agama RI)

46:28. Maka mengapa yang mereka sembah selain Allah sebagai Tuhan untuk mendekatkan diri (kepada Allah) tidak dapat menolong mereka. Bahkan tuhan-tuhan itu telah lenyap dari mereka? Itulah akibat kebohongan mereka dan apa yang dahulu mereka ada-adakan.

39:3. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya." Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.

CONTOH MEMPERSEKUTUKAN ALLAH DALAM AL QUR’AN
Contoh syirik yang paling nyata adalah perbuatan orang yang menganggap Al Masih putera Maryam adalah Allah (5:72).

5:72. Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam", padahal Al Masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu." Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (versi Dep. Agama RI)

Sebenarnya, ayat 5:72 sudah menerangkan dengan jelas bahwa tindakan menganggap Al Masih sebagai Allah adalah perbuatan mempersekutukan Allah. Walaupun demikian, tidak ada salahnya untuk membuat sedikit pembahasan. Sepintas lalu terkesan bahwa tidak ada syirik di situ karena yang dianggap Allah yang satu adalah Al Masih. Dalam hal ini, Al Masih dianggap sebagai jelmaan Allah. Namun, jika demikian anggapannya, ketika Al Masih hidup, Allah dianggap hanya beraktivitas seperti Al Masih. Ini adalah tidak mungkin karena Allah hidup kekal, terus menerus mengurus makhluk-Nya, tidak mengantuk, dan tidak tidur (2:255). Dengan demikian, Allah dan Al Masih ada pada saat yang sama. Oleh karena itu, Allah dan Al Masih tidak sama. Dalam hal ini, Al Masih hanyalah makhluk yang telah dianggap sebagai tuhan selain Allah. Di sinilah letak kesyirikan tersebut. Sebagai sekutu Allah, Al Masih diperlakukan seperti Tuhan.

2:255. Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (versi Dep. Agama RI)

Contoh yang lain adalah anggapan bahwa Allah mempunyai anak (17:40; 6:100; dan 9:30). Yang dianggap sebagai anak Tuhan adalah sesuatu yang dijadikan sebagai sekutu Allah.

17:40. Maka apakah patut Tuhan memilihkan bagimu anak-anak laki-laki sedang Dia sendiri mengambil anak-anak perempuan di antara para malaikat? Sesungguhnya kamu benar-benar mengucapkan kata-kata yang besar (dosanya). (versi Dep. Agama RI)

6:100. Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu, dan mereka membohong (dengan mengatakan): "Bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan", tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan. (versi Dep. Agama RI)

9:30. Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair itu putera Allah" dan orang-orang Nasrani berkata: "Al Masih itu putera Allah." Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling? (versi Dep. Agama RI)

Selain itu, ayat-ayat tersebut menerangkan bahwa yang dijadikan sebagai sekutu Allah meliputi manusia, jin, dan malaikat.

SYIRIK KARENA SELAIN KITAB ALLAH
Manusia diciptakan untuk mengabdi kepada Allah (51:56). Dalam hal ini, manusia hanyalah hamba (budak) Allah (19:93). Kewajiban seorang hamba Allah adalah hanya mengikuti kehendak Tuhannya, yaitu Allah. Manusia tidak boleh mengikuti kehendak selain Allah. Kehendak Allah tertuang dalam kitab-kitab Allah dalam bentuk ajaran-ajaran. Yang tertuang dalam selain kitab Allah adalah bukan ajaran-ajaran Allah, tetapi ajaran-ajaran selain Allah. Dengan demikian, perbuatan mengikuti ajaran dalam kitab selain kitab Allah berarti mengikuti ajaran selain Allah. Perlu pula ditambahkan di sini bahwa yang perlu ditekan di sini adalah pembuat ajaran-ajaran tersebut, bukan isi ajaran-ajaran tersebut. Maksudnya, dapat saja terjadi, tuhan selain Allah membuat suatu ajaran yang kebetulan sama dengan ajaran Allah. Oleh karena itu, beriman kepada selain kitab Allah adalah perbuatan mempersekutukan Allah.

51:56. Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (versi Dep. Agama RI)

19:93. Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. (versi Dep. Agama RI)

Kitab selain kitab Allah dapat berupa kitab Allah yang telah dirubah dan kitab buatan manusia biasa. Kitab Allah sebelum Al Qur’an telah dirubah manusia sehingga melahirkan perbuatan mempersekutukan Allah seperti yang terungkap dalam 5:72 dan 9:30 yang telah dibahas sebelumnya. Meskipun perubahan tersebut mungkin tidak seratus persen, kitab-kitab semacam itu telah mengajarkan syirik sehingga dapat dikelompokkan sebagai bukan kitab Allah lagi.

Contoh kitab selain kitab Allah buatan manusia paling utama adalah kitab hadis. Kitab ini berisi perkataan, perbuatan, dan sikap Nabi Muhammad yang dibuat tanpa sepengetahuan Nabi Muhammad. Kitab hadis dijadikan sebagai pedoman oleh sebagian besar umat islam. Isinya dianggap sebagai ajaran Rasul Allah.

Sebagaian besar umat islam mengikuti kitab Allah, yakni Al Qur’an, dan kitab selain kitab Allah, yakni kitab hadis. Penulis ingin menunjukkan bahwa perbuatan tersebut menyebabkan perbuatan mempersekutukan Allah. Telah dibahas di muka bahwa sebagai hamba Allah, manusia hanya wajib mengabdi kepada Allah dengan cara mengikuti semua kehendak Allah. Mengikuti ajaran dalam Al Qur’an adalah sudah dijamin kebenarannya karena ajaran tersebut adalah kehendak Allah. Di lain pihak, mengikuti ajaran dalam kitab hadis adalah mengikuti ajaran dari selain Allah yang dianggap sama dengan Allah. Di sini, selain Alah yang membuat ajaran dalam kitab hadis telah dianggap sebagai tuhan selain Allah. Oleh karena itu, kitab hadis merupakan sumber perbuatan mempersekutukan Allah. Berikut ini adalah sejumlah perbuatan mempersekutukan Allah yang terjadi di masyarakat yang bersumber dari kitab buatan manusia.

Mengingat Allah dan Selain Allah Secara Bersama-sama
Kita sering mendengar seseorang berpidato yang menyebut nama Allah dan menyebut nama Muhammad pada awal pidatonya. Selain itu, banyak orang mengingat Nabi Muhammad ketika shalat. Ada pula orang yang berdoa kepada Allah dengan menyebut Muhammad. Perbuatan-perbuatan tersebut merupakan perbuatan mengingat Allah dan selain Allah secara bersama-sama. Padahal, Allah hanya memerintahkan kita agar hanya mengingat Allah saja (33:41). Ketika shalat, orang juga diperintahkan agar hanya mengingat Allah saja (20:14). Kita secara tegas telah dilarang untuk menyebut nama atau menyeru atau memanggil siapapun bersama-sama dengan Allah (72:18). Mengapa Nabi Muhammad diingat secara bersama-sama ketika Allah diingat? Jawabannya adalah karena Nabi Muhammad telah dijadikan sebagai sekutu Allah. Dalam hal ini, Nabi Muhammad dianggap berhak untuk diingat seperti Tuhan.

33:41. O you who believe! Remember Allah with much remembrance. (Hai orang yang beriman! Ingatlah Allah dengan pengingatan yang banyak.) (Versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri)

20:14. Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (versi Dep. Agama RI)

72:18 "And the places of worship are for Allah (alone): So invoke not any one along with Allah; (Dan tempat untuk sembahyang adalah untuk Allah (semata): Maka janganlah menyebut siapapun bersama-sama dengan Allah (versi Abdullah Yusuf Ali)

Perilaku menyebut nama Allah bersama-sama dengan tuhan selain Allah disebutkan dalam 39:45. Orang-orang musyrik sangat senang jika sesembahan mereka disebut bersama-sama dengan nama Allah. Dan sebaliknya, mereka sangat kecewa jika sesembahan mereka tidak disebut bersama-sama dengan nama Allah. Mereka mencintai sesembahan selain Allah sama seperti mencintai Allah (2:165).

39:45. Dan apabila hanya nama Allah saja disebut, kesallah hati orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat; dan apabila nama sembahan-sembahan selain Allah yang disebut, tiba-tiba mereka bergirang hati. (versi Dep. Agama RI)

2:165. Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). (versi Dep. Agama RI)

Ajaran Allah dan Ajaran Rasul
Sebagai hamba, manusia hanya diperintahkan agar menyembah Allah saja dengan cara mengikuti semua ajaran-Nya. Karena Allah hanya satu, ajaran Allah pasti hanya satu. Dalam kenyataan, banyak orang yang beranggapan bahwa ada ajaran Rasul. Ajaran Rasul dijadikan sebagai pedoman seperti ajaran Allah meskipun bertentangan dengan Al Qur’an atau tidak dijumpai dalam Al Qur’an. Dalam hal ini, Rasul Allah telah diperlakukan menjadi tuhan selain Allah.

Muhammad Sang Pemberi Syafa’at
Pemberi syafa’at adalah mereka yang dianggap menjadi perantara atau mediator antara Tuhan dan manusia dalam proses pemberian kemanfaatan atau penghilangan kemudharatan dari Allah. Artinya, pemberian kemanfaatan atau penghilangan kemudharatan dari Allah dapat terjadi karena peranan pemberi syafa’at.

Yang dijadikan sekutu-sekutu Allah oleh manusia dianggap sebagai pemberi syafa’at  walaupun mereka tidak bisa mendatangkan kemudharatan dan kemanfaatan (10:18). Yang dianggap sebagai sekutu-sekutu Allah tersebut dapat berupa malaikat, orang-orang yang dianggap dekat dengan Allah, atau orang-orang yang dianggap dikasihi Allah.  

Banyak orang berharap mendapatkan syafa’at Nabi Muhammad pada hari kiamat. Dalam hal ini, Nabi Muhammad dianggap sebagai mediator atau perantara dalam proses pemberian pertolongan dalam penentuan seseorang masuk surga atau neraka pada hari kiamat. Barangkali, alasannya adalah karena Nabi Muhammad adalah manusia yang dekat dan dicintai Allah. Untuk mewujudkan harapannya, mereka melakukan peribadatan dengan cara bershalawat dan memberi salam kepada orang yang dikasihi Allah. Padahal, tidak ada pemberi syafa’at pada hari kiamat (2:48). Ini berarti bahwa Nabi Muhammad juga tidak bisa memberi syafa’at pada hari kiamat. Selain itu, perlu diingat bahwa Nabi Muhammad juga tidak bisa memberi kemanfaatan dan kemudharatan (72:21). Jadi, perilaku menganggap Nabi Muhammad sebagai pemberi syafa’at adalah sama dengan perilaku orang yang menganggap sekutu Allah sebagai pemberi syafa’at yang diterangkan dalam 10:18. Dengan demikian, Nabi Muhammad telah diperlakukan sebagai sekutu Allah.

2:48. Dan jagalah dirimu dari (azab) hari (kiamat, yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membela orang lain, walau sedikitpun; dan (begitu pula) tidak diterima syafa'at dan tebusan dari padanya, dan tidaklah mereka akan ditolong. (versi Dep. Agama RI)

72:21. Katakanlah: "Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudharatanpun kepadamu dan tidak (pula) suatu kemanfaatan." (versi Dep. Agama RI)

Tambahan, Allah juga tidak mengambil sekutu ketika membuat suatu keputusan (18:26). Ini berari bahwa ketika menetapkan seseorang masuk surga atau neraka, Allah juga tidak mengambil sekutu. Dengan demikian, Allah tidak membutuhkan Nabi Muhammad dalam memutuskan seseorang masuk surga atau neraka. Orang yang beranggapan bahwa Nabi Muhammad dapat memberi syafaat pada hari kiamat adalah orang yang menganggap Nabi Muhammad adalah sekutu Allah.

18:26. Katakanlah: "Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua); kepunyaan-Nya-lah semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya; tak ada seorang pelindungpun bagi mereka selain dari pada-Nya; dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan."

Tuduhan Sesat kepada Pengiman Al Qur’an Saja
Allah telah menegaskan bahwa orang-orang yang mengikuti petunjuk Allah (dalam hal ini Al Qur’an) tidak akan sesat (20:23). Namun, para ulama islam menuduh orang-orang yang hanya beriman kepada Al Qur’an saja sebagai orang sesat. Jika para ulama tersebut hanya mempunyai satu Tuhan pasti tidak akan menyatakan sesat kepada orang-orang yang hanya beriman kepada Al Qur’an saja karena Allah sebagai satu-satunya Tuhan telah menyatakan bahwa orang-orang yang hanya beriman kepada Al Qur’an tidak akan sesat. Jadi, yang menyebabkan mereka menyatakan bahwa orang-orang yang hanya beriman kepada Al Qur’an sebagai orang-orang sesat adalah karena mereka mempunyai tuhan selain Allah.

20:123. Allah berfirman: "Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. (versi Dep. Agama RI)

Golongan-golongan Agama
Dahulu, manusia adalah satu umat dan kemudian terjadi perselisihan (10:19). Perselisihan di antara manusia telah menyebabkan golongan-golongan.

10:19. Manusia dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih. Kalau tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulu, pastilah telah diberi keputusan di antara mereka, tentang apa yang mereka perselisihkan itu. (versi Dep. Agama RI)

Keberadaan golongan-golongan dalam agama adalah indikator perbuatan mempersekutukan Allah. Seperti kita ketahui bahwa di dunia ini ada banyak agama. Dalam tiap agama, ada golongan-golongan yang lebih kecil. Dalam golongan-golongan yang lebih kecil tersebut, mungkin ada golongan-golongan lagi. Ayat-ayat yang menerangkan hal tersebut adalah 30:31 dan 30:32.

30:31. dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, (Versi Dep. Agama RI)

30:32. yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. (Versi Dep. Agama RI)

Hal ini perlu dijadikan renungan orang yang mengikuti suatu sekte atau kelompok atau agama agar tidak tergolong orang-orang yang mempersekutukan Allah. Menurut penulis, keanekaragaman sekte atau kelompok atau agama terjadi karena penggunaan kitab selain kitab Allah, yaitu kitab buatan manusia atau kitab Allah yang telah dirubah. Dalam kitab buatan manusia dan kitab Allah yang telah dirubah, ada ajaran dari selain Allah. Yang dimaksud dengan selain Allah tersebut adalah tuhan selain Allah yang dianggap sebagai sekutu Allah. Mungkin banyak yang tidak menyadari hal ini. Bagaimanapun juga, kebenaran hubungan antara golongan-golongan agama dan perbuatan mempersekutukan Allah adalah sesuatu yang tidak bisa dibantah lagi (30:31 dan 30:32).

Mengharamkan dan Menghalalkan
Ada orang-orang yang menghalalkan dan mengaramkan sesuatu yang tidak diajarkan Allah dalam kitab-Nya. Mereka mengikuti yang diajarkan dalam selain kitab Allah yang dibuat oleh selain Allah. Artinya, mereka mengikuti ajaran dari selain Allah. Padahal, menghalalkan dan mengharamkan adalah hak Allah (10:59). Nabi Muhammad juga tidak boleh menentukan keharaman dan kehalalan sesuatu (66:1). Keharaman dan kehalalan yang disampaikan Nabi Muhammad pasti sama dengan yang ada di Al Qur’an karena yang disampaikannya adalah wahyu Allah berupa Al Qur’an (6:145). Jadi, mereka sesungguhya mempunyai tuhan selain Allah. Dalam hal ini, mereka telah menganggap Nabi Muhammad sebagai sekutu-Nya.

10:59. Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku tentang rezki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal." Katakanlah: "Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah ?" (versi Dep. Agama RI)

66:1. Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (versi Dep. Agama RI)

6:145. Katakanlah: "Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi - karena sesungguhnya semua itu kotor - atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (versi Dep. Agama RI)

Dapat disimpulkan di sini bahwa beriman kepada selain kitab Allah adalah perbuatan mempersekutukan Allah. Selain itu, selain kitab Allah merupakan sumber perbuatan mempersekutukan Allah.

PENGOBATAN AJAIB
Kita sering mengamati fenomena pengobatan alternatif yang menggunakan keajaiban. Maksudnya, proses pengobatan tersebut hanya mengandalkan doa. Yang menarik, para ahli pengobatan ajaib semacam itu mempromosikannya di media cetak maupun media elektronik. Mereka seolah-olah sangat percaya diri dapat menjadi ahli penyembuh. Penampilan mereka di televisi memperlihatkan bahwa mereka seperti orang yang percaya diri seolah-olah Tuhan akan selalu memberi ijin kepada mereka untuk menyembuhkan penyakit pasiennya. Bagi penulis, sikap seperti itu hanya menimbulkan pertanyaan. Apakah Tuhan telah ditaklukkan oleh mereka sehingga selalu mengikuti semua perintah mereka?

Allah yang menyembuhkan penyakit. Hal tersebut tercermin dari perkataan Nabi Ibrahim (26:80). Jika ingin sembuh, kita tentu memohon kepada Allah dengan doa agar menjadi sembuh. Ekspresi orang yang berdoa kepada Allah secara benar adalah harap-cemas atau antara takut dan harapan (7:56 dan 21:90). Jika mereka mengatakan bahwa semua kesembuhan karena ijin Allah, mengapa wajah mereka dan sikap mereka tidak mencerminkan orang yang harap-cemas atau antara takut dan harapan? Dari sini, penulis berpendapat bahwa Allah yang dimaksudkan mereka bukan Allah yang disebutkan dalam Al Qur’an. Artinya, ada yang bekerja untuk mereka yang bisa diperintah sesuai kehendak mereka dalam proses pengobatan.

26:80. dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku, (versi Dep. Agama RI)

7:56. Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. (versi Dep. Agama RI)

21:90. Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepada nya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada Kami. (versi Dep. Agama RI)

Adakah yang dijadikan tuhan selain Allah dalam hal ini? Yang dimaksud sebagai penyembuh oleh mereka adalah sesuatu yang tunduk mengikuti keinginan mereka. Akan tetapi, mereka mengaku bahwa  yang menyembuhkan adalah Allah. Tentu saja, sesuatu yang tunduk mengikuti keinginan mereka sudah pasti adalah selain Allah. Artinya, yang dimaksud dengan Allah oleh mereka adalah selain Allah. Jadi, ada sesuatu yang dijadikan sebagai tuhan selain Allah oleh para ahli pengobatan ajaib.

Bagi orang yang berobat, para ahli pengobatan ajaib dianggap sebagai perantara dalam mendapat pertolongan Tuhan (pemberi syafa’at). Mereka meminta pertolongan kepada para ahli pengobatan ajaib agar mendoakan mereka supaya sembuh dari penyakitnya. Para ahli pengobatan ajaib dianggap sebagai orang yang dekat dengan Tuhan sehingga doanya dianggap akan dikabulkan. Di sisi lain, para ahli pengobatan ajaib juga berperilaku seperti membenarkan anggapan orang-orang yang berobat kepada mereka. Dalam hal ini, para ahli pengobatan ajaib telah dianggap sebagai tuhan selain Allah (sekutu Allah) oleh orang-orang yang berobat kepada mereka. Artinya, di samping meminta pertolongan kepada Allah, mereka yang berobat kepada para ahli pengobatan ajaib juga meminta pertolongan kepada orang yang dianggap sebagai sekutu-Nya

PESUGIHAN
Fenomena orang mencari pesugihan sudah bukan rahasia lagi. Pesugihan adalah suatu cara mendapatan kekayaan dengan bantuan jin. Setidak-tidaknya, itulah definisi yang dibuat berdasarkan informasi dari cerita di masyarakat dan media masa. Mereka yang mencari kekayaan melalui pesugihan tersebut melakukan peribadatan yang caranya dibuat oleh jin. Jin inilah yang dianggap sebagai tuhan selain Allah.

PELINDUNG DAN PENOLONG SELAIN ALLAH
Seringkali kita mendengar orang mempunyai pelindung dan penolong yang selain Allah untuk menghindari kejahatan atau bencana. Pelindung dan penolong yang selain Allah tersebut berupa benda ajaib (jimat) atau pagar ghaib. Ada pula orang yang meminta perlindungan dan pertolongan dari yang dianggap sebagai arwah orang suci atau orang sakti. Ini adalah syirik karena pelindung dan penolong manusia hanya Allah (9:116 dan 13:16).

9:116. Sesungguhnya kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menghidupkan dan mematikan. Dan sekali-kali tidak ada pelindung dan penolong bagimu selain Allah. (versi Dep. Agama RI)

13:16. Katakanlah: "Siapakah Tuhan langit dan bumi?" Jawabnya: "Allah." Katakanlah: "Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudharatan bagi diri mereka sendiri?." Katakanlah: "Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang; apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?" Katakanlah: "Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa." (versi Dep. Agama RI)

TRADISI RITUAL UNGKAPAN SYUKUR
Di tengah masyarakat, ada tradisi ritual untuk mengungkapkan syukur atas rejeki dalam bentuk hasil panen, keamanan, ternak, dan lain-lain yang telah diberikan Tuhan. Kegiatan ritual tersebut bervariasi, misalnya berupa pemberian sesaji, pemberian sesaji diikuti dengan makan bersama, atau pemberian sesaji disertai tari-tarian. Kegiatan ritual semacam itu tidak diajarkan dalam Al Qur’an. Jadi, ”Tuhan” yang dimaksudkan oleh pelaku ritual adalah bukan Allah. Yang dimaksudkan ”Tuhan” oleh pelaku ritual adalah tuhan selain Allah.

RENUNGAN
Sebelum ditutup, penulis ingin mengajak pembaca merenungkan ayat-ayat berikut ini (12:103 dan 12:106).

12:103. Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman - walaupun kamu sangat menginginkannya-.(versi Dep. Agama RI)

12:106. Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain). (versi Dep. Agama RI)

Nabi Muhammad diberitahu Allah bahwa meskipun beliau ingin manusia menjadi beriman tetapi sebagian besar manusia tidak akan beriman (12:103). Artinya, walaupun keinginan beliau tersebut sudah diimplementasikan secara nyata melalui dakwah, sebagian besar manusia tidak akan beriman. Penulis akan menekankan pada satu kata, yaitu akan. Kata akan menerangkan bahwa kalimat tersebut bermakna prediktif. Artinya, jika Nabi mempunyai keinginan agar manusia beriman dengan disertai usaha untuk mewujudkannya, sebagian besar manusia tidak akan menjadi beriman. Bagi penulis, ini adalah suatu kebenaran karena yang menyatakannya adalah Allah. Pelajaran yang dapat diambil adalah bahwa kehadiran seorang Rasul Allah hanya mampu membuat sebagian kecil manusia menjadi beriman. Dijelaskan lebih lanjut dalam 12:106 bahwa sebagian besar dari mereka tidak beriman dan dalam keadaan mempersekutukan Allah. Coba bayangkan! Sebagian besar anggota masyarakat yang di dalamnya ada seorang Rasul Allah adalah tidak beriman dan dalam keadaan mempersekutukan Allah. Bagaimana dengan masyarakat yang ada sekarang ini, yang tidak ada Rasul Allah di dalamnya? Mungkin, persentase orang yang tidak beriman dan dalam keadaan mempersekutukan Allah akan sama atau bahkan jauh lebih besar daripada persentase pada saat itu. Ayat 17:62 juga mengindikasikan bahwa hanya sebagian kecil saja yang akan beriman. Apakah kita termasuk ke dalam yang sebagian besar atau yang sebagian kecil? Kita dapat merenungkannya sendiri.

17:62. Dia (iblis) berkata: "Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil." (versi Dep. Agama RI)

Kita berharap agar jangan sampai termasuk ke dalam golongan orang-orang yang tidak beriman dan dalam keadaan mempersekutukan Allah. Kita harus selalu waspada bahwa syaitan selalu berusaha menyesatkan manusia dari jalan yang lurus. Dan yang perlu diperhatikan adalah bahwa orang yang disesatkannya akan menyangka mendapat petunjuk (menyangka tidak sesat) (43:37).

43:37. Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. (versi Dep. Agama RI)

PENUTUP
Demikianlah pembahasan tentang mempersekutukan Allah dalam makalah ini. Makalah ini adalah hasil revisi pertama makalah yang sudah dipublikasikan sebelumnya. Revisi akan dilakukan apabila terjadi perubahan persepsi pada diri penulis.